Berbagai Jenis Botol Laboratorium dan Harganya di Pasaran

Berbagai Jenis Botol Laboratorium dan Harganya di Pasaran

Keberadaan Botol laboratorium di dalam lab sangatlah penting. Botol ini digunakan untuk menampung dan menyimpan berbagai jenis bahan kimia dilaboratorium, baik berupa cairan, serbuk, ataupun padatan.

Botol ini juga dapat kita temukan dalam berbagai bentuk dan ukuran untuk berbagai aplikasi di laboratorium kimia / biologi, dan dapat dibuat dari kaca ataupun plastik.

Nah, kali kita kita akan belajar bersama mengenai botol lab ini, baik dari jenis, bahan, dan sedikit gambaran mengenai harganya.

Jenis Botol Laboratorium

Narrow Mount

narrow mount bottle

 

 

Botol dengan bentuk dibagian penutup / mulut yang sempit sehingga memiliki bukaan / tutup yang lebih kecil dan dirancang untuk menuangkan dan menyimpan cairan.

Wide Mount

wide mount bottle

Dibandingkan jenis yang pertama, Botol ini mempunyai penutup / mulut yang lebih lebar dan memiliki bukaan yang lebih besar sehingga memudahkan pengisian berbagai jenis cairan ataupun padatan.

Karena kemudahan dalam mengisi dan mengeluarkan sampel, sehingga botol ini juga sering digunakan sebagai botol sampel di berbagai macam industri.

Misalnya :

Untuk sampling produk ruahan di industri makanan yang sudah menerapkan CPOTB.

Square

square bottle

Dengan bentuk persegi, botol laboratorium ini mempunyai keunggulan dapat dengan mudah dikemas bersebelahan dan memungkinkan lebih banyak botol disimpan di rak atau lemari.

Wash Bottle

wash bottle

Wash bottle berfungsi untuk menyemprotkan air (atau cairan lainnya sesuai dengan isinya) dari sisi botol yang biasanya digunakan untuk membilas bahan kimia dan bahan lainnya pada alat-alat gelas di laboratorium (gelas kimia laboratorium, buret, corong, erlenmeyer,dll).

Beberapa wash bottle memiliki nama kimia dan formula yang tercetak di bagian botolnya untuk membantu mencegah kontaminasi silang dengan bahan kimia lainnya, misalnya : acetone, ethanol, methanol, isopropanol, dll.

Wash bottle ini di desain dengan bagian penutup yang lebar sehingga memudahkan pengisian.

Laboratory Bottle Amber vs Clear

botol amber dan bening

Jika diatas kita mengenal dari bentuknya, untuk botol laboratorium juga bisa dibedakan dari warnanya.

Untuk botol yang clear tentunya memberikan transparansi maksimal sehingga kita dapat dengan mudah melihat isinya, namun untuk botol amber dengan warna gelap (coklat tua) mempunyai sifat melindungi produk yang peka terhadap cahaya atau sinar ultraviolet yang dapat mengubah sifat dari cairan / sampel yang kita simpan di dalam botol tersebut.

Laboratory Bottle Terbuat Dari Apa?

Untuk botol laboratorium jenis kaca, yang paling umum kita temui terbuat dari :

  • Type I Borosilicate

Bahan borosilikat Tipe I mengandung setidaknya 5% boric oxide sehingga lebih tahan terhadap suhu dan bahan kimia dibandingkan dengan botol yang terbuat dari soda lime.

Botol yang terbuat dari Borosilicate ini dapat bertahan dan tidak mudah pecah jika terjadi perubahan suhu yang mendadak dari panas ke dingin atau sebaliknya.

Rentang temperature untuk botol dari bahan borosilikat juga lebih lebar yaitu berkisar –70°C s/d 230°C sehingga lebih mendukung berbagai macam aplikasi analisa sampel baik di laboratorium kimia, biologi, ataupun lingkungan.

  • Type III Soda Lime

Bahan Type III Soda Lime ini mempunyai kelebihan dimana permukaan yang halus sehingga memudahkan pada saat pembersihan.

Botol dari bahan ini disarankan digunakan untuk aplikasi pada suhu rendah. Rentang suhu pemakaian dari botol dari bahan ini adalah berkisar antara 0°C s/d 100°C

Kedua bahan pada botol laboratorium diatas juga dilapisi dengan plastik khusus yang disebut “plastisol” yang aman menempel pada botol kaca tersebut dan juga memberikan perlindungan serta kebocoran jika botol tersebut pecah.

Lalu untuk botol laboratorium yang plastik terbuat dari apa?

Sama halnya yang kaca, untuk yang plastik juga dapat kita temukan dari beberapa macam bahan, antara lain sebagai berikut :

  • Low-Density Polyethylene (LDPE) High-Density Polyethylene (HDPE)

Botol dari bahan LDPE dan HDPE ini dapat digunakan untuk menyimpan cairan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol. Dapat bertahan dalam temperatur –100°C s/d 80°C untuk LDPE dan –100°C s/d 120°C untuk HDPE.

  • Polypropylene (PP)

Botol dari bahan PP ini secara aplikasi sama dengan dari bahan LDPE dan HDPE diatas, yaitu dapat digunakan untuk menyimpan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol. Namun mempunyai rentang temperatur yang lebih tinggi yaitu 0°C s/d 135°C.

  • Polymethylpentene (PMP)

Bahan ini mempunyai rentang yang lebih tinggi lagi dibanding kedua bahan diatas, yaitu 20°C s/d 175°C. Secara aplikasi juga sama, dapat kita gunakan untuk menyimpan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol.

  • Polycarbonate (PC)

Botol dari bahan Polycarbonate (PC) ini mempunyai rentang temperatur yang paling lebar dibandingkan dengan botol laboratorium dari bahan lainnya, yaitu –135°C s/d 130°C. Namun secara aplikasi penggunaan hanya disarankan untuk menyimpan larutan yang bersifat asam lemah.

  • Polyethylene Terephthalate (PET)

Bahan yang terkahir yang biasa digunakan untuk botol laboraatorium adalah Polyethylene Terephthalate (PET), Bahan ini mempunyai rentang temperatur – 40°C s/d 70°C dan disarankan hanya untuk menyimpan cairan Asam lemah, basa dan alkohol.

Baca Juga : Kelebihan dan Kekurangan Termometer Raksa dan Termometer Alkohol

Contoh Laboratory Bottle

Sebagai gambaran, berikut ini adalah contoh beberapa ukuran dari botol laboratorium tersebut di pasaran :

  • Botol yang Bahan Kaca

gambar botol laboratorium berbagai macam ukuran

Gambar diatas adalah botol laboratorium yang terbuat dari borosilicate disertai denan tutupnya (cap), botol ini tersedia dalam ukuran 100 ml s/d 5 liter. Untuk cap / tutupnya sendiri terbuat dari bahan PP (polypropylene) dan memenuhi standar GL45. Botol ini dapat diautocclave jika ingin digunakan pembuatan media mikrobiologi yang sifatnya harus steril. Disarankan pada saat melakukan sterilisasi dengan autoclave, botol tidak ditutup, atau jika ditutup dalam kondisi yang kendor.

  • Botol yang Bahan Plastik

laboratory bottle plastic

Botol plastik diatas dapat kita temukan dalam berbagai macam volume, yaitu antara 100 ml s/d 1 liter. Meskipun terbuat dari plastik PP (polypropylene), botol tersebut juga dapat diauclave untuk sterlisasi. Beberapa industri farmasi menggunakan botol ini untuk keperluan sampling purified water yang ada di sistem pengolahan air mereka.

Harga Botol Laboratorium di Marketplace

Harga botol laboratorium tentunya bermacam-macam tergantung dengan jenis bahan dan ukuran, berikut ini adalah gambaran dari harga botol lab kaca dimana 1 yen saat ini berkisar 110 rupiah. Harga tersebut tentunya akan bervariasi dari 1 suplier ke suplier lainnya.

harga botol laboratorium di pasaran

Tips Membeli Botol Laboratorium

  • Tentukan terlebih dahulu botol tersebut akan digunakan untuk apa, jika teman-teman berperan sebagai pengawas di laboratorium, tentukan apakah akan membeli yang jenis botol amber atau yang clear, ataukah botol dari bahan plastik.

Misalnya : botol diperuntukkan untuk sampling bahan baku, maka botol dari bahan plastik dirasa lebih nyaman dibandingkan dengan botol dari bahan kaca karena lebih aman dan jika terjatuh tidak akan pecah.

Baca Juga : Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku di Industri Makanan

  • Tanyakan ke user / analis / petugas sampling

Berdasarkan aktivitas yang mereka lakukan lebih nyaman menggunakan ukuran botol yang berapa?

Apakah harus botol dengan ukuran 250 ml atau cukup hanya 100 ml saja.

Standar Terkait Laboratory Bottle

  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 1: SCREW – NECK BOTTLES – BS EN ISO 4796-1
  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 2: CONICAL NECK BOTTLES – BS EN ISO 4796-2
  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 3: ASPIRATOR BOTTLES – BS EN ISO 4796-3
  • SPECIFICATION FOR PLASTICS LABORATORY WARE – PART 4: WASH BOTTLES – BS 5404-4
Petunjuk Pengelolaan Peralatan Laboratorium dengan Benar

Petunjuk Pengelolaan Peralatan Laboratorium dengan Benar

Banyaknya peralatan laboratorium baik itu yang berupa peralatan gelas, alat ukur sederhana, sampai dengan instrumen analisa tentunya harus kita kelola dengan baik.

Pengelolaan merupakan bagian penting dalam sistem manajemen mutu karena dengan pengelolaan peralatan yang sesuai dapat memastikan hasil pengujian yang akurat, handal, dan tepat.

Bagaimana cara mengelola peralatan lab ini sehingga memberikan banyak manfaat bagi kita? Yuk.. kita pelajari bersama di artikel berikut ini.

Manfaat Pengelolaan Peralatan Laboratorium

perawatan alat lab

Pengelolaan peralatan laboratorium yang baik akan memberikan manfaat antara lain sbb :

  1. Mempertahankan tingkat kinerja laboratorium yang tinggi dan memperpanjang umur instrumen
  2. Mengurangi variasi dari hasil pengujian sehingga meningkatkan kepercayaan diri laboratorium akan akurasi hasil pengujian.
  3. Mengurangi gangguan terhadap layanan jasa pengujian laboratorium karena gagalnya pengujian yang disebabkan terjadinya kerusakan pada peralatan sehingga memberikan kepuasan yang lebih besar bagi pelanggan.
  4. Biaya perbaikan yang lebih rendah karena lebih sedikit perbaikan yang diperlukan apabila pemeliharaan instrumen dilakukan secara baik.
  5. Keselamatan personil / analis laboratorium juga akan meningkat

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam program pengelolaan peralatan laboratorium antara lain :

Memilih instrumen yang tepat sesuai dengan tujuan penggunaan analisa di laboratorium merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan peralatan. Pikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum melakukan pembelian alat laboratorium :

  • Mengapa memilih instrumen tersebut ?
  • Untuk analisa apa intrumen tersebut digunakan? Instrumen tentunya harus cocok dengan layanan jasa yang laboratorium berikan.

Contoh :

Apakah laboratorium akan memilih membeli Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) nyala atau graphite furnace AAS atau ICP ? Hal ini tentunya terkait dengan berapa tingkat konsentrasi sampel yang biasa laboratorium uji atau analisis.

Pemilihan ICP dilakukan apabila memang konsentrasi analit dalam sampel yang biasa diuji laboratorium sangat kecil.
Namun apabila konsentrasi analit cukup besar maka cukup membeli Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) nyala atau jika konsentrasinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil maka grapith furnace AAS bisa dijadikan pilihan.

  • Karakteristik kinerja dari instrumen yang dibeli seperti apa ? Apakah instrumen yang akan dipilih cukup akurat dan reproducible untuk kebutuhan pengujian yang akan dilakukan laboratorium.
  • Apakah ada persyaratan fasilitas yang harus disediakan laboratorium, misalnya : persyaratan ruangan, dll.
  • Apakah biaya untuk peralatan masing-masing dalam anggaran laboratorium?
  • Apakah pereaksi yang diperlukan pada saat menggunakan peralatan tadi telah tersedia?
  • Apakah pereaksi akan diberikan secara gratis oleh supplier tempat membeli instrumen untuk periode waktu yang terbatas? Apabila ya, Untuk berapa lama?
  • Seberapa mudah bagi personil laboratorium untuk mengoperasikan peralatan tersebut?
  • Apakah instruksi penggunaannya akan tersedia dalam bahasa yang mudah dimengerti?
  • Apakah di Indonesia terdapat sole agent / distributor resmi penjualan instrumen tersebut dengan layanan purna jual yang baik?
  • Apakah peralatan mempunyai garansi?
  • Apakah ada isu keselamatan yang harus dipertimbangkan?

Pertanyaan-pertanyaan diatas perlu dijawab untuk dijadikan panduan laboratorium sebelum memilih suatu instrumen.

Apabila keputusan pembelian peralatan laboratorium menjadi wewenang bagian purchasing / pembelian, maka manajer teknis laboratorium harus memberi informasi / data pendukung untuk dapat memilih instrumen terbaik yang dapat memenuhi kebutuhan laboratorium secara tepat. Dan manager teknis laboratorium berhak untuk menolak jika memang peralatan yang akan diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan laboratorium.

Supplier instrument umumnya memberikan seluruh informasi yang diperlukan untuk mengoperasikan dan memelihara peralatan.

Sehingga pada saat permintaan penawaran harga mintakan informasi terkait biaya yang akan dikeluarkan untuk pemeliharaan alat. Terkadang ada peralatan laboratorium dimana harganya relatif murah namun biaya perawatan rutin ternyata sangat mahal.

Pada saat akan membeli peralatan laboratorium kita juga perlu memastikan apakah jaringan kabel, informasi mengenai software komputer, daftar suku cadang / sparepart yang diperlukan, dan manual untuk operator sudah termasuk dalam paket pembelian.

Umumnya supplier peralatan akan menginstal instrument yang mereka supply dan memberikan training untuk personil laboratorium secara cuma-cuma / gratis.

Selain hal diatas, garansi alat juga biasanya diberikan oleh supplier terkait dengan kelancaran operasi alat termasuk pada periode percobaan untuk memverifikasi kinerja instrumen seperti yang diharapkan, sedangkan untuk pemeliharaan peralatan terkadang tergantung dengan apa yang tertera di dalam penawaran harga / Purchase Order. Ada yang memberikannya secara gratis pada tahun pertama kemudian setelah itu baru dikenakan biaya.

Jika hal-hal diatas sudah selesai, maka etelah itu laboratorium harus menetapkan apakah laboratorium dapat memberikan persyaratan fisik yang diperlukan seperti listrik, air, dan ruangan. Karena beberapa instrumen tertentu terkadang membutuhkan space yang agak luas, misalnya spektrofotometer UV Visible yang pengoperasiannya dikoneksikan dengan komputer, Spektrofotometer AAS, HPLC, dll sehingga harus tersedia cukup ruang Untuk memindahkan peralatan ke dalam laboratorium.

Perhatikan pembukaan pintu dan akses pada lift pada saat menginstal peralatan. Pastikan semua persyaratan fisik termasuk listrik, ruang, pintu, ventilasi, dan persediaan air sudah terpenuhi.

Pastikan pada dokumen pembelian tertuang, IQ, OQ, dan PQ apakah menjadi tanggung jawab supplier instrumen bersangkutan. Berdasarkan pengalaman kami, pembelian instrumen sudah termasuk dengan pelaksanaan IQ dan OQ.

Laboratorium juga perlu membuat daftar spesifikasi kinerja yang diharapkan sehingga kinerja peralatan dapat segera diverifikasi oleh laboratorium setelah peralatan selesai di install.

Hal-Hal yang Perlu Dilakukan Setelah Instrumen Diinstall

install instrument laboratorium

Sesudah peralatan selesai diinstal hal berikut perlu dilakukan sebelum peralatan digunakan untuk pengujian laboratorium :

  1. Tetapkan personil penanggung jawab peralatan
  2. Buat sistem pencatatan untuk penyediaan dan penggunaan suku cadang sparepart
  3. Jalankan rencana tertulis untuk kalibrasi, verifikasi kinerja, dan operasi peralatan yang sesuai
  4. Tetapkan program pemeliharaan peralatan yang terjadwal yang mencakup tugas pemeliharaan baik harian, mingguan, dan bulanan.
  5. Adakan pelatihan untuk semua operator. Hanya personil yang sudah mendapat pelatihan pengoperasian peralatan saja yang dapat ditunjuk sebagai operator.
  6. Ikuti petunjuk dari pabrik secara hati-hati pada saat melakukan kalibrasi awal
  7. Pada saat pertama kali menggunakan peralatan sebaiknya instrumen dikalibrasi pada setiap kali uji coba dilakukan
  8. Tetapkan interval instrumen perlu direkalibrasi. Penetapan dapat didasarkan pada pengalaman setelah laboratorium menggunakan peralatan didasarkan pada kestabilan dan rekomendasi pabrik. Untuk instrumen seperti HPLC, Spektrofotometer AAS, dll disarankan untuk dikalibrasi ke agen tunggalnya, dan tidak ke layanan laboratorium kalibrasi, karena agen tunggal tersebut tidak hanya melakukan kalibrasi namun juga pembersihan instrumen alat bahkan sampai dibuka cover instrumen bersangkutan.
  9. Gunakan kalibrator yang diberi oleh atau dibeli dari pabrik pembuat alat.

Untuk mengevaluasi kinerja peralatan hal yang perlu diperhatikan adalah :

  • Sebelum menguji sampel penting untuk mengevaluasi kinerja dari peralatan baru guna memastikan alat bekerja dengan baik terkait akurasi dan presisi.
  • Laboratorium juga harus memverifikasi kinerja yang diklaim oleh pabrik peralatan dan tunjukkan bahwa laboratorium dapat memperoleh hasil yang sama menggunakan peralatan yang ada di laboratorium yang dilakukan oleh personil laboratorium.

Langkah yang harus diikuti untuk memverifikasi kinerja mencakup :

  • Menguji contoh yang diketahui nilainya misalnya CRM ataupun hanya RM dan membandingkan hasil ukur atau hasil uji dengan nilai pada sertifikat bahan CRM atau RM tersebut.
  • Apabila peralatan dikontrol temperaturnya tetapkan juga stabilitas dan keragaman temperatur.

Kemudian lakukan validasi terhadap peralatan baru dan teknik yang dipakai dalam menggunakan peralatan baru tersebut dan prosedur validasi dan hasilnya harus seluruhnya direkam.

Untuk memverifikasi bahwa peralatan bekerja sesuai menurut spesifikasi pabrik, parameter-parameter instrumen perlu dipantau secara berkala dengan jalan melakukan pemeriksaan fungsi dengan melihat kesesuaian antara respon dengan perintah dari komputer yang diberikan pada alat tersebut.

Hal ini harus dilakukan sebelum instrumen digunakan untuk pertama kali dan kemudian dilakukan kembali dengan frekuensi waktu yang direkomendasikan oleh pabrik.

Contoh :

Dari pemeriksaan fungsi adalah pemantauan temperatur dan pemeriksaan akurasi dari kalibrasi panjang gelombang misalnya yang biasa dilakukan sehari-hari.

Penerapan Program Pemeliharaan Peralatan

program perawatan

Implementasi program pemilihan peralatan seyoganya mencakup hal-hal berikut ini :

  • Tetapkan penanggung jawab untuk mengawasi program pemeliharaan
  • Buat kebijakan dan prosedur tertulis untuk pemeliharaan peralatan termasuk rencana pemeliharaan rutin untuk setiap bagian dari peralatan yang menetapkan “kapan frekuensi & tugas pemeliharaan harus dilakukan”
  • Sediakan format perekaman, bisa dalam bentuk formulir atau catatan harian serta tetapkan proses pemeliharaan terhadap rekaman yang sudah dibuat.
  • Lakukan pelatihan pengunaan dan pemeliharaanperalatan bagi personil laboratorium dan Pastikan semua personil memahami tugas dan kewajibannya masing-masing.
  • Buat label setiap instrumen yang digantungkan atau direkatkan yang menunjukkan kapan pemeliharaan berikutnya harus dilakukan.
  • Laboratorium harus menyimpan catatan dari daftar inventarisasi peralatan yang berisikan informasi jenis dan jumlah semua peralatan yang dimiliki laboratorium.
  • Catatan ini harus selalu diperbaharui dengan informasi masuknya peralatan baru dan ditariknya peralatan yang Sudah usang atau rusak.
  • Untuk setiap jenis peralatan daftar inventarisasi tadi perlu memuat :
    1. Tipe instrumen
    2. Model dan nomor seri

Sehingga jika suatu saat terjadi masalah pada peralatan pada saat diskusi dengan supplier kita bisa menyampaikan history dari peralatan tersebut karena laboratorium tahu persis model dan nomor seri yang dibelinya.

  • Tanggal pembelian peralatan juga harus dicatat. Apakah alat dibeli dalam keadaan baru / bekas keperluan demo supplier / bekas dari laboratorium lain / instrumen bekas yang sudah direkondisikan kembali.
  • Catat kontak supplier alat ukur / instrumen bersangkutan.
  • Tetapkan ada tidaknya suku cadang dan kontrak pemeliharaan dan tanggal berakhirnya jaminan atau garansi.
  • Nomor inventarisasi hendaknya juga dibuat spesifik yang menunjukkan “tahun perolehan atau penerimaan alat tersebut”.

Contoh :

Tahun disertai di belakangnya dengan nomor

AA-BB-CC

AA : Tahun
BB : Bulan
CC : Nomer urut penerimaan instrumen

Misalnya : 22-01-001

Alat diterima pertama kali di bulan januari tahun 2022.

Untuk memastikan laboratorium tidak sampai kekurangan suku cadang, harus dibuat inventarisasi dari suku cadang yang sering digunakan untuk setiap peralatan yang di laboratorium.

Rekaman inventarisasi cukup suku cadang harus memuat :

  • Nama dan nomor bagian
  • Part number
  • Jumlah pemakaian rata-rata suku cadang
  • Jumlah minimum yang harus tersedia di laboratorium
  • Harganya
  • Tanggal saat suku cadang masuk dalam tempat penyimpanan,
  • Tanggal digunakannya suku cadang tersebut
  • Jumlah yang masih ada dalam tempat penyimpanan suku cadang

Trouble Shooting dan Perbaikan Alat

trouble shooting peralatan

Permasalahan yang terjadi pada peralatan bisa bermacam-macam. Operator peralatan umumnya dapat melihat perubahan yang tidak terlalu jelas seperti terjadinya pergeseran / driff dari nilai kontrol sampel ataupun perubahan yang sangat jelas terlihat seperti rusak atau tidak berfungsi peralatan atau instrumen.

Kadang kala juga terjadi instrumen tiba-tiba tidak dapat beroperasi.

Operator harus belajar memecahkan masalah yang terjadi pada peralatan agar peralatan dapat dengan cepat berfungsi kembali dan pengujian dapat dilanjutkan secepat mungkin.

Masalah yang terdapat pada instrumen dapat sangat bervariasi dimulai dari masalah yang ringan yang dapat terselesaikan lewat trouble shooting hingga masalah yang berat yang memerlukan perbaikan pada peralatan.

Masalah yang ringan akan dapat diselesaikan oleh operator laboratorium sendiri, namun masalah yang berat harus dikonsultasikan pada supplier atau agen peralatan dan memerlukan teknisi peralatan yang kompeten untuk mengatasinya.

Apabila misalnya operator mengamati terjadinya driff / pergeseran pada instrumen maka dapat dilakukan pemeliharaan preventif.

Pemeliharaan preventif / perawatan pencegahan adalah kegiatan pemeliharaan dan peralatan yang dilakukan secara terjadwal / periodik dimana sejumlah tugas pemeliharaan dilakukan untuk menjamin berfungsinya suatu peralatan, mencegah timbulnya kerusakan yang tidak terduga, dan memperpanjang usia pakai suatu peralatan.

Semua fasilitas pengujian yang mendapatkan perawatan akan terjamin kontinuitas kerjanya dan selalu diusahakan berada dalam kondisi atau keadaan siap digunakan untuk setiap proses pengujian setiap saat.

Tujuan perawatan pencegahan adalah dilakukannya inspeksi pada peralatan secara efektif, menjaga supaya kondisi peralatan selalu dalam keadaan sehat, memperpanjang umur peralatan, serta mencegah penggantian dini pada peralatan, mengurangi waktu yang terbuang untuk memperbaiki peralatan.

Tujuan dari perawatan pencegahan juga untuk mengeliminasi hasil pengujian yang Out of Control.

Untuk menjalankan trouble shooting pada peralatan umumnya supplier alat tersebut memberikan suatu diagram alir ataupun suatu tabel yang dapat membantu laboratorium menetapkan sumber masalahnya.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam suatu trouble shooting pada peralatan laboratorium dalam kegiatan pengujian, antara lain :

  • Apakah masalah yang timbul disebabkan oleh kurang baiknya sampel untuk itu periksa?
  • Apakah sampling dilakukan dengan baik?
  • Apakah sampel disimpan dengan baik?
  • Apakah faktor kekeruhan / viskositas atau koagulasi yang terjadi mempengaruhi unjuk kerja atau performance instrumen
  • Apakah penyimpanan pereaksi telah dilakukan secara baik?
  • Apakah pereaksi yang digunakan belum kadaluarsa?
  • Apakah pereaksi dari kemasan atau botol yang baru digunakan langsung digunakan oleh laboratorium tanpa memperbaharui kalibrasi instrumen menggunakan kemasan yang baru dibuka tersebut?

Untuk trouble shooting peralatan laboratorium dalam bentuk tabel, umumnya dibuat dalam tiga kolom, yaitu :

  • Kolom pertama berisi gejala atau masalah yang terjadi
  • Kolom kedua berisi penyebabnya
  • Kolom ketiga berisi cara mengatasinya.

Apabila ternyata masalah tidak dapat teridentifikasi tidak dapat diperbaiki oleh operator laboratorium maka disarankan menghubungi supplier peralatan laboratorium bersangkutan.

Baca Juga : Service Alat Laboratorium – Lebih Murah daripada Beli Baru!

Jika memungkinkan ambil beberapa langkah di bawah ini supaya pekerjaan pengujian dapat dilanjutkan sampai peralatan selesai diperbaiki, yaitu :

  • Atur untuk mendapatkan instrumen cadangan, tanyakan apakah agen peralatan mempunyai instrumen cadangan yang dapat dipinjamkan selama peralatan laboratorium yang rusak diperbaiki?
  • Apabila tidak mempunyai instrumen cadangan maka laboratorium dapat juga mengambil opsi melakukan analisa / sub kontrak ke laboratorium rekanan. Namun harus dipastikan bahwa pelanggan diberitahu telah terjadi masalah pada peralatan dan kemungkinan besar akan terjadi keterlambatan dalam penyelesaian pengujian atas sampel pelanggan tersebut.
  • Beri label pada peralatan yang rusak agar semua personil laboratorium mengetahui bahwa peralatan tersebut tidak dapat digunakan.

Dokumen dan Rekaman Peralatan

maintenance checksheet

Dokumen dan rekaman alat laboratorium merupakan bagian penting dari sistem mutu. Evaluasi menyeluruh setiap masalah yang timbul dari peralatan akan mudah dilakukan apabila kebijakan dan prosedur untuk pemeliharaan peralatan telah ditetapkan dalam dokumen yang sesuai.

Rekaman setiap peralatan yang dimiliki laboratorium juga harus disimpan dengan baik.

Setiap peralatan sebaiknya memiliki dokumen pemeliharaannya masing-masing. Dokumen pemeliharaan peralatan laboratorium harus mencakup :

  • Instruksi pemeriksaan rutin langkah demi langkah termasuk di dalamnya frekuensi pelaksanaan pemeliharaan dan cara bagaimana menyimpan rekaman pemeliharaan.
  • Instruksi untuk melakukan pemeriksaan fungsi termasuk frekuensi pemeriksaan dan caranya juga harus direkam.
  • Cara mengkalibrasi instrumen harus ada panduan
  • Untuk trouble shooting juga harus ada catatan dari setiap pelayanan dan perbaikan dari pabrik yang diperlukan laboratorium.
  • Daftar dari setiap item tertentu yang memang diperlukan untuk penggunaan dan pemeliharaan seperti halnya suku cadang.

Khusus untuk peralatan utama hendaknya dokumen tadi berisikan pula identifikasi dari instrumen yang spesifik dan informasi mengenai unjuk kerja instrumennya.

Didalam rekaman pemeliharaan peralatan hendaknya diperhatikan hal berikut ini :

  • Setiap peralatan harus mempunyai buku catatan atau logbook yang mendokumentasikan semua unsur karakteristik dan pemeliharaan peralatan termasuk pemeliharaan preventif atau perawatan pencegahan dan jadwalnya rekaman dari pemeriksaan fungsi alat dan kalibrasinya.
  • Setiap pemeliharaan yang dilakukan supplier atau pabrik alat dan informasi lengkap dari setiap masalah atau gejala yang mungkin timbul.
  • Trouble shooting yang dilakukan setelah teramatinya gejala tersebut dan informasi tindak lanjut terkait penyelesaian terhadap masalah yang timbul. Dalam merekam masalah atau gejala pastikan ada pencatatan mengenai tanggal terjadinya masalah dan Kapan peralatan tidak dapat digunakan untuk layanan, alasan terjadinya kerusakan.
  • Tindakan yang diambil termasuk catatan mengenai layanan perbaikan yang diberikan oleh pabrik atau supplier
  • Tanggal dimana peralatan dapat digunakan kembali dan
  • Setiap perubahan pada prosedur pemeliharaan dan pemeriksaan fungsi alat apabila ada sebagai tindak lanjut mengatasi masalah

Jadi seandainya setelah dilakukannya trouble shooting ataupun perbaikan oleh supplier harus ada perubahan pada prosedur pemeliharaan atau prosedur pemeriksaan fungsi alat hal tersebut pun harus direkam dengan baik.

Beberapa sarana yang dapat digunakan untuk membantu menyimpan rekaman dari peralatan dapat berupa :

  • Grafik
  • Buku catatan harian
  • Checklist
  • Daftar periksa gambar ataupun
  • Laporan layanan jasa perbaikan dari supplier

Semua rekaman tersebut harus tersedia untuk kaji ulang sepanjang umur peralatan.

Kesimpulan

Melalui program pemeliharaan peralatan laboratorium yang baik akan dapat diperoleh hasil uji yang baik dan keyakinan yang lebih besar terhadap keandalan hasil uji. Manfaat yang signifikan bagi laboratorium adalah :

  • Akan jarang terjadi interupsi dalam layanan jasa pengujian
  • Ongkos perbaikan peralatan dapat menjadi lebih rendah
  • Laboratorium dapat terhindar dari kemungkinan untuk mengganti peralatan sebelum waktunya
  • Meningkatkan keselamatan kerja bagi personil laboratorium

Jadi dapat terlihat dari kesimpulan ini banyak manfaat dapat diperoleh laboratorium melalui program pemeliharaan peralatan yang baik.

Semoga Bermanfaat.

Rujukan :

Pojok Laboratorium

Anda Paham Standarisasi ISO 9001? 5 Pekerjaan ini Untuk Anda!

Anda Paham Standarisasi ISO 9001? 5 Pekerjaan ini Untuk Anda!

Sudah beberapa kali kita membahas mengenai penjelasan klausul-klausul ISO 9001, karena ilmu mengenai standarisasi ISO 9001 ini tidak kita dapatkan di semua jurusan di bangku kuliah, hanya beberapa jurusan saja yang mengajarkannya. Terkadang jika ingin memperdalam pemahaman mengenai klausul-klausul di dalam standar tersebut kita harus mengikuti pelatihan yang harganya kadang jutaan.

Padahal saat ini, hampir semua perusahaan / industri manufacture menerapkan standar ISO 9001 sebagai bagian proses bisnisnya. Nah, kita sebagai pencari kerja / fresh graduate / karyawan tentu bertanya-tanya, apa saja sih peluang karir dunia profesional yang terkait dengan standarisasi 9001 atau standar sistem manajemen mutu ini?

Sekilas Mengenai Standarisasi ISO 9001

sekilas mengenai standar iso 9001

Seperti kita ketahui bersama standar sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2015 merupakan kebutuhan perusahaan untuk dapat bersaing di pasar global.

Faktanya di perusahaan, standar ISO 9001 ini sering juga diintegrasikan dengan persyaratan sistem manajemen lainnya, seperti ISO 14001 tentang sistem manajemen lingkungan, ISO 45001 tentang sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja atau ISO 22000 tentang sistem manajemen keselamatan pangan.

Seluruh standar ISO tersebut tentu berbeda satu sama lain namun tetap memiliki kesamaan prinsip dan struktur pada klausulnya.

Oleh karena itu perusahaan cenderung menginginkan untuk mengintegrasikan beberapa sistem sekaligus agar lebih efektif dan efisien sehingga seringkali jika seseorang ingin paham sistem manajemen lain selain sistem manajemen mutu maka harus lebih dahulu memahami ISO 9001, artinya sistem manajemen mutu ISO 9001 ini kerap dijadikan kerangka berpikir dasar untuk memahami konsep sistem manajemen lainnya.

Jadi sangat disarankan supaya kita terbiasa dengan klausul-klausul di sistem manajemen mutu iso 9001.

5 Macam Pekerjaan Untuk Anda

Berikut ini adalah jenis-jenis profesi yang terkait dengan iso 9001, secara umum ada 5 jenis yaitu :

Dokumen Kontrol

document control

Ketika kita menerapkan standarisasi ISO 9001, maka ada beberapa dokumen wajib yang harus kita buat dan kendalikan. Terlepas dokumen tersebut berbentuk hard copy atau soft copy yang sudah disimpan dalam sistem, tetap harus kita kendalikan dokumennya :

  • Kapan dokumen direvisi
  • Kapan dokumen dimusnahkan
  • Mana dokumen yang harus dikendalikan
  • Bagaimana cara penomoran dokumen untuk memudahkan pengguna.
  • Kapan dokumen tersebut harus kita tarik.

Begitu banyaknya dokumen di dalam perusahaan menjadi tantangan sendiri untuk menanganinya, disinilah peran seorang document control dibutuhkan.

Baca Juga : Informasi Terdokumentasi dan Prosedur Pengendalian Dokumen

Implementator

Sesuai dengan namanya, implementor adalah orang yang mengimplementasikan sistem manajemen di perusahaan tempat dia bekerja. Implementator ini dapat bekerja di departemen manapun misalnya sebagai operator produksi, Staff PPIC, Staff Design dan Development, personel QC, personel QA, bahkan sampai ke manajer gudang, dan lain-lain.

Keahlian yang dimiliki implementator tentu sangat disesuaikan dengan uraian kerja atau job description pada posisi pekerjaan personel bersangkutan.

Untuk menjadi seorang implementator sendiri tidak dituntut untuk memahami ISO 9001 secara mendalam, namun tetap menjadi nilai tambah jika memahami klausul-klausul yang dipersyaratkan di dalam standar sistem manajemen mutu ISO 9001 karena bisa langsung mengaplikasikan persyaratan tersebut dalam bidang pekerjaannya.

Buat teman-teman yang fresh graduate / yang baru lulus dari S1 dan ingin bekerja di perusahaan, tentunya pemahaman terkait dengan sistem manajemen ISO 9001 tentu akan meningkatkan daya saingnya ketika melamar di sebuah perusahaan, karena perusahaan akan berpikir untuk tidak perlu mengeluarkan uang dan waktu untuk memberi kamu pelatihan terkait dengan sistem manajemen mutu ini.

Auditor internal

auditor

Persamaan antara implementator dan auditor internal adalah sama-sama bekerja di dalam perusahaan tempat mereka bekerja. Namun seorang Auditor internal dituntut untuk memiliki pemahaman lebih terkait standar sistem manajemen mutu ISO 9001 di karena personel ini akan mengevaluasi kesesuaian perusahaan terhadap standar sistem manajemen mutu ISO 9001 yang perusahaan terapkan.

Bahkan bisa dibilang auditor internal ini merupakan katalis dari perubahan dari sistem yang mereka terapkan. Seperti kita ketahui kegiatan audit internal ini juga merupakan salah satu hal wajib di dalam sistem mutu tersebut, atau tepatnya di klausul 9.2 ISO 9001.

Sedemikian pentingnya peran auditor internal di dalam perusahaan ini, maka kompetensinya harus benar-benar diperhatikan. Bahkan pelatihan ISO 19011 terkait dengan panduan cara melakukan audit wajib mereka dapatkan sebelum melakukan pekerjaannya sebagai auditor internal, sehingga hasil auditnyapun lebih tajam dan lebih bisa memberikan perbaikan berkelanjutan atau continues improvement.

Baca Juga : Pengertian Continues Improvement

Kegiatan audit internal biasanya berjalan antar lintas departemen, dimana misalnya pada kegiatan audit internal,

  • Auditor internal A yang bekerja di depertemen QC akan mengaudit departemen R&D.
  • Auditor internal B yang bekerja di departemen PPIC akan mengaudit departemen logistik.
  • dll

Sehingga lebih sering pekerjaan sebagai auditor internal ini merupakan sebagai pekerjaan tambahan dari personel bersangkutan.

Auditor Eksternal

Auditor eksternal sangat berbeda dengan auditor internal dan implementator karena mereka bekerja di suatu lembaga sertifikasi. Tugas utamanya adalah mengaudit perusahaan-perusahaan yang ingin disertifikasi standar sistem manajemen mutu ISO 9001.

Banyak yang bilang menjadi auditor eksternal itu sangat menarik, Sebab mereka dapat berkeliling ke berbagai daerah dalam waktu singkat. Seorang auditor eksternal dalam satu tahun bisa mengaudit 60 perusahaan, ini artinya dalam satu minggu mereka bisa mengaudit 1 – 2 perusahaan sekaligus yang lokasinya bisa jadi cukup jauh satu sama lain.

Auditor eksternal dituntut untuk memahami klausul-klausul di dalam ISO 9001 sebab mereka tidak hanya berinteraksi dengan satu proses bisnis namun juga dengan puluhan bahkan ratusan sektor bisnis yang harus mereka nilai kesesuaian penerapannya dengan standar yang telah diterapkan perusahaan.

Kita bisa bayangkan sendiri, untuk sektor bisnis yang ada di indonesia sendiri antara lain sebagai berikut :

  • Industri Manufacture
  • Industri Dasar dan Kimia
  • Keuangan / Perbankan
  • Perdagangan, Jasa dan Investasi
  • Pertambangan
  • Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi
  • Pertanian
  • Properti dan Real Estate
  • Kesehatan / Rumah sakit
  • dll

Dimana industri-industri tersebut saat ini mulai menerapkan sistem manajemen mutu baik untuk meningkatkan efektifitas usahanya ataupun karena tuntutan pasar / pelanggan.

Sehingga untuk menjadi auditor eksternal ini bisa berasal dari background apa saja, karena hampir setiap background ada industrinya.

Misalnya :

  • Auditor eksternal dari lulusan sarjana pendidikan, mereka dapat mengaudit lembaga pendidikan (kampus, sekolah swasta, dll) yang akan menerapkan sistem manajemen.
  • Auditor eskternal dari lulusan sarjana teknik industri, mereka dapat mengaudit perusahaan manufacture.
  • Auditor eksternal dari lulusan sarjana farmasi, mereka dapat mengaudit perusahaan farmasi.
  • dll

Konsultan Standarisasi ISO 9001

konsultan standarisasi iso 9001

Konsultan adalah orang yang membantu suatu perusahaan untuk dapat mempunyai sistem manajemen yang baik.

Tingkat pemahaman akan sistem manajemen bagi seorang konsultan tentunya adalah harus sudah expert / ahli dibidang sistem manajemen, sehingga banyak konsultan yang lahir dari seorang auditor eksternal. Dengan pengalaman yang telah mereka dapatkan secara bertahun-tahun membuat konsultan paham sekali bagaimana merancang sebuah sistem yang sesuai dengan standar sistem manajemen ISO 9001.

Selain itu, kebanyakan perusahaan tidak memiliki cukup sumber daya manusia dan waktu untuk mempelajari dan membangun sistem manajemen tersebut dari awal dan lebih suka menggunakan jasa konsultan karena dirasa lebih efektif dan efisien karena konsultan ini akan membantu perusahaan mendapatkan sertifikat sistem menajamen yang mereka terapkan. Sehingga ia butuh konsultan yang membantu mereka untuk belajar sistem manajemen dan mengimplementasikannya

Baca Juga : Konsultan ISO IEC 17025 : 2015

Pelatihan yang Terkait Sistem Manajemen

Pelatihan-pelatihan yang terkait dengan sistem manajemen yang bisa kita ambil untuk meningkatkan kompetensi di bidang sistem manajemen :

  • Pelatihan Audit Internal
  • Pelatihan Dokumen Kontrol
  • Pelatihan Identifikasi Resiko Peluang
  • Pelatihan QC 7 Tools
  • Pelatihan Leadership
  • dll

Semoga bermanfaat

Bingung Memilih Suplier Alat Ukur? Berikut ini Tipsnya

Bingung Memilih Suplier Alat Ukur? Berikut ini Tipsnya

Peralatan laboratorium / alat ukur yang berkualitas dengan tingkat akurasi sesuai dengan penggunaan yang diperlukan merupakan bagian yang penting dalam laboratorium pengujian atau laboratorium kalibrasi dalam menghasilkan data yang valid.

Sehingga, memilih suplier alat ukur haruslah benar-benar kita perhatikan. Salah dalam memilih suplier alat ukur tersebut, bisa berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan, serta berdampak negatif pada efisiensi pekerjaan di perusahaan.

Dalam beberapa kasus, membeli alat ukur dari dari suplier yang tidak dapat dipercaya bahkan dapat menyebabkan pembengkakan biaya karena layanan purna jual yang kurang bagus, teknisi yang tidak ditraining langsung oleh distributornya, serta yang paling ditakutkan adalah membahayakan kesehatan dan keselamatan pelanggan, dan staf laboratorium jika alat tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Berikut ini beberap tips dalam memilih suplier alat ukur yang bisa kita jadikan panduan.

Identifikasi Kebutuhan Alat Ukur Anda

identifikasi kebutuhan alat ukur

Hal ini merupakan yang paling mendasar, pahami kebutuhan anda, alat ukur apa yang ingin anda beli :

  • Akan ada gunakan untuk apa ?
  • Tingkat akurasinya Berapa ?
  • Metode analisa / Metode pengujian / Metode kalibrasi yang anda jadikan referensi mempersyaratkan apa?

Tahapan ini mungkin paling membosankan dan memakan waktu. Tapi ini akan lebih baik dibandingkan anda salah dalam membeli alat ukur yang akhirnya alat tidak bisa digunakan karena tidak sesuai dengan fungsinya.

Contoh 1 :

Sebuah perusahaan mempunyai kebutuhan untuk analisa packaging material misalnya : kemasan primer tube / botol. Di dalam drawing / spesifikasi kemasan tube / botol tersebut mempersyaratkan kriteria keberterimaan tube / botol adalah ± 0.005 mm, nah perusahaan tersebut membeli digital caliper / jangka sorong dengan resolusi 0.01 mm.

Kelihatannya sederhana, namun dalam kasus tersebut perusahaan salah dalam melakukan pembelian alat ukur. Seharusnya mereka membeli alat ukur dengan resolusi 0.001 mm misalnya : digital mikrometer

Baca Juga : Cara Membaca Jangka Sorong Dengan Mudah

Contoh 2 :

Perusahaan farmasi untuk memenuhi kebutuhan analisanya maka mereka melakukan pengukuran pH meter terhadap sistem purified water yang ada di perusahaannya, namun mereka membeli unit pH meter dengan elektroda yang digunakan untuk mengukur sampel secara general.

Hal ini juga kurang tepat meskipun elektroda pH meter tersebut dapat digunakan, namun untuk melakukan pengukuran terhadap purified water sebaiknya menggunakan elektroda yang memang dikhususkan untuk mengukur PW tersebut.

Contoh 3 :

Dalam sebuah laboratorium pengujian dilakukan analisa kadar abu dengan menggunakan furnace laboratorium, dan pada proses penimbangan sampel mengharuskan menggunakan timbangan analitik dengan resolusi 0.0001 g, namun laboratorium membeli precision ballance dengan resolusi 0.001 g.

Spesifikasi kebutuhan alat ukur sebelum dilakukan pembelian tersebut biasanya dituangkan dalam dokumen URS (User Requirement Specification).

Mungkin teman-teman bertanya..

Kenapa tidak langsung ditanyakan ke suplier alat ukurnya langsung saja.

Tidak semua Suplier mempunyai pengetahuan teknis untuk semua alat ukur. Meskipun tidak semua, terkadang mereka hanya mengejar target penjualan sehingga tidak menghiraukan dampak yang akan dialami user / konsumen jika terjadi kesalahan dalam pengukuran.

Namun jika anda memang merasa lebih nyaman bertanya ke suplier alat ukur, bertanyalah ke beberapa Suplier untuk melakukan perbandingan.

Tentukan Brand dan Tipe

tentukan brand

Setelah kita mengetahui kebutuhannya, maka cari beberapa brand dan tipe untuk alat ukur bersangkutan. Usahakan paling tidak menemukan 3 – 5 brand terkait alat ukur yang ingin kita beli. Karena ini akan menginformasikan kepada kita mengenai kelebihan serta kekurangan dari masing-masing brand tersebut.

  • Terkadang ada satu brand yang dari sisi akurasi lebih unggul dibandingkan dengan yang lainnya, namun dari sisi harga relatif malah di luar anggaran yang kita sediakan.
  • Terkadang ada satu brand yang memberikan harga relatif murah, namun assesories alat ukur mereka jual secara terpisah.
  • Terkadang ada satu brand yang memberikan harga yang agak mahal, namun alat ukur yang mereka jual sudah termasuk dengan biaya kalibrasi alat ke laboratorium kalibrasi terakreditasi KAN.
  • dll.

Temukan Agen Resminya

Karena kita berbicara di indonesia, dan hampir semua merk alat ukur tersebut tidak ada yang dari indonesia, maka kita harus mencari agen resminya.

Agen resmi / distributor resmi biasanya ditandai dengan adanya LOA (Letter of Origin), semacam surat penunjukan dari brand bersangkutan yang menyatakan bahwa Suplier tersebut secara resmi menjadi distributor brand bersangkutan.

Membeli dari agen resmi tentunya mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan Suplier trading yang hampir menjual semua alat ukur. Karena dari sisi support mereka lebih paham akan teknis alatnya, agen resmi juga akan menjaga nama baik dari brand bersangkutan sehingga mereka tidak hanya menjual namun juga memberikan support setelah penjualan.

Untuk mencari agen resmi, bisa kita lakukan dengan browsing di google, hampir semua merk / brand saat ini mempunyai website untuk menampilkan produk-produknya, mengedukasi pelanggannya, atau untuk mengumpulkan database customer baru yang akan mereke follow di kemudian hari.

Di website brand bersangkutan tersebut tentunya ada menu kontak. Hubungi mereka melalui email, tanyakan apakah mempunyai agen resmi di indonesia, mereka akan dengan senang hati menjawabnya.

Cara lain yang bisa kita lakukan adalah dengan menghandiri pameran-pameran yang diadakan secara berkala, contohnya : pameran lab indo, dimana di dalam pameran tersebut hampir semua pesertanya adalah Suplier alat ukur yang berstatus agen resmi. Jangan pernah beranggapan kita membuang-buang waktu dan mengganggu pekerjaan jika pergi ke pameran tersebut. Percayalah dengan pergi ke pameran tersebut kita akan mendapatkan banyak manfaat.

Minta Penawaran Harga Ke Suplier Alat Ukur

penawaran harga alat ukur

Setelah ketemu agen resminya, minta penawaran harga ke mereka terkait alat ukur yang akan kita beli. Bandingkan satu sama lain, dari sisi :

  • Harga, tidak semua harga yang lebih mahal menjamin kualitas yang lebih bagus, demikian sebaliknya. Namun tetap ini akam menjadi pertimbangan awal terkait dengan anggaran yang akan dikeluarkan.
  • Lama waktu Indent, meskipun tidak semua, untuk alat ukur / instrumen laboratorium hampir semuanya membutuhkan waktu untuk indent. Lama waktu yang dibutuhkan biasanya berkisar 6 – 8 minggu. Pertimbangkan hal tersebut, apakah alat ukur yang anda beli kondisinya urgent akan segera digunakan atau seperti apa?
  • Assesories yang termasuk dalam paket pembelian
  • Misalnya : Kita melakukan pembelian pH meter atau conductivity meter, apakah dalam paket pembelian tersebut sudah termasuk dengan larutan standar yang digunakan untuk kalibrasi?
  • Kita akan melakukan pembelian alat uji kadar air (moisture analyzer), apakah dalam paket pembelian sudah termasuk dengan assesories pan nya?
  • dll
  • Apakah sudah termasuk biaya kalibrasi. Untuk beberapa peralatan yang sederhana seperti mikrometer sekrup, dial indikator, cylinder bore gauge. Sangat jarang menjual unitnya yang sudah termasuk dengan sertifikat kalibrasi dari laboratorium terakreditas, mengingat unit alat tersebut mempunyai harga yang relatif murah. Jika anda membutuhkan sertifikat kalibrasi untuk unit alat tersebut, pastikan ke Suplier alat ukur terkait dengan harganya.
  • Apakah sudah termasuk biaya IQ, OQ, PQ Beberapa instrument laboratorium membutuhkan IQ, OQ, PQ pada saat pembeliannya, misalnya HPLC, Spektrofotometer UV Vis, Spektrofotometer Serapan Atom (AAS), FTIR, Gas Chromatografi (GC), TOC dll. Pastikan bahwa di penawaran sudah termasuk dengan harga IQ OQ PQ tersebut, karena beberapa Suplier alat ukur terkadang memisahkan dari harga unitnya.

Baca Juga : Mengenal Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Lebih Detil

Ambil Kesimpulan Alat yang Dibeli

akhirnya menemukan suplier alat ukur

Kita sudah melakukan perbandingan secara mendetil terkait dengan alat ukur / instrumen yang akan kita beli. Nah pada tahap terakhir ini seharusnya kita sudah dapat menyimpul alat ukur yang akan kita beli dan dari Suplier alat ukur yang mana.

Semoga Bermanfaat.

Evaluasi Kinerja Pada Klausul 9 Standar ISO 9001 : 2015

Evaluasi Kinerja Pada Klausul 9 Standar ISO 9001 : 2015

Dalam sistem manajemen, selain dimulai dengan fase perencanaan, kemudian pelaksanaan, tentunya harus di evaluasi untuk mengetahui efektifitas di dalam pelaksanaan tersebut. Nah jika dikaitkan dengan standar ISO 9001, fase evaluasi tersebut berada di klausul 9 ISO 9001 : 2015 yang berfungsi untuk mengevaluasi implementasi sistem manajemen yang sudah dilakukan apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan.

Klausul 9 ISO 9001 : 2015 ini terdiri dari beberapa sub klausul yaitu :

  • Sub klausul 9.1 Monitoring, pengukuran, analisis, dan evaluasi
  • Sub klausul 9.2 Audit internal
  • Sub klausul 9.3 Tinjauan manajemen

Nah di artikel ini kita akan sedikit membahas satu per satu sub klausul tersebut.

Sub Klausul 9.1 Monitoring, pengukuran, analisis dan evaluasi

klausul 9.1 monitoring dan evaluasi

Klausul ini mewajibkan kita harus melakukan pemantauan dan pengukuran terhadap implementasi sistem yang sudah kita lakukan. Aktivitas di sub klausul 9.1 ini sangat erat berkaitan dengan sub klausul 6.2 mengenai sasaran mutu dan pengukuran kepuasan pelanggan sebab sasaran mutu diharuskan untuk diukur, dipantau, dan dievaluasi secara berkala sedangkan kepuasan pelanggan menjadi persyaratan wajib implementasi sistem manajemen mutu, meskipun tidak menutup kemungkinan sub klausul 9.1 ini terkait dengan klausul-klausul ISO 9001 lainnya.

Kita harus mengidentifikasi hal apa saja yang harus kita ukur terkait dengan proses bisnis yang ada, misalnya :

  1. Area pergudangan di PT. ABC memiliki aspek kelembaban udara dan temperatur yang harus kita ukur.
  2. Area produksi memiliki aspek jumlah produk dan kecepatan produksi serta kapasitas produksi.
  3. Area marketing memiliki ukuran penjualan, cakupan layanan, nilai penjualan, jumlah customer dan biaya pemasaran.
  4. dll

Hal-hal tersebut adalah satuan ukuran yang harus dipantau dan dievaluasi serta dianalisis secara berkala.

Pada umumnya auditor akan menanyakan beberapa sebagai berikut :

  • Relevansi dari ukuran-ukuran yang ditetapkan, maksudnya adalah tentunya kita tidak akan menilai hasil pengukuran kelembaban udara relevan di area keuangan, karena tidak akan terkait dikarenakan kelembaban udara berpengaruh dengan produk yang akan kita simpan.
  • Bagaimana hal tersebut diukur? Metode tentang bagaimana hal tersebut diukur misalnya contoh kasusnya : Kita tahu bahwa jumlah customer menjadi ukuran yang penting di area marketing, namun kita perlu mendalami metode perhitungan untuk menilai validitas data tersebut.
  • Periode Pemantauan dan evaluasi dari masing-masing ukuran tersebut, maksudnya adalah terkadang ada target atau ukuran yang ingin dicapai dalam satuan waktu. Misalnya : jumlah customer akan dievaluasi setiap bulan sehingga kita harus pastikan perusahaan mampu mengeluarkan data tersebut sampai waktu dievaluasi.

Catatan :

Untuk pengukuran kepuasan pelanggan umumnya bisa dilakukan secara mandiri oleh perusahaan terkait namun banyak juga konsultan yang menyediakan jasa untuk melakukan pengukuran kepuasan pelanggan.

Sub Klausul 9.2 Audit internal

klausul 9.2 internal audit

Audit internal wajib bagi perusahaan yang ingin mendapatkan sertifikasi ISO 9001 : 2015. Seperti yang kita ketahui audit internal dilakukan oleh seorang auditor internal yang juga merupakan karyawan atau personil yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

Kemudian dibentuk tim auditor yang akan mengaudit seluruh unit yang masuk dalam lingkup penerapan sistem manajemen mutu atau hal ini serupa seperti yang dijelaskan dalam klausul 4.3 yaitu tentang ruang lingkup.

Kemudian hal yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan agar bisa melakukan audit internal ada lima yaitu :

  1. Perusahaan harus menetapkan prosedur audit prosedur audit yang berisi informasi tentang tim auditor, frekuensi audit, metode audit, laporan audit dan pencatatan audit.
  2. Perusahaan harus menetapkan kriteria audit dan cakupan untuk tiap audit, maksudnya kriteria audit disini adalah standar ISO 9001 itu sendiri dan persyaratan atau peraturan lainnya yang terkait. Sedangkan cakupan audit kurang lebih sama dengan apa yang tertulis didalam sub klausul 4.3 yaitu tentang ruang lingkup.
  3. Perusahaan harus memiliki auditor dan memastikan objektivitas dari proses audit yang dilakukan. Misalnya ada seorang auditor internal yang sehari-harinya bekerja di area produksi, maka personel tersebut tidak boleh mengaudit di area produksi tempat dia biasa bekerja, sebab Hal ini dapat mengurangi ketidakberpihakan proses audit.
  4. Hasil audit dilaporkan dengan sesuai artinya mengikuti standar penulisan laporan yang ada dan dilaporkan ke manajemen yang relevan. Kadang banyak dokumen yang dibuat namun tidak mengikuti standar prosedur dokumentasi. Hal ini menyebabkan gini tersebut menjadi tidak terkendali.
  5. Menyimpan seluruh informasi terdokumentasi sebagai bukti dari pelaksanaan program audit dan hasil audit yang telah dilakukan.

Untuk personel auditor juga harus dipastikan kompetensinya, umumnya beberapa perusahaan mengadakan training ISO 19001 untuk meningkatkan kompetensi auditor. Disini tentunya jam terbang auditor sangat berpengaruh, dimana semakin sering dia melakukan audit, maka semakin tajam juga temuan-temuan yang akan didapatkan.

Dalam artian temuan tidak sebatas ke pemenuhan persyaratan saja namun sudah menuju ke arah efektifkan sebuah sistem tersebut berjalan?

Training ISO 19001 tersebut memberikan panduan bagaimana menyusun program audit, bagaimana melakukan audit, berikut dengan cara penulisan corective action dan preventive aciton (CAPA) yang tepat.

Baca Juga : Pengertian Corective Action dan Preventive Aciton

Sub klausul 9.3 Evaluasi Kinerja

 

manajemen review

Evaluasi Kinerja dapat dilakukan melalui tinjauan manajemen.

Apa itu tinjauan manajemen?

Tinjauan artinya kinerja harus ditinjau atau dipantau setiap saat supaya kita bisa melihat perkembangan yang ada.

Manajemen adalah pimpinan perusahaan.

Umumnya kegiatan tinjauan manajemen dilakukan dalam suatu pertemuan yang disebut dengan rapat tinjauan manajemen atau management review meeting dimana di dalam rapat tersebut terdapat pembahasan tentang hasil evaluasi kinerja yang telah dilakukan melalui hasil pengukuran, pemantauan, evaluasi hasil kepuasan pelanggan dan hasil audit internal maupun eksternal.

Kemudian didalam rapat tersebut ditentukan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).

Ada beberapa perusahaan yang melakukannya sebanyak 1 x dalam setahun atau 2 xdalam setahun atau bahkan lebih sering sesuai kemampuan keuangan, waktu dan kondisi yang ada.

Kenapa rapat tinjauan manajemen bisa dilakukan hanya dalam waktu 1 x setahun?

Karena banyak aktivitas penerapan sistem manajemen yang dilakukan secara teknis oleh supervisor atau operator yang notabene level menengah kebawah dalam suatu perusahaan. Sedangkan pimpinan atau direksi tidak setiap saat dapat memantau pekerjaan teknis setiap unit yang ada dan interaksinya dengan sistem manajemen mutu juga cukup terbatas walaupun disaat yang sama banyak ketidaksesuaian yang terjadi dilapangan membutuhkan komitmen top management atau pimpinan puncak untuk memberikan solusi.

Tujuan rapat tinjauan manajemen adalah meninjau kesesuaian dan ketidaksesuaian yang ada di dalam perusahaan terhadap standar sistem manajemen mutu.

Output yang diharapkan dari aktivitas rapat tinjauan manajemen adalah :

  • Ada peluang untuk perbaikan

Terkadang di lapangan ditemukan hal-hal yang mengindikasikan peluang untuk perbaikan.

Misalnya : peluang untuk penerapan teknologi baru, kerjasama dengan pihak ketiga, dan lain-lain yang mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja sistem manajemen mutu.

  • Perlunya perubahan terhadap sistem manajemen mutu

Perubahan disini dapat berarti perubahan tentang sistem dokumentasi, perubahan tentang ruang lingkup penerapan sistem, atau penerapan lainnya yang berpengaruh terhadap berjalannya sistem manajemen mutu.

Contohnya : perusahaan akan meningkatkan kapasitas produksi, maka diperlukan adanya penilaian atau assessment terlebih dahulu terkait dengan risiko persyaratan produk dan hal lainnya yang terkait dengan standar sistem manajemen mutu.

  • Pengadaan sumber daya

Contohnya terkadang untuk memenuhi suatu persyaratan peraturan tertentu dibutuhkan adanya pengadaan alat-alat atau fasilitas khusus, Seperti alat ukur yang harus dikalibrasi ke laboratorium kalibrasi terakreditasi KAN, fasilitas atau bangunan kedap udara, atau hal apapun yang dapat berpengaruh terhadap kualitas produk atau jasa.

Disaat yang sama pengadaan sumber daya tersebut tidak dapat dilakukan serta merta oleh manajemen menengah kebawah dan perlu persetujuan khusus dari pimpinan puncak.

Oleh sebab itu didalam rapat tinjauan manajemen seluruh personel akan menampilkan hasil pengukuran dan pemantauan yang menunjukkan alasan kenapa sumberdaya tersebut perlu diadakan.

Nah demikian sedikit pembahasan tentang klausul 9 ISO 9001 : 2015 mengenai evaluasi kinerja.

Semoga bermanfaat

Apa itu HACCP (Hazard Analysis and Critical   Control Points)?

Apa itu HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points)?

Berbagai macam produk olahan pangan saat ini semakin mudah kita temukan baik yang diproduksi oleh UMKM maupun dari industri skala besar. Untuk semakin meningkatkan kepuasan pelanggan para produsenpun berlomba-lomba membuat produk yang berkualitas. Jika berhubungan dengan produk pangan, tentunya salah satu indikatornya adalah dengan memastikan bahwa produk makanan aman untuk dikonsumsi.

Untuk menghasilkan produk yang aman tersebut tentunya perlu penanganan yang baik mulai dari penyiapan bahan, tahapan setiap proses produksi, sampai ke pengemasan. Salah satunya adalah dengan menerapkan HACCP. Lalu apa pentingnya dan bagaimana cara menetapkan HACCP tersebut?

Yuk.. simak di artikel berikut ini.

Singkatan :

HACCP Singkatan dari Hazard Analysis and Critical Control Points

CCP Singkatan dari Critical Control Points

Pengertian HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points)

arti haccp

HACCP adalah suatu alat manajemen yang digunakan untuk melindungi atau memproteksi rantai suplay pangan dan proses produksi terhadap kontaminasi bahaya kimia, mikrobiologisdan fisika.

Sistem HACCP dirancang untuk mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya yang diperkirakan muncul pada makanan sejak penerimaan bahan mentah, selama proses pengolahan, sampai dengan distribusi ke konsumen.

Jadi prinsipnya adalah mencegah timbulnya ancaman pada produk makanan sedini mungkin.

Jadi bukan pada produk akhir atau dari hasil pengujian namun kita melakukan pencegahan sedini mungkin / dari sejak awal.

Meskipun hal tersebut bukan suatu jaminan keamanan pangan tanpa resiko, namun HACCP dirancang untuk meminimalkan risiko bahaya keamanan pangan sampai pada level yang bisa diterima.

Nah… Siapa sih yang seharusnya menerapkan HACCP?

Apakah hanya untuk industri pangan besar / Industri yang prosesnya panjang? Misalnya : untuk produk seperti makanan kaleng? Bagaimana dengan produk-produk seperti produk rumahan (UMKM) yang sekarang banyak berkembang seperti macam-macam keripik, frozen food, dll.

Pada dasarnya HACCP bisa diterapkan baik pada industri kecil maupun industri besar.

Apa sesungguhnya pentingnya menerapkan HACCP jika kita misalnya kita memproduksi keripik?

Dengan menerapkan HACCP, maka paling tidak kita memberikan jaminan keamanan pangan, sehingga sangat memungkinkan produk kita tersebut bisa semakin berkembang karena konsumen merasa aman.

Manfaat lainnya antara lain :

Supaya tidak terjadi penarikan produk sehingga terjadi kerugian secara material yang tentunya berdampak pada hilangnya kepercayaan konsumen.

Bahaya Keamanan Pangan

Bahaya keamanan pangan antara lain :

  • Mikrobiologis
  • Kimia, misalnya : senyawa senyawa pestisida
  • Fisik, misalnya : rambut, tulang, steples.
  • Alergen, dapat menimbulkan masalah gatal-gatal.

Kita perlu tahu bahaya keamanan pangannya dari mana saja berasal. Jadi dalam hal ini kita perlu tahu apa saja yang bisa menimbulkan potensi bahaya.

Jadi bisa dikatakan HACCP adalah suatu rancangan mencegah resiko pangan sejak awal, bukan sesuatu jika nanti kalau sudah terjadi sesuatu baru kita bingung apa yang harus kita lakukan. Jadi kita sudah membayangkan dari awal potensi bahayanya seperti apa dan bagaimana kita melindungi produk kita dari bahaya keamanan pangan tersebut.

Nah sistem keamanan pangan ini diperlukan untuk mencegah bahaya pada makanan itu.

GMP (Good Manufacturing Practice) merupakan prasarat dalam penetapan HACCP. Sehingga sebelum menerapkan HACCP kita perlu memperbaiki hygiene, sanitasinya,melaksanakan cara pengolahan yang baik, dll

Jika kita lihat suatu proses dari bahan baku sampai menjadi produk yang bermutu dan aman tentunya melewati proses yang panjang mulai dari bahan-bahan utama, bahan tambahan, melalui tahapan-tahapan proses pengolahan dimana tentunya melibatkan personel yang bekerja, peralatan, lingkungan, dll

Baca Juga : Memahami Perbedaan Sanitasi dan Hygiene

Dimana hal-hal diatas bisa menjadi sumber yang memberikan potensi bahaya.

Prinsip HACCP adalah pengawasan yang dilakukan mulai dari bahan baku sampai produk / melakukan usaha meminimalkan bahaya seminimum mungkin.

Setiap perusahaan mempunyai potensi bahaya yang berbeda-beda.

Misalnya sama-sama usahanya adalah membuat nugget, namun jika kita perbandingkan, maka :

  1. Pegawainya juga beda
  2. Air yang digunakannya beda
  3. Prosedurnya / Cara membuatnya pun mungkin berbeda.
  4. dll

Sehingga setiap usaha itu mempunyai potensi bahaya yang berbeda-beda.

Tahapan Penerapan HACCP

7 prinsip haccp

Sebelum kita menerapkan HACCP, ada 5 langkah yang harus kita lakukan terlebih dahulu, yaitu :

  1. Pembentukan tim HACCP
  2. Membuat deskripsi produk
  3. Identifikasi rencana penggunaan
  4. Penyusunan diagram alir
  5. Verifikasi diagram alir

Setelah itu baru kita lakukan 7 prinsip HACCP yaitu :

  1. Prinsip 1. Melakukan analisa bahaya
  2. Prinsip 2. Menentukan titik kendali kritis atau CCP
  3. Prinsip 3. Menetapkan batas kritis
  4. Prinsip 4. Menetapkan sistem pemantauan terhadap CCP
  5. Prinsip 5. Menetapkan tindakan koreksi
  6. Prinsip 6. Menetapkan tindakan verifikasi
  7. Prinsip 7. Menetapkan dokumentasi

Nah untuk 5 langkah dan 7 prinsip tersebut diatas bisa diterapkan baik di industri kecil maupun besar bahkan untuk UMKM. Jadi kita bisa mulai dengan melakukan cara pengolahan baik kemudian meningkat kepada mempersiapkan penerapan HACCP nya.

Langkah 1. Pembentukan Tim HACCP

Untuk perusahaan yang besar atau kecil tentunya dapat menyesuaikan untuk personelnya, Namun pada intinya adalah tim ini terdiri dari beberapa orang yang itu multi disiplin, antara lain :

  • Ahli di bidang produksi
  • Ahli di bidang QA / QC (misalnya : ahli mikrobiology mungkin bagian quality control yang sesuai dengan kebutuhan / disesuaikan dengan jenis usahanya)
  • Ahli Teknis.

Di dalam tim tersebut tentunya harus ada ketua tim yang memahami tentang teori dan praktek dari HACCP.

Ketua tim ini juga perlu tahu serta perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang :

  • Prinsip-prinsip HACCP
  • Peran HACCP dalam rantai makanan.
  • dll

Jadi masing-masing bisa menentukan sendiri dan tidak ada harus sama dengan perusahaan lain dan bisa didiskusikan / dibicarakan mana kira-kiranya bisa jadi tim HACCP.

Tim HACCP Dapat Terdiiri Dari :

  • Bagian Produksi
  • Bagian QA
  • Ahli Teknik
  • Bagian Sanitasi
  • Manajer Produksi
  • Bagian Bahan Baku
  • Bagian Pemeliharaan Alat
  • dll

Langkah 2. Membuat Deskripsi Produk

Misalnya kita menyebut produknya adalah bakpia. Nah masih ada pertanyaan lagi..

  • Bakpia isi Apa?
  • Dikemas Seperti apa?
  • Komposisinya seperti apa?
  • Karakteristiknya bagaimana : fisik, kimiawi, atau biologis?
  • Cara produksinya bagaimana?
  • Pengemasan, kemasan primer dan pelindungnya bagaimana?
  • Informasi pada labelnya apa saja?
  • Kondisi / Cara penyimpanannya seperti apa?
  • Umur simpannya berapa lama?
  • Metode distribusinya menggunakan apa?
  • Petunjuk penggunaannya bagaimana?

Nah hal-hal tersebut diatas semuanya di deskripsikan. Dalam arti kata lain kita yang melakukan usaha harus mempunyai catatan / dokumen produk kita seperti apa?

Contoh lain :

mencegah bahaya pangan

Saat ini banyak yang membuat nugget dengan varian bermacam-macam nugget.

Ada yang dijual curah (kiloan), ada yang dibungkus, ada yang di vacuum.

Nah macam-macam tersebut harus dijelaskan karena nanti potensi bahayanya juga tidak sama.

  • Kemasannya apa? harus disebutkan / dituliskan
  • Cara penyimpanannya bagaimana? Karena cara penyimpanan yang salah juga bisa memberikan potensi bahaya.
  • Cara mendistribusikan bagaimana?
  • Petunjuk penggunaan juga harus dideskripsikan dengan jelas.

Contoh deskripsi produk yang lain :

Kacang Mete Goreng dalam Kemasan

  • Komposisi : Kacang mete, garam, bawang putih.
  • Karakteristik : Garing, warna coklat tidak gosong, rasa asin, gurih.
  • Kemasan utama dan pelindung : plastik dan karton ukuran…
  • Kondisi penyimpanan dan distribusi : Kering dan suhu ruang
  • Tempat penjualan : pasar, supermarket
  • Umur produk : 6 bulan suhu ruang
  • Petunjuk pemakaian : langsung dikonsumsi
  • Label : Tanggal kadaluwarsa, berat produk, kode barcode, tempat produksi, …

Baca Juga : Peraturan Membuat Label Kemasan

Langkah 3. Identifikasi Rencana Penggunaan

Kita harus mengidentifikasi produk kita ini nanti untuk siapa? Misalnya : untuk umum, anak-anak, atau dewasa.

Karena ada kelompok-kelompok pengguna yang khusus misalnya :

  • Bayi
  • Balita
  • Ibu hamil ataupun menyusui
  • Orang sakit
  • Orang tua
  • Orang yang punya alergi

Rencana penggunanya Bagaimana ?

  • Apakah langsung siap dikonsumsi atau siap di masak / ready to cook.
  • Atau perlu pengolahan lebih lanjut.

Langkah 4. Penyusunan diagram alir

Penyusunan diagram alir ini berkaitan atau sangat menentukan bagaimana kita melakukan analisa potensi.

Digram alir harus ditulis secara jelas :

Mulai dari bahan baku, pendukung, dan tambahan.

  • Diagram alir proses : jelas, akurat, dan detail.
  • Dimulai dari penerimaan pasokan bahan hingga penyajian
  • Saat semua bahan baku, pendukung dan tambahan masuk proses
  • Saat proses rework
  • Dilengkapi dengan tindakan pengendalian dan parameter proses
  • Berdasarkan persyaratan pihak eksternal, pelanggan, peraturan pemerintah dll
  • Untuk dasar evaluasi bahaya.

Baca Juga : Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku

Langkah 5. Verifikasi Diagram Alir

Nah setelah membuat diagram alir maka diagram alir harus diverifikasi. Diagram alir harus sama persis dengan yang dilakukan, jika tidak sama maka harus dilakukan revisi.

Cara Verifikasi Diagram Alir :

  • Verifikasi dilakukan mulai dari awal sampai akhir proses (jangan sampai ada yang terlewatkan)
  • Melihat di lapangan, wawancara dengan personel terkait.
  • Memastikan semua parameter proses sesuai.

Revisi

  • Sesuai kondisi praktek di lapangan atau praktek di lapangan disesuaikan dengan diagram alir.

Siapa yang melakukan verifikasi?

  • Siapa yang penting orang yang paham tentang proses
  • Supervisor / Manager Produksi
  • Departemen lain yang paham proses.

Prinsip 1. Melakukan Analisa Bahaya

Kita bisa melakukan analisa bahaya dengan cara :

  • Mengumpulkan informasi atau melakukan evaluasi potensi bahaya yang terkait dengan pangan.
  • Hal ini penting dalam kita memutuskan apakah potensi bahaya ini signifikan dan harus diatasi dengan perencanaan HACCP.
  • Potensi bahaya biologi, kimia maupun fisiknya.

Tahapan dalam melakukan analisa bahaya :

  • Mengidentifikasi bahaya

Tahapan bisa kita lakukan dengan menggunakan diagram alir proses dari bahan mentah ke setiap tahapan untuk kita analisa bahayanya.  Identifikasi potensi bahaya terkait bahaya berikut “

Biologis :

    1. Bakteri : S. Aureus. L nomocytogene, pathoenic, E Coli, Salmonela.
    2. Virus : Norovirus, hepatitis A, hepatitis E
    3. Parasit : Protozoa, cacing

Fisik :

    1. Batu, serangga, kayu, kotoran
    2. Gelas, logam, tulang.
    3. Rambut

Kimia :

    1. Mikotoksi, hitamin
    2. Residu, insektisida, fungisida, fertilizers, peptisida, antibiotika, hormon pertumbuhan.
    3. Lingkungan terkontaminasi logam berat
    4. Zat terlaran : borax, formalin, pewarna non pangan, dll

Perlu dipertimbangkan pada setiap tahapan berikut :

    1. Bahan baku
    2. Desain dan peralatan pabrik
    3. Faktor internal
    4. Desain proses
    5. Desain fasilitas
    6. Karyawan
    7. Pengemasan
    8. Penyimpanan dan distribusi.
  • Melakukan evaluasi potensi bahaya

resiko bahaya pangan

    1. Melakukan evaluasi apakah beresiko tinggi atau tidak bahaya yang akan terjadi?
    2. Apakah serius atau tidak bahaya tersebut jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat?
    3. Apakah sering terjadi / kita menetapkan kemungkindan terjadinya potensi bahaya?
    4. Menetapkan apakah bahaya tersebut harus dikategorikan dalam perencanaan HACCP.

 

Evaluasi potensi bahaya tersebut dapat dilakukan pada :

    1. Pengetahuan dari TIM HACCP, pustaka atau dari informasi-informasi keluhan
    2. Informasi pemasok
    3. Informasi penarikan produk, dan keluhan pelanggan.
    4. Dampaknya terhadap kesehatan konsumen, dan juga terhadap reputasi bisnis.
    5. dll.

Jadi kita bisa melihat potensi bahaya dari yang terendah sampai yang tertinggi dan kemungkinan seringnya dari bahaya itu terjadi.

kategori resiko makanan

Tabel pendekatan pada kategori resiko pangan.

  • Identifikasi Tindakan Pengendalian

Yaitu tindakan untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi bahaya pada tingkat yang dapat diterima.

Misalnya :

Pada Tahap Penyimpanan Bahan Baku

    • Apakah ada potensi bahaya keamanan pangan di penyimpanan bahan baku ?

Ya, bahaya biologi (kemungkinan ditumbuhi pertumbuhan mikroba)

    • Adakah tindakan pengendalian untuk mencegah potensi bahaya ?

Harus disimpan pada suhu yang sesuai.

Pada Tahap Pengemasan

    • Apakah ada potensi bahaya keamanan pangan di pengemasan bahan baku ?

Ya, biologi, fisik (higiene personal buruk)

    • Adakah tindakan pengendalian untuk mencegah potensi bahaya ?

Pelatihan sanitasi dan higiene.

Prinsip 2. Penentuan Titik Kendali Kritis (CCP)

penentuan ccp

Tahapan / prosedur dalam pengolahan pangan, sangat penting untuk mencegah atau menghilangkan bahaya keamanan pangan, atau mengurangi sampai batas yang masih diterima.

Hilangnya kendali dapat menimbulkan peluang terjadinya resiko kesehatan yang besar.

Caranya?

  • Pendekatan logis dan konsiten
  • Pohon keputusan (Codex Decision Tree)

Titik kendali kritis adalah titik dimana tidak dikendalikan mempunyai risiko kesehatan yang besar.

cara membuat critical control point ccp

Prinsip 3. Penetapkan batas kritis / Critical Control Points

Batas Kritis

  • Setiap CCP (Critical Control Points) ditentukan batas kritisnya
  • Batas antara keadaan dapat diterima dan tidak dapat diterima
  • Batas kritis harus dapat diukur
  • Mudah diamati
  • Sumber informasi : FDA, Kemenkes, Pengalaman, Saran pakar, publikasi
  • Menjamin CCP (Critical Control Points) dapat mengendalikan secara efektif potensi bahaya
  • Bila terjadi penyimpangan dari batas, tindakan perbaikan harus dilakukan untuk menjamin keamanan pangan.

Jenis Batas Kritis

penentuan titik kendali kritis

  • Batas kimia >>> Bahaya kimia >> Kadar maksiml, BTP
  • Batas fisik >>> Bahaya fisik >> Tidak ada logam
  • Batas mikrobiologis >> Tidak digunakan >> Waktu lama, mahal

Batas bisa bahaya kimia fisik atau mikrobiologis namun untuk batas mikrobiologis biasanya tidak dilakukan karena sulit.

Prinsip 4. Menetapkan Sistem Pemantauan CCP (Critical Control Points)

  • Bagaimana memantau CCP tersebut?
  • Dimana dilakukan pemantauan?
  • Kapan dilakukan pemantauan?
  • Siapa yang melakukan?
  • Bagaimana caranya?

Catatan : Setiap CCP harus dilakukan sistem pemantauan.

Monitoring :

  • Apakah CCP masih terkendali?
  • Indikasi saat terjadi lepas kendali pada CCP dan deviasi dari batas kritis.
  • Bila batas kritis terlampaui, diperlukan tindakan korektif.
  • Terjadwal, frekuensi

Alat pemantauan

  • Pengujian : fisika, kimia

Prinsip 5. Penetapan tindakan koreksi

Tindakan koreksi direncanakan untuk setiap CCP (Critical Control Points) bila melampaui batas kritis.

  • Ditetapkan pada rencana HACCP
  • Untuk memperbaiki penyebab ketidaksesuaian untuk mencegah timbulnya produk tidak sesuai
  • Prosedur tindakan perbaikan harus lengkap
  • Menggunakan hasil monitoring untuk menyesuaikan dengan proses untuk mempertahankan kendali
  • Bila kendali hilang produk yang tidak memenuhi harus diselesaikan.

Tindakan koreksi bisa terhadap 2 hal :

  • Harus diselesaikan (Correction)
    1. Apakah masih dapat diproses lanjut
    2. Apakah bisa diproses ulang
    3. Apakah peruntukannya diubah
    4. Apakah sudah tidak layak dimanfaatkan
    5. Metode pemusnahan yang dipilih
  • Tindakan pada penyebab penyimpangan (Corrective Action)

Prinsip 6. Penetapkan Tindakan Verifikasi

Verifikasi adalah aktivitas selain monitoring yang menentukan validitas dari rencana HACCP dan menerangkan apakah sistem berjalan sesuai yang direncanakan. Memastikan penyimpangan yang sudah terjadi teratasi dan semua prosedur telah dilaksanakan dengan benar.

Point penting : Harus lengkap : Apa, dimana, kapan, bagaimana, siapa.

Aktivitas Verifikasi :

  • Pemeriksaan catatan pemantauan
  • Pemeriksaan penyimpanan dan tindakan yang diambil
  • Inspeksi visual saat produksi terhadap tindakan pengendalian
  • Pengambilan contoh dan analisis secara acak.

Prinsip 7. Penetapan Dokumentasi

Dokumentasi ini bertujuan untuk :

  1. Bukti keamana produk berkaitan dengan proses
  2. Jaminan pemenuhan peraturan
  3. Kemudahan pelacakan produk dan peninjauan catatan
  4. Sumber tinjauan data bila ada audit HACCP
  5. Membantu mengidentifikasi lot inigredien, bahan pengemas, produk akhir bila timbul masalah keamanan yang memerlukan penarikan dari pasar.

Dokumen tersebut adalah dokumen sistem HACCP, prosedur, instruksi kerja, catatan.

Dokumen sistem HACCP :

  • Dokumen tim membentuk tim HACCP
  • Dokumen deskripsi produk
  • Dokumen penggunaan produk
  • Dokumen diagram alir
  • Dokumen verifikasi diagram alir.
  • Prosedur dan instruksi kerja
  • Catatan
  • Dokumen analisa bahaya
  • Dokumen penentuan CCP
  • Dokumen penentuan batas kritis
  • Dokumen penetapan sistem pemantauan
  • Dokumen penetapan tindakan koreksi
  • Dokumen penetapan tindakan verifikasi

Prosedur dan Instruksi Kerja

  • Prosedur pembuangan limbah cair
  • Instruksi kerja penggunaan alat

Catatan / Rekaman

  • Catatan hasil monitoring suhu
  • Catatan hasil verifikasi
  • Catatan tindakan perbaikan
  • Catatan inspeksi ruang pengemas
  • Catatan monitoring CCP

Kesimpulan

Demikian pentingnya manfaat dari penerapan HACCP, maka kita harus memahami 5 langkah dan 7 prinsip HACCP diatas. Selain itu karena HACCP ini bisa diaplikasikan pada industri kecil / UMKM dan industri besar sehingga bagi teman-teman yang sedang memulai usahapun bisa menerapkannya. Harapannya adalah dengan penerapan HACCP tersebut, konsumen makin puas, sehingga usaha kita pun semakin berkembang.

Oya, masih terkait dengan produk pangan, kami juga ada artikel mengenai CPOTB yang bisa teman-teman baca di link berikut.

Semoga bermanfaat.

Sumber Referensi :

Seminar Keamanan Pangan

Pengertian dan Fungsi Centrifuge di Laboratorium Biologi

Pengertian dan Fungsi Centrifuge di Laboratorium Biologi

Jika di artikel sebelumnya kita membahas mengenai vortex mixer yang digunakan untuk mencampur / menghomogenkan sampel, maka kali ini kita akan membahas alat yang digunakan untuk memisahkan partikel, yaitu centrifuge. Alat ini banyak kita temukan di rumah sakit maupun laboratorium biologi.

Bagaimana prinsip kerjanya? Bagian-bagiannya? serta aplikasinya dalam berbagai analisa, yuk kita simak dalam artikel berikut ini.

Pengertian Centrifuge

Centrifuge adalah peralatan yang menerapkan prinsip sentrifugasi untuk memisahkan partikel dari campuran. Partikel dalam campuran tersebut terpisah berdasarkan densitasnya, dimana partikel yang lebih padat mengendap sebagai pelet dalam wadah, sedangkan partikel yang lebih ringan tetap tersuspensi sebagai supernatan dalam campuran.

Centrifuge memisahkan partikel berdasarkan bentuk, ukuran, viskositas, dan kerapatan dengan gaya sentrifugal.

Pengertian gaya sentrifugal itu sendiri adalah gaya yang dihasilkan oleh putaran motor.

Berikut ini adalah faktor-faktor berikut mempengaruhi gaya sentrifugasi:

  • Kepadatan sampel

Dimana partikel yang lebih padat akan mengendap, sedangkan partikel dengan kepadatan yang lebih kecil akan mengapung atau tetap tersuspensi dalam larutan.

  • Viskositas dan suhu

Putaran motor pada alat centrifuge akan menyebabkan peningkatan suhu, dan peningkatan suhu tersebut dapat mengganggu ikatan dan stabilitas partikel yang membantu pemisahan partikel.

Demikian pula, semakin besar viskositas sampel, semakin mudah untuk memisahkan komponennya.

Baca Juga : Viskometer: Alat Uji Kekentalan Sampel

  • Jarak perpindahan partikel

Semakin besar jarak perpindahan partikel, semakin besar tingkat pemisahan.

  • Kecepatan rotasi

Semakin tinggi kecepatan, semakin cepat partikel terpisah. Percepatan yang diterapkan pada sampel disebut gaya sentrifugal relatif (RCF) atau gaya-G. Partikel akan menjauh dari sumbu rotasi ketika RCF melebihi gaya gesek.

Macam-Macam Alat Centrifuge

macam-macam alat centrifuge

Ada berbagai tipe centrifuge yang dibedakan berdasarkan deteksi optik, ukuran, kemampuan pendinginan, dan kecepatan rotor. Perbedaan tersebut tentunya harus kita pahami sebelum melakukukan pengadaan centrifuge di instansi / perusahaan anda.

Berikut ini adalah beberapa tipe tersebut :

  • Benchtop centrifuges

Benchtop centrifuges merupakan jenis centrifuge yang sangat populer karena fitur karakteristiknya yang hanya membutuhkan ruang kecil sehingga tidak menghabiskan tempat di ruang laboratorium. Fitur lain dari tipe ini adalah kecepatan (RCF) yang dapat berkisar antara 100 s/d 50.000 x g dan memiliki rotor yang dapat diganti dengan beberap jenis rotor antara lain : fixed angle, continuous flow, and swinging bucket rotors.

Test tube dari centrifuge benchtop mempunyai rentang lebih kecil dari 1 ml s/d beberapa liter.

  • Refrigerated centrifuges

Refrigerated centrifuges bekerja pada suhu konstan dengan kecepatan maksimum. Suhu operasional pada centrifuge jenis ini adalah antara -20 s/d -30 °C.

Alat ini banyak digunakan untuk beberapa aplikasi antara lain untuk sentrifugasi sampel DNA, RNA, dan antibodi, yang membutuhkan suhu rendah namun konstan.

Selain itu juga digunakan untuk sampel yang perlu disimpan pada suhu yang konsisten karena dapat bekerja pada kecepatan maksimum sambil mempertahankan suhu yang stabil.

  • Vacuum centrifuges

Vacuum centrifuge menggunakan gaya sentrifugal, vakum, suu, dan gas untuk menghilangkan cairan atau gas dari sampel untuk mengubahnya menjadi bentuk konsentrat atau mengeringkan sampel.

Pemurnian asam nukleat, protein, peptida, dan komponen lain merupakan salah satu aplikasi dari centrifuge jenis ini.

  • Ultracentrifuges

Kecepatan akselerasi Ultracentrifuges biasanya hingga 100.000 x g namun bisa juga mencapai 2,00.000 x g.

  • Microcentrifuges

Sesuai dengan namanya, microcentrifuges digunakan untuk menganalisa dengan sampel kecil berukuran mikro seperti 2 ml, 1,2 ml, 0,5 ml, dan tabung PCR (polymerase chain reaction) sehingga centrifuge jenis ini paling sering digunakan di laboratorium mikrobiologi untuk memisahkan asam nukleat dan protein.

Tipe ini dapat berputar dengan kecepatan hingga 16.000 x g, namun untuk beberapa model lainnya, kecepatannya bisa mencapai hingga 30.000 x g. Beberapa model juga memiliki rotor dan adaptor tube yang dapat diganti.

  • Analytical centrifuges

Analytical centrifuges memiliki fitur berbeda yang memungkinkan sampel dideteksi saat berputar secara real-time. Cahaya dengan prinsip sistem optik seperti sistem adsorpsi cahaya, Rayleigh system , dan Schlieren system membantu mengamati material yang terpisah serta memonitor kecepatannya.

Bagian-Bagian Alat Centrifuge

bagian-bagian alat centrifuge laboratorium

Alat ini memiliki beberapa bagian-bagian sebagai berikut:

  • Motor

Bagian motor terletak di tengah dan menghasilkan tenaga yang kuat dan menciptakan putaran.

  • Rotor

Bagian rotor terpasang pada motor. Rotasi terjadi tanpa sudut (centrifuge horizontal) atau sudut yang berbeda ; 45° (fixed angel centrifuge) dan 90° (vertical centrifuge).

Tergantung pada tipe centrifuge, pemuatan sampel dapat dilakukan pada sudut tetap, yaitu sudut rotasi, atau container alat akan menyesuaikan dirinya sendiri ke sudut yang berbeda selama beroperasi.

Metode kedua juga dikenal sebagai swinging bucket dan umumnya ditemukan di horisontal sentrifuge.

Swinging bucket rotors

Merupakan rotor yang ada di centrifuge yang memungkinkan container mengubah sudut saat bergerak. Sampel bergerak melalui gradien densitas tanpa gangguan karena geometri paralel bucket.

  • Container

Bagian ini berfungsi untuk memegang test tube dengan bahan / sampel dan bertumpu pada rotor.

  • Control

Jenis kontrol bervariasi berdasarkan tipe alat yang dipilih. Beberapa tipe dapat diprogram sebelumnya, sedangkan tipe lainnya pengaturannya dapat disesuaikan dengan tampilan digital. Namun secara prinsip, apapun tipe / jenisnya, centrifuge akan menjalankan motor berdasarkan pengaturan yang disediakan.

Cara Pengoperasian Centrifuge Laboratorium

Seperti halnya mikroskop di dalam laboratorium biologi, pengoperasian alat ini juga relatif sederhana, berikut ini adalah tahapannya :

  1. Tempatkan test tube dengan sampel ke dalam container / portal.
  2. Seimbangkan sampel, Masukkan tabung berisi air untuk keseimbangan jika jumlah sampel ganjil.
  3. Tutup penutupnya dan pilih waktu dan kecepatan yang diperlukan.
  4. Nyalakan centrifuge, alat akan beroperasi sesuai dengan lama waktu yang telah diatur sebelumnya.
  5. Saat centrifuge berhenti, keluarkan sampel.
  6. Sampel yang dipisahkan sekarang siap untuk dianalisis.

Mengapa Penyeimbangan Diperlukan?

penyeimbangan sampel untuk centrifuge

Centrifuge bekerja dengan kekuatan dari putaran rotor yang menciptakan gaya sentrifugal. Jika distribusi berat tidak merata gaya tersebut tersebut juga ada sedikit perbedaan sehingga jika ada sedikit perbedaan berat antar sampel, mesin akan bergetar tak terkendali. Jadi, menyeimbangkan sampel sebelum analisa sangatlah diperlukan.

Cara menyetarakan centrifuge adalah sebagai berikut:

  1. Pastikan bahwa test tube diisi secara merata dengan cairan dengan kepadatan yang sama.
  2. Pastikan bahwa massa dalam tabung berada dalam 0,1 gram satu sama lain.
  3. Tempatkan test tube secara tepat berlawanan satu sama lain untuk menjaga gravitasi di tengah.
  4. Gunakan air sebagai penyeimbang bila sampel yang akan kita analisa berjumlah ganjil.

Perawatan Alat

Untuk tetap menjaga performa alat centrifuge berfungsi secara baik, maka membutuhkan perawatan dan pemeliharaan yang teratur.

Ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan sebelum, selama, dan setelah penggunaan alat sehingga dapat untuk meningkatkan masa pakainya. antara lain sebagai berikut :

  • Pengecekan rutin

Sentrifuge harus diperiksa secara teratur, perhatikan jika ada suara dan getaran yang tidak wajar. Setiap kerusakan harus diperbaiki. Kontak distributor merk alat bersangkutan atau juga bisa menggunakan supplier perbaikan alat laboratorium.

  • Pembersihan rutin

Bagian Rotor, chamber / ruang rotor, dan bagian dalam merupakan beberapa bagian yang perlu dibersihkan secara rutin menggunakan alkohol dan kain lembut.

  • Pelatihan Personel

Jika ada analis laboratorium baru, harus dipastikan bahwa analis tersebut kompeten menggunakan centrifuge. Cara pengaturan keseimbangan berat sampel, seting waktu dan kecepatan merupakan hal-hal yang harus diketahui analis sebelum menggunakan alat tersebut.

Kesimpulan

Beberapa peralatan di laboratorium mikrobiologi / laboratorium kesehatan yang sudah pernah kita kenal seperti mikroskop, X ray dental, petridish, dll ternyata centrifuge juga mempunyai peranan yang sangat penting sehingga harus benar-benar kita rawat serta pahami sistem kerjanya sehingga tidak mudah rusak.

Semoga Bermanfaat

Mengenal Fungsi dan Bagian-Bagian Vortex Mixer Laboratorium

Mengenal Fungsi dan Bagian-Bagian Vortex Mixer Laboratorium

Di dalam laboratorium mikrobiologi, pencampuran beberapa komponen yang berbeda secara menyeluruh merupakan hal yang lazim dilakukan.

Dikarenakan pencampuran secara manual dari komponen tersebut tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan, misalnya : kurang homogen, komponennya kurang bercampur, dll maka tak jarang sebagian besar laboratorium lebih suka menggunakan alat bantu / instrument tertentu untuk melakukan pekerjaan tersebut, seperti magnetic stirrer, homogenizer, atau vortex mixer.

Nah.. Kali ini kita akan mengupas mengenai vortex mixer baik dari prinsip kerja, fungsi, bagian-bagain dan cara penggunaannya.

Pengertian dan Fungsi Vortex Mixer

Vortex mixer adalah peralatan laboratorium yang mampu menghasilkan pusaran untuk mencampur dua cairan dalam tabung dengan berbagai ukuran.

Tentunya alat ini menggunakan sumber arus listrik untuk beroperasi dengan kecepatan pusaran yang dapat dikontrol.

Vortex mixer laboratorium ini merupakan alat laboratorium dengan bentuk portabel namun mempunyai fungsi yang sangat efektif untuk mencampur.

Meskipun bentuknya terbilang kecil namun keberadaan alat ini di dalam laboratorium biologi dan kesehatan sangatlah diperlukan.

Bagian-Bagian Vortex Mixer

bagian-bagian vortex mixer

Berikut ini adalah bagian-bagian berikut fungsi komponen-komponen yang ada di dalam vortex mixer :

  • Well / Cup head

Bagian kepala dari alat vortex laboratorium yang terbuat dari karet dan ditempatkan di atas motor untuk membantu menahan tabung dengan sampel di tempatnya. Beberapa merk / brand dari vortex mixer menyebut bagian ini sebagai mixing surface disc.

Karena terkadang sampel / komponen-komponen yang ingin dicampur menggunakan tabung reaksi maka Well / Cup head vortex ini membutuhkan bahan yang lembut, sehingga terbuat dari karet. Bagian Well / Cup head merupakan bagian yang dapat diganti dengan aksesori tambahan yang tersedia.

  • Motor

Posisi motor tepat dibawah Cup head / mixing surface disc, bagian ini berputar dalam gerakan melingkar dan merupakan bagian tengah dari vortex mixer yang memberikan efek pusaran dalam cairan untuk homogenisasi sampel yang tepat.

  • Main Switch / Sakelar Utama

Seperti pada umumnya peralatan laboratorium, sakelar utama berfungsi untuk menyalakan dan mematikan alat, sehingga memberikan arus listrik untuk pengoperasian vortex mixer pada kondisi nyala, dan mematikan arus jika sakelar utama tersebut dalam kondisi mati.

  • Speed Controler Knob / Kenop pengontrol kecepatan

Bagain ini berupa kenop yang terletak di bagian depan mesin. Memutar knob akan mengontrol kecepatan putaran mixer vortex apakah semakin kencang / semakin lemah putarannya.

  • Operation controller button / Tombol pengontrol operasi

Bagian ini adalah tombol yang membantu memberikan rotasi atau rotasi langsung saat botol menyentuh Cup head.

Aksesori Vortex Mixer

Beberapa aksesori tambahan tersedia untuk mencampur sampel baik secara satu per satu (single) maupun secara serentak (multiple) tanpa kita pegang sekaligus dan menahan sampel setelah dan sebelum digunakan. Hal ini tentunya akan memberikan keuntungan pada analis laboratorium yang terkadang bertanggung jawab pada satu pekerjaan atau lebih.

Berikut ini adalah diantara assesories tersebut :

aksesoris vortex laboratorium

  • The Platform for Tube

Dengan fungsi yang dapat memegang tabung dengan ukuran yang berbeda-beda yang dapat digunakan untuk beberapa sampel.

  • Single Tube Holder

Alat ini membantu memegang dan menjaga tabung tetap di tempatnya yang tentunya tidak membuat analis laboratorium repot dibandingkan dengan menggunakan vortex mixer metode konvensional dimana tabung harus dipegang menggunakan tangan.

  • Tube Insert

Digunakan untuk menahan tabung sebelum dan sesudah proses mixing menggunakan vortex mixer.

Prinsip Kerja Vortex Laboratorium

prinsip kerja vortex mixer

Prinsip kerja vortex mixer tergantung pada motor yang yang menempel pada Well / Cup head yang ada pada instrument.

Ketika alat dinyalakan, arus listrik memberikan tenaga untuk putaran sentrifugal pada mesin. Rotasi motor mengarah ke orbit poros, yang memutar Cup head. Rotasi menciptakan pusaran yang kuat ketika tabung yang berisi sampel ditempatkan di Cup head sehingga pusaran yang kuat membantu dalam campuran sampel yang homogen.

Beberapa Aplikasi Vortex Mixer Laboratorium

Vortex Mixer memiliki berbagai kegunaan di berbagai bidang antara lain sebagai berikut :

  • Mencampur bahan kimia

Vortex mixer membantu pencampuran bahan kimia di sebagian besar laboratorium. Dengan menggunakan alat ini Waktu pencampuran lebih cepat daripada metode pencampuran lainnya.

  • Ekstraksi DNA

Vortex Mixer juga digunakan untuk menghomogenkan sampel dengan buffer ekstraksi. Metode ini juga membantu dalam gangguan sel.

  • Analisis jaringan dan kultur sel

Vortex mixer telah digunakan dalam membuat suspensi sel atau sampel jaringan selama analisis jaringan dan kultur sel.

  • Analisis protein dan enzim

Pencampuran sampel yang tepat dengan reagen dan buffer merupakan tahapan penting dalam mempelajari protein dan enzim. Dalam hal ini vortex mixer membantu homogenisasi campuran selama analisis.

Jenis-Jenis Vortex Mixer Laboratorium

Vortex mixer telah diklasifikasikan ke dalam banyak jenis berdasarkan teknologi, spesifikasi kecepatan putaran, dan ukuran.

Beberapa jenis tersebut antara lain :

  • Variable Speed Vortex Mixer

Vortex mixer tersedia dengan pengontrol kecepatan dengan rentang kecepatan yang bervariasi dari 100 s/d 3200 rpm. Tipe ini biasanya juga memiliki fasilitas mode sentuh atau mode kontinue.

Dengan menggunakan aksesoris tambahan, kita dapat menggunakan vortex ini untuk banyak tabung secara bersamaan. Tipe ini juga terbagi menjadi 2 yaitu, model analog dan digital.

    1. Vortex mixer analog: Kecepatan dapat diubah dengan memutar knob dari kiri ke kanan.
    2. Vortex mixer digital: Kecepatannya dapat diubah menggunakan touchpad. Layar LED menampilkan kecepatan secara tepat. Dan waktu (menit / detik).
  • Fixed Speed Vortex Mixer

Tidak terdapat rentang kecepatan. Alat beroperasi pada kecepatan tinggi. Hanya mode touch-down yang tersedia.

  • Mini vortex

Sesuai dengan namanya, alat ini digunakan untuk menganalisa sampel dalam volume kecil (0,2 – 50ml). Tersedia dalam mode digital dan analog.

  • Microplate Vortex Mixer

Alat ini dirancang untuk mencampur sampel dalam microplate

Cara Pengoperasian Vortex Mixer

cara menggunakan vortex laboratorium

Perlu diketahui bahwa hampir semua tombol operasional (saklar utama, kenop kontrol kecepatan, dan tombol pengontrol operasi) vortex mixer berada di bagian depan alat. Namun untuk kabel power yang ada di sisi belakang perangkat ke sumber listrik memasok daya listrik ke mixer vortex.

Kali ini kita akan memberikan contoh pengoperasian Vortex Mixer Maxi Mix II

  • Sambungkan stop kontak ke sumber arus listrik.
  • Gerakkan tombol POWER SWITCH (2) untuk memilih mode operasi yang diinginkan.

Catatan :

Bila tombol berada pada posisi FULL (5), maka mixing surface disk (1) akan bergetar secara otomatis dan bila berada pada posisi touch (4), maka mixing surface plate (1) akan bergetar bila mixing surface plate (1) tersebut ditekan.

  • Atur kecepatan Vortex Mixer dengan memutar tombol speed control (3).
  • Sentuhkan wadah / tabung reaksi yang berisi sampel di atas mixing surface plate (1) sehingga alat akan beroperasi sesuai mode operasi yang dipilih.
  • Pindahkan wadah yang berisi sampel dari atas mixing surface plate (1), bila sampel telah homogen.
  • Matikan alat dengan menekan POWER SWITCH (2) ke posisi OFF bila Vortex Mixer telah selesai digunakan

Keterbatasan Alat

Meskipun vortex mixer dapat digunakan untuk homogen berbagai macam sampel cair, namun juga memiliki banyak keterbatasan. antara lain :

  1. Tidak dapat digunakan untuk pencampuran zat padat dengan zat cair atau zat padat-padat.
  2. Ada risiko tumpahan jika tabung tidak dipegang dengan benar.

Petunjuk Keselamatan Penggunaan Vortex Laboratorium

  1. Gunakan pelindung tangan dan pelindung mata saat menggunakan instrumen.
  2. Hindari menggunakan bahan yang mudah terbakar.
  3. Gunakan wadah / tabung reaksi tertutup untuk mencampur zat berbahaya.
  4. Pastikan cap head terpasang erat sebelum digunakan.
  5. Lakukan pembersihan alat setelah selesai digunakan, pastikan juga alat disertai dengan loog book penggunaan untuk mengetahui histori pemakain alat.
  6. Jika muncul gejala kerusakan pada vortex laboratorium sehingga maka disarankan untuk dilakukan perbaikan ke suplier alat perbaikan laboratorium.

Semoga bermanfaat

Perbedaan Kalibrasi dan Verifikasi Berikut Contoh Aplikasinya

Perbedaan Kalibrasi dan Verifikasi Berikut Contoh Aplikasinya

Percaya apa tidak, ketika dilakukan audit terkadang masih banyak yang bingung ketika ditanya oleh auditor apakah yang sebenarnya kita lakukan pada alat ukur / instrument di laboratorium adalah kalibrasi? atau hanya sekedar verifikasi saja?

Terlebih lagi jika hal tersebut ditanyakan untuk beberapa instrumen seperti spektrofotometer UV Vis, HPLC, GC, dll. Mengingat kita tidak pernah mendapatkan nilai ketidakpastian pengukuran pada laporan / sertifikat kalibrasi dari alat-alat tersebut.

Nah kali ini kita akan belajar mengenai perbedaan kalibrasi dan verifikasi berikut dengan contoh penerapan dan alasannya pada beberapa peralatan di laboratorium uji. Hal ini dirasa penting karena seringnya timbul pertanyaan mengenai alat mana yang perlu dikalibrasi dan alat mana yang cukup diverifikasi?

Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas perlu dipahami terlebih dahulu apa perbedaan antara kalibrasi dan verifikasi

Perbedaan Kalibrasi dan Verifikasi

Pengertian kalibrasi adalah rangkaian kegiatan dalam membandingkan hasil pengukuran suatu alat dengan alat standar yang sesuai untuk menentukan besarnya koreksi pengukuran alat serta ketidakpastiannya.

Jadi ada 2 hal point penting di dalam kalibrasi, yaitu :

  1. Koreksi pengukuran
  2. Ketidakpastian

Alat standar kalibrasi yang sesuai dapat berupa baik objek ukur atau berupa alat ukur. Dimana objek ukur adalah alat standar kalibrasi yang tidak memiliki skala sedangkan alat ukur adalah standar kalibrasi yang memiliki skala.

Cara melakukan kalibrasi sampai dengan perhitungan untuk memperoleh koreksi dan ketidakpastian memang memerlukan keahlian dan keterampilan yang umumnya tidak dipunyai oleh personil laboratorium uji. Oleh karena itu menurut SNI ISO 17025 : 2108, laboratorium uji dipersyaratkan untuk mengkalibrasikan peralatannya pada laboratorium kalibrasi terakreditasi.

Pengertian verifikasi adalah konfirmasi melalui pemeriksaan dan pembuktian secara objektif bahwa alat ukur yang digunakan dalam suatu pengujian memenuhi persyaratan tertentu. Dalam verifikasi kita tidak mendapatkan koreksi dan ketidakpastian.

Bagaimana Hubungan Antara Kalibrasi dan Verifikasi?

Kalibrasi menentukan koreksi dari peralatan laboratorium terhadap nilai benarnya sedangkan verifikasi memastikan bahwa peralatan laboratorium dapat digunakan dalam proses pengujian yang diperlukan.

Verifikasi dilakukan dengan membandingkan antara persyaratan proses pengujian dengan penyimpangan yang diperoleh dari kalibrasi.

Contoh :

Kalibrasi oven laboratorium memberikan nilai ketidakpastian suhu oven sebesar ± 3 °C.

Metode pengujian kadar air dari sampel A menpersyaratkan suhu pengeringan 130 ± 5 °C.

Maka artinya oven laboratorium tersebut dapat digunakan untuk pengukuran kadar air dari sampel A.

Mengapa Memilih Lab Kalibrasi Terakreditasi ?

laboratorium kalibrasi terakreditasi

Pertanyaan ini juga sering muncul, terlebih jika dikaitkan dengan harga layanan kalibrasi dari laboratorium terakreditasi yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan yang belum akreditasi.

Hal ini disebabkan karena kalibrator yang dimiliki laboratorium kalibrasi terakreditasi sudah terperiksa bahwa kalibratornya memang tertelusur pada standar internasional (SI). Sedangkan jika laboratorium kalibrasi belum terakreditasi maka belum bisa dipastikan apakah kalibratornya tertelusur pada standar internasional (SI) ataupun belum.

Peralatan Apa Saja yang Perlu Dikalibrasi?

Berikut adalah beberapa alat yang perlu dikalibrasi pada laboratorium kalibrasi terakreditasi :

  • Neraca, karena output dari neraca berupa berat yang tentunya menentukan hasil uji.
  • Termometer, karena pengukuran suhu yang dilakukan dengan termometer akan mempengaruhi hasil uji yang dikeluarkan dari sampel.
  • Oven
  • Furnace
  • Inkubator
  • Waterbath

Dimana keempat alat diatas juga terkait dengan suhu, meskipun tidak secara langsung suhu dari pembacaan alat tersebut masuk ke dalam rumus konsentrasi analit dalam sampel sebagai hasil uji. Namun pengaruh suhu dari keempat alat tersebut sangatlah besar pada hasil uji.

Misalnya : efek pengaruh suhu oven pada analisa kadar air, suhu furnace pada hasil analisis kadar abu, maupun suhu dalam inkubator atau waterbath yang mengharuskan suhunya tertentu.

  • Viskositas

Viskositas juga merupakan alat yang mempengaruhi hasil pengujian oleh karena perlu dikalibrasi. Pengukuran viskositas juga tergantung dari suhu sehingga suhu viskometer juga harus terkalibrasi

  • Stopwatch

Stopwatch apabila hanya digunakan untuk mengukur apa yang tidak menetapkan hasil akhir memang tidak perlu dikalibrasi, namun apabila pada pengujian diperlukan untuk mengukur waktu yang sangat tepat maka stopwatch harus dikalibrasi.

  • Piknometer dan Auto tritator dimana berdasarkan prinsip yang terkait dengan berapa jumlah volume dari larutan serta berat jenis dari larutan yang langsung mempengaruhi pada hasil uji sehingga kedua alat ini juga perlu dikalibrasi.
  • Jangka sorong, barometer, refraktometer, polarimeter memberikan angka-angka hasil ukur sehingga juga perlu dikalibrasi.

Nah jika kita lihat pada perlatan laboratorium di sudah disebutkan diatas, jika kita hubungkan dengan satuan SI (standar internasional) maka kita bisa lihat :

  • Neraca berkaitan dengan massa
  • Termometer dan termokopel berkaitan dengan suhu.
  • Oven, furnace, inkubator, dan waterbath juga berkaitan dengan suhu.
  • Stopwatch berkaitan dengan waktu yaitu detik
  • Autotritator dengan volume (ml)
  • Jangka sorong berkaitan dengan meter
  • Piknometer berkaitan dengan berat jenis.
  • Barometer, refraktometer, polarimeter

Untuk 2 yang terakhir bukan merupakan satuan dasar dari 7 satuan sistem internasional (SI) namun merupakan satuan turunan.

Alat Ini Perlukah Dikalibrasi?

Flow Meter

Flow Meter Perlukah Dikalibrasi?

Flow Meter kalau kita lihat dari satuan adalah m³/s. Jika dipertanyakan apakah flow Meter perlu dikalibrasi ke laboratorium kalibrasi terakreditasi?

Maka harus kita pikirkan terlebih dahulu untuk apa pengujian flow meter tersebut digunakan. Apabila untuk mengukur aliran gas pada Gas chromatography (GC) misalnya, maka dapat dikatakan tidak perlu dikalibrasi.

Karena pengujian menggunakan GC merupakan analisis perbandingan yaitu membandingkan konsentrasi analit dalam sampel terhadap konsentrasi standar analit sehingga tidak perlu dikalibrasi.

Mesh / Ayakan

ayakan

Filter / Mesh Perlukah Dikalibrasi?

Perlu dipikirkan terlebih dahulu juga untuk apa filter digunakan.

Apabila untuk membuat partikel seragam pada pembuatan bahan acuan, maka tidak perlu dikalibrasi. Namun apabila untuk digunakan pada pengujian distribusi ukuran butir tanah maka perlu dikalibrasi.

Centrifuge

Centrifuge Perlukah Dikalibrasi?

Centrifuge satuannya adalah RPM rotasi per menit. Jika alat ini hanya untuk memisahkan partikel terhadap larutannya maka tidak perlu dikalibrasi namun apabila sentrifuge mempengaruhi hasil akhir maka perlu dikalibrasi.

Bahkan apabila digunakan suatu refrigerated centrifuge dan berpengaruh pada hasil akhir selain kalibrasi dari RPM dan waktu, juga diperlukan kalibrasi terhadap suhu. Karena refrigeritage yang digunakan laboratorium berpengaruh pada hasil akhir.

Memahami Output Kalibrasi Neraca

contoh sertifikat kalibrasi

Gambar diatas adalah contoh potongan sertifikat kalibrasi neraca.

Apabila neraca dikalibrasi kita akan mendapatkan sertifikat kalibrasi dimana pada sertifikat kalibrasi neraca tersebut terdapat koreksi, ketidakpastian diperluas, dan faktor pencakupan k

Nilai ketidakpastian diperluas dan faktor pencakupan tersebut akan digunakan untuk menghitung ketidakpastian baku asal kalibrasi neraca apabila pada pengujian dilakukan penimbangan baik terhadap sampel maupun terhadap standar.

Jadi ketidakpastian baku asal kalibrasi merupakan salah satu komponen ketidakpastian asal penimbangan.

Sehingga jelas bahwa ketidakpastian akan mempengaruhi hasil akhir.

Bagaimana halnya dengan koreksi?

Koreksi memang seharusnya digunakan pada pencatatan berat yang ditunjukkan neraca, namun jika kita perhatikan, pada suatu pengujian umumnya laboratorium melakukan penimbangan selisih.

  • Dimana mula-mula yang ditimbang wadah kosong.
  • Kemudian wadah kosong + sampel

Dan berat sampel dihitung berdasarkan selisih kedua berat di atas.

Sehingga apabila koreksi tidak digunakan maka tidak akan menimbulkan masalah karena koreksi tersebut akan saling meniadakan dimana yang laboratorium uji catat atau bawa ke dalam rumus adalah selisih kedua berat.

jadi kalau selisih pertama tidak dikoreksi, kemudian selisih kedua juga tidak dikoreksi hasilnya akan sama seperti apabila keduanya dikoreksi.

hal-hal seperti ini yang perlu dikaji lebih lanjut oleh para personil laboratorium uji.

Alat ukur yang telah dikalibrasi, misalnya neraca tidak akan secara terus-menerus berlaku masa kalibrasinya, karena peralatan tersebut selama masa penggunaannya pasti mengalami perubahan spesifikasi / drift akibat, misalnya pengaruh frekuensi pemakaian, lingkungan penyimpanan, cara pemakaian, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, alat perlu direkalibrasi dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh laboratorium uji sendiri.

Kapan Neraca Perlu direkalibrasi?

Timbangan Analitik Kern ABS 220-4

Tergantung frekuensi pemakaian neraca.

Banyak laboratorium uji / laboratorium di industri yang menyatakan bahwa neraca perlu direkalibrasi satu tahun sekali dimana hal ini tentunya perlu dikaji lebih dalam lagi.

Coba kita bandingkan…

Misalnya : suatu laboratorium uji mempunyai dua buah neraca yang sama spesifikasinya, dibeli pada tanggal yang bersamaan, dan dikalibrasi pada saat yang juga bersamaan.

Perbedaannya adalah neraca yang pertama ditempatkan dalam suatu ruang dekat dengan ruang di mana pre treatment contoh biasa dilakukan. Sedangkan neraca kedua diletakkan cukup jauh dari ruang pre-treatment mencontoh pada pengujian.

Yang terjadi adalah pada neraca pertama setiap harinya banyak sekali personil laboratorium uji yang melakukan penimbangan sedangkan pada neraca kedua karena letaknya jauh dari ruang pre treatment contoh maka jarang digunakan.

Pertanyaannya adalah….

Apakah waktu rekalibrasi dari neraca pertama dan neraca kedua akan sama?

Tentu tidak karena neraca pertama sering digunakan maka dalam interval 6 bulan saja sudah harus direkalibrasi sedangkan neraca yang jarang dipakai mungkin dalam 2 tahun tidak direkalibrasi pun tidak apa-apa.

Nah… Dalam hal ini yang penting adalah pada selang waktu antara dua kalibrasi yang berurutan perlu dilakukan pengecekan antara secara periodik.

Pengecekan atau pemeriksaan antara dimaksudkan untuk memelihara ketertelusuran dari neraca tadi.

Bagaimana cara melakukannya?

Timbang anak massa terkalibrasi pada neraca, apabila berat yang ditunjukkan masih dalam rentang yang ada pada sertifikat kalibrasi, maka neraca belum perlu direkalibrasi.

Namun apabila berat yang ditunjukkan sudah berada di luar rentang yang dinyatakan pada sertifikat kalibrasi, maka itu tandanya neraca sudah perlu direkalibrasi.

Instrument ini Dikalibrasi atau Diverifikasi ya?

Berikut kita akan meninjau bersama peralatan laboratorium uji apa saja yang cukup diverifikasi oleh laboratorium uji sendiri..

Dari penjelasan ini tentunya diharapkan kita bisa mengetahui perbedaan kalibrasi dan verifikasi.

Alat Gelas Volumetrik

Alat gelas laboratorium, misalnya pipet volume, labu takar, buret memang dianjurkan kepada laboratorium uji menggunakan peralatan gelas kelas A.

Pada peralatan gelas kelas A tersebut oleh pabrik pembuatnya sudah dicantumkan nilai akurasinya.

  • Labu Takar

labu takar

  1. Jika kita akan memverifikasi labu takar, kita bisa timbang labu takar kosong kemudian isi dengan aquades sampai tanda batas, dan timbang kembali.
  2. Dari kedua berat yang tercatat yaitu berat labu takar kosong dan berat labu takar yang sudah diisi air sampai tanda batas, maka kita mendapatkan berat air yang mengisi labu takar sampai tanda batas.
  3. Cari berat jenis (BJ) air dalam handbook pada suhu tercatat.
  4. Volume air dapat dihitung dari berat air dibagi berat jenis.
  5. Bandingkan volume yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan range volume yang ada pada labu takarnya.
  • Pipet Volume

Misalnya pada pipet volume 50 ml tertera ± 0,05 ml 20 °C.

akurasi pipet volumetrik

Dalam kasus diatas, maka laboratorium cukup melakukan verifikasi terhadap pipet tersebut.

Kapan verifikasi itu dilakukan?

Verifikasi dilakukan begitu alat gelas baru dibeli sebelum digunakan.

Verifikasi peralatan gelas dapat dilakukan dengan neraca terkalibrasi dan dilakukan dalam ruang yang terkontrol suhunya.

Dalam contoh diatas, pabrik pembuat alat gelas (pipet volume) melakukannya pada suhu 20 °C.

Sediakan ruang timbang kemudian atur suhunya pada 20 °C.

Berikut adalah gambaran tahapannya :

  1. Siapkan gelas kimia kecil kurang lebih 50 ml atau labu erlenmeyer kecil,
  2. Timbang wadah kosong berupa gelas kimia atau labu erlenmeyer tersebut.
  3. Pipet aquades dalam pipet volume sampai tanda batas.
  4. Masukkan atau turunkan air dari pipet volume ke dalam gelas kimia atau erlenmeyer kosong tadi.
  5. Timbang kembali
  6. dan selanjutnya persis sama seperti yang dilakukan dengan labu takar kosong.
  • Mikropipet dan Mikroburet

Bagaimana halnya dengan mikropipet dan mikroburet?

Karena namanya mikro tentunya yang cairan yang keluar dari pipet akan sangat kecil yang mungkin tidak mencapai ketelitian dari neraca yang dipunyai laboratorium uji.

Dalam kasus ini maka untuk mikropipet dan mikroburet harus dikalibrasikan pada laboratorium kalibrasi terakreditasi yang punya sarana untuk melakukannya.

pH Meter

Bagaimana kasusnya jika laboratorium memiliki pH meter dimana mereka juga sudah memiliki standar buffer PH 4, 7 dan 10?

Apakah laboratorium uji dapat mengkalibrasi sendiri peralatan pH meternya?

Ya… Tentu dapat..

Lalu apakah kegiatan tersebut kita sebut sebagai kalibrasi atau verifikasi?

Umumnya yang kita dengar kalibrasi PH meter dan bukan verifikasi PH meter, karena dengan menggunakan standar buffer PH 4, 7, dan 10 laboratorium dapat melakukan adjustment yaitu penyetelan terhadap pH meter sehingga penyimpangan atau kesalahan PH meter dapat dibuat sekecil mungkin / tidak melebihi batas kesalahan atau toleransi yang diijinkan.

Catatan :

  • Adjustment hanya bisa dilakukan untuk alat ukur yang memang memiliki fitur atau fungsi adjustment.

Instrumen Laboratorium Lainnya

uv vis spectro

Ada alat lain di dalam laboratorium uji berupa instrumen yang digunakan pada analisis perbandingan. Pada analisis perbandingan respon analit atau measurement dari larutan sampel dibandingkan terhadap respon sama yang dihasilkan larutan standar dengan konsentrasi tertentu.

Instrumen untuk analisis perbandingan tidak perlu dikalibrasi ke laboratorium kalibrasi terakreditasi, melainkan cukup diverifikasi oleh laboratorium uji sendiri.

Alat instrumen tersebut antara lain :

Memang sering laboratorium uji mengatakan, kami melakukan kalibrasi terhadap peralatan spekrofotometer UV Vis menggunakan :

  • Holmium oksida untuk kalibrasi panjang gelombang / lamda
  • Larutan kalium dikromat dalam 0,005 mol/Liter H2SO4 untuk kalibrasi absorbansi di daerah UV.
  • Larutan Cu sulfat dalam asam sulfat 1 % untuk kalibrasi absorbansi di daerah visible.

Laboratorium uji mengetahui Holmium oksida yang digunakan mempunyai panjang gelombang acuan sebagai dinyatakan berikut ini :

  • 241.5 ± 0.2
  • 279.4 ± 0.3
  • 297.5 ± 0.4
  • 337.7 ± 0.6
  • 360.9 ± 0.8
  • 418.4 ± 1.1
  • 453.2 ± 1.4
  • 536.2 ± 2.3
  • 637.5 ± 3.8

Laboratorium uji memang dapat memperoleh nilai koreksi namun laboratorium tidak dapat melakukan adjustment seperti halnya pada pH meter karena pada instrument tersebut tidak terdapat fitur adjust. Namun meskipun laboratorium uji tidak melakukan adjust hal ini tidak menjadi masalah karena pada analisa spektrofotometer uv-vis dilakukan analisis perbandingan.

Contoh Kasus :

Misal pada verifikasi panjang gelombang yang dilakukan terjadi pergeseran lamda dimana nilai yang seharusnya 333,7 nm ± 0,6 nm ternyata waktu dicek nilainya adalah 333,2 nm.

Namun pada analisa perbandingan karena pengukuran baik standar maupun sampel diukur pada panjang gelombang yang sama (yang sedikit bergeser tadi menjadi 332,2 nanometer), hal ini tidak akan menimbulkan masalah asalkan angka 333,2 nanometer masih masuk dalam rentang 333,7 ± 0,6 nanometer.

Jadi dalam hal ini laboratorium uji tidak melakukan baik koreksi maupun adjust namun hanya memverifikasi panjang gelombangnya.

Apakah dengan melakukan hal tersebut di atas laboratorium uji memperoleh ketidakpastian dari melakukan verifikasi pada panjang gelombang?

Apabila laboratorium tidak melakukan adjust dan tidak memperoleh ketidakpastian berarti laboratorium bukan melakukan kalibrasi terhadap spektrofotometer UV Visnya namun laboratorium hanya melakukan verifikasi bahwa alat dalam keadaan siap untuk dipakai mengukur.

Hal ini biasa dikenal dengan istilah memeriksa kesesuaian sistem peralatan.

Lalu mengapa sering digunakan istilah kalibrasi pada instrumen tersebut?

Hal ini disebabkan karena pada analisis perbandingan pada saat laboratorium membandingkan respon analit atau measurand dari larutan sampel terhadap respon yang sama yang dihasilkan larutan standar dengan konsentrasi tertentu umumnya dikonstruksi kurva kalibrasi.

Apa itu kurva kalibrasi?

Kurva kalibrasi merupakan hubungan antara respon instrumen dan sejumlah konsentrasi tertentu analit, berupa larutan seri standar yang sudah diketahui.

Dari kurva kalibrasi akan didapatkan persamaan garis (garis regresi) yang menyatakan hubungan antara konsentrasi dan absorbansi.

Mengapa menggunakan istilah kurva kalibrasi dan bukan kurva verifikasi?

Coba kita lihat pada gambar dari kurva kalibrasi berikut :

kurva kalibrasi

Pada axis (sumbu X) ada nilai konsentrasi larutan seri standar.

Sedangkan pada sumbu Y tertera nilai dari respon alat bisa berupa absorbansi, luas puncak ataupun tinggi Puncak ataupun intensitas cahaya /respon apapun tergantung dengan metodenya.

Kemudian dari titik-titik bertebaran yang diperoleh dari nilai respon untuk setiap larutan seri standar tersebut dicarilah persamaan garis regresi yaitu persamaan garis yang menyatakan hubungan antara konsentrasi dan absorbansi (pada kasus gambar diatas)

Pada garis regresi dilakukan adjust dari titik-titik berwarna merah yang terletak kadang di atas garis dan kadang di bawah garis dan di bawa masuk pada garis. Jadi titik-titik merah menjadi titik-titik yang tepat ada pada garis.  Itulah sebabnya dinamakan kurva kalibrasi dan bukan kurva verifikasi.

Andaikan suatu laboratorium uji mempunyai kalibrator yang tertelusur ke Standar Internasional (SI) dan juga mempunyai personel yang kompeten melakukan kalibrasi serta sudah melakukan pelatihan kalibrasi untuk insrument bersangkutan?

Hal ini memang dimungkinkan namun untuk hal tersebut laboratorium uji harus melaporkan pada Badan Akreditasi bahwa kalibrasinya dilakukan internal dan atas dasar laporan tadi Badan Akreditasi akan menyertakan asesor laboratorium kalibrasi pada tim dari asesor laboratorium uji pada saat laboratorium uji tadi di asses / dilakukan assesment.

Karena yang akan dilihat adalah kemampuan dari personil laboratorium uji apakah benar dia mampu meskipun dia sudah bisa menunjukkan sertifikat sebagai petugas kalibrasi hal ini harus diyakinkan oleh asesor bahwa dia mampu melakukan kalibrasi dengan benar dan yang bisa menilainya hanyalah asesor laboratorium kalibrasi.

Demikian penjelasan mengenai perbedaan kalibrasi dan verifikasi, penentuan interval rekalibrasi, serta pemahaman apakah yang kita lakukan selama ini dilaboratorium terhadap instrumen ukur kita termasuk kalibrasi atau verifikasi.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Pojok Laboratorium

Fungsi Labu Erlenmeyer di Dalam Laboratorium Kimia dan Biologi

Fungsi Labu Erlenmeyer di Dalam Laboratorium Kimia dan Biologi

Peralatan gelas (baik itu yang berfungsi sebagai pengukur maupun yang hanya digunakan sebagai penampung) di dalam laboratorium merupakan bagian yang sangat penting dan wajib ada untuk mendukung kegiatan analisa. Hampir semua kegiatan preparasi sampel menggunakan peralatan tersebut.

“Seorang ilmuwan / peneliti / analis di laboratorium tanpa peralatan gelas ibarat seorang tukang tanpa gergaji.”

Ada beberapa peralatan gelas di laboratorium yang pernah kita pelajari di artikel-artikel sebelumnya, antara lain : tabung reaksi, gelas ukur, labu ukur, pipet gondok, pipet ukur, dan gelas kimia. Nah.. Kali ini kita akan belajar mengenai labu erlemeyer baik dari pengertian, fungsi dan jenisnya.

Pengertian Labu Erlenmeyer

conical flask

Labu Erlenmeyer adalah salah satu peralatan gelas di laboratorium yang berbentuk seperti kerucut dengan bagian bawah yang datar dan lebar dan mengecil kearah bagian atas serta bagian leher yang berbentuk silinder.

Alat ini juga sering disebut dengan conical flask, sebagian yang lain menyebutnya dengan labu titrasi.

Leher yang sempit pada erlenmeyer ini membuatnya lebih mudah diambil dan dipegang, sementara bagian dasarnya yang rata memungkinkannya diletakkan di permukaan apa pun.

Erlemeyer pertama kali diciptakan oleh ilmuwan asal jerman yang bernama Richard August Carl Emil Erlenmeyer pada tahun 1860 yang kemudian namanya digunakan untuk penamaan alat tersebut. Emil Erlenmeyer sendiri merupakan ilmuwan di bidang kimia organik yang pertama kali mensintesis senyawa antara lain tirosina, kreatina, guanidin, dan kreatinin.

Ada beberapa bahan yang digunakan untuk membuat labu erlenmeyer, diantaranya yang paling umum dan sering kita temui adalah bahan Borosilicate dan bahan polypropylene yang tentunya dalam penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan analisa di laboratium.

Fungsi Labu Erlenmeyer

erlenmeyer flask

Erlenmeyer banyak digunakan di laboratorium kimia, laboratorium bakteriologi, laboratorium Hematologi, laboratorium Mikrobiologi, dan hampir semua Laboratorium yang secara umum melakukan pengujian. Bahkan dalam laboratorium-laboratorium tersebut, erlenmeyer merupakan peralatan laboratorium yang paling sering digunakan.

Fungsi erlenmeyer di laboratorium sangatlah bermacam-macam antara lain sebagai berikut :

  • Digunakan untuk menyimpan dan mengukur sampel kimia cair. Selain itu, tergantung pada penelitian atau analisanya, sampel dalam erlenmyer tersebut dapat dipanaskan atau juga direaksikan di dalam erlenmeyer.
  • Digunakan dalam proses analisa dengan metode titrasi, dimana labu erlenmeyer tersebut sebagai tempat / penampung larutan yang akan dititrasi dengan menggunakan titran yang sudah kita siapkan di dalam buret.
  • Digunakan untuk mencampur beberapa cairan atau padatan dengan cairan dimana hal tersebut merupakan tahapan penting dalam berbagai macam analisa kimia.
  • Digunakan untuk proses homogenisasi larutan dengan lebih cepat dengan bantuan pengaduk magnet untuk menjaga agar campuran tersebut tetap berputar.

Meskipun pengadukan diputar dengan cepat, namun dengan bentuk Labu erlenmeyer yang pada bagian tubuh lebar tetapi pada leher sempit, maka akan mengurangi kemungkinan tumpahan selama proses berputar.

Hal ini juga sangat penting ketika kita bekerja dengan asam kuat / bahan lain yang menyebabkan iritasi pada kulit. Berbeda dengan gelas kimia, erlenmeyer dengan bentuk leher yang kecil memungkinkan untuk kita tutup dengan stoper yang disertakan pada labu erlenmeyer jenis tertentu.

  • Digunakan di laboratorium mikrobiologi untuk persiapan kultur mikroba.
  • Filter flask yang mempunyai bentuk seperti erlenmeyer namun mempunyai konektor dibagian lehernya dimana untuk alat gelas jenis ini biasanya digunakan dalam proses filtrasi menggunakan corong buchner dengan bantuan vacuum pump.

Sisi labu yang meruncing dan leher yang sempit memungkinkan pencampuran dan pengadukan yang mudah tanpa risiko tumpah.
Labu berbentuk kerucut dapat digunakan untuk mengukur volume cairan, namun pengukurannya tidak tepat.
Menggunakan gabus, zat gas dapat disimpan dalam labu berbentuk kerucut.

Jenis-Jenis dan Gambar Erlenmeyer

  • Labu Erlenmeyer mulut Sempit – Sesuai namanya, erlenmeyer jenis ini mempunyai mulut yang sempit, 

fungsi labu erlenmyer

  • Labu Erlenmeyer mulut Lebar – Digunakan untuk mengaduk cairan dengan dengan menggunakan pengaduk magnet dan magnetik stirer

gambar labu erlenmeyer

  • Erlenmeyer Bahan polypropylene

erlenmeyer bahan pp

  • Erlenmeyer With Rubber Stopper

kegunaan labu erlenmeyer

  • Erlenmeyer With Screw Cap

erlenmeyer with cap

Ukuran Erlenmeyer

Terdapat berbagai macam brand dan jenis erlemeyer, dimana setiap setiap jenisnya mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Berikut ini adalah salah satu contoh standar ukuran erlenmeyer :

ukuran labu erlenmeyer

Dapat dilihat di tabel diatas, untuk ukuran erlenmeyer terkecil 50 ml mempunyai tinggi 82 mm ± 1 mm dengan diameter leher 24 mm ± 1 mm dan diameter terlebar adalah 51 mm ± 1 dengan berat 50 gram ± 8 gram.

Sedangkan untuk erlenmeyer terbesar dengan volume 10 liter mempunyai tinggi 450 mm ± 3 mm dengan diameter leher 60 mm ± 1 mm dan diameter terlebar 280 mm ± 3 mm dengan berat 2450 gram ± 100 gram.

Kelebihan dan Kekurangan Erlenmeyer

  • Kelebihan :

Labu erlenmeyer ideal untuk mencampur bahan kimia karena alasnya yang lebar dan kemampuannya untuk diputar dengan menggunakan stirer bar tanpa tumpah. Karena alasnya lebar dan bagian atasnya kecil sehingga kecil kemungkinan cairan akan naik ke atas dan meluap / tumpah.

Labu erlenmeyer memiliki keuntungan ekstra karena dapat ditutup dengan sumbat karet bahkan ada yang menggunakan screw cap. tutp ini tidak kita temukan di gelas kimia. Sehingga sampel / cairan / larutan lebih sering disimpan di dalam erlenmeyer dan tidak disimpan dalam gelas kimia.

Dapat juga digunakan untuk menyaring berbagai zat dengan kertas saring. Di sini, labu Buchner / labu vakum,
variasi dari labu Erlenmeyer asli, digunakan. Selain itu, dapat digunakan untuk mengandung titrat. Karakteristik ini membuatnya cocok untuk rekristalisasi.

Karakteristik ini juga membuat labu cocok untuk proses perebusan. Bentuk kerucut labu memungkinkan pelarut mengembun di tubuhnya. Ini mencegah hilangnya pelarut. Reaksi-reaksi ini harus dikelola. Mereka tidak dapat melebihi suhu tertentu karena tekanan termal dapat menyebabkan labu pecah.
Labu erlenmeyer dibuat agar jauh lebih tahan lama daripada labu laboratorium biasa. Mereka mengandung kaca 25% lebih banyak daripada termos dinding standar dan karenanya memiliki umur simpan yang lebih lama.

  • Kekurangan
    1. Karena ketebalannya yang terbatas, erlenmeyer tidak dapat digunakan dalam reaksi kimia berenergi tinggi.
    2. Meskipun terdapat skala / graduasi di dalam erlenmeyer, namun alat ini bukanlah sebagai alat pengukur sehingga volume yang tertampung di dalam erlenmeyer tidaklah akurat, namun hanya kita gunakan untuk pembacaan secara kasar saja.

Tips Merawat Erlenmyer

conical flask adalah

  • Pembersihan
    1. Sebelum menggunakan erlenmeyer, jika digunakan untuk keperluan analisa mikrobiologi, pastikan alat tersebut sudah disterilkan dan dibersihkan dengan kain kering.
    2. Setelah melakukan percobaan / selesai digunakan, bilas erlenmeyer selama 10 s/d 15 menit dalam larutan deterjen hangat. Kemudian, bilas 3 x dengan air kran dan keringkan dengan kain katun kering. Dalam kondisi tertentu jika kotoran di dalam erlenmeyer sudah berkerak, ada baiknya dilakukan pembersihan dengan ultrasonic cleaner.
  • Penyimpanan

Untuk mencegah kontaminasi, labu erlenmeyer harus disimpan dalam kotak di lokasi yang kering, misalnya lemari laboratorium.

Petunjuk Keselamatan Penggunaan

  1. Pada saat bekerja menggunakan glassware di laboratorium, termasuk labu erlenmeyer, pastikan bekerja dengan hati-hati, kenakan Alat Pelindung Diri yang sesuai, misalnya : jas laboratorium, safety glasses, dan sarung sarung tangan.
  2. Pahami larutan apa yang terdapat di dalam labu erlenmeyer, pastikan untuk membacan MSDS untuk mengenali bahaya bahan tersebut, jika kita tidak tahu larutan apa yang terdapat di dalam erlenmeyer tersebut, anggap cairan tersebut sebagai cairan berbahaya yang perlu kehati-hatian dalam penanganannya.
  3. Erlenmyer yang terbuat dari bahan kaca borosilicate, baik dalam kondisi panas atau dingin akan terlihat sama (tidak ada perbedaan warna, misalnya untuk erlenmeyer panas berwarna merah membara), pastikan menggunakan sarung tangan untuk menghindari adanya luka bakar ketika menyentuh labu erlenemyer tersebut.
  4. Jangan langsung menaruh erlenmeyer yang baru saja dipanaskan ke dalam bak air dingin.
  5. Ketika erlenmeyer bahan kaca borosilikat pecah, maka pecahan kaca tersebut akan tajam seperti jenis kaca lainnya. Buang potongan pecahan kaca tersebut dengan hati-hati.

Semoga Bermanfaat