Mengenal Jenis-Jenis Baterai yang Sering Ada di Pasaran

Mengenal Jenis-Jenis Baterai yang Sering Ada di Pasaran

Jika membahas mengenai perangkat elektronik tentunya sangatlah banyak, dari yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya : baterai jam dinding, baterai HP / laptop sampai dengan peralatan yang memang memerlukan pembelajaran khusus seperti resistor, kapasitor yang telah kita bahas sebelumnya.

Nah kali ini kita akan fokus belajar mengenai jenis-jenis baterai lengkap dengan dimensi ukurannya, serta bagaimana cara menghitung arus dan tegangan baterai tersebut jika dirangkai secara seri atau pararel.

Yuk kita mulai….

Pengertian Baterai

macam macam baterai

Baterai adalah sebuah alat yang dapat merubah energi kimia yang disimpannya menjadi energi listrik yang dapat digunakan oleh suatu perangkat elektronik.

Hal ini dikenal sebagai reaksi elektrokimia yang ditemukan oleh Fisikawan Italia yaitu Count Alexandro Volta.

Volta pertama kali menemukan proses ini pada tahun 1799 ketika dia menciptakan baterai sederhana dari plat logam dengan kardus atau kertas yang direndam dengan air.

Berdasarkan desain asli dari Volta tersebut, hingga sekarang riset dari para ilmuwan pada baterai belum berhenti untuk melakukan inovasi pada sistem baterai ini.

Saat ini hampir semua perangkat elektronik portable menggunakan baterai sebagai sumber listriknya, contoh : handphone, laptop, lampu senter, jam, ataupun remote kontrol. Bahkan banyak dari alat ukur di industri yang bekerjanya menggunakan daya dari baterai, sebut saja : thermohigrometer, temperatur recorder / alat ukur suhu yang digunakan untuk kalibrasi oven atau inkubator, dll.

Dengan adanya baterai, kita tidak perlu menyambungkan kabel listrik untuk dapat mengaktifkan perangkat elektronik kita sehingga dapat dengan mudah dibawa ke mana-mana.

Arus yang keluar dari baterai adalah arus searah atau dirrect current disingkat dengan DC sehingga kutub positif dan kutub negatif baterai tidak boleh terpasang terbalik.

Satuan Kapasitas Baterai

satuan kapasitas baterai mili ampere hour

Kapasitas baterai dalam mensuplai arus listrik menggunakan satuan mAH atau mili ampere hour. Misalnya : baterai dengan informasi 3000 mAH maka artinya baterai tersebut dapat digunakan untuk memasok arus listrik sebesar :

  • 3000 mili ampere atau 3 ampere selama 1 jam atau
  • 6 ampere selama setengah jam atau
  • 300 mili ampere selama 10 jam

Rangkaian Elektronik dengan Baterai

Bagaimana menghubungkan baterai dengan rangkaian elektronik?

rangkaian elektronik dengan baterai

Seperti pada gambar diatas dimana lampu dirangkai dengan menggunakan baterai.

Seperti kita ketahui, baterai ada kutub positif dan kutub negatifnya. Kutub positif tersebut akan dihubungkan ke kutub positif rangkaian elektroniknya. Sedangkan kutub negatifnya akan dihubungkan ke kutub negatif dari rangkaian elektronika.

Bagaimana Jika terbalik?

Jika terbalik maka lampunya tidak akan menyala.

Ketika baterai memasok daya listrik, terminal positifnya adalah katoda dan terminal negatifnya adalah anoda.

Terminal bertanda negatif adalah sumber elektron yang akan mengalir melalui rangkaian listrik eksternal ke terminal positif.

Ketika baterai dihubungkan ke beban listrik eksternal, reaksi redoks mengubah reaktan berenergi tinggi ke produk berenergi lebih rendah dan perbedaan energi bebas dikirim ke sirkuit eksternal sebagai energi listrik.

Secara historis istilah baterai secara khusus mengacu pada perangkat yang terdiri dari beberapa sel, namun penggunaannya telah berkembang untuk memasukkan perangkat yang terdiri dari satu sel.

Baterai terdiri dari beberapa bagian, ada dua zat penghantar listrik yang berbeda yang disebut dengan elektroda dan cairan penghantar listrik yang disebut elektrolit. Baterai yang biasa kita pakai terdiri dari bahan seng dan batang karbon. Kedua penghantar ini memiliki sifat yang berbeda dalam melepas dan menerima elektron.

Pada gambar diatas, yang ditengah adalah terminal positifnya yaitu batang karbon, sedangkan bodinya atau pembungkusnya adalah seng sebagai anodanya dimana di dalamnya ada pemisah antara kutub positif dan negatif. Selain itu juga terdapat pasta elektrolit dan campuran karbon dan NO2.

Seng adalah zat yang lebih mudah melepas elektron daripada batang karbon sehingga saat baterai terhubung dengan rangkaian listrik, elektron dari karbon akan mengalir ke rangkaian melalui kabel atau kawat hingga akhirnya kembali ke baterai dan mencapai batang karbon.

Batang karbon sangat sulit bereaksi, elektron yang berada di permukaan batang karbon akan digunakan oleh elektrolit untuk menjalankan reaksi kimia.

Jenis-Jenis Baterai

Secara umum ada 2 jenis baterai, yaitu :

  1. Baterai primer atau baterai sekali pakai atau Single use
  2. Baterai sekunder atau baterai isi ulang atau Rechargeable

Yuk kita bahas satu per satu..

  • Baterai Primer

perbedaan ukuran baterai berbagai macam tipe

Baterai primer adalah baterai yang paling umum digunakan. Baterai jenis ini pada umumnya memberikan tegangan 1,5 volt DC dan terdiri dari berbagai jenis ukuran seperti :

    1. AAA dengan ukuran sangat kecil
    2. AA dengan ukuran yang kecil
    3. C dengan ukuran medium
    4. D dengan ukuran besar
    5. Selain itu terdapat juga baterai primer yang berbentuk kotak dengan tegangan 6 volt ataupun 9 volt.

 

terminal negatif berbagai macam baterai

Terminal negatif berbagai macam baterai

Setiap baterai memiliki 2 terminal yaitu satu terminal bertanda positif sedangkan yang lainnya bertanda negatif. Untuk jenis baterai AAA, AA, C, dan D itu terminal positifnya ada di ujung paling atas biasanya ada tonjolan dan yang negatifnya ada di bawah.

baterai 9 v

Terminal positif dan negatif baterai kotak

Untuk baterai yang kotak terminal positif dan negatifnya ada di atas. Terminal Positif adalah kutub yang lebih kecil dan terminal negatif adalah kutub yang lebih besar.

Berikut adalah tabel ukuran baterai yang umum ada di pasaran beserta kapasitasnya :

tabel ukuran baterai dan kapasitasnya

Misalnya :

    • Untuk baterai AAA yang mempunyai ukuran yang paling kecil pada gambar diatas mempunyai kapasitasnya 540, 1200, dan ada juga yang 800 – 1000 mAH dengan dimensi diameter 10,5 mm dan tinggi 44,5 mm.

baterai aaa

    • Untuk baterai AA mempunyai kapasitas yang lebih besar dibandingkan yang AAA yaitu dari yang 1100, 2700, 3000, 1700 – 2900, dan 600 – 1000 mAH dengan ukuran dimensi diameter 14,5 mm dan tinggi 50.5 mm

baterai a2

    • Untuk baterai C atau yang mempunyai ukuran medium, kapasitasnya dari 3800, 8000, dan ada juga yang antara 4500 s/d 6.000 mAH dengan dimensi diameter 26,5 mm dan tinggi 50 mm.

baterai tipe c

    • Untuk yang D atau ukuran paling besar pada gambar diatas kapasitasnya adalah 8000, 12000, ada yang 2200 s/d 12000 mAH dengan dimensi deameter 34.2 mm dengan tinggi 61.5 mm.

tipe baterai jenis d

    • Untuk baterai yang kotak kapasitasnya ada yang 400, 565, 120, ada yang 175 s/d 300 mAH dengan dimensi panjangnya 26.5 mm, lebar 17.5 mm, dan tinggi 48.5 mm.

Berdasarkan jenis material yang digunakan baterai primer ada beberapa jenis :

Baterai Zink Carbon atau Seng Karbon

baterai zink carbon

Baterai ini sering disebut dengan baterai heavy-duty. Baterai ini terdiri dari bahan zinc yang berfungsi sebagai terminal negatif dan juga sebagai pembungkus baterainya sedangkan kriminal positifnya adalah terbuat dari karbon yang berbentuk batang. Baterai jenis zinc carbon merupakan jenis baterai yang relatif murah dibandingkan dengan jenis lainnya.

Baterai alkalin

jenis baterai alkaline

Baterai Alkaline memiliki daya tahan yang lebih lama dengan harga yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan baterai zinc karbon. Elektrolit yang digunakan pada baterai ini adalah potasium hydroxide yang merupakan zat alkali atau alkaline sehingga namanya juga sering disebut dengan baterai alkaline.

Saat ini banyak baterai yang menggunakan alkali sebagai elektrolit tetapi mereka menggunakan bahan aktif lainnya sebagai elektrodanya.

Baterai lithium

baterai lithium

baterai lithium bentuk kancing

Baterai lithium menawarkan kinerja yang lebih baik dibandingkan jenis baterai primer lainnya. Baterai lithium dapat disimpan lebih dari 10 tahun dan dapat bekerja pada suhu yang sangat rendah.

Karena keunggulannya tersebut baterai jenis lithium ini sering digunakan untuk aplikasi memori backup pada mikro komputer ataupun jam tangan.

Baterai ini juga biasanya dalam bentuk seperti uang logam atau disebut juga baterai koin. Ada juga yang mengenalnya dengan botton cell atau baterai kancing.

Baterai silver oxide

silver oxide baterai

Baterai ini tergolong mahal karena tingginya harga perak. Baterai silver oxid dapat menghasilkan energi yang tinggi meskipun dengan bentuk yang relatif lebih kecil dan ringan.

Baterai jenis silver oxid ini sering dibuat dalam bentuk baterai koin atau baterai kancing. Baterai jenis ini sering dipergunakan pada jam tangan dan kalkulator.

  • Baterai Sekunder

Baterai sekunder adalah jenis baterai yang dapat diisi ulang atau rachargeable baterai. Pada prinsipnya cara kerja baterai sekunder menghasilkan arus listrik sama dengan baterai primer. Hanya saja reaksi kimia pada baterai sekunder ini dapat berbalik atau reversible.

Pada saat baterai digunakan dengan menghubungkan beban pada terminal baterai atau disebut proses discharge, elektron akan mengalir dari negatif ke positif. Sedangkan pada saat sumber energi luar dihubungkan dengan baterai sekunder atau disebut dengan proses charger elektron akan mengalir dari positif ke negatif hingga terjadi pengisian muatan pada baterai.

Baca Juga : Tang Ampere Alat Ukur Arus Listrik

Baterai sekunder juga ada jenisnya tergantung material pembuatnya.

Baterai Ni-Cd (Nickel Cadmium)

NI CD Bateray

Baterai yang terbuat dari nikel kadmium. Baterai Ni-Cd adalah jenis baterai yang menggunakan Nickel Oxide Hydroxide dan Metalic Cadmium sebagai bahan elektrolitnya. Baterai Ni-Cd ini memiliki kemampuan beroperasi dalam jangkauan suhu yang luas dan siklus daya tahan yang lama.

Baterai Ni Cd akan melakukan “discharge” sendiri sekitar 30 % per bulan saat tidak digunakan. Jadi kalau tidak digunakan akan habis dengan sendirinya.

Baterai ini mengandung racun sekitar 15 % yaitu bahan karsinogenik kadmium yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Baterai Ni-MH

NI MH Baterai

Baterai ini terbuat dari nickel metal hydride, Baterai ini keunggulan yang hampir sama dengan baterai Ni-Cd tetapi baterai Ni MH memiliki kapasitas 30 % lebih tinggi dibandingkan dengan baterai Ni-CD serta tidak memiliki zat berbahaya kadmium yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia.

Baterai Ni-MH dapat diisi ulang hingga ratusan kali sehingga dapat menghemat biaya dalam pembelian baterai. Baterai Ni-MH memiliki self discharge sekitar 40 % setiap bulannya jika tidak digunakan.

Saat ini baterai Ni-MH banyak digunakan dalam kamera dan radio komunikasi. Meskipun tidak memiliki zat berbahaya kadmium, baterai Ni MH tetap mengandung sedikit zat berbahaya.

Baterai Lithium-Ion

lithium ion baterai

Baterai lithium-ion memakai senyawa lithium interkalasi sebagai bahan elektrodanya. Hal ini berbeda dengan lithium metalik yang dipakai di baterai lithium-ion non isi ulang.

Dalam baterai ini, lithium-ion bergerak dari elektroda negatif ke elektroda positif saat baterai sedang digunakan dan kembali saat diisi ulang.

Baterai lithium-ion umumnya dijumpai pada barang-barang elektronik. Baterai ini merupakan jenis baterai isi ulang yang paling populer dalam peralatan elektronik portable karena memiliki salah satu kepadatan energi yang terbaik tanpa efek memori dan mengalami kehilangan isi yang lambat saat tidak digunakan dimana Rasio self dischargenya adalah sekitar 20 % per bulan.

Baterai lithium-ion lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung zat berbahaya kadmium tapi sama seperti baterai Ni-MH meskipun tidak memiliki zat berbahaya kadmium, baterai lithium-ion tetap mengandung sedikit zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan manusia dan lingkungan hidup sehingga perlu dilakukan daur ulang atau proses recycle dan tidak boleh dibuang disembarang.

Cara Menghitung Arus dan Tegangan Baterai

Pada rangkaian seri dan paralel, baterai adalah sebuah alat yang dapat merubah energi kimia yang disimpannya menjadi energi listrik yang dapat digunakan oleh suatu perangkat elektronik.

Hampir semua perangkat elektronik yang portable menggunakan baterai sebagai sumber listriknya dan seringkali juga kita melihat perangkat elektronik yang menggunakan satu atau lebih baterai. Hal ini disebabkan karena setiap perangkat elektronik menggunakan tegangan DC yang berbeda-beda sedangkan tegangan baterai yang ada di pasaran hanya mempunyai nilai tegangan tertentu seperti 1,5 VDC, 9 VDC, dll.

Maka untuk mendapatkan tegangan tertentu tersebut kita bisa merangkai baterai tersebut. Baterai dapat dirangkai secara seri ataupun paralel namun output dari kedua rangkaian tersebut akan berbeda.

Rangkaian seri baterai akan meningkatkan tegangan output baterai sedangkan arus listriknya akan tetap sama. Sedangkan rangkaian paralel baterai akan meningkatkan arus listrik tetapi tegangan outputnya akan tetap sama.

Baca Juga : Multitester / AVO meter untuk mengukur tegangan listrik

Rangkaian Seri Baterai

rangkaian seri baterai

Untuk bisa merangkai rangkaian seri baterai, kita menghubungkan kutub positif dari baterai satu ke kutub negatif baterai yang lainnya.

Rumus tegangan dan arus pada rangkaian seri adalah :

Rumus Tegangan

Vtotal = Vbat1 + Vbat2 + Vbat3 + ….. + VbatN

Rumus Arus

Itotal = Ibat1 = Ibat2 = Ibat3 = ….. = IbatN

Untuk Tegangan adalah Penjumlahannya Sedangkan Untuk Arusnya Sama Semua

Contoh :

Jika suatu perangkat elektronik membutuhkan tegangan 3 volt, maka kita bisa merangkai 2 buah baterai 1,5 volt DC secara seri.

Sehingga untuk tegangannya tinggal dijumlahkan saja.

Vtotal = Vbat1 + Vbat2

3V = 1.5 V + 1.5 V

Rangkaian Pararel Baterai

rangkaian pararel baterai

Untuk rangkaian paralel maka kutub positif baterai satu kita hubungkan dengan kutub positif baterai yang lainnya sedangkan kutub negatifnya kita hubungkan dengan kutub negatif baterai yang lain seperti tampilan gambar diatas.

Rumus Tegangan dan Arus pada Rangkaian Paralel

Rumus Tegangan :

Vtotal = Vbat1 = Vbat2 = Vbat3 = ….. = VbatN

Rumus Arus :

Itotal = Ibat1 + Ibat2 + Ibat3 + ….. + IbatN

Untuk tegangannya sama semua sedangkan arusnya adalah penjumlahan

Contoh :

Jika 2 buah baterai 1,5 volt dan arusnya 1000 mAH dirangkai secara paralel maka berapa tegangan total dan arus total?

Maka jika menggunakan rumus diatas :

Vtotal = 1.5 = 1.5 Volt

Sedangkan untuk

Itotal = 1000 mAH + 1000 mAH = 2000 mAH

Kesimpulan

  • Nilai tegangan baterai akan bertambah jika menggunakan rangkaian seri sedangkan nilai arusnya akan tetap.
  • Nilai arus baterai akan bertambah jika menggunakan rangkaian paralel sedangkan nilai tegangannya akan tetap.

Kita juga dapat menggunakan rangkaian gabungan antara rangkaian seri dan rangkaian paralel baterai untuk mendapatkan tegangan dan arus yang diinginkan.

Demikian pembahasan mengenai jenis-jenis baterai berikut dengan ukurannya, serta rangkaian seri dan pararel pada baterai.

Oya, terkait dengan komponen elektronika, kami juga telah menulis mengenai resistor, salah satu komponen elektronika yang sangat penting. Jika teman-teman tertarik silakan dibaca di artikel berikut : Kode Warna Resistor dan Cara Membaca Nilainya.

Semoga Bermanfaat.

Pengertian Gaya Gravitasi Berikut dengan Contoh Soalnya

Pengertian Gaya Gravitasi Berikut dengan Contoh Soalnya

Jika mendalami ilmu fisika terutama di bagian konsep-konsepnya, sebut saja mengenai besaran dan satuan, prinsip tekanan udara, gaya tarik, gaya puntir, dll maka ilmu tersebut akan terus terbawa dan digunakan jika kita bekerja di bidang yang terkait dengan pengukuran, misalnya : laboratorium kalibrasi, kontraktor bangunan, supplier alat ukur, dll.

Nah kali ini kita akan membahas salah satu konsep dasar tersebut yaitu mengenai gaya, baik itu dari pengertian, jenisnya, dan lebih lanjut kita akan membahas mengenai gaya gravitasi serta contoh soal sehingga memudahkan pemahaman kita.

Pengertian Gaya

pengertian gaya adalah

Gaya adalah suatu dorongan atau tarikan yang dihasilkan dari interaksi dua benda atau lebih.

Contohnya : Gaya tarik atau dorong pada sebuah gerobak.

Nah tarikan dan dorongan diatas kita sebut sebagai gaya.

Secara garis besar, Ada 2 jenis gaya yaitu :

Gaya Sentuh

Sesuai dengan namanya, gaya ini akan timbul kalau ada sentuhan.

Contoh dari gaya sentuh :

  • Gaya Dorong

gaya dorong

Jika kita mendorong sesuatu tentu saja kita harus menyentuhnya baru kita bisa mendorong.

  • Gaya Tarik

gaya tarik

Contohnya : ketika sapi atau kerbau yang sedang menarik gerobak kearah depan.

  • Gaya Gesek

gaya gesek

Contohnya : pada korek api atau juga pada rem di kendaraan bermotor.

  • Gaya Normal

gaya normal adalah

Gaya normal adalah gaya reaksi ketika suatu benda ini diletakkan pada suatu bidang maka bidang tersebut akan mendorong kembali si benda tersebut dengan gaya sama sebagai gaya normal.

Gaya Tak Sentuh

Gaya yang dihasilkan sebuah benda tanpa harus bersentuhan.

Contoh dari gaya tak sentuh :

  • Gaya Magnet

contoh gaya magnet

Mungkin sebagian dari kita pernah mengingat ketika masih kecil bermain dimana besi diletakkan diatas kertas kemudian dibawahnya kita gerak-gerakkan magnet dan besi tersebut juga ikut bergerak.

  • Gaya Gesek Statis

gaya gesek statis

Secara singkat gaya gesek statis adalah gesekan yang terjadi antara 2 buah benda padat, yang tidak bergerak secara relatif satu sama lainnya. Gaya ini terjadi pada saat suatu benda meluncur ke arah bawah pada bidang miring.

Oya, pemahaman terkait dengan gaya statis dengan listrik statis tentunya berbeda. Terkait dengan listrik statis sebelumnya pernah dibahas di dalam artikel : Pengertian Listrik Statis Berikut dengan Contohnya

  • Gaya Gravitasi

contoh gaya gravitasi adalah

Dimana gaya gravitasi ini arahnya selalu kebawah dan dia menarik kita ke bawah. Gaya gravitasi ini yang akan kita ulas secara lebih dalam di artikel ini.

Akibat Dari Gaya

Apa sih yang timbul dari adanya gaya disekitar kita?

Ternyata gaya ini bisa menyebabkan perubahan terhadap benda antara lain :

  • Gaya Bisa Merubah Gerak Benda

contoh gaya tarik dan gaya dorong

Gaya bisa menghentikan benda yang bergerak, misalnya : pada mobil dengan adanya gaya gesek di remnya maka kita bisa menghentikan mobil tersebut.

Sebaliknya, gaya juga bisa menggerakkan benda yang diam, misalnya : gerobak diam ketika ditarik dan didorong maka akan menjadi bergerak.

  • Gaya Bisa Mempercepat atau Memperlambat Gerak Benda

gaya memperlambat benda

Misalnya : ketika pedal gas mobil kita injak, maka gaya akan mempercepat laju mobil tersebut, demikian juga ketika pedal rem mobil kita injak maka akan memperlambat laju mobil tersebut.

  • Gaya Bisa Merubah Arah Gerak Benda

gaya merubah arah benda

Misalkan : ada suatu benda kemudian secara tiba-tiba diberikan gaya dari arah yang berbeda, maka bisa saja benda itu bergerak pindah ke arah geraknya.

Contohnya : Pada permainan sepak bola ketika seorang menendang bola kemudian bola terkena kaki pemain lawannya maka arah gerak bola itu akan berubah.

  • Gaya Bisa Merubah Bentuk Benda

gaya dapat merubah bentuk benda

Misalnya : gaya yang diaplikasikan pada gergaji pada saat memotong kayu, maka gergaji tersebut bisa merubah bentuk kayu sesuai dengan yang diinginkan.

Satuan Gaya

Bagaimana sih kita mengukur satuan gaya?

Gaya bisa diukur dengan menggunakan dinamometer atau biasa disebut sebagai neraca pegas.

gambar neraca pegas

Contohnya seperti gambar diatas, ketika suatu benda diikatkan maka neraca tersebut akan ditarik sehingga kita bisa mengukur seberapa gaya yang bekerja pada alat tersebut.

Satuan gaya adalah Newton atau Dyne

Apa beda kedua satuan diatas ?

Newton (N) adalah kg.m/s²

Dyne adalah g.cm/s²

Jadi yang membedakannya adalah satuan massa dan satuan panjangnya.

Konversi 1 N = 10∧5 dyne (10 pangkat 5)

Gaya Berat dan Gaya Gravitasi

perbedaan massa dan berat

Sebelum membahas mengenai gaya berat dan gravitasi, ada baiknya kita memahami perbedaan antara massa dan berat.

Karena ternyata seringkali kita menggunakan istilah ini secara kurang tepat

Contohnya : ketika menggunakan timbangan berat badan kita menyebut berat kita dengan satuan kg.

Ternyata pada fisika istilah yang tepat untuk hal diatas adalah massa.

Pada dunia kesehatan kita kenal juga istilah “Body Mass indeks” atau indek massa tubuh, bukan indeks berat tubuh.

Massa adalah banyaknya suatu materi yang ada pada suatu benda, satuannya adalah kg. Sedangkan berat adalah gaya yang bekerja pada benda tersebut karena pengaruh gravitasi dan memiliki satuan Newton.

Gaya ini diukur dengan menggunakan dinamometer.

Karena Berat adalah pengaruh gaya gravitasi pada suatu benda maka berat suatu benda bisa berubah-ubah tergantung tempat dimana berat tersebut diukur.

“Sebagai contoh gaya gravitasi ini bumi beragam antara 9,7639 m/s² s/d 9,8337 m/s²”

Jadi di tempat khatulistiwa atau di kutub Utara atau kutub selatan, berat suatu benda bisa berbeda tetapi massa akan selalu sama.

Dalam perhitungan kita akan selalu menggunakan 9,8 m/s² atau kita akan pakai 10 m/s² Kalau pada soal tidak dikasih tahu.

Rumus Berat adalah :

“w = m x g”

W = Berat dengan satuan Newton (kg.m/s²) atau Dyne (g.cm/s²)

m = Massa dengan satuan kg atau g

g = gaya gravitasi dengan satuan m/s² atau cm/s²

Untuk lebih memahami mengenai perbedaan massa dan berat tersebut diatas yuk kita pelajari dalam beberapa contoh dibawah ini :

Contoh Soal 1

gaya gravitasi planet mars

Percepatan gravitasi pada planet Mars adalah 3,7 m/s². Dibandingkan dengan massa dan beratnya pada bumi, Seorang astronot pada planet Mars memiliki?

  • a. Massa lebih kecil dan berat lebih kecil
  • b. Massa lebih kecil dan berata lebih besar
  • c. Massa sama dan berat lebih kecil
  • d. Massa sama dan berat lebih besar

Dari pilihan diatas manakah yang benar?

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, untuk massanya dimanapun baik itu di bumi atau di mars selalu sama.

Jadi untuk pilihan A dan B diatas sudah pasti salah, karena massanya berubah.

Selanjutnya kita tinggal mencari tahu, apakah beratnya lebih besar atau lebih kecil?

Pada soal diketahui, gaya gravitasi di Mars 3,7 m/s²

Sedangkan gravitasi di bumi 10 m/s²

Dengan menggunakan rumus untuk mencari berat “w = m x g”

Maka, Jika gravitasinya lebih kecil, maka beratnya lebih kecil.

Sehingga jawaban yang benar adalah C, yaitu massanya sama tetapi beratnya lebih kecil.

Contoh 2

perbedaan berat dan massa pada buku

Ada sebuah buku bermassa 500 gram diletakkan diatas meja.

Jika percepatan gravitasi adalah 9,8 m/s² maka besar gaya berat dari buku tersebut adalah?

  • a. 4.8 N
  • b. 9.8 N
  • c. 5.0 N
  • d. 10 N

Untuk menghitung gaya berat tersebut, maka kita menggunakan rumus diatas, yaitu :

w = m x g

w = 0.5 kg x 9.8 m/s² = 4.9 N

Sehingga jawabannya adalah A.

Contoh 3

Pada planet Alpha Sebuah benda bermassa 6 kg mengalami gaya berat atau sebesar 24 Newton.

Berapakah percepatan gravitasi pada planet Alpha tersebut?

a. 4.0 m/s²

b. 9.8 m/s²

c. 6.0 m/s²

d. 96 m/s²

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita masih menggunakan rumus yang sama yaitu :

w = m x g

24 Newton = 6 Kg x g

Maka g = 4 m/s²

Sehingga jawabannya adalah A

Contoh 4

gaya gravitasi di planet bumi

Percepatan gravitasi di bumi adalah 1/8 x percepatan gravitasi planet HD023.

Jika massa sebuah benda 1,5 Kg.

Berapa berat benda tersebut di bumi dan di planet HD023 (g = 10 m/s²)

Jawab :

Dalam contoh soal diatas, berarti ada 2 tempat yang mau kita bandingkan.

Tempat yang pertama adalah bumi

Tempat yang kedua adalah planet HD023

Massa di bumi 1,5 Kg

Massa di planet HD023 juga sama yaitu 1,5 Kg

Karena sekali lagi massa tidak pernah berubah.

Gaya gravitasi di bumi 10 m/s²

Sekarang kita mau cari tahu gravitasi di planet HD023

Seperti kita ketahui pada soal, dimana :

Gaya gravitasi bumi = 1/8 x percepatan gravitasi planet HD023

10 = gravitasi planet HD023 / 8

Gravitasi planet HD023 = 80 m/s²

Maka untuk mencari berat di bumi dan di planet HD023 kita tetap menggunakan rumus

w = m x g

Berat di bumi = 1.5 Kg x 10 m/s² = 15 Newton

Berat di planet HD023 = 1.5 x 80 m/s² = 120 Newton

Contoh 5

contoh soal gaya gravitassi

Jika berat astronot beserta perlengkapannya adalah 2000 N di bumi.

Berapakah massa dan berat pada planet M dimana gaya gravitasi planet M : gaya gravitasi bumi adalah 3 : 5?

Jawab :

w bumi = 2000 N

w planet = ?

Gravitasi M : Gravitasi Bumi : 3 : 5

gm/gb = 3/5

Nah karena kita tahu kalau berat ini itu tergantung dari gravitasi dan massa di mana saja selalu sama.

Maka kalau dibuatperbandingan maka

wb/wm = (m x gb)/(m x gm)

Karena massa dimanapun sama maka

wb/wm = gb/gm

wb/wm = 5/3

2000/wm = 5/3

wm = 6000/5 = 1200 Newton

Nah untuk mencari massanya terserah kita menggunakan yang di bumi atau di planet M karena seperti kita ketahui untuk massa dimanapun akan sama.

Pada contoh ini kita menggunakan perhitungan yang di bumi.

w = m x g

2000 = m x 10

m = 200 Kg

Tentunya massa tersebut sama baik di bumi maupun planet M

Nah dengan contoh-contoh diatas diharapkan kita memahami pengertian mengenai gaya gravitasi.

Semoga bermanfaat.

Beberapa Metode Pemisahan Campuran yang Sering Digunakan

Beberapa Metode Pemisahan Campuran yang Sering Digunakan

Pemisahan campuran, merupakan hal yang sering kita lakukan baik dalam kehidupan sehari-hari, penelitian di dunia pendidikan, laboratorium pengujian, sampai ke industri skala besar.

Meskipun terkesan sederhana, namun ternyata pemisahan campuran ini ada beberapa teknik atau metode dimana satu sama lainnya juga berbeda prinsip kerjanya.

Apa saja teknik atau metode pemisahan campuran tersebut?

Yuk.. kita pelahari bersama di dalam artikel ini.

Pengertian Materi

 

Materi adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Materi dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Zat tunggal

Zat tunggal kemudian terbagi menjadi 2 lagi yaitu :

    • Unsur

unsur logam dan non logam

Unsur yaitu zat tunggal atau zat murni yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi lebih sederhana, walaupun melalui reaksi kimia.

Jenis-jenis unsur yaitu ada :

Logam

Unsur logam ciri-cirinya padat berwarna putih, mengkilap, abu-abu, kuning, dan merupakan penghantar listrik yang baik dan mempunyai titik didih dan leleh yang tinggi.

Biasanya dapat dibentuk berupa lempengan atau lembaran, contohnya natrium, kalsium, besi, tembaga, magnesium, nikel, dll

Non logam

Unsur non logam sifatnya bisa padat, cair, atau gas, warnanya tidak mengkilap dan bukan penghantar listrik atau panas yang baik, titik didihnya rendah dan susah dibentuk seperti logam.

Contoh unsur non logam yang wujudnya padat adalah karbon, sedangkan untuk yang wujudnya gas adalah nitrogen, oksigen. Dan yang berbentuk cairan adalah bromin.

Metaloid

Diantara unsur logam dan non logam tersebut sebenarnya ada lagi unsur yaitu semi logam atau yang biasa disebut dengan metaloid.

Contohnya : boron, arsen dan silikon.

Unsur ini sifatnya bisa menghantarkan listrik namun tidak maksimal seperti logam.

    • Senyawa

senyawa organik dan an organik

Senyawa adalah gabungan dari dua unsur atau lebih dengan melalui reaksi kimia. Senyawa masih bisa diuraikan lagi dengan melalui reaksi kimia menjadi unsur penyusunnya.

Contohnya yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari yaitu Air atau H2O.

Senyawa pun dibagi menjadi dua yaitu :

Organik

Senyawa organik adalah senyawa yang berasal dari makhluk hidup biasanya terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen.

Contoh senyawa organik antara lain :

      1. C12H22O11 atau sukrosa yang bisa kita temukan pada buah-buahan atau tepung.
      2. CH3COOH atau asam cuka

Anorganik

Senyawa yang berasal dari mineral. Senyawa ini mudah larut dalam air dan mudah terbakar.

Contoh dari senyawa anorganik adalah NaCl atau garam.

  • Campuran

Nah.. di artikel kali ini kita akan lebih banyak fokus ke metode pemisahan campuran ini.

Pengertian Campuran

perbedaan campuran dan larutan

Campuran adalah gabungan dua zat atau lebih tanpa melalui reaksi kimia. Berbeda dengan senyawa yang melalui reaksi kimia.

Gabungan tersebut dapat berupa :

  • Unsur dengan unsur
  • Senyawa dengan senyawa
  • Unsur dengan senyawa

Campuran dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Homogen

Homogen artinya satu jenis atau sama, contohnya : larutan

Contoh campuran homogen antara lain :

    1. Udara, seperti kita ketahui dimana didalam udara tersebut terdapat H2, O2, CO2 yang homogen menjadi satu, terlihat bening dan tidak dapat dibeda-bedakan mana yang H2, yang mana O2, dan yang mana CO2.
    2. Air garam dan air gula
  • Heterogen

Heterogen artinya beda jenis, terbagi menjadi 2 yaitu :

    1. Koloid
    2. Suspensi

Nah lalu bagaiman membedakan antara koloid dan suspensi tersebut?

    • Kalau larutan itu tidak bisa terlihat lagi zat penyusunnya.
    • Kalau suspensi ciri-cirinya jika didiamkan lama-lama akan mengendap dan terpisah antara fase yang ringan dan fase yang berat.
    • Kalau koloid zatnya atau partikel-partikelnya menyebar, ada di atas di bawah dan di seluruh ruang.

Perbedaan tersebut juga dapat dilihat dari ukuran partikelnya :

    • larutan itu < 1 nanometer
    • Koloid itu 1 s/d 100 nanometer
    • Suspensi itu >100 nanometer

Dilihat berdasarkan sifatnya terhadap cahaya :

Jika dilalui cahaya larutan akan tembus begitu saja, sedangkan untuk koloid akan terdispersi atau membias, dan untuk suspensi akan terlihat partikel-partikelnya

Prinsip pemisahan campuran didasarkan pada perbedaan sifat-sifat fisis zat penyusunnya seperti :

  • Wujud zat
  • Ukuran partikel
  • Titik leleh
  • Titik didih
  • Sifat magnetik
  • Sifat kelarutan

Metode pemisahan campuran banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk penjernihan air, pembuatan garam, dll.

Teknik atau Metode Pemisahan Campuran

Beberapa metode pemisahan campuran yang sering digunakan antara lain adalah penyaringan atau filtrasi, sentrifugasi, sublimasi, kromatografi, dan destilasi.

Wah banyak istilah-istilah baru ya..

Berikut ini adalah pembahasan sekilas terkait dengan metode pemisahan campuran tersebut.

  • Penyaringan

metode pemisahan campuran dengan cara filtrasi

Salah satu metode pemisahan campuran yang paling sederhana adalah filtrasi atau penyaringan.

Prinsip kerja pemisahan campuran dengan cara filtrasi didasarkan pada perbedaan ukuran partikel zat-zat yang bercampur.

Metode pemisahan campuran dengan penyaringan ini untuk memisahkan padatan dari cairan misalnya : Memisahkan air dengan pasir.

Sesuai dengan namanya, peralatan utama yang digunakan dalam penyaringan adalah penyaring dari bahan berpori yang dapat dilalui partikel-partikel kecil seperti tisu, kertas saring, dll

Tisu atau kertas saring dapat dilalui air namun akan menahan partikel yang lebih besar seperti pasir dan yang lainnya.

“Penyaringan atau filtrasi adalah metode pemisahan campuran yang digunakan untuk memisahkan cairan dan padatan yang tidak larut berdasarkan pada perbedaan ukuran partikel pada zat-zat yang bercampur”

Dalam penyaringan ada 2 istilah yang harus diketahui yaitu Filtrat dan Residu.

Apa perbedaan kedua istilah tersebut?

Baik kita berikan ilustrasi dibawah ini.

Misalnya kita menyaring campuran air dan pasir.

Pasir yang tertinggal pada kertas saring merupakan residu dan air yang melewati penyaring disebut dengan Filtrat.

Bahasa sehari-hari yang mungkin kita kenal adalah :

Residu = Ampas

Untuk lebih jelasnya..

Filtrat merupakan suatu zat yang bisa larut atau bisa melewati penyaringan sedangkan residu adalah saat yang tidak bisa larut atau tidak bisa melewati penyaringan.

Contoh dari pemisahan melalui penyaringan dalam kehidupan sehari-hari misalnya pada proses penyaringan untuk mendapatkan air bersih.

Seperti kita ketahui, air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik itu untuk konsumsi makan, minum, atau digunakan untuk mandi, mencuci, dll, sehingga apabila kebutuhan akan air bersih belum terpenuhi maka akan menimbulkan permasalahan.

Untuk mendapatkan air bersih tersebut maka dilakukanlah proses penyaringan untuk :

    1. Menghilangkan bahan pencemar yang berada dalam air
    2. Menghilangkan bau yang tidak sedap pada air
    3. Mengubah air menjadi bersih atau bening

Tujuan lain dari penyaringan air ini adalah untuk :

    1. Memanfaatkan air kotor untuk digunakan kembali
    2. Mengurangi resiko meluapnya air kotor
    3. Mengurangi penyakit yang disebabkan oleh air kotor
    4. Mengurangi terbatasnya air bersih melalui proses penyaringan air.

Dalam suatu laboratorium pengujian, pemisahan dengan penyaringan ini juga banyak digunakan, antara lain pada saat preparasi sampel untuk analisa. Tentunya pada tahapan penyaringan ini umumnya menggunakan bantuan statif dan klem laboratorium berikut dengan kertas saringnya,

Contoh teknik pemisahan campuran dengan penyaringan yang lainnya antara lain :

    • Pembuatan santan kelapa
    • Penyaringan kopi atau teh
    • Penyaringan atau penangan limbah industri
    • Penyaringan debu pada AC atau HVAC di industri farmasi.
    • dll
  • Sentrifugasi

pemisahan dengan prinsip sentrifugasi

Metode jenis ini sering dilakukan sebagai pengganti penyaringan jika partikel padatan yang terdapat dalam campuran tersebut memiliki ukuran yang sangat halus dan jumlah campurannya lebih sedikit.

Metode sentrifugasi digunakan secara luas untuk memisahkan sel-sel darah merah dan sel-sel darah putih dari plasma darah.

Dalam hal ini padatan atau sel-sel darah merah dan sel darah putih yang akan mengumpul di dasar tabung reaksi atau tube sedangkan plasma darah berupa cairan yang berada di bagian atas.

Sentrifugasi adalah proses yang memanfaatkan gaya sentrifugal atau gaya berputar untuk pemisahan campuran dengan menggunakan mesin sentrifugal atau mesin pemutar.

Secara sederhana berarti pemisahan ini adalah dengan menggunakan mesin yang diputar-putar untuk sentrifugasi

Jika kita merujuk ke analisa pemisahan sel-sel maka mesin tersebut sering kita kenal dengan centrifuge laboratorium.

  • Kromatografi

pemisahan dengan metode kromatografi

Metode pemisahan dengan cara kromatografi digunakan secara luas dalam berbagai kegiatan diantaranya untuk memisahkan berbagai zat warna.

Pemisahan campuran dengan cara kromatografi pada umumnya digunakan untuk mengidentifikasi suatu zat yang berada dalam suatu campuran.

Prinsip kerjanya didasarkan pada perbedaan kecepatan merambat antara partikel-partikel zat yang bercampur dalam suatu medium yang diam ketika dialiri suatu medium gerak.

Nah biasanya menggunakan bahan seperti sejenis tisu dan nanti warna-warna akan terpisah itu pada proses kromatografi.

Jenis kromatografi yang paling banyak digunakan adalah kromatografi kertas. Namun seiring dengan perkembangan zaman, saat ini kita bisa menemukan peralatan yang menggunakan prinsip pemisahan ini seperti, kromatografi gas, HPLC, UPLC, dll.

Jadi kromatografi merupakan metode pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan kecepatan merambat antara partikel-partikel yang bercampur dalam suatu medium yang diam ketika dialiri suatu medium yang bergerak

  • Sublimasi

teknik pemisahan campuran dengan cara sublimasi

Prinsip kerja pemisahan campuran dengan metode sublimasi adalah dengan didasarkan pada sifat dapat menyublim (perubahan dari wujud padat menjadi wujud gas) antara satu zat dengan zat lainnya yang tidak dapat menyublim.

Contoh campuran yang dapat dipisahkan dengan cara sublimasi adalah campuran iodin dengan garam.

  • Destilasi

cara memisahkan campuran dengan destilasi

Destilasi sering disebut juga dengan penyulingan. Pemisahan campuran dengan cara destilasi banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan industri.

Pemisahan campuran dengan cara penyulingan digunakan untuk memisahkan zat cair dari campurannya.

Prinsip kerjanya didasarkan pada perbedaan titik didih dari zat cair yang bercampur sehingga saat menguap setiap zat akan terpisah.

Oya, perbedaan titik beku dan titik didih juga sebelumnya dibahas dalam skala-skala temperatur dalam artikel : alat ukur suhu yang sering digunakan dalam industri.

Dalam dunia industri prinsip ini digunakankan pada penyulingan minyak bumi.

Seperti kita ketahui, minyak bumi terdiri atas berbagai macam komponen minyak bumi yang berbeda titik didihnya.

Jadi pemisahan campuran dengan cara destilasi untuk memisahkan suatu zat cair dari campurannya didasarkan pada perbedaan titik didih dari zat cair yang bercampur. Sehingga saat menguap setiap zat akan terpisah.

Misalnya : teknik penyulingan atau destilasi untuk mendapatkan mendapatkan premium, solar, bahkan juga mendapatkan aspal.

Contoh lain adalah dalam pembuahan alkohol yang biasa dilakukan dalam home industri juga termasuk contoh dari aplikasi penyulingan.

Demikian artikel singkat mengenai penjelasan prinsip dari teknik atau metode pemisahan campuran. Silakan jika ada tambahan dari teman-teman.

Tugas dan Tanggung Jawab Staff Purchasing di Perusahaan

Tugas dan Tanggung Jawab Staff Purchasing di Perusahaan

Untuk menjalankan proses bisnis di dalam perusahaan tentunya memerlukan kerja sama lintas departemen yang baik. Terlepas dari banyak sedikitnya personel di setiap departemen tersebut, peranannya samalah penting. Satu departemen tidak berjalan, maka roda bisnis perusahaan juga akan pincang.

Nah kali ini kita akan membahas salah satu departemen tersebut, yaitu purchasing. Apa saja tugas staff purchasing, kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang yang bekerja di departemen purchasing, serta flow chart proses bisnis yang ada di departemen purchasing.

Yuk kita mulai..

Pengertian Purchasing

tugas purchasing

Sebelum mengenal apa itu tugas dan alur kerja purchasing serta kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang purchaser, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu definisi dari purchasing.

Definisi purchasing pada sebuah perusahaan atau dalam dunia retail disebut sebagai buyer.

Buyer adalah sebuah posisi dalam perusahaan yang bertugas untuk membeli barang atau jasa dari pihak ketiga.

Dalam bahasa Indonesia purchasing memiliki arti pembelian, yang dalam suatu organisasi berarti suatu proses pemesanan barang atau jasa untuk digunakan dalam melancarkan kegiatan operasional.

Ketika ada kata “membeli” berarti perusahaan harus mengeluarkan uang kan? Sehingga pada esensinya berarti ada pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan dokumentasi dan validasi yang menjadi tugas-tugas turunan yang harus dikerjakan oleh bagian purchasing.

Berbeda dengan pembelian biasa oleh konsumen, staff purchasing bekerja untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan oleh departemen-departemen yang ada pada sebuah perusahaan.

Seperti kita ketahui bahwasanya dalam sebuah perusahaan pasti ada banyak departemen misalkan, Departemen penjualan, pemasaran, pengembangan bisnis, PPIC (Production Planning and Inventory Control), penelitian, teknisi, service purna jual, keuangan, designer media, dan tentunya ada departemen purchasing itu sendiri dimana setiap departemen pasti membutuhkan produk dan jasa yang berbeda-beda.

Sehingga sudah pasti tugas bagian purchasing itu banyak dan tidak mudah.

Lalu apa saja sih tanggung jawabnya?

Tanggung Jawab Purchasing

tanggung jawab purchasing

Berikut adalah beberapa tanggung jawab yang akan diemban ketika teman-teman bekerja di purchasing staff :

  • Memastikan kebutuhan perusahaan yang harus dibeli.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, ada banyak departemen dalam sebuah perusahaan yang tentunya punya kebutuhan yang berbeda-beda.

Merupakan tanggung jawab departemen purchasing untuk selalu menanyakan kepada setiap departemen kebutuhan mereka itu apa aja.

Kebutuhan tersebut juga dapat dibagi menjadi :

    1. Kebutuhan bulanan
    2. Kebutuhan sesekali

Untuk kebutuhan bulanan, staff purchasing dapat membuat plan untuk perusahaan.

Misalnya :

    1. Perencanaan kebutuhan untuk pembelian raw material dan packaging material baik itu kemasan primer, sekunder, atau tersier
    2. Perencanaan kebutuhan untuk pembelian kalibrasi alat ukur untuk semua departemen
    3. dll
  • Memastikan setiap pembelian sudah disetujui oleh manajemen eksekutif.

Walaupun tim purcashing bertanggungjawab untuk melakukan pembelian namun tentunya bagian purchasing tidak bisa langsung asal beli-beli begitu saja.

Merupakan tanggung jawab bagian purcashing untuk meminta approval dari manajemen dan finance terkait dengan setiap pembelian

  • Memastikan barang tiba dalam kondisi baik dan tepat waktu.

Barang yang dibeli tentunya harus datang dengan kondisi baik dan selalu terpantau dan bisa datang tepat waktu.

Hal ini perlu dipastikan karena umumnya ada barang-barang yang diperlukan secara urgent atau penting atau mendadak sehingga keterlambatan atau kerusakan dapat mempengaruhi performa perusahaan.

  • Menjaga hubungan baik dengan vendor.

Vendor adalah partner yang sangat berharga untuk departemen purchasing karena vendorlah yang memenuhi kebutuhan perusahaan terutama dalam hubungan yang baik perusahaan bisa mendapatkan keuntungan harga yang lebih murah atau term of payment yang lebih panjang.

  • Mediasi pembayaran dan memastikan pembayaran tepat waktu

Hal ini sangatlah rumit karena melibatkan banyak vendor dengan tanggal pembayaran yang berbeda-beda sesuai dengan term of payment di setiap vendor, ada yang 30 hari setelah barang diantar, ada yang langsung bayar, ada yang 60 hari setelah pengiriman, dan sebagainya.

Pembayaran juga dilakukan oleh Departemen Keuangan sehingga staff purchasing perlu mediasi dan komunikasi yang baik.

  • Dokumentasi invoice, faktur, purchase order, atau work order.

Walaupun terlihat mudah namun tugas purchasing ini akan sangat rumit dan membutuhkan ketelitian yang sangat baik. Dokumentasi sangat penting untuk dilakukan karena akan berhubungan dengan kepentingan departemen Keuangan.

Dengan tanggung jawab seperti diatas, lalu tugas purchasing itu apa aja sih sebenarnya?

Tugas Staff Purchasing di Perusahaan

Nah berbeda dengan tanggung jawab, tugas disini tentunya lebih kepada proses-proses yang akan menjadi tugas purchasing.

Berikut adalah daftar tugas purchasing yang harus teman-teman ketahui.

  1. Menyusun list pembelian barang atau jasa yang dibutuhkan seluruh anggota perusahaan.
  2. Mengkategorikannya list pembelian antara pembelian barang bulanan dan sekali beli.
  3. Menyusun list vendor penyedia barang atau jasa / Daftar Vendor Terpilih.
  4. Meminta approval pembelian kepada pihak manajemen atau bagian keuangan untuk anggaran.
  5. Menghubungi supplier dan vendor untuk mendapatkan penawaran harga.
  6. Menganalisis penawaran harga, fitur, service, dan lain sebagainya yang paling menguntungkan bisnis.
  7. Melakukan negosiasi harga, fitur, service, waktu yang diperoleh dari supplier.
  8. Membuat dokumen pemesanan atau yang kita sebut dengan purchase order.
  9. Mengirim purchase order kepada supplier dan vendor barang atau jasa tersebut.
  10. Melacak dan memastikan pengiriman atau eksekusi pengerjaan service berjalan dengan baik.
  11. Pengecekan kualitas barang atau jasa sesuai dengan kontrak penjualan.
  12. Dokumentasi dokumen-dokumen penjualan.
  13. Mediasi dengan bagian logistik untuk pencatatan barang masuk.
  14. Mediasi dengan bagian keuangan untuk melakukan pembayaran barang atau jasa tersebut.
  15. Melakukan review performa proses pembelian serta membantu QA inspector (departemen QA) untuk melakukan audit supplier.

Nah demikian merupakan tugas tugas dari seorang purchaser.

Dari tugas dan tanggungjawab purchaser tersebut maka alur kerja purchasing dapat digambarkan seperti bagan dibawah ini.

tugas dan tanggung jawab staff purchasing

  • Proses pertama dimana ada permintaan pembelian yang biasanya ditunjukkan dengan adanya surat permintaan atau yang sering disebut dengan PR atau purchase request. Purchase Request tersebut berasal dari user atau pihak yang membutuhkan barang.

Selanjutnya PR tersebut diserahkan ke tim purchasing untuk diproses dan diolah menjadi PO atau purchase order atau istilah lainnya pemesanan pembelian.

Untuk melakukan pembelian purchaser akan mencari beberapa vendor atau supplier potensial yang kemudian akan saling dibandingkan satu sama lain yang kriterianya sesuai dengan kebijakan perusahaan, misalnya :

    • Harus ada minimal 3 supplier pembanding
    • Pembayarannya paling murah
    • Bisa pay later atau dalam tenggang waktu tertentu
    • dll

Sehingga dikerucutkan menjadi pihak atau pilihan yang terbaik.

  • Setelah diperoleh barang atau jasa yang terbaik kemudian dilakukan transaksi pembelian.

Nah selama proses pengiriman barang, purchaser wajib untuk terus memantau atau memastikan barang diterima dan sampai di tempat dengan kondisi yang baik atau juga tepat waktu.

  • Selanjutnya setelah barang di terima maka purchaser harus mengurus faktur pembelian dan mengurus invoice atau tagihan yang kemudian berujung pada proses pembayaran.

Sebelum ini biasanya barang dicek oleh user atau pengguna untuk memastikan barang atau jasa :

    • Apakah sesuai atau tidak?
    • Bisa dipakai atau tidak?
    • Ada kerusakan atau tidak?
    • dll
  • Retur atau pengembalian barang juga dapat menjadi suatu kemungkinan, jika barang yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan yang dipesan atau bisa jadi barang sudah sesuai dengan yang dipesan akan tetapi terdapat cacat pada barang dan beberapa kasus lainnya yang mungkin terjadi.

Syarat Bekerja di Departemen Purchasing

keahlian staff purchasing yang diperlukan

Dari proses dan tanggung jawab serta tugas-tugas yang diembankan tersebut, kita dapat simpulkan bahwasanya staff purchasing harus memiliki beberapa skill yang akan menopang performa dalam kegiatan purchasing sehari-hari.

Lalu apa saja skill staff purchasing yang paling penting untuk dimiliki.

Berikut adalah daftarnya :

  • Komunikasi yang baik

Berdasarkan proses yang telah disebutkan, staff purchasing harus berkomunikasi dengan departemen-departemen lain dalam perusahaan seperti bagian keuangan, logistik, Quality Control.

Tidak hanya itu, bagian purchasing juga harus mengetahui kebutuhan semua departemen serta menjaga hubungan baik dengan vendor dan supplier.

Jadi keahlian berkomunikasi sangatlah penting untuk staff purchasing.

  • Negosiasi dengan vendor dan supplier

Ketika menerima penawaran dari vendor dan supplier, tentunya perusahaan harus mengeluarkan dana untuk membayar produk atau jasa yang diperlukan.

Staff purchasing yang mumpuni akan selalu memperkecil dana yang harus dikeluarkan oleh perusahaan karena ini akan sangat menguntungkan untuk perusahaan.

  • Memiliki network vendor / supplier, service company, dan freelancer.

Hal ini dibutuhkan oleh perusahaan karena di dalamnya benar-benar sangat variatif kebutuhannya. Misalnya : untuk pengadaan jasa kalibrasi alat ukur, tentunya banyak sekali laboratorium kalibrasi. Namun beberapa laboratorium tersebut tentunya tidak semua sudah terakreditasi dan memiliki ruang lingkup seperti yang diperlukan.

Maka dengan memiliki network vendor ini akan sangat membantu kita memahami hal-hal tersebut.

  • Pencatatan dan dokumentasi terorganisir

Kemampuan ini diperlukan karena banyaknya proses pengadaan barang dan jasa yang akan dilakukan oleh staf purchasing.

Maka pencatatan dan dokumentasi sangatlah penting untuk dilakukan, masalahnya Tidak semua orang bisa melakukan dokumentasi yang baik dan terorganisir.

Seringkali justru dokumentasi inilah menjadi berantakan dan tidak rapi.

Hal ini akan menyulitkan berbagai pihak seperti bagian keuangan dan akuntansi.

  • Keahlian dalam Microsoft Office dan komputer

Memang sangatlah sederhana tapi ini sangatlah penting karena akan banyak sekali pencatatan pembuatan PO (Purchase Order), tracking pengiriman, dokumentasi pembelian, dan sebagainya.

Hal ini akan sangat membantu finance dan manajemen untuk rekap pengeluaran perusahaan kedepannya.

  • Paham perpajakan

Ketika membeli barang tentunya akan ada pajak yang harus dibayarkan.

Pajak yang dibayarkan kepada CV atau PT bisa saja berbeda, dan pajak yang dikenakan pada jasa dan barang juga bisa saja berbeda sehingga pengetahuan tentang perpajakan akan sangat membantu staff purchasing untuk mengerti berapa harga yang harus dibayar, kemana dan kapan harus dibayar.

Demikian penjelasan tentang tugas purchasing, tanggungjawab staff purchasing, dan skill yang dibutuhkan oleh profesional bagian purchasing.

Semoga Bermanfaat.

Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya Sesuai Klasifikasi Kebakaran

Jenis-Jenis APAR dan Fungsinya Sesuai Klasifikasi Kebakaran

Kesehatam dan keselamatan kerja (K3) di dalam perusahaan merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan di dalam aktivitas perusahaan. Bahkan beberapa persyaratan / regulasi yang terkait dengan keselamatan kerja tersebut sifatnya wajib dan harus kita penuhi.

Jika tempo hari kita membahas mengenai HIRADC yang merupakan salah satu roh nya dari sistem manajemen K3. Kali ini kita membahas mengenai alat pemadam api ringan, mulai dari :

  • Pengertian dan regulasinya
  • Jenis-jenis APAR dan fungsinya
  • Bagian-bagian APAR
  • Klasifikasi Kebakaran
  • Perawatan APAR
  • dll

Pengertian APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

APAR adalah alat pemadam api yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang yang digunakan memadamkan api pada mula terjadinya kebakaran.

Berikut gambar komponen alat pemadam api ringan dimana terdiri dari :

komponen apar

  • Safety pin
  • Handle
  • Pressure Gauge
  • House
  • Label
  • Tabung

Tujuan Penggunaan APAR

Dalam rangka untuk mensiap siagakan pemberantasan pada mula terjadinya kebakaran maka setiap alat pemadam api ringan harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja.

Oleh karena sifatnya yang hanya dapat menanggulangi kebakaran awal dan mudah dipergunakan oleh satu orang maka APAR biasanya hanya mempunyai durasi semprot yang relatif singkat dalam bilangan menit.

Dasar Hukum Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan di Tempat Kerja :

  1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja
  2. Surat keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 158 tahun 1972 tentang Program operasional, serentak, singkat, padat untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
  3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 Tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan.
  4. Instruksi Menteri Tenaga Kerja nomor 11 tahun 1997 tentang pengawasan khusus K3 penanggulangan kebakaran.
  5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 186 tahun 1999 tentang unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
  6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 26 Tahun 2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.
  7. Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 tentang penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan

Pasal 24

Pengurus harus bertanggungjawab terhadap ditaatinya peraturan ini.

Pasal 25

Pengurus yang tidak mentaati ketentuan tersebut pasal 24 diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000,- Sesuai dengan pasal 15 ayat 2 dan 3 undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

Persyaratan K3 Penggunaan APAR di tempat kerja sesuai persyaratan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

  • Designing
  • Listing
  • Selecting
  • Purchasing
  • Installing
  • Approving
  • Inspecting
  • Recharging
  • Maintaining
  • Testing
  • Operating

Persyaratan K3 Penggunaan APAR

persyarratan penggunaan apar

Berikut pedoman penggunaan alat pemadam api ringan agar penggunaan lebih efektif, efisien, aman, dan tidak merusak.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Lakukan perencanaan
  2. Lakukan Pengadaan
  3. Lakukan penempatan APAR yang tepat
  4. Sediakan petugas yang kompeten dan memiliki sertifikat dan lisensi petugas K3 penanggulangan kebakaran
  5. Fire Risk Assessment
  6. Melakukan pemeliharaan teratur
  7. Menempatkan APAR sesuai jenis dan ukuran yang tepat

Kegagalan Pada Alat Pemadam Api Ringan

  1. Media tidak sesuai
  2. Ukuran tidak sesuai
  3. Macet atau tidak berfungsi, misalnya disebabkan : tidak bertekanan dikarenakan bocor atau menggumpal dikarenakan penundaan refill.
  4. Salah penempatan
  5. Petugas belum ditunjuk atau petugas tidak terampil.

Konstruksi dan Bagian-Bagian APAR

Berdasarkan konstruksinya APAR biasanya dibuat dalam 2 jenis yaitu :

Storage Pressure Type (SPT) / Store Pressure

Storage Pressure Type merupakan alat pemadam api ringan yang memakai gas pendorong bertekanan tercampur bersama media pemadamnya. Gas pendorong yang digunakan adalah nitrogen atau N2. Ciri dari APAR jenis ini biasanya ada penunjuk tekanan gas di luarnya.

Berikut Gambar APAR jenis powder atau storage Pressure

apar storage pressure

Bagian Bagian APAR Storage Pressure Type (SPT)

  1. Handle
  2. Manometer
  3. Pipa penyalur
  4. Powder
  5. Selang
  6. Corong

Gas Catridge tipe (GTC)

Jenis alat pemadam api ringan dimana gas pendorong terletak pada catridge tersendiri, terpisah dari media pemadamnya. Gas yang dipergunakan biasanya adalah gas karbondioksida

Bagian-Bagian APAR Gas Catridge tipe (GTC)

gas cartride apar

  1. Handle
  2. Tabung Catridge
  3. Pipa penyalur
  4. Powder
  5. Selang
  6. Corong

Tabung APAR harus diisi sesuai dengan jenis dan konstruksinya.

Model Konstruksi APAR

apar tipe cartridge dan stored

Model konstruksi alat pemadam api ringan tipe cartridge terdiri dari :

  • Pluger
  • Safety Clip
  • Discharge tube
  • Shiphon tube
  • Karbon dioksida dan cartridge
  • Internal Cylinder
  • DCP powder

Model konstruksi alat pemadam api ringan tipe stored pressure terdiri dari :

  • Safety pin
  • Pressure gauge
  • Hose
  • Handle
  • Store Pressure
  • Syphon tube
  • Water

Fungsi dari Bagian-Bagian APAR

  • Tabung (Tube / Cylinder)

Tabung APAR yang baik dipakai terbuat dari bahan berkualitas tinggi baja paduan dan banyak diterapkan dalam kimia, metalurgi, dan mekanik sehingga tahan terhadap bahan kimia serta tahan terhadap tekanan. Tabung berbentuk seamless yaitu tabung yang dibuat tanpa adanya las.

  • Valve

Valve berfungsi untuk menutup dan membuka aliran media yang berada di dalam tabung.

  • Handle

Handle berfungsi sebagai pegangan untuk menekan serta membantu valve dalam melakukan fungsinya.

  • Pressure

Pressure berfungsi untuk menunjukkan tekanan N2 dalam tabung.

  • Hose

Hose berfungsi sebagai selang penghantar media.

  • Nozle

Noozle berfungsi sebagai pegangan untuk mengarahkan media pada sumber api.

  • Sabuk tabung

Sabuk tabung berfungsi sebagai dudukan selang pada tabung.

  • PIN pengaman

PIN pengaman berfungsi sebagai pengaman tabung gas.

  • Bracket / Hanger

Bracket / Hanger berfungsi sebagai gantungan alat pemadam api ringan.

Klasifikasi Kebakaran Menurut Permenaker 04 tahun 1980 pasal 2

  • Kelas A atau Combustible Material

Kebakaran yang terjadi pada benda padat kecuali logam Seperti : kayu, kertas, karet, kain, dll.

  • Kelas B Flammabel Liquid / Gas

Kebakaran yang terjadi pada benda cair dan gas berupa bensin, solar, minyak tanah, LPG, LNG, dll.

  • Kelas C atau Electrical Equipment

Kebakaran yang terjadi pada peralatan listrik yang masih bertegangan tinggi.

  • Kelas D atau Metal

Kebakaran yang terjadi pada logam terdiri dari magnesium, zurkunium, Titanium, dll.

Catatan :

Penggolongan kebakaran dan jenis pemadam api ringan dapat diperluas sesuai dengan perkembangan teknologi.

Jenis-Jenis APAR dan Penggunaannya

Apar Air (Water) dengan Tekanan Tinggi

APAR isi air adalah tabung APAR yang diisi air tawar sebanyak kapasitas tabung kemudian diberi pendorong N2 atau cartridge atau dengan dipompa secara manual.

Air beratnya relatif stabil, mudah disimpan, dan mudah didapat.

Jarak jangkau pancaran sekitar 10 ft s/d 20 ft dengan waktu pancaran sekitar 1 menit untuk kapasitas 2,5 galon.

Berikut gambar alat pemadam api ringan air atau water

apar air

Penggunaan APAR AIR

APAR jenis ini cocok untuk memadamkan api yang ditimbulkan dari bahan-bahan padat non logam seperti kertas, kain, karet, plastik, dll namun berbahaya jika dipergunakan pada kebakaran akibat instalasi listrik yang bertegangan. Sifatnya mendinginkan atau mempunyai daya serap panas yang besar.

Baca Juga : Tang Ampere Salah Satu Alat Ukur Instalasi Listrik

Apar Busa / Foam

APAR jenis ini memakai bahan kimia yang membentuk busa. Tabung utama berisi larutan sodium bikarbonat atau ditambah dengan penstabil busa.

Tabung sebelah dalam berisi larutan aluminium sulfat.

Campuran dari kedua larutan tersebut akan menghasilkan busa dengan volume 10 x lipat.

Busa kemudian didorong oleh gas pendorong (biasanya karbondioksida).

Kapasitas yang ada di pasaran adalah 2, 5, 10, 20, dan 30 galon dengan jangkauan semprot sekitar 10 – 15 m untuk yang 2,5 galon dan habis dalam 1 menit. Sedangkan untuk yang 30 galon, biasanya tipe beroda dengan jangkauan sampai 20 m dengan waktu sampai 4 menit.

Berikut gambar APAR foam :

apar foam

Penggunaannya APAR Busa

APAR busa ini digunakan untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh bahan-bahan cair seperti minyak, alkohol, solvent, dll.

Busa Aqaueous Film Forming Foam (AFFF) yang disemburkan keluar akan menutupi bahan yang terbakar sehingga oksigen tidak dapat masuk untuk proses kebakaran.

APAR jenis busa harus digunakan sampai habis karena tidak bisa digunakan ulang.

APAR Serbuk Kimia (Dry Chemical Powder)

apar powder

APAR ini terdiri dari serbuk kering kimia yang merupakan kombinasi dari mono ammonium dan ammonium sulfat.

  • Powder kimia reguler adalah tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C.
  • Powder kimia multi-purpose adalah tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran kelas A, B, dan C.
  • Powder kimia spesial dry powder adalah tepung kimia yang efektif untuk memadamkan kebakaran khusus kelas D.

Tabung APAR yang diisi powder kemudian ditekan N2 atau cartridge. Serbuk kering kimia yang dikeluarkan akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga memisahkan Oksigen yang merupakan unsur penting terjadinya kebakaran.

APAR jenis dry chemical powder efektif dan bisa digunakan di hampir semua kelas penyebab atau bahan yang terbakar. Namun alat pemadam api ringan jenis ini tidak dianjurkan dipakai dalam industri karena akan mengotori dan merusak peralatan produksi disekitarnya sehingga APAR powder umumnya digunakan pada mobil.

Bahan Baku Powder

Bahan baku powder reguler terdiri dari :

  1. Sodium bikarbonat
  2. Potasium bikarbonat
  3. Potassium carbonate
  4. Potasium klorida

Bahan baku powder multi-purpose terdiri dari :

  1. Kalium sulfat dan mono ammonium phospat

Bahan baku powder khusus terdiri dari :

  1. Campuran kalium klorida, barium klorida, magnesium klorida, natrium klorida, dan kalsium klorida

APAR karbondioksida / CO2

apar co2

Konstruksi alat pemadam api ringan ini terdiri dari tabung tahan tekanan tinggi yang berisi gas karbondioksida sebagai bahan pemadamnya.

Bila katup dibuka maka cairan gas akan mengalir dan berubah menjadi es dan gas.

Bila tabung telah dipakai 10% maka harus diisi kembali.

Di pasaran tersedia baik untuk yang jenis portable maupun beroda.

Dapat dipakai untuk berbagai cairan mudah terbakar yang merusak busa (dimana APAR busa tidak bisa digunakan).

APAR jenis karbon dioksida tidak korosif dan tidak meninggalkan bekas, tidak menghantar listrik namun kualitasnya akan menurun bila tidak digunakan dalam waktu yang lama.

Bila bobot turun sampai 10 % maka Perlu diisi ulang.

Penggunaan APAR Karbondioksida

Dapat juga untuk api kelas A tetapi tidak boleh dipakai untuk kelas D. Alat pemadam api ringan karbondioksida diperuntukan untuk kebakaran bahan cair yang mudah terbakar maupun instalasi listrik yang bertegangan.

Alat pemadam api ringan jenis ini memadamkan dengan cara isolasi dimana oksigen diupayakan terpisah dari apinya. Disamping itu karbondioksida juga mempunyai peranan dalam pendinginan.

Material yang selimuti oleh karbondioksida akan cenderung lebih dingin.

Kelebihan APAR Karbondioksida

  • Mudah menyebar ke seluruh area kebakaran
  • Tidak menghantarkan listrik
  • Tidak meninggalkan residu
  • Berat jenis karbon dioksida 1,5 x berat udara
  • Efektif untuk kebakaran kelas B dan C

Apar Halon

Menurut KEPPRES RI Nomor 23 Tahun 1992 mengenai penggunaan bahan Chloro FLouro Carbon atau CFC bahwa mulai 1 Januari 1997 tidak boleh digunakan karena dapat merusak lapisan ozon.

Lapisan ozon adalah lapisan yang terdapat pada stratosfer bumi atau lapisan udara yang berada antara 10 s/d 60 km dari permukaan bumi yang berfungsi melindungi bumi dari sinar ultraviolet matahari yang membahayakan makhluk hidup yang memberikan dampak antara lain :

  • Bahaya kanker kulit
  • Menurunnya sistem daya tahan tubuh
  • Menyebabkan katarak
  • Terganggunya panen pertanian

apar halon

Halon mempunyai kelebihan sebagai berikut :

  • Tidak meninggalkan residu
  • Berat jenis hallon 5 kali berat udara
  • Tidak menghantarkan listrik
  • Dapat memadamkan kebakaran kelas B dan C.

Standar Penempatan APAR Sesuai Penggolongan kebakaran

Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran.

tabel kebakaran dan jenis apar

Tabel diatas merupakan tabel kebakaran dan jenis APAR yang harus dipakai pada mula kebakaran.

Pada kolom kebakaran terdiri dari golongan dan bahan yang terbakar, seperti golongan A yaitu bahan padat kecuali logam. Bahan yang terbakar yaitu kayu, kertas, tekstil, majun, arang batu, dan lain sebagainya.

Berikut keterangannya :

√ : Dapat dipakai

√√ : Baik

√√ √ : Baik sekali

X : tidak dapat dipakai

XX : Bisa merusak

XXX : Berbahaya untuk digunakan

Matrix Penggunaan APAR

matrix apar

 

Terlihat pada gambar ada dua simbol yaitu simbol yes dan no atau checklist dan simbol silang yang menunjukkan jenis-jenis APAR apa yang cocok digunakan untuk jenis kebakarannya.

Jadi kalau simbolnya checklist, alat pemadam api ringan tersebut baik digunakan atau disarankan untuk digunakan untuk memadamkan jenis kebakaran yang ada di tabel ini.

Namun jika simbolnya X maka tidak disarankan untuk digunakan bahkan bisa cenderung berbahaya untuk digunakan pada jenis kebakaran yang tertera pada tabel tersebut.

Standar P emasangan APAR (Jarak dan Rambu Penempatan)

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR :

  • Penempatan alat pemadam api ringan yang satu dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 m, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
  • Semua tabung APAR sebaiknya berwarna merah.
  • Dilarang memasang dan menggunakan alat pemadam api ringan yang didapati sudah berlubang-lubang atau cacat karena karat.
  • Setiap alat pemadam api ringan harus dipasang atau ditempatkan menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau dengan konstruksi penguat lainnya atau ditempatkan dalam lemari atau peti yang tidak dikunci.
  • Sengkang atau konstruksi penguat lainnya tidak boleh dikunci atau digembok atau diikat mati.
  • Lemari atau peti dapat dikunci dengan syarat bagian depannya harus diberi kaca aman atau safety glass dengan tebal maximum 2 mm.
  • Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan.

Tanda untuk menyatakan tempat alat pemadam api ringan yang dipasang pada dinding adalah segitiga sama sisi dengan warna dasar merah, ukuran sisi 35 cm, tinggi kotak huruf 3 cm berwarna putih dengan tulisan berwarna hitam, tinggi tanda panah 7,5 cm.

tanda apar di dinding

Tanda untuk menyatakan tempat alat pemadam api ringan yang dipasang pada tiang atau kolom adalah warna dasar tanda pemasangan merah dengan lebar ban pada kolom 20 cm sekitar kolom.

tanda apar di tiang atau kolom

  • Pemasangan APAR harus dipasang sedemikian rupa sehingga bagian paling atas berada pada ketinggian 1.2 m dari permukaan lantai, kecuali karbondioksida dan serbuk kering dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat jarak antara dasar alat pemadam api ringan tidak kurang 15 cm dari permukaan lantai.
  • APAR tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat dimana suhu melebihi 49 °C atau turun sampai – 44 °C, kecuali apabila APAR tersebut dibuat khusus untuk suhu diluar batas tersebut diatas.

Baca Juga : Termometer Raksa, klinis dan Alkohol : Apa Kelebihan dan Kekurangannya?

  • APAR yang ditempatkan di alam terbuka harus dilindungi dengan tutup pengaman.
  • Sesuai dengan jenis dan kelas kebakaran benda yang dilindungi
  • Pada posisi yang mau dilihat dicapai atau diambil dan dilengkapi dengan tanda pemasangan.

contoh penempatan apar

Contoh Penempatan dan Rambu Alat Pemadam Api Ringan

Cara Menggunakan APAR

Dalam penggunaan APAR dikenal istilah PASS

P : Pull the Pin. Tarik kunci pengaman atau segel.

A : Aim at base of fire. Pegang bagian ujung selang dan arahkan ujung selang ke sumber api.

S : Squeeze. Tekan tuas.

S : Sweep from side to side. Kibaskan ujung selang pada sumber api secara perlahan sampai api padam.

Kesalahan Cara Menggunakan APAR yang Sering Dilakukan

kesalahan menggunakan apar

  • Saat mengambil alat pemadam api ringan di bawa dengan cara menenteng. Cara seperti ini akan membuat kita kelelahan jika jarak alat pemadam api ringan dengan sumber api jaraknya jauh. Terlebih jika tabung gas yang dibawa memiliki berat 6 kg atas. Justru yang sering terjadi akhirnya alat pemadam api ringan dibawa dengan cara diseret karena berat dan waktu eksekusi menjadi terhambat.
  • Cara menarik segel. Menarik segel akan menjadi sangat sulit jika kita tidak paham caranya. Kesalahan yang sering terjadi adalah saat menarik segel terkadang kita juga menekan tuas sehingga PIN segel terjepit. Dalam kondisi tersebut segel sulit terlepas.
  • Memegang selang pada bagian tengahnya atau pada bagian tengah tuas APAR karena tekanan alat pemadam api ringan 13 bar, maka selang akan bergerak kesana-kemari tidak tentu arah. Selang yang tidak terarah akan menyebabkan media pemadam tidak dapat memadamkan api secara efektif. Untuk memegang selang APAR, pastikan pada yang dipegang pada bagian ujung selang APAR dan arahkan ke sumber api.
  • Saat mengeksekusi kebakaran berusaha menghemat media agar tidak cepat habis dengan cara menekan tuas sedikit demi sedikit. Dengan cara tersebut pasti api tidak akan segera padam. Pastikan tekan tuas sampai penuh terus-menerus sampai api padam.

Prinsip pemakaian APAR

  • Mengenal sifat benda yang terbakar.
  • Jenis dan ukurannya harus sesuai.
  • Mudah dilihat dan mudah diambil
  • Kondisi alat pemadam api ringan baik
  • Petugas mampu mengoperasikannya
  • Harus mengenal keefektifan alat pemadam api ringan
  • Memperhatikan kondisi temperatur, arah angin, uap yang terjadi.
  • Disesuaikan dengan lingkungan.
  • Jangan sampai terjadi kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh obat pemadam terhadap benda yang terbakar atau lingkungannya.
  • Keamanan petugas harus diperhatikan
  • Setiap orang dapat mengoperasikan dengan benar tidak membahayakan dirinya.

Jumlah dan Kompetensi Petugas Pengoperasian APAR

Keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 186 tahun 1999 tentang unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja Unit penanggulangan kebakaran.

Unit penanggulangan kebakaran ialah unit kerja yang dibentuk dan ditugasi untuk menangani masalah penanggulangan kebakaran di tempat kerja yang meliputi kegiatan administrasi, identifikasi sumber-sumber bahaya, pemeriksaan, pemeliharaan, dan perbaikan sistem proteksi kebakaran.

Baca Juga : Identifikasi Bahaya Potensi Risiko HIRADC

Unit penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud terdiri dari petugas peran kebakaran, regu penanggulangan kebakaran, koordinator unit penanggulangan kebakaran, dan ahli K3 spesialis penanggulangan kebakaran sebagai penanggung jawab teknis.

Petugas kebakaran ialah petugas yang ditunjuk dan diserahi tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber-sumber bahaya dan melaksanakan upaya-upaya penanggulangan kebakaran.

Pasal 6

Petugas peran kebakaran sekurang-kurangnya 2 orang untuk setiap jumlah tenaga kerja 25 orang. 

Pasal 7

Petugas peran kebakaran mempunyai tugas :

  • Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran
  • Memadamkan kebakaran pada tahap awal
  • Mengarahkan evakuasi orang dan barang
  • Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait
  • Mengamankan lokasi kebakaran

Untuk dapat ditunjuk menjadi petugas peran kebakaran harus memenuhi syarat :

  • Sehat jasmani dan rohani
  • Pendidikan minimal SLTP
  • Telah mengikuti kursus teknis penanggulangan kebakaran tingkat dasar 1

Kurikulum dan silabus kursus teknis penanggulangan kebakaran paket D (tingkat dasar I) terdiri dari 7 kurikulum dan 25 jam. berikut sertifikat petugas peran kebakaran dan lisensinya kita terbitkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Masa berlaku lisensi K3 selama 3 tahun dan dapat diperpanjang kembali sebelum masa berlakunya habis.

Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan

Menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan APAR

Pasal 11

Setiap alat pemadam api ringan harus diperiksa 2 kali dalam setahun yaitu diperiksa dalam jangka waktu 6 bulan dan pemeriksaan dalam jangka 12 bulan.

Berikut bagian-bagian yang diperiksa :

  1. Safety Pin
  2. Hose Connector
  3. Sypton Tube Assembly
  4. Hose Assembly
  5. Spray Nozzle
  6. Nozzle Holder
  7. Operating Levers
  8. Pressure Gauge
  9. Release Valve Mechanism
  10. Valve
  11. Plastic Boot

Pasal 15

Untuk setiap APAR dilakukan percobaan secara berkala dengan jangka waktu tidak melebihi 5 tahun sekali dan harus kuat menahan tekanan coba atau pressure test.

Cacat pada alat perlengkapan pemadam api ringan yang ditemui waktu pemeriksaan harus segera diperbaiki atau alat tersebut segera diganti dengan yang tidak cacat.

Pemeriksaan 6 Bulan

Pemeriksaan jangka 6 bulan mengikuti hal-hal berikut

Pemeriksaan Visual

Pemeriksaan secara visual terdiri dari :

  1. Berisi atau tidaknya tabung.
  2. Berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung.
  3. Rusak atau tidaknya segi pengaman cartridge atau tabung bertekanan.
  4. Mekanik penembus segel terpasang dengan baik.
  5. Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan label harus selalu dalam keadaan baik.
  6. Mulut Pancar tidak boleh tersumbat.
  7. Pipa Pancar yang terpasang tidak boleh retak atau menunjuk tanda-tanda rusak
  • Cek Indikator Tekanan

Memeriksa kondisi tekanan pada tabung alat pemadam api ringan. Pastikan jarum pada manometer menunjukkan angka 15 s/d 20 atau zona hijau. Untuk APAR tipe cartride, cara mengecek yang benar adalah dengan membuka treaded pada leher tabung lalu periksa segelnya, jika masih utuh pasang kembali seperti semula.

Baca Juga : Barometer dan 4 Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Udara

  • Pastikan Masih ada PIN Pengaman dan Segel,

jika tidak ada PIN pengaman dan segel telah terlepas ataupun putus karena khawatir telah digunakan maka untuk memastikannya dengan membuka selang valve. Jika terdapat bekas serbuk APAR pada selang valve, ini menandakan APAR sudah pernah digunakan. Jika hal ini terjadi segera ganti dengan tabung APAR yang baru.

  • Cek Tanggal Kadaluarsa pada Tabung.

Tanggal kadaluarsa ini sangat penting karena isian pada tabung juga dapat menurun kualitasnya seiring berjalannya waktu.

Contohnya APAR dengan media isi dry chemical powder.

Seiring berjalannya waktu media ini bisa menggumpal dan tidak akan bisa digunakan saat dibutuhkan nanti.

  • Cek Kondisi Tabung

Pastikan kondisi fisik tabung dalam keadaan baik (tidak ada karat maupun keropos) dan layak digunakan.

Selain itu kita juga perlu memeriksa selang apakah selang yang lapuk atau selang tidak lagi elastis.

Pastikan juga valve tidak macet ataupun berkarat.

Valve yang berkarat berpotensi macet saat digunakan sehingga menyulitkan pengguna saat pemakaian. Dan bisa saja valve tersebut sudah tidak kuat dan menimbulkan kecelakaan bagi pengguna. Jika terdapat tanda-tanda tersebut maka segera ganti dengan yang baru.

Jika tabung dalam keadaan baik maka cukup dengan mengelap saja.

Pemeriksaan Melalui Pengujian

  • Jenis APAR Cairan atau Asam Soda

Cara pemeriksaannya : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan asam keras diluar tabung. Apabila reaksi cukup kuat maka APAR tersebut dapat dipasangkembali.

  • Jenis APAR Busa

Cara pemeriksaannya : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan aluminium sulfat diluar tabung. Apabila cukup kuat maka APAR tersebut dapat dipasang kembali.

  • Jenis APAR Hidrokarbon berhalogen kecuali Jenis Tetraklorida

Cara pemeriksaannya : Dengan cara menimbang jika beratnya sesuai dengan aslinya maka APAR tersebut dapat dipasang kembali.

Baca Juga : Timbangan Analitik, Pocket, Precision, dan Bench Scale Merk KERN

  • Jenis APAR Karbon Tetraklorida

Cara pemeriksaan : Dengan melihat isi cairan dalam tabung jika memenuhi syarat maka dapat dipasang kembali.

  • Jenis APAR karbondioksida

Cara pemeriksaan : Dengan menimbang serta mencocokkan beratnya dengan berat yang tertera pada APAR. Jika hasil pemeriksaan terdapat kekurangan berat sebesar 10% maka harus diisi kembali sesuai dengan berat yang ditentukan.

Pemeriksaan 12 Bulan

Pemeriksaan jangka 12 bulan meliputi :

Pemeriksaan secara visual

  • Bersih atau tidaknya tabung.
  • Berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung.
  • Rusak atau tidaknya segi pengaman catridge atau tabung bertekanan.
  • Mekanik penembus segel terpasang dengan baik.
  • Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan label harus selalu dalam keadaan baik.
  • Mulut pancar tidak boleh tersumbat.
  • Pipa Pancar yang terpasang tidak boleh retak atau menunjukkan tanda-tanda rusak.

Pemeriksaan Melalui Pengujian

  • APAR Jenis Cairan (Asam Soda)

Cara pemeriksaan : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan asam keras diluar tabung apabila reaksi cukup kuat maka APAR dapat dipasang kembali.

  • APAR Jenis Busa

Cara pemeriksaan : Mencampur sedikit larutan sodium bikarbonat dan aluminium sulfat diluar tabung apabila reaksi cukup kuat maka APAR tersebut dapat dipasang kembali.

  • APAR Jenis Hidrokarbon Berhalogen kecuali Jenis Tetraklorida

Cara pemeriksaan : Menimbang APAR jika beratnya sesuai dengan aslinya maka APAR dapat dipasang kembali.

  • APAR Jenis Karbon tetraklorida

Cara pemeriksaan : Dengan melihat isi cairan dalam tabung APAR jika hasil pemeriksaan memenuhi syarat maka APAR dapat dipasang kembali

  • APAR Jenis Karbondioksida

Cara pemeriksaan : Dengan menimbang serta mencocokkan beratnya dengan berat yang tertera pada APAR jika terdapat kekurangan berat sebesar 10 % maka APAR harus diisi kembali sesuai dengan berat yang ditentukan.

Pemeriksaan Melalui Pengujian Lanjutan

  • APAR Jenis Cairan atau Busa

Cara pemeriksaan :

    1. Membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak.
    2. Isi APAR harus sampai batas permukaan yang telah ditentukan.
    3. Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu.
    4. Ulir tutup kepala tidak boleh cacat atau rusak dan saluran penyemprotan tidak boleh tersumbat.
    5. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak dapat bergerak dengan bebas mempunyai rusuk atau sisi yang tajam dan bak gasket atau paking harus masih dalam keadaan baik.
    6. Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.
    7. Bagian dalam dan alat pemadam api tidak boleh berlubang atau cacat karena karat
    8. Untuk Jenis cairan busa yang dicampur sebelum dimasukkan larutannya harus dalam keadaan baik.
    9. Untuk Jenis cairan busa dalam tabung yang dilarang tabung harus masih dilihat dengan baik.
    10. Lapisan pelindung dan tabung gas bertekanan harus dalam keadaan baik.
    11. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitas.

 

  • APAR Jenis Hidrokarbon Berhalogen kecuali Jenis Tetraklorida

Cara pemeriksaan :

    1. Membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak. 
    2. Isi tabung harus diisi dengan berat yang telah ditentukan
    3. Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh tersumbat atau buntu.
    4. Ulir tutup kepala tidak boleh rusak dan saluran keluar tidak boleh tersumbat.
    5. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak harus dapat bergerak dengan bebas mempunyai rusuk atau Sisi yang tajam dan luas penekan harus dalam keadaan baik.
    6. Gelang tutup kepala harus dalam keadaan baik Lapisan pelindung dari tabung gas harus dalam keadaan baik
    7. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya.
  • Jenis APAR Tepung Kering (Dry Chemical)

Cara Pemeriksaan :

    1. Membuka tutup kepala secara hati-hati dan dijaga supaya tabung dalam posisi berdiri tegak.
    2. Isi tabung harus sesuai dengan berat yang telah ditentukan dan tepung keringnya dalam keadaan tercurah bebas tidak berbutir.
    3. Ulir tutup kepala tidak mudah rusak dan saluran keluar tidak boleh buntut atau tersumbat.
    4. Ulir tutup kepala tidak mudah rusak dan saluran keluar tidak boleh buntu atau tersumbat
    5. Peralatan yang bergerak tidak boleh rusak dapat bergerak dengan bebas mempunyai rusuk dan sisi yang tajam
    6. Gelang tutup kepala harus dalam keadaan baik.
    7. Bagian dalam dan tabung tidak boleh berlubang-lubang atau cacat karena karat.
    8. Lapisan pelindung dari tabung gas bertekanan harus dalam keadaan baik.
    9. Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya yang diperiksa dengan cara menimbang.

Baca Juga : Tera Timbangan? Apa Saja yang Harus Dipersiapkan?

  • APAR Jenis Pompa Tangan CTC atau Karbon Tetraklorida

Pemeriksaan dan Hasil Pemeriksaan :

Peralatan pompa harus diteliti untuk memastikan bahwa pompa tersebut dapat bekerja dengan baik.

Tuas pompa hendaklah dikembalikan lagi pada kedudukan terkunci sebagai semula.

Setelah pemeriksaan selesai bila dianggap perlu segel diperbaharui.

Pemeriksaan Tekanan Coba atau Pressure Test

  • APAR Jenis Busa dan Cairan

Tekanan coba sebesar 20 kg/ cm².

  • Tabung gas pada APAR dan tabung bertekanan tetap atau Storage Pressure.

Tekanan coba nya sebesar 1,5 x tekanan kerjanya atau sebesar 20 kg/ cm² atau dipilih yang terbesar untuk dipakai sebagai tekanan coba.

  • APAR Jenis Karbon Dioksida

Percobaan tekan pertama 1,5 x tekanan kerja.

Percobaan tekan ulang 1,5 x tekanan kerja.

Jarak tidak boleh dari 10 tahun dan untuk percobaan kedua tidak lebih dari 10 tahun dan untuk percobaan tekan selanjutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun.

  • APAR Jenis Karbondioksida Keadaan Dikosongkan Selama Lebih dari 2 Tahun

Harus dilakukan percobaan tekan ulang sebelum diisi kembali dan jangka waktu percobaan tekan berikutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun.

Catatan :

Setiap APAR

Jangka waktu tidak melebihi 5 tahun sekali

Harus kuat menahan tekanan coba menurut ketentuan ayat selama 30 detik.

Jika karena sesuatu hal tidak mungkin dilakukan percobaan tekan terhadap tabung APAR maka tabung tersebut tidak boleh digunakan sudah 10 tahun terhitung tanggal pembuatannya dan selanjutnya dikosongkan.

Tabung-tabung gas atau gas container dan jenis tabung yang dibuang setelah digunakan atau tabung telah terisi gas selama 10 tahun tidak diperkenankan dipakai lebih lanjut dan isinya supaya dikosongkan.

Setelah dilakukan percobaan tekan terhadap setiap APAR. Tanggal percobaan tekan tersebut dicatat dengan cap di selembar plat logam pada badan tabung

Kontrol Rutin APAR

Melakukan kontrol rutin dan membuat kartu kontrol APAR yang dilakukan oleh petugas yang ditunjuk.

Berikut contoh checklist pengecekan APAR

checklist pengecekan apar

Jadwal isi ulang APAR menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 4 tahun 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan :

Pasal 18

Terdiri dari jenis alat pemadan api ringan yaitu air, asam soda, tabung gas, gas yang dipadatkan seperti busa, kimia, dan pemeriksaan tentang jarak waktu pengisian kembali dan jarak waktu percobaan tekan.

pemeliharaan apar

Untuk keterangan A pemeriksaan dilakukan 6 bulan sekali dan keterangan B dilakukan pemeriksaan setiap 12 bulan sekali

untuk tanda bintang pada APAR dan jenis botol yang dipecahkan tidak perlu selalu mengganti asamnya dengan syarat bahwa derajat kesamaan Isi botol masih memenuhi syarat, namun botol tersebut harus dicek terhadap adanya retak-retak.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

LANTO MASA TRAINING CENTER

Pentingnya Uji Profisiensi bagi Laboratorium Pengujian

Pentingnya Uji Profisiensi bagi Laboratorium Pengujian

Uji profisiensi merupakan hal yang sangat penting bagi laboratorium pengujian, karena melalui UP ini laboratorium bersangkutan dapat membandingkan kinerjanya terhadap laboratoium lain yang sejenis, dan juga yang paling penting adalah jika laboratorium tersebut dapat dengan segera melakukan tindakan perbaikan jika terjadi ketidaksesuaian.

Nah.. Kali ini kita akan sedikit membahas mengenai manfaat yang bisa didapatkan jika laboratorium mengikuti uji Profisiensi.

Singkatan :

UP : Uji Profisiensi

PUP : Penyelenggara Uji Profisiensi

CRM : Certified reference materials

SDPA : Standard Definition for Professiency Assessment

Manfaat Uji Profisiensi Bagi Laboratorium

Dengan mengikuti UP, laboratorium pengujian akan mendapatkan beberapa manfaat, antara lain sebagai berikut :

  • Pemeriksaan Mutu Data Uji Secara Reguler, Eksternal, dan Tidak Memihak (independent)

Di dalam uji profesiensi, data laboratorium diperiksa lewat perolehan angka (score) untuk hasil uji yang dilakukan laboratorium tersebut dalam bentuk Z Score.

Zscore = (Xi – X) / SDPA

DImana :

Xi adalah hasil yang dilaporkan setiap laboratorium atau masing-masing laboratorium.

X adalah nilai yang ditetapkan untuk bahan UP yang dibagikan.

SDPA adalah Standard Definition for Professiency Assessment (suatu nilai standart deviasi bagi profesiensi terkait)

Keikutsertaan laboratorium dalam UP hendaknya reguler, setidaknya 1 x dalam setahun. Inilah yang dimaksud dengan pemeriksaan data uji secara reguler.

Penyelenggara uji profisiensi (PUP) adalah pihak di luar laboratorium, sehingga pemeriksaan mutu data dilakukan secara eksternal. Karena UP dilakukan oleh pihak luar yang tidak memihak maka pemalsuan terhadap hasil uji dapat terhindar.

Hal ini tentunya lebih baik dibandingkan dengan misalnya : pemeriksaan mutu data laboratorium dilakukan menggunakan CRM. Dimana dapat saja terjadi apabila seorang analis menemukan bahwa hasil uji yang diperolehnya dari CRM yang digunakannya diluar batas ± dari apa yang tercantum pada sertifikat CRM, jika analis tersebut mau mengubahnya maka hal tersebut dimungkinkan karena semua dilakukan secara internal.

Hal tersebut tentunya tidak dimungkinkan pada UP yang dilakukan oleh pihak luar / eksternal.

  • Dukungan Komitmen untuk Mempertahankan Mutu Data

mutu data valid karena uji profisiensi

Keberhasilan dari laboratorium dalam keikutsertaannya pada UP merupakan alat yang ampuh di dalam memberikan kepercayaan diri akan kompetensi laboratorium terhadap badan akreditasi, regulator, pelanggan dan personil laboratorium sendiri.

Ukuran keberhasilan bukan hanya dari perolehan nilai :

|Zscore| < 2 atau bahkan mungkin mendekati nol

Tapi yang jauh lebih penting adalah keberhasilan dalam menemukan penyebab terjadinya hasil yang tidak memuaskan. Melalui investigasi hasil yang tidak memuaskan dan kemudian laboratorium memperbaikinya dengan melakukan tindakan koreksi, termasuk didalamnya memantau keefektifan dari tindakan koreksi tersebut.

Jadi sekalipun laboratorium mendapatkan nilai Zscore yang kurang baik, tetap ada manfaat dari keikutsertaan dalam UP lewat proses investigasi koreksi dan corrective action yang dilakukan laboratorium.

Baca Juga : Pengertian CAPA (Corrective Action and Preventive Action)

  • Memberikan Motivasi Untuk Memperbaiki Unjuk Kerja dalam Pengujian

Partisipasi dalam UP merupakan salah satu cara untuk menilai kompetensi personil laboratorium. Personil laboratorium yang melakukan pengujian terhadap sampel UP biasanya menantikan laporan uji profisiensi dari PUP.

Hal tersebut menunjukkan adanya bukti motivasi dari personil laboratorium tersebut.

Kinerja dari UP itu dapat mencerminkan kompetensi dalam melakukan suatu pengujian. Meskipun selalu ada resiko untuk terjadinya kolusi dan pemalsuan hasil dimana dapat saja antar personil laboratorium saling mencari informasi, misalnya :

Personil laboratorium 1 menelepon personil laboratorium 2 menanyakan berapa nilai yang diperoleh untuk sampel dengan kode A dan sebagainya.

Pernah ada cerita dimana terjadi pemalsuan hasil yaitu pada suatu UP menggunakan pupuk KCL palsu dimana Pupuk KCl biasanya mengandung ± 60 % K.

Karena pupuk tersebut palsu maka K yang terkandung hanya 0,6 % saja.

Dalam suatu UP pada saat dibagikan pupuk palsu tersebut terjadi ada beberapa laboratorium peserta UP yang melaporkan hasil 60 %.

Hal ini adalah suatu bukti terjadinya pemalsuan dan PUP mempunyai cara untuk mengatasi masalah pemalsuan hasil tersebut.

  • Mendukung Peningkatan Mutu Sesuai Standar untuk Keperluan Akreditasi atau Keperluan lainnya.

Melalui UP laboratorium dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam laboratorium dan juga kesesuaian metode uji laboratorium untuk digunakan pada matriks berbeda dapat terperiksa.

Terkadang sampel yang diperoleh suatu laboratorium mempunyai matriks yang kurang lebih sama.

Apabila laboratorium mengikuti UP dengan matriks berbeda maka jika ternyata metode uji yang dipunyai laboratorium dapat digunakan untuk matriks berbeda maka laboratorium dapat memperluas ruang lingkup pengujiannya.

Namun apabila ternyata tidak sesuaipun tetap bermanfaat karena modifikasi terhadap metode dapat dilakukan dengan lebih terarah didasarkan atas hasil UPnya apakah z-score yang diperolehnya z-score positif atau negatif, atau penyimpangan positif atau negatif kah yang diperoleh laboratorium?

Dengan demikian laboratorium dapat memperbaiki pengujiannya ke arah yang sesuai.

Salah satu persyaratan untuk mengajukan akreditasi adalah pernah berpartisipasi dalam UP.

Jadi keikutsertaan dalam UP dibutuhkan apabila laboratorium akan mengajukan akreditasi atau sudah terakreditasi karena merupakan kewajiban bagi laboratorium untuk ikut serta dalam UP secara reguler.

  • Membantu Mengidentifikasi adanya Penyimpangan Masalah dalam Pengujian

identifikasi masalah pada laboratorium

Misalnya : laboratorium memperoleh Zscore + 3,5 atau sebaliknya – 3,5.

Penyimpangan positif berarti hasil uji laboratorium lebih besar dari yang seharusnya sedangkan penyimpangan negatif berarti hasil uji laboratorium lebih kecil dari seharusnya.

Dari perolehan angka Zscore tersebut, laboratorium akan dapat mengidentifikasi terjadinya masalah melalui apa yang disebut CCP (Critical Control Point) dari metode uji yang digunakan.

Contoh 1 :

Dalam UP pengujian protein menggunakan metode Kjeldahl, laboratorium memperoleh Zscore sebesar -3,5

Setelah diinvestigasi salah satu penyebabnya mungkin terjadi kebocoran pada alat destilasi sehingga tidak seluruh NH3 tertangkap dalam larutan asam borat yang kemudian dititrasi dengan HCL.

Apabila tidak seluruhnya NH3 tertangkap akibat kebocoran tadi maka hasil yang diperoleh lebih kecil dari seharusnya.

Contoh 2 :

Pada pengujian kadar logam menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS), laboratorium memperoleh ZScore sebesar +7.

Setelah diinvestigasi oleh laboratorium kemungkinan penyimpangan positif disebabkan adanya kontaminasi dari alat gelas yang digunakan pada pengujian dengan Spektrofotmeter Serapan Atom (AAS).

Karena seperti kita ketahui jika kita menguji menggunakan Spektrofotmeter Serapan Atom (AAS), seluruh alat gelas yang digunakan harus selalu dibilas dengan asam / HNO3 6N karena dinding dalam perlatan gelas (misalnya yang digunakan analisa adalah labu ukur) mudah menyerap logam, terlebih apabila sebelumnya peralatan gelas tersebut digunakan untuk menyimpan stock solution dari logam dengan konsentrasi cukup besar.

Karena adanya penyerapan logam pada dinding gelas yang tidak bisa lepas dari dinding kalau alat tadi dicuci hanya menggunakan deterjen saja, maka apabila kemudian ke dalam peralatan gelas (contohnya : alat gelas labu ukur) dimasukkan hasil destruksi sampel maka hasil destruksi sampel yang bersifat asam akan melepaskan logam dari dinding gelas sehingga terjadilah peristiwa Leaching karena sampel yang kita masukkan ke dalam labu ukur tadi terkontaminasi oleh pengotor logam dari dinding gelas sehingga diperoleh hasil lebih besar dari seharusnya.

  • Unjuk Kerja Laboratorium yang Bersangkutan Dapat Dibandingkan Terhadap Unjuk Kerja Laboratorium Lain.

hasil penyelenggara uji profisiensi

Pada tabel diatas dapat kita lihat kode laboratorium beserta Zscore nya masing-masing.

Dalam laporan UP seringnya diberikan tampilan grafik batang / histogram yang menunjukkan nilai z-score yang diperoleh masing-masing laboratorium.

grafik uji profisiensi

    1. Kode lab 6 mempunyai batang histogram melebihi angka 2 yang berarti lab 6 mendapatkan tanda “$” yang berarti hasil ujinya mendapatkan kriteria “warning”.
    2. Kode lab 5 walaupun batang histogramnya cukup tinggi kearah negatif namun karena belum mencapai angka minus 2 maka belum mendapatkan kriteria “warning”.
    3. Kode Lab 22 mendapatkan tanda “$$” (sama dengan kode lab 17) dimana kriteria yang diberikan pada kode lab 17 dan 22 adalah outlier.

Nah dengan tampilan grafik seperti diatas maka laboratorium peserta UP dapat membandingkan batang histogram yang diperolehnya dengan batang histogram laboratorium lainnya.

  • Adanya Umpan Balik yang Bersifat Praktis Teknis bagi Laboratorium Bersangkutan

Misalnya :

Apabila PUP merupakan suatu laboratorium pusat yang menyelenggarakan UP untuk semua laboratorium binaan dibawahnya.

Sehingga dapat saja melalui UP dilakukan bimbingan teknis berupa praktek di meja laboratorium untuk laboratorium peserta yang mendapatkan katagori outlier.

Jadi bisa mendapatkan feedback yang praktis teknis bagi laboratorium peserta.

  • Merupakan Cara QC yang Baik pada Keadaan dimana Bahan Acuan atau Referensi Material Tidak Tersedia

Apabila suatu laboratorium tidak bisa membuktikan keakuratan datanya lewat penggunaan CRM, karena misalnya : CRM yang sesuai dengan keperluan laboratorium memang tidak tersedia atau CRM yang sesuai tersedia namun harganya sangat mahal sehingga laboratorium belum mampu membelinya maka laboratorium dapat membuktikan keakuratan datanya lewat keikutsertaan laboratorium dalam UP, dengan menunjukkan bahwa z-score yang diperolehnya < 2 atau > -2 atau secara umum dikatakan nilai |z-score| < 2.

  • Membantu Pelatihan Staff Laboratorium Peserta Uji Profisiensi

UP di laboratorium seperti melakukan pelatihan terhadap staf laboratorium tapi dalam hal ini pelatihannya adalah praktek karena langsung melakukan pengujian dan bukan pelatihan teori.

Apa yang harus dilakukan apabila ternyata laboratorium mendapatkan hasil tidak memuaskan?

Maka kita harus melakukan supervisi pada personil pengujian terkait oleh yang lebih senior, karena hasil uji yang dilakukannya masih kurang baik.

Sebaiknya laboratorium juga jangan memberikan contoh UP pada personil laboratorium yang paling kompeten karena laboratorium akan kehilangan kesempatan mengikut sertakan personil penguji yang diragukannya dalam ujian praktek.

Investigasi yang harus dilakukan sebagai akibat dari hasil yang tidak memuaskan memiliki kepentingan yang lebih besar dibandingkan hasil itu sendiri.

Jika laboratorium memberikan contoh uji profisiensi pada personil yang paling kompeten dengan harapan laboratorium mendapatkan kriteria sebagai laboratorium baik, kesempatan untuk ikut ujian bagi personilnya yang masih diragukan akan hilang dan secara kompetensi juga tidak bertambah.

Baca Juga : Program Upgrade Kompetensi dengan Training Kalibrasi

  • Menjaga Reputasi Laboratorium dari Hasil Uji yang Kurang Bermutu

Apabila laboratorium tidak menyadari telah terjadi kesalahan dalam pengujian yang dilakukannya maka setiap saat laboratorium akan menerbitkan laporan hasil uji atau sertifikat hasil uji yang tidak bermutu.

Dan jika ini berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang reputasi buruk akan melekat pada laboratorium.

Keikutsertaan dalam UP akan membuat laboratorium dapat menyadari lebih dini akan kesalahannya dan dapat memperbaiki dengan segera sebelum reputasi buruk tadi diberikan pada laboratorium oleh pelanggan.

  • Meningkatkan Kompetensi atau Kemampuan Laboratorium

Melalui keikutsertaan dalam UP tentunya laboratorium akan berusaha meningkatkan kompetensinya lewat perolehan Z-score yang makin bertambah baik sejalan keikutsertaan laboratorium dari waktu ke waktu dalam UP berikutnya.

  • Mengurangi Pengulangan yang Tidak Perlu dalam Pengujian

Apabila laboratorium sedini mungkin dapat mengetahui kesalahannya dan kemudian berusaha menginvestigasi kesalahan tersebut dengan cara mencari akar masalah dari kesalahan yang terjadi, memperbaikinya dan melakukan tindakan pencegahan / preventif action agar kesalahan sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang maka pengulangan pengujian akibat presisi yang tidak baik, kontrol sampel yang sering out of Control, hasil uji duplikat yang tidak dapat dirata-ratakan, atau juga pengulangan pengujian akibat komplain dari pelanggan pasti akan dapat dikurangi.

Baca Juga : Diagram Tulang Ikan Untuk Mengidentifikasi Akar Permasalahan

  • Menunjang Pemasaran Jasa Pengujian

Sertifikat keikutsertaan laboratorium dalam UP dengan hasil baik oleh kebanyakan laboratorium di frame diberi pigura digantungkan pada tempat penerimaan contoh dengan harapan pelanggan yang datang mengantarkan contoh / sampelnyanya akan bisa melihat dan membaca sertifikat tersebut sehingga secara tidak langsung ini merupakan cara pemasaran jasa pengujian yang tepat.

Supaya Manfaat Uji Profisiensi Maksimal

Nah kita sudah mengetahui manfaat-manfaat mengikuti UP. Untuk memaksimalkan manfaat tersebut, berikut ini  adalah kiat-kiat dalam mengikuti uji profisiensi :

  • Penyimpanan Sampel Uji Profisiensi

Apa yang perlu diperhatikan oleh personil penguji pada saat laboratorium peserta menerima contoh uji profisiensi dan belum dapat dengan segera melakukan pengujian terhadap contoh tersebut?

Simpan dengan baik contoh sesuai dengan petunjuk yang diberikan PUP.

Ada kemungkinan contoh bisa disimpan pada temperatur kamar namun ada kemungkinan juga dia harus dimasukkan ke dalam refrigerator freezer atau bahkan deepfreeze dengan suhu minus -70 C atau mungkin ada petunjuk bahwa contoh harus dimasukkan ke dalam desikator laboratorium karena contoh tersebut mudah menyerap uap air dari udara ataupun ditaruh dalam ruang dengan kelembaban rendah dimana dalam ruang sudah dipasang dehumidifier.

  • Bagaimana Contoh Diuji?

Perhatikan kembali petunjuk untuk peserta yang diberikan PUP ada 2 kemungkinan :

  1. Sejumlah contoh uji profisiensi dapat langsung ditimbang atau dipipet untuk kemudian dilakukan pengujian terhadap cuplikan hasil timbangan atau hasil pemipetan tersebut.
  2. Namun ada pula contoh UP yang sebelum dapat ditimbang atau dipipet harus melalui perlakuan pendahuluan terlebih dahulu.

Misalnya :

Contoh Uji Profisiensi untuk pengujian logam dalam air yang umumnya perlu diencerkan terlebih dahulu sebelum diuji.

  • Metode Pengujian yang Digunakan

Contoh UP harus diuji menggunakan metode yang sudah laboratorium validasi atau verifikasi sehingga sudah diyakinkan mempunyai presisi dan akurasi yang baik dan apabila pada metode pengujian digunakan kurva kalibrasi, pastikan bahwa contoh UP dapat diukur pada daerah pengukuran yang linier.

Sekalipun metode yang dipakai sudah valid, laboratorium harus memastikan bahwa saat metode tersebut digunakan untuk menguji contoh uji profisiensi, metode tadi pun memberikan hasil uji yang cukup baik. Sehingga harus ada jaminan mutu data hasil uji contoh UP melalui penggunaan kontrol sampel dan control chart.

Kontrol Sampel

Kontrol sampel adalah sampel yang dipakai untuk mengontrol pekerjaan pengujian yang dilakukan laboratorium terhadap sampel sebenarnya, dimana dalam pembahasan ini sampel sebenarnya adalah contoh uji profisiensi.

Kontrol sampel harus dibuat dari sisa sampel yang terlebih dahulu dibuat homogen, dikemas dalam kemasan hanya untuk satu kali pengujian, ditetapkan nilainya dengan cara mengujinya minimal 7 ulangan menggunakan metode uji yang sudah tervalidasi atau terverifikasi.

Baca Juga : Kapan Melakukan Verifikasi dan Validasi Metode Analisis?

Dari 7 data hasil ulangan tersebut, hitung nilai rata-rata dan standar deviasi.

kontrol sampel uji profisiensi

Kemudian nilai rata-rata diletakkan pada bagian tengah dari kertas grafik.

Kita menggunakan kertas grafik karena kertas grafik mempunyai skala atau kotak-kotak kecil yang jelas, satu kotak tersebut mewakili berapa angka sehingga kita dengan mudah meletakkan titik-titik hasil pengujian kontrol sampel.

Setelah itu letakkanlah berdasarkan nilai standar deviasi yang diperoleh :

  1. X rata-rata ± 1 standar deviasi
  2. X rata-rata ± 2 standar deviasi
  3. X rata-rata ± 3 standar deviasi

Dapat dilihat pada grafik tersebut dimana terdapat zona-zona yang diletakkan dimana zona yang paling berdekatan dengan X rata-rata adalah zona A, kemudian di atasnya adalah zona B dan di atasnya lagi ada zona C.

  • Peran Manajer Mutu

Umumnya dalam suatu laboratorium manajer mutu lah yang mendaftarkan laboratorium ikut serta dalam UP karena manajer mutu lebih berfokus akan mutu laboratorium yang dipimpinnya sehingga ada keinginan bagi manajer mutu untuk melihat apakah hasil uji yang dihasilkan laboratoriumnya baik adanya atau tidak.

Oleh karena itu manajer mutu pula yang akan menerima contoh dari PUP.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah manajer mutu sebaiknya memperlakukan contoh uji profisiensi sama dengan contoh sehari-hari di laboratorium.

Jangan sampai contoh UP mendapat perlakuan istimewa, misalnya : manajer mutu membawa contoh uji profisiensi ke dalam laboratorium dan mengatakan kepada personil pengujiannya untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan contoh UP tersebut.

Sebaiknya kita menganggap contoh uji profisiensi adalah contoh sebagaimana yang diterima laboratorium sehari-hari, dengan demikian contoh UP tidak mendapat perlakuan istimewa dari personil pengujinya dan juga yang harus diperhatikan oleh manajer mutu, sebaiknya manajer mutu membagi dua contoh uji profisiensi yang diterimanya. Keduanya diberi kode yang berbeda dan dikirimkan ke laboratorium melalui bagian penerimaan contoh.

  • Pemeriksaan Data Hasil Uji

Setelah itu personil penguji akan menguji sampel UP dan pada saat hasil uji akan dikirimkan ke PUP, sebaiknya manajer mutu atau setidaknya manajer teknis memeriksa data yang dihasilkan laboratorium sebelum dikirimkan kembali ke PUP.

Apa saja yang harus diperiksa?

    • Presisi datanya

Seperti yang sudah diuraikan diatas dimana manajer mutu membagi 2 contoh sama yang diberi kode berbeda.

Dari dua contoh UP sama yang diberi kode berbeda, manajer mutu akan menerima 2 data hasil pengujian duplikat.

Presisi dapat dihitung dari nilai relatif persen different (RPD).

RPD = ((data 1 – data 2) / data rata-rata) x 100 %

Apabila % RPD < 0,67 CVHorwitz berarti presisi data hasil uji contoh uji profisiensi baik.

Faktor 0,67 didapatkan dari data duplikat yang tadi dikerjakan personil penguji di laboratorium dikerjakan oleh personil yang sama sehingga merupakan data ripitabilitas.

    • Akurasi data

Manajer mutu hendaknya meminta pada personil di laboratorium untuk memperlihatkan kontrol chart dan menunjukkan pada kontrol chart mana hasil uji kontrol sampel yang dianalisis bersamaan dengan contoh uji profisiensi.

Hasil uji kontrol sampel yang diuji bersamaan dengan contoh UP tidak boleh lebih besar dari X rata-rata + 3S atau lebih kecil dari X rata-rata – 3S

Apabila ini bisa dipenuhi maka manajer mutu dapat melanjutkan pemeriksaannya pada hal-hal lainnya.

data hasil uji profisiensi

Gambar diatas merupakan suatu kontrol chart dimana titik-titik tidak boleh terjadi.

Titik merah adalah hasil analisis kontrol sampel yang diuji bersamaan dengan contoh uji profisiensi jangan sampai menyentuh garis X rata-rata ± 3S atau bahkan melebihi dan kalau titik tadi jatuhnya di zona C artinya keadaannya “warning” dimana hasil uji terhadap kontrol sampel tidak jelek namun perlu menjadi perhatian.

Apabila hasil uji kontrol sampel terletak di zona C, hasil uji contoh UP jangan dilaporkan dulu pada PUP.

Manajer mutu harus meminta personil lab untuk menguji ulang hanya kontrol sampelnya saja.

Apabila ternyata pengujian ulang kontrol sampel jatuh ke zona B atau zona A maka hasil uji contoh UP yang semula dipending oleh manajer mutu dapat dilaporkan pada PUP.

Namun apabila ternyata pengujian ulang kontrol sampel jatuh di masih jatuh di zona C atau bahkan keluar dari zona C maka laboratorium perlu menginvestigasi terlebih dahulu akar penyebab masalah mengapa hasil uji tidak memberikan hasil baik, sebelum mengulangi kembali pengujian terhadap ke banyak contoh uji profisiensi dan kontrol sample bersamaan lagi.

Apabila hal ini terpenuhi / semua baik-baik saja maka besar kemungkinan laboratorium akan mendapatkan Z-score yang baik.

Baca Juga : Tugas Manajer Teknis dan Manajer Mutu di Dalam Laboratorium

Namun terkadang meskupun semua sudah dilakukan oleh laboratorium, misalnya : contoh UP sebelum diuji sudah disimpan dengan baik sesuai petunjuk yang diberikan PUP, metode pengujian yang dipakai menguji contoh UP sudah tervalidasi / terverifikasi dengan baik, hasil uji terhadap kontrol sampel yang diuji simultan bersamaan contoh uji  tapi laboratorium masih dinyatakan outlier oleh PUP. 

Kenapa hal ini bisa terjadi?

  • Penyebab Hasil Outlier

Kontrol Sampel dan Contoh UP Serupa Tapi Tak Sama

Perlu kita perhatikan bahwa kontrol sampel dan contoh uji profisiensi tidak 100 % sama, sehingga kemungkinan perbedaan datangnya dari matriks contoh UP.

Nah kalau hal diatas yang menjadi penyebab namun semua sudah selesai dilakukan, laboratorium sudah mendapatkan z-score, dan hasilnya outlier ataupun diperingati, maka laboratorium masih mempunyai kewajiban untuk menginvestigasi mengapa hasil tadi menjadi outlier atau diperingati.

Nah untuk memeriksanya kenapa laboratorium masih mendapatkan nilai z-score yang kurang baik, maka laboratorium bisa melakukan percobaan recovery terhadap contoh uji profisiensi dengan dasar pemikiran dimana contoh UP tidak 100% sama dengan kontrol sampel.

Jadi kontrol sampel menunjukkan titik yang tidak “Out of Control” tapi belum tentu yang terjadi dengan contoh uji profisiensinya.

Apabila laboratorium masih menyimpan contoh UP maka hal tersebut dapat kita kerjakan, namun jika laboratorium sudah tidak lagi menyimpan sisa contoh uji profisiensi misalnya sudah habis, maka laboratorium dapat membeli sisa contoh UP dari penyelenggaranya.

Lakukan Uji Recovery

Lakukanlah terhadap contoh UP Ini percobaan recovery dengan tahap :

  1. Menambahkan sejumlah diketahui analit pada contoh uji profisiensi dimana nanti hasil ujinya dinotasikan seabgai C1.
  2. Melakukan pengujian terhadap contoh UP yang sudah di “Spike” dimana nanti hasil ujinya dinotasikan sebagai C spike.
  3. Melakukan pengujian terhadap contoh UP saja, dimana nanti hasil ujinya dinotasikan sebagai C sampel.

Dari data-data diatas, kita dapat menghitung recovery dengan rumus sebagai berikut :

R (%) = ((Cspike -Csampel)/C1) x 100 %

Lakukan Uji T untuk Recovery

Dalam hal ini di dalam Uji T dengan

t recovery = |R – 1|/UR

H0 : |R – 1|/Ur < Ttabel

H1 : |R – 1|/Ur > Ttabel

Jika t hitung lebih kecil dari t tabel maka recovery tidak berbeda nyata dari 1

Namun jika t recovery > t-tabel maka nilai R berbeda nyata dari 1

Nilai 1 adalah recovery target

Recovery target bagi laboratorium adalah 100 % namun hal tersebut tidak mungkin terjadi karena terkadang recovery < 100 % atau > 100%.

Untuk nilai R dalam H0 & H1 tersebut bukanlah dengan satuan % karena angka 1 tersebut berasal dari 100 %.

  • Misal : angka 0.85 untuk nilai 85 %.

Untuk Ur (U recovery) dihitung dari Sr / akar N.

Ur = Sr/Akar N

Jika kita melakukan percobaan recoverynya lebih dari 3 perulangan maka kita dapat menghitung berapa standar deviasi recovery dibagi dengan akar ulangannya.

Apabila R tidak berbeda nyata dari 1, tidak perlu dilakukan koreksi terhadap hasil uji sehingga hasil uji dilaporkan sebagaimana adanya. Dan sebaliknya jika ternyata kesimpulannya R berbeda nyata dari 1 maka perlu dilakukan koreksi terhadap hasil uji.

Sehingga pada investigasi yang dilakukan, hasil uji yang pernah dilaporkan dikoreksi dulu terhadap 100/R.

Apakah hasil uji tadi yang diberi kategori outlier bisa masuk dalam kumpulan hasil yang tidak outlier atau hasil yang baik.

Hal diatas adalah satu solusi untuk memeriksa apakah betul Atau tidak kejadian dimana kontrol sampel sudah baik tapi hasil UP dinyatakan tidak baik yang diduga penyebabnya adalah ketidaksamaan matrix antara kontrol sampel dengan contoh uji profisiensi.

Semoga Bermanfaat

Oya, ada channel youtube yang video-videonya sangat menarik jika teman-teman bekerja di laboratorium pengujian. Silakan kunjungi langsung melalui link berikut :

Pojok Laboratorium

[Ibaratnya] PPIC adalah Seorang Playmaker di Perusahaan

[Ibaratnya] PPIC adalah Seorang Playmaker di Perusahaan

Jika QA (Quality Assurance) merupakan penentu diluluskannya atau boleh dijualnya suatu produk jadi ke pasaran, maka PPIC adalah pengatur produksi serta kondisi stok di gudangnya.

Buat teman-teman yang sudah bekerja di industri, tentunya sudah tidak asing lagi dengan departemen PPIC. Nah kali ini sekilas kita akan membahas mengenai apa itu PPIC dan apa saja tugas dan tanggung jawabnya di dalam suatu perusahaan.

Yuk.. simak ulasan berikut..

Singkatan di Dalam Artikel Ini :

  • PPIC : Production Planning and Inventory Control
  • MPS : Master Production Schedule)
  • MRP : Material Requirement Planning
  • COGM : Cost of Good Manufacturing
  • COGS : Cost of Good Sale
  • MOQ : Minimum Order Quantity
  • C&F : Cost and Freight

Apa itu Produksi

Baik sebelum membahas mengenai PPIC, ada baiknya kita sekilas membahas mengenai apa itu produksi?

Produksi adalah proses transformasi dari input (faktor-faktor produksi) menjadi output yaitu produk atau jasa.

Misalnya :

  • Dari kayu menjadi mebel
  • Dari baja menjadi mobil
  • Dari semen batu, bata, pasir menjadi rumah
  • Dll

Hal-hal diatas adalah contoh transformasi dari input menjadi output.

Apa Itu Faktor Produksi?

Terdapat beberapa macam faktor produksi, antara lain :

  • Material
  • Tenaga kerja
  • Mesin / peralatan / perlengkapan
  • Informasi
  • Energi

Faktor-faktor produksi diatas ditransformasikan menjadi output atau produk, baik berupa produk atau berupa jasa.

Contoh produk seperti yang telah disebutkan diatas, misalnya : mobil, mebel, rumah, dll

Sedangkan contoh produk yang berupa jasa, misalnya : jasa layanan internet, jasa layanan listrik PLN, jasa layanan PDAM air bersih, jasa layanan perbankan, jasa layanan kalibrasi alat ukur dll.

Apa Itu PPIC?

apa itu ppic

Nah kita sudah tahu apa itu produksi.

Lalu apa itu PPIC ?

Kepanjangan PPIC adalah Production Planning and Inventory Control atau biasa disebut juga dengan perencanaan produksi dan pengendalian inventori.

PPIC adalah perencanaan dari proses produksinya, yang dilakukan PPIC adalah “production planning” atau perencanaan produksinya, bukan melakukan produksinya.

Sehingga banyak departemen PPIC berasal dari background teknik industri, berbeda dengan departemen produksi yang umumnya berasal dari teknik mesin.

Sekali lagi..

Salah Satu Tugas PPIC adalah Perencanaan Proses Produksi.

PPIC adalah Sang Pengatur Ritme Jalannya Produksi di Perusahaan. Apakah mau memproduksi dalam jumlah banyak, atau cukup sedikit saja? Semuanya dibawah komando departemen PPIC.

Ibaratnya…

  • PPIC adalah zidane nya prancis..
  • PPIC adalah pirlo nya italia..

Itu menurut penulis ya he he..

Kalau teman-teman berbeda pendapat gapapa, nanti tulis saja di kolom komentar kita diskusi bersama.. Ok.

PPIC mengatur banyak sedikitnya jalannya produksi berdasarkan permintaan dari departemen sales / marketing, yang kemudian PPIC akan menginformasikan ke departemen produksi, mau produksi apa dan dalam jumlah berapa, sekaligus mengontrol stock ketersedian bahan baku yang dibutuhkan.

Biar lebih jelas, yuk kita urai satu persatu apa saja sih tugas PPIC itu

Tugas PPIC Adalah [Berikut Diantaranya]

kepanjangan ppic

Dibawah ini adalah gambaran umum beberapa tugas PPIC, meskipun terkadang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, tergantung besar kecilnya perusahaan.

Untuk perusahaan besar, PPIC tentunya sudah berdiri sendiri menjadi 1 departemen, mamun untuk perusahaan yang baru merintis, terkadang tugas PPIC ini masih merangkap dengan tugas sebagai departemen lain.

Membuat Perencanaan, Pengadaan Bahan Baku dan Bahan Kemas untuk Produksi

Sesuai dengan namanya “production planning and inventory control”

  • Planning = Perencanaan tentang produksi
  • Control = pengawasan tentang inventory

Sehingga tujuan yang pertama adalah membuat perencanaan pengadaan bahan baku dan bahan pengemas.

Jadi mulai dari awal perencanaan mulai dari pengadaan bahan baku sampai bahan pengemas kemudian membuat perencanaan produksi.

Mau membuat berapa batch / berapa kemasan ? Serta menentukan produk mana yang akan dibuat?

Tentunya yang menjadi dasar adalah pesanan / permintaan dari konsumen melalui departemen sales / marketing.

Misalnya perusahaan kita memproduksi 3 produk :

  • Produk A
  • Produk B
  • Produk C

Jika kita sebagai bagian dari departemen produksi. Maka produk mana yang akan dibuat?

Untuk memproduki produk apa tersebut dasarnya adalah pesanan konsumen dimana pesanan ini menjadi perintah bagi manager PPIC untuk merencanakan produk apa yang akan diproduksi.

Contoh :

  • Produk A dipesan konsumen sebanyak 100 pcs.
  • Produk B dipesan konsumen sebanyak 50 pcs.
  • Produk C tidak ada pesanan.

Maka PPIC tidak perlu merencanakan untuk produksi produk C, namun PPIC perlu membuat perencanaan produksi produk A dan produk B.

“Pesanan konsumen menentukan seberapa banyak produk tersebut harus dibuat”

Dalam contoh diatas, maka :

  • Produk A dibuat sebanyak 100, karena pesanan konsumen adalah 100.
  • Sedangkan produk B dibuat sebanyak 50 karena pesanan konsumen hanya 50.
  • Demikian juga untuk produk C karena tidak ada pesanan konsumen, maka perusahaan tidak perlu membuatnya.

Selain itu PPIC juga harus  memonitor pelaksanaan jadwal produksi serta melakukan pengendalian inventori.

Jadi PPIC juga harus sudah dibuat jadwal produksinya.

Misalnya dalam perusahaan farmasi satu tahun ini perusahaan tersebut akan memproduksi berapa batch?

Nah dalam 1 tahun tersebut di break down, misalnya :

  • Bulan Januari buat berapa batch
  • Bulan februari buat berapa batch
  • dst

Atau jadwal juga bisa dibuat 2 bulan sekali,

Pada prinsipnya harus ada jadwalnya dan harus ada waktu pelaksanaan.

Atau dengan kata lain PPIC harus membuat MPS (Master production schedule) dan MRP (Material Requirement Planning).

Selain itu PPIC juga harus membuat perbandingan harga dari beberapa supplier.

Karena harga jual produk juga berasal dari perhitungan departemen PPIC maka secara otomatis PPIC juga harus mengetahui perbandingan harga berapa dan membuat analisisnya.

Memastikan kecukupan sumberdayanya

Misalnya :

Masih menyambung contoh diatas, jika untuk membuat produk A diperlukan material bahan baku :

  • X : 1
  • Y : 1
  • Z : 2

Maka untuk membuat produk A sebanyak 100, maka diperlukan material bahan baku sebanyak :

  • X : 100
  • Y : 100
  • Z : 200

Demikian juga untuk produk B

Jika untuk membuat produk B diperlukan material bahan baku :

  • X : 2
  • Y : 1
  • Z : 1

Maka untuk membuat produk B sebanyak 50 tersebut diperlukan material bahan baku sebanyak :

  • X : 100
  • Y : 50
  • Z : 50

Kemudian material bahan baku untuk rencana produksi produk A dan produk B tersebut dijumlahkan sehingga total material bahan baku yang dibutuhkan adalah :

  • X : 200
  • Y : 150
  • Z : 250

Nah sekarang setelah kita mendapatkan nilai / angka kebutuhan material bahan baku yang diperlukan, maka kita lihat di gudang bahan baku tersebut, cukup tidak inventorynya?

Misalnya : ternyata material bahan baku X di gudang hanya tersedia 100, maka kita perlu memesan 100 lagi karena masih kurang 100 %.

Hal diatas merupakan gambaran tugas PPIC khususnya yang bagian inventory control yaitu untuk memastikan kecukupan sumberdaya / material bahan bakunya.

Baca Juga : Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku Pada Industri Farmasi

Kapan Produk Tersebut Harus Diselesaikan

membuat jadwal produksi

Misalnya : Pemesan / konsumen ingin produk pesanan mereka (contoh : produk A) diantar sampai ke tempat atau ingin diambil ke perusahaan pada tanggal 20 desember 2022, dimana waktu produksi produk A tersebut adalah 10 hari.

Maka produk A tersebut harus mulai diproduksi tanggal 10 desember 2022 sehingga tanggal 20 desember 2022 bisa diambil oleh konsumen.

Jadi PPIC juga bertugas dalam perencanaan dan pengendalian produksi juga menentukan kapan produk tersebut harus diselesaikan.

Menentukan Kapan Produk Harus Dipesan atau Dibuat

Jika pada contoh kasus diatas, maka produk A harus dipesan ke departemen produksi pada tanggal 10 desember 2022.

Jadi hubungan antara departemen PPIC dan departemen produksi adalah pemesanan.

PPIC seperti konsumennya departemen produksi, sedangkan konsumennya PPIC adalah departemen sales / marketing.

Memastikan Kecukupan Kapasitas Produksi

Jika yang sebelumnya terkait dengan kapasitas / kecukupan sumberdayanya, maka untuk point ini adalah untuk kapasitas produksinya.

Misalnya :

Konsumen memesan produk A sebanyak 100 dan produk B sebanyak 50, maka kapasitas produksinya cukup tidak dalam satu bulan?

Contoh :

Kapasitas produksi selama ini perbulannya adalah 200 maka bisa dikatakan kapasitas produksi tersebut mencukupi karena produk yang dipesan hanya 150.

Namun jika kapasitas produksi selama ini hanya 100 dan permintaan konsumen 150 maka kita harus pikirkan yang 50 lagi mau diproduksi di mana,

Misalnya :

Dengan melemburkan karyawan untuk meningkatkan kapasitas produksinya, misalnya dengan melemburkan karyawan terebut kapasitas bertambah 30, sehingga baru terpenuhi 130 pcs, dan masih kurang 20 lagi.

Nah kita tetap memikirkan solusi lainnya untuk mencover kapasitas yang kurang sebanyak 20 tadi, misalkan ditambah dengan menggunakan subkontrak ke perusahaan lain untuk 20 nya.

Sehingga total produk yang di produksi sudah mencapai 150 pcs dan sudah sesuai dengan pesanan konsumen.

Memastikan Kecukupan Inventory

Antara lain :

  1. Material
  2. Sumberdaya manusia
  3. Mesin
  4. Listrik

Melakukan evaluasi forecast accuracy

Apa Itu Forecast?

pengertian forecast

Forecast / peramalan : proses untuk memperkirakan beberapa kebutuhan dimasa mendatang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu, dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan.

Karena yang ada di departemen PPIC adalah perencanaan, maka juga harus melakukan peramalan.

  • Kira-kira dimasa mendatang masih laku nggak ya produk ini?
  • Kira-kira kita membutuhkan kuantitas beberapa?
  • Kita harus menghasilkan kualitas yang seperti apa?

Forecast ini harus kita lakukan dalam membuat perencanaan karena kita harus mencoba meramalkan apa yang kira-kira nanti dibutuhkan oleh masyarakat dimasa mendatang.

Namun peramalan terebut harus didasarkan juga dari data-data yang sudah ada dari berbagai macam faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan Forecast.

Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Forcast

faktor yang mempengaruhi forecast

 

  • Evaluasi proses tahun lalu

Bagaimana peramalannya tahun lalu itu apakah sesuai dengan kenyataan / apakah terlalu berlebihan / masih kurang?

Hal tersebut harus kita lihat evaluasinya.

  • Kondisi Market

Misalnya beberapa tahun yang lalu terjadi pandemi, sehingga banyak yang dibutuhkan itu produk-produk yang berhubungan dengan kebersihan / vitamin, seperti hand sanitizer, madu, dll

Sehingga kita harus melihat kondisi market ini sedang membutuhkan produk-produk apa.

  • Pengembangan produksi

Pengembangan produksi juga harus kita lihat pada saat membuat forecast.

  • Batas kadaluarsa

Jangan sampai peramalan yang kita lakukan terlalu berlebihan sehingga produknya melebihi batas kadaluarsanya.

Karena jika sudah sudah dekat dengan batas kadaluarsanya nanti akan merugikan perusahaan kita sendiri.

  • Tingkat inflasi, keadaan ekonomi, sosial dan politik

Hal ini juga harus kita pertimbangkan.

Bagaimana kemampuan pasar / konsumen dalam membeli produk kita, misalnya : apakah sedang terjadi krisis, apakah produk diproduksi bersamaa dengan pendaftaran sekolah sehingga daya beli konsumen menurun, dll

Nah pada saat akan memesan bahan-bahan (material) perlu diperhatikan :

  • Lead Time
  • MOQ (Minimum Order Quantity)
  • Costnya dalam bentuk apa :
  • FOB (Free On Board)
  • C&F (Cost and Freight)
  • Landed Cost

Cara Menghitung Landed Cost

rumus landed cost

Gambar tabel diatas merupakan gambaran cara menghitung Landed Cost. 

Dimana Landed Cost merupakan penjumlahan nomor 1 s/d nomor 5 (Penjumlahan C&F s/d Other)

Landed Cost = No. 1 + No. 2 + No. 3 + No. 4 + No. 5

Dimana landed cost adalah harga yang sudah termasuk harga keseluruhan, mulai dari :

  • Harga pengiriman / ongkos kirim, misal : lewat cargo kapal / lewat udara / lewat darat menggunakan truk, dll
  • PPN
  • Bea masuk
  • Asuransi
  • dll

Jadi landed cost bukan hanya harga produknya saja, namun kita harus menghitung juga harga keseluruhan. atau dengan kata lain, harga akhir tersebut yang disebut dengan landed cost.

Pada tabel diatas ada istilah FOB dan C&F. Apa pengertian dari kedua hal tersebut?

  • Pengertian FOB 

FOB : Pembeli tidak membayar pengirimannya, namun yang membayar adalah penjualnya.

Misal :

Kita akan membeli barang dari India, maka perusahaan dari India tersebut yang akan membayar keseluruhan ongkos kirim dari India ke Indonesia namun secara tanggung jawabnya sudah lepas karena pihak dari India atau penjualan sudah membayarkan ke angkutannya / ke kapalnya, maka mereka sudah tidak bertanggungjawab lagi ketika ada kerusakan atau kehilangan dan menjadi tanggung jawab pembeli.

  • Pengertian C&F

C&F (Cost and Freight)

Pada kasus yang sama seperti diatas, maka untuk pengiriman barang yang membayar bukan dari produsen / perusahaan di india, tetapi dari kita yang membayarnya.

Namun penjualnya / produsen dari india tetap bertanggung jawab sampai barang tersebut sampai ke Indonesia /  mendarat di pelabuhan / di bandara.

Umumnya industri di indonesia lebih memilih yang C&F sehingga jika nanti terjadi kerusakan masih menjadi tanggung jawab dari penjualnya.

Contoh Menghitung Landed Cost :

Perusahaan melakukan pembelian bahan baku / raw material dexamethasone 20 kg (MOQ).

MOQ : Minimum Order Quantity

Harga FOB = US Dollar 2,3 / kg (Harga dimana masih belum termasuk ongkos pengiriman)

Didatangkan dengan air freight (menggunakan jalur udara) dengan BM (biaya masuknya) = 15 % dan PPn BM (biaya masuknya) = 10 %

Diketahui :

Rate 1 US dollar = Rp 9.000,-

Insurance = 0,35 %

Other = 3 %

Berapa harga C&F dan landed cost dari Dexamethasone tersebut ?

Kembali ke tabel rumus untuk mencari landed cost diatas…

Jika dilihat dari persamaan diatas, C&F adalah gabungan antara FOB dan freightnya.

Freightnya jika kita lihat ini ada 2 :

  • Sea freight / jalur laut.
  • Air freight / jalur udara.

Nah untuk ongkos kirimnya tentu lebih mahal yang udara karena lebih cepat yaitu 10 % dari FOB sedangkan untuk yang Sea freight 2 – 5 % dari FOB.

Karena pembelian menggunakan air freight / jalur udara sehingga freight nya 10 % dari FOB.

Karena tidak menggunakan jalur darat maka yang point truck diabaikan.

Harga = USD 2,3/kg.

Maka jika dibuat perhitungan, hasilnya adalah seperti yang tertera pada tabel dibawah ini :

perhitungan landed cost

  1. FOB = Rp. 414.000
  2. Freght = 10 % x Rp. 414.000 = Rp. 41.400
  3. C&F = Rp. 414.000 + Rp. 41.400 = Rp. 455.400
  4. BM = 15 % x Rp. 455.400 = Rp. 68.310
  5. PPn BM = 10 % x (Rp. 455.400 + Rp. 68.310) = Rp. 52.371
  6. Insurance = 0.35 % x Rp. 455.400 = Rp. 1.594
  7. Other = 3 % x Rp. 455.400 = Rp. 13.662

Total landed Cost  = Rp. 591.337 (Penjumlahan dari C&F s/d other).

Cara Menghitung COGM dan COGS

COGM singkatan dari Cost of Good Manufacturing

cara menghitung COGM

COGM adalah harga pada saat proses pembuatan dari produk tersebut.

Faktor yang mempengaruhi cost of Good Manufacturing COGM (Cost of GOod Manufacturing) tadi adalah :

  • Raw material
  • Packaging Material
  • Overhead / hal-hal yang tidak terduga yang tiba-tiba muncul pada saat proses produksi.
  • Direct Labor /Biaya untuk membayar pegawainya.

Keseluruhan hal diatas nanti akan dihitung untuk mendapatkan COGM (Cost of GOod Manufacturing) / harga dari proses pembuatan.

Pointnya adalah :

Untuk COGM itu hanya harga dari proses pembuatan, jadi masih belum ada untungnya karena masih menghitung harga dari bahan baku, harga dari bahan kemas, harga dari pegawai, kemudian harga atau biaya untuk hal-hal yang tidak terduga. Sehingga masih belum kita tambah margin / laba dan ketika sudah ditambah laba maka hasilnya adalah COGS.

Contoh Soal Cara Menghitung COGM dan COGS

Kali ini kita akan mencoba menghitung COGM dan COGM dari Dexamethasone Tablets dengan data informasi sebagai berikut :

contoh soal cara menghitung cogm dan cogs

Oya untuk mempermudah perhitungan dalam menghitung COGM dan COGS tersebut, sebaiknya dibuat dalam bentuk tabel excel saja.

  • Menghitung Cost Raw Material

raw material dexa

Tabel diatas merupakan contoh kebutuhan raw material yang digunakan beserta nilai waste nya (3 % sesuai dengan soal pada tabel sebelumnya) untuk membuat 1 batch dari Dexamethasone yang disalin dari informasi tabel sebelumnya.

Untuk penggunaannya kita ke jadikan kg biar sama satuannya karena harga jualnya juga per kg.

Nah ketika kita memproduksi suatu bahan dan misalnya kita butuh bahannya 0,1 kg, kita harus mengantisipasi apakah ada yang terbuang, tumpah, dll maka kita antisipasi dengan menambahkan saste sebanyak 3 % dari penggunaan (seperti informasi pada tabel sebelumnya), sehingga waste nya adalah :

  • Untuk dexamethasone : 3 % x 0.1 Kg
  • Untuk lactose : 3 % x 16.800 kg
  • dst

Waste tersebut diatas ditambahkan sehingga menjadi raw material yang digunakan (kolom standar usage pada tabel diatas).

Dan untuk mendapatkan standar cost adalah standar usage x harga/kg (kolom standar cost pada tabel diatas).

Setelah dihitung semuanya kita tambahkan untuk mendapatkan cost raw material adalah Rp. 1.183.470,-

Catatan : Perhitungan diatas baru untuk raw material saja.

Kemudian kita lanjutkan menghitung cost packaging material.

  • Menghitung Cost Packaging Material

 

biaya packaging material

Tabel diatas merupakan contoh untuk perhitungan cost kemasan, labor, dan overhead.

Nah seperti pada tabel soal dimana packaging material menggunakan pot.

1 Pot isinya isinya 1.000 tablet

Dimana kemasan pot tersebut tentunya nanti masuk ke dalam kemasan karton, dimana :

1 karton isinya 30 pot

Di soal tersebut juga tertulis batch size = 200.000 tablet

Berarti untuk membuat 200.000 tablet :

  • Jumlah pot yang dibutuhkan adalah 200.000 tablet / 1.000 = 200 pot

Dan untuk karton yang dibutuhkan adalah

  • 200 pot / 30 = 6.67 dibulatkan menjadi 7 karton

Dalam soal memberikan keterangan untuk waste, dimana :

  • Untuk waste pot = 1 %
  • Untuk waste karton = 0.5 %

Sehingga…

Standar Usage untuk :

  • Pot = 200 + (1 % x 200) = 202
  • Karton 7 + (0.5 % x 7) = 7.035

Standar Cost untuk :

  • Pot = 202 x Rp 150 = Rp. 30.300,-
  • Karton = 7.035 x 450 = Rp. 3.165,75

Total pot dan karton tersebut adalah Rp. 30.300 + Rp. 3.165,75 = Rp. 33.465,75

Kemudian untuk labor dan overhead

Labor = Rp. 50 / dozen (lusin)

Dimana 1 Batch = 200.000 tablet

  • Maka 1 batch = 200.000 / 12 = 16.666,67 lusin

Sehingga untuk :

  • Labor = 16.666,67 x Rp. 50 = Rp. 833.333,50
  • Overhead = 16.666,67 x Rp. 75 = 1.250.000,25

Sub total labor dan Overhead = Rp. 2.083.333,75

Setelah itu kita rangkum seluruhnya dari raw material + pacaging material + labor + overhead

hasil perhitungan cogm dan cogs

Dan didapatkan total Rp 3.300.269,50 per batch (200.000 tablet).

Untuk harga per tablet (COGM) adalah Rp 3.300.269,50 / 200.000 = Rp.16.5

Untuk COGS, Jika margin yang diambil 50 %

50 % x COGM = Rp 8.25

COGS = Rp 8.25 + Rp.16.5 = Rp. 24.75 / tablet

Strategi Respons Terhadap Permintaan Konsumen

Design to Order / Engineers to Order

design to order

Dari mulai perancangan / desain sampai dengan memenuhi pesanan.

Dimana desainnya dilakukan di Indonesia, produksinya di Indonesia, dirakitnya juga di Indonesia sehingga dari sisi proses bisa dibilang paling panjang.

Untuk design to order :

  • Dimulai dengan mencari atau mengidentifikasi produk sesuai dengan permintaan konsumen.
  • Memerlukan survai terhadap keinginan atau permintaan konsumen (voice of customer)
  • Metransformasi voice of customer menjadi voice of enginering.

Misalnya :

Perusahaan elektronik yang memproduksi laptop melakukan survai dilakukan kepada 50 orang

Tentunya dari 50 orang tersebut mempunyai keinginan masing-masing terhadap laptop yang menjadi pilihannya.

  • Ada yang suka bagian luar laptop licin sehingga tidak mudah tergores
  • Ada yang suka yang warna silver
  • Ada yang suka yang warna hitam
  • Ada yang suka warna merah
  • Ada yang suka ada DVD-nya
  • Ada yang suka tidak ada DVD-nya supaya tipis dan mudah dibawa kemana-mana
  • dll

Dari hasil survai tersebut kita cari keinginan yang terbesar dari 50 orang tersebut.

Misalnya :

  • Dari sisi warna apa?
  • Dari sisi luarnya seperti apa?
  • Dari sisi fiturnya bagaimana?

Dari pilihan konsumen yang terbanyak itulah yang akan dibuat / diproduksi oleh perusahaan.

Hal diatas adalah cara perusahaan dalam mengidentifikasi permintaan konsumen.

Make to Order

make to order

Dari mulai produksi sampai memenuhi pesanan.

Misalnya : Produk mobil yang umumnya kita temui di jalan, dimana spare partnya dibuat di Indonesia dan dirakitnya juga di Indonesia.

Untuk make to order pointnya adalah :

  • Membuat produk sesuai permintaan konsumen
  • Produsen sudah mempunyai beberapa desain standar. Konsumen memilih salah satu atau beberapa desain yang diinginkan.
  • Desain produk diberikan oleh konsumen.

Misalnya : Perusahaan jamu yang telah menerapkan standar CPOTB dengan produk berupa minyak angin dengan kemasan botol platik beberapa ukuran, 25 ml ; 50 ml ; 100 ml.

Perusahaan tersebut bekerja sama dengan supplier / vendor kemasan untuk membuat botol tersebut.

Karena pesanan botol baru dilakukan beberapa kali dan belum terlihat trend / kecenderungannya, maka vendor kemasan tersebut biasanya menerapkan make to order, yaitu membuat botol sesuai dengan permintaan perusahaan jamu tersebut.

Assamble to Order

Dari mulai perakitan / merakit produk sesuai permintaan konsumen sehingga secara inventory part lebih banyak, namun secara proses lebih pendek karena tidak membuat sendiri namun hanya merakit.

Misalnya : Produk mobil-mobil mahal dimana perakitannya di Indonesia namun untuk produksi spare partnya dilakukan di luar negeri.

Make to Stock

make to stock

Produksi dalam jumlah banyak untuk untuk membuat stok.

Misalnya produk-produk yang sering kita temui di swalayan (produk kosmetik, sabun, dll).

Langkah-Langkah PPC

  • Melakukan peramalan permintaan karena PPIC mau menentukan produk apa yang mau dibuat sehingga perlu ada peramalan dan perlu menentukan jumlahnya.
  • Melakukan perencanaan produksi agregat
  • Memastikan kecukupan sumber daya (Resource Requirement Planning – RRP)
  • Membuat jadwal induk produksi (MPS – Master Production Schedule).

    Jadwal produksi tersebut isinya tentang :

    • Waktu kapan dilakukan produksi
    • Berapa yang harus dibuat, dan
    • Bisa ditambah juga dengan staf-staf yang bertanggung jawab dalam produksi tersebut

    Untuk membuat jadwal produksi tersebut kita harus tahu forecastnya terlebih dahulu atau ramalan dari departemen marketing / penjualannya, melakukan rapat, dll sehingga ramalan yang kita buat bisa tepat dan dievaluasi. Kemudian setelah melakukan evaluasi dari forecast, baru dibuat MPS dan didistribusikan ke bagian produksi kemudian diuji QC dan direview dan disetujui oleh QA baru barang masuk ke gudang.

Baca Juga : Tugas Inspector QA (Quality Assurance) di Industri Farmasi

  • Menvalidasi MPS – jadwal induk produksi – Rought cut capacity planning – RCCP
  • Membuat MRP (Material Requirement Planning)
  • Memastikan kecukupan kapasitas produksi (Capacity requirement planning – CRP)
  • Membuat POR
  • Pengendalian inventori

Kesimpulan

persyaratan staff ppic

Karena PPIC adalah bagian yang sangat penting di dalam perusahaan, maka diperlukan personel-personel yang kompeten dalam melakukan tugasnya.

Berikut ini adalah beberapa kriteria terkait dengan kompetensi personel PPIC tersebut :

  • Communication Skill

Karena PPIC lingkup pekerjaannya luas, dia harus berhubungan dengan departemen sales marketing, Quality, produksi, gudang, dll.

Bagaimana kita mengkomunikasi rencana-rencana produksi perusahaan dalam 1 minggu / 1 bulan ke depan ke departeman lain.

  • Problem Solving

Staff PPIC juga harus mempunyai skill problem solving, karena masalah dalam perencanaan produksi hampir pasti terjadi setiap saat, dari masalah ketersediaan stock material bahan baku dan bahan jadi sampai dengan tertahannya stock karena hasil analisa yang belum memenuhi persyaratan.

  • Data Driven Decission Making

Di lapangan seringkali terjadi masalah, misalnya masalah di quality, di produksi, di gudang, dll yang tentunya berdampak pada pekerjaan staff PPIC.

Sebagai staff PPIC dalam proses pengambilan keputusan pekerjaan harus berdasarkan data aktual dan bukan intuisi atau pengamatan saja.

  • Mampu Menggunakan Microsoft Office

Pasti lah ya.. Mengingat dalam pekerjaan PPIC sudah pasti setiap hari kita bersinggungan dengan excel dan power point untuk mempresentasikan rencana-rencana produksi di minggu / bulan depannya.

  • Memahami Sistem Manajemen

Untuk perusahaan besar tentunya sudah menerapkan beberapa sistem manajemen baik itu ISO 9001, ISO 14001, dll. Maka personel QC harus memahami persyaratan standar tersebut, dan tentunya senantiasi dapat memberikan sumbang sih untuk tindakan perbaikan (Continues Improvement) di perusahaannya.

Baca Juga : Pengertian Continues Improvement dalam Proses Bisnis Perusahaan

Semoga Bermanfaat.

Referensi :

Kuliah Online PPIC

Teori Farmasi Industri – PPIC

Tugas Inspector QA (Quality Assurance) di Industri Farmasi

Tugas Inspector QA (Quality Assurance) di Industri Farmasi

Banyak departemen di dalam perusahaan, dan juga banyak bagian dengan masing-masing tugasnya di dalam departemen tersebut, sebut saja operator produksi, QC analis, staff gudang, bagian teknik / maintenance, inspector QA, staff formulasi, dll. Nah kali ini kali ini kita akan khusus membahas mengenai tugas inspector QA tersebut khususnya di perusahaan makanan atau farmasi yang mungkin telah menerapkan standar CPOTB ataupun CPOB.

Singkatan di dalam Artikel ini :

QA : Quality Assurance

QC : Quality Control

CPOB : Cara Pembuatan Obat yang Baik

CPOTB : Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

Sekilas Tugas Inspector di Industri Farmasi

Inspector adalah orang yang pekerjaannya langsung mengamati proses produksi obat atau obat tradisional di ruang produksi dimana hasil pengamatannya ditulis kemudian dilaporkan ke atasannya / supervisor baik supervisor QC / supervisor QA.

Untuk QA sendiri biasanya terkait dengan pelulusan produk jadi dan juga validasi.

Meskipun ada juga perusahaan lain yang QA dan validasinya ini dijadikan departemen terpisah sehingga inspektornya dinamakan Inspector validasi.

Setelah melapor ke supervisor, kemudian supervisor membuat laporan dengan kesimpulan yang dia sampaikan ke manajer dan manajer QA menyetujui laporan tersebut kemudian laporan ini akan digunakan oleh bagian pelulusan produk.

Jadi QA tadi untuk meluluskan atau mereject / menolak produk jadi.

Kurang lebih seperti alur diatas gambaran umum tugas QA Inspector dalam industri Farmasi / dalam pabrik obat.

Nah sekarang kita bahas khusus mengenai inspector. Apa aja sih tugas-tugasnya?

Seperti kita ketahui, inspector dalam suatu perusahaan makanan / farmasi ada 2 macam, yaitu :

  • Inspector QC
  • Inspector QA

Disini anggap validasi masuk ke QA ya.

Tugas Inspector QC

Untuk inspector QC seperti yang kita telah dibahas sebelumnya, beberapa tugasnya antara lain mengambil sampel dan melakukan phisical test pada tahap sebelum produk jadi.

Misalnya :

Perusahaan farmasi dengan produk tablet, maka di dalam proses sebelum menjadi produk tablet tersebut tentunya ada tahapan / proses sebelumnya antara lain : penimbangan, pencampuran, granulasi, dll.

Nah mereka mengambil sampel dan melakukan phisical test pada tahapan-tahapan tersebut.

Apa itu phisical test?

Phisical test yaitu melakukan analisa dengan cara seperti melihat warnanya sesuai dengan yang seharusnya atau tidak, bentuk produk (serbuk / granul), uji kekerasan, uji kerapuhan, dll

Hal-hal tersebut biasa dilakukan oleh Inspector QC.

Tugas Inspector QA

Pemeriksaan Batch Record

contoh batch record

Mengecek kelengkapan batch record, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh inpector QA bagian pelulusan produk jadi.

Jadi pada saat melakukan proses produksi obat harus terdapat batch record berupa kumpulan lembaran-lembaran kertas / form yang telah diisi oleh bagian produksi dan dilakukan pengecekan oleh bagian QC misalnya pada catatan pengolahan batch, catatan pengemasan batch, contoh kemasan primer dan sekunder, hasil analisa mikrobiologi, dll.

Nah apakah pengisian batch record tersebut sudah secara benar dilakukan, apakah tanda tangan dari petugas yang berwenang (misal : operator, pengawas produksi, pengawas, QC) juga sudah diisi dengan lengkap, apakah secara yield / jumlah yang produk jadi memenuhi persyaratan atau tidak? Jika tidak maka harus ditelusuri permasalahannya, dll.

Validasi Proses dan Validasi Pembersihan

tugas qa inspector melakukan validasi proses

Namun kalau inspector QA cenderung ke validasi, itupun hanya untuk produk-produk yang sedang divalidasi ataupun yang sedang di revalidasi, misalnya : adanya produk baru maka harus dilakukan validasi proses terhadap produk baru tersebut termasuk dengan validasi pembersihan jika pada mesin-mesin yang digunakan untuk proses produk baru tersebut.

Menempel Label QA Released

label qa released

Menempel label QA released dan memastikan penyusunan di truk container sudah dilakukan dengan benar. Hal ini juga biasanya menjadi tanggung jawab inspector QA pelulusan produk jadi.

Ketika manager QA memutuskan bahwa produk jadi di released / diluluskan maka harus ditempel label QA Released. Label ini berbentuk kotak kecil atau besar tergantung sama perusahaannya dan terdapat tulisan QA released.

Penyusunan dalam truck container tersebut untuk memastikan bahwa dalam proses distribusi, kardus obat tidak rusak. Seperti kita ketahui begitu keluar dari gudang produk jadi maka produk / obat tersebut akan diangkut ke Pedagang Besar Farmasi (PBF) sehingga harus dipastikan bahwa proses pemasukan obat ke dalam truk dan susunan kardus-kardus obat di dalam truk tadi.

Melakukan Uji Stabilita

uji stabilita

Mengambil sampel dan melakukan phisical test untuk keperluan uji stabilita. Untuk sampel ini biasanya dilakukan oleh inspektor QA dimana di departemen QA tersebut umumnya terdapat bagian stability yang salah satu tanggung jawabnya adalah mengambil sampel kemudian melakukan pengecekan dalam interval tertentu.

Misalnya : per 1 bulan, per 3 bulan, per 6 bulan, per 9 bulan, per 12 bulan yang tujuannya untuk melihat apakah obat itu stabil atau tidak.

Contohnya : perusahaan menghassilkan produk dengan masa kadaluwarsa 2 tahun, maka inspector QA tersebut akan melakukan pengecekan pada sampel stability pada interval 3 ; 6 ; 9 ; 12 ; 15 ; 18 ; 21 ; 24 bulan (atau engan interval yang sudah ditetapkan pada prosedur uji stabilita.

Melakukan Inspeksi Diri

Seperti yang kita ketahui, inspeksi dari ini merupakan salah satu persyaratan dari perusahaan yang menerapkan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) dan CPOB. Dan hal ini merupakan salah satu bagian tugas dari QA.

Sangat penting bagi personel QA untuk mendapatkan pelatihan CPOTB dan CPOB sebelum dia melakukan tugas inspeksi diri karena seperti kita ketahui pada saat inspeksi diri tersebut mereka akan melakukan penilaian dari pekerjaan sehari-hari / sistem yang sudah dilakukan di departemen lain khususnya di departemen produksi, QC, ataupun logistik.

Melakukan Audit Supplier

audit-proses-dan-audit-produk

Ini juga menjadi salah satu tugas tambahan dari inspektor QA dalam membantu supervisor QA.

Seperti kita ketahui untuk memproduksi obat atau obat tradisional, maka diperlukan bahan baku baik berupa raw material (RM) maupun packaging material.

Untuk memastikan kinerja pada supplier bahan baku terebut, maka harus dilakukan audit untuk supplier baru sebelum supplier tersebut masuk ke dalam daftar supplier terpilih, dan diaudit secara berkala dalam interval tertentu untuk supplier-supplier yang memang sudah masuk ke dalama daftar supplier terpilih.

Tentunya penentuan prioritas mana supplier yang harus diaudit terlebih dahulu bisa ditetapkan berdasarkan berbagai macam faktor, misalnya :

  • Quantity material yang di supply
  • Tingkat reject material yang di supply
  • dll

Dari aktivitas audit tersebut akan memberikan kesimpulan apakah supplier tersebut masih layak digunakan sebagai pemasok atau dikeluarkan dari pemasok.

Jika audit supplier tersebut ditemukan banyak kesesuian makan supplier bersangkutan harus membuat CAPA (Corrective Action and Preventive Action) sebelum mereka memasok produknya ke perusahaan kita.

Menjalankan Program Kalibrasi

Mengkoordinir program kalibrasi di dalam suatu perusahaan merupakan hal penting. Seperti kita ketahui, tentunya terdapat banyak sekali peralatan / mesin di dalam perusahaan tersebut, dan terkadang kalibrasi ini menjadi bagian dari departemen QA (meskipun ada perusahaan lain yang memasukkannya di departemen teknik).

Nah disinilah peran inspektor QA, dia harus membantu supervisor QA dalam menyusun prosedur untuk pengelolaan alat ukur di perusahaan dan membuat form-form untuk keperluan yang terkait dengan kalibrasi alat ukur tersebut.

Misalnya :

  • Membuat form jadwal kalibrasi dan laporan kalibrasi bulanan.
  • Membuat form permintaan kalibrasi dari departemen lain.
  • dll.

Pada prinsipnya semua harus dikelola supaya tidak terjadi keterlambatan dalam kalibrasi alat.

Semoga bermanfaat

Pengertian Akurasi dalam Uji Kinerja Metode Uji Laboratorium

Pengertian Akurasi dalam Uji Kinerja Metode Uji Laboratorium

Akurasi merupakan hal penting terkait dengan verifikasi atau validasi metode dimana parameter ini merupakan salah satu kinerja uji yang harus dilakukan pada aktivitas tersebut. Namun apa sebenarnya pengertian akurasi ini dan bagaimana cara melakukan uji kinerja akurasi ini?

Yuk kita simak dalam artikel berikut..

Singkatan dalam artikel :

  • CRM : Certificate Reference Material
  • SRM : Standard Reference Material

Pengertian Akurasi dalam Pengujian Kimia

pengertian akurat dalam validasi metode

Akurasi didefinisikan sebagai kesesuaian antara rata-rata hasil uji dengan nilai benar analit / nilai acuan analit yang dapat diterima. Dimana nilai benar analit tersebut dapat diperoleh dari Certificate Reference Material (CRM) atau Standar Reference Material (SRM).

Nilai benar analit mempunyai perbedaan dengan nilai acuan analit yang dapat diterima, dimana nilai benar analit menyatakan nilai sebenarnya dari analit dalam CRM, sedangkan nilai acuan analit yang dapat diterima belum tentu merupakan nilai benar.

Misalnya :

Nilai konsensus dari suatu hasil uji profisiensi. Dalam hal ini yang digunakan untuk menetapkan akurasi adalah sisa sampel uji profisiensi yang dibeli kembali oleh providernya. Dimana biasanya provider uji profisiensi tersebut menetapkan nilai contoh uji profisiensi tersebut melalui antara lain nilai konsensus dari laboratorium peserta uji profisiensi yang bisa saja nilai tersebut bias, karena kebanyakan laboratorium peserta uji profisiensi memberikan nilai yang bias.

Sehingga seperti yang diuraikan diatas, nilai acuan analit yang dapat diterima belum tentu merupakan nilai benar atau bisa berupa nilai benar, bisa juga tidak. Akan tetapi dalam hal menetapkan akurasi penggunaan nilai acuan analit yang dapat diterima, hal tersebut diperbolehkah.

Akurasi menunjukkan kedekatan hasil uji terhadap nilai sebenarnya analit dalam contoh. Hal ini berbeda dengan presisi yang hanya menunjukkan kesesuaian antara beberapa hasil uji yang diperoleh dengan cara yang sama. Akurasi menggambarkan kesalahan sistematik atau bias.

Baca Juga : Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak

Bagaimana Cara Menentukan Akurasi?

Ada beberapa cara untuk menentukan akurasi, yaitu :

  • Menggunakan CRM bahan acuan tersertifikasi.

    CRM memiliki nilai tersertifikasi yang tertelusur ke standar internasional (SI) dan dapat dijadikan sebagai nilai acuan untuk nilai yang sebenarnya. Syarat CRM yang digunakan harus memiliki komposisi matriks yang mirip contoh uji, karena matriks bisa menimbulkan gangguan dalam penetapan.

Sehingga apabila laboratorium memilih cara ini maka disarankan memilih CRM yang mempunyai komposisi matriks yang mirip dengan contoh uji sehingga gangguan yang biasa dialami pada contoh juga muncul pada saat laboratorium menguji CRM.

  • Perbandingan 2 metode independen yang digunakan untuk menetapkan analit yang sama.

Maskud independen adalah 2 metode yang diperbandingkan tidak boleh menunjukkan prinsip metode yang sama / kedua metode tersebut harus saling tidak terkait. Contoh 2 metode yang independen dan saling tidak terkait, misalnya :

    1. Metode titrasi dan metode gravimetri adalah dua metode independen.
    2. Metode spektrofotometer uv visible dengan metode HPLC adalah dua metode independen.

Catatan :

Namun membandingkan absorbansi analit pada panjang gelombang 254 nm dengan absorbansi 240 nm merupakan metode yang sama dengan prinsip penetapannya adalah penyerapan sinar oleh analitik yang akan ditetapkan. Sehingga hal ini bukanlah metode independen.

  • Menggunakan cara standar adisi

Menurut Eurachem, cara ini dilakukan dengan cara analisis terhadap blanko pelarut dan bahan acuan (CRM) menggunakan kandidat metode yang akan divalidasi atau diverifikasi dengan replikasi sebanyak 10 kali.

Blangko pelarut diperlukan karena menyangkut akurasi dari suatu metode maka harus ada koreksi terhadap respon yang diberikan oleh analit dikurangi respon yang diberikan oleh pelarut yang digunakan.

Sehingga kita akan mengurangi rata-rata analit dalam bahan acuan terhadap rata-rata blanko pelarut.

Setelah itu nilai analit sebenarnya dalam acuan dibandingkan dengan nilai hasil uji yang diperoleh setelah dilakukan koreksi terhadap blanko pelarutan.

Syarat keberterimaan pada penggunaan CRM?

Pembelian CRM selalu disertai dengan sertifikat CRM nya. Misalnya pada sertifikat CRM tercantum nilai analit beserta ketiakpastiannya :

11,05 ± 0,55 PPM

Maka hasil uji rata-rata dari 10 kali pengulangan tersebut harus terletak antara 10,50 – 11,60 ppm.

Merangkum dari yang telah dipaparkan diatas, yaitu apabila laboratorium tidak punya CRM maka akurasi dapat diperoleh melalui cara :

  1. Perbandingan dengan metode lain dimana metode lain tersebut harus tidak bergantung dari metode yang sedang divalidasi / harus independen
  2. Standar adisi

Cara Perbandingan dengan Metode Lain

Pada cara perbandingan dengan metode lain digunakan blanko pelarut dan bahan uji, dianalisa menggunakan kandidat metode dan metode lain yang berdiri sendiri tadi (yang tidak tergantung dari kandidat metode) dengan jumlah pengulangan sebanyak 10 kali.

Perhitungan dilakukan dengan cara rata-rata analit dalam bahan uji dikurangi rata-rata blangko. Bandingkan dengan hasil pengukuran serupa menggunakan metode lain. Selisihnya memberikan nilai penyimpangan metode relatif terhadap metode lain tersebut.

Untuk mengolah data hasil uji sehingga dapat ditarik kesimpulan apakah akurat atau tidaknya metode yang sedang divalidasi maka harus digunakan Uji T untuk membandingkan 2 kumpulan data.

Baca Juga : Penggunaan Uji T Test

Apabila laboratorium tidak mempunyai nilai benar analit atau nilai acuan analit yang dapat diterima dan juga tidak mempunyai metode lain yang independen untuk menguji analit yang sama maka akurasi dapat diperoleh melalui cara standar adisi menggunakan 5 atau 6 konsentrasi.

Cara Standar Adisi untuk Kinerja Uji Akurasi

pengertian akurat pada uji kinerja

Dapat dilihat pada gambar diatas, dimana disediakan 6 buah labu ukur dan ke dalam 6 labu ukur tersebut diisikan dengan sejumlah contoh yang sama. Misalnya menurut intruksi kerja kita harus memipet 25 ml contoh, maka kita masukkan ke dalam setiap labu ukur 25 ml contoh.

Kemudian ke dalam setiap labu ukur tersebut dilakukan spike menggunakan standar analit akan tetapi spike yang dipakai harus inkremen (makin kekanan konsentrasinya makin naik), dan untuk labu ukur yang pertama tidak kita masukkan apa-apa / pada labu ukur pertama isinya hanya sampel.

Kemudian lakukanlah pengujian seperti apa yang tertera pada intruksi kerja dan nanti apakah hasil uji atau respon yang didapat dari keenam labu ukur ini kita plotkan terhadap konsentrasi standar yang ditambahkan / terhadap nilai spike yang masuk ke dalam tiap labu ukur tersebut.

Sehingga akan diperoleh respon / hasil uji yang makin ke kanan makin naik.

Namun satu hal apa yang didapatkan dari labu ukur pertama jangan dimasukkan ke dalam kurva (nilai absorbansi atau nilai luas puncak dari labu ukur pertama tidak dimasukkan pada kurva)

Setelah garis regresi ditarik dan diekstrapolasi sampai memotong sumbu x yaitu konsentrasi standar yang ditambahkan maka akan ada perpotongan antara garis regresi dengan sumbu x dan jarak ini bernilai negatif

Beri tanda Absolut pada nilai negatif tersebut dan semestinya apa yang didapat disini harus sama dengan apa yang kita peroleh dari labu ukur yang pertama.

Jadi apabila melalui uji t test nilai keduanya apakah itu respon ataupun konsentrasi dari labu takar pertama yang tidak dimasukkan kepada pada kurva dengan nilai yang diperoleh dari hasil ekstrapolasi garis regresi dan perpotongan antara sumbu x dengan ekstrapolasi tadi, kalau itu diperbandingkan dan nilai keduanya tidak berbeda nyata maka metode yang sedang divalidasi dapat disimpulkan akurat.

Dalam hal melakukan uji t seperti kita ketahui harus selalu ada minimal tiga data. Dengan demikian ini yang tergambarkan dalam spike baru mendapatkan satu data 1 pasang data, padahal harus dibuat percobaan seperti ini 2 x lagi dengan demikian kita mendapatkan tiga pasangan data dari nilai yang diperoleh dari hasil pengukuran pada labu pertama dengan hasil ekstrapolasi garis lurus terhadap sumbu x.

Semoga Bermanfaat

Referensi

Pojok Laboratorium Channel

Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku Pada Industri Farmasi

Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku Pada Industri Farmasi

Kegiatan sampling dalam industri farmasi merupakan suatu hal wajib untuk memastikan bahan baku, bahan setengah jadi / ruahan, dan bahan jadi tetap memenuhi standar yang telah ditetapkan. Untuk melakukan aktifitas sampling tersebut tentunya harus mengikuti aturan-aturan yang telah dibakukan sehingga sampel hasil sampling tersebut dapat mewakili karakteristik semua bahan baku.

Nah.. kali ini kita akan belajar mengenai metode pengambilan sampel yang sering digunakan dalam industri farmasi. Namun ada baiknya kita mengulas sedikit terlebih dahulu mengenai peranan personel QC dalam industri tersebut, karena hampir semua kegiatan sampling ini dilakukan oleh personel QC.

Singkatan dalam artikel ini :

  • QC : Quality Control
  • CPOB : Cara Pembuatan Obat yang Baik
  • GMP : Good Manufacturing Practice

Tugas dan Wewenang QC di Industri Farmasi

Tentu kita semua sudah familiar mengenai QC atau sering juga disebut dengan istilah pengawasan mutu, karena hampir pasti personel / departemen tersebut ada di setiap perusahaan, namun kali ini kita akan batasi tugas dan wewenang QC dalam industri farmasi dengan standar penerapan CPOB.

Pengawasan mutu atau QC merupakan bagian penting dari CPOB, karena pengawasan mutu kegiatannya tidak hanya terbatas pada kegiatan laboratorium saja namun juga terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk.

Jadi bisa dibilang QC ini seperti seorang polisi dalam industri farmasi.

Dimana dia akan melakukan pengawasan-pengawasan dan juga akan terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan yang terkait dengan mutu produk.

Sedemikian pentingnya peranan QC di sebuah industri farmasi maka bagian pengawasan mutu ini harus independen atau tidak boleh tergantung dengan bagian produksi. QC juga merupakan bagian dari sistem manajemen mutu atau quality management system dalam upaya menjamin setiap produk yang dihasilkan.

Tugas QC dalam industri farmasi yaitu :

  1. Memastikan bahwa bahan awal untuk produksi memenuhi spesifikasi yang ditetapkan untuk identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanannya >> Pemeriksaan bahan awal.
  2. Memastikan bahwa tahapan-tahapan proses produksi obat telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan >> Pengawasan selama proses produksi (In Process Control)
  3. Memastikan bahwa semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap batch produksi telah dilaksanakan dan batch tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusikan >> Evaluasi prosedur produksi dan pengkajian catatan produksi
  4. Suatu batch obat jadi memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang telah ditetapkan >> Program stabilitas.

Bagian QC juga memiliki wewenang khusus untuk memberikan keputusan akhir, meluluskan atau menolak atas  :

  1. Mutu bahan awal
  2. Mutu bahan kemas
  3. Mutu produk antara
  4. Mutu produk ruahan

Jadi mutu keempat diatas adalah menjadi wewenang khusus dari QC, terkait dengan pemberian keputusan akhirnya apakah lulus atau ditolak.

Tidak terbatas pada itu saja QC juga terlibat dalam hal lain yang mempengaruhi mutu produk.

Jadi terkait beberapa uraian dengan tugas-tugas QC diatas, maka kita akan membahas tugas QC dalam melakukan pemeriksaan bahan awal dan dalam melakukan pengawasan selama proses.

Baca Juga : Pekerjaan Quality Control dan Bedanya Dengan QA

Metode Pengambilan Sampel Bahan Awal Oleh QC

metode sampling adalah

Pemeriksaan Bahan Awal

  • Bahan Awal

Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat, yang berubah maupun tidak berubah, yang digunakan untuk pengolahan obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan.

Jadi semua komponen bahan yang memang terlibat dalam proses pengolahan obat walaupun nanti bahan tersebut pada produk ruahan sudah tidak ada lagi. Misalnya : kita membuat tablet dengan menggunakan pelarut bahan pengikatnya etanol dengan metode granulasi basah. Maka etanol tersebut tetap akan menjadi atau dianggap sebagai bahan awal walaupun nanti pada perjalanan proses pembuatan obatnya khususnya pada saat kita melakukan proses granulasi dan kemudian granul basah tersebut dikeringkan yang mengakibatkan etanol tersebut menguap dan sudah tidak tersisa di dalam granul kering.

Atau dengan kata lain pada granul kering tersebut etanol sudah tidak tersisa, artinya etanol tersebut juga tidak akan kita dapatkan di produk ruahan. Namun karena etanol terlibat dalam proses pembuatan tablet maka etanol tersebut akan kita anggap sebagai bahan awal.

  • Bahan Pengemas

Tiap bahan termasuk bahan cetak yang digunakan dalam proses pengemasan obat, tetapi tidak termasuk kemasan luar yang digunakan untuk transportasi atau keperluan pengiriman ke luar pabrik.

Bahan kemasan seperti kita ketahui, ada bahan pengemas primer (bahan pengemas yang kontak langsung dengan obat yang kita buat), bahan pengemas sekunder yaitu kemasan di luar bahan pengemas primer tetapi bersinggungan langsung dengan kemasan primer, bahan pengemas tersier yaitu kemasan yang kontak langsung dengan bahan pengemas sekunder.

Nah diantara ketiga bahan pengemas tersebut, yang akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas obat adalah bahan pengemas primer.

Namun juga perlu dipahami terkait pemahaman kemasan primer tersebut, yaitu misalnya diluar bahan pengemas tersebut dipergunakan cooling box karena obat tersebut peka terhadap suhu perubahan suhu, sehingga harus disimpan dengan menggunakan cooling box untuk mempertahankan suhu penyimpanan.

Maka cooling box ini tidak kita anggap sebagai bahan pengemas karena hanya digunakan untuk keperluan transportasi atau pengiriman keluar pabrik.

Pertanyaannya adalah kira-kira Bagaimana tahapan QC dalam melakukan pemeriksaan terhadap bahan awal? metode pengambilan sampel yang dilakukan seperti apa?

  • Jadi QC dalam melakukan tahapan pemeriksaan bahan awal diawali dengan melakukan pemeriksaan secara visual atas semua wadah yang diterima. Pemeriksaan visual ini contohnya adalah melakukan pemeriksaan administratif mulai dari :
    1. surat jalan
    2. Purchasing order / Purchase Request
    3. Nama bahan
    4. Nomor batch atau lot
    5. Nama pabrik pembuat
    6. Nomor wadah
    7. Tanggal expire datenya
    8. Dokumen Pelengkap seperti COA (Certificate of Analysis) dan MSDS (Material Safety Data Sheet)

Baca Juga : Pengertian MSDS Material Safety Data Sheet

  • Kemudian dilakukan pemeriksaan wadah apakah pada saat bahan baku tersebut diterima wadahnya dalam kondisi tidak rusak atau penyok kemudian tutup wadahnya apakah tertutup sempurna, segel, label, Apakah tercium bau asing atau tidak dan dalam kondisi basah atau tidak.

Setelah melakukan tahap pemeriksaan visual, selanjutnya QC akan melakukan pengambilan sampel. Untuk pengambilan sampel bahan awal dan untuk penentuan wadah yang perlu dilakukan sampling dapat dilakukan dengan tiga pola yaitu :

  • Pola n
  • Pola p
  • Pola r

Dari macam-macam teknik sampling tersebut apa saja bedanya dan kapan saja digunakannya?

Pola n

Metode pengambilan sampel dengan pola n ini digunakan jika bahan yang akan diambil sampelnya diperkirakan homogen dan diperoleh dari daftar pemasok yang disetujui. Pengambilan sampel dengan pola n ini dapat diambil dari dari bagian manapun dari wadah namun umumnya diambil dari lapisan atas.

Rumus dari Metode pengambilan sampel pola n adalah :

pola pengambilan sampel pola n

Dimana :

n : jumlah wadah yang perlu dibuka atau diambil sampelnya.

N : jumlah wadah dari bahan baku yang diterima.

Catatan :
Apabila N atau jumlah wadah bahan baku yang kita terima ≤ 4 maka sampel harus diambil dari tiap wadah.

Contohnya :

Industri farmasi menerima bahan baku sebanyak 4 wadah, dimana sampelnya diperkirakan homogen karena mungkin wadah kemasannya tersebut sama misalnya : 10 kg, Nomor batch / nomor lotnya juga sama, kemudian pemasoknya atau distributornya juga merupakan pemasok dari daftar pemasok yang disetujui.

Dalam kondisi tersebut diatas jika kita bisa menggunakan metode pengambilan sampling 1 + √4

Maka

1 + √4 = 3

Namun jika kita lihat di catatan maka sampel harus diambil tiap wadah karena jumlah sampel yang datang hanya 4 wadah.

Namun apabila jumlah sampel yang kita terima lebih besar dari 4 misalnya : mulai 5 ; 6 ; 7 dan seterusnya maka jumlah sampel yang perlu kita ambil adalah sesuai rumus 1 + √4.

Pola P

Metode pengambilan sampel dengan pola p digunakan jika bahan homogen diterima dari pemasok yang disetujui dan tujuan utama adalah untuk pengujian identitas.

Rumus dari Metode pengambilan sampel pola p adalah :

rumus metode sampling pola p

Dimana :

N : jumlah wadah yang perlu dibuka atau diambil sampelnya

p : jumlah wadah yang perlu dibuka atau diambil sampel berdasarkan pembulatan ke atas

Jadi pola P adalah pola yang akan diterapkan di awal pada pengambilan sampel bahan baku sebelum nanti bahan baku tersebut diuji lebih lengkap.

Pengujian identitas digunakan untuk melihat parameter awal apakah secara identitas bahan baku yang kita beli itu betul-betul memenuhi spesifikasi identitas bahan baku yang seharusnya. Misalnya pada contoh seperti diatas dimana ada kedatangan bahan baku 4 wadah dan kita ingin melakukan pengujian identitas, maka jumlah sampel yang diambil adalah :

0,4 x √4 = 0,8 kita bulatkan keatas menjadi 1

Nah.. Biasanya jika nanti pengujian identitasnya masuk persyaratan maka akan dilanjutkan ke pengujian sampling yang tujuannya adalah untuk pemeriksaan laboratorium secara lengkap baik itu fisika, kimia, maupun mikrobiologi yaitu bisa menggunakan rumus pola n atau pola r.

Pola R

Metode pengambilan sampel pola r digunakan jika bahan diperkirakan bahan tersebut tidak homogen, misalnya diketahui bahwa bahan yang kita beli mempunyai nomor batch yang berbeda atau wadah kemasannya besarnya berbeda-beda, sehingga dari asumsi tersebut kita memperkirakan bahan bakunya itu tidak homogen.

Pola r juga digunakan untuk bahan baku yang kita terima dari pemasok yang belum dikualifikasi.

Rumus dari Metode pengambilan sampel pola r adalah :

pola r

Dimana

N : jumlah wadah yang diterima atau diambil sampelnya

r : jumlah sampel yang diambil berdasarkan pembulatan ke atas.

Catatan :

Pola r ini juga dapat digunakan untuk bahan awal yang berasal dari herbal (ekstrak).

Jadi kalau kita mau membuat sebuah sediaan obat dimana menggunakan bahan baku awalnya salah satunya adalah ekstrak, maka untuk menghitung jumlah sampel yang perlu dilakukan sampling bisa menggunakan pola r.

Misalnya : industri farmasi membeli bahan baku sebanyak 4 wadah maka jumlah yang perlu di samping kalau kita menggunakan pola r itu adalah :

1.5 x √4 = 3

Jadi perlu dilakukan sampling sebanyak 3 wadah.

Catatan :

Selain mengenai bahan awal yang sudah kita uraikan di atas, ada juga bahan yang mungkin bukan berupa serbuk atau cairan namun bahan tersebut tetap diperlakukan atau sebagai bahan awal.

Jadi jika industri Farmasi membeli atau memperoleh produk ruahan dan produk antara yang diterima dari pihak ketiga, misalnya import maupun lokal maka produk ruahan dan produk antara yang diterima tersebut tetap harus diperlakukan sebagai bahan awal, termasuk jika produk tersebut berupa produk cair, produk setengah padat, atau serbuk dan granul.

Misalnya ketika produk antara atau produk ruahan tadi ditransportasikan dalam wadah dan dimaksudkan untuk diproses lebih lanjut atau untuk dikemas dalam wadah atau kemasan akhirnya serta sediaan tablet dan atau kapsul yang akan dikemas ke dalam wadah akhir maka tetap diperlakukan sebagai bahan awal.

Contoh kasus:

Sebuah industri farmasi di Indonesia yang bekerjasama atau melakukan impor produk dari luar negeri. Namun seperti kita ketahui terkadang jika kita melakukan import produk dari luar negeri tentunya sudah dikemas dalam kemasan yang beredar di luar negeri dan itu tidak diperbolehkan langsung diedarkan karena dari segi bahasa biasanya masih menggunakan bahasa dari negara asalnya.

Kemudian di negara kita sendiri dan tentunya mempunyai standar aturan untuk kemasan obat yang beredar di Indonesia sehingga biasanya industri farmasi tersebut jika akan melakukan import dalam produk yang belum dikemas dalam kemasan primer.

Baca Juga : Peraturan dalam Membuat Label Kemasan Makanan

Anggaplah yang dibeli adalah multivitamin diimpor masih dalam berbentuk tablet yang belum dikemas dan nanti akan dikemas dalam kemasan botol. Artinya produk tersebut datang ke Indonesia berupa produk ruahan karena sudah siap untuk dikemas.

Walaupun sudah berbentuk dalam bentuk tablet tetap akan diperlakukan sebagai bahan awal sehingga tetap harus dilakukan sampling layaknya sampling bahan baku walaupun kalau dilihat bentuknya sudah dalam bentuk tablet.

Kegiatan Pengambilan Sampel

macam macam teknik sampling

Untuk menghindarkan adanya pencemaran dan pencemaran silang terhadap bahan yang diambil sampelnya maka ada beberapa ketentuan yaitu :

  • Pengambilan sampel bahan awal dan bahan pengemas primer hendaklah dilakukan didalam ruang pengambilan sampel yang setara dengan kelas kebersihan jenis proses produksi dan dilengkapi dengan dust exstractor.

Misalnya : Sediaan tablet biasanya dilakukan proses pembuatannya dilihat diklasifikasi CPOB itu dikelas E maka pengambilan sampel bahan awal dan bahan pengemas primer yang terkait dengan pembuatan tablet tersebut itu dilakukan dikelas kebersihan yang sama yaitu kelas E juga.

  • Pengambilan hendaklah di bawah laminar air flow atau LAF dengan kelas kebersihan minimal sama dengan jenis produksi. Biasanya untuk yang Point yang kedua ini dalah pengambilan sampel untuk bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan sediaan steril.
  • Pencucian alat pengambil sampel hendaklah dilakukan di dalam ruangan dengan kelas yang sama dengan kelas produksi dan pembilasan akhir hendaklah menggunakan air murni atau purified water. Alat yang sudah dibersihkan tersebut kalau disimpan harus mempunyai batas waktu penyimpanan dan harus dibersihkan jika batas waktu tersebut terlampaui.

Jadi misalnya alat tersebut disimpan batas waktunya adalah satu minggu,Jika ternyata Alat tersebut akan digunakan melebihi batas waktu satu minggu, maka alat tersebut tidak boleh langsung digunakan tetapi harus dilakukan pembersihan kembali.

Hendaknya dilakukan validasi terhadap batas waktu penyimpanan sesuai dengan validasi batas waktu penyimpanan alat produksi. Jadi penentuan batas waktu penyimpanan tadi harus dilakukan pengkajian apakah memang jika disimpan selama satu minggu secara pengujian itu alat tersebut masih tetap dalam kondisi bersih dan layak digunakan ataukah tidak.

Baca Juga : Macam-Macam Alat Sampling di Industri

  • Untuk bahan yang susah dibersihkan, bahan yang berbahaya, maupun bahan yang berpotensi tinggi sebaiknya disediakan alat mengambil sampel tersendiri yang tentu saja dipisahkan atau dibedakan dengan alat pengambil sampel yang digunakan untuk bahan-bahan yang standar atau bahan-bahan yang umum.

Persyaratan Pengujian

Parameter pengujian tertentu untuk bahan awal yang telah disetujui pada saat pemberian izin edar dapat dikurangi bila hasil trend seluruh parameter yang diuji telah memenuhi persyaratan minimal pada 20 batch yang berbeda yang diterima berurutan dari pemasok atau pabrik pembuat yang sama, mempunyai sertifikat GMP dari otoritas negara terkait dan memenuhi 2 dari kriteria berikut :

  1. Dapat dipastikan dan diketahui pabrik pembuatnya (bukan distributor atau broker) dan ada jaminan dari distributor atau Broker yang menyatakan bahwa bahan awal dan COA atau certificate of analysis itu memang berasal dari pabrik pembuat tersebut.
  2. Pabrik pembuat itu sudah diaudit secara rutin oleh industri pengguna atau oleh organisasi profesional dalam bidang mutu dan memenuhi syarat GMP (Good Manufacturing Practice).
  3. Untuk bahan yang berasal dari Eropa, juga tersedia certificate of suitability untuk bahan awal terkait yang diterbitkan oleh badan otoritas negara terkait dari pabrik pembuat.

Namun demikian ada catatan penting bahwa minimal dalam satu kali setahun hendaknya tetap dilakukan pengujian secara lengkap. Apabila ternyata terjadi kegagalan pemenuhan spesifikasi hendaklah dilakukan pengujian lengkap tiap batch bahan hingga diperoleh suatu keyakinan terhadap pemasok melalui pengkajian trend hasil parameter uji.

Beberapa parameter pengujian yang tidak boleh dikurangisaat kita melakukan pengujian atau pemeriksaan bahan awal yaitu :

  • Pengujian pemerian
  • Susut pengeringan atau kadar air bila syarat susut pengeringan atau kadar air itu ada.
  • Identifikasi sesuai dengan monografinya
  • Penetapan kadar atau potensi untuk bahan aktif obat.

Demikian pembahasan singkat mengenai macam macam teknik sampling / metode pengambilan sampel yang umum dilakukan pada industri farmasi.

Semoga Bermanfaat.