Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegiatan penimbangan, pengambilan bahan kimia, pelarutan merupakan suatu hal yang umum dilakukan di laboratorium kimia. Dan tentunya untuk melakukan kegiatan tersebut kita membutuhkan alat-alat laboratorium, salah satunya adalah spatula laboratorium.

Spatula laboratorium, atau terkadang sebagain orang menyebutnya dengan spatula kimia merupakan salah satu alat laboratorium yang mempunyai peranan sangat penting dalam analisis kimia. Bentuk dari alat ini seperti sendok kecil, pipih, dan bertangkai dengan tepi atas datar.

Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegunaan spatula laboratorium secara umum adalah untuk mengambil obyek / bahan kimia yang bersifat padat (serbuk) serta seringkali digunakan untuk mengaduk pada proses pembuatan larutan kimia. Beberapa aplikasi dari penggunaan spatula misalnya :

  • Pada saat penimbangan sampel untuk analisa kadar air
  • Pengadukan dalam proses pelarutan
  • Memindahkan / mendistribusikan reagen kimia dari satu tempat ke tempat yang lainnya
  • dll.

Spatula secara umum dapat kita temukan dari bahan kayu, alumunium, dan stainless stell, dimana penentuan bahan spatula tersebut tentunya berdasarkan aplikasi penggunaan spatula tersebut di laboratorium, misalnya jika penggunaan spatula diaplikasikan untuk mengambil bahan kimia yang mempunyai sifat bereaksi dengan alumunium, maka spatula dari bahan stainless stell dan kayu sebaiknya dipertimbangkan.

Spatula kimia juga dapat kita temukan dalam berbagai ukuran yang bisa teman-teman pilih sesuai dengan penggunaanya, misalnya spatula tersebut akan kita gunakan untuk pembuatan larutan standar dimana bahan kimia yang ingin kita ambil hanya dalam ukuran 1 – 3 gram, maka spatula yang berukuran kecil dirasa sudah cukup.

Jenis dan Bahan Spatula

Untuk mempermudah pemahaman mengenai bahan dan macam-macam bentuk dari spatula ini, kita akan mengambil contoh spatula brand AS ONE sebagai referensi.

Secara umum, spatula laboratorium berdasarkan kegunaannya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Spatula Stainless Stell

Sesuai dengan namanya, spatula ini terbuat dari stainless stell yang mempunyai sifat tahan karat. Karena berbahan stainless stell maka spatula ini mempunyai keunggulan yaitu mudah dibersihkan dan disimpan. Spatula jenis ini banyak digunakan untuk mengambil objek yang sangat kecil yang telah melalui proses pengirisan dan disiapkan untuk penelitian melalui mikroskop.

Spatula stainless stell ini juga terdiri dari berbagai macam model, antara lain sebagai berikut :

Fluorine Coating Spoons

spatula stainless stell

Jenis spatula stainless stell ini dilapisi fluorine di seluruh permukaannya sehingga memiliki ketahanan terhadap bahan kimia yang sangat bagus. Material dasar stainless stell yang digunakan adalah jenis stainless stell SUS 410.

Spatula jenis ini bisa kita temukan dari ukuran :

  • 150 cm
  • 180 cm
  • 210 cm
  • 240 cm
  • 300 mm.

Floorine Coating Micro Spatulas

Floorine Coating Micro Spatulas

Spatula jenis ini mirip dengan spatula yang pertama, yaitu berbahan stainless stell (SUS 304) yang dilapisi fluoresin, perbedaannya hanya di dalam ukurannya saja. Sesuai dengan namanya micro spatula, maka spatula ini digunakan untuk mengambil sampel dengan ukuran yang sedikit. Beberapa ukuran dari spatula ini adalah :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Micro Spatulas Laboran Package

Micro Spatulas Laboran Package

Jika kedua spatula sebelumnya terbuat dari stainless stell yang dilapis dengan fluorine, untuk spatula jenis ini merupakan spatula stainless stell (SUS 304) tanpa dilapisi fluorine.

Terdapat beberapa model dari spatula jenis ini yaitu :

  • Model Flat dengan ukuran 180 mm
  • Round Thin dengan pilihan ukuran
    • 150 cm
    • 180 cm
    • 210 cm
    • 240 cm
    • 300 mm.
  • Round Thick dengan ukuran 180 mm

Dimana perbedaan untuk ketiga model tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Disebut laboran package karena dalam pembeliannya kita biasanya mendapatkan 1 paket yang berisi 3 model diatas. 3 Model tersebut.

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Umumnya spatula yang kita temukan di laboratorium dengan bentuk di bagian ujung satunya seperti sendok, namun di ujung lainnya rata. Nah untuk spatula jenis ini di kedua ujungnya rata seperti tampilan pada gambar diatas.

Ada 2 macam bahan yang digunakan dalam spatula ini, yaitu :

  • Stainless Stell SUS 410 untuk spatula dengan ukuran 15 x 150 mm ; 15 x 180 mm
  • Stainless Stell SUS 430 untuk spatula dengan ukuran 18 x 210 mm ; 18 x 240 mm;.  18 x 300 mm

Spatula Runcing

Spatula Runcing
Jika umumnya kita mengenal fungsi spatula di area laboratorium ataupun untuk keperluan memasak, spatula jenis ini dapat digunakan untuk memperbaiki atau memproses ulang papan sirkuit listrik misalnya : motherboard PC, komponen-komponen elektrikal perangkat elektronik, untuk pemeriksaan setelah penyolderan, dan untuk pemeriksaan mesin.. Untuk mendukung kegunaaan spatula ini, maka bahan yang digunakan adalah stainless stell AISI 410. Ukuran dari spatula ini berdasarkan urutan pada gambar diatas adalah :

  • 180 mm
  • 175 mm
  • 165 mm
  • 180 mm

Micro Spatula

Micro Spatula

Mempunyai panjang 200 mm dengan dimensi blade 51 x 7 mm dengan ketebalan 0.5 mm. Steam diameter 2.5 mm dan terbuat dari material stainless stell SUS 304. Harga katalog dari spatula jenis ini berkisar antara Rp. 80.000,-

Micro Spatula Hayman Style

Micro Spatula Hayman Style

Spatula ini terbuat dari bahan stainless stell SUS 304, terdapat 2 pilihan ukuran, yaitu :

  • Ukuran spatula : 45 x 3 mm dan ukuran spoon 13 x 2.5 mm
  • Ukuran spatula : 38 x 5 mm dan ukuran spoon 15 x 3 mm

Spatula Chemi Scraper

Spatula Chemi Scraper

Spatula ini rata di bagian ujung satunya, dan bulat di ujung lainnya seperti tampilan gambar diatas. Dibandingkan dengan spatula jenis lainnya, model ini mempunyai dimensi yang lebih panjang yaitu Lebar x Panjang :

  • 8 mm x 175 mm
  • 20 mm x 305 mm
  • 20 mm x 460 mm

Spatula Nikel

spatula nikel

Spatula yang terbuat dari bahan nikel dan banyak digunakan di laboratorium untuk mengambil bahan kimia serbuk / padat. Spatula ini juga dapat digunakan untuk mengaduk larutan kimia, kecuali yang bersifat asam. Spatula ini mempunyai keunggulan dimana dapat digunakan pada suhu yang relatif tinggi, mudah dilakukan sterilisasi, serta bersifat inner atau tahan terhadap bahan kimia.

Spatula Politena

Disebut juga sebagai spatula tanduk, terbuat dari bahan plastik seperti polipropilene sehingga mempunyai keunggulan dalam hal reaktifitas karena seperti kita ketahui bahan plastik umumnya tidak bereaksi terhadap bahan kimia. Kegunaan spatula ini juga sama dengan spatula lainnyayaitu digunakan untuk mengambil bahan kimia yang berbentuk padat.

Micro Spatulas PE Polyethylene

Micro Spatulas PE Polyethylene

Merupakan spatula mikro yang terbuat dari bahan PE Polyethylene. Ada 2 pilihan ukuran panjang untuk spatula jenis ini, yaitu 150 mm dan 180 mm.

Micro Spatula Fluororesin

micro spatula pctfe

Micro spatula yang terbuat dari bahan PCTFE (fluororesin) dimana terdapat 3 pilihan ukuran yaitu :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Heat Resistance Spatula

Heat Resistance Spatula

Terbuat dari material PPS (polypherylene sulfide) dan mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai suhu 240 °C.

Tersedia dalam ukuran 125 mm x 262 mm.

Silicon Spatulas With SUS Handle

Silicon Spatulas With SUS Handle

Spatula dengan bahan karet silikon dan stainless stell pada pegangannya ini mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai dengan suhu 220 °C serta tahan terhadap dingin sampai dengan -50 °C, sehingga aplikasinya sangat luas.

Berapa Harga Spatula Kimia?

Jika berbicara mengenai harga spatula laboratorium, tentunya tergantung dari model dan ukurannya. Karena pada contoh gambar-gambar spatula diatas kita menggunakan AS ONE, maka kita bisa melihat harga spatula tersebut di katalognya secara langsung.

Berikut ini adalah tahapannya :

katalog as one

  • Ketik “SPATULA” di kolom search sehingga display menunjukkan tampilan seperti pada gambar berikut :

harga spatula laboratorium di indonesia

  • Klik salah satu model yang ingin dilihat harganya sehingga tampilan menunjukkan gambar seperti berikut :

harga spatula as one

  • Harga spatula kimia akan tertera dalam mata uang yen seperti tampilan gambar diatas.

Semoga bermanfaat

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Dalam laboratorium kimia, tentunya banyak analisa yang harus kita lakukan, baik itu analisa yang sederhana, misalnya : pelarutan, titrasi, dll sampai dengan yang komplek, misalnya : analisa kadar logam dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS), dll.

Salah satu analisa yang umum kita temukan di laboratorium adalah analisa kadar abu. Pada artikel kali ini kita akan membahas peralatan utama yang digunakan untuk analisa kadar abu tersebut, yaitu furnace laboratorium baik dari pengertian,  fungsi, cara penggunaan, kualifikasi pada saat pertama kali unit tersebut kita terima, sampai dengan metode kalibrasi furnace yang umumnya digunakan oleh laboratorium kalibrasi.

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium

Furnace adalah salah satu alat laboratorium yang digunakan untuk pemanasan hingga suhu tinggi sehingga sampel terbakar dan berubah menjadi abu. Sebagian dari kita menyebut alat ini dengan nama tungku pembakaran.

Seperti yang telah disebutkan diatas, fungsi furnace di laboratorium kimia adalah banyak digunakan untuk analisa kadar abu suatu sampel. Selain itu furnace juga banyak digunakan pada proses destruksi dan untuk mengetahui jumlah sampel yang bersifat volatil (tidak mudah menguap) serta tidak mudah terbakar.

Mengenal Tombol Panel Furnace

pengertian furnace adalah

Furnace mempunyai ukuran chamber yang berbeda-beda tergantung pada tipenya, ada yang berukuran 6 Liter, 9 Liter, dll. Bagian-bagian furnace secara umum hampir mirip dengan oven / inkubator laboratorium, dimana terdapat chamber / ruangan sebagai tempat sampel dan bagian depan terdapat tombol panel.

Seiring dengan perkembangan teknologi, furnace pun juga mengalami perkembangan dari sisi tombol panelnya, antara lain adanya menu program yang bisa kita simpan sehingga pada saat penggunaan kita hanya menekan tombol angka sesuai dengan yang program yang pernah kita simpan. Hal ini tentunya semakin mempermudah penggunaan dan dapat menghindari kesalahan seting / pengaturan pada saat analisa sampel di laboratorium.

Mengenal Tombol Panel Furnace

Tombol panel dan video cara seting dibawah diambil dari salah satu brand furnace yaitu neytech vulcan.

cara menggunakan furnace atau tanur

 

  1. °C / °F Untuk merubah temperature dari °C ke °F dan sebaliknya.
  2. LCD Display, menampilkan program, count down time, dan nomor program.
  3. Tombol Rate, Tekan satu kali untuk R1, dua kali untuk R2, dan tiga kali untuk R3.
  4. Tombol ESC (Escape), untuk membatalkan parameter program atau kembali ke ke “current condition display”
  5. Tombol “Green Start”, untuk menjalankan program.
  6. Tombol “Red Stop”, untuk membatalkan program jika sudah terlanjur dijalankan.
  7. Delay start, jika diaktifkan maka furnace dapat menyala pada waktu yang telah diseting sebelumnhya.
  8. Program Parameter LEDs, mengindikasikan parameter mana yang diaktifkan.
  9. Tombol Hold, tekan satu kali untuk H1 (Hold 1), tekan dua kali untuk H2 (Hold 2), dan tekan tiga kali untuk H3 (Hold 3).
  10. Tombol Temperature, Tekan satu kali untuk T1 (Temp 1), tekan dua kali untuk T2 (Temp 2), Tekan tiga kali untuk T3 (Temp 3).
  11. Tombol Digit, untuk mengganti program dan menyimpan parameter program yang baru.
  12. Tombol Enter, Untuk menyimpan program dan parameter program.

Berikut ini adalah video mengenai cara seting dari furnace

Kualifikasi Furnace

Seperti umumnya alat laboratorium yang baru dibeli, tentunya kita harus melakukan kualifikasi furnace ketika unit tersebut kita terima. Berikut ini adalah contoh dokumen kualifikasi dan beberapa point yang perlu dilakukan pengecekan ketika kita melakukan Installation Qualification dan Operational Qualification dari furnace tersebut.

Kualifikasi Instalasi Furnace

Ketika barang datang, maka pastikan untuk melakukan pengecekan point-point berikut :

  • Apakah kemasan (packaging) dalam kondisi baik dan tidak mengalami kerusakan?
  • Apakah ada device external yang mengalami kerusakan?
  • Apakah tray termasuk dalam paket pembelian?
  • Apakah tersedia buka petunjuk pengoperasian / manual book?
  • Apakah sumber arus listrik mempunyai voltase sesuai dengan persyaratan alat furnace (misalnya : 100 – 120 atau 200 – 240 V, 50/60 Hz.
  • Apakah kondisi lingkungan antara temperatur ruang + 5 s/d 40 dan kelembaban udara maksimum 80 % RH?

Kualifikasi Operasional Furnace

Kualifikasi Operasional Furnace bertujuan untuk menjamin / melakukan pengujian terhadap fungsi fitur yang ada di dalam furnace tersebut. Secara rinci kualifikasi operasional ini bertujuan untuk memastikan :

  • Apakah semua fungsi tombol dan alarm berfungsi dengan baik ?
  • Apakah semua kontrol dan program berfungsi dengan baik ?
  • Apakah distribusi suhu di dalam ruangan furnace memenuhi persyaratan yang ditentukan ?

Berikut ini adalah point-point yang harus diverifikasi ketika kualifikasi furnace.

  • Apakah kabel daya tersambung dengan benar?
  • Tekan saklar utama ke posisi ON. Apakah suhu, waktu dan tampilan program muncul?
  • Tekan tombol C/F, apakah unit suhu berubah ke satuan yang lain?
  • Jika furnace tersebut mempunyai fitur program, maka lakukan pengecekan sebagai berikut :
  • Tekan tombol pengatur suhu, apakah program T1, T2, T3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol Ramp, apakah program R1, R2, R3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol hold, apakah program H1, H2, H3 berkedip pada tampilan LED?
  • Apakah temperature naik seiring dengan berjalannya waktu pada saat furnace di jalankan?
  • Apakah temperature mencapai sesuai dengan seting point dengan spesifikasi yang telah ditetapkan? (misalnya : seting point 100 °C mempunyai toleransi ± 5 °C, maka pada saat kita seting furnace tersebut pada 100 °C, display harus menunjukkan 100 °C ± 5 °C)
  • Lakukan verifikasi pada beberapa titik temperature, misalnya 300 °C; 500 °C; dan 700 °C dengan menggunakan standar termokopel tipe K yang sudah terkalibrasi. Apakah hasilnya memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan?

Kalibrasi Furnace

kalibrasi furnace

Untuk menghasilkan hasil analisa yang akurat, tentunya harus didukung dengan peralatan yang akurat juga, sehingga kalibrasi furnace sebaiknya dilakukan pada interval tertentu (misalnya : 1 tahun sekali) untuk mengetahui nilai koreksi serta ketidakpastiannya.

Metode kalibrasi furnace yang seringkali digunakan adalah AS 2853—1986. Australian Standard. Enclosures—. Temperature-controlled—. Performance testing and grading. Dengan standar yang digunakan thermocouple.

Untuk spesifikasi toleransi kalibrasi furnace biasanya tertuang di dalam manual book alat bersangkutan, misalnya akurasi temperature = ± 5 °C dengan keseragaman temperature = ± 8 °C

Prosedur Perawatan Furnace Laboratorium

  1. Jangan pernah mengoperasikan furnace di dekat bahan yang mudah terbakar atau menempatkan bahan yang mudah terbakar tersebut di atas furnace.
  2. Ketika membersahkan unit alat furnace, jangan menggunakan pelarut atau cairan pembersih pada panel kontrol. Pelarut tersebut akan memasuki panel dan dapat merusaknya.
  3. Jangan meletakkan benda panas lainnya langsung di depan furnace.
  4. Selalu kenakan sarung tangan tahan panas ketika menggunakan furnace.
  5. Furnace harus diletakkan paling tidak dengan jarak 15 cm dari dinding.

Trouble Shooting Furnace

Semakin bertambahnya usia furnace, terkadang kita menemukan beberapa masalah pada saat penggunaanya. Berikut ini adalah beberapa contoh trouble shooting masalah yang ada di furnace.

  • Alat mati total dan tidak dapat beroperasi

Periksa stop kontak dan kabel power, pastikan saklar hijau pada alat dalam posisi ON.

  • Alat tidak panas selama pengoperasian.

Apakah saklar daya warna hijau menyala saat tombol start ditekan?

    1. Jika ya >> Periksa sekering pada pengontrol PCB dan periksa Periksa elemen pemanas.
    2. Jika tidak >> Apakah pintu benar-benar tertutup? Saklar pintu mungkin menjadi daya interupsi.
  • Pemanasan berjalan lambat

Lakukan pengecekan pada program pada bagian rate.

Untuk masalah-masalah yang bersifat umum, biasanya solusinya bisa kita temukan di manual book / petunjuk pengoperasian, namun untuk beberapa masalah lain sebaiknya kita menghubungi supplier alat bersangkutan untuk melakukan perbaikan atau juga bisa menggunakan jasa service alat laboratorium yang teman-teman kenal.

Semoga bermanfaat.

40 Alat-Alat Laboratorium Kimia Lengkap Dengan Gambarnya

40 Alat-Alat Laboratorium Kimia Lengkap Dengan Gambarnya

Dalam suatu analisa / penelitian di dalam laboratorium baik itu laboratorium kimia / biologi, tentunya tidak dapat dilepaskan dengan alat-alat laboratorium baik itu yang sederhana sampai dengan instrumen yang canggih.  Pemahaman mengenai nama peralatan laboratorium tersebut beserta fungsinya akan sangat membantu pekerjaan kita sehingga lebih efektif dan efiien dalam bekerja serta tentunya dari pertimbangan keselamatan kerja juga dirasa lebih maksimal karena kita mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan dihindari ketika menggunakan peralatan-peralatan tersebut.

Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai nama-nama peralatan laboratorium yang sering kita temui di dalam laboratorium berikut dengan fungsinya.

Alat-Alat Laboratorium Kimia

Tabung Reaksi

tabung reaksi

Tabung reaksi terbuat dari gelas yang dapat dipanaskan, alat ini digunakan sebagai tempat untuk mereaksikan zat kimia dalam jumlah sedikit. Cara penggunaannya adalah tabung reaksi dipegang pada bagian lehernya, dimiringkan kurang lebih 60° kemudian diisi dengan larutan yang akan dianalisa.

Apabila tabung reaksi beserta isinya akan dipanaskan, pegang sepertiga bagian bawah dengan menggunakan penjepit karena tabung reaksi tersebut akan panas. Mulut tabung harus diarahkan ke tempat yang aman (jangan ke arah muka sendiri atau muka orang lain). Tabung reaksi yang panas tidak boleh didinginkan secara mendadak karena bisa pecah.

Penjepit Kayu

penjepit kayu

Sesuai namanya, alat ini terbuat dari kayu yang dipakai untuk memegang tabung reaksi. Saat ini selain terbuat dari bahan kayu, penjepit tabung reaksi ini juga bisa kita temukan dari bahan logam,

Rak Tabung Reaksi

test tube rack

Terbuat dari kayu atau logam dipakai untuk menaruh tabung reaksi. Rak tabung reaksi tersedia bermacam-macam ukuran dimana setiap ukuran tersebut juga berbeda jumlah lubangnya.

Baca Juga :

Mengenal Ukuran Tabung Reaksi Kimia dan Cara Menggunakannya

Pengaduk Gelas / Batang Pengaduk

Batang pengaduk berbentuk tabung yang tidak berlubang di bagian dalamnya dan dipakai untuk mengaduk suatu campuran atau larutan zat kimia pada waktu melakukan reaksi kimia. Juga dipakai untuk membantu pada waktu menuangkan atau mendekantasi cairan dalam proses penyaringan dan pemisahan.

Corong

corong laboratorium

Corong biasanya terbuat dari gelas ataupun plastik yang dapat kita sesuaikan dengan aplikasi di laboratorium. Corong yang baik berbentuk kerucut bersudut 60° dipakai untuk memasukkan suatu cairan kedalam suatu tempat yang mulutnya sempit seperti botol, labu ukur, buret, erlenmeyer, dan sebagainya.

Selain itu corong juga digunakan untuk analisa filtrasi / penyaringan yang tentunya digunakan secara bersamaan dengan bantuan klem dan statif. Corong yang tangkainya berdiameter relatif agak besar dipakai untuk memasukkan zat berbentuk serbuk kedalam bejana bermulut kecil.

Gelas Arloji

gelas atau kaca arloji

Gelas arloji mempunyai ukuran penampang lintang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan di laboratorium, digunakan untuk menimbang zat berbentuk kristal, selain itu juga digunakan untuk menutup gelas beker yang berisi larutan waktu pemanasan atau untuk menguapkan cairan.

Gelas Ukur

gelas ukur

Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala dengan ukurannya bermacam-macam dari kecil sampai yang besar, Gelas ukur merupakan alat ukur yang kasar dan tidak untuk pengukuran yang teliti.

Contoh : larutan yang akan dititrasi tidak boleh diambil atau diukur dengan gelas ukur tetapi diambil dengan pipet volume yang mempunyai keakuratan lebih tinggi.

Gelas Kimia

gelas kimia

Gelas kimia bukanlah digunakan sebagai alat pengukur, tanda volume yang ada merupakan taksiran kasar. Alat ini terdapat dalam berbagai ukuran dan digunakan untuk wadah sementara larutan atau reagent, memanaskan larutan, menguapkan pelarut atau memekatkan.

Erlenmeyer

erlenmeyer

Alat ini juga bukanlah alat pengukur, digunakan dalam analisis volumetri untuk wadah suatu volume tertentu dari suatu larutan, seringkali juga digunakan dalam kegiatan titrasi, dan untuk memanaskan larutan.

Ada dua jenis Erlenmeyer :

  1. Erlenmeyer tanpa tutup gelas, dipakai untuk titrasi larutan yang tidak mudah menguap.
  2. Erlenmeyer dengan tutup gelas, dipakai titrasi larutan yang mudah menguap.

Labu Takar

labu takar

Labu takar merupakan suatu bejana dengan leher panjang sempit dan dasar yang datar, dilengkapi dengan tanda batas volume dan mempunyai kapasitas tampung sesuai dengan ukuran yang tercantum. Bila pada alat tertulis 20 °C dan 100 ml maka alat tersebut dapat menampung cairan pada 20 °Celcius sebanyak 100 ml sampai garis tanda yang terdapat pada leher alat.

Labu takar ini banyak digunakan untuk membuat larutan standar atau baku pada analisis volumetri. Seringkali juga digunakan untuk pengenceran sampai volume tertentu. Perlu diperhatikan alat ini jangan digunakan untuk mengukur larutan atau pelarut yang panas.

Pipet Gondok

fungsi pipet gondok

Bagian tengah dari pipet ini membesar seperti gondok. Ujungnya runcing dan pada bagian atas ada tanda goresan melingkar. Tepat sampai tanda tersebut, volume larutan didalam pipet sama dengan angka yang tertera pada alat tersebut.

Alat ini dipakai untuk mengambil dan memindahkan larutan secara tepat pada volume tertentu sesuai kapasitas. pipet gondok tersebut. Pipet gondok ini merupakan alat pengukur yang lebih tepat dari gelas ukur karena lebih akurat.

Pipet Ukur

pipet ukur

Pipet ukur mempunyai bentuk berupa tabung gelas yang agak panjang dengan ujung runcing dan mempunyai skala. Teknik penggunaannya sama dengan pipet gondok, hanya saja volume dapat dipindahkan sebagian disesuaikan dengan keperluan. Jumlah cairan yang dituangkan dapat disesuaikan dengan skala yang ada pada pipet tersebut.

Pipet Tetes atau Pasteur

gambar pipet tetes

Pipet ini tidak mempunyai ukuran volume atau skala lainnya, digunakan untuk memindahkan sedikit zat cair atau larutan yang tidak mempunyai ketelitian tinggi.

Baca Juga :

Cara Menggunakan Pipet Ukur, Pipet Volume, dan Pipet Tetes

Buret

buret biasa

Berupa tabung gelas panjang dengan pembagian skala dan ujung bawah dilengkapi dengan kran digunakan untuk titrasi atau mengukur volume titran yang digunakan. Berdasarkan tingkat ketelitian atau pembagian skalanya, buret dibagi menjadi 2 jenis :

  1. Makro buret dengan pembagian skala 0,1 sampai 0,05 ml.
  2. Mikro buret dengan pembagian skala 0,01 ml.

Yang perlu diperhatikan pada buret adalah ketika membaca membaca skala pada buret supaya tidak timbul kesalahan paralax.

Bola Isap / Suction Bulb

bola hisap

Pengambilan suatu larutan atau cairan menggunakan pipet volume dapat dilakukan dengan bantuan bola hisap karet. Alat ini terdiri dari satu bola dengan ujung pendek diatas dan ujung bawah agak panjang. Ujung bawah mempunyai cabang kesamping. Sebelum dipakai untuk mengambil cairan, bola hisap dikosongkan dengan menekan bola dan bagian ujung atas.

Pipet volume dimasukkan kedalam lubang ujung bawah bola hisap tetapi jangan melewati pipa cabang. Untuk menggunakannya, pijit bagian ujung bawah sehingga cairan akan terhisap masuk ke dalam pipet. Cairan dapat keluar dengan memijit bagian pipa cabang. Sehabis menggunakan bola hisap, pipet dilepas dan biarkan udara masuk sehingga bola menggelembung kembali seperti semula.

Botol Semprot

botol semprot

Botol semprot plastik digunakan untuk menyimpan air suling yang akan digunakan sebagai pelarut zat, pencucian untuk membersihkan dinding bejana dari sisa-sisa endapan, atau membilas alat-alat yang telah dicuci. Botol semprot plastik ini dapat dipegang dengan satu tangan dan dengan pijatan yang lemah cairan akan keluar. Botol semprot mempunyai ukuran yang berbeda-beda mulai dari yang kecil sampai yang besar sesuai keperluan.

Cawan porselin

cawan porselin

Cawan porselin biasanya digunakan sebagai tempat mengabukan kertas saring dan memijarkan endapan sehingga terbentuk senyawa yang stabil. Cawan porselen yang baik dapat dipanaskan hingga suhu 1200 ° celcius. Cawan porselen yang masih panas tidak boleh didinginkan mendadak dengan air dingin karena bisa pecah karena perbedaan suhu yang ekstrim.

Pinggan porselinPinggan porselin

 

Alat ini hampir sama seperti cawan porselin namun lebih tebal. Digunakan untuk menguapkan larutan sehingga menjadi lebih pekat atau menjadi kering atau menjadi kristal.

Piring / Pelat tetes

Pelat tetes

Digunakan untuk mereaksikan zat yang dalam jumlah sedikit. alat ini tidak boleh dipanaskan, Seringkali digunakan pada pengenalan sifat-sifat larutan bersifat asam atau basa dengan menggunakan kertas lakmus.

Mortar Martil

alu dan mortar laboratorium

Merupakan alat laboratorium yang bentuknya sangat mirip dengan lumpang dan alu terbuat dari bahan porselen atau keramik yang membuatnya terlihat mirip dengan cawan porselin atau krusibel. Mortar dan martil adalah sepasang alat laboratorium yang penggunaannya tidak dapat dipisahkan berdasarkan fungsinya.

Penggunaannya tidak ditumbukkan tetapi dipegang dan diputar-putar, digerus. Fungsi mortal dan martil adalah untuk menghaluskan sampel pengujian yang ada di laboratorium, hal ini juga dapat digunakan untuk mencampurkan beberapa bahan menjadi satu dengan cara digerus secara bersamaan.

Cawan Petri

ukuran cawan petri laboratorium

Cawan petri adalah kaca bundar berbentuk silinder tipis dan transparan. fungsi cawan petri berhubungan langsung dengan mikroorganisme yang dipelajari. Biasanya dilengkapi dengan tutup.

Baca Juga :

Pengertian, Fungsi, dan Ukuran Cawan Petridish Laboratorium

Neraca Ohaus

neraca ohaus

Neraca merupakan salah satu alat ukur massa yang dapat dibedakan berdasarkan jenis skala dan jumlah lengannya. Berdasarkan skalanya, neraca ini dibedakan menjadi dua yaitu neraca ohaus manual dan digital. Untuk yang manual ada neraca ohaus dua lengan, tiga lengan, dan empat lengan.

Neraca ohaus adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur massa benda yang memiliki ketelitian 0,01 gram. Prinsip kerja dari neraca ini sebenarnya hanya sekedar membandingkan massa benda yang akan diukur dengan anak timbangan. Kemampuan pengukuran dari neraca ini dapat diubah dengan cara menggeser posisi anak timbangan sepanjang lengan neraca anak timbangannya.

Neraca analitik

Timbangan Analitik Kern ABS 220-4

Neraca analitik merupakan sebuah sebuah alat laboratorium yang digunakan untuk mengukur massa suatu zat, baik zat berbentuk padat maupun cair. Neraca analitik sangat mudah ditemukan di setiap laboratorium karena fungsi dan kegunaannya yang sangat penting.

Kelebihan Neraca Analitik :

  • Memiliki tingkat akurasi atau ketelitian yang sangat baik bahkan hingga 0,00001 gram
  • Neraca analitik digital mudah dalam penggunaannya karena lebih praktis dan efektif tidak membutuhkan waktu yang lama.

Beberapa neraca analitik digital bahkan sudah memiliki fitur internal calibration yang memungkinkan kita melakukan kalibrasi sendiri.

Klem dan Statif

klem dan statif

 

Klem merupakan sebuah alat penjepit yang terbuat dari besi dimana alat ini digunakan untuk menjepit alat gelas kimia / corong, sedangkan statif merupakan stand yang menjadi tempat meletakkan klem.

Kedua alat ini berfungsi membantu kita memegang alat kimia tertentu dalam suatu proses kimia dimana terkadang proses kimia membutuhkan waktu yang lama atau pemanasan dengan suhu tinggi sehingga tidak memungkinkan kita untuk memegang alat tersebut dengan tangan.

Untuk menggunakan klem dan statif itu sendiri sebenarnya tidak ada aturannya, kita hanya perlu memasang klem dengan statif menggunakan penjepit klem. Penggunaan penjepit klem sebaiknya dalam posisi menghadap keatas dengan tujuan untuk mencegah klem terjatuh.

Pembakar Spirtus

pembakar spirtus

Pembakar spirtus ini merupakan alat laboratorium yang digunakan untuk menghasilkan nyala api. Sesuai namanya bahan bakar dari alat ini menggunakan spirtus yang disalurkan menggunakan sumbu-sumbunya yang akan menyerap spirtus dan dikeluarkan di bagian atas. Cara menyalakan pembakar spirtus adalah tinggal dikasih api dan untuk mematikannya mematikannya adalah dengan langsung ditutup, jadi tidak ditiup. 

Pembakar Bunsen

pembakar bunsen laboratorium

Terdiri dari tabung logam vertikal yang terhubung kedalam sumber bahan bakar (burner tube) dengan lubang pemasukan udara. Gas yang biasanya digunakan adalah gas alam atau metana atau bahan bakar gas cair semacam propana dan butana atau kalau di sekitar kita di laboratorium kita biasanya menggunakan gas elpiji.

Alat ini digunakan untuk beberapa proses kimia yang memerlukan pemanasan di dalamnya.

Khusus pada kimia analitik pembakar bunsen digunakan dalam uji kualitatif untuk memanaskan tabung reaksi.

Baca Juga :

Prinsip Kerja, Bagian-Bagian, dan Fungsi Pembakar Bunsen

Kaki Tiga dan Kasa

kaki tiga dan kasa

Kaki Tiga adalah logam besi bundar dengan kaki terbuat dari logam sebanyak tiga, merupakan alat penunjang di laboratorium yang digunakan untuk menopang atau menahan alat gelas kimia atau labu selama pemanasan. Umumnya kaki tiga terbuat dari logam ringan seperti baja yang tahan karat atau besi sehingga mudah dipindahkan kapan saja.

Nama kaki tiga sendiri diambil dari jumlah tiga batang yang dapat berdiri tegak dan kuat dalam menahan bahan di atasnya. Kaki tiga ini memiliki bentuk yang bervariasi seperti segitiga atau lingkaran. Terkadang ada juga yang ketiga kakinya dapat dilepas dan disesuaikan tergantung pada kebutuhan penggunaannya.

Biasanya kasa kawat dengan bagian tengah keramik harus diletakkan diatas kaki tiga agar gelas seperti beaker gelas bisa diletakkan di atasnya. Karena kaki tiga ini tinggi maka pembakar bunsen dapat diletakkan di bawah untuk memanaskannya.

Segitiga Porselen

segitiga porselen

Alat ini berfungsi sebagai penopang wadah, misalnya : cawan porselin yang akan dipanaskan diatas kaki tiga.

Labu Destilasi

labu destilasi

Labu destilasi merupakan salah satu peralatan gelas yang sering kita gunakan di laboratorium karena fungsi dan kegunaannya yang sangat menunjang penelitian. Labu destilasi ini memiliki bentuk yang hampir sama seperti labu alas bulat tetapi memiliki pipa penghubung disisinya.

Labu destilasi sering digunakan untuk alat penyulingan di laboratorium. Prinsip kerja labu destilasi ini didasarkan pada perbedaan titik didih atau volatilitas larutan sehingga larutan yang tercampur akan terpisah berdasarkan titik didihnya.

Pendingin / Kondensor

kondensor

Dalam beberapa metode kimia, kondensor digunakan untuk mendinginkan uap panas. Kondensor berasal dari kata kondensasi yang berarti bahwa alat tersebut akan mendinginkan uap yang melewatinya dan mengubah menjadi fase cair.

Prinsip kerja dari kondensor adalah dengan menurunkan suhu uap secara drastis. Setiap kondensor akan memiliki sistem pendingin menggunakan aliran air, oleh karena itu dalam menggunakan kondensor kita membutuhkan pompa air untuk membuat aliran air dalam kondisi terus berjalan.

Ada beberapa kondensor yang ada di laboratorium

  • Kondensor Liebig
  • Kondensor Alihn
  • Kondensor Graham
  • Kondensor Dimroth
  • Kondensor Friedrichs

Perbedaan dari kondensor tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Corong Pisah

corong pisah ekstraksi

Merupakan alat laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi bahan cairan untuk proses memisahkan dengan beberapa komponen dalam campuran antara dua fase dengan kepadatan yang berbeda.

Penggunaan corong pisah ini dapat dilakukan dengan bantuan dari campuran dua fase pelarut sehingga dapat dimasukkan kedalam corong yang ditutup kemudian dikocok dengan kuat untuk melakukan teknik dalam pencampuran dari dua fase larutan tersebut.

Lemari Asam

fume hood

Lemari asam merupakan sebuah furniture laboratorium berukuran besar yang memiliki bentuk seperti meja terisolasi untuk mengurangi efek atau paparan material berbahaya dalam hal ini asam. Lemari asam juga memiliki nama lain yaitu fume hood.

Fungsi lemari asam adalah untuk menghindarkan atau menjauhkan atau membuang segala jenis uap berbahaya baik dalam bentuk cairan seperti asam sulfat maupun padatan NaOH.

Tang Krus

tang krus

Digunakan untuk memegang / mengambil wadah dalam keadaan panas, misalnya pada saat analisa kadar air dengan menggunakan oven dimana tang krus ini digunakan untuk mengambil botol timbang yang akan dikeluarkan dari oven.

Parafilm

parafilm

Parafilm adalah film semi-transparan yang bersifat fleksibel, mudah dibentuk, dan biasanya digunakan untuk menyegel atau menutup sementara gelas beaker agar cairan dalam gelas beaker tersebut tidak tumpah.

Kertas Saring

kertas saring

Kertas saring digunakan untuk untuk memisahkan antara zat terlarut dari zat padat, memisahkan partikel suspensi dari cairan, atau untuk mengeringkan padatan di desikator, dll. Kertas saring ini bisa kita temukan dalam beberapa ukuran yang bisa kita lihat di dalam kemasannya. Misalnya : pada gambar diatas merupakan kertas saring whatman no. 42.

Desikator

fungsi desikator laboratorium

Desikator / Exicator adalah wadah yang terbuat dari bahan kaca yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan air. Contoh penggunaan desikator ini adalah untuk analisa kadar air suatu sampel.

Botol Timbang

botol timbang

Botol timbang banyak digunakan untuk menentukan kadar air suatu sampel. Selain itu juga sering dipakai untuk menyimpan bahan yang bersifat higroskopis. Jika digunakan untuk menimbang zat cair yang bersifat mudah menguap maka botol timbang harus dalam kondisi tertutup agar tidak terjadi penguapan.

Botol Laboratorium

botol laboratorium

Botol laboratorium mempunyai fungsi yang sangat luas di dalam laboratorium, misalnya untuk menyimpan larutan buffer ph meter, menyimpan sampel retained dari sampel raw material, dll. Botol laboratorium juga bisa kita temukan dari yang berbahan gelas ataupun plastik yang autoclaveable. Ukurannyapun sangat bervariasi dan dapat kita temukan dari volume 25 ml.

Ballast

ba ice ballast

Ballast ini digunakan pada lampu UV pada sistem aliran air di laboratorium untuk menghasilkan aquadem yang bebas dari cemaran mikrobiologi. Alat ini mempunyai umur 1 tahun, sehingga secara periodik harus diganti.

Botol Reagen

botol reagen

Botol reagen merupakan wadah khusus yang digunakan untuk berbagai cairan dan reagen padat di laboratorium. Botol reagen Digunakan untuk menyimpan larutan kimia atau untuk menyimpan indikator asam basa seperti fenolftalin.

Kimwipes

kimwipes

Berbeda dengan tissue pada umumnya, kimwipes merupakan tissue non residual, sehingga sangat cocok digunakan untuk beberapa aplikasi di laboratorium, misalnya membersihkan elektroda ph meter, membersihkan kuvet yang pada spektrofotometer UV Visible, dll.

Peralatan Instrumen Laboratorium Kimia

Jika diatas kita membahas mengenai alat-alat laboratorium kimia yang sering kita temui. Berikut ini adalah beberapa peralatan instrumen  yang sering terdapat di dalam laboratorium kimia. Untuk penjelasannya masing-masingnya akan dibahas terpisah mengingat harus detil menjelaskan mulai dari bagian-bagian komponennya, prinsip kerjanya, cara mengoperasikannya, sampai ke metode kalibrasi yang digunakan untuk menjaga akurasi peralatan tersebut.

  • Magnetic  Stirer
  • Oven
  • Tanur / Furnace
  • Water purified
  • Spektrofotometer UV Visible
  • Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)
  • FTIR
  • Ultrasonic Cleaner
  • pH Meter
  • Conductivity meter
  • dll

Semoga bermanfaat.

Pengertian dan Fungsi Buret Laboratorium dalam Titrasi

Pengertian dan Fungsi Buret Laboratorium dalam Titrasi

Dalam suatu laboratorium kimia, kegiatan titrasi merupakan salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan dalam analisa. Untuk mendukung kegiatan tersebut tentunya ada beberapa peralatan laboratorium yang digunakan, antara lain statif, klem, beaker gelas, erlenmeyer, dan tentunya yang paling utama adalah buret. Kali ini kita akan belajar mengenai jenis, cara menggunakan, serta metode kalibrasi buret yang biasa digunakan sebagai acuan. serta fungsi buret itu sendiri.

Pengertian dan Fungsi Buret

Buret merupakan suatu alat gelas berbentuk tabung panjang dengan garis skala seperti pada pipet ukur atau gelas ukur dengan penampang yang sama dari atas ke bawah. Pada bagian bawah alat ini dilengkapi dengan kran sebagai tempat keluarnya larutan dalam mulut buret.

Fungsi buret adalah sebagai alat untuk mengukur larutan berdasarkan volume yang dikeluarkan. Ukuran buret biasanya memiliki volume 25 / 50 ml.

Jika sedang digunakan buret harus ditopang dengan kokoh dengan suatu statif yang dilengkapi dengan klem untuk menjepit buret tersebut. Usahakan pada saat menjepit buret dalam statif dan klem posisi buret harus tegak lurus supaya pembacaan skalanya tepat dan tidak menimbulkan kesalahan paralax.

Sebelum digunakan buret harus diberikan pelumas untuk mencegah kran saling melekat ataupun macet pada saat penggunaan sehingga mengganggu kelancaran dalam analisa. Pelumas yang paling sering digunakan adalah vaseline.

Jenis-Jenis Buret

Ada 4 macam jenis buret yang biasa digunakan dalam titrasi, antara lain :

  • Buret Biasa

buret biasa

Buret ini terbuat dari gelas dengan warna bening dan garis-garis skala seperti pada pipet ukur.

  • Buret Schellbach

Buret Schellbach

Dimana pada bagian belakang pada dinding buret ini terdapat garis biru memanjang secara vertikal di atas dasar berwarna putih. Pembacaan miniskus pada buret ini dilihat dari bagian lancip pada garis birunya.

  • Buret Oksidasi

buret adalah

Buret ini biasanya digunakan untuk larutan yang mudah terurai oleh cahaya seperti larutan kalium permanganat dan larutan iodin. Buret ini seringkali dinamakan juga sebagai buret coklat karena permukaan buret ini berwarna coklat.

  • Buret basa

harga buret 50 ml

Buret ini biasa dinamakan sebagai buret teflon. Buret ini memiliki perbedaan di bagian krannya yang terbuat dari bahan PTFE atau poly tetra fluoro ethylene. Keunggulan dari buret ini adalah pada saat penggunaannya tidak perlu menggunakan pelumas.

Buret ini biasa digunakan untuk larutan yang bersifat basa karena larutan yang bersifat basa dapat bereaksi dengan alat gelas sehingga jika menggunakan buret biasa maka kran yang digunakan akan macet.

Harga buret tersebut diatas tentunya berbeda satu dengan yang lainnya, namun untuk harga buret 50 ml berkisar antara 100 ribu s/d 200 ribu rupiah tergantung dengan class buret itu sendiri.

Cara Menggunakan Buret Laboratorium

harga buret 50 ml

Dapat dilihat pada gambar diatas, buret mempunyai skala dari 0 s/d 50 ml yang berfungsi untuk mengukur penurunan volume ketika terjadi titrasi hingga titik akhir.

Cara menggunakan buret hampir mirip dengan dengan pipet volume / pipet ukur, dimana pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membilasnya terlebih dahulu dengan menggunakan air suling.

Seperti yang sudah diuraikan diatas, bagian buret terdiri dari batang dan kran yang bisa diputar. Untuk memasang buret di dalam klem dan statif, pegang buret dengan tangan kiri, kemudian buka klem, dan jepit buret tersebut dengan klem.

Berikut tahapan menggunakan buret laboratorium

  • Pertama kita bilas dengan menggunakan air suling dari botol semprot, kita isi kurang lebih 1/3 atau 1/4 dari tinggi buret.

cara menggunakan buret

  • Ambil beker buangan dan kita posisikan buret seperti pada gambar diatas (Telapak tangan menghadap ke atas dan batangnya diposisikan mendatar dimana dibagian bawahnya adalah beker buangan)

cara kerja buret

  • Putar buret dengan tangan supaya bagian dalam buret terbilas dan ketika air atau Larutan kimia itu jatuh maka akan langsung masuk ke dalam beaker buangan.
  • Berikutnya kita juga membilas bagian bawahnya sampai habis.

pembilasan bagian bawah

  • Setelah pembilasan dengan air suling selesai, selanjutnya lakukan pembilasan dengan menggunakan larutan titran yang sebelumnya sudah ditempatkan didalam beker.

Seperti kita ketahui beaker mempunyai ukuran leher yang lebih besar dan leher buret lebih kecil. Jika kita langsung menuang larutan titran tersebut ke dalam buret, maka bisa terjadi tumpahan yang bisa menyebabkan iritasi dan kecelakaan kerja di laboratorium, sehingga untuk melakukan penuangan kita membutuhkan bantuan corong. Dalam memasang corong ke dalam buret ini disarankan diganjal dengan kertas yang dilipat.

Tuang larutan titran kedalam buret kurang lebih 1/3 atau 1/4 dari tinggi buret. Tujuannya adalah untuk menyamakan konsentrasi larutan di buret dengan larutan yang akan dituangkan.

  • Setelah pembilasan selesai kita singkirkan beaker buangan dan tuangkan lagi larutan titran kurang lebih setengahnya dan lihat bagian bawahnya apakah ada gelembung udara, Hilangkan gelembung udara dengan cara miringkan posisi buret dan kita buka kran hingga maksimal sehingga udaranya keluar.

menghilangkan gelembung pada buret

  • Berikutnya kita isi buret dengan larutan titran hingga kurang lebih satu 1 cm diatas skala nol.
  • Pasangkan Buret dan statif. Sampai tahap ini buret akan basah di atas skalanya, maka seka buret dengan menggunakan kertas saring yang dibuat seperti selongsong untuk menyeka bagian atas skala buret tersebut. Tujuannya supaya tidak ada tetesan Air yang jatuh ketika melakukan titrasi dan mengubah volume yang terbaca pada skala buret.
  • Buret siap untuk digunakan.
  • Siapkan larutan yang akan dititrasi pada erlenmeyer.
  • Pegang erlenmeyer dengan tangan kanan (untuk tangan kidal menggunakan tangan kiri)
  • Pegang kran buret dengan tangan kiri (kran buret berada dalam genggaman)
  • Buka kran secara perlahan dan teteskan pada larutan yang akan dititrasi pada erlenmeyer (pastikan dalam membukan kran tidak menyebabkan larutan mengocor, lakukan secara perlahan). Seiring dengan berjalannya waktu, nanti kita akan terbiasa mengatur kecepatan tetesan tersebut.
  • Posisikan tinggi ujung buret menyesuaikan dengan tinggi erlenmeyer.
  • Pegang erlenmeyer dengan tangan kanan, dan gerakkan memutar seperti mengaduk sehingga membentuk pusaran air.
  • Bukan kran buret sehingga titran menetes.
  • Setelah terjadi perubahan warna pada erlenmayer dan titrasi dihentikan dan baca volume skala di buret.

Catatan :

Ketika tidak dipakai posisi buret harus terbalik dan posisi kran harus terbuka supaya tidak ada larutan yang terkurung di kran dan menyebabkan buret menjadi macet.

Cara Membaca Skala Buret Laboratorium

cara membaca skala buret

Dalam membaca skala buret, mata harus tegak lurus terhadap permukaan cairan seperti pada gambar diatas sehingga tidak menimbulkan kesalahan paralax.

Cara Baca Buret Schellbach

skala buret schelbach

Pada gambar buret diatas, dapat dilihat bahwa skala terkecil buret adalah 0.1 ml.

Volume yang terbaca pada buret diatas adalah 42.25 ml, dimana terdiri dari 4 angka penting.

  • Angka 42.2 merupakan angka pasti sedangkan angka 5 merupakan angka taksiran.
  • Angka 5 dipilih menjadi angka taksiran karena pada pembacaan buret posisi miniskus berada pada tengah-tengan 42.2 dan 42.3.

Cara Membaca Buret Asam / Basa

skala buret biasa

Pada gambar diatas, skala terkecil dari buret adalah 0.1 ml. Volume terbaca pada skala diatas adalah 13.93 terdiri dari 4 angka penting dimana

  • Angka 13.9 merupakan angka pasti
  • Angka 3 merupakan angka taksiran.

Angka 3 dipilih menjadi angka taksiran karena posisi miniskus bawah berada pada sepertiga skala yaitu antara 13.9 dengan 14.0 namun lebih mendekati ke angka 13.9 ml.

Cara membaca buret coklat atau amber

cara membaca buret coklat

Pada gambar diatas, skala terkecil adalah 0,1 ml. Volume terbaca adalah 13.03. Dimana ada 4 angka penting dimana :

  • Angka 13.0 merupakan angka pasti
  • Angka 3 dibelakan koma merupakan angka taksiran.

Angka 3 dipilih menjadi angka taksiran karena posisi miniskus bawah berada pada sepertiga skala yaitu antara 13.0 dengan 13.1 namun lebih mendekati ke angka 13.0 ml.

Kalibrasi Buret Laboratorium

kalibrasi buret

Sama halnya dengan pipet volume atau pipet ukur, karena fungsi buret yang relatif penting, maka disarankan buret ini dilakukan secara berkala. Beberapa metode kalibrasi buret yang biasa digunakan adalah :

  • ISO 4787:2010 Laboratory glassware — Volumetric instruments — Methods for testing of capacity and for use
  • ASTM E542-01(2021) Standard Practice for Calibration of Laboratory Volumetric Apparatus

Untuk acuan dalam evaluasi ketidakpastian pengukuran bisa dikombinasikan dengan Guidelines on the Determination of Uncertainty in Gravimetric Volume Calibration EURAMET Calibration Guide No. 19 Version 3.0 (09/2018).

Kalibrasi buret ini bisa dilakukan secara internal selama kondisi lingkungan dan peralatan yang digunkan tersedia serta personel yang melakukan sudah mendapatkan pelatihan kalibrasi atau juga bisa dilakukan secara eksternal ke laboratorium penyedia layanan kalibrasi.

Referensi :

Teknik membaca skala buret

Tutorial penggunaan buret

Spektrofotometer UV Vis, Apa Saja Jenis dan Bagian-Bagiannya?

Spektrofotometer UV Vis, Apa Saja Jenis dan Bagian-Bagiannya?

Di era seperti saat ini dimana kebutuhan analisa kimia terhadap suatu bahan / sampel semakin meluas maka dengan diimbangi perkembangan teknologi, banyak berbagai macam instrument tercipta dengan segala kelebihannya. Sebut saja kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC), gas chromatography (GC), spektrofotometer massa, spektrofotometer infra red, atau spektrofotometer UV visibel. Nah pada artikel ini kita akan sedikit belajar mengenai salah satu dari unit tersebut, yaitu spektrofotometer uv vis baik dari prinsip kerja, jenis, bagian-bagian, cara pemakaian, serta kalibrasi spektrofotometer uv visible tersebut.

Pengertian Spektrofotometer UV Vis

Spektrofotometer UV Vis adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur transmitansi atau absorbansi suatu sampel sebagai fungsi dari panjang gelombang. Pada spektrofotometer uv-vis ini terdapat dua konfigurasi yang biasa kita ditemukan, yaitu :

Spektrofotometer Single Beam (berkas tunggal)

Pada spektrofotometer jenis ini menggunakan satu berkas sinar yang digunakan secara bergantian untuk mengukur larutan standar (termasuk larutan blanko) dan larutan sampel. Jadi sinar tidak secara langsung menuju larutan standar dan larutan sampel secara bersamaan, namun satu-satu secara bergantian, larutan standar terlebih dahulu kemudian baru larutan sampel.

Skema instrumentasi spektrofotometer single beam (berkas tunggal)

gambar spektrofotometer uv vis single beam

Berikut ini adalah bagian-bagian dari spektrofotometer UV Vis single beam :

  • Source atau sumber sinar
  • Monokromator
  • Sampel
  • Detektor
  • Sinyal processor

Dapat dilihat pada gambar diatas, yang membedakan antara spektrofotometer berkas tunggal dengan spektrofotometer berkas ganda adalah pada sinar hanya satu arah saja yang nantinya menyinari sampel dan blanko secara bergantian.

Spektrofotometer double beam (berkas ganda)

Spektrofotometer jenis ini menggunakan dua berkas sinar yang nanti masing-masing akan mengukur larutan sampel dan juga larutan standar.

gambar spektrofotometer uv vis double bean

Gambar diatas merupakan skema instrumen spektrofotometer berkas ganda (Double beam).

Berikut ini adalah bagian-bagian dari spektrofotometer double beam :

  • Source atau sumber sinar
  • Monokromator
  • Chopper
  • Sampel
  • Detektor
  • Sinyal processor

Dimana dapat dilihat sumber sinar setelah melalui monokromator akan dipecah oleh chopper sehingga nanti sinar yang terpecah ini yang satu akan masuk ke sampel dan yang satunya akan ke blanko atau bisa diilustrasikan ada dua jalur sinar.

Secara bagian-bagian / skemanya yang membedakan antara single beam dan double beam adalah karena adanya choper.

Fungsi Bagian-Bagian Spektrofotometer UV-Visible

Sumber sinar

sumber lampu spektro

Biasanya sebagai penghasil sinar polikromatis yang digunakan adalah lampu. Untuk spektrofotometer sinar tampak sumber emisinya adalah lampu sinar tampak, sedangkan untuk spektrofotometer UV, sumber emisi adalah lampu sinar UV.

Untuk lampu sinar tampak terutama lampu wolfram halogen biasanya juga memiliki sedikit spektrum UV dekat dan IR dekat, demikian juga untuk lampu UV biasanya memiliki sedikit spektrum sinar tampak. Sehingga biasanya spektrofotometer uv-vis digabungkan dalam satu bentuk menjadi spektrofotometer uv-visible.

  • Contoh Sumber Emisi Sinar Tampak

Sinar tampak akan dihasilkan dari transisi elektron di kulit terluar atom, ion, atau molekul terutama dari transisi elektron n -> Π* (phi bintang) pada visible dan Π -> Π* pada UV. Foton pada frekuensi sinar tampak bisa dideteksi oleh mata dan dapat menghasilkan citra warna, contohnya, yang termasuk kedalam sumber emisi dari sinar tampak ini adalah lampu halogen dan lampu Wolfram.

  • Contoh Sumber emisi Sinar UV

Sedangkan sinar uv memiliki panjang gelombang yang lebih pendek daripada sinar tampak, sehingga energi fotonnya lebih besar daripada energi foton dari sinar tampak. UV dihasilkan dari transisi elektron di kulit terluar atom, ion, atau molekul terutama dari transisi elektron Π -> Π*. Contoh yang digunakan sebagai lampu sinar UV adalah lampu deuterium, lampu Xenon.

Monokromator

Filter / Monokromator ini berfungsi untuk menghasilkan sinar yang relatif bisa dianggap sebagai monokromatis. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa sinar yang dihasilkan oleh sumber emisi itu masih berupa sinar polikromatis sehingga tidak hanya memiliki satu panjang gelombang saja.

Atau dengan kata lain monokromator ini berfungsi sebagai media untuk menyeleksi sinar dengan panjang gelombang tertentu berdasarkan pada sifat serapan sinar (pada filter serapan), sifat retraksi sinar (pada prisma) dan interferensi gelombang (pada filter interferensi, kisi difraksi, kristal, dan interferometer), dan juga berdasarkan perbedaan energi foton (pada energy dispersive).

Sinar polikromatis yang ditembakkan pada monokromator ini nanti bisa dianggap sebagai sinar yang monokromatis.

Beberapa Jenis Monokromator

Monokromator Filter (Serapan dan Interferensi)

Monokromator filter ini berdasarkan pada prinsip penyerapan sinar yang tidak diperlukan (filter serapan) / interferensi internal (filter interferensi baji dan filter fabry perot), jadi monokromator hanya meneruskan sinar yang kita inginkan saja dan sinar yang tidak kita inginkan akan terfilter.

Monokromator filter ini biasanya lebih murah tetapi tidak fleksibel karena satu filter untuk menghasilkan satu lamda (λ) tertentu saja. Filter serapan biasanya dibentuk dari gabungan dua atau lebih bahan dalam bentuk kaca atau polimer berwarna.

Monokromator ini banyak digunakan pada fotometer (fotometer nyala, single channel, atau multi channel) dan spektrofotometer spesifik yang hanya untuk keperluan analit tertentu serta tidak cocok untuk spektrofotometer dengan lamda (λ) variabel.

Catatan Tambahan : Perbedaan Fotometer dengan Spektrofotometer

Ada perbedaan sedikit antara fotometer dengan spektrofotometer. Untuk fotometer sinarnya hanya satu panjang gelombang saja, sedangkan spektrofotometer sinarnya adalah polikromatis yang diseleksi pada panjang gelombang yang kita inginkan sehingga filter serapan ini lebih cocoknya untuk fotometer atau spektrofotometer spesifik karena dia hanya akan meneruskan lamda (λ) tertentu saja.

Monokromator Filter Intervensi – Interferensi Baji.

monokromator interferensi

Monokromator yang dibentuk dari bahan dari sebuah bahan dielektrik transparan seperti misalnya CaF2 atau MgF2 diapit dua kaca semi cermin. Ketebalan dielektriknya menentukan lamda (λ) yang diteruskan.

Monokromator Prisma

Dimana sinar yang mengenai prisma akan direfraksikan menjadi beberapa sinar. Sama halnya dengan monokromator prisma yang ada pada spektrofotometer, jadi sinar polikromatis yang ditembakkan pada monokromator prisma akan mengalami refraksi menjadi beberapa panjang gelombang.

Monokromator prisma mempunyai kelebihannya harganya murah namun kualitas sinar monokromatis yang dihasilkan kurang bagus. Cocok digunakan untuk spektrofometer optik molekuler, namun tidak cocok untuk spektrofotometer optik atomik dan sering digunakannya pada spektrofotometer sinar tampak berkas tunggal yang sederhana.

Monokromator Grating / Kristal

monokromator kristal

Prinsipnya adalah seperti benda tajam mata pisau atau ujung jarum yang jika dikenai sinar maka akan menyebarkan sinar seolah-olah benda tersebut sumber-sumber sinar yang berukuran kecil.

Monokromator Interferometer / Michelson

Interferometer menghasilkan sinar monokromatis berdasarkan sifat dari interferensi gelombang. terutama digunakan untuk sinar inframerah.

Sel / Kuvet

Setelah sinar dirubah menjadi sinar monokromatis oleh monokromator, selanjutnya sinar akan menyinari sampel dalam wadah sampel / sel / kuvet.

kuvet spektrofotometer uv visible

Kuvet merupakan wadah larutan blanko, standar, atau sampel yang ditempatkan diposisi jalur sinar pengukur di dalam sebuah spektrofotometer. Kuvet model lama bentuknya adalah silinder seperti tabung reaksi kecil, namun kuvet yang berbentuk silinder mudah mengalami bias jika terjadi pergeseran bentuk atau pergeseran posisi sekalipun nilainya relatif kecil, sehingga dalam perkembangannya kuvet modern berbentuk persegi seperti gambar diatas.

Kuvet harus bersifat transparan sempurna untuk sinar pengukur yang digunakan. Untuk pengukuran menggunakan spektrofotometer visible, kuvet bisa dibuat dari bahan kaca biasa namun untuk sinar ultraviolet bahan kuvet harus terbuat dari borosilikat atau bahan lain yang tidak menyerap sinar UV, karena jika menggunakan bahan kaca biasa, maka kuvet tersebut akan ikut menyerap sinar.

Detektor

Setelah mengalami penyerapan sinar  oleh sampel di bagian kuvet tadi, kemudian nanti sinar yang tidak diserap oleh larutan akan diteruskan pada detektor.

Beberapa Persyaratan detektor yang baik adalah :

  • Harus memiliki kepekaan yang tinggi dalam daerah spektrumnya.
  • Respon yang linear terhadap daya radiasi.
  • Waktu Respon yang cepat.
  • Dapat digandakan.
  • Harus memiliki kestabilan yang tinggi atau tingkat noise yang rendah.

Jenis Detektor Spektrofotometer UV-VIS

  • Detektor Sinar
  • Detektor Foton
  • Detektor Massa
  • Detektor Felombang radio

Untuk detektor sinar ini berdasarkan daya / power sinar, contohnya digunakan pada spektrofotometer inframerah, UV dan sinar tampak. Prosesnya adalah sinar mengenai sampel yang ada di kuvet, kemudian sampel akan menyerap sinar, dan sinar yang tidak diserahkan itu diteruskan dan akan dideteksi oleh detektor. Detektor jenis ini yang biasa digunakan pada spektrofotometri uv-vis.

Adapun detektor-detektor yang lain (foton, massa, gelombang radio) biasa digunakan pada spektrofotometer yang lain, misalnya detektor foton untuk spektrofotometer sinar X, detektor massa untuk spektrofotometer massa, detektor radio untuk spektrofotometer resonansi magnet inti).

Sinyal Prosesor

Setelah detektor mendeteksi adanya sinar tersebut, sinar ini tidak langsung diolah namun harus melewati terlebih dahulu sinyal prosesor. Pada sinyal prosesor ini diantaranya akan terjadi penguatan sinyal. Pada bagian ini terdapat pre amplifier, terutama untuk menguatkan potensial dan amplifier yang berfungsi untuk menguatkan daya.

Amplifier diperlukan untuk menguatkan sinyal agar bisa menggerakkan sistem pembacaan karena bisa jadi sinyal tersebut belum cukup besar untuk menggerakkan sistem pembacaan sehingga diperlukan amplifier.

Umumnya sistem pengolahan sinyal analitik tidak diperlukan daya keluaran yang tinggi namun harus stabil. Pada instrumen analitik yang lama, biasanya sistem pembacaannya menggunakan sistem numerik atau jarum, sinyal tersebut akan terlihat dari pergerakan jarum, namun saat ini sudah banyak yang menggunakan sistem komputerisasi sehingga keluaran instrumen analitiknya sudah berbentuk sinyal digital yang diteruskan pada komputer.

Beam Splitter atau Pemecah Berkas

beam spliter

Beam Splitter ini dibentuk oleh dua prisma siku-siku sama kaki atau cermin 50 % yaitu hanya 50 % permukaan kaca tertutup oleh lapisan perak berbentuk cermin.

Jadi nanti ketika sinar ditembakkan nanti sinarnya akan terpecah masuk ke blanko dan masuk ke sampel.

Bentuk lain yang digunakan sebagai pemecah sinar ini adalah chopper / cermin berputar yang akan membagi sinar menjadi 2, salah satu melewati blanko disebut juga reference beam dan yang lainnya melewati larutan. Gambar dibawah ini merupakan contoh gambar chopper.

Beam splitter / chopper ini hanya terdapat di dalam spektrofotometer double beam.

chooper

Sistem komputerisasi

Ada dua jenis sistem komputerisasi pada spektrofotometer:

  • Interaksi passive

Komputer hanya digunakan untuk penanganan data seperti memproses, menyimpan, mencari, menampilkan.

  • Interaksi aktif

Komputer dapat mengontrol langkah-langkah pengoperasian instrumen contohnya : memilih panjang gelombang, menghidupkan, mengatur intensitas sinar, mengatur jumlahnya sampel, dll.

Namun jika pengaturan parameter kerja melalui komputer tetapi tidak otomatis maka dinamakan dengan semi aktif.

Langkah Awal Menggunakan Spektrofotometer Uv Visible

cara menggunakan spektrofotometer uv vis

Gambar diatas bisa dikatakan bagian utama dari spektrofotometer UV Vis dimana blanko dan  sampel ditempatkan. Jadi untuk meletakkan kuvet blanko di tanda huruf d blanko, sedangkan nomer 1 s/d 5 merupakan tempat sampel. Terkait dengan sumber daya listrik, untuk peralatan spektrofotometer uv vis ini sebaiknya menggunakan stabilizer dengan tujuan menjaga listrik tetap stabil serta menyimpan daya ketika terjadi mati lampu.

Tahapan Awal Dalam Pengoperasian Spektrofotometer UV Vis Adalah :

  1. Nyalakan terlebih dahulu stabilizer.
  2. Kemudian tekan tombol “ON” dibagian belakang spektrofotometer UV Vis sehingga display menyala, sebelum melakukan pengukuran sebaiknya kita tunggu sekitar 30 menit setelah tombol ON dinyalakan.
  3. Sebelum kuvet dimasukkan ke dalam spektrofotometer, sterilkan kuvet terlebih dahulu dengan cara membilas dengan larutan sampel dan diulangi sebanyak 3 x.
  4. Lap bagian luar kuvet dengan tisue dengan cara menempelkan tisue ke dinding-dinding kuvet agar kuvet tidak mengalami goresan. Kuvet ini terdiri dari dua bagian, bagian yang sisinya agak buram dan bagian yang sisinya bening. Yang perlu diperhatikan adalah jangan kita sentuh dengan tangan pada sisi bagian yang bening tersebut, namun kita boleh menyentuhnya di bagian yang buram.
  5. Isi kuvet dengan aquades, untuk pengisian pada kuvet kita tidak perlu mengisinya sampai penuh namun cukup sampai tanda batas yang ada dalam kuvet tersebut.
  6. Buka tutup spektro, letakkan kuvet tersebut ke dalam blanko, pada saat meletakkan kuvet yang perlu diperhatikan adalah bagian terang dari kuvet harus menghadap ke lubang karena cahaya spektrofotometer uv vis akan ditembakkan melalui lubang tersebut.
  7. Kemudian isi kuvet yang lain dengan larutan sampel, dan masukkan di tempat nomer 1.
  8. Lakukan hal yang sama untuk sampel yang kedua jika ada.
  9. Tutup spektrofotometer secara perlahan.Untuk tahapan pengukuran absorbansi, dll tentunya disesuaikan dengan pengoperasian masing-masing merk / tipe spektrofotometer uv vis tersebut. Video dibawah ini merupakan salah satu contoh cara menggunakan spektrofotometer uv vis.

Prinsip Kerja Kalibrasi spektrofotometer UV Visible

Paling tidak ada 3 tahapan yang harus diperhatikan sebelum melakukan kalibrasi spektrofotometer UV Vis, yaitu : 

Pemeriksaan awal

  1. Sebelum kalibrasi dimulai lakukan pemeriksaan visual bahwa spektrofotometer berfungsi dengan baik, setiap kekurangan yang ditemukan harus dicatat dan dievaluasi untuk memastikan bahwa hal tersebut tidak mempengaruhi kinerja spektrofotometer.
  2. Lakukan pengecekan nilai Stray Radiant Energy (SRE) atau kebocoran cahaya yang tidak diinginkan dengan menggunakan filter SRE pada daerah 200 nm sampai 450 nm.
  3. Bila diperlukan lakukan pengukuran base line flatness dan noise dari instrumen.
  4. Selama proses kalibrasi, suhu lingkungan disekitar spektrofotometer harus dipantau dan dicatat serta tidak keluar dari rentang 23 plus minus 3,0 derajat Celcius. Bila pengukuran dilakukan pada kondisi suhu di luar terus tersebut maka koreksi terhadap pengaruh suhu harus dipertimbangkan.

Persiapan alat

Kalibrasi dilakukan menggunakan filter standar baik berupa larutan atau glass. Untuk itu filter standar yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan penghembus udara (air blower) untuk memastikan tidak ada debu dan kotoran di permukaan filter standar. Apabila terdapat kontaminasi pada permukaan filter standar bersihkan menggunakan kain bebas serat atau mikrofiber.

Kalibrasi spektrofotometer UV Visible

Kualifikasi kinerja spektrofotometer mengikuti dua kriteria yang harus diverifikasi menggunakan filter standar saat kalibrasi. Kriteria-kriteria tersebut adalah :

  • Akurasi penunjukan panjang gelombang.

Akurasi bukan panjang gelombang didefinisikan sebagai penyimpangan penunjukan panjang gelombang pada rentang panjang gelombang serapan atau emisi dari nilai panjang gelombang pada rentang yang telah diketahui.

  • Fotometrik akurasi

Nilai Fotometrik akurasi ditentukan dengan membandingkan hasil pengukuran nilai acuan absorbansi atau transmittance baik berupa glass ataupun Larutan kimia dengan nilai yang sudah ditentukan dalam sertifikat.

Kenapa Kalibrasi Spektrofotometri uv-vis?

Menurut jurnal Indonesian of laboratory volume 1 nomor 2 tahun 2019 tujuan kalibrasi adalah untuk menyampaikan telusuran pengukuran, maka tujuan kalibrasi spektrofotometer adalah untuk mengetahui nilai perbedaan dari pembacaan alat dengan membandingkan nilai standar, sehingga dapat menjamin data yang benar dan valid. Berikut ini adalah beberapa alasan dilakukan kalibrasi spektrofotometer uv vis :

  • Agar alat spektrofotometer dapat digunakan dengan baik atau menghasilkan data yang valid
  • Untuk mengetahui letak kesalahan atau kerusakan secara dini sehingga dapat diperbaiki sebelum alat mengalami kerusakan berat.

Akurasi panjang gelombang

Akurasi penunjukkan panjang gelombang didefinisikan sebagai penyimpangan penunjukkan panjang gelombang pada rentang panjang gelombang serapan atau emisi dari nilai panjang gelombang pada rentang yang telah diketahui. Penyimpangan panjang gelombang dapat menyebabkan kesalahan yang signifikan pada hasil pengukuran kualitatif dan kuantitatif.

Apabila spektrofotometer di dalam mempertahankan skala panjang gelombang yang akurat maka profil penyerapan sampel yang diukur oleh instrumen spektrofotometer akan tidak akurat, maka harus melakukan verifikasi akurasi panjang gelombang pada spektrofotometer uv-vis.

Nilai akurasi fotometri

Ditentukan dengan membandingkan hasil pengukuran nilai acuan absorbansi atau transmitan baik berupa glass ataupun larutan kimia dengan nilai yang sudah ditentukan dalam sertifikat, karena nilai absorbansi dibatasi oleh tingkat linear hasil pembacaan nilai tersebut maka pada sebuah spektrofotometer ketika didapatkan perbedaan hasil pengukuran dari nilai absorbansi dengan nilai sertifikat maka perlu dilakukan koreksi. Nilai koreksi ini pada umumnya didapatkan dengan membuat plot grafik dan kemudian melakukan perhitungan interpolasi linier.

Performa spektrofotometri uv-vis secara langsung mempengaruhi kualitas pengukuran dan bergantung pada fungsi konfigurasi optik internal yang tepat sehingga dapat diverifikasi oleh penilaian berbagai parameter.

Manfaat pelaksanaan kalibrasi spektrofotometer untuk mengetahui unjuk kinerja instrumen apakah masih sesuai dengan standar yang dipersyaratkan atau tidak serta mengetahui nilai perbedaan dari pembaca alat dengan membandingkan nilai standar sehingga dapat menjamin data benar dan valid. Dengan mengetahui unjuk kinerja alat maka akan dapat menjamin mutu hasil data pengukuran dalam kegiatan penelitian, maupun pengujian.

Manfaat lainnya adalah untuk mengetahui letak kesalahan atau kerusakan secara dini sehingga dapat diperbaiki sebelum alat mengalami kerusakan berat.

Durasi / Interval kalibrasi spektrofotometer

Dalam menentukan interval untuk melakukan kalibrasi harus dilihat terlebih dahulu dari alat itu sendiri mulai dari umur alat, kinerja alat, dan juga rekomendasi pabrik pembuat alat tersebut.

Selain itu jangka waktu pemakaian hingga cara perawatannya juga menjadi tolak ukur dalam menentukan waktu kalibrasi penentuan waktu kalibrasi sebenarnya bisa diperkirakan misal alat ukur harus dikalibrasi zat mencapai 400 jam penggunaan atau setahun sekali dari masa pemakaian agar keakuratannya selalu terjaga.

Biaya dan resiko terkait dengan alat yang tidak dikalibrasi bisa jauh lebih tinggi daripada biaya pada alat yang terkalibrasi, oleh karena itu disarankan bahwa alat tersebut dikalibrasi secara teratur.

Untuk melakukan kalibrasi jika mempunyai standarnya bisa dilakukan sendiri dengan mengikuti manual book yang disertakan pada saat pembelian, namun pastikan personel yang melakukan sudah mengikuti training kalibrasi untuk menjamin kompetensinya.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Kalibrasi Alat Spektrofotometer

Instrumentasi Spektrofotometer UV VIs

Cara Penggunaan Spektrofotometer UV Vis

Mengenal Jenis & Fungsi Mortar dan Alu di Dalam Laboratorium

alu dan mortar laboratorium

Penggerusan sampel / bahan di dalam laboratorium merupakan hal yang lazim dilakukan dengan tujuan yang bermacam-macam, misalnya untuk pengambilan sampel dari suatu padatan yang kemudian dilakukan analisa lebih lanjut, untuk melarutkan suatu sampel agar lebih mudah dilakukan karena jika sampel masih dalam bentuk padatan maka akan susah larut, dll.

Meskipun perkembangan teknologi saat ini memberikan kita semakin banyak pilihan teradap alat untuk menggerus / menggiling suatu sampel, namun keberadaan mortar dan alu di dalam laboratorium tetap dipertahankan dan dengan mudah kita temui untuk berbagai macam aplikasi yang bertujuan untuk membuat sampel menjadi serbuk / mempunyai ukuran yang lebih kecil. Bagaimana cara menggunakan mortar dan alu ini? Apa saja jenisnya? Yuk kita simak dalam artikel berikut ini.

Sejarah Mortar dan Alu

Mortar dan alu ini sebenarnya sudah ditemukan dari zaman batu, dimana manusia pada zaman dulu menggunakan alat ini untuk mengolah makanan / bahan lainnya dengan cara menghancurkannya / menggiling menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga lebih dapat dimasak dengan mudah. Seiring berjalannya waktu, dengan ditemukannya berbagai macam mortar dan alu yang terbuat dari bahan batu maka mortar alu dari bahan kayu dan tanah liat mulai terabaikan.

Sejarah juga menuliskan bahwa pada 22000 s/d 18000 SM (sebelum masehi), mortar alu dari bahan batu digunakan untuk menghancurkan biji-bijian dan bahan tanaman lain dalam suatu TRADISI KEBARAN. Mortar alu ini juga kita temukan di GUA RAQEFET di israil, dimana terdapat rongga alami di lantai gua yang dimanfaatkan oleh NATUFIAN pada 10.000 SM (sebelum masehi) sebagai mortar untuk menggililing sereal untuk membuat bir.

Namun pada abad ke 14, keberadaan mortar batu tidaklah sepopuler mortar perunggu, terutama dalam hal penggunaannya untuk aplikasi kimia pada saat itu karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu bahan yang keras serta mudah dicetak dengan dilengkapi pegangan dan kenop sehingga lebih mudah dalam penggunaan dan penuangan. Namun beberapa kekurangan dari mortar perunggi ini juga menjadi masalah karena dapat bereaksi dengan bahan yang bersifat asam serta bahan kimia lainnya serta dapat menimbulkan korosi. Sehingga sejak akhir abad ke 17, kemunculan mortar porselen yang mengkilap menjadi sangat penting, karena mortar jenis ini selain mudah dibersihkan juga tidak akan rusak jika terkena bahan kimia.

Pengertian & Fungsi Mortar dan Alu Laboratorium

Mortar dan alu dalam aplikasinya di dalam laboratorium selalu digunakan secara bersamaan. Kedua alat ini sebenarnya sudah digunakan sejak zaman dulu untuk menghancurkan / menggiling bahan-bahan sehingga menjadi bubuk halus dan sampai saat ini aplikasinya banyak kita temukan di berbagai macam industri, misalnya :

  • Dalam industri makanan untuk menghancurkan rempah-rempah, gula, dll.
  • Dalam industri kosmetik untuk menghancurkan pigmen, pengikat, atau zat lainnya.
  • Dalam industri keramik untuk membuat grog
  • Dalam industri farmasi untuk pencampuran suatu obat.

Mortar mempunyai bentuk seperti mangkuk, yang terbuat dari kayu keras, keramik, logam, atau granit. Sedangkan alu mempunyai bentuk seperti gada. Dalam penggunaannya, sampel / bahan dimasukkan ke dalam mortar, kemudian digiling sampai mendapatkan serbuk dengan tekstur sesuai yang diinginkan.

Kelebihan menggunakan mortar dan alu jika dibandingkan dengan alat lainnya adalah bentuknya yang seperti mangkok sehingga pada saat terjadi penggilingan maka sampel atau material yang digiling tidak tumpah.

Cara Menggunakan Alu dan Mortar

  1. Meskipun aplikasinya luas, berikut ini adalah salah satu contoh fungsi mortar dan alu dalam pembuatan sediaan obat di dunia farmasi. Yang perlu kita siapkan selain alu dan mortar adalah kertas perkamen dan serbet. Berikut ini adalah tahapan menggunakannya :
  2. Sebelum melakukan penggerusan atau pembuatan sediaan obat, pastikan terlebih dahulu meja kerja dalam keadaan bersih.
  3. Lipat serbet dan taruh di atas meja kerja, serbet ini akan kita gunakan sebagai alas mortar.
  4. Taruh mortar dan alu diatas serbet, pastikan posisi mortar adalah bagian mulut mortar tepat dihadapan kita
  5. Pegang mortar dengan tangan kiri dengan posisi ibu jari kita berada tepat pada mulut mortar dengan tuuan supaya mortarnya tidak bergerak kemana-mana.
  6. Pegang alu dengan tangan kanan dengan posisi ibu jari tangan kanan berada tepat diatas alu / bisa dilakukan dengan cara ibu jari tangan kanan berada tepat disamping alu.
  7. Gerus sampel / bahan dengan cara memutar alu searah dengan jarum jam atau bisa juga berlawanan arah dengan jarum jam. Catatan : Pada saat menggerus / memutar alu, pastikan yang bergerak adalah pergelangan tangan, bukan bagian lengannya.
  8. Jika ada bahan yang belum halus yang masih menempel pada alu, bersihkan dengan kertas perkamen kemudian kita gerus kembali.
  9. Setelah sediaan tercampur dengan rata bersihkan kembali bagian alu supaya tidak ada bahan yang menempel.
  10. Letakkan alu berada di atas serbet yang sebelumnya ditaruh atau diletakkan kertas perkamen dengan posisi kepala alu menghadap / berada di depan kita.

Contoh Beberapa Jenis Mortar Laboratorium

Zirkonia Mortar & Pestle
Soda Glass Mortar & Pestle
Agate Mortar & Pestle
Alumina Mortar & Pestle

Jenis mortar dapat dibedakan berdasarkan dengan mortar tersebut terbuat dari bahan apa, antara lain sebagai berikut :

  1. Mortar dan alu kaca, yang terbuat / dicetak dari soda glass yang dipoles.
  2. Mortar dan alu zirkonia, merupakan alat penggerus / penggiling yang sangat keras, sangat cocok diaplikasikan di industri keramik. Kelebihan dari alat ini adalah anti korosi dan minimum dari kontaminasi serta dapat digunakan pada suhu tinggi.
  3. Agate Mortars & Pestles, sangat cocok digunakan untuk menggiling bahan padat kimia, industri sampai ke aplikasi medis. Jenis ini paling banyak kita temukan di laboratorium kimia / industri makanan. Bahan mortar ini lebih keras dibandingkan dengan yang dari bahan kaca dan porselen dan mempunyai keunggulan produk yang digiling sebelumnya lebih mudah dibersihkan sehiingga dapat mencegah adanya kontaminasi silang. Pembersihan dengan alkohol dan bahan kimia lainnya, serta pemanasan dapat merusak mortar dan alu jenis ini.
  4. Alumina Mortar and Pestle Set, Jenis ini mempunyai kemurnian yang tinggi 99.8% high purity alumina mortar and pestle dengan density di kisaran angka 3.8 s/d 3.9 g/cm3. Jenis ini juga banyak kita temukan di laboratorium.

Tips Membeli Alu dan Mortar Laboratorium

Alu dan mortar dapat kita temukan dalam berbagai macam jenis dan ukuran, supaya tidak salah dalam melakukan pembelian point-point berikut bisa menjadi pertimbangan :

  • Pilih ukuran yang sesuai,

Alu dan mortar tersebut akan kita gunakan untuk apa? Apakah untuk penggerusan sampel di laboratorium kimia, atau untuk menghancurkan biji-bijian / rempah-rempah dalam industri makanan? Jumlah yang digerus banyak atau sedikit? Dari jawaban pertanyaan tersebut kita bisa memperkirakan ukuran dari alu dan mortar yang akan kita beli.

  • Pilih Bahan Alu dan Mortar

Alu dan Mortar biasanya dijual dalam bentuk pasangan, jika kita membeli mortar dari bahan kaca, maka alu yang kita dapatkan juga akan dari bahan kaca. Pastikan jenis alu dan mortar yang kita beli tidak bereaksi dengan bahan yang kita gerus serta mudah dibersihkan.

Ukuran Mortar Laboratorium

ukuran alu dan mortar

Seperti yang sudah diuraikan diatas, bahwa mortar dan alu laboratorium mempunyai beberapa pilihan ukuran yang bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan kita, berikut ini adalah contoh dari ukuran alu dan mortar agate yang dapat kita temukan di pasaran.

Agate mortar and pestle standar form, dengan ukuran diameter luar :

  • 25 mm
  • 35 mm
  • 40 mm
  • 50 mm
  • 65 mm
  • 75 mm
  • 95 mm
  • 100 mm
  • 150 mm

Agate mortar and pestle Deep form dengan ukuran diameter luar :

  • 50 mm
  • 65 mm
  • 75 mm
  • 95 mm
  • 100 mm
  • 125 mm
  • 150 mm

Demikian ulasan mengenai sejarah, cara menggunakan, jenis, serta fungsi dari mortar dan alu laboratorium.

Semoga bermanfaat.

Rererensi :

Wikipedia Mortar & Pestle

Prinsip Kerja, Bagian-Bagian, dan Fungsi Pembakar Bunsen

pembakar bunsen laboratorium

Dalam laboratorium kimia maupun mikrobiologi, proses pemanasan maupun pembakaran sebagai rangkaian suatu analisa merupakan hal yang biasa dilakukan, misalnya mendidihkan pelarut, mereaksinya senyawa yang memerlukan temperature tertentu, untuk melakukan pekerjaan sterilisasi, sampai dengan proses destilasi. Salah satu pemanas yang sering digunakan dalam laboratorium adalah pembakar bunsen atau dikenal dengan sebutan bunsen burner, karena dari segi harga yang relatif terjangkau dan penggunaannya yang cukup mudah meskipun perlu perhatian khusus dalam hal keselamatan para penggunanya. Lalu apa yang dimaksud dengan pembakar bunsen ini? Seperti apa bentuknya? Bagaimana prinsip kerjanya? Apa saja bagian-bagian pembakar bunsen ini akan dikupas di dalam artikel ini.

Sejarah Pembakar Bunsen

Universitas Heidelberg pada tahun 1852 merekrut “Robert Bunsen” dan berjanji kepadanya untuk mendirikan bangunan laboratorium. Pada saat itu kota Heidelberg juga sedang membangun penerangan jalan berbasis batu bara gas dan oleh pihak universitas dinamakan sebagai jalur pipa gas pada laboratorium tersebut.

Arsitek laboratorium terebut mempunyai keinginan untuk menggunakan gas tidak terbatas pada penerangan saja, namun juga untuk proses operasional laboratorium termasuk kegiatan pembakaran. Peningkatan suhu sangat mudah dilakukan pada setiap lampu bakar, namun lampu bakar tersebut meninggalkan yang harus diinginkan tidak hanya panas api, tetapi terkait dengan ekonomi dan kesederhanaan.

Pada akhir tahun 1854 ketika laboratorium tersebut masih dalam tahap pembangunan, Robert Bunsen mengusulkan desain ke mekanik universitas yang bernama “Peter desaga” dan meminta untuk membuat suatu prototipe, yang pada akhirnya desain tersebut (Desain Bunsen / Desaga) mampu menghasilkan panas dengan jelaga yang sedikit serta api bebas pendar dengan cara mencampurkan gas dengan udara secara terkendali sebelum pembakaran.

Peter Desaga membuat celah yang dapat diatur untuk udara dibawah kompor silinder dengan api membakar pada bagian atas. yang pada akhirnya desain tersebut banyak diadopsi oleh teman-temannya dan sampai saat ini pembakar bunsen merupakan salah satu alat laboratorium yang banyak kita temukan di seluruh dunia.

Pengertian Pembakar Bunsen

Pembakar Bunsen adalah adalah alat laboratorium yang mampu menghasilkan nyala api gas tunggal yang terbuka, serta banyak dimanfaatkan untuk proses pemanasan / pembakaran, dan sterilisasi di laboratorium.

Bunsen burner ini umumnya menggunakan metana / gas alam. butana, propana, maupun campuran keduanya. Dalam menggunakan alat ini pastikan kita memilih pembakar yang tepat untuk sumber bahan bakar yang akan digunakan karena akan berbahaya menggunakan pembakar untuk satu jenis bahan bakar dengan bahan bakar lainnya.

Prinsip Kerja Pemanas Bunsen

prinsip kerja pemanas bunsen

Pemanas bunsen biasanya dilengkapi dengan connector yang terhubung dengan selang karet (Rubber Tubing) untuk pasokan gas dari nosel gas di meja laboratorium.

Prinsip kerja pemanas bunsen bergantung pada kemampuannya untuk mencampur gas (atau bahan bakar lainnya) dengan oksigen sebelum campuran tersebut dinyalakan (menciptakan campuran udara dan gas sebelum pembakaran). Hal ini dilakukan dengan menggunakan katup masuk di bagian bawah kolom burner. Campuran kemudian dinyalakan di bagian atas kolom.

Gas Tap / Katup yang dapat disesuaikan di bagian bawah menentukan jumlah oksigen yang masuk ke dalam campuran. Dengan katup tertutup, sangat sedikit oksigen yang masuk dimana akan menghasilkan nyala api “suhu rendah” berwarna kuning berasap. Dengan katup terbuka penuh, hasil nyala api yang panas, hampir tidak berwarna.

Bagian-Bagian Pembakar Bunsen

bunsen burner adalah
  1. Rubber tubing atau selang, yang berfungsi untuk mengalirkan gas dari tabung gas utama ke bunsen.
  2. Gas Inlet, yang berfungsi sebagai tempat masuknya gas ke dalam bunsen 
  3. Gas tap, yaitu katup pengontrol aliran gas utama ke bunsen.
  4. Base / tatakan bunsen, yang biasanya terbuat dari logam yang tahan terhadap api.
  5. Air hole / lubang udara, yang berfungsi untuk mengatur udara yang masuk kedalam bunsen. Jadi kita bisa menentukan warna nyalanya apakah warna merah, biru, kuning, Jingga itu melalui air holetapi ari hole ini udaranya diatur oleh suatu logam yang menutupinya yang disebut coral dan di atasnya ada barrel, yang berfungsi tempat sebagai tempat keluarnya api dari bunsen,
  6. Coral, yang berfungsi sebagai katup atau pengontrol udara yang masuk kedalam bunsen menjadi udara yang masuk Oksigen yang masuk itu bisa diatur besar kecilnya oleh alat ini.

Cara Menggunakan Bunsen Burner Dengan Benar

  1. Gunakan standar keamanan, kenakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai, seperti masker dan jauhkan bahan-bahan yang bersifat flamable atau mudah terbakar, misalnya : eter, alkhohol, tisu yang akan kita gunakan. Jangan lupa masukkan hijab ke dalam jas laboratorium, untuk yang berambut panjang disarankan untuk diikat ke belakang, dan tidak boleh mengenakan pakaian longgar atau besar.
  2. Letakkan bunsen burner di tatakan yang tahan terhadap api serta periksa terlebih dulu selang yang akan kita gunakan. Jangan sampai ada kebocoran dan posisikan kran itu dalam keadaan tertutup yaitu membentuk huruf L.
  3. Pastikan katup udaranya dalam keadaan tertutup dengan cara memutar Coral sampai mentok dan tidak bisa dibuka sehingga belum ada udara yang masuk.
  4. Nyalakan korek kemudian nyalakan gas melalui katup dan bunsen burner pun menyala.
Catatan :
 
Hal yang tidak boleh dilakukan pada saat menyalakan api adalah jangan meletakkan tangan di atas barel karena akan rentan terkena api namun letakkan tangan sedikit di bawah Barrel seperti tampilan gambar dibawah ini.
kegunaan bunsen

Sebelum Menggunakan Bunsen Laboratorium

  • Ketika memindahkan bunsen peganglah bagian base / tatakannya dan perhatikan Selangnya.
  • Jangan meninggalkan bunsen dalam keadaan nyala
  • Selalu tutup kran gas utama jika terjadi sesuatu
  • Pastikan bahwa kita mengetahui di mana semua pintu keluar darurat dan penutup gas darurat serta semua peralatan keselamatan berada sebelum Anda mulai menggunakan pembakar Bunsen

Cara mematikan Pemanas Bunsen Laboratorium

  • Tutup bagian Coral terlebih dahulu
  • Tutup kran utamanya dan pastikan apinya padam.

Tipe Nyala Api di Pembakar Bunsen Laboratorium

bunsen adalah
  • Safety Flame : Api ini berwarna kuning, mudah dilihat di ruangan yang cukup terang, dan membantu orang lain mengingat bahwa pembakar bunsen sedang menyala. Tipe api ini dapat mencapai suhu sekitar 300 °C, tidak digunakan untuk memanaskan bahan untuk percobaan.
    Catatan : Pada saat gas inlet pembakar Bunsen ditutup, udara yang dibutuhkan untuk reaksi pembakaran hanya berasal dari daerah dekat bagian atas pembakar, pembakaran tidak sempurna, menghasilkan nyala api kuning cerah menyerupai lilin.
  • Medium Blue Flame : Tipe nyala api ini bisa mencapai 500 °C. Bisa sulit terlihat di ruangan terang dan dapat terjadi saat celah udara terbuka sebagian.
  • Roaring Blue Flame : Tipe nyala api Ini adalah satu-satunya nyala api yang mengeluarkan suara. Tipe ini adalah nyala api yang paling panas, suhunya bisa mencapai 1400 °C dengan bagian nyala api yang paling panas hanya di ujung kerucut putih di tengah nyala api biru.
    Catatan : Meningkatkan aliran udara ke burner menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan nyala api yang lebih panas. Hasilnya adalah nyala api tiga kerucut yang berisik dan berwarna kebiruan. Nyala api biru ini memberikan suhu burner setinggi mungkin.

Jenis/ Tipe Pembakar Bunsen

Ada beberapa jenis pembakar bunsen yang dapat dipilih tergantung pada sumber gas dan kondisi percobaan yang ingin kita lakukan :

  • Tirrill Burner merupakan dari pembakar Bunsen yang memiliki bentuk seperti sayap di bagian bawah tabung untuk mengatur pasokan gas. Penyesuaian gas kecil dapat dilakukan dengan memutar katup ini.
  • Meker Burner merupakan pembakan bunsen yang didesain untuk menghasilkan suhu yang sangat panas dan stabil. Pada saat api dinyalakan, kisi-kisi di bagian atas memberikan nyala api yang jauh lebih pendek dan lebih kuat (± 1180 °C) dan lebih tenang tetapi dengan konsumsi gas yang lebih boros.
Referensi :

Prinsip Kerja & Fungsi Magnetic Stirer Hotplate Laboratorium

Hot Plate Laboratorium

Masih berkaitan dengan alat laboratorium biologi, magnetic stirer hotplate laboratorium merupakan salah satu alat yang penting keberadaannya. Alat ini digunakan pada berbagai kegiatan analisa antara lain dalam pembuatan media untuk pertumbuhan mikrobiologi. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai magnetic stirer hot plate baik dari prinsip kerja, fungsi, bagian-bagiannya sampai dengan perawatannya.

Pengertian dan Fungsi Magnetic Stirer Hotplate Laboratorium

Magnetic Stirrer hotplate laboratorium merupakan alat yang digunakan untuk mengaduk dan memanaskan larutan satu dengan larutan lain yang bertujuan untuk membuat suatu larutan homogen dengan bantuan batang pengaduk / magnetic bar. Jadi secara singkat fungsi magnetic stirer hotplate ini adalah untuk menghomogenkan larutan dengan cara pengadukan dan pemanasan.

Tak bisa dipungkiri, proses homogenisasi merupakan salah satu proses yang diperlukan dalam laboratorium, banyaknya jenis pelarut dan bahan terlarut menjadi tantangan tersendiri pada proses homogenisasi terebut karena tidak semua proses itu berjalan dengan sendirinya, terkadang memerlukan bantuan pengadukan dengan kecepatan tertentu yang disertai dengan panas. Disinilah fungsi Magnetic Stirrer hotplate tersebut.

Hotplate magnetic stirer itu bisa kita temukan dalam beberapa model / jenis :

  • Model digital hotplate stirer
    Dimana untuk model ini bagian layar / displaynya dapat menampilkan angka untuk pengaturan suhu dan kecepatan putaran yang kita atur.
  • Model analog hotplate stirer
    Sesuai dengan namanya, untuk model ini tidak terdapat display / layar, namun pada bagian knob pegatur suhu dan kecepatan sudah ditandai dengan skala.
  • Model Multi position
    Untuk model ini kita bisa melakukan homogenisasi beberapa larutan sekaligus. Bentuk dari unit ini memanjang sehingga mampu mengampung beeberapa beaker gelas secara bersamaan.

Bagian-Bagian Magnetic Stirer Hotplate

bagian bagian magnetic stirer hot plate

  • Hotplate

Merupakan tempat peletakkan beaker gelas, selain itu juga berfungsi sebagai pemanas

  • Hot Plate House

Bagian ini berfungsi untuk melindungi komponen elektronik dari hotplate.

  • Tombol pengatur kecepatan

Tombol ini berguna untuk mengatur kecepatan pengadukan.

  • Tombol pengatur suhu

Tombol ini berguna untuk mengatur suhu pada saat proses pengadukan.

  • Layar / Display

Layar / display berfungsi untuk memperlihatkan kecepatan pengaduk dan suhu dari larutan yang sedang dihomogenkan.

Dalam penggunaanya, stirer hot plate ini memerlukan magnetic stir bar (magnetic bar) yaitu sepotong besi atau magnet yang tidak bereaksi dengan larutan karena dibungkus dengan materi khusus misalnya teflon / PTFE

Magnetic bar mempunyai ukuran yang beragam yang pada penggunaanya tentunya disesuaikan dengan ukuran beaker gelas yang digunakan. Magnetic bar berfungsi sebagai alat pengaduk pada saat proses pengadukan dengan Magnetic stirer hotplate laboratorium.

Macam-Macam Bentuk Magnetic Bar

Magnetic stir bar paling tidak bisa kita temukan dalam 4 bentuk :

  • Oktagonal

Bentuk ini tersedia dalam berbagai ukuran antara 0.5 Inch s.d 2 Inch

Magnetic Bar bentuk octagonal

  • Polygon

Bentuk ini tersedia dalam ukuran 6 mm s/d 3 inch

Magnetic Bar poligon

  • Egg shape

Bentuk ini tersedia dalam ukuran 3/8 inch s/d 3 inch

Magnetic Stir Bar egg shaped

  • Round

Bentuk ini tersedia dalam ukuran 1/2 inch s/d 9 mm

Magnetic Stir Bar round

Silakan teman-teman sesuaikan dengan kebutuhan di laboratorium.

Pada saat menggunakan magnetic stirer hotplate ada alat lain yang dibutuhkan seperti sumber listrik dan gelas beker, karena alat ini menggunakan sumber listrik sebagai sumber energinya. sedangkan beaker gelas berfungsi sebagai tempat larutan yang dihomogenkan.

Prinsip kerja hotplate magnetic stirrer adalah merubah energi listrik menjadi panas dan juga gerak. Energi panas berasal dari hotplate sedangkan energi geraknya berasal dari hubungan antara 2 magnet yaitu magnet yang terdapat dalam hot plate dan magnet yang terdapat didalam magnetic stir bar yang dimasukkan kedalam gelas beaker kemudian gelas beaker tersebut diletakkan diatas hotplate.

Alat yang fungsinya sama dengan hotplate magnetic stirrer adalah shaker. Dimana shaker adalah alat laboratorium yang digunakan untuk proses pengadukan cairan dengan sistem getar. Shaker berfungsi untuk mengaduk campuran larutan zat sehingga membentuk larutan yang homogen dengan gerakan satu arah. Perbedaan shaker dengan hot plate magnetic stirrer dapat dilihat dari prinsip kerjanya.

Magnetic stirrer membantu proses homogenisasi lebih tenang dengan gerakan memutar yang dibantu oleh stir bar, sedangkan shaker melakukan proses homogenisasi dengan sistem getar atau jungkat-jungkit sehingga menimbulkan goncangan pada larutan .

Tips menggunakan hotplate magnetic stirrer :

  • Pastikan gelas beker yang digunakan tahan panas, sebab jika gelas yang digunakan tidak tahan panas maka akan menyebabkan retak pada gelas dan akan membahayakan bagi praktikan / analis.
  • Pastikan luas permukaan gelas beker sesuai dengan luas permukaan hotplate.
  • Sebelum menyalakan hotplate pastikan magnetic bar sudah masuk kedalam larutan dalam gelas beker karena jika magnetic stir bar di masukkan setelah hotplate dinyalakan, maka larutan akan keluar dari gelas dan akan membasahi sekitaran hotplate.
  • Perhatikan titik didih larutan.
  • Perhatikan juga ukuran magnetic bar dengan gelas beker, sebab jika ukuran magnetic stir bar lebih besar daripada gelas beker maka ujung dari magnetic stir bar atau pengaduk akan mengenai permukaan gelas beker yang akan menyebabkan gelas akan menjadi retak atau pecah.
  • Jangan meletakkan bahan berbahaya di dekat hotplate magnetic stirer.
  • Memakai pengaman saat melakukan percobaan, seperti sarung tangan karena hot plate and magnetic stirrer setelah digunakan akan mengeluarkan panas dan agar tidak melukai tangan.

Cara Menggunakan Hotplate Magnetic Stirrer Laboratorium

Berikut ini adalah tahapan dalam menggunakan alat hotplate magnetic stirrer

  1. Pastikan kabel power sudah terhubung dengan sumber arus listrik
  2. Siapkan cairan atau larutan yang akan kita homogenkan
  3. Masukkan magnetic stir bar kedalam beaker glass yang berisi larutan
  4. Taruh beaker gelas yang sudah berisi larutan tersebut di atas hotplate
  5. Putar knop pengatur panas, sesuaikan dengan kebutuhan
  6. Putar knop stir ini untuk mengatur kecepatan putaran, jika itu model analog, maka semakin diputar ke arah kanan maka putaran akan semakin cepat.
  7. Jika larutan sudah homogen kita putar kembali knob pengatur suhu dan kecepatan putaran kembali ke angka nol.
  8. Angkat larutan dari hotplate, pastikan menggunakan sarung tangan karena hotplate magnetic stirer masih dalam keadaan panas.
  9. setelah selesai digunakan bersihkan permukaan hotplate.
  10. Cabut kabel power dari sumber arus listrik.

Perawatan dan Kalibrasi Magnetic Stirrer Hotplate

Seperti instrumen laboratorium pada umumnya, untuk menjaga unit ini dari kerusakan, maka perlu dilakukan perawatan secara berkala. Untuk prosedur perawatan hotplate magnetic stirer sebenarnya tidaklah sulit, antara lain sebagai berikut :

  • Pada saat pembersihan alat, lakukan dengan cairan pembersih yang direkomendasikan pabrikan, biasanya penggunaan alkohol diperbolehkan.
  • Pada saat pengaturan suhu dan kecepatan, pastikan tidak memutar knob dengan keras untuk menghindari kerusakan pada knob tersebut.
  • Pastikan alat ini ditempatkan pada area yang bersih dan kering serta menggunakan sumber listrik yang stabil.

Untuk kalibrasi hotplate magnetic stirer, parameter utama yang dikalibrasi adalah temperature dan kecepatan motor. Standar yang digunakan adalah termometer dan tachometer. Untuk harga standar juga relatif murah, sehingga jika teman-teman ingin melakukan kalibrasi secara internal sangat memungkinkan. Namun pastikan personel yang melakukan sudah mendapatkan pelatihan / training kalibrasi untuk pemenuhan persyaratan kompetensi.

Harga Magnetic Stirer Hotplate Laboratorium

Harga dari magnetic stirer hotplate laboratorium tentunya bermacam-macam tergantung dari merk serta tipenya, apakah digital, analog, atau bahkan yang kita perlukan yang multi position sehingga kegiatan analisa / homogenisasi bisa kita lakukan secara bersamaan. Namun jika teman-teman ada kebutuhan unit tersebut,  maka hotplate magnetic stirer bisa didapatkan dengan harga berkisar 3 – 10 jutaan.

harga magnetic stirer hotplate laboratorium

Semoga bermanfaat.

Cara Menggunakan Piknometer Untuk Pengukuran Densitas / Massa Jenis

cara menggunakan piknometer dengan mudah

Seperti yang telah kita ketahui bahwa benda-benda yang ada di alam memiliki sifat baik itu sifat fisika dan sifat kimia. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai salah satu sifat fisika yaitu massa jenis atau densitas, baik itu dari sisi pengertian, bagaimana rumus perhitungannya, serta cara menggunakan piknometer dimana merupakan salah satu alat yang digunakan dalam laboratorium untuk mengukur densitas / massa jenis suatu sampel / larutan.

Pengertian Densitas / Massa Jenis

Massa jenis / Densitas adalah bilangan yang menyatakan jumlah zat yang dikandung tiap satu satuan volume. Massa jenis setiap zat tentunya berbeda-beda meskipun memiliki massa dan volume yang sama, sebaliknya zat yang sama memiliki massa jenis yang sama tak peduli berapa banyak zat tersebut.

Contohnya : Massa jenis air adalah 1 gr/cm3, hal ini bisa kita simpulkan bahwa sesendok air atau segayung air ataupun seember air akan memiliki massa jenis yang sama yaitu 1 gr/cm3. Jadi jika kita menemukan zat cair yang massa jenisnya 1 gr/cm3 maka kita dapat duga kemungkinan besar zat tersebut adalah air.

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa selain wujud zat dan partikel penyusunnya, massa jenis / densitas merupakan salah satu penanda / pembeda zat tersebut dengan yang lainnya. Seperti contoh diatas, jika suatu larutan unknown (yang belum diketahui) berdasarkan hasil percobaan penentuan densitas / massa jenis didapatkan hasilnya kurang lebih 1 gr/cm3, maka dapat diduga larutan tersebut adalah air.

Rumus Massa Jenis / Denitas

rumus densitas atau masa jenis

Densitas dilambangkan dengan Rho, dan dapat dihitung dengan rumus :

Rho (ρ) = massa (m) / volume (V)

dimana :

Rho (ρ) = Massa Jenis dengan satuan Kg/m3 atau g/cm3
m = Massa benda (kg atau g)
V = Volume benda (m3 atau cm3)

Penerapan Nilai Densitas dalam Industri

Untuk bahan / sampel yang bersifat liquid / cairan, selain uji kekentalan (viskositas), parameter demsitas merupakan hal penting untuk menentukan bahan sampel tersebut masuk spesifikasi / tidak. Beberapa contoh penggunaan densitas di dalam industri adalah sebagai berikut :

Contoh 1

Analisa bahan baku / produk jadi sediaan sirup, minyak goreng, minyak kayu putih, dll dimana dalam proses pembuatan produk tersebut melibatkan bahan baku yang bersifat cair yang tentunya salah satu parameter kritisnya adalah densitas. Sehingga densitas tersebut harus kita analisa baik pada saat penerimaan bahan baku, In Process Control (IPC), ataupun pada saat produk akhir.

Contoh 2

botol untuk pengukuran densitas

Misalnya dalam suatu industri pembuat minyak angin, dimana produk tersebut dikemas dalam suatu kemasan botol dengan volume netto adalah 10 ml (toleransi 0.5 ml). Namun departemen R&D (Riset dan Development) melakukan perbaikan produk tersebut dengan melakukan subsitusi / penggantian bahan yang sama (misalnya : bahan A) dari supplier / manufacturer yang berbeda.

Karena bahan tersebut berasal dari manufacturer / pabrikan yang berbeda maka spesifikasinyapun bisa jadi berbeda. Dalam kasus ini, spesifikasi dari densitas bahan tersebut bisa jadi berbeda. Maka dampaknya adalah dengan densitas yang berbeda tersebut akan mengakibatkan volume minyak / produk jadi yang dimasukkan ke dalam botol tersebut juga berbeda.

Jika Densitas produk jadi hasil perubahan formula semakin tinggi, maka volume yang dimasukkan ke dalam botol tersebut akan semakin sedikit, demikian juga sebaliknya, jika densitas minyak angin hasil perubahan formula menjadi lebih rendah, maka volume produk jadi yang dimasukkan ke dalam botol tersebut menjadi lebih banyak.

Dan tentunya masih banyak contoh yang lainnya.

Di dalam laboratorium, untuk melakukan pengukuran densitas tersebut, biasanya menggunakan piknometer.

Pengertian Piknometer

Pengertian piknometer adalah

Ditinjau dari bahasa, piknometer berasal dari dua kata yaitu pikno yang berarti rapat dan meter yang berarti ukuran / pengukuran. Jadi piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kerapatan / massa jenis dari suatu bahan atau sampel. Prinsip kerja piknometer adalah membandingkan massa zat dengan volume jahat tersebut. sesuai dengan rumus kerapatan yaitu massa / volume.

Seperti peralatan gelas laboratorium pada umummya, bahan borosilicate banyak digunakan pada piknometer ini sehingga memiliki daya tahan yang relatif kuat terhadap sampel yang bersifat asam / basa kuat. Selain itu juga lebih mudah dibersihkan karena proses pembersihan ini merupakan salah satu tahapan cara menggunakan piknometer yang benar. Piknometer tersedia dalam beberapa ukuran yang tentunya disesuaikan dengan kegiatan analisa di laboratorium teman-teman.

Piknometer terdiri dari dua bagian :

  • Wadah
  • Tutup

Wadah merupakan tempat untuk meletakkan sampel sedangkan tutup sesuai dengan namanya untuk menutup piknometer. Pada bagian tutup piknometer tersebut terdapat lubang yang berfungsi sebagai tempat keluarnya udara.

Jadi misalkan kita mau melakukan analisa menggunakan piknometer, maka di dalam wadah piknometer tersebut tidak boleh ada gelembung udara, karena sesuai dengan fungsinya yaitu ketika kita ingin mengukur densitas / kerapatan maka harus dilakukan dalam kondisi yang rapat tanpa adanya gelembung udara.

Adanya gelembung udara dalam wadah piknometer tersebut mengindikasikan bahwa kerapatan dalam piknometer tersebut belum maksimal sehingga dibantu dengan adanya pipa kapiler atau lubang di tengah-tengah tutup.

Untuk melakukan pengukuran densitas menggunakan piknometer, kita juga memerlukan neraca / timbangan analitik untuk mengetahui massa / bobot dari sampel + piknometer tersebut.

Selain neraca juga dibutuhkan termometer untuk mengukur suhu dimana analisa / pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan piknometer harus dilakukan sesuai dengan suhu yang terdapat pada alat (wadah) piknometer tersebut,

Misalnya keterangan suhu di wadah piknometer tersebut adalah 25 C, maka sampel yang akan dianalisa juga harus kita kondisikan pada suhu 25 C.

Cara Menggunakan Piknometer Untuk Pengukuran Densitas

Pada contoh kali ini kita akan mengukur berat jenis / densitas dari minyak angin, dan berikut ini adalah cara menggunakan piknometer di laboratorium :

  1. Pastikan piknometer sudah dibersihkan dan dikeringkan
  2. Timbang piknometer kosong dan catat berat piknometer kosong tersebut.
  3. Masukkan sampel secara perlahan-lahan ke sampai volumenya setengah dari leher piknometer.
  4. Tutup piknometer dan pastikan tidak ada gelembung, jika masih maka ulangi dari awal
  5. lap dengan tissue supaya tidak ada bercak air di bagian luar piknometer
  6. Timbang piknometer yang sudah terisi sampel, massa yang dihasilkan adalah bobot sample ditambah piknometer

Perhitungan :

Dari langkah kerja diatas terdapat 2 kegiatan penimbagan :

  • Penimbangan bobot kosong yaitu bobot piknometer yang masih kosong (tahapan no. 2)

Misal hasil yang didapatkan adalah 12,5 g

  • Penimbangan bobot piknometer yang sudah terisi dengan sampel (tahapan no. 6)

Misal kita dapet bobotnya 21,5 g

Dari kedua data diatas maka diketahui bobot sampel adalah :

(Bobot piknometer + sampel) – (bobot Kosong)

21.5 gr – 12.5 gr = 9 gr

misalnya dalam analisa tersebut volume piknometer yang kita gunakan adalah 10 ml, maka kerapatannya / massa jenisnya adalah :

9 gr / 10 ml = 0.9 g / ml

Harga Piknometer

Merk, grade, dan volume akan membedakan harga piknometer. Contohnya : Piknometer grade A tentunya akan lebih mahal dibandingkan dengan grade B. Piknometer juga mempunyai pilihan beberapa volume yang akan mempengaruhi harga piknometer itu sendiri, misalnya : apakah volume piknometer yang kita inginkan 5 ml, 10ml, 25 ml, 50 ml, atau bahkan 100 ml. Semakin besar volumenya tentunya harganya juga akan semakin mahal.

Berikut ini adalah contoh gambar yang harga piknometer yang mungkin bisa teman-teman jadikan pertimbangan.

harga piknometer laboratorium

Metode Kalibrasi Piknometer

Hasil analisa yang valid salah satunya tergantung pada tingkat akurasi peralatan yang digunakan, sehingga piknometer yang kita gunakan untuk analisa ini juga harus dikalibrasi. Karena piknometer termasuk dalam peralatan volumetrik, sehingga cara kalibrasi piknometer juga merujuk metode yang sesuai tersebut yaitu ASTM E 542-1 Standard Practice for Calibration of Laboratory Volumetric Apparatus

Semoga Bermanfaat

Pengertian, Cara, dan Contoh Filtrasi dalam Laboratorium Kimia

contoh filtrasi

Filtrasi adalah sebuah metode yang tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari, contoh filtrasi antara lain dari yang sederhana misalnya ketika kita melakukan penyaringan larutan teh, penyaringan parutan kelapa untuk menghasilkan santan, dll. Di dalam industri, filtrasi juga digunakan misalnya pada industri fermentasi dimana untuk memisahkan ampas dari produk industrinya, filtrasi produk ruahan dari bahan cairan obat tradisional tertentu, dll

Di dalam laboratorium kimia, metode pemisahan untuk mendapatkan senyawa yang diinginkan juga merupakan hal yang sering kita temui, baik itu dengan menggunakan metode yang sederhana hanya dengan menggunakan kertas saring dan corong sampai ke metode yang sifatnya komplek dengan menggunakan unit alat yang canggih seperti destilasi, ekstraksi, maupun kromatografi.

Secara umum tujuan filtrasi digunakan untuk memisahkan endapan dari larutannya. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai filtrasi baik itu dari jenis, serta cara filtrasi terebut dilakukan.

Prinsip Filtrasi

Prinsip filtrasi adalah suatu pemisahan yang didasarkan pada perbedaan fisik dalam fase seperti perbedaan ukuran partikel, kepadatan maupun perbedaan muatan listrik. Untuk melakukan kegiatan filtrasi tersebut tentunya dibutuhkan media filter dimana bahan ini adalah suatu padatan berpori yang berfungsi untuk menahan partikel-partikel berukuran lebih besar dan meloloskan partikel yang berukuran lebih kecil dari diameter porinya bersama sama dengan cairan. Beberapa media filter yang sering digunakan seperti nilon, dacron cloth, kawat baja gulungan tahan karat berbentuk coil, kain kasa, dll.

Jenis Filtrasi

  • Berdasarkan jenis media granular :
    • Single medium Filtratition, Dual medium filtration, Multi Medium Filtration
  • Berdasarkan Aliran Melalui Media
    • Filtrasi gravity dan Vacuum
  • Berdasarkan Sekema Kontrol Aliran
    • Rapid sand Filtration, Slow sand FIltration
  • Berdasarkan Skema Kontrol Aliran
    • Filtration Constant Rate, Filtration Declining Rate

Pada kesempatan kali ini akan fokus pada pembahasan filtrasi gravity dan filtrasi vakum, karena 2 jenis ini sangat sering kita temuu di laboratorium kimia. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda, namun kedua kegiatan analisa ini menggunakan kertas saring dalam prosesnya.

Kertas Saring Whatman

kertas saring whatman

Kertas saring merupakan salah satu bahan yang wajib dimiliki dalam suatu laboratorium, sesuai dengan namanya kertas ini berfungsi untuk melakukan penyaringan untuk menghilangkan pengotor ataupun padatan dalam suatu sampel. Ukuran pori dari kertas inipun bermacam-macam tergantung aplikasi atau metode analisa sampel bersangkutan. Bahkan sampai ukuran mikron pun bisa kita temukan.

Ditinjau dari merk ataupun brand nyapun sangat bermacam-macam, salah satu brand dari kertas saring yang kami rekomendasikan adalah brand whatman. Brand ini selain dari kualitas yang terbilang bagus, dari sisi harga juga sangat terjangkau. Berbagai tipe dari brand inipun sangat banyak.

Filter Paper Whatman No. 1 ; 3 ; 4 ; 6 ; 40 ; 41 ; 42 ; dst merupakan beberapa jenis dari kertas saring whatman dimana setiap nomer tersebut berbeda dengan ukuran porinya yang tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan analisa di laboratorium.

Selain dengan ukuran pori, diameter kertas tersebut juga harus kita perhatikan terlebih jika kita akan melakukan filtrasi vakum dengan corong buchner, karena ukuran diameter tersebut harus pas dan tidak boleh ada celah atau lipatan kertas saring pada corong buchner tersebut.

Perbedaan kertas saring Whatman 40 dan 42 :

Whatman ukuran 40 dan 42 merupakan kertas saring yang sering kita jumpai di laboratorium,  Kedua tipe kertas saring whatman ini mempunyai diamter 125 mm serta didesain untuk analisa filtrasi sampel pada proses analisis gravimetri atau preparasi sampel bagi analisis yang menggunakan instrumen laboratorium tertentu.

Kertas saring whatman 40 dan 42 ini termasuk kategori ashless dimana terdapat 0.007 % tingkat keasahan yang menunjukan standar kemurnian. Kertas saring whatman tipe ini cocok untuk berbagai macam kebutuhan seperti filtrasi dalam laboratorium analitik.

Whatman tipe 40  mempunyai kemampuan menyaring partikel yang berukuran s/d 8 μm (sehingga masuk dalam kategori medium flow filter) dengan tingkat retensi partikel yang cukup baik. Sehingga, whatman tipe 40 ini lebih cocok digunakan dalam analisa pemisahan material solid dari larutan endapan atau sendimen. Kertas saring ini juga dapat digunakan untuk preparasi sampel yang akan dianalisa dengan menggunakan spectrophotometer.

Whatman tipe 42 mempunyai kemampuan menyaring partikel berukuran s/d 2.5 μm (sehingga masuk dalam kategori slow filter) dengan tingkat retensi partikel yang paling baik dari semua tipe filter kertas buatan Whatman. Adapun beberapa endapan umum yang dapat menggunakan filter ini seperti kalsium karbonat, barium sulfat, asam metastanik.

Filtrasi Gravity dan Filtrasi Vakum

Filtrasi Gravity merupakan suatu metode pemisahan yang sangat sederhana, menggunakan corong kaca dan kertas saring yang memiliki ukuran pori yang sangat bervariasi untuk memperlambat proses penyaringan yang berlangsung cepat. Proses pemisahan dilakukan atau secara alami dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

Teknik FIltrasi Gravity

Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk analisa filtrasi gravity adalah :

  • kertas saring
  • corong
  • statif dan Klem

Tahapannya adalah :

 

Lipat kertas saring dengan cara sebagai berikut :

cara melipat kertas saring

  • Lipat kertas saring menjadi 2 bagian seperti pada gambar a
  • Kemudian lipat kembali bagian a tersebut menjadi 2 bagian seperti pada gambar b
  • Buka lipatan pada langkah ke 2, dan letakkan kertas saring ke dalam corong sehingga membentuk kerucut.
  • Tuang secara perlahan larutan yang ingin disaring.

Fungsi klem dan statif tadi adalah sebagai pemegang / holder corong jika proses penyaringan berjalan lama sehingga kita tidak perlu untuk selalu memegangnya. Hasil penyaringan tersebut biasa kita sebut dengan filtrat sedangkan sisa yang berhasil tersaring disebut sebagai residu.

Filtrasi Vakum

Filtrasi vakum dilakukan dengan cara memisahkan campuran padat cair yang dituangkan melalui kertas saring di dalam corong buchner.

Dimana padatannya akan terperangkap di dalam kertas saring sementara cairannya akan ditarik oleh vakum melalui saluran menuju ke dalam tabung penampung. Filtrasi vakum dengan menggunakan corong buchner ini mempunyai kelebihan dari kecepatannya karena adanya bantuan pompa vacuum.

Bagian-Bagian Corong Buchner :

corong buchner

1. Buchner funnel
Dimana pada bagian ini terdapat lubang / pori tempat jalannya larutan yang disaring.
2. Rubber Cone
Yang akan dihubungkan Filtering Flask, dengan adanya karet ini tentunya kinerja vacuum lebih maksimal karena tidak mengalami kebocoran pada saat vacuum pump bekerja.
3. Filtering Flask
Dimana pada bagian ini terdapat selang ke bagian vacuum pump.

Untuk melakukan filtasi vakum, ada baiknya instalasi corong buchner tersebut kita tes terlebih dahulu, caranya adalah :

  • Pasang buchner funnel ke dalam rangkaian filtering flask yang sudah terhubung dengan vacuum pump melalui selang (pastikan instalasi corong buchner tersebut rapat dan tidak ada kebocoran)
  • Nyalakan pompa vacuum
  • Tutup bagian buchner funnel tersebut dengan plastik wrap
  • Jika instalasi corong buchner sudah benar dan tidak ada kebocoran, plastik wrap akan tertarik sehingga berbentuk cekung.

Cara Filtrasi Dengan Corong Buchner

  • Pasang kertas saring ke dalam buchner funnel, posisi kertas saring harus pas, dan tidak boleh ada lekukan / lipatan di sekitar buchner funnel tersebut.
  • Basahi kertas saring yang sudah terpasang dalam buchner funnel tersebut
  • Masukkan sampel / larutan yang ingin disaring ke dalam buchner funnel
  • Tunggu sampai tidak ada cairan / pelarut yang menetes.
  • Setelah selesai penaringan, matikan pompa vacuum.
  • Pindahkan sampel hasil penyaringan ke dalam kaca arloji.

Semoga bermanfaat.