Pengertian Presisi dalam Hasil Pengujian Laboratorium

Pengertian Presisi dalam Hasil Pengujian Laboratorium

Dalam suatu kegiatan kalibrasi ataupun pengujian, mau tidak mau, suka tidak suka kita akan dihadapkan dengan beberapa istilah yang terkadang membuat kita bingung, antara lain :

  • Presisi
  • Akurasi
  • Recovery
  • Limit of Detection
  • Ketidakpastian Gabungan (Combine uncertainty)
  • Faktor cakupan (Coverage factor)
  • Derajat bebas (Degree of Freedom)
  • Dll

Pemahaman akan hal-hal tersebut tentunya wajib bagi analis / teknisi yagn bekerja di laboratorium pengujian maupun laboratorium kalibrasi sehingga kita dapat mengevaluasi / mencari akar penyebab masalah jika terjadi ketidaksesuaian pada hasil kalibrasi / pengujian.

Nah kali ini kita akan belajar bersama mengenai pengertian presisi dan jenisnya serta darimana nilai presisi tersebut kita dapatkan.

Pengertian Presisi dalam Pengujian dan Kalibrasi

Seperti kita ketahui, presisi merupakan salah satu parameter uji kinerja dari verifikasi / validasi metode. Presisi menggambarkan kedekatan antara beberapa hasil uji independen (individual) yang dilakukan dibawah kondisi pengujian yang telah ditetapkan.

Gambar dibawah ini adalah ilustrasi mengenai presisi dan yang membedakannya dengan akurasi.

precision vs accuracy

Dan berikut ini adalah gambaran mengenai presisi pada proses pengukuran..

Seseorang sedang melakukan penimbangan badan selama 5 hari berturut-turut, tentunya dengan menggunakan timbangan badan. Dimana orang tersebut sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan dan dilakukan penimbangan di klinik dengan timbangan badan yang telah di tera / dikalibrasi menunjukkan angka 80.0 Kg.

Nah dari hasil penimbangan selama 5 hari tersebut didapatkan, hasil penimbangan yaitu :

  • Hari 1 : 75.5 Kg
  • Hari 1 : 75.7 Kg
  • Hari 1 : 75.6 Kg
  • Hari 1 : 75.5 Kg
  • Hari 1 : 75.6 Kg

Nah dari data tersebut bisa disimpulkan timbangan badan tersebut presisi (karena hasil pengulangannya mendekati satu sama lain) namun tidak akurat karena karena secara rata-rata jauh dari nilai sebenarnya yaitu 80 Kg.

Namun jika hasil penimbangan berat selama 5 hari tersebut didapatkan data sebagai berikut :

  • Hari 1 : 79.1 Kg
  • Hari 1 : 79.0 Kg
  • Hari 1 : 80.9 Kg
  • Hari 1 : 80.8 Kg
  • Hari 1 : 79.2 Kg

Maka  bisa disimpulkan timbangan badan tersebut akurat namun tidak presisi.

Baca Juga : Harga Timbangan Badan yang Sering Kita Temui Di Pasaran

Tips :

Berikut ini adalah cara supaya kita tidak terbalik dalam mengartikan apa itu precision dan accuracy?

ACcurate is Correct (or Close to real value)

PRecise is Repeating (or Repeatable)

Repeatability vs Reproducibility

Presisi bergantung pada distribusi dari kesalahan acak (random) dan tidak ada kaitannya dengan nilai benar analit dalam contoh yang diuji.

Ukuran presisi dinyatakan dalam imprecision atau ketidakcermatan dan dihitung sebagai standar deviasi atau simpangan baku. Presisi yang kurang baik tergambarkan oleh standar deviasi yang lebih besar / tinggi.

perbedaan ripitibility dan reproducibility

Ada 2 macam presisi yaitu:

  • Ripitabilitas (Ukuran Presisi yang Terkecil)

Ripitabilitas adalah pengulangan pengujian yang dilakukan terhadap sampel yang sama, menggunakan metode pengujian yang sama, dilakukan di laboratorium yang sama, oleh analis yang sama, memakai peralatan yang sama dalam skala waktu analisis yang pendek.

  • Reprodusibilitas (Ukuran Presisi yang Terbesar)

Reprodusibilitas adalah pengulangan pengujian yang dilakukan terhadap sampel yang sama, dengan metode pengujian yang sama, namun dilakukan di laboratorium berbeda yang tentunya dilakukan oleh analis yang berbeda, menggunakan peralatan yang berbeda dalam skala waktu analisis yang panjang.

Catatan :

Diantara ukuran presisi yang terkecil dan terbesar tersebut diatas, ada ukuran presisi intermediate yang diperoleh apabila pengujian dilakukan terhadap sampel yang sama, menggunakan metode pengujian yang sama, dilakukan di laboratorium sama namun analis yang berbeda dan boleh menggunakan peralatan sama ataupun berbeda, misalnya : jika laboratorium tersebut mempunyai lebih dari 1 instrument, contoh ::

  1. Analis 1 menggunakan instrument 1
  2. Analis 2 menggunakan instrumen 2.

Hal diatas dikenal sebagai intra laboratory reproducibility.

Cara Menetapkan Ripitabilitas Atau Reprodubilitas

Nah bagaimana suatu laboratorium menetapkan Ripitabilitas atau Reprodubilitas?

perbedaan ripitibilitas dan reprodusibilitas

Salinan tabel diatas bersumber dari EURACHEM.

Untuk menetapkan Ripitabilitas atau Reprodubilitas maka kita menganalisis standar, bahan acuan, atau blangko contoh yang kedalamnya ditambah analit dengan berbagai konsentrasi yang berbeda.

Apabila analisis tersebut dilakukan oleh :

  • Analis yang sama
  • Peralatan yang sama
  • Laboratorium yang sama
  • Skala waktu analisa yang pendek

Maka yang kita dapatkan adalah ripitabilitas untuk setiap konsentrasi, dan parameter yang dihitung dari perulangan sebanyak 10 kali tersebut adalah simpangan baku pada setiap konsentrasi yang berbeda tersebut.

Apabila analisa dilakukan oleh :

  • Analis yang berbeda
  • Peralatan yang berbeda
  • Laboratorium yang sama
  • Skala waktu yang panjang

Maka yang kita dapatkan adalah intra laboratory reproducibility untuk setiap konsentrasi, dan yang dihitung adalah simpangan baku pada setiap konsentrasi yang berbeda.

Sedangkan jika analisa dilakukan oleh :

  • Analis yang berbeda
  • Peralatan yang berbeda
  • Laboratorium yang berbeda
  • Skala waktu yang panjang

Maka yang kita dapatkan adalah interlaboratory reproducibility untuk setiap konsentrasi. Dan karena menyangkut antar laboratorium maka diperlukan study kolaborasi, dan yang dihitung adalah simpangan baku pada setiap konsentrasi.

Nah hal diatas adalah yang harus dilakukan jika laboratorium ingin menetapkan Ripitabilitas atau Reprodubilitas.

Namun muncul pertanyaan..

Apakah laboratorium harus melakukan keduanya, yaitu ripitabilitas atau reprodubilitas?

Tentu tidak, laboratorium dapat memilih apakah hanya akan melakukan ripitabilitas atau reprodubilitas. Sedangkan inter reprodubility biasanya hanya dilakukan oleh laboratorium induk yang mempunyai banyak laboratorium binaan di bawahnya.

Untuk laboratorium yang bukan laboratorium induk tentunya dikembalikan kepada laboratorium itu sendiri terkait dengan bagaimana suatu laboratorium mengorganisasikan pekerjaannya sehari-hari, sehingga apakah mau memilih ripitabilitas atau reprodubilitas.

Misalnya :

Jika setiap personel analis sudah mendapatkan tugasnya masing-masing :

  • Analis A mempunyai tanggung jawab untuk analisis kadar abu
  • Analis B mempunyai tanggung jawab untuk analisis kadar lemak

Atau bisa dikatakan tidak mungkin lebih dari 1 analis yang melakukan 1 pengujian. Maka laboratorium tentunya akan memilih ripitabilitas.

Namun jika dalam suatu laboratorium, pekerjaan dilakukan sebagai berikut :

  • Analisis kadar abu dapat dilakukan oleh analis A, B, dan C
  • Analisis kadar lemak dapat dilakukan oleh analis D, E, dan F

Atau dalam arti lain, 1 jenis pengujian bisa dilakukan oleh beberapa analis maka laboratorium bisa menetapkan intra laboratory reproducibility.

Apakah Data Presisi Kita Valid?

Bagaimana Cara Menetapkan Valid / Tidaknya Presisi Pengujian yang dilakukan Laboratorium?

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa yang dihitung adalah simpangan baku.

Tetapi syarat keberterimaan dari presisi tersebut didasarkan pada KV (Koefisien Variasi) dan bukan S. Oleh karena itu S yang diperoleh harus dikonversi terlebih dahulu menjadi KV sehingga dapat diperbandingkan satu sama lainnya.

Syarat Keberterimaan Presisi

Persamaan horwitz untuk reproducibility metode :

persamaan cv horwitz

Dimana C bukanlah konsentrasi namun fraksi konsentrasi dimana apabila :

Konsentrasi 1 % C = 0.01

Konsentrasi 1 ppm C = 1/1.000.0000

Sedangkan untuk repeatibility, karena standar deviasi repeatibility lebih kecil dibandingkan dengan standar deviasi reprodusibilitas maka, persyaratan yang dipakai adalah :

0.67 x CVHorwitz

Contoh menghitung CVHorwitz

rumus uji presisi

Dengan persamaan horwitz diatas, maka :

  • Konsentrasi 1 % akan didapatkan CVHorwitz = 4

Sedangkan jika :

  • Konsentrasinya 1 ppm maka akan didapatkan CVHorwitz 16

perbandingan rasio analit

Tabel diatas menyatakan nilai repeatibilitas apabila nilai analit disusun dari besar ke kecil

Dimana koefisien variasi (RSD) dimana RSD akan lebih besar jika konsentrasi analit mengecil.

kurva horwitz

Dari gambar kurva tersebut disusun dari sebelah kiri dan kanan semakin kecil dan koefisien variasi horwitz makin ke kanan makin besar.

Semoga Bermanfaat

Sumber :

Eurachem

Pojok Laboratorium

Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya Sesuai Klasifikasi Kebakaran

Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya Sesuai Klasifikasi Kebakaran

Kesehatam dan keselamatan kerja (K3) di dalam perusahaan merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan di dalam aktivitas perusahaan. Bahkan beberapa persyaratan / regulasi yang terkait dengan keselamatan kerja tersebut sifatnya wajib dan harus kita penuhi.

Jika tempo hari kita membahas mengenai HIRADC yang merupakan salah satu roh nya dari sistem manajemen K3. Kali ini kita membahas mengenai alat pemadam api ringan, mulai dari :

  • Pengertian dan regulasinya
  • Jenis-jenis APAR dan fungsinya
  • Bagian-bagian APAR
  • Klasifikasi Kebakaran
  • Perawatan APAR
  • dll

Pengertian APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

APAR adalah alat pemadam api yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang yang digunakan memadamkan api pada mula terjadinya kebakaran.

Berikut gambar komponen alat pemadam api ringan dimana terdiri dari :

komponen apar

  • Safety pin
  • Handle
  • Pressure Gauge
  • House
  • Label
  • Tabung

Tujuan Penggunaan APAR

Dalam rangka untuk mensiap siagakan pemberantasan pada mula terjadinya kebakaran maka setiap alat pemadam api ringan harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja.

Oleh karena sifatnya yang hanya dapat menanggulangi kebakaran awal dan mudah dipergunakan oleh satu orang maka APAR biasanya hanya mempunyai durasi semprot yang relatif singkat dalam bilangan menit.

Dasar Hukum Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan di Tempat Kerja :

  1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja
  2. Surat keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 158 tahun 1972 tentang Program operasional, serentak, singkat, padat untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
  3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 Tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan.
  4. Instruksi Menteri Tenaga Kerja nomor 11 tahun 1997 tentang pengawasan khusus K3 penanggulangan kebakaran.
  5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 186 tahun 1999 tentang unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
  6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 26 Tahun 2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.
  7. Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan

Pasal 24

Pengurus harus bertanggungjawab terhadap ditaatinya peraturan ini.

Pasal 25

Pengurus yang tidak mentaati ketentuan tersebut pasal 24 diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000,- Sesuai dengan pasal 15 ayat 2 dan 3 undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

Persyaratan K3 Penggunaan APAR di tempat kerja sesuai persyaratan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

  • Designing
  • Listing
  • Selecting
  • Purchasing
  • Installing
  • Approving
  • Inspecting
  • Recharging
  • Maintaining
  • Testing
  • Operating

Persyaratan K3 Penggunaan APAR

persyarratan penggunaan apar

Berikut pedoman penggunaan alat pemadam api ringan agar penggunaan lebih efektif, efisien, aman, dan tidak merusak.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Lakukan perencanaan
  2. Lakukan Pengadaan
  3. Lakukan penempatan APAR yang tepat
  4. Sediakan petugas yang kompeten dan memiliki sertifikat dan lisensi petugas K3 penanggulangan kebakaran
  5. Fire Risk Assessment
  6. Melakukan pemeliharaan teratur
  7. Menempatkan APAR sesuai jenis dan ukuran yang tepat

Kegagalan Pada Alat Pemadam Api Ringan

  1. Media tidak sesuai
  2. Ukuran tidak sesuai
  3. Macet atau tidak berfungsi, misalnya disebabkan : tidak bertekanan dikarenakan bocor atau menggumpal dikarenakan penundaan refill.
  4. Salah penempatan
  5. Petugas belum ditunjuk atau petugas tidak terampil.

Konstruksi dan Bagian-Bagian APAR

Berdasarkan konstruksinya APAR biasanya dibuat dalam 2 jenis yaitu :

Storage Pressure Type (SPT) / Store Pressure

Storage Pressure Type merupakan alat pemadam api ringan yang memakai gas pendorong bertekanan tercampur bersama media pemadamnya. Gas pendorong yang digunakan adalah nitrogen atau N2. Ciri dari APAR jenis ini biasanya ada penunjuk tekanan gas di luarnya.

Berikut Gambar APAR jenis powder atau storage Pressure

apar storage pressure

Bagian Bagian APAR Storage Pressure Type (SPT)

  1. Handle
  2. Manometer
  3. Pipa penyalur
  4. Powder
  5. Selang
  6. Corong

Gas Catridge tipe (GTC)

Jenis alat pemadam api ringan dimana gas pendorong terletak pada catridge tersendiri, terpisah dari media pemadamnya. Gas yang dipergunakan biasanya adalah gas karbondioksida

Bagian-Bagian APAR Gas Catridge tipe (GTC)

gas cartride apar

  1. Handle
  2. Tabung Catridge
  3. Pipa penyalur
  4. Powder
  5. Selang
  6. Corong

Tabung APAR harus diisi sesuai dengan jenis dan konstruksinya.

Model Konstruksi APAR

apar tipe cartridge dan stored

Model konstruksi alat pemadam api ringan tipe cartridge terdiri dari :

  • Pluger
  • Safety Clip
  • Discharge tube
  • Shiphon tube
  • Karbon dioksida dan cartridge
  • Internal Cylinder
  • DCP powder

Model konstruksi alat pemadam api ringan tipe stored pressure terdiri dari :

  • Safety pin
  • Pressure gauge
  • Hose
  • Handle
  • Store Pressure
  • Syphon tube
  • Water

Fungsi dari Bagian-Bagian APAR

  • Tabung (Tube / Cylinder)

Tabung APAR yang baik dipakai terbuat dari bahan berkualitas tinggi baja paduan dan banyak diterapkan dalam kimia, metalurgi, dan mekanik sehingga tahan terhadap bahan kimia serta tahan terhadap tekanan. Tabung berbentuk seamless yaitu tabung yang dibuat tanpa adanya las.

  • Valve

Valve berfungsi untuk menutup dan membuka aliran media yang berada di dalam tabung.

  • Handle

Handle berfungsi sebagai pegangan untuk menekan serta membantu valve dalam melakukan fungsinya.

  • Pressure

Pressure berfungsi untuk menunjukkan tekanan N2 dalam tabung.

  • Hose

Hose berfungsi sebagai selang penghantar media.

  • Nozle

Noozle berfungsi sebagai pegangan untuk mengarahkan media pada sumber api.

  • Sabuk tabung

Sabuk tabung berfungsi sebagai dudukan selang pada tabung.

  • PIN pengaman

PIN pengaman berfungsi sebagai pengaman tabung gas.

  • Bracket / Hanger

Bracket / Hanger berfungsi sebagai gantungan alat pemadam api ringan.

Klasifikasi Kebakaran Menurut Permenaker 04 tahun 1980 pasal 2

  • Kelas A atau Combustible Material

Kebakaran yang terjadi pada benda padat kecuali logam Seperti : kayu, kertas, karet, kain, dll.

  • Kelas B Flammabel Liquid / Gas

Kebakaran yang terjadi pada benda cair dan gas berupa bensin, solar, minyak tanah, LPG, LNG, dll.

  • Kelas C atau Electrical Equipment

Kebakaran yang terjadi pada peralatan listrik yang masih bertegangan tinggi.

  • Kelas D atau Metal

Kebakaran yang terjadi pada logam terdiri dari magnesium, zurkunium, Titanium, dll.

Catatan :

Penggolongan kebakaran dan jenis pemadam api ringan dapat diperluas sesuai dengan perkembangan teknologi.

Jenis-Jenis APAR dan Penggunaannya

Apar Air (Water) dengan Tekanan Tinggi

APAR isi air adalah tabung APAR yang diisi air tawar sebanyak kapasitas tabung kemudian diberi pendorong N2 atau cartridge atau dengan dipompa secara manual.

Air beratnya relatif stabil, mudah disimpan, dan mudah didapat.

Jarak jangkau pancaran sekitar 10 ft s/d 20 ft dengan waktu pancaran sekitar 1 menit untuk kapasitas 2,5 galon.

Berikut gambar alat pemadam api ringan air atau water

apar air

Penggunaan APAR AIR

APAR jenis ini cocok untuk memadamkan api yang ditimbulkan dari bahan-bahan padat non logam seperti kertas, kain, karet, plastik, dll namun berbahaya jika dipergunakan pada kebakaran akibat instalasi listrik yang bertegangan. Sifatnya mendinginkan atau mempunyai daya serap panas yang besar.

Baca Juga : Tang Ampere Salah Satu Alat Ukur Instalasi Listrik

Apar Busa / Foam

APAR jenis ini memakai bahan kimia yang membentuk busa. Tabung utama berisi larutan sodium bikarbonat atau ditambah dengan penstabil busa.

Tabung sebelah dalam berisi larutan aluminium sulfat.

Campuran dari kedua larutan tersebut akan menghasilkan busa dengan volume 10 x lipat.

Busa kemudian didorong oleh gas pendorong (biasanya karbondioksida).

Kapasitas yang ada di pasaran adalah 2, 5, 10, 20, dan 30 galon dengan jangkauan semprot sekitar 10 – 15 m untuk yang 2,5 galon dan habis dalam 1 menit. Sedangkan untuk yang 30 galon, biasanya tipe beroda dengan jangkauan sampai 20 m dengan waktu sampai 4 menit.

Berikut gambar APAR foam :

apar foam

Penggunaannya APAR Busa

APAR busa ini digunakan untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh bahan-bahan cair seperti minyak, alkohol, solvent, dll.

Busa Aqaueous Film Forming Foam (AFFF) yang disemburkan keluar akan menutupi bahan yang terbakar sehingga oksigen tidak dapat masuk untuk proses kebakaran.

APAR jenis busa harus digunakan sampai habis karena tidak bisa digunakan ulang.

APAR Serbuk Kimia (Dry Chemical Powder)

apar powder

APAR ini terdiri dari serbuk kering kimia yang merupakan kombinasi dari mono ammonium dan ammonium sulfat.

  • Powder kimia reguler adalah tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C.
  • Powder kimia multi-purpose adalah tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran kelas A, B, dan C.
  • Powder kimia spesial dry powder adalah tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran khusus kelas D.

Tabung APAR yang diisi powder kemudian ditekan N2 atau cartridge. Serbuk kering kimia yang dikeluarkan akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga memisahkan Oksigen yang merupakan unsur penting terjadinya kebakaran.

APAR jenis dry chemical powder efektif dan bisa digunakan di hampir semua kelas penyebab atau bahan yang terbakar. Namun alat pemadam api ringan jenis ini tidak dianjurkan dipakai dalam industri karena akan mengotori dan merusak peralatan produksi disekitarnya sehingga APAR powder umumnya digunakan pada mobil.

Bahan Baku Powder

Bahan baku powder reguler terdiri dari :

  1. Sodium bikarbonat
  2. Potasium bikarbonat
  3. Potassium carbonate
  4. Potasium klorida

Bahan baku powder multi-purpose terdiri dari :

  1. Kalium sulfat dan mono ammonium phospat

Bahan baku powder khusus terdiri dari :

  1. Campuran kalium klorida, barium klorida, magnesium klorida, natrium klorida, dan kalsium klorida

APAR karbondioksida / CO2

apar co2

Konstruksi alat pemadam api ringan ini terdiri dari tabung tahan tekanan tinggi yang berisi gas karbondioksida sebagai bahan pemadamnya.

Bila katup dibuka maka cairan gas akan mengalir dan berubah menjadi es dan gas.

Bila tabung telah dipakai 10% maka harus diisi kembali.

Di pasaran tersedia baik untuk yang jenis portable maupun beroda.

Dapat dipakai untuk berbagai cairan mudah terbakar yang merusak busa (dimana APAR busa tidak bisa digunakan).

APAR jenis karbon dioksida tidak korosif dan tidak meninggalkan bekas, tidak menghantar listrik namun kualitasnya akan menurun bila tidak digunakan dalam waktu yang lama.

Bila bobot turun sampai 10 % maka Perlu diisi ulang.

Penggunaan APAR Karbondioksida

Dapat juga untuk api kelas A tetapi tidak boleh dipakai untuk kelas D. Alat pemadam api ringan karbondioksida diperuntukan untuk kebakaran bahan cair yang mudah terbakar maupun instalasi listrik yang bertegangan.

Alat pemadam api ringan jenis ini memadamkan dengan cara isolasi dimana oksigen diupayakan terpisah dari apinya. Disamping itu karbondioksida juga mempunyai peranan dalam pendinginan.

Material yang selimuti oleh karbondioksida akan cenderung lebih dingin.

Kelebihan APAR Karbondioksida

  • Mudah menyebar ke seluruh area kebakaran
  • Tidak menghantarkan listrik
  • Tidak meninggalkan residu
  • Berat jenis karbon dioksida 1,5 x berat udara
  • Efektif untuk kebakaran kelas B dan C

Apar Halon

Menurut KEPPRES RI Nomor 23 Tahun 1992 mengenai penggunaan bahan Chloro FLouro Carbon atau CFC bahwa mulai 1 Januari 1997 tidak boleh digunakan karena dapat merusak lapisan ozon.

Lapisan ozon adalah lapisan yang terdapat pada stratosfer bumi atau lapisan udara yang berada antara 10 s/d 60 km dari permukaan bumi yang berfungsi melindungi bumi dari sinar ultraviolet matahari yang membahayakan makhluk hidup yang memberikan dampak antara lain :

  • Bahaya kanker kulit
  • Menurunnya sistem daya tahan tubuh
  • Menyebabkan katarak
  • Terganggunya panen pertanian

apar halon

Halon mempunyai kelebihan sebagai berikut :

  • Tidak meninggalkan residu
  • Berat jenis hallon 5 kali berat udara
  • Tidak menghantarkan listrik
  • Dapat memadamkan kebakaran kelas B dan C.

Standar Penempatan APAR Sesuai Penggolongan kebakaran

Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran.

tabel kebakaran dan jenis apar

Tabel diatas merupakan tabel kebakaran dan jenis APAR yang harus dipakai pada mula kebakaran.

Pada kolom kebakaran terdiri dari golongan dan bahan yang terbakar, seperti golongan A yaitu bahan padat kecuali logam. Bahan yang terbakar yaitu kayu, kertas, tekstil, majun, arang batu, dan lain sebagainya.

Berikut keterangannya :

√ : Dapat dipakai

√√ : Baik

√√ √ : Baik sekali

X : tidak dapat dipakai

XX : Bisa merusak

XXX : Berbahaya untuk digunakan

Matrix Penggunaan APAR

matrix apar

 

Terlihat pada gambar ada dua simbol yaitu simbol yes dan no atau checklist dan simbol silang yang menunjukkan jenis-jenis APAR apa yang cocok digunakan untuk jenis kebakarannya.

Jadi kalau simbolnya checklist, alat pemadam api ringan tersebut baik digunakan atau disarankan untuk digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran yang ada di tabel ini.

Namun jika simbolnya X maka tidak disarankan untuk digunakan bahkan bisa cenderung berbahaya untuk digunakan pada jenis kebakaran yang tertera pada tabel tersebut.

Standar P emasangan APAR (Jarak dan Rambu Penempatan)

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR :

  • Penempatan alat pemadam api ringan yang satu dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 m, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
  • Semua tabung APAR sebaiknya berwarna merah.
  • Dilarang memasang dan menggunakan alat pemadam api ringan yang didapati sudah berlubang-lubang atau cacat karena karat.
  • Setiap alat pemadam api ringan harus dipasang atau ditempatkan menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau dengan konstruksi penguat lainnya atau ditempatkan dalam lemari atau peti yang tidak dikunci.
  • Sengkang atau konstruksi penguat lainnya tidak boleh dikunci atau digembok atau diikat mati.
  • Lemari atau peti dapat dikunci dengan syarat bagian depannya harus diberi kaca aman atau safety glass dengan tebal maximum 2 mm.
  • Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan.

Tanda untuk menyatakan tempat alat pemadam api ringan yang dipasang pada dinding adalah segitiga sama sisi dengan warna dasar merah, ukuran sisi 35 cm, tinggi kotak huruf 3 cm berwarna putih dengan tulisan berwarna hitam, tinggi tanda panah 7,5 cm.

tanda apar di dinding

Tanda untuk menyatakan tempat alat pemadam api ringan yang dipasang pada tiang atau kolom adalah warna dasar tanda pemasangan merah dengan lebar ban pada kolom 20 cm sekitar kolom.

tanda apar di tiang atau kolom

  • Pemasangan APAR harus dipasang sedemikian rupa sehingga bagian paling atas berada pada ketinggian 1.2 m dari permukaan lantai, kecuali karbondioksida dan serbuk kering dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat jarak antara dasar alat pemadam api ringan tidak kurang 15 cm dari permukaan lantai.
  • APAR tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat dimana suhu melebihi 49 °C atau turun sampai – 44 °C, kecuali apabila APAR tersebut dibuat khusus untuk suhu diluar batas tersebut diatas.

Baca Juga : Termometer Raksa, klinis dan Alkohol : Apa Kelebihan dan Kekurangannya?

  • APAR yang ditempatkan di alam terbuka harus dilindungi dengan tutup pengaman.
  • Sesuai dengan jenis dan kelas kebakaran benda yang dilindungi
  • Pada posisi yang mau dilihat dicapai atau diambil dan dilengkapi dengan tanda pemasangan.

contoh penempatan apar

Contoh Penempatan dan Rambu Alat Pemadam Api Ringan

Cara Menggunakan APAR

Dalam penggunaan APAR dikenal istilah PASS

P : Pull the Pin. Tarik kunci pengaman atau segel.

A : Aim at base of fire. Pegang bagian ujung selang dan arahkan ujung selang ke sumber api.

S : Squeeze. Tekan tuas.

S : Sweep from side to side. Kibaskan ujung selang pada sumber api secara perlahan sampai api padam.

Kesalahan Cara Menggunakan APAR yang Sering Dilakukan

kesalahan menggunakan apar

  • Saat mengambil alat pemadam api ringan di bawa dengan cara menenteng. Cara seperti ini akan membuat kita kelelahan jika jarak alat pemadam api ringan dengan sumber api jaraknya jauh. Terlebih jika tabung gas yang dibawa memiliki berat 6 kg atas. Justru yang sering terjadi akhirnya alat pemadam api ringan dibawa dengan cara diseret karena berat dan waktu eksekusi menjadi terhambat.
  • Cara menarik segel. Menarik segel akan menjadi sangat sulit jika kita tidak paham caranya. Kesalahan yang sering terjadi adalah saat menarik segel terkadang kita juga menekan tuas sehingga PIN segel terjepit. Dalam kondisi tersebut segel sulit terlepas.
  • Memegang selang pada bagian tengahnya atau pada bagian tengah tuas APAR karena tekanan alat pemadam api ringan 13 bar, maka selang akan bergerak kesana-kemari tidak tentu arah. Selang yang tidak terarah akan menyebabkan media pemadam tidak dapat memadamkan api secara efektif. Untuk memegang selang APAR, pastikan pada yang dipegang pada bagian ujung selang APAR dan arahkan ke sumber api.
  • Saat mengeksekusi kebakaran berusaha menghemat media agar tidak cepat habis dengan cara menekan tuas sedikit demi sedikit. Dengan cara tersebut pasti api tidak akan segera padam. Pastikan tekan tuas sampai penuh terus-menerus sampai api padam.

Prinsip pemakaian APAR

  • Mengenal sifat benda yang terbakar.
  • Jenis dan ukurannya harus sesuai.
  • Mudah dilihat dan mudah diambil
  • Kondisi alat pemadam api ringan baik
  • Petugas mampu mengoperasikannya
  • Harus mengenal keefektifan alat pemadam api ringan
  • Memperhatikan kondisi temperatur, arah angin, uap yang terjadi.
  • Disesuaikan dengan lingkungan.
  • Jangan sampai terjadi kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh obat pemadam terhadap benda yang terbakar atau lingkungannya.
  • Keamanan petugas harus diperhatikan
  • Setiap orang dapat mengoperasikan dengan benar tidak membahayakan dirinya.

Jumlah dan Kompetensi Petugas Pengoperasian APAR

Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 186 tahun 1999 tentang unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja Unit penanggulangan kebakaran.

Unit penanggulangan kebakaran ialah unit kerja yang dibentuk dan ditugasi untuk menangani masalah penanggulangan kebakaran di tempat kerja yang meliputi kegiatan administrasi, identifikasi sumber-sumber bahaya, pemeriksaan, pemeliharaan, dan perbaikan sistem proteksi kebakaran.

Baca Juga : Identifikasi Bahaya Potensi Risiko HIRADC

Unit penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud terdiri dari petugas peran kebakaran, regu penanggulangan kebakaran, koordinator unit penanggulangan kebakaran, dan ahli K3 spesialis penanggulangan kebakaran sebagai penanggung jawab teknis.

Petugas kebakaran ialah petugas yang ditunjuk dan diserahi tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber-sumber bahaya dan melaksanakan upaya-upaya penanggulangan kebakaran.

Pasal 6

Petugas peran kebakaran sekurang-kurangnya 2 orang untuk setiap jumlah tenaga kerja 25 orang. 

Pasal 7

Petugas peran kebakaran mempunyai tugas :

  • Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran
  • Memadamkan kebakaran pada tahap awal
  • Mengarahkan evakuasi orang dan barang
  • Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait
  • Mengamankan lokasi kebakaran

Untuk dapat ditunjuk menjadi petugas peran kebakaran harus memenuhi syarat :

  • Sehat jasmani dan rohani
  • Pendidikan minimal SLTP
  • Telah mengikuti kursus teknis penanggulangan kebakaran tingkat dasar 1

Kurikulum dan silabus kursus teknis penanggulangan kebakaran paket D (tingkat dasar I) terdiri dari 7 kurikulum dan 25 jam. berikut sertifikat petugas peran kebakaran dan lisensinya kita terbitkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Masa berlaku lisensi K3 selama 3 tahun dan dapat diperpanjang kembali sebelum masa berlakunya habis.

Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan

Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR

Pasal 11

Setiap alat pemadam api ringan harus diperiksa 2 kali dalam setahun yaitu diperiksa dalam jangka waktu 6 bulan dan pemeriksaan dalam jangka 12 bulan.

Berikut bagian-bagian yang diperiksa :

  1. Safety Pin
  2. Hose Connector
  3. Sypton Tube Assembly
  4. Hose Assembly
  5. Spray Nozzle
  6. Nozzle Holder
  7. Operating Levers
  8. Pressure Gauge
  9. Release Valve Mechanism
  10. Valve
  11. Plastic Boot

Pasal 15

Untuk setiap APAR dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak melebihi 5 tahun sekali dan harus kuat menahan tekanan coba atau pressure test.

Cacat pada alat perlengkapan pemadam api ringan yang ditemui waktu pemeriksaan harus segera diperbaiki atau alat tersebut segera diganti dengan yang tidak cacat.

Pemeriksaan 6 Bulan

Pemeriksaan jangka 6 bulan mengikuti hal-hal berikut

Pemeriksaan Visual

Pemeriksaan secara visual terdiri dari :

  1. Berisi atau tidaknya tabung.
  2. Berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung.
  3. Rusak atau tidaknya segi pengaman cartridge atau tabung bertekanan.
  4. Mekanik penembus segel terpasang dengan baik.
  5. Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan label harus selalu dalam keadaan baik.
  6. Mulut Pancar tidak boleh tersumbat.
  7. Pipa Pancar yang terpasang tidak boleh retak atau menunjuk tanda-tanda rusak
  • Cek Indikator Tekanan

Memeriksa kondisi tekanan pada tabung alat pemadam api ringan. Pastikan jarum pada manometer menunjukkan angka 15 s/d 20 atau zona hijau. Untuk APAR tipe cartride, cara mengecek yang benar adalah dengan membuka treaded pada leher tabung lalu periksa segelnya, jika masih utuh pasang kembali seperti semula.

Baca Juga : Barometer dan 4 Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Udara

  • Pastikan Masih ada PIN Pengaman dan Segel,

jika tidak ada PIN pengaman dan segel telah terlepas ataupun putus karena khawatir telah digunakan maka untuk memastikannya dengan membuka selang valve. Jika terdapat bekas serbuk APAR pada selang valve, ini menandakan APAR sudah pernah digunakan. Jika hal ini terjadi segera ganti dengan tabung APAR yang baru.

  • Cek Tanggal Kadaluarsa pada Tabung.

Tanggal kadaluarsa ini sangat penting karena isian pada tabung juga dapat menurun kualitasnya seiring berjalannya waktu.

Contohnya APAR dengan media isi dry chemical powder.

Seiring berjalannya waktu media ini bisa menggumpal dan tidak akan bisa digunakan saat dibutuhkan nanti.

  • Cek Kondisi Tabung

Pastikan kondisi fisik tabung dalam keadaan baik (tidak ada karat maupun keropos) dan layak digunakan.

Selain itu kita juga perlu memeriksa selang apakah selang yang lapuk atau selang tidak lagi elastis.

Pastikan juga valve tidak macet ataupun berkarat.

Valve yang berkarat berpotensi macet saat digunakan sehingga menyulitkan pengguna saat pemakaian. Dan bisa saja valve tersebut sudah tidak kuat dan menimbulkan kecelakaan bagi pengguna. Jika terdapat tanda-tanda tersebut maka segera ganti dengan yang baru.

Jika tabung dalam keadaan baik maka cukup dengan mengelap saja.

Pemeriksaan Melalui Pengujian

  • Jenis APAR Cairan atau Asam Soda

Cara pemeriksaannya : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan asam keras diluar tabung. Apabila reaksi cukup kuat maka APAR tersebut dapat dipasangkembali.

  • Jenis APAR Busa

Cara pemeriksaannya : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan aluminium sulfat diluar tabung. Apabila cukup kuat maka APAR tersebut dapat dipasang kembali.

  • Jenis APAR Hidrokarbon berhalogen kecuali Jenis Tetraklorida

Cara pemeriksaannya : Dengan cara menimbang jika beratnya sesuai dengan aslinya maka APAR tersebut dapat dipasang kembali.

Baca Juga : Timbangan Analitik, Pocket, Precision, dan Bench Scale Merk KERN

  • Jenis APAR Karbon Tetraklorida

Cara pemeriksaan : Dengan melihat isi cairan dalam tabung jika memenuhi syarat maka dapat dipasang kembali.

  • Jenis APAR karbondioksida

Cara pemeriksaan : Dengan menimbang serta mencocokkan beratnya dengan berat yang tertera pada APAR. Jika hasil pemeriksaan terdapat kekurangan berat sebesar 10% maka harus diisi kembali sesuai dengan berat yang ditentukan.

Pemeriksaan 12 Bulan

Pemeriksaan jangka 12 bulan meliputi :

Pemeriksaan secara visual

  • Bersih atau tidaknya tabung.
  • Berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung.
  • Rusak atau tidaknya segi pengaman catridge atau tabung bertekanan.
  • Mekanik penembus segel terpasang dengan baik.
  • Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan label harus selalu dalam keadaan baik.
  • Mulut pancar tidak boleh tersumbat.
  • Pipa Pancar yang terpasang tidak boleh retak atau menunjukkan tanda-tanda rusak.

Pemeriksaan Melalui Pengujian

  • APAR Jenis Cairan (Asam Soda)

Cara pemeriksaan : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan asam keras diluar tabung apabila reaksi cukup kuat maka APAR dapat dipasang kembali.

  • APAR Jenis Busa

Cara pemeriksaan : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan aluminium sulfat diluar tabung apabila reaksi cukup kuat maka APAR tersebut dapat dipasang kembali.

  • APAR Jenis Hidrokarbon Berhalogen kecuali Jenis Tetraklorida

Cara pemeriksaan : Menimbang APAR jika beratnya sesuai dengan aslinya maka APAR dapat dipasang kembali.

  • APAR Jenis Karbon tetraklorida

Cara pemeriksaan : Dengan melihat isi cairan dalam tabung APAR jika hasil pemeriksaan memenuhi syarat maka APAR dapat dipasang kembali

  • APAR Jenis Karbondioksida

Cara pemeriksaan : Dengan menimbang serta mencocokkan beratnya dengan berat yang tertera pada APAR jika terdapat kekurangan berat sebesar 10 % maka APAR harus diisi kembali sesuai dengan berat yang ditentukan.

Pemeriksaan Melalui Pengujian Lanjutan

  • APAR Jenis Cairan atau Busa

Cara pemeriksaan :

    1. Membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak.
    2. Isi APAR harus sampai batas permukaan yang telah ditentukan.
    3. Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu.
    4. Ulir tutup kepala tidak boleh cacat atau rusak dan saluran penyemprotan tidak boleh tersumbat.
    5. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak dapat bergerak dengan bebas mempunyai rusuk atau sisi yang tajam dan bak gasket atau paking harus masih dalam keadaan baik.
    6. Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.
    7. Bagian dalam dan alat pemadam api tidak boleh berlubang atau cacat karena karat
    8. Untuk Jenis cairan busa yang dicampur sebelum dimasukkan larutannya harus dalam keadaan baik.
    9. Untuk Jenis cairan busa dalam tabung yang dilarang tabung harus masih dilihat dengan baik.
    10. Lapisan pelindung dan tabung gas bertekanan harus dalam keadaan baik.
    11. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitas.

 

  • APAR Jenis Hidrokarbon Berhalogen kecuali Jenis Tetraklorida

Cara pemeriksaan :

    1. Membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak. 
    2. Isi tabung harus diisi dengan berat yang telah ditentukan
    3. Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu.
    4. Ulir tutup kepala tidak boleh rusak dan saluran keluar tidak boleh tersumbat.
    5. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak harus dapat bergerak dengan bebas mempunyai rusuk atau Sisi yang tajam dan luas penekan harus dalam keadaan baik.
    6. Gelang tutup kepala harus dalam keadaan baik Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik
    7. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya.
  • Jenis APAR Tepung Kering (Dry Chemical)

Cara Pemeriksaan :

    1. Membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak.
    2. Isi tabung harus sesuai dengan berat yang telah ditentukan dan tepung keringnya dalam keadaan tercurah bebas tidak berbutir.
    3. Ulir tutup kepala tidak mudah rusak dan saluran keluar tidak boleh buntut atau tersumbat.
    4. Ulir tutup kepala tidak mudah rusak dan saluran keluar tidak boleh buntu atau tersumbat
    5. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak dapat bergerak dengan bebas mempunyai rusuk dan sisi yang tajam
    6. Gelang tutup kepala harus dalam keadaan baik.
    7. Bagian dalam dan tabung tidak boleh berlubang-lubang atau cacat karena karat.
    8. Lapisan pelindung dari tabung gas bertekanan harus dalam keadaan baik.
    9. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya yang diperiksa dengan cara menimbang.

Baca Juga : Tera Timbangan? Apa Saja yang Harus Dipersiapkan?

  • APAR Jenis Pompa Tangan CTC atau Karbon Tetraklorida

Pemeriksaan dan Hasil Pemeriksaan :

Peralatan pompa harus diteliti untuk memastikan bahwa pompa tersebut dapat bekerja dengan baik.

Tuas pompa hendaklah dikembalikan lagi pada kedudukan terkunci sebagai semula.

Setelah pemeriksaan selesai bila dianggap perlu segel diperbaharui.

Pemeriksaan Tekanan Coba atau Pressure Test

  • APAR Jenis Busa dan Cairan

Tekanan coba sebesar 20 kg/ cm².

  • Tabung gas pada APAR dan tabung bertekanan tetap atau Storage Pressure.

Tekanan coba nya sebesar 1,5 x tekanan kerjanya atau sebesar 20 kg/ cm² atau dipilih yang terbesar untuk dipakai sebagai tekanan coba.

  • APAR Jenis Karbon Dioksida

Percobaan tekan pertama 1,5 x tekanan kerja.

Percobaan tekan ulang 1,5 x tekanan kerja.

Jarak tidak boleh dari 10 tahun dan untuk percobaan kedua tidak lebih dari 10 tahun dan untuk percobaan tekan selanjutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun.

  • APAR Jenis Karbondioksida Keadaan Dikosongkan Selama Lebih dari 2 Tahun

Harus dilakukan percobaan tekan ulang sebelum diisi kembali dan jangka waktu percobaan tekan berikutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun.

Catatan :

Setiap APAR

Jangka waktu tidak melebihi 5 tahun sekali

Harus kuat menahan tekanan coba menurut ketentuan ayat selama 30 detik.

Jika karena sesuatu hal tidak mungkin dilakukan percobaan tekan terhadap tabung APAR maka tabung tersebut tidak boleh digunakan sudah 10 tahun terhitung tanggal pembuatannya dan selanjutnya dikosongkan.

Tabung-tabung gas atau gas container dan jenis tabung yang dibuang setelah digunakan atau tabung telah terisi gas selama 10 tahun tidak diperkenankan dipakai lebih lanjut dan isinya supaya dikosongkan.

Setelah dilakukan percobaan tekan terhadap setiap APAR. Tanggal percobaan tekan tersebut dicatat dengan cap di selembar plat logam pada badan tabung

Kontrol Rutin APAR

Melakukan kontrol rutin dan membuat kartu kontrol APAR yang dilakukan oleh petugas yang ditunjuk.

Berikut contoh checklist pengecekan APAR

checklist pengecekan apar

Jadwal isi ulang APAR menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan :

Pasal 18

Terdiri dari jenis alat pemadan api ringan yaitu air, asam soda, tabung gas, gas yang dipadatkan seperti busa, kimia, dan pemeriksaan tentang jarak waktu pengisian kembali dan jarak waktu percobaan tekan.

pemeliharaan apar

Untuk keterangan A pemeriksaan dilakukan 6 bulan sekali dan keterangan B dilakukan pemeriksaan setiap 12 bulan sekali

untuk tanda bintang pada APAR dan jenis botol yang dipecahkan tidak perlu selalu mengganti asamnya dengan syarat bahwa derajat kesamaan Isi botol masih memenuhi syarat, namun botol tersebut harus dicek terhadap adanya retak-retak.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

LANTO MASA TRAINING CENTER

Pentingnya Uji Profisiensi bagi Laboratorium Pengujian

Pentingnya Uji Profisiensi bagi Laboratorium Pengujian

Uji profisiensi merupakan hal yang sangat penting bagi laboratorium pengujian, karena melalui UP ini laboratorium bersangkutan dapat membandingkan kinerjanya terhadap laboratoium lain yang sejenis, dan juga yang paling penting adalah jika laboratorium tersebut dapat dengan segera melakukan tindakan perbaikan jika terjadi ketidaksesuaian.

Nah.. Kali ini kita akan sedikit membahas mengenai manfaat yang bisa didapatkan jika laboratorium mengikuti uji Profisiensi.

Singkatan :

UP : Uji Profisiensi

PUP : Penyelenggara Uji Profisiensi

CRM : Certified reference materials

SDPA : Standard Definition for Professiency Assessment

Manfaat Uji Profisiensi Bagi Laboratorium

Dengan mengikuti UP, laboratorium pengujian akan mendapatkan beberapa manfaat, antara lain sebagai berikut :

  • Pemeriksaan Mutu Data Uji Secara Reguler, Eksternal, dan Tidak Memihak (independent)

Di dalam uji profesiensi, data laboratorium diperiksa lewat perolehan angka (score) untuk hasil uji yang dilakukan laboratorium tersebut dalam bentuk Z Score.

Zscore = (Xi – X) / SDPA

DImana :

Xi adalah hasil yang dilaporkan setiap laboratorium atau masing-masing laboratorium.

X adalah nilai yang ditetapkan untuk bahan UP yang dibagikan.

SDPA adalah Standard Definition for Professiency Assessment (suatu nilai standart deviasi bagi profesiensi terkait)

Keikutsertaan laboratorium dalam UP hendaknya reguler, setidaknya 1 x dalam setahun. Inilah yang dimaksud dengan pemeriksaan data uji secara reguler.

Penyelenggara uji profisiensi (PUP) adalah pihak di luar laboratorium, sehingga pemeriksaan mutu data dilakukan secara eksternal. Karena UP dilakukan oleh pihak luar yang tidak memihak maka pemalsuan terhadap hasil uji dapat terhindar.

Hal ini tentunya lebih baik dibandingkan dengan misalnya : pemeriksaan mutu data laboratorium dilakukan menggunakan CRM. Dimana dapat saja terjadi apabila seorang analis menemukan bahwa hasil uji yang diperolehnya dari CRM yang digunakannya diluar batas ± dari apa yang tercantum pada sertifikat CRM, jika analis tersebut mau mengubahnya maka hal tersebut dimungkinkan karena semua dilakukan secara internal.

Hal tersebut tentunya tidak dimungkinkan pada UP yang dilakukan oleh pihak luar / eksternal.

  • Dukungan Komitmen untuk Mempertahankan Mutu Data

mutu data valid karena uji profisiensi

Keberhasilan dari laboratorium dalam keikutsertaannya pada UP merupakan alat yang ampuh di dalam memberikan kepercayaan diri akan kompetensi laboratorium terhadap badan akreditasi, regulator, pelanggan dan personil laboratorium sendiri.

Ukuran keberhasilan bukan hanya dari perolehan nilai :

|Zscore| < 2 atau bahkan mungkin mendekati nol

Tapi yang jauh lebih penting adalah keberhasilan dalam menemukan penyebab terjadinya hasil yang tidak memuaskan. Melalui investigasi hasil yang tidak memuaskan dan kemudian laboratorium memperbaikinya dengan melakukan tindakan koreksi, termasuk didalamnya memantau keefektifan dari tindakan koreksi tersebut.

Jadi sekalipun laboratorium mendapatkan nilai Zscore yang kurang baik, tetap ada manfaat dari keikutsertaan dalam UP lewat proses investigasi koreksi dan corrective action yang dilakukan laboratorium.

Baca Juga : Pengertian CAPA (Corrective Action and Preventive Action)

  • Memberikan Motivasi Untuk Memperbaiki Unjuk Kerja dalam Pengujian

Partisipasi dalam UP merupakan salah satu cara untuk menilai kompetensi personil laboratorium. Personil laboratorium yang melakukan pengujian terhadap sampel UP biasanya menantikan laporan uji profisiensi dari PUP.

Hal tersebut menunjukkan adanya bukti motivasi dari personil laboratorium tersebut.

Kinerja dari UP itu dapat mencerminkan kompetensi dalam melakukan suatu pengujian. Meskipun selalu ada resiko untuk terjadinya kolusi dan pemalsuan hasil dimana dapat saja antar personil laboratorium saling mencari informasi, misalnya :

Personil laboratorium 1 menelepon personil laboratorium 2 menanyakan berapa nilai yang diperoleh untuk sampel dengan kode A dan sebagainya.

Pernah ada cerita dimana terjadi pemalsuan hasil yaitu pada suatu UP menggunakan pupuk KCL palsu dimana Pupuk KCl biasanya mengandung ± 60 % K.

Karena pupuk tersebut palsu maka K yang terkandung hanya 0,6 % saja.

Dalam suatu UP pada saat dibagikan pupuk palsu tersebut terjadi ada beberapa laboratorium peserta UP yang melaporkan hasil 60 %.

Hal ini adalah suatu bukti terjadinya pemalsuan dan PUP mempunyai cara untuk mengatasi masalah pemalsuan hasil tersebut.

  • Mendukung Peningkatan Mutu Sesuai Standar untuk Keperluan Akreditasi atau Keperluan lainnya.

Melalui UP laboratorium dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam laboratorium dan juga kesesuaian metode uji laboratorium untuk digunakan pada matriks berbeda dapat terperiksa.

Terkadang sampel yang diperoleh suatu laboratorium mempunyai matriks yang kurang lebih sama.

Apabila laboratorium mengikuti UP dengan matriks berbeda maka jika ternyata metode uji yang dipunyai laboratorium dapat digunakan untuk matriks berbeda maka laboratorium dapat memperluas ruang lingkup pengujiannya.

Namun apabila ternyata tidak sesuaipun tetap bermanfaat karena modifikasi terhadap metode dapat dilakukan dengan lebih terarah didasarkan atas hasil UPnya apakah z-score yang diperolehnya z-score positif atau negatif, atau penyimpangan positif atau negatif kah yang diperoleh laboratorium?

Dengan demikian laboratorium dapat memperbaiki pengujiannya ke arah yang sesuai.

Salah satu persyaratan untuk mengajukan akreditasi adalah pernah berpartisipasi dalam UP.

Jadi keikutsertaan dalam UP dibutuhkan apabila laboratorium akan mengajukan akreditasi atau sudah terakreditasi karena merupakan kewajiban bagi laboratorium untuk ikut serta dalam UP secara reguler.

  • Membantu Mengidentifikasi adanya Penyimpangan Masalah dalam Pengujian

identifikasi masalah pada laboratorium

Misalnya : laboratorium memperoleh Zscore + 3,5 atau sebaliknya – 3,5.

Penyimpangan positif berarti hasil uji laboratorium lebih besar dari yang seharusnya sedangkan penyimpangan negatif berarti hasil uji laboratorium lebih kecil dari seharusnya.

Dari perolehan angka Zscore tersebut, laboratorium akan dapat mengidentifikasi terjadinya masalah melalui apa yang disebut CCP (Critical Control Point) dari metode uji yang digunakan.

Contoh 1 :

Dalam UP pengujian protein menggunakan metode Kjeldahl, laboratorium memperoleh Zscore sebesar -3,5

Setelah diinvestigasi salah satu penyebabnya mungkin terjadi kebocoran pada alat destilasi sehingga tidak seluruh NH3 tertangkap dalam larutan asam borat yang kemudian dititrasi dengan HCL.

Apabila tidak seluruhnya NH3 tertangkap akibat kebocoran tadi maka hasil yang diperoleh lebih kecil dari seharusnya.

Contoh 2 :

Pada pengujian kadar logam menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS), laboratorium memperoleh ZScore sebesar +7.

Setelah diinvestigasi oleh laboratorium kemungkinan penyimpangan positif disebabkan adanya kontaminasi dari alat gelas yang digunakan pada pengujian dengan Spektrofotmeter Serapan Atom (AAS).

Karena seperti kita ketahui jika kita menguji menggunakan Spektrofotmeter Serapan Atom (AAS), seluruh alat gelas yang digunakan harus selalu dibilas dengan asam / HNO3 6N karena dinding dalam perlatan gelas (misalnya yang digunakan analisa adalah labu ukur) mudah menyerap logam, terlebih apabila sebelumnya peralatan gelas tersebut digunakan untuk menyimpan stock solution dari logam dengan konsentrasi cukup besar.

Karena adanya penyerapan logam pada dinding gelas yang tidak bisa lepas dari dinding kalau alat tadi dicuci hanya menggunakan deterjen saja, maka apabila kemudian ke dalam peralatan gelas (contohnya : alat gelas labu ukur) dimasukkan hasil destruksi sampel maka hasil destruksi sampel yang bersifat asam akan melepaskan logam dari dinding gelas sehingga terjadilah peristiwa Leaching karena sampel yang kita masukkan ke dalam labu ukur tadi terkontaminasi oleh pengotor logam dari dinding gelas sehingga diperoleh hasil lebih besar dari seharusnya.

  • Unjuk Kerja Laboratorium yang Bersangkutan Dapat Dibandingkan Terhadap Unjuk Kerja Laboratorium Lain.

hasil penyelenggara uji profisiensi

Pada tabel diatas dapat kita lihat kode laboratorium beserta Zscore nya masing-masing.

Dalam laporan UP seringnya diberikan tampilan grafik batang / histogram yang menunjukkan nilai z-score yang diperoleh masing-masing laboratorium.

grafik uji profisiensi

    1. Kode lab 6 mempunyai batang histogram melebihi angka 2 yang berarti lab 6 mendapatkan tanda “$” yang berarti hasil ujinya mendapatkan kriteria “warning”.
    2. Kode lab 5 walaupun batang histogramnya cukup tinggi kearah negatif namun karena belum mencapai angka minus 2 maka belum mendapatkan kriteria “warning”.
    3. Kode Lab 22 mendapatkan tanda “$$” (sama dengan kode lab 17) dimana kriteria yang diberikan pada kode lab 17 dan 22 adalah outlier.

Nah dengan tampilan grafik seperti diatas maka laboratorium peserta UP dapat membandingkan batang histogram yang diperolehnya dengan batang histogram laboratorium lainnya.

  • Adanya Umpan Balik yang Bersifat Praktis Teknis bagi Laboratorium Bersangkutan

Misalnya :

Apabila PUP merupakan suatu laboratorium pusat yang menyelenggarakan UP untuk semua laboratorium binaan dibawahnya.

Sehingga dapat saja melalui UP dilakukan bimbingan teknis berupa praktek di meja laboratorium untuk laboratorium peserta yang mendapatkan katagori outlier.

Jadi bisa mendapatkan feedback yang praktis teknis bagi laboratorium peserta.

  • Merupakan Cara QC yang Baik pada Keadaan dimana Bahan Acuan atau Referensi Material Tidak Tersedia

Apabila suatu laboratorium tidak bisa membuktikan keakuratan datanya lewat penggunaan CRM, karena misalnya : CRM yang sesuai dengan keperluan laboratorium memang tidak tersedia atau CRM yang sesuai tersedia namun harganya sangat mahal sehingga laboratorium belum mampu membelinya maka laboratorium dapat membuktikan keakuratan datanya lewat keikutsertaan laboratorium dalam UP, dengan menunjukkan bahwa z-score yang diperolehnya < 2 atau > -2 atau secara umum dikatakan nilai |z-score| < 2.

  • Membantu Pelatihan Staff Laboratorium Peserta Uji Profisiensi

UP di laboratorium seperti melakukan pelatihan terhadap staf laboratorium tapi dalam hal ini pelatihannya adalah praktek karena langsung melakukan pengujian dan bukan pelatihan teori.

Apa yang harus dilakukan apabila ternyata laboratorium mendapatkan hasil tidak memuaskan?

Maka kita harus melakukan supervisi pada personil pengujian terkait oleh yang lebih senior, karena hasil uji yang dilakukannya masih kurang baik.

Sebaiknya laboratorium juga jangan memberikan contoh UP pada personil laboratorium yang paling kompeten karena laboratorium akan kehilangan kesempatan mengikut sertakan personil penguji yang diragukannya dalam ujian praktek.

Investigasi yang harus dilakukan sebagai akibat dari hasil yang tidak memuaskan memiliki kepentingan yang lebih besar dibandingkan hasil itu sendiri.

Jika laboratorium memberikan contoh uji profisiensi pada personil yang paling kompeten dengan harapan laboratorium mendapatkan kriteria sebagai laboratorium baik, kesempatan untuk ikut ujian bagi personilnya yang masih diragukan akan hilang dan secara kompetensi juga tidak bertambah.

Baca Juga : Program Upgrade Kompetensi dengan Training Kalibrasi

  • Menjaga Reputasi Laboratorium dari Hasil Uji yang Kurang Bermutu

Apabila laboratorium tidak menyadari telah terjadi kesalahan dalam pengujian yang dilakukannya maka setiap saat laboratorium akan menerbitkan laporan hasil uji atau sertifikat hasil uji yang tidak bermutu.

Dan jika ini berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang reputasi buruk akan melekat pada laboratorium.

Keikutsertaan dalam UP akan membuat laboratorium dapat menyadari lebih dini akan kesalahannya dan dapat memperbaiki dengan segera sebelum reputasi buruk tadi diberikan pada laboratorium oleh pelanggan.

  • Meningkatkan Kompetensi atau Kemampuan Laboratorium

Melalui keikutsertaan dalam UP tentunya laboratorium akan berusaha meningkatkan kompetensinya lewat perolehan Z-score yang makin bertambah baik sejalan keikutsertaan laboratorium dari waktu ke waktu dalam UP berikutnya.

  • Mengurangi Pengulangan yang Tidak Perlu dalam Pengujian

Apabila laboratorium sedini mungkin dapat mengetahui kesalahannya dan kemudian berusaha menginvestigasi kesalahan tersebut dengan cara mencari akar masalah dari kesalahan yang terjadi, memperbaikinya dan melakukan tindakan pencegahan / preventif action agar kesalahan sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang maka pengulangan pengujian akibat presisi yang tidak baik, kontrol sampel yang sering out of Control, hasil uji duplikat yang tidak dapat dirata-ratakan, atau juga pengulangan pengujian akibat komplain dari pelanggan pasti akan dapat dikurangi.

Baca Juga : Diagram Tulang Ikan Untuk Mengidentifikasi Akar Permasalahan

  • Menunjang Pemasaran Jasa Pengujian

Sertifikat keikutsertaan laboratorium dalam UP dengan hasil baik oleh kebanyakan laboratorium di frame diberi pigura digantungkan pada tempat penerimaan contoh dengan harapan pelanggan yang datang mengantarkan contoh / sampelnyanya akan bisa melihat dan membaca sertifikat tersebut sehingga secara tidak langsung ini merupakan cara pemasaran jasa pengujian yang tepat.

Supaya Manfaat Uji Profisiensi Maksimal

Nah kita sudah mengetahui manfaat-manfaat mengikuti UP. Untuk memaksimalkan manfaat tersebut, berikut ini  adalah kiat-kiat dalam mengikuti uji profisiensi :

  • Penyimpanan Sampel Uji Profisiensi

Apa yang perlu diperhatikan oleh personil penguji pada saat laboratorium peserta menerima contoh uji profisiensi dan belum dapat dengan segera melakukan pengujian terhadap contoh tersebut?

Simpan dengan baik contoh sesuai dengan petunjuk yang diberikan PUP.

Ada kemungkinan contoh bisa disimpan pada temperatur kamar namun ada kemungkinan juga dia harus dimasukkan ke dalam refrigerator freezer atau bahkan deepfreeze dengan suhu minus -70 C atau mungkin ada petunjuk bahwa contoh harus dimasukkan ke dalam desikator laboratorium karena contoh tersebut mudah menyerap uap air dari udara ataupun ditaruh dalam ruang dengan kelembaban rendah dimana dalam ruang sudah dipasang dehumidifier.

  • Bagaimana Contoh Diuji?

Perhatikan kembali petunjuk untuk peserta yang diberikan PUP ada 2 kemungkinan :

  1. Sejumlah contoh uji profisiensi dapat langsung ditimbang atau dipipet untuk kemudian dilakukan pengujian terhadap cuplikan hasil timbangan atau hasil pemipetan tersebut.
  2. Namun ada pula contoh UP yang sebelum dapat ditimbang atau dipipet harus melalui perlakuan pendahuluan terlebih dahulu.

Misalnya :

Contoh Uji Profisiensi untuk pengujian logam dalam air yang umumnya perlu diencerkan terlebih dahulu sebelum diuji.

  • Metode Pengujian yang Digunakan

Contoh UP harus diuji menggunakan metode yang sudah laboratorium validasi atau verifikasi sehingga sudah diyakinkan mempunyai presisi dan akurasi yang baik dan apabila pada metode pengujian digunakan kurva kalibrasi, pastikan bahwa contoh UP dapat diukur pada daerah pengukuran yang linier.

Sekalipun metode yang dipakai sudah valid, laboratorium harus memastikan bahwa saat metode tersebut digunakan untuk menguji contoh uji profisiensi, metode tadi pun memberikan hasil uji yang cukup baik. Sehingga harus ada jaminan mutu data hasil uji contoh UP melalui penggunaan kontrol sampel dan control chart.

Kontrol Sampel

Kontrol sampel adalah sampel yang dipakai untuk mengontrol pekerjaan pengujian yang dilakukan laboratorium terhadap sampel sebenarnya, dimana dalam pembahasan ini sampel sebenarnya adalah contoh uji profisiensi.

Kontrol sampel harus dibuat dari sisa sampel yang terlebih dahulu dibuat homogen, dikemas dalam kemasan hanya untuk satu kali pengujian, ditetapkan nilainya dengan cara mengujinya minimal 7 ulangan menggunakan metode uji yang sudah tervalidasi atau terverifikasi.

Baca Juga : Kapan Melakukan Verifikasi dan Validasi Metode Analisis?

Dari 7 data hasil ulangan tersebut, hitung nilai rata-rata dan standar deviasi.

kontrol sampel uji profisiensi

Kemudian nilai rata-rata diletakkan pada bagian tengah dari kertas grafik.

Kita menggunakan kertas grafik karena kertas grafik mempunyai skala atau kotak-kotak kecil yang jelas, satu kotak tersebut mewakili berapa angka sehingga kita dengan mudah meletakkan titik-titik hasil pengujian kontrol sampel.

Setelah itu letakkanlah berdasarkan nilai standar deviasi yang diperoleh :

  1. X rata-rata ± 1 standar deviasi
  2. X rata-rata ± 2 standar deviasi
  3. X rata-rata ± 3 standar deviasi

Dapat dilihat pada grafik tersebut dimana terdapat zona-zona yang diletakkan dimana zona yang paling berdekatan dengan X rata-rata adalah zona A, kemudian di atasnya adalah zona B dan di atasnya lagi ada zona C.

  • Peran Manajer Mutu

Umumnya dalam suatu laboratorium manajer mutu lah yang mendaftarkan laboratorium ikut serta dalam UP karena manajer mutu lebih berfokus akan mutu laboratorium yang dipimpinnya sehingga ada keinginan bagi manajer mutu untuk melihat apakah hasil uji yang dihasilkan laboratoriumnya baik adanya atau tidak.

Oleh karena itu manajer mutu pula yang akan menerima contoh dari PUP.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah manajer mutu sebaiknya memperlakukan contoh uji profisiensi sama dengan contoh sehari-hari di laboratorium.

Jangan sampai contoh UP mendapat perlakuan istimewa, misalnya : manajer mutu membawa contoh uji profisiensi ke dalam laboratorium dan mengatakan kepada personil pengujiannya untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan contoh UP tersebut.

Sebaiknya kita menganggap contoh uji profisiensi adalah contoh sebagaimana yang diterima laboratorium sehari-hari, dengan demikian contoh UP tidak mendapat perlakuan istimewa dari personil pengujinya dan juga yang harus diperhatikan oleh manajer mutu, sebaiknya manajer mutu membagi dua contoh uji profisiensi yang diterimanya. Keduanya diberi kode yang berbeda dan dikirimkan ke laboratorium melalui bagian penerimaan contoh.

  • Pemeriksaan Data Hasil Uji

Setelah itu personil penguji akan menguji sampel UP dan pada saat hasil uji akan dikirimkan ke PUP, sebaiknya manajer mutu atau setidaknya manajer teknis memeriksa data yang dihasilkan laboratorium sebelum dikirimkan kembali ke PUP.

Apa saja yang harus diperiksa?

    • Presisi datanya

Seperti yang sudah diuraikan diatas dimana manajer mutu membagi 2 contoh sama yang diberi kode berbeda.

Dari dua contoh UP sama yang diberi kode berbeda, manajer mutu akan menerima 2 data hasil pengujian duplikat.

Presisi dapat dihitung dari nilai relatif persen different (RPD).

RPD = ((data 1 – data 2) / data rata-rata) x 100 %

Apabila % RPD < 0,67 CVHorwitz berarti presisi data hasil uji contoh uji profisiensi baik.

Faktor 0,67 didapatkan dari data duplikat yang tadi dikerjakan personil penguji di laboratorium dikerjakan oleh personil yang sama sehingga merupakan data ripitabilitas.

    • Akurasi data

Manajer mutu hendaknya meminta pada personil di laboratorium untuk memperlihatkan kontrol chart dan menunjukkan pada kontrol chart mana hasil uji kontrol sampel yang dianalisis bersamaan dengan contoh uji profisiensi.

Hasil uji kontrol sampel yang diuji bersamaan dengan contoh UP tidak boleh lebih besar dari X rata-rata + 3S atau lebih kecil dari X rata-rata – 3S

Apabila ini bisa dipenuhi maka manajer mutu dapat melanjutkan pemeriksaannya pada hal-hal lainnya.

data hasil uji profisiensi

Gambar diatas merupakan suatu kontrol chart dimana titik-titik tidak boleh terjadi.

Titik merah adalah hasil analisis kontrol sampel yang diuji bersamaan dengan contoh uji profisiensi jangan sampai menyentuh garis X rata-rata ± 3S atau bahkan melebihi dan kalau titik tadi jatuhnya di zona C artinya keadaannya “warning” dimana hasil uji terhadap kontrol sampel tidak jelek namun perlu menjadi perhatian.

Apabila hasil uji kontrol sampel terletak di zona C, hasil uji contoh UP jangan dilaporkan dulu pada PUP.

Manajer mutu harus meminta personil lab untuk menguji ulang hanya kontrol sampelnya saja.

Apabila ternyata pengujian ulang kontrol sampel jatuh ke zona B atau zona A maka hasil uji contoh UP yang semula dipending oleh manajer mutu dapat dilaporkan pada PUP.

Namun apabila ternyata pengujian ulang kontrol sampel jatuh di masih jatuh di zona C atau bahkan keluar dari zona C maka laboratorium perlu menginvestigasi terlebih dahulu akar penyebab masalah mengapa hasil uji tidak memberikan hasil baik, sebelum mengulangi kembali pengujian terhadap ke banyak contoh uji profisiensi dan kontrol sample bersamaan lagi.

Apabila hal ini terpenuhi / semua baik-baik saja maka besar kemungkinan laboratorium akan mendapatkan Z-score yang baik.

Baca Juga : Tugas Manajer Teknis dan Manajer Mutu di Dalam Laboratorium

Namun terkadang meskupun semua sudah dilakukan oleh laboratorium, misalnya : contoh UP sebelum diuji sudah disimpan dengan baik sesuai petunjuk yang diberikan PUP, metode pengujian yang dipakai menguji contoh UP sudah tervalidasi / terverifikasi dengan baik, hasil uji terhadap kontrol sampel yang diuji simultan bersamaan contoh uji  tapi laboratorium masih dinyatakan outlier oleh PUP. 

Kenapa hal ini bisa terjadi?

  • Penyebab Hasil Outlier

Kontrol Sampel dan Contoh UP Serupa Tapi Tak Sama

Perlu kita perhatikan bahwa kontrol sampel dan contoh uji profisiensi tidak 100 % sama, sehingga kemungkinan perbedaan datangnya dari matriks contoh UP.

Nah kalau hal diatas yang menjadi penyebab namun semua sudah selesai dilakukan, laboratorium sudah mendapatkan z-score, dan hasilnya outlier ataupun diperingati, maka laboratorium masih mempunyai kewajiban untuk menginvestigasi mengapa hasil tadi menjadi outlier atau diperingati.

Nah untuk memeriksanya kenapa laboratorium masih mendapatkan nilai z-score yang kurang baik, maka laboratorium bisa melakukan percobaan recovery terhadap contoh uji profisiensi dengan dasar pemikiran dimana contoh UP tidak 100% sama dengan kontrol sampel.

Jadi kontrol sampel menunjukkan titik yang tidak “Out of Control” tapi belum tentu yang terjadi dengan contoh uji profisiensinya.

Apabila laboratorium masih menyimpan contoh UP maka hal tersebut dapat kita kerjakan, namun jika laboratorium sudah tidak lagi menyimpan sisa contoh uji profisiensi misalnya sudah habis, maka laboratorium dapat membeli sisa contoh UP dari penyelenggaranya.

Lakukan Uji Recovery

Lakukanlah terhadap contoh UP Ini percobaan recovery dengan tahap :

  1. Menambahkan sejumlah diketahui analit pada contoh uji profisiensi dimana nanti hasil ujinya dinotasikan seabgai C1.
  2. Melakukan pengujian terhadap contoh UP yang sudah di “Spike” dimana nanti hasil ujinya dinotasikan sebagai C spike.
  3. Melakukan pengujian terhadap contoh UP saja, dimana nanti hasil ujinya dinotasikan sebagai C sampel.

Dari data-data diatas, kita dapat menghitung recovery dengan rumus sebagai berikut :

R (%) = ((Cspike -Csampel)/C1) x 100 %

Lakukan Uji T untuk Recovery

Dalam hal ini di dalam Uji T dengan

t recovery = |R – 1|/UR

H0 : |R – 1|/Ur < Ttabel

H1 : |R – 1|/Ur > Ttabel

Jika t hitung lebih kecil dari t tabel maka recovery tidak berbeda nyata dari 1

Namun jika t recovery > t-tabel maka nilai R berbeda nyata dari 1

Nilai 1 adalah recovery target

Recovery target bagi laboratorium adalah 100 % namun hal tersebut tidak mungkin terjadi karena terkadang recovery < 100 % atau > 100%.

Untuk nilai R dalam H0 & H1 tersebut bukanlah dengan satuan % karena angka 1 tersebut berasal dari 100 %.

  • Misal : angka 0.85 untuk nilai 85 %.

Untuk Ur (U recovery) dihitung dari Sr / akar N.

Ur = Sr/Akar N

Jika kita melakukan percobaan recoverynya lebih dari 3 perulangan maka kita dapat menghitung berapa standar deviasi recovery dibagi dengan akar ulangannya.

Apabila R tidak berbeda nyata dari 1, tidak perlu dilakukan koreksi terhadap hasil uji sehingga hasil uji dilaporkan sebagaimana adanya. Dan sebaliknya jika ternyata kesimpulannya R berbeda nyata dari 1 maka perlu dilakukan koreksi terhadap hasil uji.

Sehingga pada investigasi yang dilakukan, hasil uji yang pernah dilaporkan dikoreksi dulu terhadap 100/R.

Apakah hasil uji tadi yang diberi kategori outlier bisa masuk dalam kumpulan hasil yang tidak outlier atau hasil yang baik.

Hal diatas adalah satu solusi untuk memeriksa apakah betul Atau tidak kejadian dimana kontrol sampel sudah baik tapi hasil UP dinyatakan tidak baik yang diduga penyebabnya adalah ketidaksamaan matrix antara kontrol sampel dengan contoh uji profisiensi.

Semoga Bermanfaat

Oya, ada channel youtube yang video-videonya sangat menarik jika teman-teman bekerja di laboratorium pengujian. Silakan kunjungi langsung melalui link berikut :

Pojok Laboratorium

Memahami Ketidakpastian dari Pengukuran Tunggal Dan Berulang

Memahami Ketidakpastian dari Pengukuran Tunggal Dan Berulang

Mungkin memang sudah beberapa kali kami menulis artikel mengenai pengukuran, kali ini kita akan kembali belajar mengenai pengukuran atau tepatnya ketidakpastian pada pengukuran tunggal dan berulang namun dengan bahasa yang / sudut pandang yang berbeda.

Harapannya tentunya bisa menambah wawasan bagi penulis sendiri ataupun bagi teman-teman yang sedang belajar terkait dengan pengukuran.

Kenapa?

Karena hal ini merupakan dasar, sangat penting, terlebih jika di pekerjaan kita bertanggung jawab sebagai analis laboratorium, teknisi di suatu laboratorium jasa kalibrasi, bagian enginering di suatu perusahaan, dll.

Kita akan kesulitan memahami mengenai sumber ketidakpastian, tipe A atau tipe B, ketidakpastian baku, dan bentangan jika konsep dasar pengukuran tersebut belum kita pahami.

Baik sebelum kita membahas mengenai kesalahan pada pengukuran tunggal dan berulang sekilas kita pahami terlebih dahulu mengenai parameter yang biasa dimiliki oleh alat ukur.

Parameter Alat Ukur

Tentunya teman-teman sudah tidak asing lagi dengan pengadaan alat ukur / peralatan laboratorium, karena hal tersebut merupakan bagian dari tata kelola laboratorium dimana alat ukur yang sudah turun kinerjanya sebaiknya memang dilakukan penggantian.

Dalam aktifitas pengadaan terebut tentunya ada spesifikasi khusus yang teman-teman persyaratkan agar sesuai dengan peruntukan tujuan pengukuran di laboratorium.

Nah bagi teman-teman yang belum pernah melakukan pengadaan alat ukur, parameter-parameter berikut ini paling tidak bisa menjadi acuan dalam melakukan pembelian.

  • Ketepatan atau Akurasi

Ketepatan atau akurasi menyatakan seberapa tepat angka yang terbaca pada alat ukur dengan nilai besaran berdasarkan teori yang diukur.

Alat ukur dengan ketepatan tinggi akan menunjukkan angka yang terbaca sama atau sangat dekat dengan nilai sebenarnya dari besaran yang diukur. Semakin nilai yang ditunjukkan mendekati besaran yang diukur maka alat ukur tersebut semakin memiliki ketepatan tinggi.

Sebaliknya jika nilai yang ditunjukkan pada alat ukur sangat jauh dengan nilai besaran yang diukur maka ketepatan yang dimiliki oleh alat ukur tersebut adalah rendah.

Untuk memahami hal diatas kita berikan ilustrasi dengan perbandingan berikut :

Contoh 1

pengukuran dengan alat ketepatan tinggi dan rendah

Misalkan besaran listrik yaitu resistansi dengan nilai berdasarkan teori yang tertulis di resistor yaitu 470 ohm, pada saat kita ukur dengan menggunakan alat ukur yaitu multi meter / avometer yang memiliki ketepatan tinggi menunjukkan nilai 469 ohm.

Hal ini menunjukkan bahwa alat ukur tersebut membaca nilai yang mendekati dengan nilai secara teori dan bisa dikatakan alat ukur ini memiliki ketepatan yang tinggi.

Contoh 2

Misalkan alat ukur yang memiliki ketepatan rendah nilai berdasarkan teori yaitu 470 Ohm, ketika dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur maka ditunjukkan yaitu 420 ohm.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai yang ditunjukkan alat ukur jauh dengan nilai besaran berdasarkan teori.

Jika kita bandingkan dengan alat ukur yang memiliki ketepatan tinggi pada contoh 1 dimana didapatkan hasil 469 ohm maka nilai tersebut sangat mendekati dengan nilai dari besaran secara teori yaitu 470 Ohm.

Sedangkan pengukuran pada contoh 2 mendapatkan nilai 420 Om dimana nilai tersebut jauh dengan besaran berdasarkan teori.

Kesimpulannya :

Alat yang memiliki ketepatan tinggi akan menunjukkan angka yang sangat dekat dengan nilai sebenarnya bahkan sama dengan nilai sebenarnya dari besaran yang diukur.

  • Ketelitian atau Presisi

Ketelitian menyatakan seberapa dekat nilai bacaan alat ukur jika digunakan untuk mengukur suatu besaran secara berulang-ulang.

Alat ukur dikatakan teliti jika alat ukur tersebut digunakan secara berulang-ulang hasil pembacaan dari pengukuran yang pertama, kedua, ketiga, keempat, dst didapatkan nilai bacaan yang masing-masing nilainya sangat dekat atau mendekati antara satu dengan yang lainnya.

Contoh :

Misalnya ada alat ukur dengan ketelitian tinggi dan juga ketepatan yang tinggi.

Alat ukur ini ketika digunakan untuk mengukur besaran resistansi dengan nilai yaitu 470 Ohm maka didapatkan nilai pengukuran :

  • Pengukuran 1 = 469 ohm
  • Pengukuran 2 = 469 ohm
  • Pengukuran 3 = 470 ohm
  • dst

Dari pengulangan pengukuran diatas nilainya adalah konsisten yaitu antara satu dengan yang lainnya menunjukkan nilai yang sangat mendekati. Inilah yang dimaksud dengan ketelitian atau kepresisian dari alat ukur.

Perlu diketahui bahwa alat ukur dengan ketelitian tinggi belum tentu mempunyai ketepatan tinggi karena mungkin saja alat ukur ini mempunyai kesalahan sistematik.

Misalnya :

Alat ukur memiliki ketelitian tinggi namun ketepatannya rendah digunakan untuk mengukur besaran yaitu resistansi yang nilainya 470 Ohm.

Dari hasil pengukuran didapatkan :

  • Pengukuran 1 = 402 ohm
  • Pengukuran 2 = 403 ohm
  • Pengukuran 3 = 402 ohm

Hasil pengukuran diatas jika kita lihat, alat ukur tersebut memiliki ketepatan rendah, namun ketika alat ukur tersebut digunakan untuk mengukur secara berulang-ulang mempunyai ketelitian tinggi.

Dimana nilai yang ditunjukkan pada alat ukur tersebut adalah konsisten atau satu dengan yang lainnya memiliki nilai pembacaan yang mendekati.

Walaupun demikian alat ukur ini dikatakan tidak memiliki ketepatan tinggi karena hasil dari pembacaan ini menunjukkan bahwa selisih antara besaran yang diukur dengan yang ditampilkan sangat jauh.

Kesimpulan :

Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memiliki ketinggian tinggi dan juga ketepatan yang tinggi.

  • Resolusi

Resolusi tinggi vs resolusi rendah

Resolusi adalah perubahan terkecil nilai besaran listrik yang dapat ditanggapi oleh alat ukur.

Resolusi ini juga disebut dengan skala terkecil yang dapat ditunjukkan alat ukur.

Contoh :

Misalkan alat ukur dengan resolusi tinggi digunakan untuk mengukur resistansi 470 ohm dan didapatkan hasil pembacaan alat ukur dengan resolusi tinggi yaitu 469,65 ohm dimana resolusinya adalah 0,01 ohm.

Jika kita bandingkan dengan alat ukur yang memiliki resolusi rendah maka didapatkan hasil pengukuran yaitu 469 ohm, resolusinya adalah 1 ohm.

Jika kita bandingkan antara alat ukur yang pertama dengan yang kedua maka kita bisa lihat bahwa alat ukur yang pertama memiliki resolusi yaitu 0,01 ohm sedangkan alat ukur kedua resolusinya adalah 1 ohm.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat ukur yang pertama dengan resolusi 0,01 tentunya mempunyai resolusi lebih lebih tinggi dibandingkan dengan alat ukur yang kedua.

  • Kepekaan atau Sensitifitas

Kepekaan adalah menyatakan perbandingan kecepatan penunjukan hasil pengukuran atau tanggapan suatu alat ukur terhadap perubahan besaran yang diukur / seberapa cepat alat ukur tersebut menanggapi perubahan pada besaran yang diukur.

Alat yang memiliki kepekaan tinggi akan memberikan tanggapan atau respon yang cepat jika besaran yang diukur berubah.

Contoh :

Alat ukur A memiliki kepekaan tinggi dimana alat ukur ini digunakan untuk mengukur besaran voltase dari 0 volt s/d 1 volt, maka perubahan nilai voltase tersebut akan segera ditampilkan atau ditanggapi oleh alat ukur sehingga penunjukannya segera menunjukkan nilai sesuai dengan perubahan dari besaran yang diukur.

Misalkan kita naikkan tegangan ke 0.5 volt maka alat ukur segera menampilkan yaitu 0.5 volt.

Kemudian kita coba naikkan besaran yang diukur maka hasil penunjukan juga dengan cepat mengalami perubahan atau tanggapannya sangat cepat terhadap perubahan besaran yang diukur.

Hal diatas merupakan ilustrasi dari suatu alat ukur dengan kepekaan tinggi.

Namun, ketika alat ukur digunakan untuk mengukur voltase dari 0 s/d 1 volt, ketika besaran berubah dari 0 ke 0,5 volt, alat ukur tersebut sangat lambat / delay dalam merespon perubahan dari besaran yang diukur maka bisa dikatakan alat ukur terebut kepekaannya rendah.

Tentunya alat ukur dengan kepekaan tinggi lebih baik dibandingkan dengan alat ukur yang kepekaannya rendah.

Faktor yang Mempengaruhi Pengukuran

faktor yang mempengaruhi pengukuran

Seperti kita ketahui bahwa dalam pengukuran ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran, antara lain :

  • Cara melakukan pengukuran

Cara melakukan pengukuran bisa memberikan pengaruh terhadap hasil pengukuran, tentunya cara pengukuran yang benar akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan cara pengukuran yang salah.

  • Alat ukur yang digunakan

Seperti yang telah kita uraikan diatas, dimana ada 4 parameter alat ukur yang dapat mempengaruhi hasil dari pengukuran.

Tentunya alat ukur yang memiliki ketepatan tinggi akan berbeda hasilnya dengan alat ukur yang memiliki ketepatan rendah, demikian juga dengan parameter-parameter lainnya yang tentunya itu akan mempengaruhi terhadap hasil pengukuran.

  • Operator

Operator / Pelaku yang melakukan pengukuran juga mempengaruhi hasil pengukuran. Tentunya orang yang memiliki kemampuan, memiliki pemahaman terhadap cara pengukuran yang tepat, cara pembacaan yang tepat, cara penggunaan alat ukur yang tepat akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pelaku atau orang yang melakukan pengukuran yang tidak memahami bagaimana cara melakukan pengukuran yang benar, cara membaca pengukuran yang benar, dst.

  • Lingkungan

Lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap hasil pengukuran. Lingkungan bisa berupa kebisingan, panas, interferensi, dan dst.

Oya jika teman-teman ingin memahami lebih dalah terkait dengan pengertian pengukuran berikut dengan contoh-contohnya, bisa dipelajari juga di link berikut :

Baca Juga : Pengertian Pengukuran Dalam Ilmu Fisika Beserta Contohnya

Hal-hal diatas adalah beberapa contoh faktor yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran tersebut akan mempengaruhi ketidakpastian pengukuran atau kesalahan dalam pengukuran.

Ketidakpastian Dalam Pengukuran

ketidakpastian dalam pengukuran tunggal

Suatu hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian atau kesalahan karena dalam setiap pengukuran memungkinkan terjadi gangguan, baik kepada objek ukur maupun pada alat ukur, baik kepada besaran yang diukur maupun kepada alat yang digunakan untuk mengukur.

Maka hampir dapat dipastikan tidak ada hasil ukur yang nilainya tepat sama dengan nilai sebenarnya.

Oleh karena itu nilai hasil ukur ini tidak berupa sebuah nilai tunggal melainkan berupa nilai rentang.

Maka ketidakpastian pengukuran ini dirumuskan sebagai :

X = X0 ± ΔX

Dimana:

X adalah nilai besaran yang diukur

X0 adalah hasil pengukuran

ΔX adalah ketidakpastian

3 Macam Ketidakpastian dalam Pengukuran

Ketidakpastian dikelompokkan ke dalam 3 macam :

  1. Ketidakpastian umum atau gross error
  2. Ketidakpastian sistematik atau sistematik errors
  3. Ketidakpastian acak atau random error
  • Ketidakpastian Umum atau Gross Error

pengukuran tunggal gross error

Ketidakpastian umum / gross error adalah ketidakpastian yang disebabkan karena keterbatasan pada pengamat saat melakukan pengukuran.

Jadi gross error ini biasanya disebabkan oleh human error, contoh :

    • Kesalahan dalam membaca alat ukur.

Sangat dimungkinkan sekali pengamat melakukan kesalahan dalam membaca alat ukur. Jika pengamat tersebut tidak memahami bagaimana cara membaca alat ukur yang benar, baik itu pada alat ukur digital maupun alat ukur analog.

    • Penyetelan yang tidak tepat

Pengamat yang melakukan pengukuran ketika tidak memahami bagaimana cara melakukan penyetelan atau kalibrasi terhadap alat ukur maka sangat dimungkinkan sekali penyetelan yang dilakukan salah atau tidak tepat sehingga hasil yang ditampilkan ini akan mengandung ketidakpastian atau mengandung kesalahan.

    • Pemakaian alat ukur yang tidak sesuai

Misalkan : Alat ukur tegangan DC digunakan untuk mengukur tegangan AC atau tegangan AC diukur dengan menggunakan alat ukur tegangan DC dan juga sebaliknya tegangan DC diukur dengan menggunakan voltmeter AC, hal ini akan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pengukuran. Contoh lain yang mungkin sering terjadi di lapangan adalah kesalahan operasional pengukuran arus listrik dengan tang ampere karena kurang terlatihnya teknisi / operator.

Baca Juga : Tang Ampere Kyoritsu 2055 (Clamp Meter) : Bagaimana Spesifikasinya?

  • Ketidakpastian Sistematik atau Systematic Errors

sistematic error

penyebeb kesalahan sistematic

Ketidakpastian sistematik disebabkan oleh kekurangan yang dimiliki oleh alat ukur itu sendiri, misalnya :

    • Adanya kerusakan alat ukur
    • Usia atau lama pemakaian sehingga menyebabkan bagian-bagian alat ukur aus atau kesalahan di titik nol pada alat ukur. Misalkan alat ukur yang sudah tidak bisa dikalibrasi lagi sehingga mengalami kesalahan titik nolnya.
  • Ketidakpastian Acak atau Random Error

Ketidakpastian acak adalah kesalahan atau ketidakpastian yang tidak disengaja diakibatkan oleh sebab-sebab yang tidak dapat segera diketahui karena perubahan-perubahannya terjadi secara acak, contoh :

    1. Adanya pengaruh lingkungan berupa getaran yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran.
    2. Adanya fluktuasi tegangan yang menyebabkan kesalahan dalam pengukuran
    3. Adanya radiasi gelombang elektronik yang menyebabkan terjadinya kesalahan pengukuran

Baca Juga : Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak dalam Analisa

Ketidakpastian Hasil Pengukuran Tunggal dan Berulang

Ketidakpastian hasil pengukuran secara umum dibagi menjadi dua macam :

  1. Ketidakpastian hasil pengukuran tunggal
  2. Ketidakpastian hasil pengukuran berulang.

Ketidakpastian Hasil Pengukuran Tunggal

Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan hanya satu kali saja, apapun itu alasannya.

Hasil pembacaan skala yang dapat diketahui dengan pasti adalah hanya sampai kepada skala terkecilnya saja selebihnya adalah hanya terkaan atau taksiran.

Hal ini menyebabkan pengukuran tunggal pantas diragukan.

Pengukuran tunggal ini dirumuskan dengan :

X = X0 ± ΔX

Dimana

X adalah nilai besaran yang diukur

X0 adalah hasil pengukuran

ΔX adalah ketidakpastian atau kesalahan

Contoh :

Pengukuran tunggal tegangan AC diperoleh nilai sebesar 16 volt, skala terkecil yang dapat dibaca alat ukur adalah 0,1 volt.

Maka hasil pengukuran tunggal adalah sebagai berikut :

X = X0 ± ΔX

Dimana

ΔX adalah 1/2 dari skala terkecil

ΔX = 1/2 x 0.1 = 0.05 V

maka :

X = X0 ± 1/2 dari skala terkecil

Maka hasil pengukuran tunggal diatas adalah :

X = 16 ± 0.05 Volt

  • Ketidakpastian Hasil Pengukuran Berulang

Hasil pengukuran dan ketidakpastian pengukuran berulang ditentukan berdasarkan semua hasil ukur yang telah diperoleh. Pengolahan data hasil pengukuran berulang meliputi :

  1. Nilai rata-rata
  2. Simpangan terhadap nilai rata-rata
  3. Simpangan rata-rata atau average deviation
  4. Deviasi standar

Peungukuran berulang adalah pengukuran yang dilakukan secara berulang dan tidak cukup hanya satu kali

Adapun ketidakpastian pengukuran berulang harus ditentukan berdasarkan semua hasil ukur yang telah diperoleh, tidak hanya ditentukan pada salah satu atau beberapa dari hasil pengukuran yang diperoleh.

    • Nilai Rata-Rata Pengukuran

Bagaimana mencari nilai rata-rata pada pengukuran berulang? 

Nilai rata-rata merupakan jumlah dari seluruh nilai dari data pengukuran yang diperoleh kemudian dibagi dengan banyaknya data pengukuran.

Nilai rata-rata besaran X yang diukur sebanyak N kali pengukuran dinyatakan dalam persamaan dibawah ini :

rumus nilai rata-rata pengukuran

Dimana :

X bar adalah nilai rata-rata

Xi adalah Pengukuran ke-i

N adalah Banyaknya pengukuran

    • Simpangan Terhadap Nilai Rata-Rata

Simpangan atau deviasi terhadap nilai rata-rata ini adalah selisih antara nilai hasil pengukuran dengan nilai rata-rata yang sudah kita dapatkan dari sejumlah hasil pengukuran pada pengukuran berulang.

Simpangan terhadap nilai rata-rata bisa bernilai positif atau negatif atau nol.

Simpangan terhadap nilai rata-rata ini dinyatakan dalam rumus :

di = xi – xbar

Dimana :

di adalah simpangan terhadap nilai rata-rata

Xi adalah pengukuran ke-i

X bar adalah nilai rata-rata

    • Simpangan Rata-Rata

Simpangan rata-rata adalah rata-rata jarak antara nilai-nilai data pengukuran menuju rata-ratanya.

Simpangan rata-rata ini dinyatakan dalam persamaan :

Simpangan Rata-Rata

Dimana :

d adalah Simpangan rata-rata

|d| adalah harga mutlak simpangan terhadap nilai rata-rata

N adalah banyaknya pengukuran

    • Deviasi Standar atau Simpangan baku

Deviasi Standar adalah statistik yang mengukur penyebaran kumpulan data relatif terhadap nilai rata-rata dan dihitung sebagai akar kuadrat dari varian.

Deviasi standar ini dinyatakan dalam persamaan :

deviasi standar

Dimana :

SD adalah deviasi standar

di adalah simpangan terhadap nilai rata-rata

N adalah banyaknya pengukuran

Baca Juga : Pengenalan Estimasi Ketidakpastian Pengujian Pada Laboratorium 

Contoh Pengukuran Berulang Terhadap Sebuah Besaran

Misalnya pada suatu pengukuran besaran tegangan AC 12 volt dan diperoleh data pengukuran berulang seperti pada tabel dibawah ini :

pengukuran berulang adalah

Tabel pengukuran diatas menunjukkan bawah pengukuran dilakukan sebanyak 10 kali.

Kita akan mencari :

  1. Nilai rata-rata
  2. Simpangan terhadap nilai rata-rata
  3. Simpangan rata-rata dan
  4. deviasi standar dari pengukuran tersebut

Menghitung Nilai Rata-Rata

Nilai rata rata didapatkan dari persamaan :

Menghitung nilai rata-rata

Maka didapatkan X bar adalah

hasil perhitungan nilai rata rata

Maka didapatkan nilai x bar yaitu nilai rata-rata sebesar 12,28 volt

Nilai tersebut adalah nilai rata-rata yang didapatkan dari hasil pengukuran tegangan AC 12 volt yaitu berdasarkan pengukuran pertama s/d pengukuran terakhir yaitu pengukuran ke-10

Menghitung Simpangan Terhadap Rata-Rata

Simpangan terhadap nilai rata-rata sebagaimana yang ditampilkan dalam hasil pengukuran pada tabel dari pengukuran pertama hingga pengukuran ke-10 didapatkan nilai rata-rata yaitu X bar = 12,28 volt

Maka kita bisa cari simpangan terhadap nilai rata-rata dengan rumus :

di = Xi – Xbar

di1 adalah pengukuran ke-1 atau X1 dikurangi Xbar atau nilai rata-rata maka didapatkan nilai 12,4 volt – 12,28 volt = 0,12 volt

  • di2 = X2 – Xbar (12,7 volt – 12,28 volt = 0,42 volt)
  • di3 = (X3 – Xbar) (11,9 volt – 12,2 8volt = -0,38 volt)
  • dst

Jika dirangkung maka hasilnya adalah seperti pada tabel dibawah ini :

Menghitung Simpangan Terhadap Rata-Rata

Seperti yang sudah disampaikan di awal bahwa nilai deviasi terhadap nilai rata-rata bisa berharga positif maupun berharga negatif dan juga bisa bernilai nol.

Menghitung Simpangan Rata-Rata

Sebagaimana dalam perhitungan tadi, dalam mencari simpangan terhadap nilai rata-rata atau Di didapatkan nilai di yaitu seperti pada tabel dibawah :

tabel simpangan rata-rata

Simpangan rata-rata dapat dicari berdasarkan persamaan:

rumus simpangan rata-rata

simpangan rata rata pengukuran berulang

perhitungan simpangan rata rata

Didapatkan hasil D = 3,44 volt dibagi 10 maka hasil dari simpangan rata-rata adalah 0,344 volt.

Ini adalah hasil perhitungan simpangan rata-rata yang didasarkan pada hasil perhitungan pada simpangan terhadap nilai rata-rata.

Jika simpangan rata-rata ini digunakan untuk menyatakan hasil pengukuran berulang maka hasil pengukuran berulang ini adalah 12,28 ± 0.334 V (nilai rata-rata yang kita dapatkan ± nilai simpangan rata-rata)

Karena nilai terkecil yang mampu dibaca pada hasil pengukuran adalah 0,1 volt maka hasil pengukuran ini menjadi 12,3 ± 0,3 volt. Dimana nilai tersebut adalah hasil pembulatan yaitu 12,28 menjadi 12,3 dan 0,344 vol menjadi 0,3 volt.

Menghitung Deviasi standar

Deviasi standar ini dapat dicari dari rumus :

rumus deviasi standar

Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

tabel deviasi standar

hasil perhitungan deviasi standdar

Dan hasil perhitungan didapatkan nilai deviasi standar yaitu 0,204 Volt

Jika deviasi standar ini digunakan untuk menyatakan hasil pengukuran berulang maka didapatkan hasil pengukuran berulang yaitu 12,28 yaitu nilai rata-rata ditambah dengan deviasi standar yaitu 0,204 volt

Maka hasil pengukuran berulang berdasarkan deviasi standar menghasilkan nilai yaitu 12,28 ± 0,204 Volt

Karena nilai terkecil yang mampu dibaca pada pengukuran adalah 0,1 volt maka hasil pengukuran ini menjadi 12,3 ± 0,2 volt

Dimana nilai tersebut adalah nilai pembulatan dari 12.28 ± 0,204 volt

Semoga Bermanfaat

Referensi Belajar :

wtecheducation6813

[Ibaratnya] PPIC adalah Seorang Playmaker di Perusahaan

[Ibaratnya] PPIC adalah Seorang Playmaker di Perusahaan

Jika QA (Quality Assurance) merupakan penentu diluluskannya atau boleh dijualnya suatu produk jadi ke pasaran, maka PPIC adalah pengatur produksi serta kondisi stok di gudangnya.

Buat teman-teman yang sudah bekerja di industri, tentunya sudah tidak asing lagi dengan departemen PPIC. Nah kali ini sekilas kita akan membahas mengenai apa itu PPIC dan apa saja tugas dan tanggung jawabnya di dalam suatu perusahaan.

Yuk.. simak ulasan berikut..

Singkatan di Dalam Artikel Ini :

  • PPIC : Production Planning and Inventory Control
  • MPS : Master Production Schedule)
  • MRP : Material Requirement Planning
  • COGM : Cost of Good Manufacturing
  • COGS : Cost of Good Sale
  • MOQ : Minimum Order Quantity
  • C&F : Cost and Freight

Apa itu Produksi

Baik sebelum membahas mengenai PPIC, ada baiknya kita sekilas membahas mengenai apa itu produksi?

Produksi adalah proses transformasi dari input (faktor-faktor produksi) menjadi output yaitu produk atau jasa.

Misalnya :

  • Dari kayu menjadi mebel
  • Dari baja menjadi mobil
  • Dari semen batu, bata, pasir menjadi rumah
  • Dll

Hal-hal diatas adalah contoh transformasi dari input menjadi output.

Apa Itu Faktor Produksi?

Terdapat beberapa macam faktor produksi, antara lain :

  • Material
  • Tenaga kerja
  • Mesin / peralatan / perlengkapan
  • Informasi
  • Energi

Faktor-faktor produksi diatas ditransformasikan menjadi output atau produk, baik berupa produk atau berupa jasa.

Contoh produk seperti yang telah disebutkan diatas, misalnya : mobil, mebel, rumah, dll

Sedangkan contoh produk yang berupa jasa, misalnya : jasa layanan internet, jasa layanan listrik PLN, jasa layanan PDAM air bersih, jasa layanan perbankan, jasa layanan kalibrasi alat ukur dll.

Apa Itu PPIC?

apa itu ppic

Nah kita sudah tahu apa itu produksi.

Lalu apa itu PPIC ?

Kepanjangan PPIC adalah Production Planning and Inventory Control atau biasa disebut juga dengan perencanaan produksi dan pengendalian inventori.

PPIC adalah perencanaan dari proses produksinya, yang dilakukan PPIC adalah “production planning” atau perencanaan produksinya, bukan melakukan produksinya.

Sehingga banyak departemen PPIC berasal dari background teknik industri, berbeda dengan departemen produksi yang umumnya berasal dari teknik mesin.

Sekali lagi..

Salah Satu Tugas PPIC adalah Perencanaan Proses Produksi.

PPIC adalah Sang Pengatur Ritme Jalannya Produksi di Perusahaan. Apakah mau memproduksi dalam jumlah banyak, atau cukup sedikit saja? Semuanya dibawah komando departemen PPIC.

Ibaratnya…

  • PPIC adalah zidane nya prancis..
  • PPIC adalah pirlo nya italia..

Itu menurut penulis ya he he..

Kalau teman-teman berbeda pendapat gapapa, nanti tulis saja di kolom komentar kita diskusi bersama.. Ok.

PPIC mengatur banyak sedikitnya jalannya produksi berdasarkan permintaan dari departemen sales / marketing, yang kemudian PPIC akan menginformasikan ke departemen produksi, mau produksi apa dan dalam jumlah berapa, sekaligus mengontrol stock ketersedian bahan baku yang dibutuhkan.

Biar lebih jelas, yuk kita urai satu persatu apa saja sih tugas PPIC itu

Tugas PPIC Adalah [Berikut Diantaranya]

kepanjangan ppic

Dibawah ini adalah gambaran umum beberapa tugas PPIC, meskipun terkadang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, tergantung besar kecilnya perusahaan.

Untuk perusahaan besar, PPIC tentunya sudah berdiri sendiri menjadi 1 departemen, mamun untuk perusahaan yang baru merintis, terkadang tugas PPIC ini masih merangkap dengan tugas sebagai departemen lain.

Membuat Perencanaan, Pengadaan Bahan Baku dan Bahan Kemas untuk Produksi

Sesuai dengan namanya “production planning and inventory control”

  • Planning = Perencanaan tentang produksi
  • Control = pengawasan tentang inventory

Sehingga tujuan yang pertama adalah membuat perencanaan pengadaan bahan baku dan bahan pengemas.

Jadi mulai dari awal perencanaan mulai dari pengadaan bahan baku sampai bahan pengemas kemudian membuat perencanaan produksi.

Mau membuat berapa batch / berapa kemasan ? Serta menentukan produk mana yang akan dibuat?

Tentunya yang menjadi dasar adalah pesanan / permintaan dari konsumen melalui departemen sales / marketing.

Misalnya perusahaan kita memproduksi 3 produk :

  • Produk A
  • Produk B
  • Produk C

Jika kita sebagai bagian dari departemen produksi. Maka produk mana yang akan dibuat?

Untuk memproduki produk apa tersebut dasarnya adalah pesanan konsumen dimana pesanan ini menjadi perintah bagi manager PPIC untuk merencanakan produk apa yang akan diproduksi.

Contoh :

  • Produk A dipesan konsumen sebanyak 100 pcs.
  • Produk B dipesan konsumen sebanyak 50 pcs.
  • Produk C tidak ada pesanan.

Maka PPIC tidak perlu merencanakan untuk produksi produk C, namun PPIC perlu membuat perencanaan produksi produk A dan produk B.

“Pesanan konsumen menentukan seberapa banyak produk tersebut harus dibuat”

Dalam contoh diatas, maka :

  • Produk A dibuat sebanyak 100, karena pesanan konsumen adalah 100.
  • Sedangkan produk B dibuat sebanyak 50 karena pesanan konsumen hanya 50.
  • Demikian juga untuk produk C karena tidak ada pesanan konsumen, maka perusahaan tidak perlu membuatnya.

Selain itu PPIC juga harus  memonitor pelaksanaan jadwal produksi serta melakukan pengendalian inventori.

Jadi PPIC juga harus sudah dibuat jadwal produksinya.

Misalnya dalam perusahaan farmasi satu tahun ini perusahaan tersebut akan memproduksi berapa batch?

Nah dalam 1 tahun tersebut di break down, misalnya :

  • Bulan Januari buat berapa batch
  • Bulan februari buat berapa batch
  • dst

Atau jadwal juga bisa dibuat 2 bulan sekali,

Pada prinsipnya harus ada jadwalnya dan harus ada waktu pelaksanaan.

Atau dengan kata lain PPIC harus membuat MPS (Master production schedule) dan MRP (Material Requirement Planning).

Selain itu PPIC juga harus membuat perbandingan harga dari beberapa supplier.

Karena harga jual produk juga berasal dari perhitungan departemen PPIC maka secara otomatis PPIC juga harus mengetahui perbandingan harga berapa dan membuat analisisnya.

Memastikan kecukupan sumberdayanya

Misalnya :

Masih menyambung contoh diatas, jika untuk membuat produk A diperlukan material bahan baku :

  • X : 1
  • Y : 1
  • Z : 2

Maka untuk membuat produk A sebanyak 100, maka diperlukan material bahan baku sebanyak :

  • X : 100
  • Y : 100
  • Z : 200

Demikian juga untuk produk B

Jika untuk membuat produk B diperlukan material bahan baku :

  • X : 2
  • Y : 1
  • Z : 1

Maka untuk membuat produk B sebanyak 50 tersebut diperlukan material bahan baku sebanyak :

  • X : 100
  • Y : 50
  • Z : 50

Kemudian material bahan baku untuk rencana produksi produk A dan produk B tersebut dijumlahkan sehingga total material bahan baku yang dibutuhkan adalah :

  • X : 200
  • Y : 150
  • Z : 250

Nah sekarang setelah kita mendapatkan nilai / angka kebutuhan material bahan baku yang diperlukan, maka kita lihat di gudang bahan baku tersebut, cukup tidak inventorynya?

Misalnya : ternyata material bahan baku X di gudang hanya tersedia 100, maka kita perlu memesan 100 lagi karena masih kurang 100 %.

Hal diatas merupakan gambaran tugas PPIC khususnya yang bagian inventory control yaitu untuk memastikan kecukupan sumberdaya / material bahan bakunya.

Baca Juga : Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku Pada Industri Farmasi

Kapan Produk Tersebut Harus Diselesaikan

membuat jadwal produksi

Misalnya : Pemesan / konsumen ingin produk pesanan mereka (contoh : produk A) diantar sampai ke tempat atau ingin diambil ke perusahaan pada tanggal 20 desember 2022, dimana waktu produksi produk A tersebut adalah 10 hari.

Maka produk A tersebut harus mulai diproduksi tanggal 10 desember 2022 sehingga tanggal 20 desember 2022 bisa diambil oleh konsumen.

Jadi PPIC juga bertugas dalam perencanaan dan pengendalian produksi juga menentukan kapan produk tersebut harus diselesaikan.

Menentukan Kapan Produk Harus Dipesan atau Dibuat

Jika pada contoh kasus diatas, maka produk A harus dipesan ke departemen produksi pada tanggal 10 desember 2022.

Jadi hubungan antara departemen PPIC dan departemen produksi adalah pemesanan.

PPIC seperti konsumennya departemen produksi, sedangkan konsumennya PPIC adalah departemen sales / marketing.

Memastikan Kecukupan Kapasitas Produksi

Jika yang sebelumnya terkait dengan kapasitas / kecukupan sumberdayanya, maka untuk point ini adalah untuk kapasitas produksinya.

Misalnya :

Konsumen memesan produk A sebanyak 100 dan produk B sebanyak 50, maka kapasitas produksinya cukup tidak dalam satu bulan?

Contoh :

Kapasitas produksi selama ini perbulannya adalah 200 maka bisa dikatakan kapasitas produksi tersebut mencukupi karena produk yang dipesan hanya 150.

Namun jika kapasitas produksi selama ini hanya 100 dan permintaan konsumen 150 maka kita harus pikirkan yang 50 lagi mau diproduksi di mana,

Misalnya :

Dengan melemburkan karyawan untuk meningkatkan kapasitas produksinya, misalnya dengan melemburkan karyawan terebut kapasitas bertambah 30, sehingga baru terpenuhi 130 pcs, dan masih kurang 20 lagi.

Nah kita tetap memikirkan solusi lainnya untuk mencover kapasitas yang kurang sebanyak 20 tadi, misalkan ditambah dengan menggunakan subkontrak ke perusahaan lain untuk 20 nya.

Sehingga total produk yang di produksi sudah mencapai 150 pcs dan sudah sesuai dengan pesanan konsumen.

Memastikan Kecukupan Inventory

Antara lain :

  1. Material
  2. Sumberdaya manusia
  3. Mesin
  4. Listrik

Melakukan evaluasi forecast accuracy

Apa Itu Forecast?

pengertian forecast

Forecast / peramalan : proses untuk memperkirakan beberapa kebutuhan dimasa mendatang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu, dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan.

Karena yang ada di departemen PPIC adalah perencanaan, maka juga harus melakukan peramalan.

  • Kira-kira dimasa mendatang masih laku nggak ya produk ini?
  • Kira-kira kita membutuhkan kuantitas beberapa?
  • Kita harus menghasilkan kualitas yang seperti apa?

Forecast ini harus kita lakukan dalam membuat perencanaan karena kita harus mencoba meramalkan apa yang kira-kira nanti dibutuhkan oleh masyarakat dimasa mendatang.

Namun peramalan terebut harus didasarkan juga dari data-data yang sudah ada dari berbagai macam faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan Forecast.

Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Forcast

faktor yang mempengaruhi forecast

 

  • Evaluasi proses tahun lalu

Bagaimana peramalannya tahun lalu itu apakah sesuai dengan kenyataan / apakah terlalu berlebihan / masih kurang?

Hal tersebut harus kita lihat evaluasinya.

  • Kondisi Market

Misalnya beberapa tahun yang lalu terjadi pandemi, sehingga banyak yang dibutuhkan itu produk-produk yang berhubungan dengan kebersihan / vitamin, seperti hand sanitizer, madu, dll

Sehingga kita harus melihat kondisi market ini sedang membutuhkan produk-produk apa.

  • Pengembangan produksi

Pengembangan produksi juga harus kita lihat pada saat membuat forecast.

  • Batas kadaluarsa

Jangan sampai peramalan yang kita lakukan terlalu berlebihan sehingga produknya melebihi batas kadaluarsanya.

Karena jika sudah sudah dekat dengan batas kadaluarsanya nanti akan merugikan perusahaan kita sendiri.

  • Tingkat inflasi, keadaan ekonomi, sosial dan politik

Hal ini juga harus kita pertimbangkan.

Bagaimana kemampuan pasar / konsumen dalam membeli produk kita, misalnya : apakah sedang terjadi krisis, apakah produk diproduksi bersamaa dengan pendaftaran sekolah sehingga daya beli konsumen menurun, dll

Nah pada saat akan memesan bahan-bahan (material) perlu diperhatikan :

  • Lead Time
  • MOQ (Minimum Order Quantity)
  • Costnya dalam bentuk apa :
  • FOB (Free On Board)
  • C&F (Cost and Freight)
  • Landed Cost

Cara Menghitung Landed Cost

rumus landed cost

Gambar tabel diatas merupakan gambaran cara menghitung Landed Cost. 

Dimana Landed Cost merupakan penjumlahan nomor 1 s/d nomor 5 (Penjumlahan C&F s/d Other)

Landed Cost = No. 1 + No. 2 + No. 3 + No. 4 + No. 5

Dimana landed cost adalah harga yang sudah termasuk harga keseluruhan, mulai dari :

  • Harga pengiriman / ongkos kirim, misal : lewat cargo kapal / lewat udara / lewat darat menggunakan truk, dll
  • PPN
  • Bea masuk
  • Asuransi
  • dll

Jadi landed cost bukan hanya harga produknya saja, namun kita harus menghitung juga harga keseluruhan. atau dengan kata lain, harga akhir tersebut yang disebut dengan landed cost.

Pada tabel diatas ada istilah FOB dan C&F. Apa pengertian dari kedua hal tersebut?

  • Pengertian FOB 

FOB : Pembeli tidak membayar pengirimannya, namun yang membayar adalah penjualnya.

Misal :

Kita akan membeli barang dari India, maka perusahaan dari India tersebut yang akan membayar keseluruhan ongkos kirim dari India ke Indonesia namun secara tanggung jawabnya sudah lepas karena pihak dari India atau penjualan sudah membayarkan ke angkutannya / ke kapalnya, maka mereka sudah tidak bertanggungjawab lagi ketika ada kerusakan atau kehilangan dan menjadi tanggung jawab pembeli.

  • Pengertian C&F

C&F (Cost and Freight)

Pada kasus yang sama seperti diatas, maka untuk pengiriman barang yang membayar bukan dari produsen / perusahaan di india, tetapi dari kita yang membayarnya.

Namun penjualnya / produsen dari india tetap bertanggung jawab sampai barang tersebut sampai ke Indonesia /  mendarat di pelabuhan / di bandara.

Umumnya industri di indonesia lebih memilih yang C&F sehingga jika nanti terjadi kerusakan masih menjadi tanggung jawab dari penjualnya.

Contoh Menghitung Landed Cost :

Perusahaan melakukan pembelian bahan baku / raw material dexamethasone 20 kg (MOQ).

MOQ : Minimum Order Quantity

Harga FOB = US Dollar 2,3 / kg (Harga dimana masih belum termasuk ongkos pengiriman)

Didatangkan dengan air freight (menggunakan jalur udara) dengan BM (biaya masuknya) = 15 % dan PPn BM (biaya masuknya) = 10 %

Diketahui :

Rate 1 US dollar = Rp 9.000,-

Insurance = 0,35 %

Other = 3 %

Berapa harga C&F dan landed cost dari Dexamethasone tersebut ?

Kembali ke tabel rumus untuk mencari landed cost diatas…

Jika dilihat dari persamaan diatas, C&F adalah gabungan antara FOB dan freightnya.

Freightnya jika kita lihat ini ada 2 :

  • Sea freight / jalur laut.
  • Air freight / jalur udara.

Nah untuk ongkos kirimnya tentu lebih mahal yang udara karena lebih cepat yaitu 10 % dari FOB sedangkan untuk yang Sea freight 2 – 5 % dari FOB.

Karena pembelian menggunakan air freight / jalur udara sehingga freight nya 10 % dari FOB.

Karena tidak menggunakan jalur darat maka yang point truck diabaikan.

Harga = USD 2,3/kg.

Maka jika dibuat perhitungan, hasilnya adalah seperti yang tertera pada tabel dibawah ini :

perhitungan landed cost

  1. FOB = Rp. 414.000
  2. Freght = 10 % x Rp. 414.000 = Rp. 41.400
  3. C&F = Rp. 414.000 + Rp. 41.400 = Rp. 455.400
  4. BM = 15 % x Rp. 455.400 = Rp. 68.310
  5. PPn BM = 10 % x (Rp. 455.400 + Rp. 68.310) = Rp. 52.371
  6. Insurance = 0.35 % x Rp. 455.400 = Rp. 1.594
  7. Other = 3 % x Rp. 455.400 = Rp. 13.662

Total landed Cost  = Rp. 591.337 (Penjumlahan dari C&F s/d other).

Cara Menghitung COGM dan COGS

COGM singkatan dari Cost of Good Manufacturing

cara menghitung COGM

COGM adalah harga pada saat proses pembuatan dari produk tersebut.

Faktor yang mempengaruhi cost of Good Manufacturing COGM (Cost of GOod Manufacturing) tadi adalah :

  • Raw material
  • Packaging Material
  • Overhead / hal-hal yang tidak terduga yang tiba-tiba muncul pada saat proses produksi.
  • Direct Labor /Biaya untuk membayar pegawainya.

Keseluruhan hal diatas nanti akan dihitung untuk mendapatkan COGM (Cost of GOod Manufacturing) / harga dari proses pembuatan.

Pointnya adalah :

Untuk COGM itu hanya harga dari proses pembuatan, jadi masih belum ada untungnya karena masih menghitung harga dari bahan baku, harga dari bahan kemas, harga dari pegawai, kemudian harga atau biaya untuk hal-hal yang tidak terduga. Sehingga masih belum kita tambah margin / laba dan ketika sudah ditambah laba maka hasilnya adalah COGS.

Contoh Soal Cara Menghitung COGM dan COGS

Kali ini kita akan mencoba menghitung COGM dan COGM dari Dexamethasone Tablets dengan data informasi sebagai berikut :

contoh soal cara menghitung cogm dan cogs

Oya untuk mempermudah perhitungan dalam menghitung COGM dan COGS tersebut, sebaiknya dibuat dalam bentuk tabel excel saja.

  • Menghitung Cost Raw Material

raw material dexa

Tabel diatas merupakan contoh kebutuhan raw material yang digunakan beserta nilai waste nya (3 % sesuai dengan soal pada tabel sebelumnya) untuk membuat 1 batch dari Dexamethasone yang disalin dari informasi tabel sebelumnya.

Untuk penggunaannya kita ke jadikan kg biar sama satuannya karena harga jualnya juga per kg.

Nah ketika kita memproduksi suatu bahan dan misalnya kita butuh bahannya 0,1 kg, kita harus mengantisipasi apakah ada yang terbuang, tumpah, dll maka kita antisipasi dengan menambahkan saste sebanyak 3 % dari penggunaan (seperti informasi pada tabel sebelumnya), sehingga waste nya adalah :

  • Untuk dexamethasone : 3 % x 0.1 Kg
  • Untuk lactose : 3 % x 16.800 kg
  • dst

Waste tersebut diatas ditambahkan sehingga menjadi raw material yang digunakan (kolom standar usage pada tabel diatas).

Dan untuk mendapatkan standar cost adalah standar usage x harga/kg (kolom standar cost pada tabel diatas).

Setelah dihitung semuanya kita tambahkan untuk mendapatkan cost raw material adalah Rp. 1.183.470,-

Catatan : Perhitungan diatas baru untuk raw material saja.

Kemudian kita lanjutkan menghitung cost packaging material.

  • Menghitung Cost Packaging Material

 

biaya packaging material

Tabel diatas merupakan contoh untuk perhitungan cost kemasan, labor, dan overhead.

Nah seperti pada tabel soal dimana packaging material menggunakan pot.

1 Pot isinya isinya 1.000 tablet

Dimana kemasan pot tersebut tentunya nanti masuk ke dalam kemasan karton, dimana :

1 karton isinya 30 pot

Di soal tersebut juga tertulis batch size = 200.000 tablet

Berarti untuk membuat 200.000 tablet :

  • Jumlah pot yang dibutuhkan adalah 200.000 tablet / 1.000 = 200 pot

Dan untuk karton yang dibutuhkan adalah

  • 200 pot / 30 = 6.67 dibulatkan menjadi 7 karton

Dalam soal memberikan keterangan untuk waste, dimana :

  • Untuk waste pot = 1 %
  • Untuk waste karton = 0.5 %

Sehingga…

Standar Usage untuk :

  • Pot = 200 + (1 % x 200) = 202
  • Karton 7 + (0.5 % x 7) = 7.035

Standar Cost untuk :

  • Pot = 202 x Rp 150 = Rp. 30.300,-
  • Karton = 7.035 x 450 = Rp. 3.165,75

Total pot dan karton tersebut adalah Rp. 30.300 + Rp. 3.165,75 = Rp. 33.465,75

Kemudian untuk labor dan overhead

Labor = Rp. 50 / dozen (lusin)

Dimana 1 Batch = 200.000 tablet

  • Maka 1 batch = 200.000 / 12 = 16.666,67 lusin

Sehingga untuk :

  • Labor = 16.666,67 x Rp. 50 = Rp. 833.333,50
  • Overhead = 16.666,67 x Rp. 75 = 1.250.000,25

Sub total labor dan Overhead = Rp. 2.083.333,75

Setelah itu kita rangkum seluruhnya dari raw material + pacaging material + labor + overhead

hasil perhitungan cogm dan cogs

Dan didapatkan total Rp 3.300.269,50 per batch (200.000 tablet).

Untuk harga per tablet (COGM) adalah Rp 3.300.269,50 / 200.000 = Rp.16.5

Untuk COGS, Jika margin yang diambil 50 %

50 % x COGM = Rp 8.25

COGS = Rp 8.25 + Rp.16.5 = Rp. 24.75 / tablet

Strategi Respons Terhadap Permintaan Konsumen

Design to Order / Engineers to Order

design to order

Dari mulai perancangan / desain sampai dengan memenuhi pesanan.

Dimana desainnya dilakukan di Indonesia, produksinya di Indonesia, dirakitnya juga di Indonesia sehingga dari sisi proses bisa dibilang paling panjang.

Untuk design to order :

  • Dimulai dengan mencari atau mengidentifikasi produk sesuai dengan permintaan konsumen.
  • Memerlukan survai terhadap keinginan atau permintaan konsumen (voice of customer)
  • Metransformasi voice of customer menjadi voice of enginering.

Misalnya :

Perusahaan elektronik yang memproduksi laptop melakukan survai dilakukan kepada 50 orang

Tentunya dari 50 orang tersebut mempunyai keinginan masing-masing terhadap laptop yang menjadi pilihannya.

  • Ada yang suka bagian luar laptop licin sehingga tidak mudah tergores
  • Ada yang suka yang warna silver
  • Ada yang suka yang warna hitam
  • Ada yang suka warna merah
  • Ada yang suka ada DVD-nya
  • Ada yang suka tidak ada DVD-nya supaya tipis dan mudah dibawa kemana-mana
  • dll

Dari hasil survai tersebut kita cari keinginan yang terbesar dari 50 orang tersebut.

Misalnya :

  • Dari sisi warna apa?
  • Dari sisi luarnya seperti apa?
  • Dari sisi fiturnya bagaimana?

Dari pilihan konsumen yang terbanyak itulah yang akan dibuat / diproduksi oleh perusahaan.

Hal diatas adalah cara perusahaan dalam mengidentifikasi permintaan konsumen.

Make to Order

make to order

Dari mulai produksi sampai memenuhi pesanan.

Misalnya : Produk mobil yang umumnya kita temui di jalan, dimana spare partnya dibuat di Indonesia dan dirakitnya juga di Indonesia.

Untuk make to order pointnya adalah :

  • Membuat produk sesuai permintaan konsumen
  • Produsen sudah mempunyai beberapa desain standar. Konsumen memilih salah satu atau beberapa desain yang diinginkan.
  • Desain produk diberikan oleh konsumen.

Misalnya : Perusahaan jamu yang telah menerapkan standar CPOTB dengan produk berupa minyak angin dengan kemasan botol platik beberapa ukuran, 25 ml ; 50 ml ; 100 ml.

Perusahaan tersebut bekerja sama dengan supplier / vendor kemasan untuk membuat botol tersebut.

Karena pesanan botol baru dilakukan beberapa kali dan belum terlihat trend / kecenderungannya, maka vendor kemasan tersebut biasanya menerapkan make to order, yaitu membuat botol sesuai dengan permintaan perusahaan jamu tersebut.

Assamble to Order

Dari mulai perakitan / merakit produk sesuai permintaan konsumen sehingga secara inventory part lebih banyak, namun secara proses lebih pendek karena tidak membuat sendiri namun hanya merakit.

Misalnya : Produk mobil-mobil mahal dimana perakitannya di Indonesia namun untuk produksi spare partnya dilakukan di luar negeri.

Make to Stock

make to stock

Produksi dalam jumlah banyak untuk untuk membuat stok.

Misalnya produk-produk yang sering kita temui di swalayan (produk kosmetik, sabun, dll).

Langkah-Langkah PPC

  • Melakukan peramalan permintaan karena PPIC mau menentukan produk apa yang mau dibuat sehingga perlu ada peramalan dan perlu menentukan jumlahnya.
  • Melakukan perencanaan produksi agregat
  • Memastikan kecukupan sumber daya (Resource Requirement Planning – RRP)
  • Membuat jadwal induk produksi (MPS – Master Production Schedule).

    Jadwal produksi tersebut isinya tentang :

    • Waktu kapan dilakukan produksi
    • Berapa yang harus dibuat, dan
    • Bisa ditambah juga dengan staf-staf yang bertanggung jawab dalam produksi tersebut

    Untuk membuat jadwal produksi tersebut kita harus tahu forecastnya terlebih dahulu atau ramalan dari departemen marketing / penjualannya, melakukan rapat, dll sehingga ramalan yang kita buat bisa tepat dan dievaluasi. Kemudian setelah melakukan evaluasi dari forecast, baru dibuat MPS dan didistribusikan ke bagian produksi kemudian diuji QC dan direview dan disetujui oleh QA baru barang masuk ke gudang.

Baca Juga : Tugas Inspector QA (Quality Assurance) di Industri Farmasi

  • Menvalidasi MPS – jadwal induk produksi – Rought cut capacity planning – RCCP
  • Membuat MRP (Material Requirement Planning)
  • Memastikan kecukupan kapasitas produksi (Capacity requirement planning – CRP)
  • Membuat POR
  • Pengendalian inventori

Kesimpulan

persyaratan staff ppic

Karena PPIC adalah bagian yang sangat penting di dalam perusahaan, maka diperlukan personel-personel yang kompeten dalam melakukan tugasnya.

Berikut ini adalah beberapa kriteria terkait dengan kompetensi personel PPIC tersebut :

  • Communication Skill

Karena PPIC lingkup pekerjaannya luas, dia harus berhubungan dengan departemen sales marketing, Quality, produksi, gudang, dll.

Bagaimana kita mengkomunikasi rencana-rencana produksi perusahaan dalam 1 minggu / 1 bulan ke depan ke departeman lain.

  • Problem Solving

Staff PPIC juga harus mempunyai skill problem solving, karena masalah dalam perencanaan produksi hampir pasti terjadi setiap saat, dari masalah ketersediaan stock material bahan baku dan bahan jadi sampai dengan tertahannya stock karena hasil analisa yang belum memenuhi persyaratan.

  • Data Driven Decission Making

Di lapangan seringkali terjadi masalah, misalnya masalah di quality, di produksi, di gudang, dll yang tentunya berdampak pada pekerjaan staff PPIC.

Sebagai staff PPIC dalam proses pengambilan keputusan pekerjaan harus berdasarkan data aktual dan bukan intuisi atau pengamatan saja.

  • Mampu Menggunakan Microsoft Office

Pasti lah ya.. Mengingat dalam pekerjaan PPIC sudah pasti setiap hari kita bersinggungan dengan excel dan power point untuk mempresentasikan rencana-rencana produksi di minggu / bulan depannya.

  • Memahami Sistem Manajemen

Untuk perusahaan besar tentunya sudah menerapkan beberapa sistem manajemen baik itu ISO 9001, ISO 14001, dll. Maka personel QC harus memahami persyaratan standar tersebut, dan tentunya senantiasi dapat memberikan sumbang sih untuk tindakan perbaikan (Continues Improvement) di perusahaannya.

Baca Juga : Pengertian Continues Improvement dalam Proses Bisnis Perusahaan

Semoga Bermanfaat.

Referensi :

Kuliah Online PPIC

Teori Farmasi Industri – PPIC

Harga Timbangan Badan yang Sering Kita Temui Di Pasaran

Harga Timbangan Badan yang Sering Kita Temui Di Pasaran

Meskipun dikategorikan sebagai alat kesehatan, keberadaan timbangan badan saat ini tidak hanya bisa kita temukan di klinik dan rumah sakit saja, namun tempat gym bahkan rumah pribadipun terkadang sudah memilikinya mengingat harga timbangan badan ini juga relatif murah di pasaran.

Sesuai dengan namanya, timbangan badan digunakan untuk menimbang badan sehingga kita dapat mengkontrol / mengetahui gambaran umum kondisi tubuh kita.

Nah, di dalam artikel ini kita akan belajar bersama terkait dengan jenis, cara penggunaan, tips dalam memilih, serta mengulas contoh produk berikut dengan berapa sih sebenarnya harga timbangan badan ini di pasaran sehingga bisa kita jadikan acuan sebelum membelinya.

Jenis dan Harga Timbangan Badan

Terdapat beberapa jenis timbangan badan yang bisa kita jadikan pilihan sebelum membelinya, antara lain sebagai berikut :

Timbangan Badan Analog

timbangan badan analog

Sesuai dengan namanya, timbangan badan jenis ini masih menggunakan jarum skala untuk penunjukkan berat yang ditimbang.

Prinsip kerja dari timbangan jenis analog ini adalah berdasarkan sistem secara mekanik dengan menggunakan sistem pegas dimana ketika kita naik diatas timbangan tersebut maka jarum penunjuk akan bergerak ke arah kanan sesuai dengan berat yang ditimbang.

Harga timbangan badan ini relatif murah, kita bisa mendapatkannya dengan harga 100 ribuan, tentunya harga tersebut bervariasi tergantung dengan merk dan tipenya.

Umumnya untuk timbangan badan jenis ini mempunyai kapasitas 120 kg dengan resolusi 1 kg, dimana disertai dengan fitur seting pemutar supaya angka 0 tepat di jarum penunjuk.

Meskipun dari sisi harga relatif paling murah, namun timbangan badan analog ini mempunyai kelebihan dimana biasanya lebih awet dibandingkan dengan timbangan badan tipe digital karena terbuat dari bahan yang kuat sehingga tidak rusak jika terjadi benturan, serta kita tidak perlu melakukan penggantian baterai seperti jika menggunakan yang tipe digital.

Namun dibalik kelebihan tersebut, tipe analog ini juga mempunyai kekurangan antara lain kita harus mengatur jarum penunjuk supaya berada di titik nol sebelum melakukan penimbangan. Hal ini tentunya dianggap merepotkan bagi beberapa orang terlebih jika kita gunakan di klinik karena akan memperlambat pelayanan.

Dengan harga yang sangat terjangkau tersebut, timbangan ini banyak dimiliki teman-teman yang sedang ada program untuk penurunan berat untuk alasan kesehatan.

Timbangan Badan Dilengkapi Dengan Pengukur Tinggi Badan

timbangan badan lengkap dengan pengukur ketinggian

Dibandingkan dengan jenis yang pertama, tentunya timbangan ini lebih bagus karena selain dapat digunakan untuk mengukur berat juga bisa digunakan untuk mengukur tinggi badan sehingga wajar jika harga timbangan badan jenis ini lebih mahal diangka 1 – 2 jutaan.

Jarum indikator pada timbangan ini diletakkan di tiang timbangan kurang lebih sepinggang dan menghadap keatas dengan alat ukur tinggi badan yang terletak di samping indikator tersebut yang bisa ditarik .

Umumnya timbangan ini mempunyai kapasitas 120 Kg dengan 0.5 Kg sedangkan pengukur tinggi badan antara 70 s/d 190 cm. Timbangan jenis ini banyak kita temukan di klinik kesehatan maupun rumah sakit.

Jika teman-teman dari instansi klinik / rumah sakit dan ingin melakukan pembelian timbangan badan jenis ini, pastikan melakukan tera timbangan / meminta sertifikat tera kepada suplier bersangkutani terlebih dahulu sebelum menggunakan timbangan untuk pelayanan kepada konsumen, karena hal tersebut sifatnya wajib.

Timbangan Badan Digital

timbangan badan digital

Timbangan ini mempunyai bentuk hampir mirip dengan timbangan analog yang pertama dibahas, namun dengan display digital, Karena displaynya digital, tentunya dari sisi harga sedikit lebih mahal dibandingkan dengan yang tipe analog.

Salah satu merk timbangan badan digital yang sering kita temua adalah omron tipe HN 289.

Tipe ini dapat kita gunakan untuk menimbang berat sampai dengan 150 kg dengan presisi 100 g. Tipe ini juga disertai dengan 4 teknologi sensor sehingga hasil pengukuran penimbangannya lebih akurat.

Harga timbangan badan jenis ini di pasaran sekitar 300 s/d 400 ribuan dengan garansi resmi dari omron 2 tahun.

Timbangan Badan Pengukur Lemak Dalam Badan

timbangan badan lemak

Teknologi semakin berkembang, jika 10 – 20 tahun yang lalu timbangan badan hanya berfungsi untuk menimbang berat, namun saat ini juga bisa kita gunakan untuk mengukur kadar lemak di dalam tubuh, index massa tubuh, dll.

Dengan keunggulannya tersebut, tentu saja harga timbangan ini lebih mahal dibanding dengan tipe lainnya. Contoh timbangan jenis ini adalah Omron 375 yang dibandrol dengan harga 1.6 jutaan.

Tips Membeli Timbangan Badan

Sebelum melakukan pembelian timbangan badan, paling tidak ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, antara lain :

Tingkat Akurasi

Apapun jenis timbangan badan yang akan teman-teman beli, akurasi tetaplah menjadi pertimbangan pertama. Karena akurasi tersebut menunjukkan keakuratan dari penimbangan yang akan teman-teman lakukan.

Secanggih apapun timbangannya dengan model canggih dan fitur paling komplit, jika akurasinya kurang baik, maka angka hasil penimbangan berarti kurang valid, dan jika kurang valid, tujuan apapun yang ingin teman-teman capai dari aktivitas penimbangan ini tidak akan tercapai.

Jika teman-teman memang sedang ada program penurunan berat, maka timbangan badan dengan akurasi 0.5 Kg dengan tipe digital lebih disarankan dibandingkan dengan timbangan badan model analog yang tingkat akurasinya hanya 1 Kg.

Baca Juga : Pengertian Akurasi dalam Uji Kinerja Metode Uji Laboratorium

Kapasitas dan Fitur

Pada umumnya timbangan berat badan mempunyai kapasitas 120 Kg, jika teman-teman mempunyai berat yang lebih 120 kg maka disarankan memilih yang kapasitasnya 150 Kg.

Selain itu juga juga perlu dipertimbangkan apakah timbangan badan dengan dengan display yang dapat menyala di ruangan yang pencahayaan kurang, fitur index massa tubuh, rangka otot, kadar lemak yang harus dibeli atau cukup timbangan badan yang biasa saja.

Karena hal tersebut akan menentukan harganya. Timbangan badan dengan fitur-fitur tambahan tersebut tentunya akan sangat berguna terutama jika teman-teman sedang ada kebutuhan untuk memonitor progres kesehatan badan.

Harga

Berbicara masalah harga tentuk bersifat relatif, tetapi pada umumnya timbangan badan dari brand ternama, akurasi yang lebih tinggi / bagus, dengan memberikan garansi 1 – 2 tahun jika terjadi kerusakan mempunyai harga yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan timbangan yang tidak memberikan garansi.

Model dan Desain

Karena ini menyangkut dengan selera, maka kami tempatkan di urutan terakhir dalam pertimbangan sebelum membeli timbangan badan. Silakan pilih sesuai dengan warna, bentuk yang teman-teman sukai. Pastikan bentuk dan warna mudah dibersihkan sehingga lebih mudah dilakukan perawatan.

Tips Menggunakan Timbangan Badan

harga timbangan digital badan

Timbangan badan jika digunakan hanya untuk menimbang tanpa tujuan khusus tentunya penggunaannya relatif sederhana, kita cukup naik diatas pan timbangan tersebut dan membaca hasilnya.

Namun jika timbangan tersebut digunakan dalam program penurunan berat, maka ada beberapa tips yang sebaiknya kita perhatikan, antara lain sebagai berikut :

  • Letakkan timbangan badan di tempat yang sama dan jangan digeser-geser karena ini bisa menyebabkan hasil penimbangan yang berbeda-beda.
  • Timbanglah badan diwaktu yang sama, misalnya kita biasa menimbang badan pada saat bangun tidur dan belum melakukan aktivitas apa-apa atau kondisinya cuma baru mengkonsumsi air putih satu gelas saja. Maka lakukan hal yang sama seperti itu ketika ketikan menimbang pada waktu yang berbeda. Demikian juga halnya jika kita biasa menimbang pada waktu pagi hari sebelum sarapan, maka lakukan penimbangan pada waktu yang sama yaitu sebelum sarapan.
  • Lepas sepatu, jaket, dan gunakan pakaian seperlunya jika aktivitas penimbangan dilakukan di rumah, karena seperti kita ketahui, sepatu, jaket tersebut tentunya mempunyai berat tersendiri yang mungkin jika digabungkan mendekati angka 0.5 s.d 1 kg.

Demikian sedikit ulasan mengenai jenis, cara penggunaan, tips memilih serta harga timbangan badan.

Oya, terkait dengan timbangan, kami juga memiliki artikel lainnya yang mengulas mengenai timbangan analitik, timbangan pocket, serta timbangan bench scale industri yang bisa teman-teman baca di link berikut.

Semoga bermanfaat.

Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Tentunya semua analis yang pernah bekerja di laboratorium pengujian setuju jika hampir semua peralatan gelas di laboratorium mempunyai harga yang relatif mahal.

Bahkan untuk 1 pcs botol laboratorium dengan volume 1 liter saja terkadang mempunyai harga hampir 100 ribuan.

Sehingga perlu dilakukan perawatan khusus supaya peralatan gelas laboratorium tersebut lebih awet / lebih lama umur pemakaiannya sehingga dapat menghemat budget / pengeluaran di laboratorium.

Salah satu perawatan sederhana yang wajib dilakukan adalah dengan cara pembersihan untuk menghilangkan kontaminan yang ada dalam peralatan gelas laboratorium tersebut. Karena seperti kita ketahui, adanya kontaminan dalam peralatan gelas dapat menyebabkan hasil analisa yang tidak akurat.

Salah satu alat bantu yang kita perlukan untuk melakukan pembersihan peralatan gelas tersebut adalah botol semprot kimia. Peralatan ini sederhana, harganya juga terjangkau, namun fungsinya sangatlah penting. Sehingga sangat disarankan dan hampir pasti setiap laboratorium pengujian ataupun laboratorium kalibrasi memilikinya.

Pengertian dan Fungsi Botol Semprot Kimia

botol semprot lab kimia

Sesuai dengan namanya, botol semprot kimia adalah sebuah botol yang lentur / fleksible pada bagian botolnya dan dapat diremas / ditekan, dengan disertai pipa plastik kecil bengkok (jets tips) yang dimasukkan melalui tutup botol tersebut yang berfungsi untuk menyemprotkan / mengarahkan aliran air / cairan lain pengisinya ke peralatan yang dicuci atau dibilas.

Fungsi botol semprot laboratorium adalah untuk pembilasan / pembersihan gelas kimia, botol, tabung reaksi, gelas arloji, cawan petri, gelas ukur, buret, pipet, batang pengaduk, dan slide mikroskop laboratorium.

Dalam penggunaannya, botol semprot ini dapat diisi dengan berbagai macam pelarut, antara lain air, metanol, etanol, dan aseton, dll.

Jika botol semprot di laboratorium kita masih yang berwarna putih, maka pastikan memberi kode warna atau nama pada setiap botol tersebut untuk mengidentifikasi isinya.

Namun, botol semprot laboratorium sebenarnya juga sudah ada dengan jenis botol semprot dengan tutup berkode warna untuk memudahkan identifikasi dan memenuhi kepatuhan keselamatan.

Terbuat Dari Apa Botol Semprot Lab Kimia Ini

Botol semprot lab kimia terbuat dari plastik dengan tutup ulir. Bahan plastik digunakan karena mempunyai sifat fleksibel sehingga botol dapat diremas / ditekan dengan tangan untuk menghasilkan tekanan yang memaksa cairan di dalam botol mengalir melalui tabung / pipa plastik dan keluar ke permukaan yang sedang dibersihkan. Selain itu, plastik juga dapat menahan pemuaian akibat panas dan bahan kimia.

Botol semprot laboratorium umumnya dibuat dengan dengan model “wide mount bottle” atau mulut yang lebar untuk memudahkan pengisian cairan yang diiinginkan.

Bagian tutup botol semprot memiliki tabung / pipa plastik yang dimasukkan ke dalamnya dengan ujung yang terbuka dan ditekuk. Tabung / pipa plastik tersebut berfungsi untuk mengarahkan aliran air yang merata ke permukaan yang sedang dibersihkan.

Code Botol Semprot Laboratorium

Untuk memudahkan dalam proses mengenali label dan code warna dalam botol semprot laboratorium ini, kita akan memberikan contoh botol semprot dari brand bel-art. Untuk katalognya bisa dilihat langsung di websitenya.

Jika teman-teman masukan / opini lain, boleh kita diskusi melalui kolom komentar.

Botol semprot laboratorium ini terdapat kode dan simbol dengan format yang mudah dilihat dan mudah dikenali untuk menangani bahan kimia / larutan yang kita gunakan di dalam botol semprot tersebut.

Bisa dikatakan, botol semprot ini siap pakai. kita tidak perlu lagi melakukan pelabelan untuk mengidentifikasi cairan yang kita gunakan sehingga dapat terhindar dari kesalahan.

“Cukup isi botol semprot kimia dengan cairan yang sesuai dengan nama cairan yang tertera pada botolnya, dan tinggal gunakan”

Botol semprot lab kimia ini terbuat dari low-density polyethylene (LDPE), bersifat transparan dengan penutup terbuat dari bahan PP (polypropylene), dengan pengecualian sebagai berikut :

  • Botol Natrium Hipoklorit memiliki botol LDPE berwarna putih
  • Botol Toluena memiliki botol LDPE berwarna merah

Berikut ini adalah code warna pada botol semprot lab kimia ukuran 500 ml beserta dengan larutannya pengisinya :

  1. Acetone : Merah
  2. Deionized Water : Biru
  3. Dichloromethane : Kuning
  4. Distilled Water : Biru
  5. Ethanol : Natural
  6. Ethanol 70% : Hijau
  7. Ethyl Acetate : Hijau
  8. Isopropanol : Kuning
  9. Machine Oil : Natural
  10. Methanol : Hijau
  11. Methyl Ethyl Ketone : Hijau
  12. Saline Solution: Natural
  13. Soap : Biru
  14. Sodium Hypochlorite (Bleach) : Kuning
  15. Toluene : Merah
  16. Water : Biru

Pada botol semprot lab kimia bercode ini paling tidak ada 4 informasi yang tertera pada botol seperti pada gambar dibawah ini :

botol semprot laboratorium

  • Bagian A : Identifikasi Kimia

Nama bahan kimia beserta dengan rumus molekulnya.

  • Bagian B: Kode Bahaya

simbol bahaya pada botol semprot laboratorium kimia

Bahaya utama dengan diwakili oleh simbol yang sesuai.

    1. Toxic : Setiap bahan kimia atau bahan yang telah terbukti menjadi berbahaya bagi kesehatan baik akut ataupun kronis.
    2. Oxidizer (Oxidizing Material) : Senyawa yang menghasilkan oksigen dengan mudah untuk meningkatkan atau mempercepat pembakaran bahan organik.
    3. Corrosive : Bahan kimia yang menyebabkan kerusakan yang terlihat atau perubahan permanen pada jaringan hidup
      dengan adanya reaksi kimia di tempat terjadinya kontak; dan juga bahan yang menyebabkan korosi parah pada baja.
    4. Flammable : Padatan, cairan, uap atau gas yang mudah menyala dan terbakar dengan cepat.
    5. Explosive : Setiap bahan yang menghasilkan pelepasan tekanan, gas, dan panas secara tiba-tiba dan hampir seketika saat mengalami kejutan, tekanan, atau suhu secara tiba-tiba.
    6. Irritant : Setiap bahan non-korosif yang menyebabkan efek inflamasi reversibel pada jaringan hidup oleh bahan kimia di tempat kontak sebagai fungsi konsentrasi atau durasi paparan.

Baca Juga : HIRADC dan Contoh Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko

  • Bagian C: Bahaya Kebakaran

kode bahaya botol

Bentuk belah ketupat (diamond) di bagian C menunjukkan kode NFPA (National Fire Protection Association) standar AS yang memberi peringkat bahaya menurut reaktivitas bahan kimia terhadap keberadaan api.

    1. Warna merah di bagian atas
    2. Warna kuning di sebelah kanan
    3. Warna biru di sebelah kiri

Menggunakan peringkat skala 0 sampai 4, dimana angka 4 menunjukkan bahaya terbesar dan angka 0 menunjukkan bahaya terkecil.

Belah ketupat (Diamond) bagian bawah berisi khusus piktogram sesuai kebutuhan.

Berikut ini adalah peringkat dari bahaya tersebut.

Diamond Bagian Atas (Merah) : Bahaya Kebakaran dan Titik nyalah

    • 4 – Sangat mudah terbakar; dibawah 21°C / 70°F
    • 3 – Menyala dalam kondisi suhu normal; dibawah 38°C / 100°F
    • 2 – Menyala dengan pemanasan sedang; dibawah 93°C / 200°F
    • 1 – Menyala saat dipanaskan; diatas 93°C / 200°F
    • 0 – Tidak akan menyala (Tidak mudah terbakar)

Diamond bagian kanan (Kuning): Reaktivitas

    • 4 – Mematikan
    • 3 – Sangat Berbahaya
    • 2 – Berbahaya
    • 1 – Sedikit Berbahaya
    • 0 – Bahan Normal

Diamond Bagian Kiri (Biru): Bahaya Kesehatan

    • 4 – Mematikan
    • 3 – Sangat Berbahaya
    • 2 – Berbahaya
    • 1 – Sedikit Berbahaya
    • 0 – Bahan Normal

Diamond Bagian Bawah (Tidak ada Warna / Bahaya Spesifik

    • OXY – Pengoksidasi
    • Acid– Asam
    • ALK – Alkali
    • COR – Korosif
    • W – Reaktif Air, gunakan TANPA AIR

 

  • Bagian D: Organ Sasaran, Efek dan Rute Masuk

Informasi tambahan yang diperlukan oleh Standar Komunikasi Bahaya OSHA

Label Organ Target dan Efek yang sesuai :

    • Paru-paru
    • Jantung
    • Ginjal
    • Mata
    • Kulit
    • Darah
    • Sistem syaraf pusat
    • Sistem pernapasan

Alat Pelindung Diri yang Direkomendasikan :

    • Kacamata
    • Jas laboratorium
    • sarung tangan yang tepat
    • dll

Prosedur Pembersihan Botol Semprot Kimia

Untuk membersihkan botol semprot ini, kita dapat mencucinya secara biasa dengan menggunakan deterjen dan bilas bersih dengan air suling dan jangan mengautoklaf botol semprot laboratorium ini.

Harga Botol Semprot Laboratorium

Harga botol semprot kimia tidaklah mahal dibandingkan dengan kegunaanya, kita bisa mendapatkan botol semprot berkode tersebut pada kisaran harga kurang lebih sekitar 150 ribuan untuk botol semprot yang berkode. Untuk yang polos tentunya relatif lebih murah.

HIRADC dan Contoh Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko

HIRADC dan Contoh Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko

Jika kita berbicara mengenai standar keselamatan dan kesehatan kerja, maka HIRADC adalah roh nya. Mungkin teman-teman juga sudah familiar dengan kepanjangan HIRADC yaitu Hazard Identification Risk Assessment and Determine Control atau yang biasa kita kenal dengan IBPR (Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko).

HIRADC sangat penting dan wajib diketahui oleh semua orang terlebih para praktisi keselamatan dan juga tentu para pengawas / supervisor di semua departemen dan posisi-posisi lain yang ada di perusahaan karena dengan mengenal HIRADC atau IBPR ini kita dapat mengelola resiko dan mengendalikan resiko agar tidak terjadi kegagalan yang pada akhirnya menimbulkan kerugian pada perusahaan.

Jika selama ini kita mengenal berbagai macam risiko, misalnya :

  • Risiko hukum
  • Risiko financial
  • Risiko kredibilitas
  • dll

Maka khusus HIRADC atau IBPR ini kita fokus risiko yang terkait dengan masalah keselamatan.

Singkatan dan Definisi

  • HIRADC : Hazard Identification Risk Assessment and Determine Control
  • IBPR : Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko
  • Bahaya adalah segala sesuatu (sumber / kondisi / tindakan) yang berpotensi merugikan atau mencederakan baik kepada manusia, kerusakan alat, gangguan produksi atau kerusakan lingkungan.

Contoh :

    1. Bahaya dari sumber : radiasi matahari / sinar radiasi komputer.
    2. Bahaya dari kondisi : jalan berlubang.
    3. Bahaya dari tindakan : mengemudi dengan kecepatan tinggi.
  • Risiko adalah kemungkinan akibat atau kemungkinan terjadinya kecederaan, kerusakan alat, lingkungan atau terganggunya proses karena terpapar oleh suatu bahaya.

Contoh :

Biasanya diawali dengan kata “kemungkinan ter”

    1. Kemungkinan terpeleset karena lantai licin.
    2. Kemungkinan terjerembab karena housekeeping yang buruk
    3. Kemungkinan tertabrak kendaraan karena cuaca yang tebal.
    4. dll
  • Bahaya vs Risiko
    • Bahaya : bahaya aliran listrik dari kabel yang mengelupas.

Risiko : tingkat kemungkinan karyawan ditempat tersebut untuk menyentuh aliran listrik dari kabel yang mengelupas tersebut.

    • Bahaya : kantong semen dengan berat 40 kg

Risiko : tingkat kemungkinan karyawan di tempat tersebut cedera pinggang karena mengangkat karung semen 40 kg tadi secara berulang-ulang.

  • Risiko murni : skenario terburuk tanpa mempertimbangkan program pengendalian yang sedang berjalan.

Risiko-risiko yang :

    1. Teridentifikasi
    2. Berdiri sendiri
    3. Dapat dikuantifikasi

Namun belum diatasi menggunakan suatu pengendalian.

  • Risiko sisa : suatu risiko yang tertinggal atau masih ada walaupun telah diupayakan untuk menghilangkan, meminimalkan, atau mengendalikan.
  • Konsekuensi : akibat dari interaksi antara orang, alat, lingkungan, bahaya, yang bisa diukur dengan adanya kerugian / cidera bagi :
    1. Orang
    2. Kesehatan
    3. Hilangnya nyawa
    4. Biaya yang dikeluarkan perusahaan
  • Frekuensi / kekerapan : kemungkinan jumlah kejadian, diukur mulai dari tingkat :

Sangat mungkin tidak terjadi sampai dengan sekali per minggu, per gilir kerja, per bulan, dll dengan interval yang lebih sering.

  • Pengendalian Kontrol : Tindakan menghentikan bahaya, maupun meminimalkan konsekuensi. Tindakan ini dilakukan dengan :
    1. Mengelola risiko
    2. Mengantisipasi konsekuensi
    3. Menerapkan kontrol.

Latar Belakang HIRADC (Hazard Identification Risk Assessment and Determine Control)

hiradc adalah

HIRADC / IBPR merupakan ilmu dasar dan sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap pekerja bahkan tidak hanya di level pengawas.

Banyak sekali kasus-kasus di perusahaan mengalami satu kejadian kecelakaan yang sedemikian hebat yang mengakibatkan kerugian yang sangat luar biasa akibat tidak menjalankan proses pengelolaan risiko atau proses manajemen resiko.

Pengawas dalam menjalankan peran K3 harus memiliki kemauan, pengetahuan, keterampilan dalam melakukan HIRADC / IBPR karena banyak sekali kecelakaan yang terjadi karena kurangnya kemampuan di level pengawas dan pekerja yang tidak bisa mengidentifikasi bahaya secara cermat dan termasuk juga dalam melakukan pengendalian.

“Setiap pekerjaan atau aktifitas pasti akan selalu ada bahaya”

Bahaya dan aspek K3L (kesehatan keselamatan kerja dan lingkungan) itu harus ditetapkan sistem kendalinya secara proaktif dan terprogram.

Proses Risk Assestment / HIRADC / IBPR

Risk assessment / HIRADC / IBPR adalah sebenarnya satu istilah yang sama.

Namun risk assessment berbeda dengan risk management.

proses manajemen risiko

Jika kita berbicara tentang risk management maka merupakan proses panjang yang diawali dengan dilingkupi oleh proses komunikasi dan konsultasi.

Komunikasi dan konsultasi tersebut bisa komunikasi dan konsultasi dengan internal organisasi atau internal perusahaan ataupun dengan eksternal /pihak-pihak berkepentingan lainnya yang terkait, misalnya : instansi lain, community, dll

Dalam proses manajemen terdapat tahapan menentukan lingkup, kontek dan kriteria risiko.

Kemudian dilanjutkan dengan melakukan proses risk assessment / penilaian risiko dimana terdapat 3 aktifitas utama yaitu :

  1. Mengidentifikasi risiko
  2. Menganalisa risiko
  3. Mengevaluasi risiko

Jika dikaitkan dengan HIRADC maka pengendalian yang dilakukan adalah terhadap resiko safety / kesehatan.

Langkah-Langkah dalam HIRADC

Langkah-langkah yang akan kita lakukan di dalam proses HIRADC yaitu :

  • Mendaftar tugas

Dimana kita mendaftar kegiatan-kegiatan yang akan identifikasi bahayanya.

  • Mengidentifikasi bahaya

Dimana dapat dilakukan dengan obeservasi K3, daftar pra operasi, inspeksi, audit, dll.

  • Menentukan / menilai risiko

Dimana dapat dilakukan dengan mencatat kemungkinan dampak atau rugi dan menggunakan matrik penilaian risiko

  • Mengevaluasi risiko

Mengevaluasi risiko apakah risiko tersebut bisa diterima atau tidak.

Menetapkan tindakan kontrol terhadap risiko

Dengan memastikan pengendalian risiko dilaksanakan.

Di dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3), proses manajemen risiko / HIRADC atau IBPR ini masuk di dalam tahap atau elemen perencanaan.

Suatu perusahaan sebelum menjalankan  operasionalnya maka wajib mendevelop dokumen HIRADC atau IBPR untuk menentukan risiko-risikonya, bahaya-bahaya yang bisa terjadi, dan pengendaliannya apa yang harus dilakukan untuk tidak terjadi suatu kegagalan atau kerugian yang terjadi pada perusahaan.

Langkah 1. Mendaftar Tugas / Aktifitas

Mendaftar tugas adalah aktifitas utama di dalam HIRADC

Dimana semua aktifitas harus kita listing / data baik itu aktifitas rutin, non rutin, normal, abnormal, dan aktifitas darurat.

  • Aktifitas rutin adalah suatu kondisi dimana sebuah kegiatan (aktifitas / sub aktifitas) dilakukan secara rutin atau terjadwal.

Contoh : kegiatan inspeksi yang dilakukan setiap mingguan, bulanan, maupun setiap triwulan.

  • Aktifitas non rutin adalah kondisi dimana sebuah kegiatan (aktifitas / sub aktifitas) dilakukan hanya pada kesempatan atau waktu tertentu saja, tidak secara tetap atau rutin.

Contoh : Inspeksi mendadak, kunjungan lapangan dari pelanggan, dll.

  • Aktifitas normal adalah suatu aspek yang terjadi meskipun sudah ada fungsi kontrol yang diterapkan. Fungsi kontrol bisa SOP / IK / JSA, guarding, sensor atau fungsi kontrol yang lain.

Contoh : Tumpahan debu bata bara akan selalu terjadi meskipun sudah ada SOP, dust collector, dll

  • Aktifitas abnormal adalah suatu aspek yang terjadi dimana aspek tersebut menyimpang dari fungsi kontrol yang sudah ditetapkan.

Contoh : kuantitas debu batu bara yang besar akibat tidak berfungsinya sprayer di primary / secondary / tertiary crusher. Kondisi ini masih bisa ditangani dengan SOP atau fungsi kontrol yang lain.

  • Aktifitas darurat / emergency adalah kondisi luar biasa yang terjadi akibat adanya pelanggaran SOP / standar / regulasi yang memerlukan penanganan berlebih.

Contoh : kebakaran, dll

Langkah 2. Mengidentifikasi bahaya

Dalam mengidentifikasi bahaya, konsep dasarnya adalah :

  • Ada jenis bahaya apa saja?
  • Pada unsur produksi 4 M apa saja?
    1. Man
    2. Mesin
    3. Metode
    4. Material
  • Apakah ada kemungkinan-kemungkinan kontak? misalnya : terbentur, terpukul, terjepit, dll.

Semuanya harus diidentifikasi dan jangan sampai ada yang terlewatkan. Karena jika kita terlewat mengidentifikasi suatu bahaya maka disitulah ada potensi menimbulkan kegagalan / kecelakaan.

Faktor-faktor keselamatan istilah 4M + 1E.

  • Manusianya
  • Materialnya
  • Machinery
  • Methodnya
  • Lingkungan kerja, segala sesuatu aspek-aspek di lingkungan kerja yang bisa berdampak terhadap kesehatan kerja, misalnya : debu, panas, bising,

Nah itu adalah faktor-faktor keselamatan yang ada di lingkungan kerja kita yang tidak bisa kita hindari satupun.

Sehingga harus kita kelola dengan baik supaya aman, sehat dan berdampak kepada meningkatnya produktivitas. Namun jika kita tidak kelola dengan baik maka akan terjadi kecelakaan / penyakit akibat kerja dan jika kita analisa lebih lanjut faktor penyebab kecelakaan tersebut adalah dari 4M dan 1 E diatas.

Pointnya adalah :

Setiap saat karyawan selalu berhubungan dengan bahaya dan resiko sehingga kita harus selalu waspada karena bahasa dan resiko tidak bisa kita hilangkan sama sekali di tempat kerja.

Cara Mengidentifikasi Bahaya

Ada banyak cara kita dalam mengidentifikasi bahaya :

  • Dengan mempelajari dokumen-dokumen dan catatan.

Midalnya dari bisnis proses, laporan insiden, buku manual, prosedur (SOP, IK, JSEA), peraturan perundang-undangan / persyaratan lainnya, MSDS (Material Safety Data Sheet), laporan audit, laporan inspeksi, laporan pengukuran, laproan pihak ketiga, data PAK, data sakit, dll.

  • Wawancara

Wawancara dapat dilakukan kepada karyawan yang melakukan pekerjaan, karyawan yang merancang suatu aktifitas, orang yang memiliki keahlian tertentu misal : enginer, dokter, welder, dll.

  • Brainstorming

Brainstorming adalah menanyakan “apa yang terjadi jika…?”

Saling berdiskusi dengan semua yang terlibat di dalam proses pembuatan HIRADC.

Sangat penting dalam fase ini untuk tidak berkata “hal ini tidak dapat terjadi” tetapi “pikirkan bagaimana jika hal ini terjadi”

Gunakan pemikiran “what if” untuk mempertimbangkan bagaimana orang akan mengalami cedera atau gangguan kesehatan :

Misalnya :

    • Apa yang dapat terjadi jika orang bekerja tidak menggunakan masker?
    • Apakah mungkin sensor tidak bekerja?
    • Apakah sudah ada pekerja yang terpapar sebelumnya?
  • Riset

Dilakukan dari sumber database perusahaan.

  • Inspeksi dan Observasi

Jenis-Jenis Bahaya

  • Bahaya Kimia

Adalah bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan pada manusia melalui pernapasan / kontak dengan kulit.

Contoh : debu, asap, gas, uap, fume, kabut, bedak / tepung (vapors), fiber.

  • Bahaya Biologi

Bahaya yang timbul dari makluk hidup baik tampak maupun tidak tampak oleh mata yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop / mikrobiologi, seperti : bakteri, virus, jamur, dll dan Makrobiologi, seperti serangga, parasit, tumbuhan dan binatang.

  • Banyak Fisika
    • Suara bising, yaitu suara yang tidak diinginkan / diatas ambang batas. Untuk pengukuran kebisingan ini bisa menggunakan sound level meter.
    • Getaran, yaitu suara getaran bolak-balik seluruh badan, dan getaran sebagian.
    • Pencahayaan, yaitu intensitas terlalu terang / silau.
    • Radiasi, yaitu radiasi ion dan radiasi non ion
    • Tekanan, yaitu tekanan tinggi / rendah.
    • Temperature, yaitu temperature tinggi atau rendah.

Baca Juga : Termometer Raksa, Termometer Klinis, dan Termometer Alkohol

  • Bahaya Ergonomi

Bahaya yang disebabkan karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungan tempat kerja, yaitu peralatan dan tempat kerja yang tidak dirancang dengan baik, yang meliputi :

    • Stres fisik : ruang sempit dan terbatas, menarik mendorong, menforsir tenaga, gerakan berualang-ulang, kelelahan, tekanan langsung, dll.
    • Stres kejiwaan : bosan, beban terlalu berat, kebingungan, dll.
  • Bahaya Psikososial

Hubungan yang tidak ideal antara atasan bawahan, intimidasi, trauma, pola gilir kerja, pola promosi, pengaturan kerja, dll.

  • Bahaya Mekanis

Bahaya yang terkait dengan permesinan / bahaya yang ada pada titik opersasi seperti pemotongan, pengeboran, bahaya pada titik jepit, seperti pully, roller, bahaya pada gerakan mesin yang muju mundur, naik turun, dan bahaya pada tempat pemindahan dan paa bagian yang berputar atau bergerak lainnya dari suatu peralatan dan permesinan.

  • Bahaya Lingkungan Sekitar

Seperti permukaan yang tidak rata / kemiringan, licin, cuaca yang tidak ramah, lumpur, kegelapan, dll.

  • Bahaya Tingkah Laku

Kurang keahlian, ketidakpatuhan, sok pintar, sikap masa bodoh dll.

  • Bahaya kelistrikan

Pemasangan kabel, penyambungan tahanan, pembumian, dan saluran dan tombol, instalasi kabel (arus listrik) yang tidak rapi.

Baca Juga : Tang Ampere Kyoritsu 2055 (Clamp Meter) : Bagaimana Spesifikasinya?

Bahaya-bahaya tersebut diatas harus kita identifikasi dengan atau melalui pengamatan total.

Pengamatan total adalah pengamatan yang menggunakan seluruh panca indera kita, baik dengan mata, telinga (misalnya : adanya suara yang tidak nyaman), penciuman, sentuhan / meraba (misalnya : ada rasa yang panas pada permukaan mesin tertentu yang tidak seperti biasanya), atau dapat juga dengan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kita.

Bahaya tersebut di dalam proses HIRADC akan kita masukkan di dalam kolom bahaya pada form idenfiikasi bahaya.

Berikut adalah tabel identifikasi bahaya penilaian risiko penetapan pengendalian risiko k3

contoh tabel identifikasi bahaya penilaian risiko penetapan pengendalian risiko k3

Tabel diatas hanyalah contoh, untuk setiap tugas / aktifitas kita bisa menuliskan bahaya lebih dari satu. Setelah semua bahaya sudah kita identifikasi dan dimasukkan dalam tabel identifikasi bahaya, maka tahapan selanjutnya adalah analisa resiko.

Langkah 3. Menilai Risiko

cara menghitung risiko

Menilai resiko ini melibatkan dua komponen khususnya yaitu :

  • Frekuensi : merupakan komponen untuk menilai kemungkinan munculnya aspek lingkungan dan bahaya K3.
  • Konsekuensi : merupakan komponen untuk menilai dampak lingkungan dan potensi risiko K3.

Biasanya dalam mengukur suatu resiko kita dapat menggunakan formula yaitu :

Resiko dihitung berdasarkan seberapa kemungkinan faktor lingkungan x berapa konsekuensi atau severitynya

Nilai dari perkalian inilah yang nanti akan ketemu nilai resikonya

Atau juga bisa dihitung dengan :

Resiko merupakan faktor dari konsekuensi, pemaparan dan kemungkinannya.

“Jadi jika kita berbicara bahaya maka nilainya adalah tetap”

Misalnya : Namanya lubang dimana-mana bahaya, terlepas dari lubang itu di jalan / dimanapun merupakan suatu bahaya dan tidak ada ukurannya.

Sehingga untuk bahaya kita menggunakan istilah identifikasi bahaya.

Namun jika kita berbicara resiko maka nilainya akan berbeda tergantung pada frekuensi atau probability dan konsekuensi dampak atau severity nya.

Sehingga jika kita berbicara mengenai resiko maka disebut dengan menganalisa atau menilai resiko.

Cara untuk menentukan resiko ini biasanya kita menggunakan matriks penilaian risiko , yaitu dengan menggabungkan antara frekuensi atau kemungkinan x dengan dampak atau konsekuensi atau severitynya. Sehingga dari perkalian diatas akan ketemu dimana tingkat resiko tersebut.

tabel identifikasi bahaya penilaian risiko penetapan pengendalian risiko k3

Matrik penilaian resiko tentunya akan berbeda antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya, ada yang bisa menggunakan dengan skala kuantitatif / kualitatif namun secara tujuan atau fungsi tetap sama yaitu untuk menilai suatu resiko apakah resikonya rendah, sedang, atau tinggi, atau sangat tinggi.

Biasanya dicirikan dengan :

  • Warna merah : resiko yang sangat tinggi
  • Warna Kuning : resiko yang tinggi
  • Warna Biru : resiko sedang
  • Warna Hijau : resiko rendah
  • Warna putih : resiko sangat rendah

Dimana penilaian resiko tersebut ditetapkan menggunakan berdasarkan skema matrix penilaian resiko yaitu perkalian antara konsekuensi dan kemungkinannya.

Nah untuk cara menghitung konsekuensi dan kemungkinan nanti tentunya ditetapkan tersendiri secara terpisah.

Tabel dibawah ini adalah contoh menghitung tingkat kemungkinan.

contoh form identifikasi bahaya dan penilaian resiko

Misalnya :

  • Dinilai hampir pasti jika kejadian lebih dari 1 x per project dimana project dilakukan lebih dari 1 x per bulan.
  • Dinilai jarang jika kurang dari 1 x setiap 30 project yang dilakukan.

Nah kalau untuk konsekuensi misalnya :

tabel tingkat konsekuensi bahaya

Misalnya :

  • Dinilai sangat tinggi jika mengakibatkan kematian lebih dari satu.
  • Dinilai sangat rendah itu adalah hanya mengakibatkan cedera yang ringan saja.

Nilai rangking pada kemungkinan dan dampak diatas adalah nilai yang kita letakkan dalam kolom vertikal dan horizontal untuk menentukan tingkat resiko.

Tabel dibawah adalah 5 jenis kriteria atau “Risk level” nya.

contoh identifikasi bahaya dan pengendalian risiko

Ada resiko yang bisa dianggap tidak ada signifikan, minor, moderat / sedang, mayor, dan substansial tergantung berapa nilai yang didapatkan.

Nah hal diatas kita kenal dengan matriks penilaian resiko.

Jenis Resiko (Kontak Energi)

  • Terbentur sesuatu (orangnya bergerak barangnya diam, membentur dinding, menabrak tiang listrik, kepala menyundul sesuatu yang tergantun rendah)
  • Terpukul oleh sesuatu (orangnya diam barangnya bergerak, tertabrak mobil, terpukul palu, terkena lentingan  batu gerinda, tertimpa batu jatuh, terlindas HD, dihantam flying rocks)
  • Jatuh dari ketinggian yang berbeda (jatuh dari tangga, jatuh dari atap, jatuh dari kabin)
  • Jatuh dari ketinggian yang sama (terpeleset jatuh, tersandung jatuh, kesrimpet jatuh, kehilangan keseimbangan jatuh di permukaan yang sama)
  • Terpapar, menghirup, menhisap, menelan.
  • Terjepit,
    • Titik jepit bergerak, pintu, laci, penutup kap mobil, dll
    • Titik jepit diam, kita yang bergerak seperti waktu membawa meja melewati pintu sehinigga jari terjepit diantara meja dan tiang pintu
    • Tersangkut, terkait, atau tertarik mesin berputar, sarung tangan tersangkut, mesin berputar menyebabkan jari putur, ujung baju tertarik mesin sehingga tangan masuk ke mesin.

“Matrix penilaian resiko adalah salah satu cara untuk mengurangi subjektivitas dalam menentukan suatu resiko”

Jadi dalam memberikan suatu penilaian resiko angka yang diberikan merupakan profesional judgement yang terbaik dengan mempertimbangkan :

  • Skenario yang terburuknya
  • Efektifitas pengendalian yang sudah ada
  • Konsensus dari tim dan tidak boleh dilakukan secara perorangan.

Berikut ini adalah tabel tingkat resiko melanjutkan tabel identifikasi resiko yang sudah dijelaskan diatas,

cara menentukan nilai risiko

Tingkat resiko diatas dihitung dengan menggunakan matrix penilaian resiko untuk mempermudah dalam proses penilaian resiko. Setelah resiko tersebut kita nilai, maka di tahapan selanjutnya kita akan mengevaluasi resiko.

Catatan :

Penilaian risiko tersebut sangatlah penting sehingga digunakan di beberapa sistem manajemen lainnya, antara lain ISO 17025, HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) pada ISO 22000, dll.

Langkah 4. Evaluasi Resiko

Mengevaluasi resiko yang sudah dinilai dengan proses analisa dan pertimbangan kontrol dengan existing control dengan melakukan :

  • Membandingkan hasil analisa dan nilai resiko awal dengan kriteria yang sudah ditetapkan tadi.
  • Menentukan prioritas risiko K3LH mana yang risiko sangat tinggi, risiko tinggi, risiko sedang, dan risiko rendah.

Residual Risk yang sudah dievaluasi dengan existing control harus dievaluasi kembali untuk menentukan apakah risk level dapat diterima atau tidak (acceptable risk) dengan melakukan :

  • Treat risk (Pengelolaan resiko) dengan menetapkan additional control untuk menurunkan risk level sampai dapat diterima.
  • Menetapkan time frame tindak lanjut additional control untuk menentukan program, due date, PIC dan progress.

Di dalam proses evaluasi risiko ini yang paling utama adalah untuk menentukan suatu risiko tersebut bisa diterima atau tidak dimana biasanya ditetapkan sesuai dengan prosedur di masing-masing perusahaan.

Misalnya :

Risiko yang bisa diterima adalah resiko yang rendah saja.

Artinya suatu pekerjaan bisa berlanjut seandainya suatu resiko sudah dalam level rendah atau tingkatan yang dapat diterima, jika seandainya resikonya masih sedang atau tinggi maka harus dilakukan tindakan kontrol pengendalian.

Setiap aktifitas yang sudah dilakukan proses risk assesment harus dibuat risk rangking dengan menetapkan top risk.

Inilah yang biasa kita sebut dengan dokumen tabel resiko dimana menunjukkan resiko mana yang tinggi, sedang, rendah, dst. Sehingga kita bisa menetapkan skala prioritas pengendaliannya yang mana dulu. Tentunya resiko yang sangat tinggi yang harus kita tetapkan prioritas untuk pengendalian.

Langkah 5. Pengendalian Risiko (Risk treatment)

Tujuan pengendalian risiko adalah :

  • Memprioritaskan pengendalian.
  • Menentukan pengendalian yang lebih proaktif / pendekatan sebelum kejadian.
  • Menurunkan tingkat resikonya

Hirarki Kontrol Resiko

hirarki kontrol resiko

Rekayasa

Pada hirarki kontrol resiko, prioritas yang paling tinggi adalah melakukan proses rekayasa melalui :

  • Eliminasi : Menghilangkan bahaya

Contoh :

    • Terdapat bahaya dari adanya lubang, maka eliminasinya adalah dengan menutup lobang tersebut.
    • Terdapat bahaya dari tumpahan oli di lantai, eliminasinya adalah dengan menghilangkan tumpahan oli tersebut.

Namun adakalanya eliminasi tersebut tidak dapat dilakukan.

Contoh :

Pekerjaan dengan menggunakan excavator dimana penggunakan excavator tersebut berbahaya namun kita tidak mungkin menggantikan excavator tersebut karena pekerjaan bisa tidak berjalan.

  • Subtitusi

Subtitusi adalah menggantikan sesuatu yang berbahaya dengan yang kurang berbahaya.

Contoh :

Terdapat bahaya kimia dari bahan kimia yang bersifat karsinogenik kita ganti dengan bahaya bahan kimia yang non karsinogenik namun yang mempunyai fungsi sama.

Alat yang tadinya sistem manual kendali yang bisa menimbulkan bahaya digantikan dengan alat yang sistem kendalinya otomatik.

  • Isolasi

Isolasi / mengisolasi

Contoh :

    • Ada perbaikan satu unit alat maka sebelum dilakukan proses perbaikan harus dipasang lotto lock out tag out nya supaya orang tidak bisa menjalankan.
    • Memasang kerangkeng pada bagian mesin yang berputar.
Administrasi

Apabila proses rekayasa tersebut tidak bisa kita lakukan atau masih ada potensi bahaya atau risiko kemungkinan terjadi maka langkah pengendalian berikutnya adalah melakukan administrasi.

Contohnya :

  • Dengan memasang rambu
  • Memilih pekerja yang kompeten
  • Rotasi personel pada area yang bisa menimbulkan bahaya, misalnya ada area yang mempunyai kebisingan 85 dB maka setiap 4 jam sekali personel diganti / pembatasan jam kerja.
Praktek Kerja

Apabila rekayasa dan administrasi sudah dilakukan namun masih resiko sisa (residual risk) maka lakukan praktek kerja yaitu dengan membuat prosedur, JSA, sosialisasi training, dll.

Alat Pelindung Diri

Apabila masih ada potensi resiko sisanya maka langkah terakhir adalah karyawan harus dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri.

Baca Juga : Kriteria Alat Pelindung Diri (APD) yang Baik

Penting!

Jika kita lihat hirarki kontrol risiko tersebut, semakin keatas semakin tinggi tingkat perlindungannya, karena semakin keatas (rekayasa) yang dilindungi adalah fokusnya adalah sumber bahaya, dan semakin ke bawah (pemakaian APD) yang dilindungi adalah orang dimana pada dasarnya orang mempunyai sifat lalai.

Nah kita sebagai karyawan tentunya harus lebih mengutamakan rekayasa pada hirarki kontrol karena APD ini adalah merupakan perlindungan yang hanya sekedar mengurangi dampak.

Strategi Pengelolaan Risiko

residual risk system

  • Risiko yang sangat tinggi dampaknya dan seringkali kejadian maka strategi pengelolaan risiko adalah hindari resiko tersebut / stop resiko tersebut.
  • Risiko yang dampaknya sangat besar namun kemungkinan kejadiannya kurang maka strategi pengelolaan resikonya adalah dengan mentransfer resiko tersebut, misalnya dengan menggunakan jasa asuransi.
  • Risiko rendah atau sedang namun kejadiannya sering maka strategi pengelolaan resikonya dengan adalah melakukan proses mitigasi atau mengurangi resikonya atau melakukan treats risk.
  • Risiko rendah dan kejadiannya juga jarang maka bagaimanapun kita harus menjalankan aktifitas (accept the risk). Misalnya : meskipun pekerjaan tambang itu beresiko sangat tinggi, namun sudah kita kendalikan pada tataran sehingga riskonya rendah dan kejadiannya kurang maka risiko tetrsebut bisa kita terima dan pekerjaan tetap bisa kita lakukan.

“Prinsipnya : safety adalah bukan untuk menstop pekerjaan tapi mengendalikan risiko”

 

cara pengendalian risiko

Tabel diatas pada kolom terakhir merupakan contoh dari tindakan pengendalian risiko. Pada tabel diatas, tingkat risiko masih kita kategorikan sebagai risiko murni karena belum ada pengendalian sama sekali. nah setelah dilakukan pengendalian maka harus dihitung lagi nilai risikonya, apakah ada penurunan / tidak nilai risikonya.

Perhitungan nilai risko setelah dilakukan tindakan pengendalian tersebut disebut dengan risiko sisa / residual risk.

Jika seandainya residual risk nya  masih tinggi dan masih berpotensi bahaya maka harus ada saran rekomendasi yang harus ditetapkan di kolom selanjutnya.

Pemantauan dan Peninjauan HIRADC atau IBPR

HIRAD atau IBPR harus dimonitor dan dikaji ulang untuk memastikan efektifitas dari manajemen resiko.

Pemantauan dilakukan terhadap hal-hal berikut :

  • Bagaimana kepatuhan terhadap regulasi / peraturan perundang-undangan yang sudah ditetapkan dalam dokumen risk assestment.
  • Memantau hal-hal critical (Top Risks) sudah dilakukan kontrol dengan benar / tidak, konsisten / tidak. Pemantauan dan monitoring dilakukan oleh para pengawas di lapangan.
  • Kesesuaian pelaksanaan dengan dokumen risk assestment yang ada.
  • Kepatuhan karyawan terhadap kontrol yang telah ditetapkan.
  • Efektivitas komunikasi kontrol manajement terhadap karyawannya.
  • Memastikan PIC sudah menjalankan tugasnya atau tidak.

Setelah dipantau kemudian harus dikaji ulang / direview. Document manajemen resiko / dokumen HIRDC merupakan live dokumen / dokumen hidup yang tidak hanya dibuat sekali saja, namun harus selalu dikaji ulang secara berkala untuk menentukan apakah proses re assessment nya sudah benar dilakukan atau belum, apakah ada perubahan terkait aktifitas atau tidak, apakah perlu kontrol pengendalian yang lebih advance lagi sejalan dengan teknologi yang digunakan atau tidak, dll

Kaji ulang tentunya juga harus dilakukan seandainya peraturan / perundang-undangan terkait berubah, misalnya : terkait dengan peraturan nilai ambang batas (NAB) yang berubah,dll

Terlebih jika terjadi kecelakaan.

Setiap kali terjadi kecelakaan terhadap satu aktifitas tertentu yang ada di dalam dokumen HIRADC kita, maka kita harus evaluasi lagi HIRADC nya.

Apakah ada prosedur yang tidak dilaksanakan / kontrol yang kurang, dll…

Meskipun tidak terjadi perubahan apapun HIRADC tetap minimal satu kali setahun dikaji bersama.

Kesimpulan

HIRADC atau IBPR merupakan bagian penting dari keseluruhan program pencegahan kecelakaan yang harus dilakukan di depan. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, konsep manajemen sistem HIRADC atau risk management ini termasuk di bagian perencanaan sebelum operasional berjalan sehingga proses HIRADC ini harus ada / dibuat dulu.

HIRADC atau IBPR merupakan suatu skill atau keterampilan yang wajib dikuasai oleh pengawas.

Setiap pengawas harus bisa memakai harus bisa menggunakan HIRADC atau IBPR untuk setiap kegiatan yang supervisinya.

Misalnya :

  • Saat melakukan line-out terhadap staffnya.
  • Saat melakukan inspeksi investigasi
  • Saat membuat JSA

Dan harus bisa menentukan pengendalian dari bahaya dan risiko yang muncul di area kerja masing-masing.

Berikut ini adalah gambaran sederhana HIRADC atau IBPR

Semoga Bermanfaat

Sumber dan Referensi :

Youtube Chanel RSS Safetypreneur 1979

Pengendalian Operasional dan Desain Pengembangan pada ISO 9001

Pengendalian Operasional dan Desain Pengembangan pada ISO 9001

Operasional merupakan bagian penting dalam suatu perusahaan, hal-hal apapun yang sudah direncanakan tanpa dilakukan maka tidak akan menghasilkan output seperti yang diharapkan. Di dalam standar ISO 9001 : 2015 yang terkait dengan operasional ini ada di klausul 8 dimana klausul ini memiliki isi paling banyak diantara klausul yang lainnya dalam ISO 9001 : 2015.

Klausul ini berisi kaidah-kaidah yang penting untuk diperhatikan dalam proses operasional di dalam suatu perusahaan, mencakup kaidah :

  1. Perencanaan dan pengendalian operasi
  2. Persyaratan produk dan jasa
  3. Desain pengembangan produk
  4. Pengendalian Proses produk dan jasa yang disediakan eksternal.
  5. Produksi dan penyediaan jasa.
  6. Pelepasan produk dan jasa
  7. Pengendalian produk yang tidak sesuai.

Seperti kita ketahui ISO 9001 adalah standar sistem manajemen yang berlaku untuk semua jenis perusahaan, maka istilah yang digunakan di dalam standar ini dapat mengacu kepada perusahaan yang fokus memproduksi produk atau fokus memberikan jasa.

Sub Klausul 8.1 – Perencanaan dan Pengendalian Operasi

Perencanaan dan pengendalian operasional di dalam sub klausul ini mirip dengan klausul 4.4 yakni tentang proses bisnis. Hal yang harus dilakukan adalah kita harus menetapkan dan mengendalikan hal-hal seperti :

  • Proses input produksi
  • Proses produksi
  • Output produksi
  • Aspek yang harus diperhatikan dalam produksi
  • Sumber daya yang dibutuhkan dalam proses.

Untuk memudahkan dalam memahaminya kita bisa lihat ilustrasi pada gambar berikut.

klausul 8 iso 9001

Bayangkan kita punya bagian input sebelah kiri, kemudian masuk ke bagian proses, kemudian output.

Di atas proses, kita lihat ada risiko, peluang, dan sasaran mutu.

Dibawah proses ada penyediaan sumber daya yang dibutuhkan.

Input proses dapat berbentuk kriteria proses atau spesifikasi produk dan jasa yang dapat diterima oleh pasar.

Untuk proses produksi sendiri kita akan diskusikan nanti sub klausul 8.4 dan 8.5 ISO 9001 : 2015, sedangkan output produksi akan dibahas di sub klausul 8.6 dan 8.7 ISO 9001 : 2015.

Pada proses produksi, kita melihat hubungan dengan risiko, peluang, dan sasaran mutu dimana aspek-aspek tersebut dibahas di klausul 6 ISO 9001 : 2015 tentang perencanaan.

Sedangkan hubungan proses dengan sumber daya terkait dengan fasilitas seperti mesin, orang, tempat kerja, alat ukur dan aspek lainnya yang mendukung terlaksananya proses produksi sesuai dengan kriteria input.

Setelah itu kita hanya harus mengidentifikasi kembali dokumen apa saja yang diperlukan untuk mendukung seluruh konsep perencanaan dan pengendalian operasi tersebut.

Sub Klausul 8.2 Persyaratan Produk dan Jasa

Setiap produk dan jasa yang diproduksi tentunya memiliki persyaratan tertentu.

Misalnya : helm, smartphone

  • Helm tentunya memiliki persyaratan kekuatan, spesifikasi, material, dan dimensi.
  • Smartphone tentunya memiliki persyaratan terkait dengan ukuran memori, spesifikasi, kamera, dimensi, operating system, dll.

Terkati dengan bagaimana kita mengumpulkan seluruh sumber yang berisi persyaratan produk dan jasa yang kita produksi adalah tujuan dari sub klausul 8.2 ini.

Sumber utama persyaratan produk dan jasa adalah pelanggan atau pasar.

Jika komunikasi perusahaan dengan customer tidak menghasilkan input yang cukup, maka kita juga akan kekurangan aspek terhadap persyaratan produk dan jasa yang harus kita penuhi.

Oleh karena itu kita harus memastikan bahwa komunikasi dengan pelanggan harus mencakup 5 hal, yaitu :

  1. Memberikan informasi yang jelas karakteristik produk atau jasa yang kita produksi, hal ini sering kita kenal dengan product knowledge.
  2. Menangani permintaan informasi lebih lanjut, kontrak atau pesanan, termasuk perubahan pada produk atau jasa.
  3. Membuka kanal feedback atau umpan balik pelanggan yang berhubungan dengan produk dan jasa termasuk dengan keluhan pelanggan
  4. Menangani atau mengendalikan kekayaan pelanggan.
  5. Menetapkan persyaratan khusus jika relevan.

Persyaratan khusus ini biasanya diperuntukkan untuk produk atau jasa yang custom atau mengikuti detail keinginan pelanggan.

Setelah kita memaksimalkan komunikasi pelanggan, sumber persyaratan produk dan jasa lainnya adalah persyaratan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Persyaratan atau undang-undang yang dimaksud sering berupa standar atau yang kita kenal sebagai SNI yakni standar nasional Indonesia.

Misalnya :

  • Helm merupakan produk yang wajib memenuhi standar SNI.
  • Smartphone juga memiliki standar spesifikasi material atau TKDN untuk dapat dipasarkan di Indonesia.

Peraturan / standar tersebut adalah persyaratan yang harus dipatuhi dalam memproduksi dan memasarkan produk dan jasa dari suatu perusahaan.

Namun terkadang tidak seluruh persyaratan baik dari pelanggan maupun dari peraturan dapat kita penuhi semuanya sebab kita juga memiliki keterbatasan sumber daya untuk memenuhi segala spesifikasi yang dipersyaratkan.

Sehingga kita harus memastikan persyaratan apa saja yang bersifat wajib dan mampu kita penuhi kemudian mendokumentasikannya di dalam dokumen tertentu sebagai acuan dalam melakukan produksi.

Jika suatu saat sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan meningkat atau bahkan berkurang sehingga berdampak terhadap total kriteria atau persyaratan yang dapat dipenuhi maka organisasi harus memastikan perubahan persyaratan tersebut tertuang dalam dokumen yang sudah ditetapkan tadi.

Sub Klausul 8.3 Desain dan Pengembangan Produk dan Jasa

Desain dan Pengembangan Produk dan Jasa

Untuk teman-teman yang sudah bekerja di industri tentunya sudah familiar dengan istilah R&D (Research and Development). Seorang yang bekerja di bagian R&D (Research and Development) harus paham tentang konsep desain dan pengembangan produk dan jasa dalam ISO 9001 : 2015 ini.

Bahkan dibeberapa sektor perusahaan aktivitas R&D ini menjadi aktivitas utama.

Contoh :

Perusahaan kimia atau Petro Kimia yang memproduksi bahan kimia sesuai dengan kebutuhan pasar, maka mereka harus memiliki fasilitas laboratorium yang memadai untuk melakukan uji coba desain dan pengembangan produk baru sebelum diproduksi secara masal di pabrik.

Perusahaan jamu yang sudah menerapkan standar CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) pastinya juga mempunyai bagian R&D yang bertugas untuk pengembangan produk-produknya.

Aktivitas desain dan pengembangan produk dan jasa terbagi menjadi beberapa aspek diantaranya adalah :

  • Perencanaan Desain

Dalam perencanaan desain kita harus memastikan segala proses dan informasi yang dibutuhkan dalam melakukan desain dan pengembangan produk dan jasa.

Informasi tersebut dapat berasal dari divisi lain seperti divisi penjualan dan pemasaran, divisi produksi, dan divisi perencanaan produk.

Kita juga harus merencanakan tentang bagaimana desain yang kita buat nanti akan diverifikasi dan divalidasi.

Untuk itu kita harus tahu apa bedanya verifikasi dan validasi.

Verifikasi adalah kesesuaian hasil dengan perencanaan sedangkan validasi adalah kesesuaian hasil dengan apa yang kita harapkan.

  • Input Desain

Di dalam input design kita harus memastikan segala informasi dan spesifikasi yang dimaksudkan di dalam design yang hendak kita lakukan.

Informasi atau spesifikasi tersebut dapat berupa sifat, durasi, kerumitan, dan karakteristik lainnya sesuai dengan permintaan pelanggan dan pasar.

Maka umumnya kita akan berhubungan dengan divisi penjualan dan pemasaran untuk menganalisis apa sebetulnya yang diminta oleh pasar.
Disamping itu kita juga harus pastikan kembali persyaratan atau peraturan yang harus dipenuhi terkait dengan produk atau jasa yang ingin kita design.

  • Pengendalian desain

Setelah kita memastikan perencanaan dan input desain pengembangan produk maka tahap selanjutnya adalah melakukan desain dan pengembangan produk kita sendiri yang kemudian akan menghasilkan suatu produk atau jasa yang kita inginkan.

Nah di sinilah tahap kesesuaian dengan apa yang kita bicarakan tadi.

Kita harus melakukan verifikasi dan validasi terhadap hasil desain dan pengembangan yang ada.

  • Output Desain

Kita harus memastikan bahwa output desain dan pengembangan memenuhi persyaratan input dan memadai untuk proses selanjutnya artinya proses produksi dalam skala lebih besar.

Kemudian kita harus menyimpan informasi terdokumentasi tentang output desain dan pengembangan yang sudah dilakukan.

  • Perubahan Desain

Jika ada perubahan desain dan pengembangan yang dilakukan karena hasil verifikasi dan validasi menunjukkan harus dilakukannya desain ulang. maka kita harus menyimpan atau mendokumentasikan tentang proses perubahan desain yang terjadi.

Hal ini sangat penting karena terkait dengan trial-and-error dalam proses desain dan pengembangan.

Jika dalam proses desain ulang kita menggunakan persyaratan dan spesifikasi yang sebelumnya tidak valid maka output desain yang dihasilkan menjadi tidak sesuai lagi.

Oleh karena itu kita harus memastikan perubahan apa saja yang harus ditetapkan pasca dilakukannya verifikasi dan validasi.

Baca Juga : Kapan Melakukan Verifikasi dan Validasi Metode Analisis

Sub klausul 8.4 Pengendalian Proses Produk dan Jasa yang Disediakan Eksternal

seleksi vendor

Tentunya kita pernah mendengar istilah subkontraktor, vendor, atau supplier. Mereka adalah pihak-pihak eksternal yang mendukung kegiatan operasional yang ada di dalam suatu perusahaan.

ISO 9001 : 2015 mengatur pihak-pihak tersebut didalam sub klausul khusus karena terkait dengan kepastian output yang dihasilkan sebab pihak-pihak tersebut (kontraktor, vendor, dan supplier) adalah perusahaan lain diluar lingkup wewenang perusahaan kita sehingga kita tidak bisa secara langsung memberikan tindakan atau konsekuensi terhadap ketidaksesuaian yang dihasilkan oleh mereka.

Sehingga kita harus memastikan adanya pengendalian proses yang dilakukan oleh pihak ketiga tersebut.

Jenis-jenis proses yang dilakukan oleh pihak eksternal tersebut , Ada 4 jenis kerjasama yang dilakukan dengan pihak ketiga tersebut, yaitu :

  1. Proses eksternal dilakukan secara terpisah dengan proses internal perusahaan kita kemudian dipadukan menjadi produk akhir.
  2. Proses eksternal langsung menjadi produk kemudian masuk ke perusahaan kita dan kita langsung menjualnya.
  3. Produk atau jasa diproduksi oleh perusahaan eksternal namun langsung kita claim menjadi produk perusahaan kita.
  4. Proses eksternal dilakukan sebagai pelengkap di dalam rantai proses internal kemudian dipadukan dan menjadi produk.

Dari keempat jenis proses hubungan kerjasama tersebut, tentu masing-masing memiliki konsekuensinya.

Misalnya : Cara mengendalikan proses eksternal jenis hubungan nomor 3 akan sangat jauh berbeda dengan hubungan nomor 4.

Sebab hubungan nomor 3 perusahaan memiliki wewenang yang lebih besar daripada pihak eksternal, karena seluruh produk yang dihasilkan oleh perusahaan eksternal akan langsung diklaim sebagai produk perusahaan kita.

Sedangkan di dalam bentuk hubungan nomor 4, proses eksternal dilakukan dalam rangka melengkapi rantai proses internal.

Biasanya aktivitas eksternal diproses nomor 4 ini dilakukan untuk memproduksi bagian kecil dari produk atau jasa sebelum proses akhir produksi dilakukan.

Contoh dari bentuk hubungan nomor 3 misalnya : perusahaan sepatu dengan merk ABC, ternyata sepatu-sepatu tersebut diproduksi di negara-negara asia tenggara.

Namun perusahaan yang memproduksi sepatu tersebut bukan sepenuhnya perusahaan milik ABC, melainkan perusahaan lokal yang hanya fokus memproduksi sepatu, namun setelah sepatu selesai diproduksi maka semuanya akan diklaim sebagai produk dari brand ABC tersebut dan perusahaan produsen tidak boleh memasarkannya langsung.

Lalu bagaimana cara mengendalikannya?

Setidaknya ada tiga aktivitas yang harus kita lakukan dalam mengendalikan proses produksi secara eksternal :

  • Seleksi

Tahapan ini diperlukan untuk melakukan seleksi dari seluruh calon pihak ketiga yang akan bekerjasama dan perusahaan kita. Kita perlu menetapkan kriteria apa saja yang harus dimiliki oleh pihak ketiga tersebut.

Contohnya berdasarkan kapasitas produksi dan legalitas perusahaan.

Tentu kita memiliki harapan tersendiri terhadap pihak ketiga tersebut untuk memenuhi kualitas produk yang kita harapkan.

Jika kapasitas atau kualitas produksi mereka tidak dapat memenuhi permintaan maka kita harus mencari pihak ketiga yang lain yang sesuai dengan kriteria yang kita tentukan.

Selain itu kita juga ingin perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita adalah perusahaan yang legal dan patuh dengan hukum sehingga kita tidak akan mendapati masalah di kemudian hari.

Biasanya proses seleksi pihak ketiga disebut dengan tender dimana berlangsung proses penilaian atau fit and proper test bagi calon penyedia eksternal.

Oleh karena itu sebelum kita melakukan seleksi pihak ketiga kita mengkomunikasikan beberapa informasi berikut antara lain :

    1. Proses atau produk dan jasa yang akan diproduksi
    2. Kompetensi atau kualifikasi yang diperlukan dari personil pihak ketiga
    3. Peraturan dan persyaratan yang harus dipatuhi
  • Monitoring

Setelah didapatkannya pihak ketiga yang memenuhi persyaratan maka pihak ketiga baik itu subkontraktor, vendor, atau supplier setelah bekerjasama dengan perusahaan kita walaupun mereka sudah lolos seleksi, kita tetap perlu untuk melakukan pemantauan dari aktivitas kerja yang mereka lakukan untuk memastikan kesesuaian hasil yang kita harapkan.

Umumnya kita mengevaluasi dari :

    1. Kualitas produk atau jasa yang dilakukan
    2. Efektivitas dan efisiensi kinerja
    3. Kesesuaian terhadap persyaratan dan peraturan yang berlaku
    4. Waktu pekerjaan yang telah disepakati

Kita dapat menambahkan kriteria apapun sesuai dengan kebutuhan proses produksi produk dan jasa yang kita miliki.

  • Evaluasi

Setelah kita melakukan pemantauan kinerja, kita akan mengetahui apakah pihak ketiga tersebut memenuhi harapan kita atau tidak sehingga di akhir masa kontrak kita akan memutuskan apakah kerjasama kita dengan mereka akan dilanjutkan / tidak.

Catatan :

Jika saat ini teman-teman sedang melakukan seleksi terhadap supplier yang terkait dengan pembelian alat ukur, maka teman-teman bisa membaca artikel kami mengenai pengelolaan peralatan laboratorium, disitu dijelaskan mengenai hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam memilih supplier alat ukur.

Sub Klausul 8.5 Produksi dan Penyediaan Jasa

produksi dan penyediaan jasa

Didalam sub klausul ini kita akan mempelajari 4 hal :

  1. Pengendalian produksi
  2. Identifikasi dan ketertelusuran
  3. Kekayaan milik pelanggan
  4. Preservasi

Pengendalian Produksi

Hal ini hanya fokus pada bagaimana kita memastikan proses produksi dan penyediaan jasa terkendali, yang mencakup bagaimana seluruh standar persyaratan dan spesifikasi terpenuhi dalam proses produksi.

Misalnya :

  • Pada produksi PT.ABC tentunya harus memperhatikan kondisi mesin produksi seperti kondisi oli, bahan bakar, kebersihan, dan kelistrikan.
  • Atau misalkan dalam penyediaan jasa perhotelan, kita harus memperhatikan bagaimana personil resepsionis memiliki keramahan dalam berkomunikasi dengan pelanggan.

Identifikasi dan Ketertelusuran

Hal ini menjadi sangat penting untuk memastikan identitas produk atau jasa yang diterima oleh pelanggan. Sebab saat terjadi ketidak sesuaian produk atau jasa kita akan mudah mengidentifikasi proses mana yang menghasilkan ketidaksesuaian tersebut.

Jika kita tidak memiliki ketertelusuran maka akan sulit mencari akar masalah atau melacak bagian mana yang bermasalah.

Implementasinya biasanya setiap produk memiliki nomor seri / nomor batch yang menerangkan tentang waktu produksi, material, atau kelompok produksi, dan keterangan lainnya.

Kekayaan Milik Pelanggan

Contoh sederhananya adalah di sektor bisnis pakaian atau garment.

Banyak produksi yang dilakukan dengan menggunakan bahan mirip pelanggan, maka kita harus menetapkan proses pengendalian agar barang-barang milik pelanggan tersebut tidak rusak.

Preservasi

simbol kemasan tersier

 

Preservasi adalah bagaimana cara untuk menjaga produk dan jasa agar tetap sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.

Sebenarnya hal ini akan mudah dipahami jika kita melihat tanda berikut / beberapa simbol seperti :

  • Jangan melempar barang
  • Jangan menumpuk barang lebih dari delapan tumpukan
  • Barang yang mudah pecah baik

Dimana tanda atau simbol tersebut biasanya tertera di dalam kemasan primer, sekunder atau tersier suatu produk.

Sub Klausul 8.6 Pelepasan Produk dan Jasa

Perusahaan harus melaksanakan pengaturan yang direncanakan pada tahapan-tahapan yang tepat untuk memverifikasi bahwa persyaratan produk dan jasa telah dipenuhi.

Proses ini biasanya ditandai dengan aktivitas quality control staff / qc inspector / qa inspector / pemantauan serta pengendalian terhadap terpenuhinya persyaratan kualitas produk atau jasa.

Misalkan produk biskuit dari PT. ABC harus melalui proses pemeriksaan kualitas terlebih dahulu sebelum produk tersebut didistribusikan ke pelanggan karena kita harus mengidentifikasi dan memisahkan produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan.

Baca Juga : Tugas Inspector QA di Industri Farmasi

Sub Klausul 8.7 Pengendalian Output yang Tidak Sesuai

Dalam sub klausul kita harus merencanakan tindakan yang diperlukan saat produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi yang kita harapkan.

Terlebih jika produk tersebut atau jasa tersebut sudah sampai ke tangan pelanggan.

Maka beberapa tindakan yang diperlukan biasanya adalah proses pengembalian produk atau retur, kemudian pemisahan atau penahanan produk dan jasa yang tidak sesuai, atau ganti rugi.

Segala ketidak sesuaian produk dan jasa tersebut harus didokumentasikan dengan baik untuk menghindari terjadinya kesalahan yang sama di kemudian hari.

Kesimpulan

Klausul 8 tentang operasional ini sangat tergantung dari karakteristik perusahaan, semakin kompleks dan besar ukuran perusahaan maka semakin banyak aspek pengendalian operasional yang harus ditetapkan, dikendalikan, serta dievaluasi sesuai dengan standar di klausul 8 ISO 9001 : 2015.

Namun jika perusahaan tersebut relatif kecil dan sederhana, kaidah-kaidah yang ada di klausul 8 tetap harus dilakukan hanya saja dengan lingkup yang lebih sederhana.

Dalam praktiknya umumnya ada klausul yang dikecualikan, jika memang tidak ada aktivitas yang dimaksudkan.

Biasanya klausul yang dikecualikan adalah klausul desain dan pengembangan atau klausul tentang barang milik pelanggan, sebab tidak semua perusahaan memiliki proses desain dan pengembangan dan tidak semua perusahaan memiliki proses yang melibatkan barang milik pelanggan.

Oya, untuk klausul 8 ISO 9001 : 2015 ini merupakan fase “DO” di dalam siklus PDCA – Plan Do Check Action.

Semoga Bermanfaat.

Referensi Belajar

Pejuang Karyawan Channel Youtube

Tugas Inspector QA (Quality Assurance) di Industri Farmasi

Tugas Inspector QA (Quality Assurance) di Industri Farmasi

Banyak departemen di dalam perusahaan, dan juga banyak bagian dengan masing-masing tugasnya di dalam departemen tersebut, sebut saja operator produksi, QC analis, staff gudang, bagian teknik / maintenance, inspector QA, staff formulasi, dll. Nah kali ini kali ini kita akan khusus membahas mengenai tugas inspector QA tersebut khususnya di perusahaan makanan atau farmasi yang mungkin telah menerapkan standar CPOTB ataupun CPOB.

Singkatan di dalam Artikel ini :

QA : Quality Assurance

QC : Quality Control

CPOB : Cara Pembuatan Obat yang Baik

CPOTB : Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

Sekilas Tugas Inspector di Industri Farmasi

Inspector adalah orang yang pekerjaannya langsung mengamati proses produksi obat atau obat tradisional di ruang produksi dimana hasil pengamatannya ditulis kemudian dilaporkan ke atasannya / supervisor baik supervisor QC / supervisor QA.

Untuk QA sendiri biasanya terkait dengan pelulusan produk jadi dan juga validasi.

Meskipun ada juga perusahaan lain yang QA dan validasinya ini dijadikan departemen terpisah sehingga inspektornya dinamakan Inspector validasi.

Setelah melapor ke supervisor, kemudian supervisor membuat laporan dengan kesimpulan yang dia sampaikan ke manajer dan manajer QA menyetujui laporan tersebut kemudian laporan ini akan digunakan oleh bagian pelulusan produk.

Jadi QA tadi untuk meluluskan atau mereject / menolak produk jadi.

Kurang lebih seperti alur diatas gambaran umum tugas QA Inspector dalam industri Farmasi / dalam pabrik obat.

Nah sekarang kita bahas khusus mengenai inspector. Apa aja sih tugas-tugasnya?

Seperti kita ketahui, inspector dalam suatu perusahaan makanan / farmasi ada 2 macam, yaitu :

  • Inspector QC
  • Inspector QA

Disini anggap validasi masuk ke QA ya.

Tugas Inspector QC

Untuk inspector QC seperti yang kita telah dibahas sebelumnya, beberapa tugasnya antara lain mengambil sampel dan melakukan phisical test pada tahap sebelum produk jadi.

Misalnya :

Perusahaan farmasi dengan produk tablet, maka di dalam proses sebelum menjadi produk tablet tersebut tentunya ada tahapan / proses sebelumnya antara lain : penimbangan, pencampuran, granulasi, dll.

Nah mereka mengambil sampel dan melakukan phisical test pada tahapan-tahapan tersebut.

Apa itu phisical test?

Phisical test yaitu melakukan analisa dengan cara seperti melihat warnanya sesuai dengan yang seharusnya atau tidak, bentuk produk (serbuk / granul), uji kekerasan, uji kerapuhan, dll

Hal-hal tersebut biasa dilakukan oleh Inspector QC.

Tugas Inspector QA

Pemeriksaan Batch Record

contoh batch record

Mengecek kelengkapan batch record, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh inpector QA bagian pelulusan produk jadi.

Jadi pada saat melakukan proses produksi obat harus terdapat batch record berupa kumpulan lembaran-lembaran kertas / form yang telah diisi oleh bagian produksi dan dilakukan pengecekan oleh bagian QC misalnya pada catatan pengolahan batch, catatan pengemasan batch, contoh kemasan primer dan sekunder, hasil analisa mikrobiologi, dll.

Nah apakah pengisian batch record tersebut sudah secara benar dilakukan, apakah tanda tangan dari petugas yang berwenang (misal : operator, pengawas produksi, pengawas, QC) juga sudah diisi dengan lengkap, apakah secara yield / jumlah yang produk jadi memenuhi persyaratan atau tidak? Jika tidak maka harus ditelusuri permasalahannya, dll.

Validasi Proses dan Validasi Pembersihan

tugas qa inspector melakukan validasi proses

Namun kalau inspector QA cenderung ke validasi, itupun hanya untuk produk-produk yang sedang divalidasi ataupun yang sedang di revalidasi, misalnya : adanya produk baru maka harus dilakukan validasi proses terhadap produk baru tersebut termasuk dengan validasi pembersihan jika pada mesin-mesin yang digunakan untuk proses produk baru tersebut.

Menempel Label QA Released

label qa released

Menempel label QA released dan memastikan penyusunan di truk container sudah dilakukan dengan benar. Hal ini juga biasanya menjadi tanggung jawab inspector QA pelulusan produk jadi.

Ketika manager QA memutuskan bahwa produk jadi di released / diluluskan maka harus ditempel label QA Released. Label ini berbentuk kotak kecil atau besar tergantung sama perusahaannya dan terdapat tulisan QA released.

Penyusunan dalam truck container tersebut untuk memastikan bahwa dalam proses distribusi, kardus obat tidak rusak. Seperti kita ketahui begitu keluar dari gudang produk jadi maka produk / obat tersebut akan diangkut ke Pedagang Besar Farmasi (PBF) sehingga harus dipastikan bahwa proses pemasukan obat ke dalam truk dan susunan kardus-kardus obat di dalam truk tadi.

Melakukan Uji Stabilita

uji stabilita

Mengambil sampel dan melakukan phisical test untuk keperluan uji stabilita. Untuk sampel ini biasanya dilakukan oleh inspektor QA dimana di departemen QA tersebut umumnya terdapat bagian stability yang salah satu tanggung jawabnya adalah mengambil sampel kemudian melakukan pengecekan dalam interval tertentu.

Misalnya : per 1 bulan, per 3 bulan, per 6 bulan, per 9 bulan, per 12 bulan yang tujuannya untuk melihat apakah obat itu stabil atau tidak.

Contohnya : perusahaan menghassilkan produk dengan masa kadaluwarsa 2 tahun, maka inspector QA tersebut akan melakukan pengecekan pada sampel stability pada interval 3 ; 6 ; 9 ; 12 ; 15 ; 18 ; 21 ; 24 bulan (atau engan interval yang sudah ditetapkan pada prosedur uji stabilita.

Melakukan Inspeksi Diri

Seperti yang kita ketahui, inspeksi dari ini merupakan salah satu persyaratan dari perusahaan yang menerapkan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) dan CPOB. Dan hal ini merupakan salah satu bagian tugas dari QA.

Sangat penting bagi personel QA untuk mendapatkan pelatihan CPOTB dan CPOB sebelum dia melakukan tugas inspeksi diri karena seperti kita ketahui pada saat inspeksi diri tersebut mereka akan melakukan penilaian dari pekerjaan sehari-hari / sistem yang sudah dilakukan di departemen lain khususnya di departemen produksi, QC, ataupun logistik.

Melakukan Audit Supplier

audit-proses-dan-audit-produk

Ini juga menjadi salah satu tugas tambahan dari inspektor QA dalam membantu supervisor QA.

Seperti kita ketahui untuk memproduksi obat atau obat tradisional, maka diperlukan bahan baku baik berupa raw material (RM) maupun packaging material.

Untuk memastikan kinerja pada supplier bahan baku terebut, maka harus dilakukan audit untuk supplier baru sebelum supplier tersebut masuk ke dalam daftar supplier terpilih, dan diaudit secara berkala dalam interval tertentu untuk supplier-supplier yang memang sudah masuk ke dalama daftar supplier terpilih.

Tentunya penentuan prioritas mana supplier yang harus diaudit terlebih dahulu bisa ditetapkan berdasarkan berbagai macam faktor, misalnya :

  • Quantity material yang di supply
  • Tingkat reject material yang di supply
  • dll

Dari aktivitas audit tersebut akan memberikan kesimpulan apakah supplier tersebut masih layak digunakan sebagai pemasok atau dikeluarkan dari pemasok.

Jika audit supplier tersebut ditemukan banyak kesesuian makan supplier bersangkutan harus membuat CAPA (Corrective Action and Preventive Action) sebelum mereka memasok produknya ke perusahaan kita.

Menjalankan Program Kalibrasi

Mengkoordinir program kalibrasi di dalam suatu perusahaan merupakan hal penting. Seperti kita ketahui, tentunya terdapat banyak sekali peralatan / mesin di dalam perusahaan tersebut, dan terkadang kalibrasi ini menjadi bagian dari departemen QA (meskipun ada perusahaan lain yang memasukkannya di departemen teknik).

Nah disinilah peran inspektor QA, dia harus membantu supervisor QA dalam menyusun prosedur untuk pengelolaan alat ukur di perusahaan dan membuat form-form untuk keperluan yang terkait dengan kalibrasi alat ukur tersebut.

Misalnya :

  • Membuat form jadwal kalibrasi dan laporan kalibrasi bulanan.
  • Membuat form permintaan kalibrasi dari departemen lain.
  • dll.

Pada prinsipnya semua harus dikelola supaya tidak terjadi keterlambatan dalam kalibrasi alat.

Semoga bermanfaat