Pendekatan Bottom-Up Pada Perhitungan Estimasi Ketidakpastian

Pendekatan Bottom-Up Pada Perhitungan Estimasi Ketidakpastian

Malanjutkan artikel sebelumnya yang membahas mengenai ketidakpastian pengukuran baik dari pengertian, istilah umum yang sering digunakan, sumber informasi, rumus yang digunakan, tipe ketidakpastian, serta pendekatan dalam mengestimasi ketidakpastian dimana ada 2 pendekatan yaitu :

  • Pendekatan Top Down
  • Pendekatan Bottom Up

Maka pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai perhitungan estimasi ketidakpastian dengan pendekatan bottom-up, khususnya pada bagian bagaimana cara membuat model sistem pengujian dan menggambarkan grafik tulang ikan atau fishbone.

Tahapan Pendekatan Bottom Up pada Estimasi Ketidakpastian

Untuk melakukan perhitungan ketidakpastian pengujian dengan pendekatan bottom up, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu :

  • Buat model sistem pengujian

Model sistem pengujian adalah suatu flowchart atau diagram alir langkah demi langkah yang dilakukan pada pengujian sesuai Instruksi Kerja (IK) atau Standard Operating Prosedur (SOP) yang dimiliki laboratorium.

  • Tuliskan rumus yang digunakan untuk menghitung measurand atau analit
  • Gambarkan grafik tulang ikan sesuai dengan rumus yang digunakan
  • Dari grafik tulang ikan yang terbentuk, estimasi semua komponen yang memberikan kontribusi pada ketidakpastian dan dihitung sebagai ketidakpastian baku (u)
  • Gabungkan semua ketidakpastian baku menjadi ketidakpastian baku gabungan (Uc) sebagai akar dari jumlah kuadrat setiap ketidakpastian baku (u)

combined standard uncertainty

  • Tetapkan ketidakpastian diperluas menggunakan faktor pencakupan yang sesuai.

rumus ketidakpastsian bentangan

Contoh Perhitungan Ketidakpastian Pengujian

Contoh 1 : Pada Analisis Kadar Air

Berikut ini adalah model pengujian dari kadar air dengan rumus untuk menghitung kadar air dan bagaimana fishbone atau diagram tulang ikan dibuat dari rumus tersebut

flow chart pengujian kadar air

  • Tahap pertama apabila kita menggambarkan model sistem pengujian maka kita harus menuliskan langkah demi langkah yang dilakukan pada pengujian kadar air. Gambar diatas merupakan contoh flow chart pengujian kadar air.

Misalnya :

    1. Mula-mula timbang cawan kosong atau wadah kosong (M1)
    2. Setelah itu kita timbang cawan + contoh (M2), sehingga nanti dari M1 dan M2 dapat dihitung berapa berat contoh yang ditimbang.
    3. Setelah itu masukkan cawan + contoh kedalam oven laboratorium, sesuaikan dengan Instruksi Kerja untuk analisa kadar air tersebut, contoh : suhu yang digunakan adalah 105 °C  selama 3 jam.
    4. Setelah 3 jam cawan + contoh dikeluarkan dari oven, dan didinginkan terlebih dahulu dalam desikator.
    5. Setelah mencapai suhu kamar ditimbang berat kering cawan + contoh sampai diperoleh bobot tetap (M3)

Dari M1, M2, dan M3 dapat dihitung kadar air menggunakan rumus :

rumus kadar air

(M2 – M3) adalah air yang teruapkan / air yang menguap dari contoh.

(M2 – M1) adalah berat contoh yang ditimbang.

  • Dari rumus diatas, kita gambarkan fishbone / diagram tulang ikan.

fishbone kadar air

Pada saat menggambarkan diagram tulang ikan, gambarkan mula-mula tulang punggung ikannya sebagai garis tengah. Letakkan apa yang akan dicari pada bagian dari kepala ikan (dalam hal ini adalah kadar air). Setelah itu gambarkan pada fishbone tadi tulang-tulang utama, yaitu apa yang ada pada rumus, yaitu :

    • (M2 – M3) adalah Massa air yang teruapkan / air yang menguap dari contoh. maka akan ada tulang utama dari M air teruapkan terdiri atas tulang kecil M2 dan M3 dan yang sebelumnya sudah diketahui bahwa pada penimbangan akan ada dua komponen ketidakpastian yaitu :
      1. Ketidakpastian baku asal kalibrasi (K)
      2. Ketidakpastian baku asal presisi

Namun disini tulang kecil ketidakpastian baku asal presisi  tersebut dihilangkan karena sudah digantikan oleh tulang utama dari presisi metode. Hal ini bisa kita jelaskan jika tulang-tulang kecil dari presisi tidak dihilangkan maka yang terjadi adalah pada estimasi dari ketidakpastian asal presisi akan ada perhitungan dua kali. Sehingga untuk presisi dari M air teruapakan tersebut dihilangkan.

    • Setelah itu ada M contoh merupakan tulang utama. M Contoh berasal dari (M2 – M1)

Seperti halnya (M2 – M3) atau massa air yang teruapkan diatas, tiap-tiap tulang kecil M2 dan M1 mempunyai tulang-tulang kecil yang berasal kalibrasi.

Apa yang ada pada rumus sudah tergambarkan pada bagian ini tetapi fishbone / diagram tulang ikan terdiri bukan hanya dari apa yang ada pada rumus, tetapi dari rumus ditambah faktor-faktor lainnya yaitu sesuatu yang tidak ada pada rumus tapi berpengaruh dalam pengujian kadar air.

    • Misalnya efek suhu atau ruang dimana efek suhu adalah suhu oven dan efek ruang adalah ruangan dalam oven tadi.

Di dalam IK (Instruksi Kerja) dikatakan bahwa pada pengujian kadar air cawan dan contoh dipanaskan pada 105 °C. Oven memang diseting pada suhu 105 °C, akan tetapi laboratorium mempunyai sertifikat kalibrasi oven dan di dalam sertifikat kalibrasi oven tertera ketidakpastian oven ini misalnya ± 3 °C.

Berarti ada kemungkinan suhu dalam oven kisarannya antara 102 °C celcius sampai 108 °C.

Nah di dalam tulang utama dari efek suhu atau ruang ini harus diperhitungkan berapa ketidakpastian yang akan timbul apabila suhu kurang dari atau lebih dari 105° Celcius.

Itu sebabnya di sini ada ketidakpastian tambahan yang bukan berasal dari rumus.

    • Hal yang sama terjadi untuk tulang tambahan yang bukan berasal dari rumus yang didefinisikan sebagai asal presisi dan asal homogenitas.

Asal presisi ini disebabkan dari fakta bahwa apabila pengujian kadar air menggunakan SOP yang sama, diulangi lebih dari satu kali maka hasil uji pertama tidak akan sama benar dengan hasil uji kedua, begitu pula dengan hasil uji ketiga apabila dilakukan tidak adan sama dengan hasil uji kedua. Itu sebabnya ada ketidakpastian asal presisi metode.

    • Ketidakpastian asal homogenitas contoh juga harus ditambahkan apabila laboratorium berpendapat contoh yang dihadapinya saat ini punya faktor heterogenitas.

Jadi artinya contohnya tidak benar-benar homogen karena pada setiap pengujian seharusnya cuplikan yang diambil merupakan perwakilan dari contoh yang diberikan pada laboratorium, tapi karena ada faktor inhomogenitas atau ada faktor heterogenitas contoh, kadang cuplikan yang diambil tidak mewakili 100 % contoh yang diberikan pada laboratorium.

“Nah dari hal diatas dapat kita ketahui bahwa fishbone / diagram tulang ikan tidak hanya berasal dari rumus saja, namun juga bisa berasal dari faktor lainnya.”

Contoh 2 : Pada Pengujian Fosfat Dalam Air

Berikut ini adalah model pengujian kadar fosfat dalam air dengan metode spektrofotometer uv-vis menggunakan kurva kalibrasi, pasti laboratorium akan punya model sistem pengujian yang berbeda.

flow chart pengujian phospat

Dalam model sistem pengujian tersebut pertama-tama didefinisikan terlebih dahulu apa yang harus masuk dalam perhitungan pada rumus, misalnya dari gambar flowchart diatas:

  1. Pipet 50 ml sampel air, sehingga dari aktivitas ini ada V1 dan konsentrasi fosfat dalam sampel dinotasikan sebgai Csp (C sampel).
  2. Kemudian kedalam 50 ml sampel tersebut dimasukkan asam sulfat pekat dan 1 ml H2O2 dan dipanaskan sehingga larutan akan menjadi jernih.
  3. Kemudian saring dan masukkan ke dalam labu takar 50 ml. Dapat dilihat sampai pada tahap ini kita sudah dua kali menggunakan alat gelas :
    • Pipet Volume dengan volume 50 ml
    • Labu takar dengan volume 50 ml
  4. Dari kedua alat laboratorium (pipet volume dan labu takar) tersebut diatas, akan ada ketidakpastian asal pemakaian peralatan terebut.
  5. Setelah itu lakukan pemipetan terhadap sampel awal sebanyak 5 ml (yang dinotasikan sebagai V3).
  6. Masukkan sampel 5 ml tersebut ke dalam labu takar 50 ml dan tambahkan 5 ml reagen molibdat dan 2 ml hidrazin sulfat dan campuran tersebut dipanaskan dalam waterbath selama 10 menit, didinginkan, dan ditepatkan volumenya.

Bersamaan dengan hal diatas, disiapkan deret standar karena metode ini menggunakan kurva kalibrasi.

Deret standard dibuat dari dengan cara :

  1. Mula-mula membuat larutan induk sulfat dengan konsentrasi 50 mg/L.
  2. Setelah itu dipipet kedalam 4 labu takar 50 ml secara terpisah masing-masing :
    • 0,25 ml
    • 0,5 ml
    • 1 ml
    • 1,5 ml
  3. Larutan standar induk ditambahkan dengan pereaksi molibdat dan hidrazin sulfat kemudian dipanaskan dalam waterbath, didinginkan dan ditepatkan volumenya.
  4. Setelah itu baik deret standar maupun larutan sampel diukur absorbansinya atau serapannya pada panjang gelombang 840,5 nanometer.
  5. Dari hasil plotting larutan sampel pada kurva kalibrasi yang dibentuk oleh deret standar tersebut akan dihasilkan konsentrasi fosfat dalam larutan yang diukur (Cx).

Setelah itu kita harus memasukkan semua notasi yang ada di diatas ke dalam rumus Bagaimana Csp (C sampel) dihitung dari Cx yang diperoleh.

Berikut ini adalah rumusnya :

Rumus menghitung kadar phospat

Dimana :

V4/V3 adalah faktor pengenceran karena tadi sampel dipipet 5 ml dan dijadikan volume 50 ml yang melibatkan V3 dan v4) 

V2/V1 berapa mula-mula sampel dipipet dan dimasukkan ke dalam labu takar berapa ml yang melibatkan V1 dan V2

sehingga apabila rumus di remodifikasi akan diperoleh :

Csp (C sample) = CX x faktor pengenceran x (V2/v1)

fishbone pengujian phospat

Dan Diagram tulang ikan yang digambarkan sama seperti diagram tulang ikan pada pengujian kadar air dimana pada awalnya digambarkan tulang punggung ikannya dimana dicari C sampel yaitu konsentrasi fosfat dalam sampel air pada bagian kepala ikan.

Kemudian digambarkan semua yang ada pada rumus sebagai tulang utama yaitu :

  • CX
  • faktor pengenceran (F)
  • V2
  • v1

Dan diagram tulang ikan terdiri bukan hanya dari apa yang ada pada rumus, tetapi ada faktor lain yang tidak ada pada rumus berperan di dalam pengujian kadar fosfat yaitu :

  • Presisi metode sebagai tulang tambahan, karena ada tulang presisi metode maka duri kecil presisi yang harusnya ada di V1 ; V2 ; V3 ; dan V4 menjadi hilang karena semua sudah masuk didalam tulang utama presisi metode.

Kesimpulan

Pada pendekatan Bottom-Up pada perhitungan sstimasi ketidakpastian khususnya pada tahap membuat diagram tulang ikan, model sistem pengujian yang berbeda juga akan menghasilkan diagram tulang ikan yang berbeda pula.

Semoga Bermanfaat.

Referensi Sumber Belajar :

Pojok Laboratorium

Pengenalan Estimasi Ketidakpastian Pengujian Pada Laboratorium

ketidakpastian adalah

Seperti yang kita ketahui,  ketidakpastian merupakan salah satu klausul di dalam SNI ISO / IEC 17025 : 2017  tepatnya di klausul 7.6, dimana laboratorium pengujian / kalibrasi harus melakukan evaluasi / estimasi ketidakpastian. Hal ini merupakan aspek penting dalam penerapan sistem manajemen laboratorium dalam rangka memastikan hasil pengujian valid / akurat / dan dapat dipercaya. Bagaimana memahami ketidakpastian, rumus yang digunakan, serta cara mengestimasi ketidakpastian akan dibahas di dalam artikel ini.

Pengertian ketidakpastian

Ketidakpastian adalah suatu parameter yang menetapkan rentang nilai yang di dalam rentang tadi diperkirakan nilai benar yang diukur berada.

Contohnya :

Melalui pengujian AAS diperoleh kadar besi (Fe) dalam suatu mineral adalah 11,5 ± 0,05 %

contoh nilai ketidakpastian pengukuran

Menghitung rentang 0,05 % tersebut dikenal sebagai estimasi ketidakpastian

Sedangkan angka yang di depan tanda ± (11.5) adalah nilai hasil uji yang diperoleh laboratorium.

Istilah-Istilah dalam Ketidakpastian

Didalam mempelajari ketidakpastian ini, kita akan bertemu dengan beberapa istilah yang biasa digunakan, antara lain :

Komponen ketidakpastian

Komponen ketidakpastian adalah setiap kontribusi terpisah yang menyumbang ketidakpastian pada pengujian.

Contoh :

Ketidakpastian yang berasal dari penimbangan terdiri dari :

  • Ketidakpastian asal kalibrasi neraca

Seperti kita ketahui bahwa neraca yang ada di laboratorium yang digunakan untuk pengujian dikalibrasi oleh laboratorium kalibrasi terakreditasi yang laporannya dalam bentuk sertifikat kalibrasi dan di dalam sertifikat tersebut terdapat nilai ketidakpastian dari neraca tersebut.

  • Ketidakpastian asal presesi penimbangan

Hal ini dikarenakan apabila ditimbang anak massa seberat 2 gram atau 5 gram berulang kali akan didapatkan nilai yang tidak tepat sama antara penimbangan pertama, kedua, ketiga, dst.

Ketidakpastian yang berasal dari pemipetan terdiri dari :

  • Ketidakpastian asal kalibrasi pipet

Sama halnya dengan ketidakpastian asal kalibrasi neraca, untuk ketidakpastian asal kalibrasi pipet ini juga kita dapatkan dari sertifikat kalibrasi pipet.

 

  • Ketidakpastian asal presisi pemipetan
  • Ketidakpastian asal efek muai (efek temperatur).

akurasi pipet volume 10 ml

Apabila kita menggunakan pipet volume, maka kita bisa lihat pada bagian gondok dari pipet volume tersebut tertera angka ± misalnya : untuk pipet volume 10 mili mempunyai nilai 0,02 ml dan angka 20 °C. Hal ini mempunyai arti bahwa, pipet tersebut dikalibrasi oleh pabrikannya pada temperature 20° Celcius.

Namun pada saat pipet tersebut digunakan di laboratorium belum tentu suhunya 20° Celcius. Pada ruangan ber AC mungkin suhu ruangan adalah 24 derajat Celcius. Perbedaan suhu tersebut akan memberikan ketidakpastian asal efek muai atau efek temperatur.

Ketidakpastian Baku

yaitu komponen ketidakpastian yang dinyatakan sebagai standar deviasi. Ketidakpastian baku dinotasikan dengan u (huruf u kecil)

Ketidakpastian Baku Gabungan

yaitu penggabungan dari ketidakpastian baku, cara menggabungkannya :

  • Tahap 1 : Mengkuadratkan semua ketidakpastian baku yang akan digabungkan
  • Tahap 2 : Kemudian menjumlahkannya
  • Tahap 3 : Menarik akar dari jumlah kuadrat seluruh ketidakpastian baku yang digabungkan pada tahap 2 diatas.

Ketidakpastian diperluas

Ketidakpastian diperluas adalah bentuk ketidakpastian yang disandingkan dengan hasil uji pada sertifikat hasil uji. Jadi apabila kita menyatakan dalam sertifikat hasil uji atau laporan hasil uji yang tertulis di belakang angka ± haruslah ketidakpastian diperluas yaitu perkalian dari ketidakpastian baku gabungan dengan faktor pencakupan k untuk tingkat kepercayaan tertentu. Untuk laboratorium pengujian biasanya menggunakan tingkat kepercayaan : 95 % atau faktor cakupan (k) = 2. Ketidakpastian diperluas dinotasikan dengan U (huruf U BESAR)

Sumber-Sumber Ketidakpastian

Ada beberapa sumber ketidakpastian, antara lain :

  • Ketidakpastian baku asal sampling

Berasal dari pekerjaan mengambil contoh di tempatnya. Misalnya : kita mengambil / melakukan sampling air sungai di sungainya. Dari kegiatan ini akan muncul ketidakpastian baku asal sempling.

  • Ketidakpastian baku asal homogenitas contoh

Misalnya dari aktivitas sampling di sungai pada langkah diatas sudah diambil satu jerigen air sungai, dibawa ke laboratorium dan untuk keperluan analisis hanya diambil 25 ml air sungai atau dilakukan sub sampling. Dari aktifitas ini muncul ketidakpastian baku asal homogenitas contoh.

  • Ketidakpastian baku asal recovery

Ketika sampel diuji, sebelum kita ukur sampel tersebut, maka akan melewati proses yang disebut preparasi contoh. pada preparasi contoh akan ada ketidakpastian baku asal recovery.

  • Ketidakpastian baku asal kalibrasi

Pada saat analisa sampel tentunya kita menggunakan peralatan laboratoriu, contohnya : neraca, pipet volume yang sudah dikalibrasi. Dari penggunaan alat ini akan ada ketidakpastian baku asal kalibrasi.

  • Ketidakpastian baku asal reprodusibilitas

Dari kegiatan pengulangan, misalnya : mengulang-ulang menimbang anak massa / kita mengulang-ulang memipet dengan pipet volume 10 ml maka hasil yang didapatkan pada ulangan kedua, ulangan ketiga, dst belum tentu sama dengan ulangan yang pertama. Dari kegiatan ini akan muncul ketidakpastian baku asal reprodusibilitas yang berasal dari kesalahan random pada pengerjaan pengulangan tersebut.

  • Ketidakpastian baku asal bias

Selain kesalahan random diatas, terdapat kesalahan sistematik yang akan memberikan ketidakpastian baku asal bias.

  • Ketidakpastian baku asal presisi

Kemudian ada sumber ketidakpastian yang berasal dari presisi metode dan ini yang dinamakan ketidakpastian baku asal presisi.

Sumber Informasi Nilai untuk Estimasi Ketidakpastian

Setelah kita mengetahui sumber ketidakpastian, lalu berapa angka / nilai dari masing-masing sumber ketidakpastian yang telah disebutkan diatas? Angka-angka yang akan dihitung itu berasal dari mana saja ?

  • Sertifikat Kalibrasi Alat

Misalnya pada sertifikat kalibrasi neraca tercantum nilai ketidakpastian neraca dengan tingkat kepercayaan 95% faktor cakupan K = 2. Dari sumber data tersebut kita bisa mencari ketidakpastian baku asal kalibrasi.

  • Spesifikasi Pabrik

Misalnya pada labu takar 100 ml kelas A mempunyai ketidakpastian baku plus minus 0.008 ml.

  • Data Pustaka

Misalnya tabel IUPAC dimana pada tabel tersebut berat atom hidrogen adalah 1,00794 (7), Nilai 7 ini merupakan nilai pada digit terakhir dibelakan koma dari berat atom tersebut, sehingga berat atom H adalah 1.00794 ± 0.00007

  • Hand book

Misalnya dalam hand book dinyatakan bahwa nilai koefisien muai volume dari air adalah 2,1 x 10 pangkat -4 dengan satuan °C-¹. Nilai dari handbook ini kita gunakan untuk menghitung ketidakpastian baku asal efek muai dari peralatan gelas yang digunakan.

  • Log book laboratorium

Dari hasil uji terhadap sampel yang diterima laboratorium sehari-hari.

  • Rekaman data verifikasi atau validasi metode yang disimpan laboratorium, data yang dapat dipakai untuk mengestimasi ketidakpastian :
    • Repeatability
    • Reproducibility
      1. Intra Reproducibility (Control Chart)
      2. Inter Reproducibility (uji profisiensi)
    • Akurasi
    • Bias analisis yang dilakukan laboratorium terhadap CRM. Bias analisis ini dihasilkan laboratorium pada saat laboratorium mengikuti uji profisiensi.
    • Recovery – % Perolehan kembali
    • Kurva kalibrasi dimana pada data kurva kalibrasi kita nanti harus menghitung berapa ketidakpastian garis regresi pada kurva dan dari sana akan dihitung juga berapa ketidakpastian konsentrasi sampel hasil plotting pada kurva kalibrasi yang dibuat.

Setelah sumber informasi didapat lalu bagaimana perhitungan dilakukan terhadap data-data tersebut diatas

Rumus Ketidakpastian

Untuk menghitungnya sumber ketidakpastian perlu dikelompokkan dahulu apakah ketidakpastian tersebut termasuk ketidakpastian tipe A atau tipe B karena rumus untuk ketidakpastian tipe A berbeda dengan rumus untuk tipe B.

Untuk dapat mengelompokkannya tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa ciri ketidakpastian tipe A dan apa ciri ketidakpastian tipe B.

Ciri ketidakpastian tipe A didasarkan pada pekerjaan eksperimental laboratorium dan dihitung dari rangkaian pengamatan berulang sedangkan ciri ketidakpastian tipe B berdasarkan informasi yang dapat dipercaya (Jadi bukan datanya laboratorium melainkan data tersebut berdasarkan suatu sumber dari luar laboratorium dan laboratorium mempercayai informasi data tersebut).

Berikut ini contoh ketidakpastian tipe A dan tipe B

contoh komponen ketidakpastian pengujian

  • Komponen ketidakpastian asal kalibrasi neraca termasuk tipe B, karena kalibrasi neraca tidak dilakukan oleh laboratorium pengujian tapi dilakukan oleh laboratorium kalibrasi terakreditasi di luar laboratorium pengujian dan sumber datanya diambil dari sertifikat kalibrasi.
  • Komponen ketidakpastian asal presisi penimbangan / presisi dari neraca itu dilakukan oleh laboratorium dengan cara menimbang berulangkali anak massa misalnya : 2 gram atau 5 gram, jadi sumber datanya berdasarkan percobaan kecil yang dilakukan oleh laboratorium pengujian itu sendiri.
  • Komponen ketidakpastian asal kalibrasi oven, termasuk tipe B karena sama halnya dengan kalibrasi neraca, laboratorium pengujian tidak melakukan kalibrasi terhadap ovennya.
  • Komponen ketidakpastian asal presisi metode dan homogenitas termasuk tipe A karena presisi metode datanya diambil dari rekaman verifikasi atau validasi metode yang dilakukan laboratorium pengujian dimana datanya diambil dari pengulangan minimal 6 kali atau pengulangan 10 kali. Sama halnya dengan homogenitas, laboratorium uji lah yang melakukan pengujian terhadap 10 sampel yang diambil random untuk menghasilkan ketidakpastian asal homogenitas contoh.

Rumus Ketidakpastian Baku Tipe A dan B

Rumus untuk menghitung ketidakpastian baku tipe A berbeda dengan rumus untuk menghitung ketidakpastian baku tipe B. Untuk ketidakpastian baku type A hanya dikenal satu rumus yaitu :

Rumus ketidakpastian baku tipe A
Dimana :
S = Simpangan baku
n = jumlah pengamatan / ulangan

Sedangkan untuk ketidakpastian tipe B ada beberapa rumus yang diberikan :

Apabila informasi datanya disertai dengan keterangan mengenai :

  • Tingkat kepercayaan atau confidence level 95% maka ketidakpastian bakunya adalah :

U(x) = s / 2 atau s / 1.96

Dimana 2 atau 1,96 adalah faktor pencakupan yang dinyatakan di dalam sertifikat.

  • Tingkat kepercayaan atau confidence level 99% maka ketidakpastian bakunya adalah :

U(x) = s / 3 atau s / 3.090

Apabila informasi datanya tidak disertai dengan keterangan apapun mengenai tingkat kepercayaan, maka dianggap distribusi rectangular, maka ketidakpastian bakunya adalah :

Rumus ketidakpastian baku tipe B

Sedangkan untuk alat-alat yang sangat presisi misalnya mikropipet, mikroburet, ataupun autotritator faktor pembaginya boleh menggunakan akar 6, karena alat yang sangat presisi mempunyai ketidakpastian yang jauh lebih kecil dibandingkan alat dengan ukuran yang lebih besar.

ketidakpastian baku tipe b akar 6

Cara Menghitung Ketidakpastian Gabungan :

rumus ketidakpastian gabungan

Semua komponen ketidakpastian baku yang memberikan kontribusi pada hasil akhir pengujian harus dijumlahkan untuk menghasilkan ketidakpastian baku gabungan sebagai ketidakpastian hasil pengujian secara keseluruhan.

Apabila komponen-komponen ketidakpastian yang akan digabungkan mempunyai satuan yang sama, misalnya : semua bersatuan gram atau semua bersatuan ml maka cara menjumlahkannya adalah :

  • Dikuadratkan
  • Dijumlahkan
  • Ketidakpastian baku gabungan adalah akar pangkat dua dari jumlah tersebut.

Namun apabila komponen ketidakpastian tidak mempunyai satuan yang sama, katakan pada saat mau digabungkan ada satuan gram dan ada satuan militer, maka komponen tersebut harus diubah terlebih dahulu hingga mempunyai satuan yang sama dengan cara membagi dengan nilainya.

Misalnya : ketidakpastian baku asal penimbangan dalam gr akan dijumlahkan dengan ketidakpastian baku asal pemakaian labu takar yang satuannya ml, maka :

Tahap 1 :

Ketidakpastian asal penimbangan dalam satuan gram bagi dulu dengan berat yang ditimbang, sehingga satuan gram pada pembilang dan gram pada penyebut akan hilang (satuannya tercoret).

Tahap 2 :

Ketidakpastian asal labu takar dalam satuan mili liter dibagi volume labu takarnya, sehingga satuan mili liter pada pembilang dan mili liter pada penyebut akan hilang (satuannya tercoret)

Tahap 3 :

Dari tahap 1 dan 2 tersebut keduanya menjadi tidak bersatuan.

Setelah itu baru keduanya :

  • Dikuadratkan
  • Dijumlahkan
  • Ketidakpastian baku gabungan adalah akar pangkat dua dari jumlah dan sebagai konsekuensinya yang didapatkan adalah ketidakpastian baku konsentrasi dibagi konsentrasinya. kalau itu menyangkut ketidakpastian pembuatan larutan standar, dimana berat standar yang ditimbang dibagi dengan volume labu takar yang dipakai melarutkan standar tersebut. Inilah yang disebut sebagai ketidakpastian baku gabungan relatif (relatif terhadap nilainya).

Secara keseluruhan ada empat cara aturan penggabungan ketidakpastian baku. Cara yang pertama dan yang kedua sudah dinyatakan diatas.

4 Aturan Penggabungan Ketidakpastian Baku

  • Apabila rumus yang digunakan dalam menghitung analit / measurand melibatkan rumus penjumlahan atau pengurangan, misal :

y = a + b (dalah hal ini satuannya harus sama)

ketidakpastian baku dengan satuan sama

  • Apabila rumus yang digunakan untuk menghitung analit / measurand melibatkan rumus perkalian dan pembagian misalnya : C = W (berat)/V (volume) maka rumusnya adalah :

rumus ketidakpastian baku satuan tidak sama

Karena yang satu bersatuan gram dan yang satunya lagi bersatuan mililiter maka harus diubah dulu keduanya menjadi sama satuannya, setelah itu :

    • Dijumlahkan
    • Dikuadratkan
    • Dijumlahkan dan dicari akarnya

Dan sebagai konsekuensinya yang dihasilkan adalah ketidakpastian konsentrasi / konsentrasinya.

  • Apabila dalam rumus menghitung analit / measurand melibatkan perkalian dengan suatu konstanta, misalnya : Q = bx, Dimana b adalah konstanta maka ketidakpastian bahu dari Q adalah konstanta tadi B dikalikan dengan Ux (ketidakpastian baku dari X)
  • Apabila dalam menghitung analit atau measurement ada rumus yang melibatkan Q = x^n, maka ketidakpastian baku dari Q / Q adalah sebagai berikut :

rumus ke empat

Rumus Ketidakpastian Baku Diperluas (U)

rumus ketidakpastsian bentangan

Untuk menghitung ketidakpastian diperluas adalah dengan mengalihkan ketidakpastian baku gabungan dengan suatu faktor pencakupan (k). Untuk laboratorium pengujian faktor yang digunakan adalah faktor 2 yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan 95 %.

Dua pendekatan dalam mengestimasi ketidakpastian :

Pendekatan top-down

Dimana komponen ketidakpastian dievaluasi menggunakan real data / data sungguhan / data yang memang dihasilkan dari satu seri pengukuran atau pengujian yang dilakukan laboratorium, namun untuk menggunakan pendekatan top-down ada syaratnya yaitu laboratorium harus mempunyai CRM dan laboratorium harus punya data dari kontrol chart.

Jadi dalam keseharian laboratorium menguji, selalu / sudah diaplikasikan penggunaan kontrol sampel dan kontrol chart. Apabila keadaannya tidak demikian artinya laboratorium tidak punya CRM atau laboratorium belum pernah mempraktekkan penggunaan kontrol sampel dan kontrol chart dalam keseharian pengujiannya maka terpaksa estimasi ketidakpastian dicari lewat lewat pendekatan bottom up.

Pendekatan Bottom Up

Dimana pada pendekatan bottom-up ini komponen ketidakpastian dievaluasi menggunakan model matematika yaitu rumus yang dipakai untuk menghitung measurand. Misalkan dalam Instruksi Kerja (IK) pasti sudah menjelaskan flow chart terkait dengan metode, alat yang dipakai, bahan kimia yang digunakan, prosedur dan paling akhir biasanya perhitungan. Nah di dalam perhitungan ini tercantum lah rumus bagaimana mencari nilai atau konsentrasi analit / measurand dalam sampel. Rumus itulah yang digunakan pada pendekatan bottom-up dan ketidakpastian dihitung dari semua sumber yang memberikan kontribusi pada ketidakpastian.

Misalnya :

  • Apabila pada rumus ada W (berat) sampel maka ketidakpastian asal penimbangan memberikan kontribusi di sana.
  • Kalau di dalam rumus ada V (volume) baik itu volume pipet / volume labu takar ataupun volume untuk yang dilakukan untuk membuat suatu pengenceran terhadap sampel ataupun standar, maka harus dihitung ketidakpastian asal dari alat tersebut.

Jadi pada cara bottom up semua yang ada pada rumus harus dihitung untuk menghasilkan ketidakpastian baku gabungan

Estimasi Ketidakpastian Pendekatan Top-Down

Ketidakpastian yang berkaitan dengan reprodusibilitas dan bias, dievaluasi menggunakan data statistik. Seperti yang sudah disinggung di awal :

  • Reprodusibilitas dari QC Chart
  • Bias dari mana dari percobaan validasi / verifikasi untuk kinerja uji akurasi dimana disitu digunakan CRM.

Perhitungan presisi (reprodusibilitas) dan bias tersebut sudah mencakup pengaruh dari set-up instrumen, kalibrasi alat, QC, faktor lingkungan dan personil.

Jadi pada cara top-down tidak perlu kita memperhitungkan berapa ketidakpastian asal penimbangan, berapa ketidakpastian asal pemipetan, berapa ketidakpastsian asal penggunaan labu takar, dll. Karena semua sudah tercakup di dalam ketidakpastian asal reprodusibilitas dan ketidakpastian asal bias.

Satu-satunya komponen eksternal yang masih perlu dimasukkan adalah ketidakpastian yang berkaitan dengan bahan acuan. kita menggunakan CRM tadi tentunya pada sertifikat CRM perkara berapa ketidakpastian dari CRM yang dinyatakan oleh RMP (Reference Material Produsen). Jadi data yang lainnya adalah data yang berasal dari laboratorium (real data / data sungguhan yang dihasilkan laboratorium)

Estimasi Ketidakpastian Pendekatan Bottom Up

Pada pendekatan Bottom Up, komponen ketidakpastian masih dikarakterisasi menggunakan :

  • Data ketidakpastian pada sertifikat kalibrasi alat yang diterbitkan oleh laboratorium kalibrasi terakreditasi.
  • Data pengukuran sebelumnya, misalnya : data dari pengulangan penimbangan, pengulangan pemipetan, dll
  • Data pengalaman dalam menggunakan instrumen terkait
  • Data spesifikasi pabrik (apakah berupa ketidakpastian dari kemurniaan standar analit yang dipakai, apakah ketidakpastian dari kalibrasi alat gelas)
  • Data acuan yang diambil dari hand book (misalnya : berupa koefisien muai air misalnya yang dipakai melarutkan adalah air, atau koefisien muai pelarut organik apabila dalam pengujian untuk melarutkan digunakan pelarut organik tersebut).
  • Data dari pustaka misalnya dari tabel IUPAC mengenai ketidakpastian dari berat atom unsur apabila di dalam rumus menghitung analit terdapat berat molekul / berat atom tertera maka ketidakpastian dari apa yang ada pada rumus harus dihitung.

Syarat Untuk Menghitung Ketidakpastian Pendekatan Top-Down

Untuk menghitung ketidakpastian pendekatan top down,  laboratorium harus punya CRM. Jika laboratorium tidak punya CRM bisa digantikan yaitu data biasanya dihitung dari keikutsertaan laboratorium Dalam uji profisiensi tetapi sekurangnya harus ada 3 x keikutsertaan laboratorium untuk satu jenis pengujian analitik tertentu.

Sedangkan untuk dapat menghitung ketidakpastian baku asal reprodusibilitas laboratorium harus mempunyai data dari control chart untuk pengujian yang akan diestimasi ketidakpastiannya, namun apabila laboratorium tidak mempunyai control chart, masih bisa digantikan dengan data dari analisis sampel, biasanya ada pada log book laboraturium namun syaratnya setiap sampel harus diuji duplikat.

Referensi :

Pojok Laboratorium Channel

Pengertian Metrologi dan Instrumentasi Lengkap Dengan Contohnya

pengertian instrumentasi adalah

Berbicara mengenai kalibrasi tentunya tidak dapat dilepaskan dari sistem pengukuran dan akan berkaitan lagi dengan beberapa istilah antara lain instrumentasi, metrologi, dll. Apa saja pegertian dari istilah-istilah tersebut dan bagaimana keterkaitannya akan kita bahas dalam artikel ini.

Pengertian Instrumentasi

Instrumentasi adalah suatu piranti atau alat yang dipakai untuk pengukuran dan pengendalian dalam suatu sistem yang lebih besar dan lebih komplek misalnya :

  • Sistem pembakaran
  • Sistem pengairan
  • Sistem pembangkit
  • dll.

Pengertian lain dari instrumentasi adalah ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan pengukuran dan pengendalian variabel proses untuk mencapai tujuan sesuai dengan kebutuhan dalam cakupan dan bidangnya. Variabel proses yang dimaksud tersebut antara lain aplikasi level, tekanan, temperatur, flow rate, humidity, ph, dll

Fungsi / Tujuan Istrumentasi

1. Measurement dan Recording (mengukur & merekam data hasil pengukuran)

Misalnya untuk mengukur tekanan, temperatur, laju aliran. Dengan kegiatan pengukuran tersebut kita bisa tahu bahkan hasil dari pengukuran nanti bisa direkam atau di record untuk dijadikan data untuk diolah untuk keperluan selanjutanya.

2. Controller (Pengendalian)

Contoh : Temperatur dan tekanan dalam ruangan produksi industri farmasi dikendalikan supaya tidak berdampak buruk pada produk yang di produksi. Ketika temperature dan kelembaban udara tersebut sudah out of specs (diluar spesifikasi) maka harus dilakukan tindakan perbaikan dan pencegahan, misalnya pengecekan pada bagian Air handling Unit (AHU) nya, dll.

3. Analisis

Dengan hasil data yang kita dapatkan dari kegiatan pengukuran, tentunya kita bisa melakukan analisa kecenderungannya data tersebut seperti apa dan apa yang dapat kita simpulkan dari rangkaian data hasil pengukuran tersebut.

4. Safety system (Alat pengaman)

Misalnya di dalam unit tangki minyak, tekanannya tidak boleh melebihi yang ditentukan, temperature juga tidak boleh melebihi dari spesifikasi yang ditentukan, dll. Karena jika diluar batas yang ditentukan maka bisa timbul kebocoran / ledakan.

Pengertian Metrologi

metrologi adalah

Metrologi adalah ilmu pengukuran / disiplin ilmu yang mempelajari tentang cara pengukuran, kalibrasi, dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Metrologi Dibagi Menjadi Tiga :

Metrologi Ilmiah

Metrologi yang berhubungan dengan pengaturan ataupun pengembangan standar-standar pengukuran serta pemeliharaannya.

Metrologi Industri

Dimana fungsi dari metrologi industri ini adalah untuk memastikan bahwa sistem pengukuran atau alat ukur yang ada di industri berfungsi sesuai dengan kebutuhan. Metrologi ini menjadi ranahnya laboratorium kalibrasi. Jika kita berada di perusahaan yang menerapkan sistem manajemen baik itu ISO 9001 maupun SNI 17025 maka kegiatan kalibrasi ini sifatnya adalah wajib.

Metrologi Legal

Metrologi legal adalah metrologi yang berhubungan dengan pengukuran yang berdampak pada transaksi ekonomi, kesehatan, dan keselamatan. Contoh metrologi legal adalah TERA Timbangan, volume POM bensin, tensimeter, argo taksi, dll. Metrologi legal ini masuk ke dalam ranahnya badan metrologi supaya alat ukur yang digunakan untuk aplikasi ekonomi, kesehatan, dan keselamatan ini terjaga atau sesuai dengan standar dan tidak menimbulkan kerugian bagi konsumen.

Dari uraian diatas, beberapa referensi mendefinisikan pengertian metrologi adalah Science of measurement atau ilmu tentang pengukuran, karena dia berhubungan dengan pengukuran baik aplikasinya di dunia industri maupun untuk yang aplikasi yang berhubungan dengan legal.

Secara umum jika berbicara instrumentasi dan metrologi akan berhubungan dengan instrumen-instrumen yang berhubungan dengan alat ukur.

Dasar Sistem Pengukuran

Ketika belajar mengenai dasar sistem pengukuran, maka tidak dapat dilepaskan dari :

  1. Tujuan dan manfaat dari sistem pengukuran itu sendiri.
  2. Jenis-jenis alat ukur
  3. Metode pengukuran dan cara mengukurnya
  4. Karakteristik statis dan dinamis dari sistem pengukuran

Contoh Aplikasi Sederhana dari Pengukuran

  • Timbangan analitik untuk menimbang sampel bahan baku
  • Penggaris untuk mengukur dimensi panjang, lebar, tinggi
  • Tensimeter untuk mengukur tekanan darah
  • Dll

Tanpa ada alat ukur tersebut, kita tidak bisa menilai besaran yang kita ukur, misalnya :

  • Berat sampel bahan baku yang kita timbang berapa gram ya?
  • Dimensi balok (panjang x lebar x tinggi) yang kita ukur berapa cm ya?
  • Tekanan darah pasian berapa ya?
  • dll

Dasar sistem pengukuran merupakan tindakan membandingkan harga besaran fisika atau variabel yang diukur (belum diketahui) dengan besaran fisika atau variabel standar lain yang harganya sudah diketahui.

Contoh : Pada kasus diatas dimana kita mengukur panjang balok. Nah, pada awalnya panjang balok tersebut kita belum tahu nilainya (variable yang belum diketahui). Kemudian kita ukur dengan menggunakan alat ukur penggaris / meteran yang sudah ada nilainya (variabel yang diketahui) sehingga kita bisa mengetahui panjang dari meja tersebut.

Definisi Pengukuran

pengukuran adalah

Berikut ini ada beberapa definisi atau pengertian pengukuran :

1. Pengukuran adalah sebuah estimasi dari variabel besaran fisis atau proses (thermal, kimia, kelistrikan, mekanika, radiasi, atau biologi) dengan sebuah alat ukur. Disebut estimasi karena tidak ada pengukuran yang sempurna. Karena alat ukur itu pasti mempunyai nilai ± / ketelitian / tingkat akurasinya berbeda-beda.

Misalnya : ketelitian antara penggaris dan meteran bisa jadi berbeda sehingga pengukuran yang kita sampaikan atau hasil dari pengukuran tersebut hanyalah merupakan estimasi atau perkiraan saja. karena salah satu faktornya dipengaruhi oleh tingkat akurasi / presisi / tingkat ketelitian dari alat ukurnya. Terlebih lagi jika alat ukur yang digunakan tersebut sudah lama tidak dikalibrasi sehingga diragukan tingkat akurasinya.

Contohnya dari hasil pengukuran balok dengan menggunakan penggaris tersebut adalah 30 cm, maka nilai ini hanyalah estimasi / perkiraan saja. Namanya estimasi pasti terdapat rentang ± nya. ± ini biasa yang kita kenal dengan istilah ketidakpastian pengukuran yang di dalam sertifikat kalibrasi biasa disimbolkan dengan U95

Cara menuliskan hasil pengukuran yang benar adalah Hasil pengukuran ± ketidakpastian pengukuran.

2. Pengukuran merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menentukan nilai suatu besaran dalam bentuk angka ataupun kuantitatif.

Contoh temperatur sebuah heater mesin filling produksi adalah 100, 150°, 200 derajat Celsius.

Tujuan dari sistem pengukuran adalah untuk mendapatkan informasi penting terkait besaran-besaran fisika yang diukur yang berhubungan dengan kelangsungan proses, sistem, fenomena alam dan sebagainya. Contohnya : Berapa nilai dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, laju aliran, dan tekanan atmosfer. Nilai-nilai tersebut semuanya merupakan informasi penting yang diperoleh dari hasil pengukuran.

Sehingga bisa dikatakan konsep dasar sistem pengukuran adalah untuk memperoleh hasil nilai numerik / angka yang merepresentasikan kuantitas dari variabel atau besaran yang diukur. Setiap hasil pengukuran pasti ada nilainya dan nilai tersebut pasti mempunyai satuan. Misalnya pengukuran suhunya satuannya derajat celsius, Kelvin, dll.

Contoh-contoh variabel fisik yang sering sekali ditemui :

  • Panjang
  • Kecepatan
  • Percepatan
  • Waktu
  • Masa
  • Gaya
  • Frekuensi
  • Temperatur
  • Tekanan

Semua besaran-besaran diatas pasti dia mempunyai alat ukur, misalnya meteran untuk mengukur panjang, anemometer untuk mengukur kecepatan angin, stopwatch untuk mengukur waktu, dll.

Contoh Aplikasi Sistem Pengukuran Disekitar Kita

  • Temperatur ruangan, lemari es, oven
  • Aliran air dalam pipa PDAM sehingga kita bisa menghitung biaya volume air yang kita gunakan setiap bulan.
  • Meteran Lisrik
  • Speedometer sebagai pengukur laju kecepatan mobil / motor
  • Indikator temperature mesin mobil
  • Temperature reaktor, mesin produksi
  • Aliran fluida
  • Tekanan tangki, pipa, boiler
  • Ketinggian cairan dalam tangki
  • Frekuensi / RPM mesin mixer industri pangan
  • Getaran pada mesin
  • dll

Kenapa Diperlukan Sistem Pengukuran

Di dalam industri sistem pengukuran digunakan untuk :

Measurement, Indication, Monitoring, Recording

Dari aktifitas tersebut diatas, misalnya : indikasi pengukuran apakah masih dalam batas yang ditoleransi sehingga berlanjut ke arah safety misalnya jika sistem mempunyai temperature yang lebih tinggi dari yang ditentukan maka akan memberikan alarm / indikator yang menyala.

Contoh lain dari pengukuran :

  • Pengukuran arus dan tegangan listrik dengan menggunakan multimeter
  • Pengukuran perangkat proses seperti aliran BBM dan gas pada pipa dan tekanan pada reaktor tersebut.
  • Pengukuran level cairan di dalam tangki
  • Pengukuran keadaan lingkungan seperti pH, jumlah partikel di udara, kandungan gas, dll

Dari aktivitas monitoring tersebut kita bisa melihat dan menganalisis performa mesin / sistem yang kita jalankan.

Automation & kontrol

hierarki sistem otomasi di industri

Tanpa adanya instrumen pengukuran kita tidak akan bisa mengendalikan suatu sistem atau dengan kata lain jika instrumen pengukurannya tidak akurat maka sistem kontrolnya juga tidak akurat.

Sebagai contoh : Suatu mesin water purified dimana terjadi proses looping pada sirkulasi air, dan proses pengukuran parameter TOC, conductivity, dan pH nya dilakukan secara inline dimana unit alat terinstal langsung di mesin purified water. Nah kita bisa bayangkan jika instrumen pengkuran TOC, conductivity, dan pH meter tersebut tidak akurat. Maka hasil purified waternyapun bisa jadi tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Jika instrumen pengukurnya tersebut sudah akurat, maka pengontrolan dari sistem tersebut bisa dilakukan dan dibuat automatisasi dengan benar. Prinsipnya adalah untuk mengendalikan keadaan sistem atau proses. Di dalam segitiga hierarki sistem otomasi di industri, level paling bawah itu adalah instrumen yang digunakan untuk pengukuran. Tanpa instrumen / tanpa adanya aktivitas pengukuran maka system / control tidak dapat dilakukan, dan kebijakanpun tidak dapat diambil.

 

Billing & Custody Transfer

Dimana aplikasinya untuk pembayaran suatu transaksi perdagangan.

Contohnya :

  • Pembelian BBM di POM bensin
  • Instrumen pengukuran pada meteran listrik rumah, PDAM, dll
  • Timbangan yang ada di supermarket dan pasar.

Setelah dilakukan ketiga tadi, manfaatnya apa?

Manfaat Sistem Pengukuran

  • Safety health environment atau K3L

Dengan adanya pengukuran yang akurat, maka sistem akan berjalan sebagai mana mestinya, dan jika terjadi abnormality maka akan memberikan alarm ke user sehingga tindakan dapat segera diambil sebelum dampaknya lebih luas, contohnya :

    • Pengukuran tekanan, temperature pada unit proses di industri migas.
    • Pengukuran kandungan polutan di udara, tanah dan air.
    • Pengukuran tekanan darah manusia, temperature, dan besaran lain pada tubuh manusia dalam bidang kedokteran.
    • Pengukuran komposisi makanan dan obat-obatan.

 

  • Perdagangannya fair sama proteksi konsumen

Jika alat ukur yang digunakan akurasinya bagus maka baik pembeli dan penjual tidak akan ada yang dirugikan, misalnya : Pengukuran volume, berat dan besaran lain pada komoditas perdagangan, Pengukuran waktu dan besaran lain pada penyedia jasa komersial seperti layanan listrik, air, dll

  • Peningkatan kerja proses produksi

Dengan adanya pengukuran yang akurat maka kinerja proses produksi terjaga sehingga jaminan terhadap kualitas produk, efisensi energi, dan konservasi lingkungan dapat terus ditingkatkan.

Semoga bermanfaat

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=95bsUa8roq0

Program Upgrade Kompetensi dengan Training Kalibrasi

Program Upgrade Kompetensi dengan Training Kalibrasi

Apakah Perusahaan Anda Mengalami Hal Berikut ?

  • Mempunyai banyak peralatan / instrumen ukur yang masih dikalibrasi secara eksternal dan ingin melakukan kalibrasi secara internal?
  • Mengalami kesulitan membaca sertifikat kalibrasi yang diberikan oleh vendor sehingga masih kesulitan memutuskan apakah alat tersebut boleh digunakan atau tidak?
  • Selalu mendapatkan temuan saat audit ISO 9001 : 2105 karena adanya gap kompetensi personel yang melakukan kalibrasi karena belum pernah mendapatkan training?
  • Ingin melakukan refreshment / update terhadap metode kalibrasi / pengujian karena standar acuan juga sudah melakukan update?
training kalibrasi alat ukur indonesia

Jika ya... Mari lanjutkan membaca...

Di era seperti sekarang ini dimana perkembangan teknologi semakin pesat dan semuanya mudah di “viral” kan, maka kualitas produk akhir (finished Good) dari suatu perusahaan merupakan sesuatu yang benar-benar harus kita perhatikan. Tentunya kita tidak mau kan jika produk yang sudah beredar di pasaran ditemukan customer dalam keadaan reject (NG / No Good)? Selain mendapatkan customer complain, yang paling tidak kita inginkan adalah jika cacat produk terebut “viral” sehingga dampaknya menjadi berantai seperti :

  • Image Perusahaan Menurun
  • Target Penjualan Menurun
  • Customer Menjadi Tidak Loyal dan berpindah ke kompetitor perusahaan kita

Tentunya hal tersebut tidak kita inginkan kan?

Untuk menghasilkan produk yang berkualitas tentunya banyak sekali faktor yang mempengaruhi, antara lain :

  • Bahan Baku (Raw Material & Packaging Material) yang berkualitas
  • Sumber daya yang kompeten dan Berkualitas
  • Kontrol yang benar di sepanjang proses pembuatan produk

Kontrol di sepanjang proses tersebut tentunya tidak bisa dilepaskan dari aktfitas pengukuran, antara lain pengukuran:

  • Massa
  • Temperature
  • Tekanan / Pressure
  • Vacuum
  • Dimensi (panjang, diameter, ketinggian, ketebalan, dll)
  • Derajat keasaman (pH Meter)
  • Kekentalan
  • Kadar Vit C
  • dll

Aktifitas tersebut tentunya harus dilakukan oleh personel yang kompeten di bidangnya, Bahkan tak jarang perusahaan yang melakukan kalibrasi / verifikasi alat ukur secara internal sebagai tindakan untuk memastikan bahwa peralatan yang mereka gunakan memang memenuhi standar mereka. 

Untuk itulah kenapa diperlukan kegiatan training kalibrasi tersebut, supaya pekerjaan, pengolahan hasil data pengamatan jika kalibrasi dilakukan secara internal, serta pembacaan hasil sertifikat jika kalibrasi dilakukan secara eksternal dilakukan oleh yang kompeten sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap mutu produk yang dihasilkan.

Silabus training kalibrasi terdiri dari teori dan prinsip pengukuran, ketertelusuran pengukuran, metode atau prosedur dari kalibrasi, analisa ketidakpastian pengukuran sampai dengan pembuatan laporan kalibrasi. Begitu lengkapnya silabus tersebut sehingga diharapkan setelah mengikuti training para peserta dapat menerapkan di dalam perusahaan sehingga mampu berkontribusi dalam menciptakan produk yang berkualitas dan pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.

Ruang Lingkup Training Kalibrasi

1. Pemahaman SNI ISO / IEC 17025 : 2017

SNI ISO / IEC 17025 : 2017 merupakan standar yang memuat persyaratan persyaratan umum untuk laboratorium pengujian / kalibrasi, dimana di dalam standar tersebut berisi klausul-klausul yang harus kita penuhi untuk menjadi sebuah laboratorium yang kompeten. Meskipun di dalam suatu perusahaan manufacturing tidak menerapkan standar ini, namun pemahaman akan standar SNI ISO / IEC 17025 : 2017 ini akan sangat membantu kita dalam bekerja lebih efektif dan efisien di dalam lingkungan perusahaan terutama dalam hal pengolaan instrumen / alat ukur.

2. Evaluasi Ketidakpastian Pengukuran

Validitas pengukuran yang dilakukan tidak ada artinya kecuali bila telah mengenal proses ketidakpastian pengujian atau kalibrasi. Beberapa standar, termasuk ISO / TS 16949 dan ISO / IEC 17025, mengharuskan ketidakpastian pengukuran diperhitungkan saat melakukan kegiatan pengukuran. Pelatihan ini akan memperkenalkan persyaratan ISO / IEC 17025 dan khususnya prinsip-prinsip penting yang terkandung dalam ISO Guide 98-3 Guide to the expression of Uncertainty in Measurement. Metodologi untuk menghitung budged ketidakpastian menggunakan statistik dasar yang diperlukan. Pelatihan ini memberikan latihan ketidakpastian praktis yang didukung dengan contoh-contoh budged ketidakpastian.

Melalui kombinasi tutorial interaktif dan workshop, peserta akan dapat :

  • Penerapan metodologi untuk menghitung budged ketidakpastian dengan contoh contoh praktis.
  • Mengembangkan budged ketidakpastian terstruktur, dengan pengetahuan terhadap kontribusi ketidakpastian yang berhubungan dengan sistem pengukuran dan bagaimana untuk mengevaluasi seberapa besarnya kesalahan.
    Memanfaatkan hasil budged ketidakpastian untuk meningkatkan dan mengefisienkan sistem pengukuran.
  • Di dalam kalibrasi baik itu yang dilakukan secara internal maupun eksternal, ketidakpastian merupakan atribut yang selalu dicantumkan dalam serfikat / laporan. Lalu bagaimana cara mengevaluasi ketidakpastian pengukuran berdasarkan standar ISO GUM (Guide to the expression of uncertainty in measurement), dan apa hubungannya dengan aturan kesesuaian sehingga kita bisa menyimpulkan alat ukur yang kita miliki masih layak untuk digunakan atau tidak? Semuanya akan dibahas di dalam training ini.

3. Audit Internal SNI ISO 17025 : 2017

Proses audit tentunya dimaksudkan untuk menilai apakah sistem yang sudah dijalankan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Lalu bagaimana teknik audit sesuai dengan Standar ISO 19011:2018 dimana standar ini adalah standar internasional yang mengatur mengenai panduan atau tata cara melakukan audit terhadap sistem manajemen sehingga audit bisa memberikan dampak tindakan perbaikan dan pencegahan yang memberikan manfaat peningkatan terus menerus bagi perusahaan.

4. Verifikasi & Validasi Metode

Verifikasi dan Validasi metode merupakan persyaratan yang harus dipenuhi dalam sebuah laboratorium pengujian / kalibrasi, bagaimana cara melakukan verifikasi dan validasi metode ini akan dibahasi di dalam pelatihan ini.

5. Teknik Pengukuran dan Kalibrasi :

  • Humidity Instrument & Humidy Chamber

Dalam pelatihan ini peserta akan mencapai pemahaman yang komprehensif tentang kelembaban dan prinsip-prinsip pengukuran terkait dengan suhu dan kelembaban. Topik diskusi kemajuan dari teori kelembaban fundamental dan parameter terkait untuk mengukur kelembaban dengan aspek-aspek praktis dari teknologi, praktik pengukuran dan kalibrasi yang baik.
Contoh-contoh praktis dan aplikasi disediakan pada kursus atau trainig oleh Trainer dengan pengalaman yang luas dalam memberikan solusi tentang pengukuran kelembaban seluruh berbagai aplikasi industri.

  • pH Meter

Pengukuran pH meter banyak dilakukan di beberapa industri, Kita mengharapkan Hasil pengukuran dari nilai keasaman tersebut tentunya harus akurat dan dapat dipercaya, inilah pentingnya dilakukannya pelatihan Teknik Pengukuran dan Kalibrasi pH meter. Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu memahami konsep serta implementasi dari kalibrasi pH meter pada perusahaan mereka serta diharapkan mampu mengerti mengenai sistem kalibrasi yang benar serta teknik kalibrasi pH meter sesaui dengan metode, sampai dengan pengolahan data dan juga penerbitan sertifikat kalibrasi.

  • Timbangan & Anak Timbangan

Timbangan / neraca / anak timbangan merupakan suatu alat yang hampir digunakan di semua industri. Hasil penimbangan yang benar dipengaruhi oleh beberapa faktor dari segi lingkungan, personel, ataupun alat itu sendiri. Untuk memastikan bahwa suatu timbangan masih layak digunakan maka perlu dilakukan pengecekan terhadap akurasinya melalui kalibrasi. Kegiatan pelatihan kalibrasi timbangan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman pada personel / pelaksana kalibrasi dalam suatu laboratorium ataupun perusahaan yang ingin merancang kegiatan kalibrasi internal di perusahaan mereka.

  • Enclosure

Pelatihan kalibrasi suhu (enclosure) khususnya untuk alat oven, inkubator, furnace, ataupun freezer sangat diperlukan oleh personel laboratorium kalibrasi ataupun industri yang mempunyai keinginan untuk melakukan kalibrasi internal. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman baik dari sisi konsep ataupun implementasi mengenai teknik kalibrasi suhu.

  • Pressure Gauge dan Vacuum Gauge

Pelatihan ini ditujukan kepada para professional yang ingin mempelajari tentang pengukuran Alat Ukur Pressure & Vacuum analog dan digital beserta pemeliharaannya Penekanan dari program pelatihan adalah pada aspek aspek praktis dari pengukuran Pressure & Vacuum dan Pressure Transmitter, Kursus ini dirancang untuk memberikan peserta dengan pemahaman tentang peralatan Pressure & Vacuum analog dan dihital serta Pressure Transmitter (transducer).

  • Volumetrik

Modul pelatihan kalibrasi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan Sistem Manajemen Mutu ISO meliputi ISO 9001, ISO14001, ISO / TS 16949, ISO 22000, ISO / IEC 17025, GMP, HACCP dan sistem manajemen mutu lainnya. Peserta diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dalam kalibrasi Volumetric Glassware, pipet mikro, buret sesuai dengan ISO / TR 20461. Modul ini mencakup evaluasi ketidakpastian pengukuran berbasis ISO GUM (Guide to the expression of uncertainty in measurement)

  • Dimensi

Alat ukur Dimensi seperti caliper, mikrometer, thickness gauge, dll merupakan alat ukur yang banyak digunakan di berbagai macam industri. Melalui pelatihan kalibrasi parameter dimensi ini harapannya tentunya adalah kita bisa melakukan kalibrasi terhadap alat-alat tersebut serta dapat melakukan penilaian apakah alat terebut masih boleh / tidak digunakan.

  • dll

 

Siapa Yang Harus Mengikuti Training Kalibrasi ?

Training kalibrasi alat ukur sangatlah penting diikuti oleh Supervisor, Engineer dan Teknisi laboratorium kalibarsi di bidang manufaktur, Quality Assurance/Control, Maintenance & Repair, Laboratorium Kalibrasi. Adanya kalibrasi dalam suatu perusahaan tentunya merupakan bagian dari tujuan untuk mencapai produk yang berkualitas tinggi. Parameter-parameter dalam spesifikasi produk tersebut tentunya harus diukur, dan untuk memberikan hasil pengukuran yang valid maka salah satu caranya adalah dengan menggunakan alat ukur yang dikalibrasi.

Kenapa Memilih Kami ?

Kepuasan Pelanggan
Kepuasan Pelanggan Yang Mengikuti Training 91%
Harga
Harga Sangat Terjangkau 86%
Trainier
Kemampuan Trainer 95%

Untuk Penawaran Harga Silakan Tekan Tombol Dibawah

Anda Customer Lab Kalibrasi? Inilah Hak Anda!

hak lab kalibrasi

“Customer is the king” Anda seorang customer maka andalah rajanya, tak terkecuali sebagai pengguna jasa laboratorium kalibrasi. Dalam menggunakan jasa kalibrasi sebenarnya banyak yang bisa kita dapatkan dari hanya sekedar selembar sertifikat yang mungkin sebagian besar perusahaan disiapkan hanya untuk menghadapi proses audit ISO.

Kepuasan pelanggan bagi kami penyedia jasa layanan kalibrasi alat ukur merupakan kemampuan kami dalam memenuhi harapan anda. Ketika harapan anda tidak terpenuhi maka anda berhak untuk melakukan complain mengenai masalah yang anda dapati sepanjang masih berhubungan dengan kegiatan kalibrasi alat ukur anda. Dan hal tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kami karena dengan adanya keluhan pelanggan, kami dapa senantiasa melakukan peningkatan / perbaikan secara terus menerus dalam siklus PDCA (Plan Do Check Action)

Pada dasarnya suatu laboratorium kalibrasi sedapat mungkin dapat memuaskan kebutuhan pelanggan dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh pelanggan yang berhubungan langsung dengan laboratorium / pihak berkepentingan.

Bagaimanapun pengguna jasa kalibrasi dengan suatu laboratorium kalibrasi merupakan suatu jalinan kerjasama dimana kerjasama tersebut haruslah menguntungkan kedua belah pihak.

Kerja sama antara pelanggan dengan laboratorium kalibrasi dapat meliputi antara lain :

1. Menyediakan akses kepada pelanggan ke bagian yang relevan dari laboratorium berkaitan dengan kebutuhan pelanggan.
Contohnya : Menyaksikan kegiatan kalibrasi alat pelanggan
Kegiatan tersebut tentunya harus tetap mengikuti aturan main yang berlaku yang tertuang dalam form tertentu yang menyatakan hal-hal yang harus dipatuhi oleh pelanggan misalnya : dilarang untuk membocorkan informasi mengenai rahasia / informasi pelanggan lainnya.

2. Alat ukur yang anda kalibrasi harus senantiasa terjaga dalam kondisi baik dengan cara adanya identifikasi, terlindungi dari adanay kontaminasi, degradasi, decomposisi, deteriorasi, ataupun kerusakan lainnya.

3. Penjelasan mengenai hasil kalibrasi terhadap alat ukur anda.
Pada kenyataannya masih banyak diantara customer yang acuh terhadap hasil kalibrasi, bagi mereka yang terpenting adalah alat mereka sudah dikalibrasi. Hal ini sangatlah disayangkan karena kalibrasi ini merupakan salah satu parameter dalam memberikan suatu jaminan mutu produk yang baik bagi perusahaan anda.

Pengelolaan Alat Ukur

 

pengelolaan alat ukur industri

Pengelolaan alat ukur di dalam suatu perusahaan terkadang cukup sulit terutama jika jumlah alat ukur yang kita miliki sangat banyak. Pengelolaan yang tidak baik terkadang menimbulkan masalah dilapangan, terlebih yang berkaitan dengan spesifikasi produk. Untuk menghindari hal tersebut maka diperlukan sistem pengelolaan alat ukur yang baik.

12 Hal Dalam Membuat Pengelolaan Alat Ukur

1. Setiap alat ukur harus memiliki catatan / record / history, kapan alat tersebut dibeli, merk dan tipenya apa, nomor serinya berapa, dan digunakan untuk area mana.

2. Seluruh alat ukur harus memiliki nomor dan instrument kritikal dari seluruh produk, proses dan safety harus secara fisik diberi tanda.

3. Metode kalibrasi harus diterbitkan melalui instruksi kerja / prosedur yang disahkan oleh pejabat berwenang (Manager Quality atau pejabat yang ditunjuk)

4. Interval kalibrasi serta toleransi dari nilai proses harus ditentukan untuk setiap alat ukur.

5. Harus terdapat cara untuk selalu dapat mengetahui status kalibrasi setiap instrument. Hal ini dapat melalui stiker label kalibrasi.

6. Catatan kalibrasi baik berupa laporan ataupun sertifikat yang diterbitkan oleh pihak ketiga harus disimpan.

7. Semua sistem elektronik yang digunakan untuk manajemen kalibrasi pada suatu sistem, yang mempengaruhi produk untuk pasokan ke USA, harus memenuhi persyaratan FDG 21 CFR part 11 – Electronic Records, Electronic Signatures.”

8. Standar kalibrasi / Calibrator harus lebih akurat dibandingkan dengan tingkat akurasi dari unit under test (UUT)

9. Setiap standar yang digunakan untuk mengkalibrasi harus mampu telusur ke standar nasional atau internasional yang diakui.

10. Semua alat yang digunakan harus sesuai dengan tujuan / kegunaan

11. kompetensi petugas kalibrasi yang berkaitan dengan pelatihan kalibrasi harus didokumentasikan

12. Setiap perubahan kebijakan yang berkaitan dengan alat ukur misalnya : Instruksi kerja, toleransi alat ukur, dll harus didokumentasikan dan dikendalikan.

Critical Assesment Alat Ukur

Tidak hanya proses atau sistem dalam suatu perusahaan saja yang perlu di assesment, Keberadaan alat ukur juga perlu dinilai kritis atau tidaknya. Lalu apa sebenarnya tujuan melakukan Critical Assesment alat ukur ini ? Berikut ini adalah diantaranya :

1. Untuk menentukan / mengevaluasi instrument kritikalitasnya

2. Semua instrumen baik yang langsung atau tidak langsung terkait dalam proses, harus dinilai untuk kritikalitasnya. Harus didokumentasikan.

3. Dengan adanya pengelompokan kritis atau tidaknya alat ukur tersebut, maka kita dapat memberikan informasi di lapangan baik secara langsung atau sekedar menempelkan informasi tersebut di mesin dengan tujuan untuk menghindari kesalahan dari operator.

4. CAT (Criticallity Assessment Team) menentukan kritikalitas dan pertimbangan kalibrasi. Team tersebut biasanya terdiri dari Process Owner atau PIC yang bersangkutan yang lebih memahami proses di lapangan, Engineering, Quality assurance sebagai penjamin mutu, jika diperlukan bisa menambah keahlian lain misalnya dari vendor / principle untuk memberikan masukan-masukan terkait dengan alat ukur tersebut.

Alat ukur berdasarkan critical atau tidaknya dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Product critical instrument.

Instrumen yang bila gagal, berpengaruh langsung pada kualitas produk.

2. Process/system critical instrument.

Instrumen yang bila gagal, dapat berpengaruh langsung pada kinerja proses atau sistem tetapi tidak mempengaruhi kualitas produk akhir atau safety.

3. Safety/environmental critical instrument.

Instrumen yang jika gagal, berdampak langsung pada safety / lingkungan.

4. Non-critical instrument.

Instrumen yang jika gagal, tidak berdampak pada kualitas produk, kinerja proses/sistem, safety atau lingkungan.

Cara Membuat Program Kalibrasi Alat Ukur di Perusahaan

Jika berbicara mengenai program kalibrasi, hal ini seakan-akan menjadi pertanyaan wajib auditor ketika melakukan audit baik itu sistem manajemen mutu ISO 9001 / sistem manajemen laboratorium ISO 17025, karena memang untuk program tersebut masuk dalam klausul tersendiri, tepatnya di klausul 7.1.5 di ISO 9001 dan di klausul 6.4.6 di 17025.

Untuk memenuhi klausul tersebut, perusahaan / laboratorium haruslah membuat program kalibrasi untuk semua peralatan yang berpengaruh pada hasil pengukuran / pengujian. Dengan adanya program tersebut, maka dapat dipastikan bahwa pengukuran yang kita lakukan tertelusur ke satuan internasional (SI). Program kalibrasi ini merupakan salah satu bagian dari pengelolaan pelaratan yang dimiliki oleh perusahaan atau laboratorium.

Lalu bagaimana cara membuat program ini?

Cara Membuat Program Kalibrasi Alat Ukur :

program-kalibrasi-alat-ukur

Tabel dengan program excel dapat kita andalkan dalam membuat program ini dengan beberapa isi kolom sebagai berikut :

1. Nomor Urut

2. Nama Alat di dalam perusahaan / laboratorium yang direncanakan akan dikalibrasi

3. Merk ; Tipe ; dan Nomer Seri
Hal tersebut digunakan untuk membedakan alat satu dengan yang lainnya jika terdapat peralatan sejenis. Berikut ini adalah contoh merk, tipe, dan nomer seri untuk unit alat thermometer infra red.

Baca Juga : Jasa Kalibrasi Termometer Infra Red

https://www.sentrakalibrasiindustri.com/jasa-kalibrasi-termometer-infrared-terpercaya/

tipe dan nomer seri thermometer infra red

Untuk nomer 4 tersebut adalah model / tipenya, sedangkan untuk nomor 5 merupakan nomer serinya.

4. Lokasi
Jika alat di dalam perusahaan mencapai ratusan bahkan ribuan, penambahan kolom lokasi di dalam program kalibrasi sangatlah membantu ketika kita melakukan pencarian alat.

5. Interval Kalibrasi
Kolom ini kita gunakan untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi keterlambatan kalibrasi jika semua pekerjaan kalibrasi di dalam perusahaan kita lakukan secara internal. Namun jika kita melakukan kontrak kalibrasi ke vendor / perusahaan kalibrasi maka biasanya perusahaan kalibrasi tersebut bersedia memberikan info jika unit alat akan jatuh tempo kaibrasinya.

Untuk melakukan kontrak kalibrasi bisa dibaca disini :

https://sentrakalibrasiindustri.com/

6. Rentang Ukur dan Toleransi
Kolom ini memberikan informasi kepada kita unit alat tersebut maksimal bisa digunakan di rentang ukur berapa beserta toleransinya, selain itu juga akan berguna untuk memilih laboratorium kalibrasi yang digunakan untuk mengkalibrasi alat tersebut.

Pada gambar diatas, rentang ukur bisa kita lihat di nomer 6, sedangkan untuk toleransi biasanya bisa kita dapatkan di datasheet spesifikasi alat / manual book nya.

7. Personel yang bertanggung jawab
PIC yang bertanggung jawab tentunya perlu ditunjuk supaya tidak saling menyalahkan jika kegiatan kalibrasi tersebut tidak berjalan dengan baik.

8. Tanggal Kalibrasi Terakhir dan tanggal kalibrasi berikutnya.
Hal ini bisa kita jadikan acuan untuk penjadwalan kegiatan kalibrasi selanjutnnya sehingga tidak terjadi keterlambatan.

9. Keterangan

Kolom ini diisi jika terjadi hal-hal tertentu, misalnya : alat rusak, kalibrasi tidak masuk standar, dll

.

Di point 5 kita melihat kata “interval kalibrasi”, Lalu bagaimana sih caranya menentukan interval kalibrasi tersebut?

Banyak faktor yang mempengaruhi panjang / pendeknya interval kalibrasi antara lain sebagai berikut :

  1. Ketidakpastian pengukuran yang diperlukan / dinyatakan oleh laboratorium.
  2. Biaya tindakan korektif yang dibutuhkan jika alat tersebut tidak sesuai dalam jangka waktu yang panjang.
  3. Resiko alat ukur melebihi batas kesalahan laboratorium yang diizinkan ketika digunakan.
  4. Jenis alat
  5. Kecenderungan mengalami aus.. (pergeseran drift dari tahun ke tahun)
  6. Rekomendasi pabrikan yang bisa dilihant pada manual book
  7. Lama ddan kerasnya penggunaanya
  8. Kondisi lingkungan yang biasanya dipantau dengan menggunakan thermohigrometer.
  9. History kalibrasi dari tahun ke tahun
  10. History perbaikan serta perawatan mesin
  11. Hasil dari pengecekan antara
  12. Pengaturan resiko transportasi
  13. Tingkat pelatihan personel
  14. dll

Semoga bermanfaat.

Pangkas Budget Perusahaan Dengan Program Kalibrasi Suhu / Temperature

Suhu merupakan salah satu parameter yang kritis dalam berbagai macam industri. Hal-hal yang berkaitan dengan panas ini hampir bisa kita temui di berbagai macam bidang. Di restaurant cepat saji, proses memasak saat ini distandarisasi menggunakan panas dengan suhu dan waktu tertentu untuk menghasilkan cita rasa makanan yang sama antara gerai satu dengan yang lainnya, Di industri farmasi proses pemanasan diperlukan untuk pencampuran berbagai macam bahan baku supaya lebih cepat homogen selain digunakan juga pada proses granulasi untuk membuat granul dari serbuk melalui proses penyemprotan larutan pengikat, Di bagian pengemasan, proses pemanasan juga diperlukan untuk menghasilkan kemasan produk yang berkualitas dan tidak bocor, di bagian packaging juga pasti mememerlukan panas untuk menempelkan produk jadi di dalam kemasan skunder baik itu kemasan hanger, inner dll. TIdak sebatas hanya dalam industri, bahkan di pusat perbelanjaan sekalipun saat ini kondisi freezer yang digunakan untuk menyimpan produk makanan / daging juga mereka pantau secara berkala suhunya. Sedemikian pentingnya suhu tersebut, maka sangatlah perlu dilakukan kalibrasi suhu terhadap sensor / alat pengukur tersebut.

Ruang Lingkup Kalibrasi Suhu / Temperature yang bisa teman-teman gunakan untuk menghemat budget pengeluaran di perusahaan.

1. Thermometer

Termometer ini banyak macamnya, dari termometer gelas yang banyak digunakan di laboratorium kimia, thermometer klinik yang sering dipakai di dalam klinik / rumah sakit, thermometer non contact yang saat ini sering kita temua di berbagai tempat untuk pengukuran suhu badan, thermometer probe, dll

thermometer probe

2. Thermocouple

Thermocouple banyak digunakan di dalam dunia industri, ada berbagai tipe thermocouple antara lain tipe K, J, T, E dll. Penggunaan thermocouple juga sangat luas. Sensor ini bersama dengan thermometer channel juga dapat digunakan untuk kalibrasi enclosure (oven, inkubator, dll). Selain thermometer dalam bentuk wire / kabel, thermocouple juga dapat berbentuk stick yang biasa digunakan untuk kalibrasi furnace pada suhu tinggi atau berupa surface thermocouple yang sering digunakan untuk kegiatan kalibrasi suhu heater pada mesin produksi (mesin filling, mesin wrapping, mesin molding, dll)

thermocouple

3. Thermometer Datalogger

Seiring dengan perkembangan jaman, alat ini banyak kita temui di dalam dunia industri. Dengan sistem logger yang dapat merekam suhu ruangan dengan inverval serta waktu mulai dan waktu selesai yang sebelumnya kita atur melalui software yang biasanya sudah termasuk dalam paket penjualan. Jika pengukuran sudah selesai data yang dihasilkan tinggal kita download melalui PC yang sudah terinstal software datalogger tersebut. Tampilan dari data pengukuran juga bisa kita lihat grafiknya sehingga bisa memberi gambaran yang jelas trend data dari hasil pengukuran. Data tersebut juga bisa kita konversi langsung ke dalam file excel. Hal ini tentunya sangat membantu karena bisa di bukan di komputer manapun dengan menggunakan progrom excel biasa.

thermometer logger

4. Thermohigrometer

Unit ini merupakan alat ukur dengan 2 parameter, yaitu temperature dan kelembaban yang terukur secara bersamaan, Sama halnya dengan unit alat ukur lainnya, temperature di dalam thermohigrometer ini juga perlu dilakukan kalibrasi untuk tetap menjamin akurasinya.

thermohigrometer

5. Freezer

Freezer banyak digunakan di dalam laboratorium mikrobiologi sebagai tempat untuk menyimpan media sebelum digunakan. Terkait dengan standar yang telah ditetapkan tentunya suhu di dalam freezer tersebut harus kita ketahui penyimpangannya, sehingga banyak perusahaan yang melakukan kalibrasi suhu terhadap freezer tersebut.

freezer

6. Oven dan Inkubator

Oven banyak terdapat di laboratorium kimia, alat ini masih banyak digunakan untuk analisa kadar air bahan baku dan analisa lainnya. Sedangkan untuk inkubator banyak kita temukan di laboratorium biologi. Sesuai dengan namanya, alat ini berfungsi untuk melakukan inkubasi. Kedua alat ini juga harus di kalibrasi suhunya dengan cara melakuakn pengukuran di berbagai titik di dalam area alat tersebut. Standar yang digunakan untuk kalibrasi oven dan inkubator ini adalah thermocouple.

kalibrasi suhu inkubator

7. Waterbath

Alat yang banyak terdapat di laboratorium ini berfungsi untuk pemanasan cairan melalui proses perendaman pada air yang terdapat di dalam waterbath yang sebelumnya telah dipasanaskan dimana tujuan perendaman tersebut adalah untuk menghindari penguapan cairan itu sendiri. Untuk spesifikasi dari waterbath itu sendiri bermacam-macam, namun rentang ukur temperature biasanya s/d 100 derajat celsius

waterbath

8. Hotplate

Sesuai dengan namanya, alat ini berfungsi sebagai pemanas ini sering digunakan dalam pembuatan media mikrobiologi, Lempeng pemanas yang terbuat dari logam pipih bisa membuat alat ini bekerja sampai dengan suhu 400 derajat celsius.

hotplate

9. Autoclave

Alat ini digunakan sterilisasi media, peralatan mikrobiologi, serta limbah mikrobiologi sebelum dilakukan pembuangan. Untuk autoclave sendiri sebenarnya yang tidak dilakukan kalibrasi suhu saja, namun alat pressure gauge yang ada di autoclave terebut juga harus dilakukan kalibrasi.

autoclave-hirayama-hve50

10. Temperature Sensor Mesin Mixer

Khususnya dalam industri farmasi, di dalam proses produksi pembuatan granul, tentunya ada proses pembuatan larutan pengikat dimana beberapa bahan baku dicampur kemudian dilarutan dengan purified water dan dipanaskan pada suhu tertentu. Beberapa perusahaan juga melakukan kalibrasi terhadap sensor suhu di mesin mixer ini supaya larutan yang mereka buat memenuhi standar yang telah ditentukan sehingga tidak terjadi gagal produk.

kalibrasi mesin mixer plp

11. Temperature sensor mesin FBD Glatt

Masih berlanjut di pada proses granulasi tersebut, namun kali ini sensor temperature yang dilakukan kalibrasi adalah di bagian mesin pembuat granulnya / mesin FBD / mesin glatt

kalibrasi temperatur mesin fbd glatt

12. Mesing Filling Topack

Pada proses filling, dimana bahan jadi dikemas menggunakan foil atau sejenisnya, tentunya terdapat proses pelekatan pada foil tersebut supaya produk jadi dalam kemasan tidak bocor, Proses pelekatan foil / sejenisnya tersebut terjadi karena adanya lempengan heater yang bertugas melekatkan foil tersebut. Kita bisa bayangkan jika temperature heater tersebut menyimpang, maka akan menghasilkan kemasan yang tidak sesuai dengan standar (bocor) dan tentunya biaya yang ditanggung perusahaan akan menjadi tinggi (sampah foil, sampah produk jadi, dll)

mesin topack

13. Mesin wrapping

Hampir mirip dengan mesin filling, namun untuk mesin wrapping ini biasanya terdapat di area pengemasan tersier dimana produk yang sudah terkemas ke dalam kemasan hanger / inner dibungkus dengan menggunakan plastik yang dipanaskan dengan mesin wrapping ini sehingga pada waktu produk di edarkan di pasaran tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan cuaca baik hujan maupun panas.

mesin wrapping tokiwa

14. Climatic Chamber

Unit alat ini adalah chamber yang bisa dikondisikan temperature dan kelembabannya. Climatic chamber ini di dalam industri digunakan untuk uji shelf life dari sampel.

climatic chamber

15. Moisture Analyzer

Alat ini digunakan untuk mengukur kandungan air di dalam sampel, banyak digunakan sebagai pengganti metode oven yang memakan waktu analisa 2 – 3 jam. Dengan menggunakan alat ini maka waktu lamanya analisa bisa dipangkas menjadi hanya 5 menit saja. Pemanas yang digunakan dalam alat moisture analyzer ini bisa bermacam-macam, namun yang paling sering diguanakan adalah batang besi atau lampu halogen. Selain parameter suhu yang dikalibrasi, alat ini juga dikalibrasi untuk parameter massanya dengan menggunakan batu timbangan.

alat-ukur-kadar-air-murah

16. Furnace

Bagi teman-teman yang bekerja di laboratorium kimia tentunya tidak asing lagi dengan alat ini, Biasa disebut dengan tanur yang digunakan untuk analisa bahan yang memerlukan pemanasan yang cukup tinggi bahkan s/d 850 derajat celsius.

furnace

Nah itulah beberapa Ruang lingkup kalibrasi suhu (temperature) yang kami sediakan..

Semoga bermanfaat.

Cara verivikasi Jangka Sorong / Caliper

cara-verifikasi-jangka-sorong-caliper

Artikel berikut ini mudah-mudahan bisa membantu temen-temen paling tidak dalam melakukan verivikasi terhadap jangka sorong / caliper sebelum digunakan.

Saya lebih suka menggunakan kata verivikasi di dalam artikel ini daripada kata kata kalibrasi jangka sorong / caliper karena jika kita ingin melakukan kalibrasi terhadap jangka sorong / caliper maka acuan yang biasa digunakan adalah JIS B 7507 – 1993 yang berjudul Vernier, dial and digital callipers.

Sebelum melakukan verivikasi terhadap jangka sorong / caliper maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah catat identifikasi unik dari jangka sorong / caliper tersebut. Setiap alat pasti mempunyai identifikasi yang berbeda / lebih lazimnya mempunyai nomor seri yang berbeda. lebih baik lagi jika dilengkapi dengan nomor aset. Hal ini dilakukan untuk menghindari double sertifikat karena ketidakjelasan informasi alat tersebut.

Bersihkan alat ukur (jangka sorong / caliper) tersebut terutama dibagian permukaan ukurnya (jaw nya) kemudian gerakkan sliding jaw nya ke pengukuran maksimal, kembalikan lagi ke posisi zero, dan ulangi langkah tersebut berulang-ulang (hal ini untuk memastikan bahwa jaw dapat bergerak dengan bebas dan tidak dalam posisi kendur. pastikan juga bahwa skala pengukuran masih terlihat jelas dan tidak kabur.

Sebelum melakukan kalibrasi atau dalam hal ini verivikasi terhadap jangka sorong / caliper lakukan pengkondisian antara alat tersebut dengan standar yang digunakan berupa gauge block (standar yang digunakan untuk kalibrasi jangka sorong). Hal ini sangat penting dilakukan karena perbedaan suhu mempunyai pengaruh terhadap nilai muai bahan entah itu dari standar gauge block nya ataupun dari jangka sorong / alat ukurnya sendiri.

Untuk melakukan verivikasi terhadap gigi luar (outside jaw), ukur standar gauge block tersebut dengan menggunakan jangka sorong / caliper (untuk ukuran gauge block sendiri tentunya divariasi sesuai dengan rentang ukur dari jangka sorong tersebut). Pada saat melakukan variasi pengukuran terhadap gauge block maka pastikan tekanan yang kita gunakan adalah sama dari gauge block yang satu dengan yang lainnya.

Untuk uji repeatibility langkah diatas maka kita dapat melakukan pengukuran dengan menjepit gauge block di area dalam, tengah, dan ujung dari outside jaw tersebut.

Sedangkan untuk melakukan verivikasi terhadap gigi dalam (inside jaw) maka pada prinsipnya hampir sama dengan langkah verivikasi outside jaw tetapi standar yang digunakan adalah gauge ring. Berbeda dengan gauge block yang berbentuk seperti balok dengan berbagai macam ukuran maka gauge block ring berbentuk seperti cincin.

Jika temen-temen tidak mempunyai standar untuk melakukan verivikasi / kalibrasi terhadap jangka sorong / caliper maka kami juga memberikan jasa pelayanan kalibrasi alat ukur dimensi dimana salah satunya adalah jangka sorong, mikrometer sekrup, dial depht gauge dll.

Untuk menggunakan jasa kalibrasi alat ukur kami silakan klik tombol dibawah ini

Akurasi, Presisi, Kalibrasi, Ketertelusuran Pengukuran

Pada dasarnya semua alat ukur atau alat pengujian yang mempunyai pengaruh yang signifikan pada akurasi dan keabsahan hasil pengukuran wajib dikalibrasi sebelum digunakan untuk memastikan bahwa semua alat ukur tersebut sesuai dengan tujuan penggunaan dan memberikan hasil yang dapat dipercaya.

Contoh kasus :

Dalam suatu analisa kadar air dengan menggunakan metode oven, dan ternyata hasil dari pengukuran tersebut dipengaruhi oleh temperatur di dalam oven, maka oven tersebut harus dikalibrasi.

Saya sengaja menggaris bawahi kata akurasi tersebut diatas, karena untuk menghindari kesalah pahaman dengan arti kata presisi.

Akurasi, apa sih artinya?

Akurasi merupakan kedekatan suatu hasil pengukuran / rata-rata hasil pengukuran ke nilai yang sebenarnya.

Lalu apa itu presisi?

Presisi adalah tingkat yang bisa diulang terhadap hasil pengukuran diantara hasil itu2 sendiri.

akurasi presisi

Gambar diatas mungkin bisa membantu kita dalam membedakan arti kata presisi dan akurasi.

Kita dapat membayangkan jika ada suatu sasaran tembak, dan jika kita melakukan tembakan terhadap sasaran tembak tersebut sebanyak 6 kali dan ternyata hasil dari pengulangan tembakan tersebut dekat dengan sasaran semua dan jarak satu sama lain tembakan berdekatan juga maka bisa dikatakan tembakan tersebut adalah akurat dan presisi (gambar lingkaran kanan bagian bawah).

Untuk gambar kanan bagian atas pengulangan tembakan kita sebanyak 6 kali jauh dari sasaran yang ada ditengah tetapi 6 tembakan tersebut saling berdekatan maka dikatakan tembakan tersebut adalah mempunyai presisi yang baik tetapi tidak akurat.

Untuk gambar sebelah kiri atas dan tentunya yang paling jelek yaitu dimana 6 tembakan kita jauh dari sasaran tembak yang ada ditengah dan juga berjauhan antara satu dengan yang lainnya, maka bisa dikatakan tidak presisi dan juga tidak akurat.

Sedangkan pengertian sederhana dari kalibrasi adalah membandingkan alat yang dikalibrasi dengan standar yang tertelusur.

Dari pengertian kalibrasi tersebut diatas, ada 1 kata kunci yang harus dipenuhi dalam kegiatan kalibrasi yaitu ketertelusuran.

Pengertian ketertelusuran pengukuran?

Berikut ini adalah gambar hirarki ketertelusuran pengukuran

ketertelusuran-pengukuran-kalibrasi

Ketertelusuran pengukuran adalah kemampuan dari suatu hasil ukur secara individual untuk dihubungkan ke standar nasional / internasional untuk satuan ukuran dan / sistem pengukuran yang disahkan secara nasional meaupun internasional melalui suatu perbandingan tak terputus.

Sehingga dalam setiap pengukuran yang dilakukan harus memiliki kemampuantelusuran ke laboratorium kalibrasi dimana laboratorium kalibrasi tersebut harus mampu membuktikan adanya ketertelusuran melalui standar yang digunakan ke standar nasional / internasional terkait.