Kegunaan Gelas atau Kaca Arloji Pada Pengujian Kimia

Kegunaan Gelas atau Kaca Arloji Pada Pengujian Kimia

Gelas arloji atau kaca arloji, bukanlah alat pengukur, bukan juga peralatan laboratorium yang mahal. Namun keberadaannya sangatlah diperlukan dalam berbagai macam analisa. Tanpa alat ini, maka aktivitas pengujian di dalam laboratorium tentunya akan terganggu.

Sehingga wajar saja jika alat ini dengan mudah kita temukan di laboratorium kimia atau biologi, baik itu laboratorium pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA), laboratorium di universitas, sampai dengan di laboratorium penelitian.

Lalu apa sih sebenarnya kegunaan kaca arloji ini di laboratorium. Yuk kita pelajari bersama.

Pengertian dan Kegunaan Kaca Arloji

kegunaan gelas arloji

Kaca arloji adalah salah satu peralatan laboratorium yang berbentuk lingkaran yang umumnya terbuat dari kaca agak cekung di satu sisi dan cembung di sisi lainnya digunakan oleh analis atau peneliti untuk menguapkan cairan dan menutupi gelas kimia laboratorium selama penyiapan sampel.

Gelas arloji atau kaca arloji itu sendiri jika kita lihat bentuknya memang mirip dengan kaca pada arloji jam tangan yang juga agak melengkung.

Kegunaan Gelas Arloji antara lain adalah :

  • Digunakan untuk menampung padatan selama penimbangan. Misalnya, seorang analis kimia atau peneliti ingin menimbang dengan berat yang tepat dari suatu bubuk bahan untuk formula tertentu.

Maka dari pada menempatkan bubuk langsung ke wadah pencampuran, seorang analis umumnya akan meletakkan kaca arloji pada timbangan kemudian melakukan “tare” atau “rezore” untuk mengenolkan kaca arloji tersebut kemudian mereka baru menambahkan bubuk yang dimaksud ke atas kaca arloji hingga mencapai berat yang diinginkan.

Umumnya kaca arloji juga dibuat dari bahan yang anti lengket sehingga mereka juga tidak perlu khawatir ada bubuk yang tertinggal di kaca arloji tersebut jika ingin memindahkan bubuk tersebut ke wadah lain untuk mencampurnya dengan bubuk yang lainnya sesuai dengan formula.

  • Digunakan sebagai penutup gelas kimia laboratorium sehingga mencegah masuknya kontaminan sekaligus mencegah terjadinya pertukaran gas yang dapat mengganggu berjalannya analisa.

Seperti kita ketahui, terkadang pada beberapa pemcampuran bahan / pereaksi / reaktan menghasilkan gas sebagai hasil reaksinya.

Dengan ditutupnya gelas kimia dengan kaca arloji tersebut maka dapat mencegah hilangnya gas hasil reaksi keluar ke udara bebas.

  • Digunakan untuk mengamati pembentukan endapan atau kristal (dibagian cembung kaca arloji) pada beberapa analisa laboratorium.

Digunakan untuk mereaksikan bahan pada suhu tinggi serta untuk kaca arloji jenis khusus dapat digunakan untuk mencegah keluarnya uap selama eksperimen atau percobaan.

Pada analisis tertentu, kaca arloji juga diletakkan di atas gelas kimia yang berisi berbagai cairan saat mudah menguap yang berfungsi sebagai wadah pengumpul untuk penguapan partikel yang mengkristal pada permukaannya.

Dengan warna yang bening pada kaca arloji serta memiliki ketahan pada suhu tinggi, membuat peneliti dapat melihat secara jelas jalannya atau proses reaksi pencampuran yang terjadi di dalam gelas kimia secara langsung tanpa khawatir juga terpapar uap yang dihasilkan.

  • Digunakan banyak analis untuk menempatkan bahan-bahan kering yang bersifat higroskopis kemudian menyimpannya ke dalam desikator laboratorium.

Proses pengeringan bahan terebut terkadang juga dilakukan dengan menempatkan kaca arloji ke dalam oven laboratorium atau bahkan dengan cara menempatkan kaca arloji di bawah corong, lalu memberikan aliran udara kering yang ringan melalui bagian atas.

  • Digunakan untuk mengamati proses presipitasi dan kristalisasi.

Dengan permukaan penampang yang lebih besar memungkinkan analis kimia dapat langsung mengamati secara nyata dan visual pada saat pembentukan kristal atau endapan ketika bahan atau senyawa direaksikan. Lebih lanjut proses kristalisasi tersebut juga dapat diamati secara langsung dengan menggunakan mikroskop laboratorium.

  • Digunakan untuk wadah untuk bubuk, cairan, atau bahkan zat yang bersifat korosif

Jenis Gelas Arloji Laboratorium

Ada beberapa jenis gelas arloji, mungkin sebagian teman-teman juga sudah mengenalnya, berikut ini diantaranya :

Gelas Arloji Bahan Kaca

Gelas arloji kaca biasanya terbuat dari bahan borosilicate, tentunya mempunyai keunggulan dimana alat ini dapat disterilkan dengan menggunakan autoclave ataupun sekedar dipanaskan dengan oven laboratorium.

Gelas ini juga mempunyai ketahanan terhadap beberapa bahan kimia.

Berikut ini adalah beberapa contoh kaca arloji yang tersedia di pasaran :

  • Kaca arloji bahan soda lime

gelas arloji soda lime

Ketebalan 2 mm dengan pilihan diameter sebagai berikut :

    • 45 mm
    • 60 mm
    • 75 mm
    • 80 mm
    • 90 mm
    • 105 mm
    • 120 mm
    • 150 mm
  • Kaca Arloji Duran

kaca arloji duran

Dibandingkan dengan yang pertama, kaca arloji jenis ini, dapat kita temukan dengan ukuran yang lebih basar yaitu sampai dengan 250 mm.

Terbuat dari material duran borosilicate 3.3 dan mempunyai sifat thermal expansion coeficient 33 x 10 derajat /C (20 – 300 °C).

Berikut ini adalah ukuran-ukuran kaca arloji ini :

    • 50 mm
    • 60 mm
    • 80 mm
    • 100 mm
    • 125 mm
    • 150 mm
    • 200 mm
    • 250 mm
  • Kaca Arloji Quartz

gelas arloji bahan quartz

 

Jika kegiatan teman-teman di laboratorium terkait dengan pemanasan pada suhu tinggi, maka kaca arloji jenis ini bisa menjadi solusi karena dengan bahan yang terbuat dari quartz glass mempunyai spesifikasi heat resistant temperature : 900 derajat celsius.

Kaca arloji jenis ini mempunyai pilihan diameter sebagai berikut :

    • 50 mm
    • 60 mm
    • 70 mm
    • 90 mm
    • 100 mm
    • 120 mm
  • Kaca Arloji Silica

gelas arloji silica glass

Jenis kaca arloji yang terbuat dari bahan silica, mempunyai pilihan diameter seperti yang dari bahan quartz.

Gelas Arloji Bahan Plastik

Sesuai namanya, gelas arloji bahan plastik ini tentunya tidak mempunyai ketahanan seperti yang berbahan kaca karena memang secara aplikasi digunakan untuk pekerjaan laboratorium dimana yang dapat menimbulkan kontaminasi silang pada tahap preparasi sampel.

Pada beberapa kebutuhan analisa, alat ini bahkan digunakan sekali pakai dan seringkali digunakan pada pekerjaan di lapangan.

Pemakaian gelas arloji plastik ini disarankan hanya pada kisaran suhu -70°F hingga 275°F.

Gelas arloji berbahan neoprene dapat digunakan pada berbagai suhu, tahan terhadap degradasi dari sinar UV.

Produk fluoroelastomer memiliki ketahanan panas, minyak, dan bahan kimia yang baik; namun, mereka seringkali memiliki kinerja suhu rendah yang buruk.

Dan yang pasti gelas arloji dari bahan plastik cenderung lebih murah dibandingkan dengan yang dari kaca.

  • Gelas Arloji Bahan PP

kaca arloji plastik

Gelas arloji ini terbuat dari bahan PP (Polypropylene) dan dapat di sterlisasi dengan menggunakan autoclave. Tersedia dalam ukuran :

    • 60 mm
    • 80 mm
    • 100 mm
    • 125 mm

Nampak sekilas pada gambar diatas bentuknya mirip seperti piring.

Tips Membeli Gelas Arloji

tips membeli kaca arloji

Gelas arloji tersedia dalam berbagai ukuran dan ketebalan, saat akan membeli gelas arloji, tentunya harus kita pikirkan terlebih dahulu berapa diameter yang diinginkan serta apakah akan memilih gelas arloji yang tahan lama bisa digunakan berulang-ulang atau sekali pakai.

Gelas arloji “Heavy Duty” umumnya mempunyai bahan kaca yang lebih tebal dibandingkan dengan gelas arloji pada umumnya.

Jenis tersebut juga dapat menahan beban kerja yang lebih berat. Gelas arloji plastik sekali pakai lebih murah dan bobotnya lebih ringan, tetapi mungkin tidak dapat digunakan kembali atau sekali pakai.

Pastikan juga ke suplier alat laboratorium yang teman-teman pilih, apakah menjual gelas arloji tersebut dalam bentuk eceran atau 1 box karena terkadang untuk brand-brand tertentu gelas arloji ini tidak dijual secara eceran.

Semoga Bermanfaat

Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Tentunya semua analis yang pernah bekerja di laboratorium pengujian setuju jika hampir semua peralatan gelas di laboratorium mempunyai harga yang relatif mahal.

Bahkan untuk 1 pcs botol laboratorium dengan volume 1 liter saja terkadang mempunyai harga hampir 100 ribuan.

Sehingga perlu dilakukan perawatan khusus supaya peralatan gelas laboratorium tersebut lebih awet / lebih lama umur pemakaiannya sehingga dapat menghemat budget / pengeluaran di laboratorium.

Salah satu perawatan sederhana yang wajib dilakukan adalah dengan cara pembersihan untuk menghilangkan kontaminan yang ada dalam peralatan gelas laboratorium tersebut. Karena seperti kita ketahui, adanya kontaminan dalam peralatan gelas dapat menyebabkan hasil analisa yang tidak akurat.

Salah satu alat bantu yang kita perlukan untuk melakukan pembersihan peralatan gelas tersebut adalah botol semprot kimia. Peralatan ini sederhana, harganya juga terjangkau, namun fungsinya sangatlah penting. Sehingga sangat disarankan dan hampir pasti setiap laboratorium pengujian ataupun laboratorium kalibrasi memilikinya.

Pengertian dan Fungsi Botol Semprot Kimia

botol semprot lab kimia

Sesuai dengan namanya, botol semprot kimia adalah sebuah botol yang lentur / fleksible pada bagian botolnya dan dapat diremas / ditekan, dengan disertai pipa plastik kecil bengkok (jets tips) yang dimasukkan melalui tutup botol tersebut yang berfungsi untuk menyemprotkan / mengarahkan aliran air / cairan lain pengisinya ke peralatan yang dicuci atau dibilas.

Fungsi botol semprot laboratorium adalah untuk pembilasan / pembersihan gelas kimia, botol, tabung reaksi, gelas arloji, cawan petri, gelas ukur, buret, pipet, batang pengaduk, dan slide mikroskop laboratorium.

Dalam penggunaannya, botol semprot ini dapat diisi dengan berbagai macam pelarut, antara lain air, metanol, etanol, dan aseton, dll.

Jika botol semprot di laboratorium kita masih yang berwarna putih, maka pastikan memberi kode warna atau nama pada setiap botol tersebut untuk mengidentifikasi isinya.

Namun, botol semprot laboratorium sebenarnya juga sudah ada dengan jenis botol semprot dengan tutup berkode warna untuk memudahkan identifikasi dan memenuhi kepatuhan keselamatan.

Terbuat Dari Apa Botol Semprot Lab Kimia Ini

Botol semprot lab kimia terbuat dari plastik dengan tutup ulir. Bahan plastik digunakan karena mempunyai sifat fleksibel sehingga botol dapat diremas / ditekan dengan tangan untuk menghasilkan tekanan yang memaksa cairan di dalam botol mengalir melalui tabung / pipa plastik dan keluar ke permukaan yang sedang dibersihkan. Selain itu, plastik juga dapat menahan pemuaian akibat panas dan bahan kimia.

Botol semprot laboratorium umumnya dibuat dengan dengan model “wide mount bottle” atau mulut yang lebar untuk memudahkan pengisian cairan yang diiinginkan.

Bagian tutup botol semprot memiliki tabung / pipa plastik yang dimasukkan ke dalamnya dengan ujung yang terbuka dan ditekuk. Tabung / pipa plastik tersebut berfungsi untuk mengarahkan aliran air yang merata ke permukaan yang sedang dibersihkan.

Code Botol Semprot Laboratorium

Untuk memudahkan dalam proses mengenali label dan code warna dalam botol semprot laboratorium ini, kita akan memberikan contoh botol semprot dari brand bel-art. Untuk katalognya bisa dilihat langsung di websitenya.

Jika teman-teman masukan / opini lain, boleh kita diskusi melalui kolom komentar.

Botol semprot laboratorium ini terdapat kode dan simbol dengan format yang mudah dilihat dan mudah dikenali untuk menangani bahan kimia / larutan yang kita gunakan di dalam botol semprot tersebut.

Bisa dikatakan, botol semprot ini siap pakai. kita tidak perlu lagi melakukan pelabelan untuk mengidentifikasi cairan yang kita gunakan sehingga dapat terhindar dari kesalahan.

“Cukup isi botol semprot kimia dengan cairan yang sesuai dengan nama cairan yang tertera pada botolnya, dan tinggal gunakan”

Botol semprot lab kimia ini terbuat dari low-density polyethylene (LDPE), bersifat transparan dengan penutup terbuat dari bahan PP (polypropylene), dengan pengecualian sebagai berikut :

  • Botol Natrium Hipoklorit memiliki botol LDPE berwarna putih
  • Botol Toluena memiliki botol LDPE berwarna merah

Berikut ini adalah code warna pada botol semprot lab kimia ukuran 500 ml beserta dengan larutannya pengisinya :

  1. Acetone : Merah
  2. Deionized Water : Biru
  3. Dichloromethane : Kuning
  4. Distilled Water : Biru
  5. Ethanol : Natural
  6. Ethanol 70% : Hijau
  7. Ethyl Acetate : Hijau
  8. Isopropanol : Kuning
  9. Machine Oil : Natural
  10. Methanol : Hijau
  11. Methyl Ethyl Ketone : Hijau
  12. Saline Solution: Natural
  13. Soap : Biru
  14. Sodium Hypochlorite (Bleach) : Kuning
  15. Toluene : Merah
  16. Water : Biru

Pada botol semprot lab kimia bercode ini paling tidak ada 4 informasi yang tertera pada botol seperti pada gambar dibawah ini :

botol semprot laboratorium

  • Bagian A : Identifikasi Kimia

Nama bahan kimia beserta dengan rumus molekulnya.

  • Bagian B: Kode Bahaya

simbol bahaya pada botol semprot laboratorium kimia

Bahaya utama dengan diwakili oleh simbol yang sesuai.

    1. Toxic : Setiap bahan kimia atau bahan yang telah terbukti menjadi berbahaya bagi kesehatan baik akut ataupun kronis.
    2. Oxidizer (Oxidizing Material) : Senyawa yang menghasilkan oksigen dengan mudah untuk meningkatkan atau mempercepat pembakaran bahan organik.
    3. Corrosive : Bahan kimia yang menyebabkan kerusakan yang terlihat atau perubahan permanen pada jaringan hidup
      dengan adanya reaksi kimia di tempat terjadinya kontak; dan juga bahan yang menyebabkan korosi parah pada baja.
    4. Flammable : Padatan, cairan, uap atau gas yang mudah menyala dan terbakar dengan cepat.
    5. Explosive : Setiap bahan yang menghasilkan pelepasan tekanan, gas, dan panas secara tiba-tiba dan hampir seketika saat mengalami kejutan, tekanan, atau suhu secara tiba-tiba.
    6. Irritant : Setiap bahan non-korosif yang menyebabkan efek inflamasi reversibel pada jaringan hidup oleh bahan kimia di tempat kontak sebagai fungsi konsentrasi atau durasi paparan.

Baca Juga : HIRADC dan Contoh Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko

  • Bagian C: Bahaya Kebakaran

kode bahaya botol

Bentuk belah ketupat (diamond) di bagian C menunjukkan kode NFPA (National Fire Protection Association) standar AS yang memberi peringkat bahaya menurut reaktivitas bahan kimia terhadap keberadaan api.

    1. Warna merah di bagian atas
    2. Warna kuning di sebelah kanan
    3. Warna biru di sebelah kiri

Menggunakan peringkat skala 0 sampai 4, dimana angka 4 menunjukkan bahaya terbesar dan angka 0 menunjukkan bahaya terkecil.

Belah ketupat (Diamond) bagian bawah berisi khusus piktogram sesuai kebutuhan.

Berikut ini adalah peringkat dari bahaya tersebut.

Diamond Bagian Atas (Merah) : Bahaya Kebakaran dan Titik nyalah

    • 4 – Sangat mudah terbakar; dibawah 21°C / 70°F
    • 3 – Menyala dalam kondisi suhu normal; dibawah 38°C / 100°F
    • 2 – Menyala dengan pemanasan sedang; dibawah 93°C / 200°F
    • 1 – Menyala saat dipanaskan; diatas 93°C / 200°F
    • 0 – Tidak akan menyala (Tidak mudah terbakar)

Diamond bagian kanan (Kuning): Reaktivitas

    • 4 – Mematikan
    • 3 – Sangat Berbahaya
    • 2 – Berbahaya
    • 1 – Sedikit Berbahaya
    • 0 – Bahan Normal

Diamond Bagian Kiri (Biru): Bahaya Kesehatan

    • 4 – Mematikan
    • 3 – Sangat Berbahaya
    • 2 – Berbahaya
    • 1 – Sedikit Berbahaya
    • 0 – Bahan Normal

Diamond Bagian Bawah (Tidak ada Warna / Bahaya Spesifik

    • OXY – Pengoksidasi
    • Acid– Asam
    • ALK – Alkali
    • COR – Korosif
    • W – Reaktif Air, gunakan TANPA AIR

 

  • Bagian D: Organ Sasaran, Efek dan Rute Masuk

Informasi tambahan yang diperlukan oleh Standar Komunikasi Bahaya OSHA

Label Organ Target dan Efek yang sesuai :

    • Paru-paru
    • Jantung
    • Ginjal
    • Mata
    • Kulit
    • Darah
    • Sistem syaraf pusat
    • Sistem pernapasan

Alat Pelindung Diri yang Direkomendasikan :

    • Kacamata
    • Jas laboratorium
    • sarung tangan yang tepat
    • dll

Prosedur Pembersihan Botol Semprot Kimia

Untuk membersihkan botol semprot ini, kita dapat mencucinya secara biasa dengan menggunakan deterjen dan bilas bersih dengan air suling dan jangan mengautoklaf botol semprot laboratorium ini.

Harga Botol Semprot Laboratorium

Harga botol semprot kimia tidaklah mahal dibandingkan dengan kegunaanya, kita bisa mendapatkan botol semprot berkode tersebut pada kisaran harga kurang lebih sekitar 150 ribuan untuk botol semprot yang berkode. Untuk yang polos tentunya relatif lebih murah.

Berbagai Jenis Botol Laboratorium dan Harganya di Pasaran

Berbagai Jenis Botol Laboratorium dan Harganya di Pasaran

Keberadaan Botol laboratorium di dalam lab sangatlah penting. Botol ini digunakan untuk menampung dan menyimpan berbagai jenis bahan kimia dilaboratorium, baik berupa cairan, serbuk, ataupun padatan.

Botol ini juga dapat kita temukan dalam berbagai bentuk dan ukuran untuk berbagai aplikasi di laboratorium kimia / biologi, dan dapat dibuat dari kaca ataupun plastik.

Nah, kali kita kita akan belajar bersama mengenai botol lab ini, baik dari jenis, bahan, dan sedikit gambaran mengenai harganya.

Jenis Botol Laboratorium

Narrow Mount

narrow mount bottle

 

 

Botol dengan bentuk dibagian penutup / mulut yang sempit sehingga memiliki bukaan / tutup yang lebih kecil dan dirancang untuk menuangkan dan menyimpan cairan.

Wide Mount

wide mount bottle

Dibandingkan jenis yang pertama, Botol ini mempunyai penutup / mulut yang lebih lebar dan memiliki bukaan yang lebih besar sehingga memudahkan pengisian berbagai jenis cairan ataupun padatan.

Karena kemudahan dalam mengisi dan mengeluarkan sampel, sehingga botol ini juga sering digunakan sebagai botol sampel di berbagai macam industri.

Misalnya :

Untuk sampling produk ruahan di industri makanan yang sudah menerapkan CPOTB.

Square

square bottle

Dengan bentuk persegi, botol laboratorium ini mempunyai keunggulan dapat dengan mudah dikemas bersebelahan dan memungkinkan lebih banyak botol disimpan di rak atau lemari.

Wash Bottle

wash bottle

Wash bottle berfungsi untuk menyemprotkan air (atau cairan lainnya sesuai dengan isinya) dari sisi botol yang biasanya digunakan untuk membilas bahan kimia dan bahan lainnya pada alat-alat gelas di laboratorium (gelas kimia laboratorium, buret, corong, erlenmeyer,dll).

Beberapa wash bottle memiliki nama kimia dan formula yang tercetak di bagian botolnya untuk membantu mencegah kontaminasi silang dengan bahan kimia lainnya, misalnya : acetone, ethanol, methanol, isopropanol, dll.

Wash bottle ini di desain dengan bagian penutup yang lebar sehingga memudahkan pengisian.

Laboratory Bottle Amber vs Clear

botol amber dan bening

Jika diatas kita mengenal dari bentuknya, untuk botol laboratorium juga bisa dibedakan dari warnanya.

Untuk botol yang clear tentunya memberikan transparansi maksimal sehingga kita dapat dengan mudah melihat isinya, namun untuk botol amber dengan warna gelap (coklat tua) mempunyai sifat melindungi produk yang peka terhadap cahaya atau sinar ultraviolet yang dapat mengubah sifat dari cairan / sampel yang kita simpan di dalam botol tersebut.

Laboratory Bottle Terbuat Dari Apa?

Untuk botol laboratorium jenis kaca, yang paling umum kita temui terbuat dari :

  • Type I Borosilicate

Bahan borosilikat Tipe I mengandung setidaknya 5% boric oxide sehingga lebih tahan terhadap suhu dan bahan kimia dibandingkan dengan botol yang terbuat dari soda lime.

Botol yang terbuat dari Borosilicate ini dapat bertahan dan tidak mudah pecah jika terjadi perubahan suhu yang mendadak dari panas ke dingin atau sebaliknya.

Rentang temperature untuk botol dari bahan borosilikat juga lebih lebar yaitu berkisar –70°C s/d 230°C sehingga lebih mendukung berbagai macam aplikasi analisa sampel baik di laboratorium kimia, biologi, ataupun lingkungan.

  • Type III Soda Lime

Bahan Type III Soda Lime ini mempunyai kelebihan dimana permukaan yang halus sehingga memudahkan pada saat pembersihan.

Botol dari bahan ini disarankan digunakan untuk aplikasi pada suhu rendah. Rentang suhu pemakaian dari botol dari bahan ini adalah berkisar antara 0°C s/d 100°C

Kedua bahan pada botol laboratorium diatas juga dilapisi dengan plastik khusus yang disebut “plastisol” yang aman menempel pada botol kaca tersebut dan juga memberikan perlindungan serta kebocoran jika botol tersebut pecah.

Lalu untuk botol laboratorium yang plastik terbuat dari apa?

Sama halnya yang kaca, untuk yang plastik juga dapat kita temukan dari beberapa macam bahan, antara lain sebagai berikut :

  • Low-Density Polyethylene (LDPE) High-Density Polyethylene (HDPE)

Botol dari bahan LDPE dan HDPE ini dapat digunakan untuk menyimpan cairan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol. Dapat bertahan dalam temperatur –100°C s/d 80°C untuk LDPE dan –100°C s/d 120°C untuk HDPE.

  • Polypropylene (PP)

Botol dari bahan PP ini secara aplikasi sama dengan dari bahan LDPE dan HDPE diatas, yaitu dapat digunakan untuk menyimpan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol. Namun mempunyai rentang temperatur yang lebih tinggi yaitu 0°C s/d 135°C.

  • Polymethylpentene (PMP)

Bahan ini mempunyai rentang yang lebih tinggi lagi dibanding kedua bahan diatas, yaitu 20°C s/d 175°C. Secara aplikasi juga sama, dapat kita gunakan untuk menyimpan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol.

  • Polycarbonate (PC)

Botol dari bahan Polycarbonate (PC) ini mempunyai rentang temperatur yang paling lebar dibandingkan dengan botol laboratorium dari bahan lainnya, yaitu –135°C s/d 130°C. Namun secara aplikasi penggunaan hanya disarankan untuk menyimpan larutan yang bersifat asam lemah.

  • Polyethylene Terephthalate (PET)

Bahan yang terkahir yang biasa digunakan untuk botol laboraatorium adalah Polyethylene Terephthalate (PET), Bahan ini mempunyai rentang temperatur – 40°C s/d 70°C dan disarankan hanya untuk menyimpan cairan Asam lemah, basa dan alkohol.

Baca Juga : Kelebihan dan Kekurangan Termometer Raksa dan Termometer Alkohol

Contoh Laboratory Bottle

Sebagai gambaran, berikut ini adalah contoh beberapa ukuran dari botol laboratorium tersebut di pasaran :

  • Botol yang Bahan Kaca

gambar botol laboratorium berbagai macam ukuran

Gambar diatas adalah botol laboratorium yang terbuat dari borosilicate disertai denan tutupnya (cap), botol ini tersedia dalam ukuran 100 ml s/d 5 liter. Untuk cap / tutupnya sendiri terbuat dari bahan PP (polypropylene) dan memenuhi standar GL45. Botol ini dapat diautocclave jika ingin digunakan pembuatan media mikrobiologi yang sifatnya harus steril. Disarankan pada saat melakukan sterilisasi dengan autoclave, botol tidak ditutup, atau jika ditutup dalam kondisi yang kendor.

  • Botol yang Bahan Plastik

laboratory bottle plastic

Botol plastik diatas dapat kita temukan dalam berbagai macam volume, yaitu antara 100 ml s/d 1 liter. Meskipun terbuat dari plastik PP (polypropylene), botol tersebut juga dapat diauclave untuk sterlisasi. Beberapa industri farmasi menggunakan botol ini untuk keperluan sampling purified water yang ada di sistem pengolahan air mereka.

Harga Botol Laboratorium di Marketplace

Harga botol laboratorium tentunya bermacam-macam tergantung dengan jenis bahan dan ukuran, berikut ini adalah gambaran dari harga botol lab kaca dimana 1 yen saat ini berkisar 110 rupiah. Harga tersebut tentunya akan bervariasi dari 1 suplier ke suplier lainnya.

harga botol laboratorium di pasaran

Tips Membeli Botol Laboratorium

  • Tentukan terlebih dahulu botol tersebut akan digunakan untuk apa, jika teman-teman berperan sebagai pengawas di laboratorium, tentukan apakah akan membeli yang jenis botol amber atau yang clear, ataukah botol dari bahan plastik.

Misalnya : botol diperuntukkan untuk sampling bahan baku, maka botol dari bahan plastik dirasa lebih nyaman dibandingkan dengan botol dari bahan kaca karena lebih aman dan jika terjatuh tidak akan pecah.

Baca Juga : Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku di Industri Makanan

  • Tanyakan ke user / analis / petugas sampling

Berdasarkan aktivitas yang mereka lakukan lebih nyaman menggunakan ukuran botol yang berapa?

Apakah harus botol dengan ukuran 250 ml atau cukup hanya 100 ml saja.

Standar Terkait Laboratory Bottle

  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 1: SCREW – NECK BOTTLES – BS EN ISO 4796-1
  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 2: CONICAL NECK BOTTLES – BS EN ISO 4796-2
  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 3: ASPIRATOR BOTTLES – BS EN ISO 4796-3
  • SPECIFICATION FOR PLASTICS LABORATORY WARE – PART 4: WASH BOTTLES – BS 5404-4
Fungsi Labu Erlenmeyer di Dalam Laboratorium Kimia dan Biologi

Fungsi Labu Erlenmeyer di Dalam Laboratorium Kimia dan Biologi

Peralatan gelas (baik itu yang berfungsi sebagai pengukur maupun yang hanya digunakan sebagai penampung) di dalam laboratorium merupakan bagian yang sangat penting dan wajib ada untuk mendukung kegiatan analisa. Hampir semua kegiatan preparasi sampel menggunakan peralatan tersebut.

“Seorang ilmuwan / peneliti / analis di laboratorium tanpa peralatan gelas ibarat seorang tukang tanpa gergaji.”

Ada beberapa peralatan gelas di laboratorium yang pernah kita pelajari di artikel-artikel sebelumnya, antara lain : tabung reaksi, gelas ukur, labu ukur, pipet gondok, pipet ukur, dan gelas kimia. Nah.. Kali ini kita akan belajar mengenai labu erlemeyer baik dari pengertian, fungsi dan jenisnya.

Pengertian Labu Erlenmeyer

conical flask

Labu Erlenmeyer adalah salah satu peralatan gelas di laboratorium yang berbentuk seperti kerucut dengan bagian bawah yang datar dan lebar dan mengecil kearah bagian atas serta bagian leher yang berbentuk silinder.

Alat ini juga sering disebut dengan conical flask, sebagian yang lain menyebutnya dengan labu titrasi.

Leher yang sempit pada erlenmeyer ini membuatnya lebih mudah diambil dan dipegang, sementara bagian dasarnya yang rata memungkinkannya diletakkan di permukaan apa pun.

Erlemeyer pertama kali diciptakan oleh ilmuwan asal jerman yang bernama Richard August Carl Emil Erlenmeyer pada tahun 1860 yang kemudian namanya digunakan untuk penamaan alat tersebut. Emil Erlenmeyer sendiri merupakan ilmuwan di bidang kimia organik yang pertama kali mensintesis senyawa antara lain tirosina, kreatina, guanidin, dan kreatinin.

Ada beberapa bahan yang digunakan untuk membuat labu erlenmeyer, diantaranya yang paling umum dan sering kita temui adalah bahan Borosilicate dan bahan polypropylene yang tentunya dalam penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan analisa di laboratium.

Fungsi Labu Erlenmeyer

erlenmeyer flask

Erlenmeyer banyak digunakan di laboratorium kimia, laboratorium bakteriologi, laboratorium Hematologi, laboratorium Mikrobiologi, dan hampir semua Laboratorium yang secara umum melakukan pengujian. Bahkan dalam laboratorium-laboratorium tersebut, erlenmeyer merupakan peralatan laboratorium yang paling sering digunakan.

Fungsi erlenmeyer di laboratorium sangatlah bermacam-macam antara lain sebagai berikut :

  • Digunakan untuk menyimpan dan mengukur sampel kimia cair. Selain itu, tergantung pada penelitian atau analisanya, sampel dalam erlenmyer tersebut dapat dipanaskan atau juga direaksikan di dalam erlenmeyer.
  • Digunakan dalam proses analisa dengan metode titrasi, dimana labu erlenmeyer tersebut sebagai tempat / penampung larutan yang akan dititrasi dengan menggunakan titran yang sudah kita siapkan di dalam buret.
  • Digunakan untuk mencampur beberapa cairan atau padatan dengan cairan dimana hal tersebut merupakan tahapan penting dalam berbagai macam analisa kimia.
  • Digunakan untuk proses homogenisasi larutan dengan lebih cepat dengan bantuan pengaduk magnet untuk menjaga agar campuran tersebut tetap berputar.

Meskipun pengadukan diputar dengan cepat, namun dengan bentuk Labu erlenmeyer yang pada bagian tubuh lebar tetapi pada leher sempit, maka akan mengurangi kemungkinan tumpahan selama proses berputar.

Hal ini juga sangat penting ketika kita bekerja dengan asam kuat / bahan lain yang menyebabkan iritasi pada kulit. Berbeda dengan gelas kimia, erlenmeyer dengan bentuk leher yang kecil memungkinkan untuk kita tutup dengan stoper yang disertakan pada labu erlenmeyer jenis tertentu.

  • Digunakan di laboratorium mikrobiologi untuk persiapan kultur mikroba.
  • Filter flask yang mempunyai bentuk seperti erlenmeyer namun mempunyai konektor dibagian lehernya dimana untuk alat gelas jenis ini biasanya digunakan dalam proses filtrasi menggunakan corong buchner dengan bantuan vacuum pump.

Sisi labu yang meruncing dan leher yang sempit memungkinkan pencampuran dan pengadukan yang mudah tanpa risiko tumpah.
Labu berbentuk kerucut dapat digunakan untuk mengukur volume cairan, namun pengukurannya tidak tepat.
Menggunakan gabus, zat gas dapat disimpan dalam labu berbentuk kerucut.

Jenis-Jenis dan Gambar Erlenmeyer

  • Labu Erlenmeyer mulut Sempit – Sesuai namanya, erlenmeyer jenis ini mempunyai mulut yang sempit, 

fungsi labu erlenmyer

  • Labu Erlenmeyer mulut Lebar – Digunakan untuk mengaduk cairan dengan dengan menggunakan pengaduk magnet dan magnetik stirer

gambar labu erlenmeyer

  • Erlenmeyer Bahan polypropylene

erlenmeyer bahan pp

  • Erlenmeyer With Rubber Stopper

kegunaan labu erlenmeyer

  • Erlenmeyer With Screw Cap

erlenmeyer with cap

Ukuran Erlenmeyer

Terdapat berbagai macam brand dan jenis erlemeyer, dimana setiap setiap jenisnya mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Berikut ini adalah salah satu contoh standar ukuran erlenmeyer :

ukuran labu erlenmeyer

Dapat dilihat di tabel diatas, untuk ukuran erlenmeyer terkecil 50 ml mempunyai tinggi 82 mm ± 1 mm dengan diameter leher 24 mm ± 1 mm dan diameter terlebar adalah 51 mm ± 1 dengan berat 50 gram ± 8 gram.

Sedangkan untuk erlenmeyer terbesar dengan volume 10 liter mempunyai tinggi 450 mm ± 3 mm dengan diameter leher 60 mm ± 1 mm dan diameter terlebar 280 mm ± 3 mm dengan berat 2450 gram ± 100 gram.

Kelebihan dan Kekurangan Erlenmeyer

  • Kelebihan :

Labu erlenmeyer ideal untuk mencampur bahan kimia karena alasnya yang lebar dan kemampuannya untuk diputar dengan menggunakan stirer bar tanpa tumpah. Karena alasnya lebar dan bagian atasnya kecil sehingga kecil kemungkinan cairan akan naik ke atas dan meluap / tumpah.

Labu erlenmeyer memiliki keuntungan ekstra karena dapat ditutup dengan sumbat karet bahkan ada yang menggunakan screw cap. tutp ini tidak kita temukan di gelas kimia. Sehingga sampel / cairan / larutan lebih sering disimpan di dalam erlenmeyer dan tidak disimpan dalam gelas kimia.

Dapat juga digunakan untuk menyaring berbagai zat dengan kertas saring. Di sini, labu Buchner / labu vakum,
variasi dari labu Erlenmeyer asli, digunakan. Selain itu, dapat digunakan untuk mengandung titrat. Karakteristik ini membuatnya cocok untuk rekristalisasi.

Karakteristik ini juga membuat labu cocok untuk proses perebusan. Bentuk kerucut labu memungkinkan pelarut mengembun di tubuhnya. Ini mencegah hilangnya pelarut. Reaksi-reaksi ini harus dikelola. Mereka tidak dapat melebihi suhu tertentu karena tekanan termal dapat menyebabkan labu pecah.
Labu erlenmeyer dibuat agar jauh lebih tahan lama daripada labu laboratorium biasa. Mereka mengandung kaca 25% lebih banyak daripada termos dinding standar dan karenanya memiliki umur simpan yang lebih lama.

  • Kekurangan
    1. Karena ketebalannya yang terbatas, erlenmeyer tidak dapat digunakan dalam reaksi kimia berenergi tinggi.
    2. Meskipun terdapat skala / graduasi di dalam erlenmeyer, namun alat ini bukanlah sebagai alat pengukur sehingga volume yang tertampung di dalam erlenmeyer tidaklah akurat, namun hanya kita gunakan untuk pembacaan secara kasar saja.

Tips Merawat Erlenmyer

conical flask adalah

  • Pembersihan
    1. Sebelum menggunakan erlenmeyer, jika digunakan untuk keperluan analisa mikrobiologi, pastikan alat tersebut sudah disterilkan dan dibersihkan dengan kain kering.
    2. Setelah melakukan percobaan / selesai digunakan, bilas erlenmeyer selama 10 s/d 15 menit dalam larutan deterjen hangat. Kemudian, bilas 3 x dengan air kran dan keringkan dengan kain katun kering. Dalam kondisi tertentu jika kotoran di dalam erlenmeyer sudah berkerak, ada baiknya dilakukan pembersihan dengan ultrasonic cleaner.
  • Penyimpanan

Untuk mencegah kontaminasi, labu erlenmeyer harus disimpan dalam kotak di lokasi yang kering, misalnya lemari laboratorium.

Petunjuk Keselamatan Penggunaan

  1. Pada saat bekerja menggunakan glassware di laboratorium, termasuk labu erlenmeyer, pastikan bekerja dengan hati-hati, kenakan Alat Pelindung Diri yang sesuai, misalnya : jas laboratorium, safety glasses, dan sarung sarung tangan.
  2. Pahami larutan apa yang terdapat di dalam labu erlenmeyer, pastikan untuk membacan MSDS untuk mengenali bahaya bahan tersebut, jika kita tidak tahu larutan apa yang terdapat di dalam erlenmeyer tersebut, anggap cairan tersebut sebagai cairan berbahaya yang perlu kehati-hatian dalam penanganannya.
  3. Erlenmyer yang terbuat dari bahan kaca borosilicate, baik dalam kondisi panas atau dingin akan terlihat sama (tidak ada perbedaan warna, misalnya untuk erlenmeyer panas berwarna merah membara), pastikan menggunakan sarung tangan untuk menghindari adanya luka bakar ketika menyentuh labu erlenemyer tersebut.
  4. Jangan langsung menaruh erlenmeyer yang baru saja dipanaskan ke dalam bak air dingin.
  5. Ketika erlenmeyer bahan kaca borosilikat pecah, maka pecahan kaca tersebut akan tajam seperti jenis kaca lainnya. Buang potongan pecahan kaca tersebut dengan hati-hati.

Semoga Bermanfaat

Ultrasonic Cleaner Sebagai Alat Pembersih Dalam Paling Efektif

Ultrasonic Cleaner Sebagai Alat Pembersih Dalam Paling Efektif

Dalam aktivitas bekerja seiring dengan berjalannya waktu, hal yang biasa jika kita dihadapkan dengan benda-benda yang kotor, seperti peralatan gelas laboratorium yang kotor karena lemak / bahan kimia yang membandel, spare part / komponen-komponen mekanik yang kotor / berkarat, dll dimana kotoran tersebut tentunya harus kita bersihkan supaya tidak mengganggu aktivitas dalam bekerja.

Pembersihan dengan deterjen terkadang sulit kita lakukan, sehingga kita memerlukan peralatan khusus untuk membantuk kegiatan pembersihan tersebut. Salah satu peralatan tersebut adalah ultrasonic cleaner. Apa itu ultrasonic cleaner dan bagaimana prinsip kerjanya?

Yuk.. simak di dalam artikel berikut..

Fungsi Ultrasonic Cleaner di Laboratorium

Apa itu ultrasonic?

Ultrasonic merupakan gelombang suara dengan frekuensi diatas 20 KHz yang tidak dapat didengar secara langsung oleh indra manusia normal.

Ultrasonic cleaner adalah suatu alat yang digunakan untuk proses pembersihan permukaan suatu objek dengan menggunakan kekuatan gelombang ultrasonik tersebut secara otomatis.

Fungsi Ultrasonic Cleaner adalah untuk proses pembersihan secara cepat atau singkat dan maksimal namun tak menimbulkan goresan atau lecet pada alat / komponen-komponen yang akan dibersihkan dimana proses pembersihannya dengan cara membenamkan obyek / peralatan yang akan dibersihkan ke dalam tangki alat ultrasonic cleaner yang sudah terisi dengan media (air dan atau air yang sudah ditambahkan cairan pembersih).

Prinsip Kerja Ultrasonic Cleaner

gelombang ultrasonic

Ultrasonic cleaner lebih difungsikan sebagai alat pembersih khusus namun untuk beberapa model, saat ini juga telah dilengkapi dengan pemanas / heater untuk menjalankan fungsi dan metode sterilisasi basah.

Prinsip kerja Ultrasonic cleaner adalah adanya perambatan gelombang frekuensi tinggi pada media cair.

Cairan akan dirambatkan dalam bentuk medium suara dengan gelombang ultrasonik frekuensi tinggi yang menghasilkan getaran mikroskopik sehingga kotoran maupun mikroorganisme atau kontaminan yang menempel kuat bisa lepas dengan lebih mudah.

Getaran juga akan mempengaruhi cairan dalam kontainer yang membuatnya memiliki daya kejut atau agitasi yang kuat sehingga semua jejak kontaminasi yang melekat akan terhapus.

Dengan mengubah energi listrik menjadi getaran dengan frekuensi yang sangat tinggi. Getaran tersebut akan dirambatkan melalui medium cair ke benda-benda yang berada didalam medium cair tersebut sehingga dikarenakan frekuensi yang lebih tinggi, partikel kotoran yang melekat pada paralatan akan terlepas, molekul-molekul akan terurai, sel, virus dan bakteri akan hancur dan bekas DNA akan terpotong-potong sebagai akibat dari getaran yang mengenainya.

Kelebihan dan Kekurangan Pembersih Ultrasonik

pembersih ultrasonik

Kelebihan

  1. Ultrasonic Cleaner merupakan peralatan laboratorium untuk membersihkan yang paling efektif khususnya untuk material berukuran kecil, berlekuk, dan berbentuk rumit seperti komponen-komponen peralatan medis, laboratorium, accessories mesin, material berbahan keras non absorben seperti logam, gelas plastik, dl.
  2. Proses pembersihan dan sterilisasinya mampu menembus lubang, cetakan dan ceruk halus pada material yang dibersihkan.
  3. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembersihan alat terbilang cepat karena hanya memerlukan waktu dalam kisaran beberapa menit dengan media air yang dapat dipanaskan dan dipadukan dengan cairan disenfektan untuk efektivitas pembersihan dan sterilisasi.
  4. Dengan menggunakan media air tersebut, saat ini hampir semua alat ultrasonic cleaner memiliki kran pembuangan yang memudahkan kita dalam melakukan pembuangan air pada saat alat sudah selesai digunakan atau ingin melakukan penggantian karena media air tersebut sudah kotor sehingga lebih mudah dan efisien untuk digunakan.
  5. Memiliki waktu kontrol dan temperatur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis peralatan yang dibersihkan dan disterilisasikan.

Kekurangan

Selain mempunyai kelebihan, alat ini juga mempunyai kekurangan, antara lain sebagai berikut :

  1. Perlu kehati-hatian dalam pengoprasian untuk meminimalisir terjadinya kerusakan pada sejumlah komponen elektrikalnya khususnya trasnduser dan heater. Namun jika pada kondisi tertentu dimana terjadi masalah pada unit alat ultrasonic cleaner, disarankan melakukan service ke agen pemegang merk alat tersebut atau bisa juga menggunakan suplier yang melayani service alat laboratorium yang teman-teman percayai.
  2. Kapasitas ruang kontainer atau tank yang relatif terbatas karena umumnya ultasonic cleaner berukuran kecil dikarenakan lebih dikhususkan untuk peralatan berukuran kecil.
  3. Memerlukan penggantian media cairan sebagai media bantu pembersih dan sterilisasi secara berkala, karena jika sudah digunakan media cairan tersebut akan kotor.

Aplikasi Penggunaan Ultasonik Cleaner

Secara umum ultrasonic Cleaner dapat kita gunakan untuk membersihkan benda karena adanya kontaminan debu, karat, lemak, minyak, pigmen, ganggang, bakteri, jamur, flux agent, sidik jari, pengapuran , senyawa polishing, jelaga lilin, residu khamir, cairan biologi seperti darah, dll

Berikut ini beberapa kegunaan ultrasonic cleaner :

  • Membersihkan peralatan medis
  • Membersihkan alat laboratorium seperti : gelas kimia, ayakan laboratorium, komponen-komponen instrumen laboratorium, seperti spare part HPLC, Spektrofotometer AAS, dll
  • Membersihkan perhiasan (cincin, anting, gelang)
  • Membersihkan spare part mesin yang berkarat
  • dll

Bagian-Bagian Alat Ultrasonik Cleaner

Untuk lebih memahami mengenai alat ini, tentunya kita harus tahu bagian-bagian alatnya, berikut ini adalah gambaran umum komponen-komponen yang ada di ultrasonik cleaner ini :

komponen-komponen ultrasonik cleaner

Lihat pada huruf pada gambar diatas.

  • A. Stainless-steel transducer tank
  • B. Maximum filling level marking (Jumlah maksimum media cair yang dimasukkan dalam ultrasonik cleaner)
  • C. Plastic carrying handles (Untuk memindahkan alat jika diperlukan, bahkan pada saat kondisi alat panas pun kita akan merasa aman)
  • D. Operating panel (Tombol seting operasional alat dilakukan melalui operating panel ini)

 

bagian dalam tangki ultrasonik cleaner

  • A. Overflow
  • B. Level switch
  • C. Filling level marking for minimum level
  • D. Heating element inside the tank
  • E. Drain opening

bagian belakang alat pembersih ultrasonic

bagian samping pembersih ultrasonik

  • A. 2-way ball valve
  • B. Mains supply cable:
  • C. Connection for supply surface skimming
  • D. Connection drain overflow to a pump filter unit
  • E. Cover plate (maintenance opening) for heating and float switch
  • F. Connection supply for bottom scouring
  • G. 3-way ball valve for drain / supply
  • H. Nameplate

Cara Menggunakan Ultrasonic Cleaner Secara Umum

  1. Hubungkan stop kontak dengan sumber arus listrik.
  2. Buka tutup alat pada bagian atas dan letakkan stainless steel basket ke dalam kontainer / tangki alat.
  3. Isikan media cair dengan jumlah yang direkomendasikan alat (antara batas bawah dan batas atas)
  4. Masukkan alat / komponen yang akan dibersihkan ke dalam ultrasonic cleaner yang sudah terisi dengan media cair.
  5. Lakukan pengaturan alat :
    • Jika ingin menggunakan panas putar tombol pengatur suhu sesuai dengan suhu yang diinginkan.
    • Putar tombol pengatur kekuatan getaran (amplitude) sesuai kekuatan getaran yang diinginkan.
    • Putar tombol pengatur waktu sesuai lamanya waktu yang diinginkan.
  6. Alat akan bekerja sesuai dengan pengaturan yang telah dilakukan.
  7. Jika alat sudah selesai digunakan, bersihkan alat, buat media cair melalui kran pembuangan, dan bersihkan bagian-bagian dalam alat ultrasonik cleaner.

Cara Membersihkan Karat Dengan Ultrasonic Cleaner

Alat dan Bahan :

  • Air bersih, bisa air minum / air distilasi
  • Mangkok plastik tipis yang sudah dibolongi untuk melindungi Ultrasonic cleaner dari benda yang ingin kita bersihkan.
  • Cairan sabun atau sabun cair 1 sendok

Langkah Kerja

  • Tambahkan air kedalam ultrasonik cleaner. Di dalam alat ultrasonic cleaner tersebut biasanya ada tanda batas minimum dan maksimum jumlah air yang harus dimasukkan.
  • Tambahkan cairan sabun satu sendok dan aduk supaya merata
  • Nyalakan alat dengan power yang kecil terlebih dahulu misalnya : 30 watt selama 10 menit untuk menghilangkan gelembung-gelembung udara dari sabun karena hal ini akan menghilangkan efektivitas pembersihannya.
  • Nyalakan alat dan biarkan selama 10 menit.
  • Setelah 10 menit, masukkan mangkok yang sudah dibolongi ke dalam alat dan masukkan benda-benda yang ingin kita bersihkan.

Catatan:

Pada saat menaruh benda yang ingin dibersihkan jangan sampai berdempetan.

  • Seting alat pada 50 watt selama 30 menit.
  • Nyalakan alat
  • Setelah selesai ambil benda yang dibersihkan yang terdapat pada mangkok bolong tersebut, pastikan menggunakan sarung tangan karena kondisi benda tersebut pasti dalam keadaan panas.
  • Setelah pemakaian ini air di dalam kontainer / tangki ultrasonic cleaner akan kotor.
  • Buang air melalui kran pembuangan dan bersihkan alat ultrasonic cleaner.

Semoga bermanfaat.

Kegunaan Gelas Kimia dan Prosedur Perawatannya Supaya Awet

Kegunaan Gelas Kimia dan Prosedur Perawatannya Supaya Awet

Dalam suatu analisa di laboratorium, baik itu analisa sederhanya, misalnya pelarutan sampai ke analisa yang lebih komplek misalnya analisa kandungan vitamin C menggunakan spektrofotometer UV Vis, analisa kandungan logam dengan menggunakan AAS (Atomic Absorbtion Spektrofotmeter) dan analisa lainnya tentunya membutuhkan peralatan gelas laboratorium.

Peralatan gelas laboratorium ini bisa dikategorikan menjadi 2 :

  • Yang berfungsi sebagai penampung seperti halnya gelas kimia / erlenmeyer.
  • Yang berfungsi untuk pengukuran seperti pipet volume, pipet ukur, labu ukur, gelas ukur dll.

Pada artikel ini kita akan membahas mengenai salah satu alat tersebut yaitu gelas kimia baik dari fungsi, material / bahan yang biasa digunakan untuk gelas kimia tersebut, sampai ke bagaimana cara perawatannya.

Kegunaan Gelas Kimia Laboratorium

Meskipun bukan sebagai alat pengukur, keberadaan gelas kimia ini sangatlah penting, karena alat ini biasanya digunakan sebagai awal dari suatu analisa / preparasi sampel. Jika pada tahapan preparasinya salah / terkontaminasi, maka hasil analisa yang kita dapatkan juga diragukan hasilnya / tidak valid.

Kegunaan gelas kimia di dalam laboratorium adalah untuk tempat melarutkan zat yang tidak membutuhkan ketelitihan yang tinggi, misalnya :

  1. Untuk analisis kualitatif
  2. Untuk uji organoleptik
  3. Untuk pembuatan larutan standar
  4. Bahkan di laboratorium mikrobiologi, gela kimia ini seringkali digunakan dalam pembuatan media pertumbuhan.
  5. dll

Sedemikian pentingnya fungsi gelas kimia tersebut sehingga perawatannyapun harus kita perhatikan.

Bahan Alat Gelas Laboratorium

Ada beberapa bahan yang umum digunakan sebagai bahan alat gelas laboratorium, Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat peralatan gelas (baik itu gelas kimia, erlenmeyer, labu ukur, dll) yang paling umum kita kenal adalah borosilikat.

Untuk peralatan gelas yang berfungsi untuk pengukuran seperti labu ukur, gelas beaker, picnometer, dll bahan ini lebih lama mempertahankan tingkat akurasi kalibrasinya asalkan tidak digunakan untuk bahan hot phosporic acid, hot alkalis, hydrocloric acid serta dipanaskan pada suhu lebih dari 150 derajat celcius.

Bahan borosilikat tersebut tentunya lebih unggul dari peralatan gelas yang terbuat dari soda lime yang akan frosted seiring dengan berjalannya waktu.

Macam-Macam Gelas Kimia

Meskipun bukan digunakan untuk pengukuran, dalam gelas kimia ini juga terdapat skala untuk mengestimasi secara kasar berapa jumlah larutan yang telah kita tampung. Untuk beberapa merk juga disertai dengan area putih untuk penandaan supaya sampel yang kita tampung tidak tertukar.

Berikut ini adalah beberapa macam gelas kimia yang paling sering ditemukan di laboratorium :

Gelas Kimia High Form Witout Spout

Gelas Kimia High Form Witout Spout

Mempunyai bentuk yang agak tinggi dengan dinding samping yang lurus. Banyak digunakan untuk menyiapkan, mencampur, dan memanaskan larutan. Gelas kimia jenis ini dapat kita temukan dengan kapasitas 50 s/d 1000 ml dan tidak mempunyai spout (lengkungan untuk menuang) di bagian atasnya.

Berikut ini adalah gambaran dimensi dari Gelas Kimia High Form Witout Spout tersebut

Ukuran Gelas Kimia High Form Witout Spout

Gelas Kimia low form, with spout

Gelas Kimia low form with spout

Mempunyai pilihan kapasitas yang sangat lebar yaitu antara 5 ml s/d 10000 ml, dengan adanya spout tentunya akan memudahkan untuk melakukan penuangan. Gelas kimia ini memenuhi standar ISO 3819 dan juga terdapat skala untuk memperkirakan larutan yang ditampung.

Berikut ini adalah gambaran ukuran dari Gelas Kimia low form, with spout ini.

ukuran Gelas Kimia low form, with spout

Catatan :

Tidak semua gelas kimia tahan dengan temperatur yang tinggi, selalu konsultasikan ke supplier alat anda apakah gelas kimia tersebut bisa dilakukan pemanasan, misalnya : pada pembuatan media mikrobiologi dengan pemanasan pada hotplate laboratorium

Cara Merawat Gelas Kimia Laboratorium

Dalam suatu analisa kimia tentunya melibatkan bahan-bahan yang diuji (sampel) berikut dengan reagen kimianya. Untuk menghasilkan hasil analisa yang valid dan absah tentunya diperlukan perawatan terhadap peralatan gelas, baik itu yang berfungsi sebagai penampung saja seperti gelas kimia, erlenmeyer, ataupun peralatan gelas yang berfungsi sebagai alat ukur seperti labu ukur, buret, dan gelas ukur.

Salah satu cara merawat peralatan gelas tersebut tentunya adalah dengan mencuci bersih setelah pemakaian alat gelas tersebut. Harapannya adalah jika peralatan gelas sudah tercuci bersih, maka tidak ada residu bahan lain yang tertinggal sehingga dapat mengkontaminasi sampel yang akan kita analisa selanjutnya.

Selain itu Cara membersihkan perlatan gelas laboratorium juga merupakan bagian dari cara kerja yang baik di dalam suatu laboratorium.

Kali ini kita akan fokus pada cara membersihkan gelas kimia dan erlenmeyer, karena pengambilan sampel atau reagen yang akurat untuk analisa, jika ternyata gelas kimia / erlenmeyer yang kita gunakan untuk analisa tidak bersih / masih ada kontaminasi dari bahan lain akan mengakibatkan hasil analisa yang salah.

Seiring dengan berjalannya waktu, gelas kimia / erlenmyer di dalam laboratorium kita terdapat kerak putih dan noda hitam. Bagaimana cara membersihkannya?

Alat yang digunakan :

  • Erlenmeyer
  • Gelas Kimia
  • Brush Pembersih
  • Spons
  • Pipet Volume
  • Tisue
  • Tang Krus
  • Nampan

Bahan yang digunakan :

  • H2SO4
  • Kalium dikromat
  • HNO3
  • Deterjen
  • KOH Etanol

Catatan :

Sebelum melakukan pekerjaan, tentunya kita harus menggunakan alat pelindung diri terlebih dahulu, yaitu jas laboratorium, masker, sarung tangan safety.

Langkah Kerja

Pembilasan Dengan Air

cara membersihkan glassware

  • Lakukan pembilasan Gelas Kimia dan Erlenmeyer Dengan Air
  • Ambil gelas kimia dan erlenmeyer kemudian nyalakan kran.
  • Bilas erlenmeyer dengan air mengalir, gunakan brush pembersih untuk memaksimalkan pembersihan pada erlenmeyer, kemudian bilas kembali. Lakukan hal yang sama untuk gelas kimia, namun untuk pembersihan maksimal gunakan spons untuk pembersihan gelas kimia ini.
  • Keringkan gelas beaker dan erlenmeyer menggunakan tisue.

Perendaman dengan K2Cr2O7

Pada tahapan ini kita menggunakan bantuan pipet volume untuk melakukan pengambila K2Cr2O7.

  • Kempeskan penyedot pada pipet volume
  • Siapkan larutan K2Cr2O7
  • Ambil larutan K2Cr2O7 dengan menggunakan pipet volume
  • Masukkan 10 ml larutan K2Cr2O7 pada peralatan gelas yang akan diberisihkan tersebut (gelas kimia dan erlenmeyer)
  • Hidupkan lemari asam berikut dengan lampunya
  • Tempatkan peralatan gelas tersebut di dalam lemari asam
  • Siapkan larutan H2SO4 dengan konsentrasi 2M
  • Ambil 10 ml larutan H2SO4 2M dengan bantuan pipet volume.
  • Masukkan 5 ml larutan H2SO4 2M di masing-masing gelas kimia dan erlenmeyer
  • Goyangkan gelas kimia dan erlenmeyer tersebut supaya larutan tercampur dengan sempurna.
  • Keluarkan gelas kimia dan erlenmeyer tersebut dari lemari asam dan tutup dengan plastik wrap. Jangan lupa untuk menutup pintu lemari asam dan mematikan lampunya karena sudah tidak digunakan.
  • Biarkan campuran K2Cr2O7 dan H2SO42 2 M terendam selama 24 jam.
  • Setelah selesai bilas kedua peralatan gelas tersebut dengan air bersih. Gunakan spons untuk pembersihan gelas kimia yang lebih maksimal dan brush untuk pembersihan erlenmeyer yang maksimal kemudian bilas kembali peralatan gelas tersebut
  • Keringkan peralatan gelas tersebut menggunakan tisue.

Perendaman dengan HNO3 2 M

  • Hidupkan kembali lemari asam dan lampunya dan buka penutup lemari asam tersebut.
  • Tempatkan peralatan gelas yang akan dibersihkan di dalam lemari asam dan siapkan larutan HNO3 2M
  • Ambil 20 ml larutan HNO3 2 M dengan bantuan pipet volume
  • Masukkan masing-masing 10 ml larutan HNO3 2 M di masing-masing peralatan gelas tadi kemudin goyangkan.
  • Rendan larutan HNO3 2 M tersebut selama 30 menit
  • Setelah 30 menit, ambil peralatan gelas tadi dan bilas dengan air bersih.
  • Gunakan brush pembersih dan spons untuk pembersihan yang maksimal pada erlenmeyer dan gelas kimia tadi kemudian bilas kembali dan keringkan gelas dengan tisue.

Perendaman Dengan Deterjen

  • Siapkan larutan deterjen dan ambil sebanyak 20 ml larutan tersebut.
  • Masukkan 20 ml larutan deterjen di masing-masing peralatan gelas tadi dan goyangkan.
  • Rendam deterjen selama 30 menit kemudian bilas dengan air.
  • Gunakan brush pembersih dan spons untuk pembersihan yang maksimal untuk erlenmeyer dan gelas kimia kemudian bilas kembali.

Perendaman dengan KOH – Etanol

  • Siapkan larutan KOH Etanol dan ambil sebaganyak 20 ml.
  • Masukkan 20 ml larutan KOH Etanol di masing-masing peralatan gelas tadi dan goyangkan.
  • Rendam selama 30 menit kemudian bilas dengan air bersih.
  • Gunakan brush pembersih dan spons untuk pembersihan yang maksimal untuk erlenmeyer dan gelas kimia kemudian bilas kembali.
  • Keringkan dengan menggunakan tisue.

Pengeringan Peralatan Gelas

  • Lakukan pengeringan peralatan gelas yang dibersihkan tadi (gelas kimia dan erlenmeyer) menggunakan oven laboratorium dengan suhu 105 derajat celsius selama 15 menit.

Baca Juga : Prosedur Pengoperasian Oven Laboratorium

  • Simpan gelas kimia dan erlenmeyer tersebut di lemari laboratorium dengan rapi.

Demikian sedikit penjelasang mengenai gelas kimia baik dari fungsi, macam, serta prosedur pemberishannya.

Semoga Bermanfaat.

Mengenal Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Lebih Detil

Mengenal Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Lebih Detil

Mengetahui kandungan logam dalam suatu sampel merupakan hal wajib dibeberapa bidang, misalnya terkait dengan lingkungan dimana terdapat nilai ambang batas yang harus dipenuhi untuk kandungan logam dalam perairan tertentu sehingga air tersebut masih dalam baku mutu kegunaanya serta belum masuk di kategori tercemar. Hal lain misalnya ambang batas maksimum kandungan timbal aman di dalam air yang dikonsumsi menurut WHO adalah kadar timbal 10 μg/dL (0,1 mg/L).

Nah untuk mengetahui kandungan-kandiungan logam tersebut tentunya kita memerlukan instrumen laboratorium, salah satunya yang umum digunakan adalah Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) atau terkadang banyak yang menyebutnya sebagai Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)  / Spektro AAS. Nah kali ini kita akan belajar mengenai instrumen tersebut.

Prinsip Kerja Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Prinsip kerja Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) ini sebenarnya hampir sama dengan spektrofotometri uv-vis dan spektrofotometer infrared, yaitu adanya interaksi radiasi elektromagnetik dengan sampel.

Jadi antara radiasi elektromagnetik dengan sampel terjadi interaksi kemudian interaksi tersebut akan dicatat oleh alat pada bagian detektor dan kemudian akan divisualisasikan dalam bentuk nilai dan nilai tersebut akan dikuantifikasi atau dikalkulasikan dalam persamaan khusus. Biasanya kita menggunakan persamaan regresi linier untuk melakukan analisis kualitatif ataupun kuantitatif.

Atomic Absorption Spectrophotometer / Spektro AAS pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan yang bernama Wals, Alkamede, dan Melatz pada tahun 1955. Jadi alat ini bukanlah alat baru namun sudah lama dikembangkan dan digunakan sampai saat ini, dimana tujuan penggunaan alat ini adalah untuk menentukan unsur logam ataupun metal dalam suatu sampel berdasarkan absorpsi radiasi oleh atom bebas dalam keadaan gas.

Jadi tujuan penggunaan spektro AAS adalah untuk menentukan jumlah logam di dalam suatu sampel. Secara garis besar prinsip spektro AAS sama dengan prinsip kerja spektrofotomer UV VIsible, perbedaannya hanya terletak pada bentuk spektrum, cara pengerjaan sampel, dan peralatannya.

Cara kerja spektro AAS yaitu adanya penyemprotan sampel berupa tetesan yang sangat halus kedalam nyala api, atau juga bisa berupa bantuan dari energi listrik. Jadi unsur logam yang dibakar menggunakan nyala api maupun menggunakan listrik akan memancarkan warna dan spektrum emisi yang khas yang menunjukkan logam tertentu.

Selanjutnya terjadi penyerapan sumber radiasi (di luar nyala) oleh atom atom netral (misalnya : Fe, Cd, Pb, dll) dalam keadaan gas, selanjutnya atom netral tersebut akan menyerap radiasi elektromagnetik dari alat dan akan dideteksi oleh detektor dan divisualisasikan dalam bentuk spektrum dan absorbance.

Radiasi yang diserap oleh atom atom netral dalam keadaan gas biasanya berupa radiasi sinar tampak atau ultra violet. Sehingga panjang gelombang yang digunakan berada pada wilayah panjang gelombang di UV dan visible dimana panjang gelombang UV berada pada kisaran 200 s/d 400 nm dan panjang gelombang visible antara 400 s/d 800 nm. Atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada sifat unsurnya / logam yang kita analisis.

Sama halnya dengan UV Vis dimana sampel yang kita analisis itu memiliki panjang gelombang maksimum masing-masing dan begitu pula dengan di spektro AAS dimana sampel logam yang kita analisis juga memiliki panjang gelombang maksimum tertentu, tergantung daripada sampel yang kita gunakan.

Gas Pembakar Spektro AAS

Pada spektro AAS dipakai dua macam gas pembakar yang bersifat oksidasi dan bahan bakar.

Gas yang digunakan tersebut untuk meningkatkan temperatur pembakaran agar proses pembakaran berlangsung secara maksimal sehingga proses analisis itu tidak akan terganggu.

Gas pembakaran ini dapat merupakan campuran seperti :

  • Udara dengan propana
  • Udara dengan asetilen (terbanyak dipakai)
  • N2O dengan asetilen

Profil nyala tiap unsur itu berbeda-beda, namun pada umumnya tinggi nyala api pada gas pembakar tersebut dibuat kurang lebih 5 cm.

Temperatur proses pembakaran sampel sangat mempengaruhi jumlah atom yang mengalami eksitasi. Ketika temperaturenya cukup untuk membakar secara sempurna sampel maka jumlah atom yang mengalami eksitasipun akan sempurna, artinya tereksitasi secara keseluruhan dan atom yang tereksitasi itulah yang akan menyerap cahaya secara maksimal yang dipancarkan oleh spektrofotometri AAS.

Sebaliknya ketika proses eksitasinya tidak sempurna / ada beberapa atom yang tidak terbakar sempurna dan tidak membentuk atom bebas maka proses analisis juga tidak sempurna, karena hanya atom bebaslah yang akan menyerap radiasi elektromagnetik dari alat.

Pemilihan Panjang Gelombang Spektrofotometri AAS

Sama halnya dengan spektrofotometer UV Vis dimana terdapat tahapan penentuan panjang gelombang.

Jika pada spektrofotometer UV Vis penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan cara scanning lamda Max (λ max), Artinya kita scaning sampel tersebut pada range panjang gelombang tertentu dan kemudian kita akan temukan puncak tertinggi yang merupakan representasi lamda max (λ max) dari sampel tersebut.

Sementara di spektrofotometer AAS penentuan panjang gelombang dipilih dengan intensitas yang cukup tinggi dan memberikan kelurusan rentang dinamik pada penentuan kuantitatif, dimana panjang gelombang ini berasal dari pada lampu katode yang digunakan.

Jadi kalau di spektrofotometer AAS itu kita menggunakan lampu katoda sebagai sumber radiasi dan lampu katoda tersebut spesifik dengan logam yang akan kita analisis, misalnya kita akan menganalisis logam kadmium, maka kita harus menggunakan lampu katoda yang khusus untuk mendeteksi kadmium, karena lampu katoda tersebut sudah dibuat sedemikian rupa untuk mendeteksi logam kadmium.

Penentuan dilakukan pada panjang gelombang di atas 220 nm untuk mencegah absorbansi non atomik atau mencegah radiasi sesatan.

Hal ini juga sama halnya dengan Spektrofotometer UV Vis dimana ada yang disebut dengan radiasi sesatan artinya sampel tidak menyerap radiasi tersebut terlebih dahulu namun langsung menuju ke detektor untuk proses selanjutnya.

Oleh karena itu untuk mencegah adanya radiasi sesatan kita perlu menggunakan panjang gelombang di atas 220 nm. Karena pada umumnya logam-logam yang kita analisis berada pada range panjang gelombang di atas 226 nm.

Absorpsi garis resonansi atom-atom netral suatu unsur didalam nyala api mempunyai sifat khas yaitu akan menyerap radiasi yang datang. Jadi ketika sampel tersebut dilarutkan terlebih dahulu kemudian setelah larut sempurna sampel tersebut akan disemprotkan masuk kedalam spektrofotometer AAS kemudian alat  tersebut akan membakar tetesan sampel yang sudah disemprotkan tadi dan proses pembakaran tersebut akan menghasilkan atom-atom netral yang akan menyerap radiasi dari spektrofotometer AAS.

Singkatnya, spektrofotometer AAS akan memancarkan radiasi dan kemudian atom netral akan menangkap radiasi tersebut dalam bentuk absorban dan transmitance.

Atom-atom netral suatu unsur dalam nyala api mempunyai sifat khas yaitu akan menyerap radiasi yang datang. Radiasi yang diserap tersebut pada panjang gelombang sesuai dengan energi eksitasi.

Jenis Gangguan Pada Spektrometer Serapan Atom (SSA)

spektrometer serapan atom

Gangguan yang di sering kita jumpai dalam proses analisis dengan menggunakan SSA adalah :

  • Gangguan Spektra

Gangguan ini terjadi apabila panjang gelombang (atomic line) dari unsur yang diperiksa berhimpitan dengan panjang gelombang dari atom atau molekul lain yang terdapat dalam larutan yang sama.

Seperti halnya pada spektrofotometer uv-vis bahwa ada beberapa sampel yang memiliki panjang gelombang maksimum yang saling berhimpitan atau berdekatan. Kalau spektrofotometer uv-vis teknik untuk mencegah terjadinya gangguan spektra kita lakukan dengan pergeseran panjang gelombang yang biasa kita kenal dengan efek batokromik..

Jadi pergeseran panjang gelombang ke arah panjang gelombang yang diinginkan agar dia tidak berdekatan panjang gelombang maksimumnya antara yang satu dengan yang lain karena ketika dia berdekatan atau berhimpitan maka proses analisis akan terganggu.

  • Gangguan fisika

Sifat-sifat fisika dari larutan yang diperiksa akan menentukan intensitas dari serapan atau emisi dari larutan yang diperiksa.

Kelarutan

Gangguan fisik yang pertama disini adalah kelarutan, jadi harapannya adalah sampel terlarut sempurna pada pelarut yang digunakan sehingga tidak mengganggu proses absorbsi sampel. Sama halnya dengan Spektrofotometer UV Vis dimana sampel yang digunakan juga harus terlarut sempurna agar proses serapan radiasi elektromagnetik itu berlangsung secara sempurna.

Kekentalan / Viskositas

Gangguna fisik yang kedua adalah kekentalan atau viskositas, karena kekentalan ini berpengaruh terhadap laju penyemprotan sampel pada spektrometer serapan atom (AAS) yang digunakan. Bisa dibayangkan ketika viskositasnya tinggi maka ketika disemprotkan tidak akan membentuk tetesan-tetesan kecil, namun berupa gumpalan-gumpalan yang pastinya akan mengganggu proses pembakaran sampel dan pada akhirnya mengganggu proses analisis.

Jadi kekentalan sangat berpengaruh sehingga sampel tersebut diusahakan dibuat seencer mungkin sehingga tidak mengganggu proses penyemprotan di dalam spektrometer serapan atom (AAS) yang digunakan. Sehingga pelarut yang digunakan, kekentalan yang dibuat atau keenceran larutan yang dibuat antara larutan sampel dan larutan pembanding itu harus betul-betul sama untuk menghasilkan data yang relevan.

  • Gangguan kimia

Gangguan kimia dapat dalam bentuk uap / padatan.

Bentuk Uap

Gangguan kimia biasanya memperkecil populasi atom pada level energi terendah dalam nyala atom dalam bentuk uap dapat berkurang karena terbentuknya senyawa seperti oksida, klorida, atau karena terbentuknya ion ion yang tentunya ion-ion ini juga sangat mempengaruhi proses analisis dan menggunakan spektrometer serapan atom (AAS).

Bentuk Padatan

Gangguan ini dikarenakan terbentuknya senyawa yang sukar menguap / sukar terdisosiasi dalam nyala. Hal ini terjadi pada nyala ketika pelarut menguap meninggalkan partikel padat, misalnya gangguan pada fosfor pada penetapan kalsium karena terbentuknya kalsium fosfat.

Hal ini dikarenakan karena pelarut yang digunakan tidak cocok atau tidak mampu melarutkan secara sempurna sampel yang kita analisis sehingga ketika berada di dalam kompartemen sampel pada spektrometer serapan atom (AAS) sampel akan susah untuk dibakar dengan menggunakan nyala ataupun dengan menggunakan listrik karena ternyata dia akan mengendap dan sulit untuk disemprotkan masuk ke dalam sampel.

Selain itu gangguan padatan ini juga yang dimaksud karena adanya sampel yang sukar untuk terdisosiasi atau dibakar oleh temperatur yang digunakan.

Untuk mengatasi masalah padatan ini maka metode pembakaran atau temperatur yang digunakan ditingkatkan dengan menambahkan bahan-bahan oksida ataupun oksida.

Cara Mengurangi Gangguan Kimia pada AAS :

  1. Dengan menaikkan temperature nyala karena ada beberapa sampel yang tidak terbakar secara sempurna yang menyebabkan pelarut tersebut meninggalkan sampel dan sampel tidak terbakar sempurna. Agar mempermudah penguraian. biasanya dipakai gas pembakaran antara campurkan C2H2 dan N2O yang memberikan nyala dengan temperatur yang tinggi. Harapannya adalah sampel yang kita analisis terbakar secara sempurna.
  2. Dengan menambahkan elemen-elemen pengikat gugus /atom penyangga sehingga terikat kuat, akan tetapi atom yang ditentukan bebas sebagai atom netral. Jadi kadang ada elemen-elemen pengganggu pada sampel yang dianalisis, sehingga perlu menambahkan larutan tertentu yang membuat kontaminan yang mengganggu tersebut terikat kuat dengan pelarut tambahan atau senyawa tambahan tersebut /gugus pengikat tersebut sehingga logam yang dianalisis tetap berada dalam keadaan bebas ketika dianalisis maka logam bebas tersebut akan menyerap radiasi secara sempurna tanpa ada gangguan daripada kontaminan.
  3. Dengan mengeluarkan unsur pengganggu dari matriks sampel dengan cara ekstraksi. Hal ini menjadi salah satu metode untuk mengurangi gangguan daripada kontaminan Jadi sampel tersebut harus kita ekstraksi dengan metode yang sesuai, misalnya kita ingin menganalisis kandungan logam merkuri pada sampel tertentu, maka kita perlu mencari metode ekstraksi merkuri pada sampel sehingga ekstrak yang dihasilkan betul-betul adalah ekstrak yang mengandung merkuri dan kontaminan tersebut bisa dihilangkan.

Persiapan Sampel Pada Spektro AAS

Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) selain untuk analisis kualitatif juga bisa digunakan sebagai analisis kuantitatif.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyiapan sampel untuk analisis kuantitatif dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) :

  1. Larutan sampel dibuat encer mungkin. Seperti yang sudah dijelaskan diatas ketika sampel mempunyai viskositas tinggi maka akan sulit untuk disemprotkan pada Spektrofotometer Serapan Atom (SSA), sehingga harus kita buat seencer mungkin.
  2. Kadar unsur yang dianalisis juga tidak boleh terlalu pekat, karena hal ini tentunya akan mengganggu proses analisis dan tentunya mengganggu proses serapan atas radiasi elektromagnetik sehingga batasannya adalah tidak lebih daripada 5% dalam pelarut yang sesuai.
  3. Larutan yang dianalisis itu diasamkan terlebih dahulu kemudian dianalisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).
  4. Hindari pemakaian pelarut aromatik atau halogenida karena hal ini produk ini akan mudah menguap dan juga mengandung unsur logam jadi ada halogenida yang tentunya akan mengganggu proses pembacaan pada analisis SSA.
  5. Pelarut organik yang umum digunakan adalah keton ester ataupun etil asetat dan gunakan perlarut yang Pro analysis dimana tingkat kemurniannya tinggi pastinya mungkin sekitar 98 % karena ketika kemurnianya rendah maka akan ada kontaminan pada pelarut tersebut dan tentunya akan mengganggu proses analisis dengan menggunakan spektro AAS.
  6. Hasil pelarutan sampel itu harus jernih dan stabil artinya pelarut yang digunakan betul-betul mampu melarutkan secara sempurna sampel yang kita analisis, dan stabil yang artinya ketika didiamkan maka tidak akan membentuk endapan, Hal ini akan akan bermasalah ketika jernih di awalnya dan kemudian ditinggalkan beberapa saat akan membentuk endapan, hal ini menunjukkan larutan tersebut tidak stabil.

Bagian-Bagian Alat Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)

Berikut adalah instrumentasi daripada alat spektrofotometri serapan atom :

bagian bagian spektro AAS

  • Tabung katoda cekung sebagai sumber tenaga
  • Pemotong berputar yang di yang dibantu oleh alat motor
  • Nyala (sumber nyala) yang menggunakan bahan bakar / oksigen (campuran bahan bakar dan oksigen) dan sekarang sudah modern bisa menggunakan listrik sebagai sumber nyala.
  • Monokromator
  • Detektor
  • Penguat arus
  • Pencatat

Berikut ini penjelasan singkat dari bagian-bagian spektrofotometer Serapan Atom (AAS) diatas.

Sumber Radiasi

Karena prinsip daripada alat spektrofotometri ini adalah adanya radiasi elektromagnetik maka sumber radiasi ini perlu menjadi pembahasan tersendiri.

Beberapa alat spektrometer AAS menggunakan lampu tertentu, contohnya : lampu Wolfram yang menghasilkan radiasi sinambung. Namun kekurangan dari lampu ini adalah intensitas yang sangat kecil.

Sehingga diciptakan lampu katoda, dimana sudah disebutkan diatas bahwa lampu katoda khusus untuk mendeteksi logam tertentu. Jadi misalnya lampu katodanya adalah menganalisis logam berat merkuri maka lampu katoda yang digunakan adalah merkuri, dan misalnya kita mau menganalisis kadmium maka harus ganti lampu katoda yang komponennya mengandung kadmium dan begitu pula yang lain-lainnya.

Sumber radiasi yang lain adalah tabung awam muatan gas. Meskipun demikian yang paling lazim kita gunakan dalam analisis menggunakan spektrofotometer serapan atom itu adalah lampu katoda.

Lampu katoda berupa tabung logam yang diisi gas mulia (neon / argon) dan juga dicampur dengan unsur-unsur logam yang sesuai dengan unsur yang akan kita analisis.

Salah satu kelemahan dari pada lampu katoda berongga ini adalah satu lampu hanya untuk satu unsur. jadi kita harus sering mengganti lampu sesuai dengan logam yang kita analisis.

Namun seiring dengan perkembangan zaman ternyata sudah diciptakan satu lampu katoda untuk beberapa senyawa atau logam yang akan dianalisis dengan cara mengkombinasikankan beberapa lampu katoda dalam satu komponen lampu. Tentunya ini akan lebih memudahkan bagi peneliti untuk melakukan analisis logam secara multikomponen.

lampu katoda spektrometer AAS

Monokromator

Sama dengan alat spektrofotmeter UV Vis, Pada alat spektro AAS monokromator yang digunakan harus mampu memberikan resolusi.

Alat pembakar

Ada dua macam alat pembakar spektrofotometer serapan atom (SSA) yaitu bisa bercelah panjang ataupun ada yang sempit. Bercelah panjang dan alat pembakar bercelah pra campur. Alat pembakar sudah ada yang menggunakan nyala api namun ada juga yang menggunakan aliran listrik.

Gas pembakar merupakan kombinasi gas pembakar dan pengoksidasi dengan tujuannya adalah untuk menaikkan temperatur agar sampel betul-betul terdisosiasi secara sempurna dan menghasilkan logam bebas yang siap untuk menyerap radiasi elektromagnetik alat.

Detektor

Detektor untuk mengubah intensitas radiasi yang datang menjadi arus listrik dan detektor yang umum dipakai adalah PMT (Photo Multiplier Tube Detector)

Read out

Merupakan alat petunjuk yang berfungsi untuk mencatat hasil pembacaan yang dapat berupa angka ataupun kurva yang menggambarkan absorban.

Kalibrasi Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)

kalibrasi spektrofotometer serapan atom aas

Secara prinsip Kalibrasi Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) dilakukan dengan menggunakan larutan standar yang diketahui konsentrasi analitnya selain itu penentuan kepekaan serta presisi pengukuran dan kalibrasi alat AAS dilakukan pada setiap analisisnya.

Step pengerjaannya hampir sama ketika unit alat tersebut dikualifikasi pada saat awal instalasi dari supplier. Sehingga disarankan kalibrasi AAS dilakukan oleh supplier / distribusi resmi alat bersangkutan atau menggunakan layanan kalibrasi yang sudah teman-teman percayai.

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegiatan penimbangan, pengambilan bahan kimia, pelarutan merupakan suatu hal yang umum dilakukan di laboratorium kimia. Dan tentunya untuk melakukan kegiatan tersebut kita membutuhkan alat-alat laboratorium, salah satunya adalah spatula laboratorium.

Spatula laboratorium, atau terkadang sebagain orang menyebutnya dengan spatula kimia merupakan salah satu alat laboratorium yang mempunyai peranan sangat penting dalam analisis kimia. Bentuk dari alat ini seperti sendok kecil, pipih, dan bertangkai dengan tepi atas datar.

Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegunaan spatula laboratorium secara umum adalah untuk mengambil obyek / bahan kimia yang bersifat padat (serbuk) serta seringkali digunakan untuk mengaduk pada proses pembuatan larutan kimia. Beberapa aplikasi dari penggunaan spatula misalnya :

  • Pada saat penimbangan sampel untuk analisa kadar air
  • Pengadukan dalam proses pelarutan
  • Memindahkan / mendistribusikan reagen kimia dari satu tempat ke tempat yang lainnya
  • dll.

Spatula secara umum dapat kita temukan dari bahan kayu, alumunium, dan stainless stell, dimana penentuan bahan spatula tersebut tentunya berdasarkan aplikasi penggunaan spatula tersebut di laboratorium, misalnya jika penggunaan spatula diaplikasikan untuk mengambil bahan kimia yang mempunyai sifat bereaksi dengan alumunium, maka spatula dari bahan stainless stell dan kayu sebaiknya dipertimbangkan.

Spatula kimia juga dapat kita temukan dalam berbagai ukuran yang bisa teman-teman pilih sesuai dengan penggunaanya, misalnya spatula tersebut akan kita gunakan untuk pembuatan larutan standar dimana bahan kimia yang ingin kita ambil hanya dalam ukuran 1 – 3 gram, maka spatula yang berukuran kecil dirasa sudah cukup.

Jenis dan Bahan Spatula

Untuk mempermudah pemahaman mengenai bahan dan macam-macam bentuk dari spatula ini, kita akan mengambil contoh spatula brand AS ONE sebagai referensi.

Secara umum, spatula laboratorium berdasarkan kegunaannya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Spatula Stainless Stell

Sesuai dengan namanya, spatula ini terbuat dari stainless stell yang mempunyai sifat tahan karat. Karena berbahan stainless stell maka spatula ini mempunyai keunggulan yaitu mudah dibersihkan dan disimpan. Spatula jenis ini banyak digunakan untuk mengambil objek yang sangat kecil yang telah melalui proses pengirisan dan disiapkan untuk penelitian melalui mikroskop.

Spatula stainless stell ini juga terdiri dari berbagai macam model, antara lain sebagai berikut :

Fluorine Coating Spoons

spatula stainless stell

Jenis spatula stainless stell ini dilapisi fluorine di seluruh permukaannya sehingga memiliki ketahanan terhadap bahan kimia yang sangat bagus. Material dasar stainless stell yang digunakan adalah jenis stainless stell SUS 410.

Spatula jenis ini bisa kita temukan dari ukuran :

  • 150 cm
  • 180 cm
  • 210 cm
  • 240 cm
  • 300 mm.

Floorine Coating Micro Spatulas

Floorine Coating Micro Spatulas

Spatula jenis ini mirip dengan spatula yang pertama, yaitu berbahan stainless stell (SUS 304) yang dilapisi fluoresin, perbedaannya hanya di dalam ukurannya saja. Sesuai dengan namanya micro spatula, maka spatula ini digunakan untuk mengambil sampel dengan ukuran yang sedikit. Beberapa ukuran dari spatula ini adalah :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Micro Spatulas Laboran Package

Micro Spatulas Laboran Package

Jika kedua spatula sebelumnya terbuat dari stainless stell yang dilapis dengan fluorine, untuk spatula jenis ini merupakan spatula stainless stell (SUS 304) tanpa dilapisi fluorine.

Terdapat beberapa model dari spatula jenis ini yaitu :

  • Model Flat dengan ukuran 180 mm
  • Round Thin dengan pilihan ukuran
    • 150 cm
    • 180 cm
    • 210 cm
    • 240 cm
    • 300 mm.
  • Round Thick dengan ukuran 180 mm

Dimana perbedaan untuk ketiga model tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Disebut laboran package karena dalam pembeliannya kita biasanya mendapatkan 1 paket yang berisi 3 model diatas. 3 Model tersebut.

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Umumnya spatula yang kita temukan di laboratorium dengan bentuk di bagian ujung satunya seperti sendok, namun di ujung lainnya rata. Nah untuk spatula jenis ini di kedua ujungnya rata seperti tampilan pada gambar diatas.

Ada 2 macam bahan yang digunakan dalam spatula ini, yaitu :

  • Stainless Stell SUS 410 untuk spatula dengan ukuran 15 x 150 mm ; 15 x 180 mm
  • Stainless Stell SUS 430 untuk spatula dengan ukuran 18 x 210 mm ; 18 x 240 mm;.  18 x 300 mm

Spatula Runcing

Spatula Runcing
Jika umumnya kita mengenal fungsi spatula di area laboratorium ataupun untuk keperluan memasak, spatula jenis ini dapat digunakan untuk memperbaiki atau memproses ulang papan sirkuit listrik misalnya : motherboard PC, komponen-komponen elektrikal perangkat elektronik, untuk pemeriksaan setelah penyolderan, dan untuk pemeriksaan mesin.. Untuk mendukung kegunaaan spatula ini, maka bahan yang digunakan adalah stainless stell AISI 410. Ukuran dari spatula ini berdasarkan urutan pada gambar diatas adalah :

  • 180 mm
  • 175 mm
  • 165 mm
  • 180 mm

Micro Spatula

Micro Spatula

Mempunyai panjang 200 mm dengan dimensi blade 51 x 7 mm dengan ketebalan 0.5 mm. Steam diameter 2.5 mm dan terbuat dari material stainless stell SUS 304. Harga katalog dari spatula jenis ini berkisar antara Rp. 80.000,-

Micro Spatula Hayman Style

Micro Spatula Hayman Style

Spatula ini terbuat dari bahan stainless stell SUS 304, terdapat 2 pilihan ukuran, yaitu :

  • Ukuran spatula : 45 x 3 mm dan ukuran spoon 13 x 2.5 mm
  • Ukuran spatula : 38 x 5 mm dan ukuran spoon 15 x 3 mm

Spatula Chemi Scraper

Spatula Chemi Scraper

Spatula ini rata di bagian ujung satunya, dan bulat di ujung lainnya seperti tampilan gambar diatas. Dibandingkan dengan spatula jenis lainnya, model ini mempunyai dimensi yang lebih panjang yaitu Lebar x Panjang :

  • 8 mm x 175 mm
  • 20 mm x 305 mm
  • 20 mm x 460 mm

Spatula Nikel

spatula nikel

Spatula yang terbuat dari bahan nikel dan banyak digunakan di laboratorium untuk mengambil bahan kimia serbuk / padat. Spatula ini juga dapat digunakan untuk mengaduk larutan kimia, kecuali yang bersifat asam. Spatula ini mempunyai keunggulan dimana dapat digunakan pada suhu yang relatif tinggi, mudah dilakukan sterilisasi, serta bersifat inner atau tahan terhadap bahan kimia.

Spatula Politena

Disebut juga sebagai spatula tanduk, terbuat dari bahan plastik seperti polipropilene sehingga mempunyai keunggulan dalam hal reaktifitas karena seperti kita ketahui bahan plastik umumnya tidak bereaksi terhadap bahan kimia. Kegunaan spatula ini juga sama dengan spatula lainnyayaitu digunakan untuk mengambil bahan kimia yang berbentuk padat.

Micro Spatulas PE Polyethylene

Micro Spatulas PE Polyethylene

Merupakan spatula mikro yang terbuat dari bahan PE Polyethylene. Ada 2 pilihan ukuran panjang untuk spatula jenis ini, yaitu 150 mm dan 180 mm.

Micro Spatula Fluororesin

micro spatula pctfe

Micro spatula yang terbuat dari bahan PCTFE (fluororesin) dimana terdapat 3 pilihan ukuran yaitu :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Heat Resistance Spatula

Heat Resistance Spatula

Terbuat dari material PPS (polypherylene sulfide) dan mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai suhu 240 °C.

Tersedia dalam ukuran 125 mm x 262 mm.

Silicon Spatulas With SUS Handle

Silicon Spatulas With SUS Handle

Spatula dengan bahan karet silikon dan stainless stell pada pegangannya ini mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai dengan suhu 220 °C serta tahan terhadap dingin sampai dengan -50 °C, sehingga aplikasinya sangat luas.

Berapa Harga Spatula Kimia?

Jika berbicara mengenai harga spatula laboratorium, tentunya tergantung dari model dan ukurannya. Karena pada contoh gambar-gambar spatula diatas kita menggunakan AS ONE, maka kita bisa melihat harga spatula tersebut di katalognya secara langsung.

Berikut ini adalah tahapannya :

katalog as one

  • Ketik “SPATULA” di kolom search sehingga display menunjukkan tampilan seperti pada gambar berikut :

harga spatula laboratorium di indonesia

  • Klik salah satu model yang ingin dilihat harganya sehingga tampilan menunjukkan gambar seperti berikut :

harga spatula as one

  • Harga spatula kimia akan tertera dalam mata uang yen seperti tampilan gambar diatas.

Semoga bermanfaat

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Dalam laboratorium kimia, tentunya banyak analisa yang harus kita lakukan, baik itu analisa yang sederhana, misalnya : pelarutan, titrasi, dll sampai dengan yang komplek, misalnya : analisa kadar logam dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS), dll.

Salah satu analisa yang umum kita temukan di laboratorium adalah analisa kadar abu. Pada artikel kali ini kita akan membahas peralatan utama yang digunakan untuk analisa kadar abu tersebut, yaitu furnace laboratorium baik dari pengertian,  fungsi, cara penggunaan, kualifikasi pada saat pertama kali unit tersebut kita terima, sampai dengan metode kalibrasi furnace yang umumnya digunakan oleh laboratorium kalibrasi.

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium

Furnace adalah salah satu alat laboratorium yang digunakan untuk pemanasan hingga suhu tinggi sehingga sampel terbakar dan berubah menjadi abu. Sebagian dari kita menyebut alat ini dengan nama tungku pembakaran.

Seperti yang telah disebutkan diatas, fungsi furnace di laboratorium kimia adalah banyak digunakan untuk analisa kadar abu suatu sampel. Selain itu furnace juga banyak digunakan pada proses destruksi dan untuk mengetahui jumlah sampel yang bersifat volatil (tidak mudah menguap) serta tidak mudah terbakar.

Mengenal Tombol Panel Furnace

pengertian furnace adalah

Furnace mempunyai ukuran chamber yang berbeda-beda tergantung pada tipenya, ada yang berukuran 6 Liter, 9 Liter, dll. Bagian-bagian furnace secara umum hampir mirip dengan oven / inkubator laboratorium, dimana terdapat chamber / ruangan sebagai tempat sampel dan bagian depan terdapat tombol panel.

Seiring dengan perkembangan teknologi, furnace pun juga mengalami perkembangan dari sisi tombol panelnya, antara lain adanya menu program yang bisa kita simpan sehingga pada saat penggunaan kita hanya menekan tombol angka sesuai dengan yang program yang pernah kita simpan. Hal ini tentunya semakin mempermudah penggunaan dan dapat menghindari kesalahan seting / pengaturan pada saat analisa sampel di laboratorium.

Mengenal Tombol Panel Furnace

Tombol panel dan video cara seting dibawah diambil dari salah satu brand furnace yaitu neytech vulcan.

cara menggunakan furnace atau tanur

 

  1. °C / °F Untuk merubah temperature dari °C ke °F dan sebaliknya.
  2. LCD Display, menampilkan program, count down time, dan nomor program.
  3. Tombol Rate, Tekan satu kali untuk R1, dua kali untuk R2, dan tiga kali untuk R3.
  4. Tombol ESC (Escape), untuk membatalkan parameter program atau kembali ke ke “current condition display”
  5. Tombol “Green Start”, untuk menjalankan program.
  6. Tombol “Red Stop”, untuk membatalkan program jika sudah terlanjur dijalankan.
  7. Delay start, jika diaktifkan maka furnace dapat menyala pada waktu yang telah diseting sebelumnhya.
  8. Program Parameter LEDs, mengindikasikan parameter mana yang diaktifkan.
  9. Tombol Hold, tekan satu kali untuk H1 (Hold 1), tekan dua kali untuk H2 (Hold 2), dan tekan tiga kali untuk H3 (Hold 3).
  10. Tombol Temperature, Tekan satu kali untuk T1 (Temp 1), tekan dua kali untuk T2 (Temp 2), Tekan tiga kali untuk T3 (Temp 3).
  11. Tombol Digit, untuk mengganti program dan menyimpan parameter program yang baru.
  12. Tombol Enter, Untuk menyimpan program dan parameter program.

Berikut ini adalah video mengenai cara seting dari furnace

Kualifikasi Furnace

Seperti umumnya alat laboratorium yang baru dibeli, tentunya kita harus melakukan kualifikasi furnace ketika unit tersebut kita terima. Berikut ini adalah contoh dokumen kualifikasi dan beberapa point yang perlu dilakukan pengecekan ketika kita melakukan Installation Qualification dan Operational Qualification dari furnace tersebut.

Kualifikasi Instalasi Furnace

Ketika barang datang, maka pastikan untuk melakukan pengecekan point-point berikut :

  • Apakah kemasan (packaging) dalam kondisi baik dan tidak mengalami kerusakan?
  • Apakah ada device external yang mengalami kerusakan?
  • Apakah tray termasuk dalam paket pembelian?
  • Apakah tersedia buka petunjuk pengoperasian / manual book?
  • Apakah sumber arus listrik mempunyai voltase sesuai dengan persyaratan alat furnace (misalnya : 100 – 120 atau 200 – 240 V, 50/60 Hz.
  • Apakah kondisi lingkungan antara temperatur ruang + 5 s/d 40 dan kelembaban udara maksimum 80 % RH?

Kualifikasi Operasional Furnace

Kualifikasi Operasional Furnace bertujuan untuk menjamin / melakukan pengujian terhadap fungsi fitur yang ada di dalam furnace tersebut. Secara rinci kualifikasi operasional ini bertujuan untuk memastikan :

  • Apakah semua fungsi tombol dan alarm berfungsi dengan baik ?
  • Apakah semua kontrol dan program berfungsi dengan baik ?
  • Apakah distribusi suhu di dalam ruangan furnace memenuhi persyaratan yang ditentukan ?

Berikut ini adalah point-point yang harus diverifikasi ketika kualifikasi furnace.

  • Apakah kabel daya tersambung dengan benar?
  • Tekan saklar utama ke posisi ON. Apakah suhu, waktu dan tampilan program muncul?
  • Tekan tombol C/F, apakah unit suhu berubah ke satuan yang lain?
  • Jika furnace tersebut mempunyai fitur program, maka lakukan pengecekan sebagai berikut :
  • Tekan tombol pengatur suhu, apakah program T1, T2, T3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol Ramp, apakah program R1, R2, R3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol hold, apakah program H1, H2, H3 berkedip pada tampilan LED?
  • Apakah temperature naik seiring dengan berjalannya waktu pada saat furnace di jalankan?
  • Apakah temperature mencapai sesuai dengan seting point dengan spesifikasi yang telah ditetapkan? (misalnya : seting point 100 °C mempunyai toleransi ± 5 °C, maka pada saat kita seting furnace tersebut pada 100 °C, display harus menunjukkan 100 °C ± 5 °C)
  • Lakukan verifikasi pada beberapa titik temperature, misalnya 300 °C; 500 °C; dan 700 °C dengan menggunakan standar termokopel tipe K yang sudah terkalibrasi. Apakah hasilnya memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan?

Kalibrasi Furnace

kalibrasi furnace

Untuk menghasilkan hasil analisa yang akurat, tentunya harus didukung dengan peralatan yang akurat juga, sehingga kalibrasi furnace sebaiknya dilakukan pada interval tertentu (misalnya : 1 tahun sekali) untuk mengetahui nilai koreksi serta ketidakpastiannya.

Metode kalibrasi furnace yang seringkali digunakan adalah AS 2853—1986. Australian Standard. Enclosures—. Temperature-controlled—. Performance testing and grading. Dengan standar yang digunakan thermocouple.

Untuk spesifikasi toleransi kalibrasi furnace biasanya tertuang di dalam manual book alat bersangkutan, misalnya akurasi temperature = ± 5 °C dengan keseragaman temperature = ± 8 °C

Prosedur Perawatan Furnace Laboratorium

  1. Jangan pernah mengoperasikan furnace di dekat bahan yang mudah terbakar atau menempatkan bahan yang mudah terbakar tersebut di atas furnace.
  2. Ketika membersahkan unit alat furnace, jangan menggunakan pelarut atau cairan pembersih pada panel kontrol. Pelarut tersebut akan memasuki panel dan dapat merusaknya.
  3. Jangan meletakkan benda panas lainnya langsung di depan furnace.
  4. Selalu kenakan sarung tangan tahan panas ketika menggunakan furnace.
  5. Furnace harus diletakkan paling tidak dengan jarak 15 cm dari dinding.

Trouble Shooting Furnace

Semakin bertambahnya usia furnace, terkadang kita menemukan beberapa masalah pada saat penggunaanya. Berikut ini adalah beberapa contoh trouble shooting masalah yang ada di furnace.

  • Alat mati total dan tidak dapat beroperasi

Periksa stop kontak dan kabel power, pastikan saklar hijau pada alat dalam posisi ON.

  • Alat tidak panas selama pengoperasian.

Apakah saklar daya warna hijau menyala saat tombol start ditekan?

    1. Jika ya >> Periksa sekering pada pengontrol PCB dan periksa Periksa elemen pemanas.
    2. Jika tidak >> Apakah pintu benar-benar tertutup? Saklar pintu mungkin menjadi daya interupsi.
  • Pemanasan berjalan lambat

Lakukan pengecekan pada program pada bagian rate.

Untuk masalah-masalah yang bersifat umum, biasanya solusinya bisa kita temukan di manual book / petunjuk pengoperasian, namun untuk beberapa masalah lain sebaiknya kita menghubungi supplier alat bersangkutan untuk melakukan perbaikan atau juga bisa menggunakan jasa service alat laboratorium yang teman-teman kenal.

Semoga bermanfaat.

40 Alat-Alat Laboratorium Kimia Lengkap Dengan Gambarnya

40 Alat-Alat Laboratorium Kimia Lengkap Dengan Gambarnya

Dalam suatu analisa / penelitian di dalam laboratorium baik itu laboratorium kimia / biologi, tentunya tidak dapat dilepaskan dengan alat-alat laboratorium baik itu yang sederhana sampai dengan instrumen yang canggih.  Pemahaman mengenai nama peralatan laboratorium tersebut beserta fungsinya akan sangat membantu pekerjaan kita sehingga lebih efektif dan efiien dalam bekerja serta tentunya dari pertimbangan keselamatan kerja juga dirasa lebih maksimal karena kita mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan dihindari ketika menggunakan peralatan-peralatan tersebut.

Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai nama-nama peralatan laboratorium yang sering kita temui di dalam laboratorium berikut dengan fungsinya.

Alat-Alat Laboratorium Kimia

Tabung Reaksi

tabung reaksi

Tabung reaksi terbuat dari gelas yang dapat dipanaskan, alat ini digunakan sebagai tempat untuk mereaksikan zat kimia dalam jumlah sedikit. Cara penggunaannya adalah tabung reaksi dipegang pada bagian lehernya, dimiringkan kurang lebih 60° kemudian diisi dengan larutan yang akan dianalisa.

Apabila tabung reaksi beserta isinya akan dipanaskan, pegang sepertiga bagian bawah dengan menggunakan penjepit karena tabung reaksi tersebut akan panas. Mulut tabung harus diarahkan ke tempat yang aman (jangan ke arah muka sendiri atau muka orang lain). Tabung reaksi yang panas tidak boleh didinginkan secara mendadak karena bisa pecah.

Penjepit Kayu

penjepit kayu

Sesuai namanya, alat ini terbuat dari kayu yang dipakai untuk memegang tabung reaksi. Saat ini selain terbuat dari bahan kayu, penjepit tabung reaksi ini juga bisa kita temukan dari bahan logam,

Rak Tabung Reaksi

test tube rack

Terbuat dari kayu atau logam dipakai untuk menaruh tabung reaksi. Rak tabung reaksi tersedia bermacam-macam ukuran dimana setiap ukuran tersebut juga berbeda jumlah lubangnya.

Baca Juga :

Mengenal Ukuran Tabung Reaksi Kimia dan Cara Menggunakannya

Pengaduk Gelas / Batang Pengaduk

Batang pengaduk berbentuk tabung yang tidak berlubang di bagian dalamnya dan dipakai untuk mengaduk suatu campuran atau larutan zat kimia pada waktu melakukan reaksi kimia. Juga dipakai untuk membantu pada waktu menuangkan atau mendekantasi cairan dalam proses penyaringan dan pemisahan.

Corong

corong laboratorium

Corong biasanya terbuat dari gelas ataupun plastik yang dapat kita sesuaikan dengan aplikasi di laboratorium. Corong yang baik berbentuk kerucut bersudut 60° dipakai untuk memasukkan suatu cairan kedalam suatu tempat yang mulutnya sempit seperti botol, labu ukur, buret, erlenmeyer, dan sebagainya.

Selain itu corong juga digunakan untuk analisa filtrasi / penyaringan yang tentunya digunakan secara bersamaan dengan bantuan klem dan statif. Corong yang tangkainya berdiameter relatif agak besar dipakai untuk memasukkan zat berbentuk serbuk kedalam bejana bermulut kecil.

Gelas Arloji

gelas atau kaca arloji

Gelas arloji mempunyai ukuran penampang lintang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan di laboratorium, digunakan untuk menimbang zat berbentuk kristal, selain itu juga digunakan untuk menutup gelas beker yang berisi larutan waktu pemanasan atau untuk menguapkan cairan.

Gelas Ukur

gelas ukur

Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala dengan ukurannya bermacam-macam dari kecil sampai yang besar, Gelas ukur merupakan alat ukur yang kasar dan tidak untuk pengukuran yang teliti.

Contoh : larutan yang akan dititrasi tidak boleh diambil atau diukur dengan gelas ukur tetapi diambil dengan pipet volume yang mempunyai keakuratan lebih tinggi.

Gelas Kimia

gelas kimia

Gelas kimia bukanlah digunakan sebagai alat pengukur, tanda volume yang ada merupakan taksiran kasar. Alat ini terdapat dalam berbagai ukuran dan digunakan untuk wadah sementara larutan atau reagent, memanaskan larutan, menguapkan pelarut atau memekatkan.

Erlenmeyer

erlenmeyer

Alat ini juga bukanlah alat pengukur, digunakan dalam analisis volumetri untuk wadah suatu volume tertentu dari suatu larutan, seringkali juga digunakan dalam kegiatan titrasi, dan untuk memanaskan larutan.

Ada dua jenis Erlenmeyer :

  1. Erlenmeyer tanpa tutup gelas, dipakai untuk titrasi larutan yang tidak mudah menguap.
  2. Erlenmeyer dengan tutup gelas, dipakai titrasi larutan yang mudah menguap.

Labu Takar

labu takar

Labu takar merupakan suatu bejana dengan leher panjang sempit dan dasar yang datar, dilengkapi dengan tanda batas volume dan mempunyai kapasitas tampung sesuai dengan ukuran yang tercantum. Bila pada alat tertulis 20 °C dan 100 ml maka alat tersebut dapat menampung cairan pada 20 °Celcius sebanyak 100 ml sampai garis tanda yang terdapat pada leher alat.

Labu takar ini banyak digunakan untuk membuat larutan standar atau baku pada analisis volumetri. Seringkali juga digunakan untuk pengenceran sampai volume tertentu. Perlu diperhatikan alat ini jangan digunakan untuk mengukur larutan atau pelarut yang panas.

Pipet Gondok

fungsi pipet gondok

Bagian tengah dari pipet ini membesar seperti gondok. Ujungnya runcing dan pada bagian atas ada tanda goresan melingkar. Tepat sampai tanda tersebut, volume larutan didalam pipet sama dengan angka yang tertera pada alat tersebut.

Alat ini dipakai untuk mengambil dan memindahkan larutan secara tepat pada volume tertentu sesuai kapasitas. pipet gondok tersebut. Pipet gondok ini merupakan alat pengukur yang lebih tepat dari gelas ukur karena lebih akurat.

Pipet Ukur

pipet ukur

Pipet ukur mempunyai bentuk berupa tabung gelas yang agak panjang dengan ujung runcing dan mempunyai skala. Teknik penggunaannya sama dengan pipet gondok, hanya saja volume dapat dipindahkan sebagian disesuaikan dengan keperluan. Jumlah cairan yang dituangkan dapat disesuaikan dengan skala yang ada pada pipet tersebut.

Pipet Tetes atau Pasteur

gambar pipet tetes

Pipet ini tidak mempunyai ukuran volume atau skala lainnya, digunakan untuk memindahkan sedikit zat cair atau larutan yang tidak mempunyai ketelitian tinggi.

Baca Juga :

Cara Menggunakan Pipet Ukur, Pipet Volume, dan Pipet Tetes

Buret

buret biasa

Berupa tabung gelas panjang dengan pembagian skala dan ujung bawah dilengkapi dengan kran digunakan untuk titrasi atau mengukur volume titran yang digunakan. Berdasarkan tingkat ketelitian atau pembagian skalanya, buret dibagi menjadi 2 jenis :

  1. Makro buret dengan pembagian skala 0,1 sampai 0,05 ml.
  2. Mikro buret dengan pembagian skala 0,01 ml.

Yang perlu diperhatikan pada buret adalah ketika membaca membaca skala pada buret supaya tidak timbul kesalahan paralax.

Bola Isap / Suction Bulb

bola hisap

Pengambilan suatu larutan atau cairan menggunakan pipet volume dapat dilakukan dengan bantuan bola hisap karet. Alat ini terdiri dari satu bola dengan ujung pendek diatas dan ujung bawah agak panjang. Ujung bawah mempunyai cabang kesamping. Sebelum dipakai untuk mengambil cairan, bola hisap dikosongkan dengan menekan bola dan bagian ujung atas.

Pipet volume dimasukkan kedalam lubang ujung bawah bola hisap tetapi jangan melewati pipa cabang. Untuk menggunakannya, pijit bagian ujung bawah sehingga cairan akan terhisap masuk ke dalam pipet. Cairan dapat keluar dengan memijit bagian pipa cabang. Sehabis menggunakan bola hisap, pipet dilepas dan biarkan udara masuk sehingga bola menggelembung kembali seperti semula.

Botol Semprot

botol semprot

Botol semprot plastik digunakan untuk menyimpan air suling yang akan digunakan sebagai pelarut zat, pencucian untuk membersihkan dinding bejana dari sisa-sisa endapan, atau membilas alat-alat yang telah dicuci. Botol semprot plastik ini dapat dipegang dengan satu tangan dan dengan pijatan yang lemah cairan akan keluar. Botol semprot mempunyai ukuran yang berbeda-beda mulai dari yang kecil sampai yang besar sesuai keperluan.

Cawan porselin

cawan porselin

Cawan porselin biasanya digunakan sebagai tempat mengabukan kertas saring dan memijarkan endapan sehingga terbentuk senyawa yang stabil. Cawan porselen yang baik dapat dipanaskan hingga suhu 1200 ° celcius. Cawan porselen yang masih panas tidak boleh didinginkan mendadak dengan air dingin karena bisa pecah karena perbedaan suhu yang ekstrim.

Pinggan porselinPinggan porselin

 

Alat ini hampir sama seperti cawan porselin namun lebih tebal. Digunakan untuk menguapkan larutan sehingga menjadi lebih pekat atau menjadi kering atau menjadi kristal.

Piring / Pelat tetes

Pelat tetes

Digunakan untuk mereaksikan zat yang dalam jumlah sedikit. alat ini tidak boleh dipanaskan, Seringkali digunakan pada pengenalan sifat-sifat larutan bersifat asam atau basa dengan menggunakan kertas lakmus.

Mortar Martil

alu dan mortar laboratorium

Merupakan alat laboratorium yang bentuknya sangat mirip dengan lumpang dan alu terbuat dari bahan porselen atau keramik yang membuatnya terlihat mirip dengan cawan porselin atau krusibel. Mortar dan martil adalah sepasang alat laboratorium yang penggunaannya tidak dapat dipisahkan berdasarkan fungsinya.

Penggunaannya tidak ditumbukkan tetapi dipegang dan diputar-putar, digerus. Fungsi mortal dan martil adalah untuk menghaluskan sampel pengujian yang ada di laboratorium, hal ini juga dapat digunakan untuk mencampurkan beberapa bahan menjadi satu dengan cara digerus secara bersamaan.

Cawan Petri

ukuran cawan petri laboratorium

Cawan petri adalah kaca bundar berbentuk silinder tipis dan transparan. fungsi cawan petri berhubungan langsung dengan mikroorganisme yang dipelajari. Biasanya dilengkapi dengan tutup.

Baca Juga :

Pengertian, Fungsi, dan Ukuran Cawan Petridish Laboratorium

Neraca Ohaus

neraca ohaus

Neraca merupakan salah satu alat ukur massa yang dapat dibedakan berdasarkan jenis skala dan jumlah lengannya. Berdasarkan skalanya, neraca ini dibedakan menjadi dua yaitu neraca ohaus manual dan digital. Untuk yang manual ada neraca ohaus dua lengan, tiga lengan, dan empat lengan.

Neraca ohaus adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur massa benda yang memiliki ketelitian 0,01 gram. Prinsip kerja dari neraca ini sebenarnya hanya sekedar membandingkan massa benda yang akan diukur dengan anak timbangan. Kemampuan pengukuran dari neraca ini dapat diubah dengan cara menggeser posisi anak timbangan sepanjang lengan neraca anak timbangannya.

Neraca analitik

Timbangan Analitik Kern ABS 220-4

Neraca analitik merupakan sebuah sebuah alat laboratorium yang digunakan untuk mengukur massa suatu zat, baik zat berbentuk padat maupun cair. Neraca analitik sangat mudah ditemukan di setiap laboratorium karena fungsi dan kegunaannya yang sangat penting.

Kelebihan Neraca Analitik :

  • Memiliki tingkat akurasi atau ketelitian yang sangat baik bahkan hingga 0,00001 gram
  • Neraca analitik digital mudah dalam penggunaannya karena lebih praktis dan efektif tidak membutuhkan waktu yang lama.

Beberapa neraca analitik digital bahkan sudah memiliki fitur internal calibration yang memungkinkan kita melakukan kalibrasi sendiri.

Klem dan Statif

klem dan statif

 

Klem merupakan sebuah alat penjepit yang terbuat dari besi dimana alat ini digunakan untuk menjepit alat gelas kimia / corong, sedangkan statif merupakan stand yang menjadi tempat meletakkan klem.

Kedua alat ini berfungsi membantu kita memegang alat kimia tertentu dalam suatu proses kimia dimana terkadang proses kimia membutuhkan waktu yang lama atau pemanasan dengan suhu tinggi sehingga tidak memungkinkan kita untuk memegang alat tersebut dengan tangan.

Untuk menggunakan klem dan statif itu sendiri sebenarnya tidak ada aturannya, kita hanya perlu memasang klem dengan statif menggunakan penjepit klem. Penggunaan penjepit klem sebaiknya dalam posisi menghadap keatas dengan tujuan untuk mencegah klem terjatuh.

Pembakar Spirtus

pembakar spirtus

Pembakar spirtus ini merupakan alat laboratorium yang digunakan untuk menghasilkan nyala api. Sesuai namanya bahan bakar dari alat ini menggunakan spirtus yang disalurkan menggunakan sumbu-sumbunya yang akan menyerap spirtus dan dikeluarkan di bagian atas. Cara menyalakan pembakar spirtus adalah tinggal dikasih api dan untuk mematikannya mematikannya adalah dengan langsung ditutup, jadi tidak ditiup. 

Pembakar Bunsen

pembakar bunsen laboratorium

Terdiri dari tabung logam vertikal yang terhubung kedalam sumber bahan bakar (burner tube) dengan lubang pemasukan udara. Gas yang biasanya digunakan adalah gas alam atau metana atau bahan bakar gas cair semacam propana dan butana atau kalau di sekitar kita di laboratorium kita biasanya menggunakan gas elpiji.

Alat ini digunakan untuk beberapa proses kimia yang memerlukan pemanasan di dalamnya.

Khusus pada kimia analitik pembakar bunsen digunakan dalam uji kualitatif untuk memanaskan tabung reaksi.

Baca Juga :

Prinsip Kerja, Bagian-Bagian, dan Fungsi Pembakar Bunsen

Kaki Tiga dan Kasa

kaki tiga dan kasa

Kaki Tiga adalah logam besi bundar dengan kaki terbuat dari logam sebanyak tiga, merupakan alat penunjang di laboratorium yang digunakan untuk menopang atau menahan alat gelas kimia atau labu selama pemanasan. Umumnya kaki tiga terbuat dari logam ringan seperti baja yang tahan karat atau besi sehingga mudah dipindahkan kapan saja.

Nama kaki tiga sendiri diambil dari jumlah tiga batang yang dapat berdiri tegak dan kuat dalam menahan bahan di atasnya. Kaki tiga ini memiliki bentuk yang bervariasi seperti segitiga atau lingkaran. Terkadang ada juga yang ketiga kakinya dapat dilepas dan disesuaikan tergantung pada kebutuhan penggunaannya.

Biasanya kasa kawat dengan bagian tengah keramik harus diletakkan diatas kaki tiga agar gelas seperti beaker gelas bisa diletakkan di atasnya. Karena kaki tiga ini tinggi maka pembakar bunsen dapat diletakkan di bawah untuk memanaskannya.

Segitiga Porselen

segitiga porselen

Alat ini berfungsi sebagai penopang wadah, misalnya : cawan porselin yang akan dipanaskan diatas kaki tiga.

Labu Destilasi

labu destilasi

Labu destilasi merupakan salah satu peralatan gelas yang sering kita gunakan di laboratorium karena fungsi dan kegunaannya yang sangat menunjang penelitian. Labu destilasi ini memiliki bentuk yang hampir sama seperti labu alas bulat tetapi memiliki pipa penghubung disisinya.

Labu destilasi sering digunakan untuk alat penyulingan di laboratorium. Prinsip kerja labu destilasi ini didasarkan pada perbedaan titik didih atau volatilitas larutan sehingga larutan yang tercampur akan terpisah berdasarkan titik didihnya.

Pendingin / Kondensor

kondensor

Dalam beberapa metode kimia, kondensor digunakan untuk mendinginkan uap panas. Kondensor berasal dari kata kondensasi yang berarti bahwa alat tersebut akan mendinginkan uap yang melewatinya dan mengubah menjadi fase cair.

Prinsip kerja dari kondensor adalah dengan menurunkan suhu uap secara drastis. Setiap kondensor akan memiliki sistem pendingin menggunakan aliran air, oleh karena itu dalam menggunakan kondensor kita membutuhkan pompa air untuk membuat aliran air dalam kondisi terus berjalan.

Ada beberapa kondensor yang ada di laboratorium

  • Kondensor Liebig
  • Kondensor Alihn
  • Kondensor Graham
  • Kondensor Dimroth
  • Kondensor Friedrichs

Perbedaan dari kondensor tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Corong Pisah

corong pisah ekstraksi

Merupakan alat laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi bahan cairan untuk proses memisahkan dengan beberapa komponen dalam campuran antara dua fase dengan kepadatan yang berbeda.

Penggunaan corong pisah ini dapat dilakukan dengan bantuan dari campuran dua fase pelarut sehingga dapat dimasukkan kedalam corong yang ditutup kemudian dikocok dengan kuat untuk melakukan teknik dalam pencampuran dari dua fase larutan tersebut.

Lemari Asam

fume hood

Lemari asam merupakan sebuah furniture laboratorium berukuran besar yang memiliki bentuk seperti meja terisolasi untuk mengurangi efek atau paparan material berbahaya dalam hal ini asam. Lemari asam juga memiliki nama lain yaitu fume hood.

Fungsi lemari asam adalah untuk menghindarkan atau menjauhkan atau membuang segala jenis uap berbahaya baik dalam bentuk cairan seperti asam sulfat maupun padatan NaOH.

Tang Krus

tang krus

Digunakan untuk memegang / mengambil wadah dalam keadaan panas, misalnya pada saat analisa kadar air dengan menggunakan oven dimana tang krus ini digunakan untuk mengambil botol timbang yang akan dikeluarkan dari oven.

Parafilm

parafilm

Parafilm adalah film semi-transparan yang bersifat fleksibel, mudah dibentuk, dan biasanya digunakan untuk menyegel atau menutup sementara gelas beaker agar cairan dalam gelas beaker tersebut tidak tumpah.

Kertas Saring

kertas saring

Kertas saring digunakan untuk untuk memisahkan antara zat terlarut dari zat padat, memisahkan partikel suspensi dari cairan, atau untuk mengeringkan padatan di desikator, dll. Kertas saring ini bisa kita temukan dalam beberapa ukuran yang bisa kita lihat di dalam kemasannya. Misalnya : pada gambar diatas merupakan kertas saring whatman no. 42.

Desikator

fungsi desikator laboratorium

Desikator / Exicator adalah wadah yang terbuat dari bahan kaca yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan air. Contoh penggunaan desikator ini adalah untuk analisa kadar air suatu sampel.

Botol Timbang

botol timbang

Botol timbang banyak digunakan untuk menentukan kadar air suatu sampel. Selain itu juga sering dipakai untuk menyimpan bahan yang bersifat higroskopis. Jika digunakan untuk menimbang zat cair yang bersifat mudah menguap maka botol timbang harus dalam kondisi tertutup agar tidak terjadi penguapan.

Botol Laboratorium

botol laboratorium

Botol laboratorium mempunyai fungsi yang sangat luas di dalam laboratorium, misalnya untuk menyimpan larutan buffer ph meter, menyimpan sampel retained dari sampel raw material, dll. Botol laboratorium juga bisa kita temukan dari yang berbahan gelas ataupun plastik yang autoclaveable. Ukurannyapun sangat bervariasi dan dapat kita temukan dari volume 25 ml.

Ballast

ba ice ballast

Ballast ini digunakan pada lampu UV pada sistem aliran air di laboratorium untuk menghasilkan aquadem yang bebas dari cemaran mikrobiologi. Alat ini mempunyai umur 1 tahun, sehingga secara periodik harus diganti.

Botol Reagen

botol reagen

Botol reagen merupakan wadah khusus yang digunakan untuk berbagai cairan dan reagen padat di laboratorium. Botol reagen Digunakan untuk menyimpan larutan kimia atau untuk menyimpan indikator asam basa seperti fenolftalin.

Kimwipes

kimwipes

Berbeda dengan tissue pada umumnya, kimwipes merupakan tissue non residual, sehingga sangat cocok digunakan untuk beberapa aplikasi di laboratorium, misalnya membersihkan elektroda ph meter, membersihkan kuvet yang pada spektrofotometer UV Visible, dll.

Peralatan Instrumen Laboratorium Kimia

Jika diatas kita membahas mengenai alat-alat laboratorium kimia yang sering kita temui. Berikut ini adalah beberapa peralatan instrumen  yang sering terdapat di dalam laboratorium kimia. Untuk penjelasannya masing-masingnya akan dibahas terpisah mengingat harus detil menjelaskan mulai dari bagian-bagian komponennya, prinsip kerjanya, cara mengoperasikannya, sampai ke metode kalibrasi yang digunakan untuk menjaga akurasi peralatan tersebut.

  • Magnetic  Stirer
  • Oven
  • Tanur / Furnace
  • Water purified
  • Spektrofotometer UV Visible
  • Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)
  • FTIR
  • Ultrasonic Cleaner
  • pH Meter
  • Conductivity meter
  • dll

Semoga bermanfaat.