Cara Pengujian Berat Jenis Pasir Lengkap Dengan Perhitungannya

Cara Pengujian Berat Jenis Pasir Lengkap Dengan Perhitungannya

Pengetahuan mengenai berat jenis pasir sangat berguna khususnya dalam ilmu sipil, karena dengan mengetahui berat jenis pasir tersebut, maka dapat ditentukan takaran yang sesuai dengan kondisi di dalam proyek. Dengan mengetahui nilai berat jenis dari SSD pasir tersebut maka kita juga dapat menyimpulkan apakah pasir tersebut memenuhi syarat / tidak digunakan sebagai campuran adukan beton, misalnya sesuai dengan peraturan umum bahan bangunan di indonesia dimana syarat berat jenis pasir yang baik adalah 2.4 s/d 2.9.

Pada postingan kali ini kita akan belajar mengenai langkah-langkah dalam menentukan berat jenis pasir tersebut berikut dengan contoh perhitungannya.

Alat dan Bahan

Untuk melakukan analisa berat jenis pasir, maka kita membutuhkan beberapa alat-alat laboratorium sebagai berikut :

  • Timbangan.
  • Labu ukur volume 1000 ml.
  • Ayakan / test sieve dengan nomor 4,75 mm.
  • Desikator.
  • Oven.
  • Corong yang berguna untuk memasukkan pasir dan air kedalam labu ukur.

Bahan yang diperlukan:

  • Air
  • Pasir dalam kondisi jenuh kering muka / SSD.
  • Laporan sementara.

Cara Pengujian Berat Jenis Pasir

Berikut ini adalah tahapan dalam pengujian berat jenis pasir :

  • Ayak pasir menggunakan ayakan / test sieve dengan nomor 4,75 mm. Pada proses pengayakan tersebut terdapat kerikil atau batuan kecil yang masih tertinggal diatas ayakan, yang nantinya akan kita pisahkan.
  • Masukkan air ke dalam labu ukur 1000 ml dengan menggunakan corong sampai tanda batas. Namun sebelum kita memasukkan air, pastikan terlebih dahulu bahwa permukaan bawah tempat kita menaruh labu ukur terebut bersih dan tidak ada gangguan, misalkan ada kerikil atau pasir untuk mengantisipasi apabila pada saat memasukkan air, labu ukur bisa pecah, karena labu ukur tersebut sangat rawan sekali untuk pecah. Tutup labu ukur yang sudah terisi air dengan penutupnya.
  • Timbang labu ukur yang sudah terisi dengan air sampai tanda batas dengan menggunakan timbangan (Hasilnya kita beri tanda C).
  • Timbang pasir SSD, Pada pengujian berat jenis pasir, berat pasir yang kita butuhkan adalah 500 gram pasir SSD (Hasilnya kita beri tanda B). Langkah-langkah untuk menimbang pasir tersebut adalah :

cawan alumunium kosong

    1. Siapkan cawan kosong
    2. Letakkan cawan kosong tersebut ke dalam timbangan kemudian tekan tombol TARE sehingga timbangan menunjukkan angka 0.00 gram.
    3. Timbang pasir SSD ke dalam cawan kosong tersebut sebanyak 500 gram.
  • Keluarkan kurang lebih setengah dari air yang berada di dalam labu ukur tersebut, kemudian masukkan pasir SSD 500 gram tadi kedalam tabung labu ukur menggunakan corong.
    gelembung udara dalam pasir
  • Setelah semua pasir sudah masuk ke dalam gelas labu ukur, selanjutnya kita akan menghilangkan gelembung udara yang berada di dalam labu ukur dengan cara menggoyang-goyangkan labu ukur. Ketika menggoyang-goyangkan labu ukur, pastikan labu ukur dalam kondisi tidak tertutup karena jika ditutup maka udara tidak bisa keluar sehingga nanti udaranya tidak akan bisa hilang.
  • Jika gelembung sudah terlihat hilang, langkah selanjutnya adalah kita akan menambahkan kembali air sampai garis tanda batas.

tambahkan air sampai tanda batas

  • Setelah kita isi air sampai dengan garis tanda batas, di sini terlihat ada gelembung-gelembung udara yang masih tersisa. Cara menghilangkannya anda sebagai berikut :
    1. Siapkan cawan kosong
    2. Masukkan labu ukur yang sudah berisi pasir dan air kedalam cawan kosong tersebut.
    3. Isikan air ke dalam labu ukur sampai penuh sehingga terlihat gelembung-gelembung yang berada di tengah labu ukur sini sudah hilang semua / sudah terbuang ke bawah.

Catatan : karena air yang kita perlukan hanya sampai tanda batas, maka kita harus menguranginya menggunakan pipet.

  • Keluarkan labu ukur dari cawan kosong tadi, karena permukaan luarnya basah, maka lap terlebih dahulu sampai dia kering sehingga beratnya tidak terganggu pada saat penimbangan.
  • Timbang labu ukur tersebut. Karena pada saat awal menimbang labu ukur + air tanpa pasir kita menggunakan tutup labu ukur, maka ketika kita menimbang labu ukur + air + pasir kita juga menggunakan tutup labu ukur.
  • Catat berat dari labu ukur + air + pasir tersebut (Hasilnya beri tanda A)
  • Kemudian setelah kita menimbangnya, keluarkan air dan pasir tersebut dari labu ukur ke cawan kosong. langkahnya adalah kita mengocoknya terlebih dahulu agar semua bisa keluar.

air dalam kondisi keruh

  • Berikut ini adalah campuran pasir dan air dari labu ukur tadi, dimana kondisinya masih terlihat keruh. Jadi kita harus menunggunya atau mendiamkannya sampai airnya bening dan lumpur-lumpur yang terkandung dalam air mengendap.
  • Setelah itu kita tunggu beberapa saat, air dari campuran pasir dan air tadi sudah terlihat bening karena lumpur yang terkandung dalam air sudah mengendap ke bawah
  • Tuang air dalam wadah, namun jangan dihabiskan dan sisakan sedikit.

penirisan air

  • Masukkan pasir tadi kedalam oven pada suhu 105° celcius kurang lebih 24 jam.
  • Jika sudah 24 jam, keluarkan sampel pasir kita tadi dari dalam oven. Pastikan menggunakan sarung tangan anti panas untuk mengamankan tangan kita karena oven tersebut dalam kondisi panas.

pasir oven

  • Gambar diatas merupakan contoh dari pasir yang sudah kita oven selama kurang lebih 24 jam.
  • Kemudian kita akan masukkan pasir ini adalah desikator untuk menghilangkan uap-uap panas yang masih terkandung di dalamnya.

Baca Juga Artikel : Fungsi Desikator Laboratorium

  • Tunggu sampai sampel pasir yang ada di dalam memiliki suhu yang sama dengan suhu ruangan.
  • Setelah kita diamkan beberapa saat,  kita akan mengeluarkan sampel pasir tadi dari dalam desikator. Wadah tersebut jika kita pegang sudah tidak panas karena suhunya sudah hampir sama dengan suhu ruangan dan itu menandakan bahwa uap-uap panas yang ada di dalam pasir sudah hilang sehingga tidak akan mengganggu berat kering dari pasar.
  • Timbang pasir yang sudah kering tungku ini menggunakan timbangan (Hasilnya beri tanda D).

Perhitungan Berat Jenis Pasir

Perhitungan Berat Jenis Pasir per m3

Berikut ini adalah perhitungan dari laporan sementara berat Jenis pasir :

Pada kolom benda uji misalnya pasir yang diuji adalah dari progo.

Hasil Pengujian

  • Berat pasir + labu + air = 1564 gram (Diberi simbol huruf A)
  • Berat pasir SSD  = 500 gram (Diberi simbol huruf B) >> ini adalah berat pasir yang kita timbang diawal tadi yaitu 500 gram
  • Berat labu ukur + air = 1244 gram (Diberi simbol huruf C) >> ini adalah berat dari labu ukur yang telah disi air sampai tanda batas. 
  • Berat pasir kering tungku = 495 gram (Diberi simbol huruf D) >> ini adalah berat pasir yang sudah kita keluarkan dari oven dan dari desikator.

Kesimpulan

  • Rumus Berat Jenis Kering Tungku = ((D)/(C+B)-A) = 2.75

berat jenis pasir kering tungku

Dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa hasil dari berat jenis kering tungku adalah 2.75 (tanpa satuan).

  • Rumus SSD Pasir Kering Tungku = ((B)/(C+B)-A) = 2.8

SSD Pasir Kering Tungku

Dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa hasil dari SSD pasir kering tungku adalah 2.8

Persyaratan :

Berat jenis pasir SSD yang baik adalah 2.4 s/d 2.9

Dari hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa berat jenis pasir SSD adalah 2.8 masih di dalam rentang persyaratan pasir SSD yang baik / sampel pasir dari progo yang kita uji memenuhi persyaratan pasir yang baik digunakan.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=7jUvSbKzg7k&t=1023s

Uji Kuat Tekan Beton Sesuai Standar SNI 1974 Tahun 2011

Uji Kuat Tekan Beton Sesuai Standar SNI 1974 Tahun 2011

Perkembangan infrastruktur di indonesia sangatlah pesat pada 20 tahun terakhir. Perkembangan kawasan industri dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Pembangunan pabrik maupun struktur jalan, jembatan, dll dapat kita lihat dimana-mana.

Pembangunan tersebut tentunya memerlukan material baik itu besi, pasir, kerikil, ataupun beton yang sudah jadi. Beton saat ini merupakan bahan bangunan yang paling banyak dipakai di dunia. Nah pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai pengertian beton, kelebihan dan kekurangannya, termasuk sifat beton, serta cara melakukan uji kuat tekan beton.

Pengertian Beton

Beton pada umumnya adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat kerikil, pasir, air, dan pengikat semen. Biasanya dipercayai bahwa beton mengering setelah pencampuran dan peletakkan.

Sebenarnya beton tidak menjadi padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi merekatkan komponen lain bersama dan akhirnya membentuk material seperti batu. Beton digunakan untuk membuat pekerjaan Jalan, struktur bangunan, pondasi, jalan layang, jembatan penyeberangan, dan lain-lain.

Saat ini dalam perkembangannya, banyak ditemukan beton baru hasil modifikasi, seperti beton ringan, beton semprot / shotcrete, beton fiber, beton berkekuatan tinggi, beton mampat sendiri, dan lain-lain.

Kelebihan dan Kekurangan Beton

Kelebihan beton adalah dapat mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi. Selain itu pula beton juga mempunyai kekuatan mumpuni, tahan terhadap temperatur yang tinggi, dan biaya pemeliharaan yang relatif murah.

Sedangkan kekurangannya adalah bentuk yang telah dibuat sulit diubah tanpa kerusakan. Pada struktur beton jika ingin dilakukan penghancuran maka akan mahal, karena tidak dapat dipakai lagi. Berbeda dengan struktur baja yang akan tetap bernilai.

Beton memiliki kekuatan tekan yang tinggi namun lemah dalam tariknya. Nilai kuat tariknya beton Sekitar 5 s/d 9 % kuat tekannya. Sehingga perkuatan sangat diperlukan dalam struktur beton. Perkuatan yang umum adalah dengan menggunakan tulangan baja yang jika dipadukan dan sering disebut dengan beton bertulang.

Sifat Beton

Beton memiliki kekuatan tekan yang tinggi namun kuat tarik yang lemah. Untuk kuat tekan di Indonesia sering digunakan satuan kg/cm2 dengan simbol K untuk benda uji kubus dan Fc untuk benda uji silinder.

5 Macam Beton yang Sering Ditemui

macam-macam beton

Beton Mortar

Sering juga disebut sebagai beton semen karena beton ini terbuat dari campuran antara mortar semen, air, dan pasir dengan perbandingan tertentu. Beton ini dilengkapi dengan anyaman tulangan baja di dalamnya.

Beton Non-Pasir

Sesuai dengan namanya, jenis beton ini tidak menggunakan pasir dalam proses pembuatannya, namun hanya menggunakan semen, kerikil, dan air. Beton ini banyak digunakan pada struktur ringan, kolom, dan bata beton, buis beton, dan dinding sederhana.

Beton Ringan

Beton jenis ini dibuat dengan menggunakan agregat yang berbobot ringan. Zat aditif sering ditambahkan pada beton ini untuk membentuk gelembung udara di dalam beton sehingga dengan ukuran yang sama bobot beton jenis ini lebih ringan dibandingkan dengan jenis beton lainnya.

Beton Hampa

Pada proses pembuatan beton jenis ini dilakukan penyedotan dengan menggunakan vacuum khusus pada air pengencer yang terdapat pada adukan beton sehingga beton yang mengandung air yang sudah bereaksi dengan semen saja.

Beton Bertulang

Merupakan jenis beton yang terbuat dari kombinasi adukan beton dengan tulangan baja yang sengaja ditanamkan ke dalamnya agar kekuatan beton terhadap gaya tarik meningkat.

Faktor yang Mempengaruhi Kuat Hancur Beton

Kuat hancur dari beton sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor :

  • Jenis dan Kualitas Semen
  • Jenis lekak lekul bidang permukaan agregat.

Kenyataannya menunjukkan bahwa penggunaan agregat akan menghasilkan beton dengan kekuatan tekan dan kuat tarik lebih besar daripada penggunaan kerikil halus dari sungai.

  • Perawatan

Kehilangan kekuatan sampai dengan sekitar 40 % dapat terjadi bila pengeringan diadakan sebelum waktunya. Perawatan adalah hal yang sangat penting bagi pekerjaan lapangan dan pada pembuatan benda uji.

  • Suhu

Pada umumnya kecepatan pengerasan beton bertambah dengan bertambahnya suhu. Pada titik beku kuat tekan akan tetap rendah untuk waktu yang lama.

  • Umur

Pada keadaan yang normal kekuatan beton bertambah dengan umurnya.

Standar Mutu Beton di Indonesia

Terdapat dua istilah mutu beton yang berlaku di Indonesia yaitu mutu beton K atau karakteristik dan FC

Standar mutu beton K dengan satuan kg/cm² mengacu pada peraturan beton bertulang Indonesia 1971 N.1.-2 dimana standar ini mengacu kepada standar Uni Eropa.

Pada sisi lain mutu beton FC dengan satuan MPa mengacu kepada peraturan SNI. Standar ini digunakan dalam proyek yang berkaitan dengan pemerintah Indonesia. Jika terdapat hal yang belum terkait dengan SNI terkait beton maka merujuk kepada peraturan beton bertulang Indonesia disingkat PBI.

Benda uji yang digunakan pada mutu beton K berbentuk kubus dengan ukuran panjang 15 cm lebar 15 cm tinggi 15 cm.

Perhitungan kuat tekan beton menggunakan satuan kg/cm².

Benda uji yang digunakan pada mutu beton FC berbentuk silinder dengan ukuran diameter 15 cm tinggi 30 centimeter. Perhitungan kuat tekan beton menggunakan satuan MPA atau Mega Pascal.

Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder (SNI 1974:2011)

uji tekan beton

  1. Benda uji diangkat dari kolam perawatan (curing), kemudian dilap dan diangin-anginkan (kering udara).
  2. Benda uji diukur diameter dan ketinggiannya. Diameter dan ketinggian adalah hasil rata-rata dari 2 kali pengukuran pada titik yang berbeda. Benda uji juga ditimbang dan dicatat beratnya.
  3. Selanjutnya benda uji dikaping pada permukaan yang akan menerima beban. Bahan kaping yang digunakan adalah mortar sulfur, pasta gypsum atau pasta semen.
  4. Setelah kaping mengeras, benda uji diletakkan pada alat uji tekan, dengan bagian kaping diatas (menerima beban). Mesin tekan dijalankan hingga menyentuh ujung atas benda uji dan indikator bebas bergerak.
  5. Mesin dioperasikan dengan kecepatan konstan hingga mencapai beban puncak dan benda uji hancur.
  6. Catat beban maksimum saat benda uji hancur dan tentukan pola hancur / pola retak dari benda uji.
  7. Hitung kuat tekan beton dengan membagi beban maksimum dengan luas uji penampang benda uji.
  8. Angkat benda uji dan bersihkan. Lanjutkan untuk benda uji selanjutnya.

Cara Menghitung Kuat Tekan Beton

Cara menghitung hasil kuat tekan beton umur 28 hari untuk benda uji silinder

kalau selama ini kita monophone pengetesan kuat tekan beton hasil bebannya berapa

Terus kita akan menghitung kuat tekannya apakah masuk atau tidak

Misalnya mutu beton K-300 satuannya kg/cm², hasil kuat tekan beton setelah dilakukan pengetesan yaitu 550 KN.

Berapakah nilai kuat tekannya ?

jadi dari beban 550k ini kita hitung kuat tekannya.

Rumus kuat tekan

P = F / A

Dimana

P adalah tekanan satuannya kg/cm² (Sesuai dengan kuat tekan beton)

F adalah gaya kg

A adalah luas penampang atau luas benda uji luas benda uji satuannya cm²

Untuk benda uji silinder ukuran diameternya 15 cm tingginya 30 cm.

Disini kita harus konversikan dulu

F (bebannya) 550 kita jadikan Kg

1 KN = 101,1971 kg

jadi 550 KN = 550 x 101,1971 = 55658,405 Kg

Luas penampang = 3.14 x r2 = 3.14 x 7.5 cm x 7.5 cm = 176.625 cm²

P = F / A

P = 55658,405 Kg / 176.625 cm² = 315.121 Kg/cm²

Hasil diatas masih dalam silinder.

Kita konversi ke kubus

ukuran 15 x 15 cm.

Dimana konversinya adalah 0,83

P = 315.121 / 0.83 = 379.65 kg/cm²

jadi hasilnya 379.65 kg/cm2 lebih besar dari K300, sehingga hasilnya Ok

Jadi kalau kita melakukan pengetesan K 300 – 28 hari beban 550 KN dengan benda uji silinder hasilnya adalah sesuai.

Semoga bermanfaat.

Pengertian Gramatur Kertas dan Cara Melakukan Pengujiannya

Pengertian Gramatur Kertas dan Cara Melakukan Pengujiannya

Di dalam industri, peran suatu kemasan tentunya tak kalah penting dibandingkan dengan manfaat produk itu sendiri. Kemasan berkualitas tentunya akan mampu menjaga mutu produk yang dikemasnya serta dapat meningkatkan branding dari produk tersebut. Beberapa parameter uji harus dilakukan terhadap material bahan baku kemasan tersebut untuk menilai kualitasnya.

Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai salah satu parameter uji tersebut yaitu gramatur dan ketebalan. Apa itu pengertian gramatur? bagaimana cara melakukan pengujiannya gramatur dan ketebalan pada kertas?

Standar Acuan Gramatur

Standar yang digunakan untuk pengujian gramatur dan ketebalan kertas adalah berdasarkan :

  1. Standar SNI ISO 536 : 2010 untuk cara uji gramatur. Karena merupakan standar yang diadaptasi dari standar ISO maka standar SNI ISO 536 : 2010 ada dalam dua bahasa.
  2. Standar SNI 140440 : 2006 untuk gramatur kertas dan karton (standar mutu gramatur kertas dan karton)

Istilah dan Definisi

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai cara pengujian gramatur, terlebih dahulu kita harus memahami beberapa istilah yang terkait dengan gramatur itu sendiri.

Pengertian Gramatur

Menurut standar stndar SNI 14-0440 : 2006, Gramatur adalah massa lembaran kertas / lembaran karton dalam gram dibagi dengan satuan luasnya dalam meter persegi (m²), diukur pada kondisi standar.

Sedangkan menurut SNI ISO 536 : 2010, gramatur adalah massa dari suatu satuan luas tertentu dari kertas atau karton yang ditetapkan melalui cara uji yang spesifik. Satuan gramatur dinyatakan dalam gram per m².

Toleransi Gramatur

Toleransi gramatur adalah batas penyimpangan minimal dan maksimal yang masih diperkenankan dari satu nilai gramatur kertas dan karton, dinyatakan dalam persen.

Bulk

Volume lembaran kertas dalam cm³ dibagi dengan massa lembaran kertas dalam gram diukur pada kondisi standar.

Prinsip Pengujian Gramatur

Prinsip pengujian gramatur dan ketebalan kertas yaitu luas contoh uji dan massanya ditetapkan dan dilakukan perhitungan gramatur. Bisa dibilang pengujian gramatur ini relatif sederhana yaitu :

  • Kita ukur luas dari kertas yang diuji (panjang x lebar)
  • Kita ukur ketebalan kertasnya yaitu jarak antara satu permukaan atas dengan permukaan bawahnya
  • Kita hitung massa dari kertas tersebut.

Alat Untuk Pengujian Gramatur

alat potong kertas untuk gramatur

  • Alat pemotong, yang mampu menghasilkan secara berulang potongan-potongan contoh uji yang bersih dengan ukuran nominal luas yang sama, masing-masing dengan ukuran kurang lebih 1 % dari luas yang diketahui. Hal ini harus diperiksa secara berulang kali melalui pengukuran dan jika tingkat akurasi di atas telah dicapai, luas rata-rata yang diperoleh dalam pemeriksaan ini akan digunakan untuk menghitung gramatur.

Alat potong Untuk pengujian gramatur dan ketebalan ini ada 2 jenis, yaitu :

    1. Kacip yang hanya memotong secara lurus
    2. Alat potong yang bisa memotong kertas dalam bentuk lingkaran dengan luas tertentu, tergantung dari luas dari pisau yang berbentuk lingkaran tersebut.
  • Neraca, dengan akurasi yang memadai pada kisaran massa yang digunakan dengan ketelitian hingga 0,5 %. Neraca ini harus cukup sensitif untuk mendeteksi perubahan sebesar ± 0,2 persen dari massa yang ditimbang, dan jika neraca yang digunakan merupakan jenis direct reading, maka neraca tersebut harus diberi skala sehingga pembacaan dapat mencapai derajat keakurasian yang diperlukan. Ketika digunakan neraca harus dilindungi dari aliran udara langsung.

Sehingga sangat disarankan neraca yang digunakan untuk pengujian gramatur ini adalah neraca yang tertutup (mempunyai assesories pintu geser) pada bagian sisi-sisinya maupun bagian atas yang dapat dibuka dan ditutup. Biasanya yang mempunyai pintu geser tersebut adalah timbangan analitik yang mempunyai resolusi 0.0001 g atau precision ballance yang mempunyai resolusi 0.001 g.

jadi ketika kita ingin menimbang kertas, kita bisa memasukkan kertas lewat kiri atau kanan kemudian dalam melakukan penimbangan harus ditutup.

  • Mikrometer

Alat ini dapat kita temukan dalam model analog (mikrometer sekrup) atau digital. Perbedaannya tentunya adalah dalam hal akurasinya, semakin kecil nilai ketelitiannya artinya semakin teliti alat tersebut.

Pengambilan Contoh dan Pengkondisian

  • Jumlah bahan uji yang diambil (sedikitnya 5 lembar) harus mencukupi minimal untuk 20 contoh uji.
  • Untuk pengujian gramatur dari contoh yang dikondisikan, bahan uji harus dikondisikan.
  • Jika pengujian dilakukan dalam kondisi “kering – oven” atau “as taken” atau pada kondisi atmosfer yang lain, harus yang dilaporkan harus disertai dengan pernyataan yang menunjukkan kondisi contoh uji pada waktu penimbangan.

Ukuran Sampel Uji Gramatur

Jika kita menggunakan alat kacip, maka kita bisa memotong dengan ukuran persegi 10 cm x 10 cm, sehingga luas dari sampel uji persatu buah sampelnya adalah 10 cm x 10 cm menjadi 100 cm².

Adapun alat potong yang berbentuk lingkaran, kertas ketika dipotong sudah seluas 100 cm².

Prosedur Pengujian Gramatur

  1. Dengan menggunakan alat pemotong, potong minimal 20 contoh uji dari paling sedikit lima bahan uji.
  2. Jika memungkinkan ambil jumlah yang sama dari masing-masing bahan uji yang memiliki luas tidak kurang dari 500 cm² (disarankan 20 mm x 250 mm) dan tidak lebih dari 1000 cm². Jika diperlukan, contoh uji dapat terdiri dari beberapa lembaran yang lebih kecil.
  3. Tentukan luas masing-masing contoh uji dengan menghitung hasil pengukuran yang telah dilakukan sampai ketelitian mendekati 0,5 mm.
  4. Timbang masing-masing contoh uji pada neraca dan nyatakan massanya dalam gram sampai tiga angka penting.

catatan :

Ketika menguji lembaran berukuran kecil, disarankan untuk menghindari kontak dengan contoh uji tanpa menggunakan sarung tangan. Jadi disarankan ketika lembar ujungnya berlubang kecil, diharapkan tidak berkontak langsung dengan tangan (tanpa menggunakan sarung tangan).

Prosedur Uji Ketebalan Kertas

alat ukur ketebalan kertas

  • Masukkan kertas pada tempat pengukuran ketebalan, baik yang manual maupun yang digital. Intinya kertas di masukkan sehingga batang akan turun sampai pada batas menyentuh kertas.
  • Catat hasil pembacaan dari pengukuran tebal kertas tersebut, jika thickness gauge yang kita gunakan tipe digital, maka kita cukup melihat angka pada displaynya saja.

Namun jika thickness gauge yang kita gunakan adalah yang analog, maka perlu dipahami terlebih dahulu cara pembacaaanya.

Contoh tampilan thickness gauge dibawah ini.

thicknes gauge analog

Dapat dilihat bahwa terdapat keterangan di bagian utama alat 0.01 – 10 mm, maka niai 0.01 tersebut merupakan nilai skala terkecil atau bisa dikatakan bahwa jarak antar bar (bar satu dengan bar yang disebelahnya) adalah 0.01 mm atau dengan kata lain ketika jarum panjang diatas :

  • Bergeser 1 bar, maka artinya pengukuran berubah sebesar 0.01 mm.
  • Bergeser 2 bar >> 0.02 mm
  • Bergeser 3 bar >> 0.03 mm
  • Bergeser 10 bar >> 0.1 mm
  • Bergeser 20 bar >> 0.2 mm
  • Sampai jika jarum panjang tersebut kembali ke titik 0, artinya benda yang diukur mempunyai ketebalan 1 mm >> dan pada kondisi ini jarum pendek akan menunjukkan angka 1.
  • Demikian seterusnya.

Pernyataan Hasil Uji Gramatur

Dinyatakan dalam gram per m², dari masing-masing contoh uji. Jika memang kita ingin menghitung gramatur dari masing-masing contoh uji, maka kita hitung dengan persamaan berikut :

Gramatur (g) = (m / A) x 10000

m adalah massa dari contoh uji yang dinyatakan dalam gram

A adalah luas dari contoh uji

Persamaan diatas bisa kita sederhanakan menjadi :

rumus gramatur

Dimana nilai 10.000 tersebut merupakan faktor konversi dari cm² ke m² karena satuan dari gramatur adalah gram per m². Sedangkan nilai 100 diatas jika menggunakan contoh uji dengan luas 100 cm².

Cara lain menghitung gramatur adalah dengan menggunakan persamaan berikut :

cara menghitung gramatur

Dimana

m bar adalah massa rata-rata contoh uji, dinyatakan dalam gram
A bar adalah luas rata-rata contoh uji, dinyatakan dalam centimeter persegi (cm2)

Jadi jika pada cara pertama untuk masing-masing contoh uji, namun pada cara kedua ini kita bisa rata-rata kan terlebih dahulu massanya dan luasnya kemudian gramatur kita hitung dari rata-rata dari massa dibagi dengan rata-rata luas contoh uji kemudian kita kalikan dengan 10.000.

Satuannya tetap sama gram per m².

Untuk Faktor bulk, dinyatakan dalam cm³ / gram menggunakan persamaan berikut :

rumus faktor buk

faktor bulk yaitu volume dalam satuan cm³ dibagi dengan massa dari kertas tersebut dalam satuan gram.

Nah volume ini bisa dihitung dari luas dikalikan dengan ketebalan.

Dimana pada contoh diatas, luas sampel uji kita menggunakan 100 cm² kita kalikan dengan tebal dalam satuan cm lalu kita bagi dengan massanya.

Atau kita bisa mempermudah juga dengan cara :

rumus faktor bulk lainnya

Faktor bulk adalah tebal dalam satuan mikron dibagi dengan gramatur gram per m2

Nah kenapa tebal harus dalam satuan micron?

Sedangkan jika kita lihat dalam rumus diatas faktor bulk mempunyai satuan cm³/gram.

Perubahan konversi pada gambar dibawah ini merupakan penjelasannya.

faktor bulk lainnya

Toleransi gramatur

toleransi gramaturDapat dilihat untuk untuk kertas dengan gramatur :

  • Dibawah 28 maka toleransinya adalah ± 7 %.
  • 35 toleransinya ± 6 %.
  • 45 – 55 toleransinya ± 5 %.
  • Diatas 60 toleransinya ± 4 %.

Contoh:

Kertas HVS 70 gram per m² biasanya di dalam di kemasan kertas tersebut bertulis gramaturnya 70 gram per m2.

Sesungguhnya setiap lembar kertas HVS tersebut nilainya tidak ada yang benar-benar 70 gram per m2, namun bervariasi. Nah variasi nilai itu harus tetap berada pada toleransi yang sudah ditetapkan yaitu ± 4 % sesuai pada tabel diatas..

Artinya kertas HVS 70 gram/m2 tersebut bisa bervariasi dari (70 – 2,8) sampai dengan (70+ 2,8).

Jadi rentangnya bisa dari 67.2 gram/m2 sampai 72,8 gram/m2

Persyaratan Mutu Untuk Beberapa Jenis Kertas

Kertas Koran

yaitu kertas cetak dengan kandungan pulp mekanis minimal 65%. Nah, syarat mutu untuk kertas koran sesuai dengan standar SNI 7273 tahun 2008 gramaturnya yaitu kisaran 45 – 60. Sedangkan untuk faktor bulk nya maksimal 1,75.

gramatur kertas koran

Kertas Cetak

yaitu kertas yang digunakan untuk keperluan cetak mencetak, dibuat dari pulp kimia dan dapat mengandung pulp mekanis maksimal 15 %.

Berdasarkan SNI 7274 tahun 2008, gramatur untuk kertas cetak itu syaratnya adalah 50 – 100 gram per m2. Sedangkan untuk faktor bulk nya maksimal 1,5.

persyaratan mutu kertas cetak seri a

Penyajian Laporan Hasil Uji

Untuk laporan hasil pengujian harus mencakup informasi berikut :

  1. Acuan ke standar nasional, misalnya kita menggunakan standar SNI nomor berapa sebagai acuan pengujian tersebut.
  2. Tempat dan tanggal pengujiannya.
  3. Kondisi ruang uji yang digunakan, baik itu suhu ruang atau kelembaban udara, karena mungkin tempat yang berbeda hasil pengujiannya juga akan berbeda.
  4. Semua informasi yang diperlukan untuk identifikasi contoh.
  5. Luas contoh uji yang digunakan.
  6. Jumlah pengulangan pengujian.
  7. Rata-rata dan simpangan baku dari hasil uji.
  8. Jika bahan uji diambil lebih dari satu titik sepanjang arah silang mesin gulungan atau lembaran dan informasi variasi gramatur diperlukan, rincian yang terdapat dalam nomer 3,4,5.6 harus dilaporkan secara terpisah untuk masing-masing titik.
  9. Setiap penyimpangan dari prosedur yang ditetapkan dalam standar nasional ini dan setiap keadaan yang dapat mempengaruhi hasil uji Jadi jika ada penyimpangan apapun catat dalam laporan hasil uji.

Semoga bermanfaat.

Contoh Bahaya Kimia dan Dampaknya Di Beberapa Sektor Pekerjaan

Contoh Bahaya Kimia dan Dampaknya Di Beberapa Sektor Pekerjaan

Dalam suatu aktifitas kerja, adanya resiko dan bahaya merupakan hal yang wajar. Dengan mengenali bahaya di lingkungan kerja tentunya kita akan bisa mengendalikan bahaya tersebut misalnya, apakah dengan subtitusi, eliminasi, alat pelindung diri, atau hanya secara administrasi. Beberapa faktor bahaya yang mungkin bisa kita temui di tempat kerja antara lain faktor bahaya fisika, kimia, biologi, psikologi, ergonomi, dll. Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai faktor bahaya kimia.

Apa Saja yang Termasuk dalam Faktor Bahaya Kimia

Menurut permenaker nomor 5 tahun 2018 tentang K3 lingkungan kerja, Faktor bahaya kimia adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja yang bersifat kimiawi, disebabkan oleh penggunaan bahan kimia atau turunannya di tempat kerja yang dapat menyebabkan penyakit pada tenaga kerja, meliputi kontaminan kimia di udara berupa gas, uap, ataupun partikulat.

Apa saja yang termasuk di dalam faktor bahaya kimia ?

  • Aerosol, Zat terdispersi berupa gas, aerosol dapat berupa aerosol cair dan aerosol padat. Selain berbahaya bagi kesehatan, aerosol ini juga dapat membuat lapisan ozon menipis. contoh bentuk aerosol misalnya : obat nyamuk semprot. Bahaya yang dapat ditimbulkan dari aerosol ini adalah dapat mengiritasi mata, kulit, serta paru-paru.
  • Gas, zat tidak berbentuk, tidak terihat, tidak berbau, mengisi ruangan pada suhu dan tekanan udara normal, dan pada konsentrasi rendah. Dengan perubahan suhu dan tekanan dapat berubah menjadi cair dan padat. Gas merupakan salah satu jenis bahaya yang dapat bersumber dari bahan kimia yang berada di lingkungan kerja dan disebutkan dalam permenaker nomor 5 tahun 2018 diantaranya :
    • Gas H2S

Gas ini bisa kita temukan pada daerah minyak / gas bumi, sumber belerang, daerah gunung berapi, lokasi pembuangan sampah / limbah industri. Bahaya gas H2S antara lain dapat menyebabkan Kulit terasa perih, batuk, Rasa kering pada dada, hidung, dan tenggorokan, Badan terasa lesu, dan hilangnya nafsu makan

    • Gas Helium

Gas ini dapat menyebabkan antara lain, kehilangan kesadaran, penglihatan buram, Kejang, Sesak napas.

    • Gas Heptanon

 

  • Partikulat, Bentuk dari padatan atau cairan dengan ukuran molekul tunggal antara 0.002 mikrometer s/d dari 500 mikrometer yang tersuspensi di atmosfer dalam keadaan normal. Partikulat bisa disebabkan oleh debu, dimana untuk debu sendiri ada beberapa antara lain :
    • Partikulat PM 10 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer).
    • Partikulat PM 2,5 adalah partikel berukuran 2.5 mikron (mikrometer).

Seberapa kecil PM 2.5 dan PM 10 tersebut?

Sebagai perbandingan, diameter rambut manusia kurang lebih 50 – 70 mikrometer, jadi untuk PM 10 tersebut kurang lebih rambut kita dibelah menjadi 5 s/d 7 bagian.

Untuk yang PM 2.5 tentunya lebih kecil lagi…

    • TSP (Total Suspended Partikulat)

Kita sudah bisa membayangkan PM 2.5 dan PM 10, untuk TSP ini mempunyai ukuran kurang dari 100 mikrometer, jadi relatif lebih besar ukurannya. TSP sendiri di dalam udara merupakan salah satu parameter yang harus diukur sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

  • Kabut, Uap air yang berada dekat permukaan tanah terkondensasi dan menjadi mirip awan.
  • Uap, gas dari pemanasan cairan. Uap terbagi menjadi uap air dan uap jenuh.
  • Asap, suspensi partikel kecil di udara yang berasal dari pembakaran tak sempurna dari suatu bahan bakar. Misalnya : asap kebakaran hutan, asap kendaraan bermotor, asap sisa-sisa produksi didalam sebuah perusahaan.

Diatas adalah salah satu contoh faktor bahaya kimia yang ada di tempat kerja.

Dampak Bahaya Kimia di Berbagai Bidang Pekerjaan

Bahaya kimia adalah

Mungkin kita pernah mendengar kasus pekerja penggali sumur yang meninggal akibat keracunan gas. Hal tersebut kemungkinan salah satunya disebabkan oleh gas H2S. Jadi pada saat menggali sumur, terdapat potensial-potensial gas yang terhirup oleh penggali sumur dan mengakibatkan kematian.

Pekerjaan-pekerjaan di sektor tambang dan migas juga beresiko terpapar bahaya kimia. Maka seringkali kita mendengan alat ukur gas detektor pada perusahaan-perusahaan tersebut yang berfungsi untuk mengukur gas tersebut.

Contoh pekerjaan yang terkena dampak bahaya kimia dalam bentuk uap adalah petugas pengaspalan jalan dimana ketika aspal dipanaskan maka akan timbul uap yang bisa dihirup juga oleh pekerja.

Bahan Debu / partikulat dapat kita temukan di perusahaan pembuatan kaca, dimana debu tersebu termasuk kategori pm 2.5. Nah debu ini tidak akan terjaring di dalam rambut-rambut hidung manusia sehingga bisa sampai masuk ke dalam alveolus paru-paru manusia

Di dalam laboratorium, laboran /peneliti merupakan salah satu pekerja atau tempat kerja yang terpapar oleh faktor bahaya kimia karena seperti kita ketahui banyak sekali bahan / larutan kimia yang berbahaya untuk kesehatan misalnya : asam kuat yang dapat menyebabkan resiko terhadap iritasi.

Sangat disarankan sebelum kita bekerja menggunakan bahan-bahan tersebut kita memahami bahayanya serta tindakan pertama yang harus dilakukan jika terpapar bahan tersebut. Informasi ini secara detail bisa kita dapatkan pada lembar keselamatan / material safety data sheet (MSDS) yang kita dapatkan pada saat membelinya.

Di dalam laboratorium ini juga sering kita temukan uap, aerosol dari hasil reaksi-reaksi bahan kimianya.

Untuk mengetahui dampak dari paparan tersebut kita bisa membuat semacam HRA (Health Risk Assesment) terkait mengenai penilaian risiko kesehatan bagi para pekerja laboratorium yang tepat mengenai bahan kimia, atau secara umum kita juga bisa membuat HIRADC (Hazard Identification Risk Assesment and Determining Control).

Di dalam apotek / klinik, apoteker yang membuat obat juga tentunya terdapat debu / partikel pada saat menggerus obat. Termasuk pekerja-pekerja farmasi di sana juga terkait mengenai paparan terhadap faktor bahaya kimia.

Perusahaan pestisida tentunya pekerjanya terpapar pestisida secara setiap harinya kemudian akan terakumulasi sekian lama sehingga muncul dampaknya.

Ahli kayu ataupun tukang kayu ataupun penggilingan kayu dimana isini banyak sekali debunya.

Bagaimana Kita Bisa Terpapar Hazard kimia

Hazard kimia adalah

Jalur masuk bahaya kimia ke dalam tubuh kita dapat melalui beberapa cara, antara lain:

  • Sistem inhalasi

Dengan bernafas melalui mulut / hidung. Udara yang mengandung zat beracun di dalam debu, asap, gas, dan uap dapat masuk ke dalam paru-paru dan diserap ke dalam aliran darah.

  • Pencernaan

Bahan kimia dapat memasuki tubuh melalui makanan yang terkontaminasi, makan dengan tangan yang terkontaminasi atau makan di lingkungan yang terkontaminasi.

  • Kontak kulit

Zat kimia berbahaya dapat melewati kulit dan masuk ke pembuluh darah, biasanya melalui tangan dan wajah atau melalui luka dan lecet serta suntikan.

Bagaimana anda sebagai seorang ahli K3 atau ahli hygiene industri muda melakukan pengelolaan ini?

Kesimpulan : Apa yang Harus Dilakukan?

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang ahli hygiene industri muda adalah :

  1. Memahami regulasi yang berlaku dan mampu melakukan identifikasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja.
  2. Melakukan penilaian risiko kesehatan terhadap para pekerja.
  3. Melakukan pengendalian lingkungan kerja yang aplikatif menggunakan prinsip hierarki K3.
    • Eliminasi
    • Subtitusi
    • Rekayasa teknis
    • Administratif

Demikian sedikit penjelasan mengenai faktor-faktor bahaya kimia, mudah-mudahan bisa memberi gambaran buat teman-teman sehingga bisa mengidentifikasi bahaya kimia di lingkungan kerja masing-masing.

Klausul 6.2 SNI ISO/IEC 17025 : 2017 Persyaratan Kompetensi

Klausul 6.2 SNI ISO/IEC 17025 : 2017 Persyaratan Kompetensi

klausul 6.2 SNI ISO EIC 17025 2017

Seperti kita ketahui hasil uji yang benar dan andal dapat diperoleh salah satunya apabila personil penguji cukup kompeten, terlatih, tersupervisi, dan mendapat beban kerja yang tidak berlebihan. Sedemikian pentingnya kompetensi dari personel ini sehingga dalam klausul 6.2 SNI ISO / IEC 17025 : 2017 menjadi persyaratan tersendiri. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai persyaratan kompetensi personel apa saja yang harus dipenuhi oleh personel penguji dan faktor-fakor apa saja yang perlu diperhatikan pada personel laboratorium tersebut.

Faktor-Faktor Personil Penguji

Faktor-Faktor Personil Penguji yang perlu mendapat perhatian, antara lain :

  • Kompetensi personil

Kualifikasi terkait pendidikan, pelatihan, pengalaman, serta keterampilan personel penguji harus sesuai dengan tugasnya. Lalu pendidikan minimum apa yang harus dimiliki oleh personil penguji? Tentunya adalah Sekolah Menengah analis kimia (SMAK).

Bagaimana halnya dengan para siswa lulusan sekolah menengah umum (SMU)? Seperti kita ketahui bahwa pada SMU Kurikulum yang diberikan tidak terkait pada hal-hal yang sifatnya praktis, seperti :

    1. Bagaimana melakukan penimbangan yang baik, misalnya : harus di tara terlebih dahulu, dilakukan pengecekan pada water pass nya terlebih dahulu, dll.
    2. Bagaimana cara memipet larutan dengan baik jika itu menggunakan pipet ukur / pipet volume.
    3. Bagaimana cara menggunakan mikropipet, dll

Namun apabila didalam suatu lokasi Laboratorium tidak terdapat Sekolah Menengah Analis Kimia (SMAK) dan laboratorium menerima personel lulusan sekolah menengah umum (SMU), tentunya kepada para lulusan sekolah menengah umum (SMU) ini harus diberikan terlebih dahulu pelatihan atau supervisi mengenai cara-cara yang tidak diajarkan di dalam sekolah menengah umum (SMU) sehingga memahami hal-hal yang harus diketahui apabila bekerja dalam laboratorium.

Prinsipnya adalah laboratorium harus memastikan kompetensi personil laboratorium mampu mengoperasikan peralatan tertentu dapat melaksanakan pengujian serta dapat mengevaluasi, menginterpretasi hasil uji, dan menandatangani laporan pengujian.

Berikut ini adalah contoh-contoh pengetahuan yang harus dimiliki personil penguji :

Personil penguji harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang

    • Metode uji yang digunakannya terkait hal berikut ini :
      1. Prinsip dasar dari metode uji yang digunakan, seorang personel harus mendalami apa sebenarnya prinsip dasar dari penetapan kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar Abu. dari metode uji proksimat dalam pangan. Dengan mengetahui prinsip dasar dari metode uji maka para personil dapat mengerjakan pengujian secara benar dan mengeta hui apabila ada kekurangan yang dilakukan pada saat melakukan pengujian.
      2. Metode pengujian menggunakan berdasarkan instrumen tertentu, seperti metode spektrofotometer visible dimana prinsip dasarnya adalah menentukan intensitas warna dari analit atau measurand setelah direaksikan dengan pereaksi pembentuk warna, prinsip metode HPLC, metode GC, dll.
      3. Personel penguji juga harus mengetahui kelemahan / keterbatasan suatu metode, misalnya : keterbatasan metode penetapan kadar gula menggunakan cara titrasi dan cara spektrofotometer apabila dibandingkan dengan cara HPLC. Penentuan kadar gula dengan menggunakan cara titrasi dan cara spektrofotometer hanya menentukan gula berdasarkan gula non pereduks, gula pereduksi dan gula total. Sedangkan pada cara HPLC penetapan gula didasarkan pada gula Individual, jadi dapat ditetapkan tersendiri apakah glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, dll. Sehingga apa yang menjadi keinginan dari klien atau pelanggan dapat diterapkan dengan cara memilih metode yang tepat.
      4. Selain itu personil penguji juga harus memahami interferensi dan gangguan dari matriks pada metode karena seperti kita ketahui metode pengujian selalu diganggu oleh keberadaan senyawa-senyawa lain yang ada pada matriks. Selain itu juga harus dipahami cara mengatasi gangguan tersebut. Oleh karena itu para personil perlu memahami trouble shooting untuk setiap metode yang berbeda. Mengenai masalah kontaminasi kita tahu bahwa apabila contoh diambil dengan wadah yang tidak bersih akan terjadi kontaminasi pada contoh. Pada saat melakukan pengujian spektrofotometer serapan atom wadah seharusnya dibilas terlebih dahulu dengan asam nitrat 6 M karena karena dinding dalam wadah mudah menyerap ion logam yang tidak akan keluar begitu saja dari dinding dalam wadah apabila wadah hanya dicuci menggunakan deterjen.
      5. Mengenai kestabilan sampel, personil penguji seyogyanya juga memahami bagaimana cara menangani sampel apabila sampel tersebut sampai di laboratorium apakah sampel harus disimpan dalam refrigerator atau bahkan freezer, atau desikator dan tidak bisa diletakkan begitu saja dalam ruang laboratorium karena misalnya sampel mudah menyerap uap air dari udara.
  • Pelatihan personilpelatihan karyawan

Manajemen laboratorium hendaknya merumuskan sasaran pendidikan dan pelatihan bagi para personil penguji, Mengidentifikasi jenis pelatihan yang dibutuhkan. Pelatihan dapat berupa pelatihan internal yang diadakan dilaboratorium mereka sendiri oleh penyelia atau dilakukan oleh orang luar sebagai narasumber dari luar laboratorium.

Selain pelatihan internal dapat juga dilakukan pelatihan eksternal oleh provider pelatihan di luar laboratorium, dimana personil penguji keluar dari laboratoriumnya untuk mengikuti pelatihan tersebut bersamaan dengan personil penguji dari laboratorium lainnya. Hal ini tentunya mempunyai keuntungan tambahan dimana personel penguji tersebut dapat bertemu dengan,teman-teman sesama personil penguji dari laboratorium lain sepanjang pelatihan sehingga dapat dijadikan sebagai ajang tukar menukar pengalaman dari para personil laboratorium dari berbagai laboratorium.

Selain itu personil penguji juga dapat mengikuti pelatihan tak berbayar dari forum asosiasi laboratorium yang sama serta webinar-webinar secara gratis yang dapat diakses melalui YouTube.

Prinsipnya menjadi kewajiban manajemen laboratorium untuk menyelenggarakan pelatihan sesuai tugas personil saat ini dan perlu dipikirkan juga terkait tugas yang akan dibebankan pada personel di masa yang akan datang.

  • Uraian tugas personil

Uraian tugas personil harus ditetapkan dan berisikan antara lain tanggungjawab personil pada :

    1. Pelaksanaan pengujian
    2. Pengoperasian alat serta pemeliharaannya
    3. Perencanaan pengujian dan evaluasi hasil uji
    4. Pelaporan dan interpretasi hasil uji
    5. Modifikasi metode uji apabila memang diperlukan
    6. Pengembangkan metode baru disesuaikan dengan jenis sampel uji dengan matriks berbeda yang tidak dapat dilakukan menggunakan metode uji yang selama ini digunakan oleh laboratorium. Dan setelah modifikasi metode uji maupun pengembangan metode baru dilaksanakan tentunya harus dilanjutkan dengan validasi metode yang dimodifikasi atau dikembangkan tadi.

Uraian tugas personil harus ada keahlian keterampilan dan pengalaman apa yang dimintakan dari personil oleh manajemen setelah kurun waktu tertentu personel tersebut bekerja di laboratorium. Dan yang tidak kalah pentingnya harus berisikan udah tugas-tugas manajerial diluar tugas pengujian, karena secara berjenjang personil penguji dari waktu ke waktu akan meningkatkan jenjang karirnya melalui penguji senior, penyelia, dan bukan tidak mungkin pada akhirnya menjadi seorang manajer teknis.

  • Kewenangan personil

Kewenangan yang dapat diberikan kepada personil harus dinyatakan, apakah kewenangan tersebut untuk melakukan jenis pengambilan contoh tertentu atau kemenangan dalam melaksanakan pengujian tertentu, mengoperasikan peralatan tertentu, dan penerbitan Laporan atau sertifikat uji dan yang tidak kalah pentingnya memberikan pendapat atau interpretasi tentang hasil uji yang diperoleh.

Hal ini tentunya harus dikaitkan dengan aturan keputusan (decision rule) yang telah ditetapkan laboratorium sebelumnya.

Kesimpulan

Sumber kesalahan yang berasal dari personil penguji dapat diperkecil melalui training yang cukup memadai, supervisi oleh yang lebih berpengalaman, beban kerja ada personil penguji, keikutsertaan analisis uji profisiensi atau uji banding antara laboratorium.

Demikian pembahasan singkat mengenai persyaratan kompetensi personel laboratorium penguji. Mudah-mudahan lebih bisa meningkatkan pemahaman klausul 6.2 SNI ISO / IEC 17025 : 2017.

Referensi :

Pojok Laboratorium

Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak dalam Analisa

Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak dalam Analisa

Perbedaan kesalahan sistematis dan kesalahan acak adalah

Dalam suatu pengujian / analisa, hasil yang valid merupakan harapan semua pihak baik itu laboratorium sebagai pihak yang melakukan pengujian ataupun pihak berkepentingan seperti mahasiswa untuk penelitian, pelanggan perusahaan untuk pelulusan produk, pihak berkepentingan untuk kegiatan tertentu misalnya penyidikan, kegiatan uji banding antar laboratorium, dll.

Untuk mendapatkan data yang valid tersebut tentunya dipengaruhi banyak faktor, antara lain kompetensi analis, kondisi lingkungan pengujian, tingkat akurasi alat ukur, dll. Keterbatasan alat ukur baik dari segi resolusi, akurasi, dll dapat menyebabkan setiap pengukuran akan mengandung kesalahan dan sebagai konsekuensinya hasil analisis kimia juga pasti mengandung kesalahan Karena analisis kimia tadi didasarkan pada data yang dihasilkan pada saat pengukuran.

Dalam artikel ini kita akan sedikit belajar mengenai jenis kesalahan baik itu kesalahan sistematis dan kesalahan acak serta contohnya dan bagaimana pengaruhnya dalam hasil pengujian / analisa.

Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak

Berikut ini adalah video pendek terkait dengan perbedaan kesalahan sistematis dan kesalahan acak.

Kesalahan dalam analisis kimia dibagi menjadi tiga, yaitu :

  • Kesalahan Total / gross error

Kesalahan total dapat terjadi karena banyak sebab, misalnya : Pereaksi yang kita gunaakan sudah terkontaminasi, buret yang kita gunakan pada titrasi tidak bersih. Sehingga akibat dari kesalahan total / gross error ini adalah akan menyebabkan hasil analisis jauh berbeda dari nilai sebenarnya.

  • Kesalahan Sistematis

Salah satu penyebab kesalahan sistematis adalah apabila kita melakukan cara pengukuran yang salah secara sistematis, misalkan : Ketika kita membaca permukaan (miniskus) larutan di dalam buret, mata kita selalu dibawah permukaan larutan sehingga hal ini akan menyebabkan pembacaan akan selalu lebih besar dari nilai yang seharusnya.

Contoh lain : jika alat ukur yang kita gunakan tidak dikalibrasi dengan benar, maka kita akan selalu mendapatkan hasil yang secara konsisten lebih besar atau lebih kecil (tergantung koreksinya apakah + atau -) dari nilai yang sebenarnya.

  • Kesalahan Acak / random error

Sumber kesalahannya acak ini tidak bisa kita kendalikan, misalnya : temperatur di dalam laboratorium yang tidak stabil selama anda melakukan eksperimen / analisa, Walaupun kita sudah menggunakan AC di laboratorium, kemungkinan besar suhunya juga tidak akan konstan. Kelembaban udara di dalam laboratorium yang juga berubah-ubah yang bisa mengakibatkan hasil pengukuran kita lebih besar / lebih kecil dari nilai sebenarnya.

Jadi random error bisa menyebabkan hasil analisis kita lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya.

Untuk mendapatkan hasil analisis yang baik di dalam analisis kimia, kita tidak boleh melakukan kesalahan total ataupun kesalahan sistematis. Karena sumber kesalahan total dan sumber kesalahan sistematis bisa kita identifikasi dan bisa kita eliminasi, maka kita bisa menghindari melakukan kesalahan total atau kesalahan sistematis tersebut.

Namun kesalahan acak atau random Error itu tidak bisa kita hindari, Jadi jika ada random error maka hasil analisis kita akan bisa lebih besar atau lebih kecil dari nilai yang sebenarnya.

Untuk memahami hal diatas kita perhatikan contoh berikut ini :

Pada suatu analisis besi (Fe) yang kadarnya 20 ppm oleh seorang mahasiswi diminta untuk melakukan analisis 6 x, hasilnya adalah sebagai berikut :

kesalahan sistematis dan kesalahan acak

Jadi kalau kita perhatikan data diatas, nilai yang diperoleh dari 6 x pengukuran tersebut bisa lebih besar atau lebih kecil dari 20 ppm.

Lalu bagaimana kita melaporkan hasil pengukuran tersebut?

Jika kita anggap 20 ppm terebut adalah nilai yang sebenarnya, maka kita akan lihat bahwa nilai tengah dari hasil pengukuran ini akan mendekati nilai yang sebenarnya.

Jadi biasanya kita melaporkan hasil pengukuran kita dengan nilai tengah. jika terdapat variasi hasil pengukuran terhadap nilai tengah tersebut merupakan ukuran ketidakpastian dari nilai tengah tersebut.

Jadi nilai tengah ini bukan nilai yang sebenarnya, tetapi nilai yang mendekati nilai yang sebenarnya.

Point Penting yang bisa kita simpulkan adalah…

Di dalam analisis kimia, kita tidak akan pernah mendapatkan nilai yang sebenarnya, yang akan anda peroleh adalah nilai tengan yang mendekati nilai yang sebenarnya.

Kenapa anda tidak bisa mendapatkan nilai yang sebenarnya?

Karena di dalam pengukuran kita pasti melakukan kesalahan.

Rata-Rata vs Median Dalam Hasil Analisa

Nilai tengah dari suatu pengukuran dapat dinyatakan dengan 2 cara :

Dengan menghitung rata-rata

Dengan menghitung median

Rumusnya nilai rata-rata

Rata-rata adalah Jumlah dari semua hasil pengukuran dibagi dengan jumlah pengukurannya.

Jadi kalau kita mempunyai 6 hasil pengukuran seperti data diatas, maka hasil pengukurannya dijumlahkan semua lalu dibagi jumlah data (6) atau jika kita menggunakan excel cukup dengan formula :

=average(drag semua data yang ingin dirata-rata)

Jadi nilai tengah dan Nilai rata-rata dari hasil pengukuran diatas adalah

(19.4+19.5+19.6+19.8+20.1+20.3)/6 = 19,8 ppm.

Sedangkan median adalah nilai tengah dari satu set data jika data-data tersebut diurutkan dari yang terkecil hingga yang terbesar atau jika kita menggunakan excel cukup dengan formula :

=median(drag semua data yang ingin dirata-rata)

Jadi dari 6 data diatas, jika kita urutkan datanya adalah :

19.4 ; 19.5 ; 19.6 ; 19.8 ; 20.1 ; 20.3

Maka nilai tengah berada diantara 19.6 dan 19.8

Sehingga nilai tengan (median) nya adalah = (19.6 + 19.8)/2 = 19.7 ppm.

Dari perhitungan diatas, dapat kita lihat bahwa nilai rata-rata tidak sama dengan nilai tengah (median), lalu mana yang ingin kita pakai?

Tidak masalah kita mau menggunakan nilai rata-rata atau nilai median karena itu adalah hasil pengukuran, bukan nilai yang sebenarnya. 

Presisi vs Akurasi

akurasi vs presisi

Paling tidak ada dua hal yang harus kita pahami untuk memberikan arti pada hasil analisis.

  1. Ketelitian atau presisi
  2. Ketepatan atau Akurasi

Untuk memberikan pemahaman mengenai kedua hal diatas (presisi dan Akurasi) maka kita coba bayangkan lingkaran pada gambar diatas sebagai target ketika orang memanah. Target kita tentunya busur panah tepat mengenai di tengah-tengah lingkaran. Nah jika kita melakukan tembakan (memanah) dengan anak panah 9 x. 

  • Untuk tembakan yang berada di lingakaran A, jika kita ambil rata-ratanya, maka kurang lebih posisinya agak jauh dari tengah lingkaran (posisinya tidak di tengah atau nilai yang sebenarnya). Hal tersebut menunjukkan akurasi dari tembakan kita rendah karena rata-ratanya tidak di tengah-tengah lingkaran. 

Selain itu hasil tembakan kita tersebar kemana-mana atau antara satu tembakan dengan tembakan lain saling berjauhan, hal ini menunjukkan tidak presisi atau tidak teliti.

Jadi lingkaran A tersebut adalah hasil tembakan yang akurasinya rendah dan presisinya rendah.

  • Kemudian untuk lingkaran B, jika kita lihat dan rata-rata hasilnya juga terlihat jauh dari target (titik tengah lingkaran) hal ini menandakan akurasinya rendah. Namun Jarak antara satu tembakan dengan tembakan yang lain berdekatan sehingga bisa dikatatan presisinya tinggi.
  • Untuk lingkaran C, dimana jika hasil beberapa tembakan kita rata-ratakan maka posisinya dekat dengan target (titik tengah lingkaran), sehingga bisa dikatakan akurasinya tinggi. Namun jarak antara satu tembakan dengan tembakan yang lain itu berjauhan sehingga presisinya rendah.
  • Untuk lingkaran D bisa kita lihat bahwa jika beberapa tembakan tersebut kita rata-rata maka hasilnya mendekati target (titik tengah lingkaran), selain itu jarak antara tembakan satu dengan yang lainnya juga berdekatan. Jadi bisa dikatakan mempunyai akurasi dan presisi yang tinggi. Data inilah yang kita harapkan dalam setiap pengujian atau pengukuran. Meskipun perlu proses dan pengalaman, dan peningkatan kompetensi untuk mendapatkannya.

Pemahaman mengenai istilah kesalahan sistematis, kesalahan acak, akurasi, presisi ini sangat penting terlebih dalam rangkaian suatu kegiatan verifikasi dan validasi metode analisis.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=Cn5XOo3He_o&t=349s
www.youtube.com/watch?v=pl9fJ7JujCc&t=36s

Pengertian Pengukuran Dalam Ilmu Fisika Beserta Contohnya

jelaskan pengertian mengukur

Pengukuran merupakan hal mendasar jika kita mempelajari ilmu yang terkait dengan metrologi, insstrumen ukur / kalibrasi, pengujian, validasi dan verifikasi, dll. Karena semua kegiatan tersebut berawal dari data yang didapatkan dari aktifitas pengukuran. Lalu apa pengertian pengukuran? Hubungannya dengan besaran dan satuan? Serta bagaimana memahami satuan baku dan tidak baku, besaran pokok dan besaran turunan akan dibahas secara singkat di dalam artikel berikut ini.

Pengertian Pengukuran Dalam Ilmu Fisika

Jika kita berbicara mengenai pengukuran, sebenarnya aktifitas ini hampir setiap hari bisa kita temui, misalnya :

  • Pengukuran tinggi dan berat badan seorang pasien ketika berobat ke rumah sakit. Mialnya tinggi badan pasien 170 cm dengan berat badan 70 kg, dll
  • Penimbangan sembako (beras, gula pasir, dll) ketika kita belanja di pasar. Misalnya : gula pasir yang kita beli adalah 1 kg, 500 kg, dll

Aktifitas / proses mengambil mengukur tinggi badan, berat badan, dan menimbang gula pasir ini disebut  sebagai pengukuran atau jika menggunakan bahasa ilmiah, pengertian pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan besaran sejenis yang dipakai sebagai satuan. Misalnya : kita mengukur tinggi maka tinggi itu kita sebut sebagai besaran yang diukur.

Pengertian Besaran dan Satuan

Lalu apa yang dimaksud dengan besaran sejenis yang dipakai sebagai satuan?

Misalkan dari aktifitas pengukuran tinggi badan diatas. kita mendapatkan tinggi 170 cm, maka yang cm (centi meter) inilah yang kita sebut sebagai satuan, sedangkan tinggi yang kita ukur 170 cm  kita sebut sebagai besaran.

Besaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat diukur (apapun yang dapat diukur kita sebut sebagai besaran). Contohnya :

  • Berat
  • Tinggi
  • Panjang
  • Kuat arus
  • Kecepatan
  • dll

Prinsipnya adalah apapun selama masih bisa kita ukur kita sebut dengan BESARAN. Dari contoh-contoh diatas tentunya kita bisa mengukurnya kan? Misalnya :

  • Berat diukur dengan timbangan
  • Tinggi dan Panjang diukur dengan penggaris / meteran
  • Kuat arus diukur dengan amper meter
  • Kecepatan diukur dengan speedometer
  • dll

Mungkin teman-teman bertanya,  Apa contoh yang bukan besaran yang enggak dapat diukur?

Misalnya : kita mengukur rasa dari suatu makanan, rasa ini tidak bisa kita ukur, kita hanya bisa bilang makanannya  enak / tidak enak, namun kita tidak tahu cara mengukurnya gimana. Maka dalam hal ini RASA tidak bisa kita sebut sebagai besaran.

Kemudian contoh yang lainnya, rasa sayang kita kepada kedua orang tua, rasa sayang ini juga tidak bisa sebut sebagai besaran karena tidak bisa diukur. Kita hanya bisa mengatakan rasa sayang besar / besar sekali, dll.

Mudah-mudahan kedua contoh diatas membuat kita paham ya mengenai pengertian besaran.

Kemudian ada yang namanya satuan, Apa pengertian satuan?

Satuan diartikan sebagai sesuatu yang digunakan sebagai pembanding dalam pengukuran.

Supaya kita bisa lebih mudah memahami perbedaan besaran dan satuan, mari kita lihat contoh dibawah ini.

Contoh 1 :

Misalkan ada seorang kakek dan cucunya pergi memancing, dan mendapatkan ikan yang cukup besar, dan si kakek penasaran seberapa besar ikan tersebut?

Maka untuk mengetahui ukuran ikan tersebut dilakukanlah pengukuran. Apa yang kita ukur? Kita bisa mengukur :

  • Panjangnya
  • Berat / Massanya

Nah, misalnya dalam hal ini si kakek mengukur panjangnya. Karena kakek tidak punya penggaris / meteran, maka si kakek memutuskan dengan memakai JENGKAL (jarak dari ujung jempol ke ujung kelingking ketika jari-jari kita rentangkan).

Dan hasilnya adalah 6 JENGKAL.

Cucu si kakek juga mengukur panjang ikan dengan satuan JENGKAL tersebut, dan si cucu mendapatkan 15 JENGKAL.

Dari hasil pengukuran atara kakek dan cucu tersebut hasilnya berbeda, meskipun sama-sama menggunakan satuan JENGKAL. Kenapa? karena ukuran tangannya berbeda. Si kakek tentunya mempunyai ukuran tangan yang lebih besar dibandingkan dengan cucunya.

Karena hasil pengukurannya berbeda, maka supaya seragam si kakek menggunakan cara lain dalam mengukurnya. Dia meminjam meteran untuk mengukur ikan tersebut. Dan hasilnya adalah 94 cm. Aktifitas ini juga disebut sebagai pengukuran.

Seperti yang sudah diuraikan di awal, pengukuran adalah kegiatan yang membandingkan suatu besaran yang diukur dengan besaran sejenis yang dipakai sebagai satuan. Dalam kasus diatas kita mengukur panjang, maka panjang ini kita sebut sebagai besaran. Dalam contoh diatas tadi kita membandingkan panjang ikannya dengan JENGKAL nya si kakek.

Panjang Ikan = 6 Jengkal

Maka JENGKAL ini kita sebut sebagai SATUAN.

JENGKAL CUCU KAKEK ini juga kita sebut sebagai SATUAN.

Nah pada saat kakek menggunakan PENGGARIS maka kita membandingkan PANJANG IKAN dengan garis-garis yang ada di penggaris, hasilnya adalah 94 cm (centi meter)

Maka cm (CENTI METER) ini juga kita sebut sebagai SATUAN.

Dari uraian kasus diatas, kita mempunyai dua buah satuan, yaitu :

  • JENKAL
  • CM (Centi Meter)

Kembali ke satuan JENGKAL, dari kasus diatas pengukuran panjang ikan, jika kita perhatikan JENGKAL kakek dengan JENGKAL cucunya ternyata tidak SAMA (berbeda).

  • Si kakek = 6 JENGKAL
  • Si cucu = 15 JENGKAL

Sementara kalau kita ukur menggunakan penggaris, meskipun penggaris kayu, penggaris plastik, penggaris stainless stell maka hasilnya SAMA yaitu  94 cm (dalam hal ini kita anbaikan dulu terkait dengan akurasi dan ketidakpastian pengukuran ya), bahkan jika kita ukur menggunakan meteran kainpun hasilnya akan sama yaitu 94 cm, maka :

JENGKAL diatas kita sebut sebagai SATUAN TIDAK BAKU sedangkan CM (Centi Meter) kita sebut sebagai SATUAN BAKU.

Contoh 2 :

jelaskan pengertian pengukuran

Misalnya :

Ada seorang petani baru memanen padi di sawahnya, pak tani ini ingin tahu seberapa banyak padi yang sudah dipanen, kemudian pak tani memasukkannya ke dalam karung-karung dan didapatkanlah hasil panen padi tersebut sebanyak 40 karung.

Tapi petani tersebut kurang yakin terhadap hasilnya, karena bisa jadi ikatan karungnya tidak berada di tempat yang sama, ada yang  diujung karung, ada juga yang agak di tengah karung, sehingga berat / volume padi yang ada di karung bisa jadi berbeda-beda.

Untuk memastikan berapa hasil panennya, maka pak tani tersebut menggunakan cara lain, yaitu dengan menghitung berapa LITER hasil panen tersebut, dan ternyata hasil panen yang didapatkan adalah 2500 LITER.

Dari aktifitas pengukuran pak tani tersebut dapat kita ambil kesimpulam :

VOLUME yang kita ukur disebut sebagai BESARAN.

Dan ada 2 satuan dari penimbangan tersebut, yaitu :

  • Karung, yaitu 40 karung
  • Liter, yaitu 2500 liter

KARUNG dalam contoh diatas adalah satuan tidak baku (karena beda karung bisa berbeda isinya) sedangkan LITER kita sebut sebagai satuan baku.

Dari 2 contoh diatas bisa kita simpulkan, besaran adalah apapun yang diukur sedangkan satuan adalah pmbandingnya yang biasanya diletakkan di belakang nilai, misalnya pengukuran berat hasilnya 10 kg, maka berat 10 adalah besarannya, dan kg adalah satuannya.

Satuan Baku dan Satuan Tidak Baku

satuan baku dan satuan tidak baku

Seperti yang telah diuraikan dalam 2 contoh diatas, satuan dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

Satuan Tidak Baku

Satuan tidak baku adalah satuan yang tidak standar, berbeda orang hasilnya bisa berbeda. Contoh untuk besaran panjang, ada beberapa satuan tidak baku, antara lain :

  • Jengkal : Jarak dari ujung jempol ke ujung kelingking ketika jari-jari kita regangkan.
  • Hasta : Jarak dari siku ke ujung jari
  • Depa : Jarak dari ujung jari ke ujung jari berikutnya ketika tangan kita rentangkan

Dapat kita bayangkan untuk satuan-satuan tidak baku diatas, tentunya akan berbeda antara orang satu dengan yang lainnya tergantung dengan ukuran tangan orang tersebut.

Untuk besaran-besaran yang lain satuan tidak bakunya bisa dilihat pada tabel diatas.

Satuan Baku

Satuan baku adalah satuan yang telah disepakati, Nah kalau kita bicara mengenai besaran panjang maka satuan bakunya adalah cm (centi meter), m (meter), km (kilo meter), dll.

Besaran Pokok dan Besaran Satuan

pengertian besaran pokok

Besaran juga dibagi 2 yaitu :

Besaran pokok

Besaran pokok adalah besaran-besaran dasar / besaran-besaran utama. Ada 7 besaran pokok, yaitu :

  • Panjang.
  • Massa.
  • Waktu.
  • Suhu.
  • Kuat arus.
  • Jumlah molekul zat
  • Intensitas Cahaya

Besaran turunan

Besaran diluar dari 7 besaran yang disebutkan diatas, misalnya :

  • Luas
  • Volume
  • Kecepatan
  • dll

Demikian artikel singkat mengenai pengertian pengukuran, besaran dan satuan serta dengan contohnya karena hal ini akan sangat bermanfaat ketika kita bekerja di bidang yang terkait instrumentasi dan akan menjadi dasar ketika kita mengikuti pelatihan / training kalibrasi.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Rumah Belajar Kamil

Kapan Melakukan Verifikasi dan Validasi Metode Analisis?

kapan melakukan verifikasi dan validasi metode

Seperti yang kita ketahui, salah satu klausul di dalam standar SNI ISO / IEC 17025 : 2017 khususnya dalam persyaratan proses : klausul 7.2 adalah verifikasi dan validasi metode. Lalu apa sih sebenarnya perbedaan kedua istilah tersebut dan kapan kita melakukan verifikasi metode dan kapan kita melakukan validasi metode akan dibahas di dalam artikel ini. Pemahaman hal tersebut sangatlah penting supaya dalam penerapan di laboratorium kita tidak melanggar persyaratan / klausul SNI ISO / IEC 17025 tersebut.

Berdasarkan SNI ISO / IEC guide 99 – 2.44 & 2.45 :

validasi metode adalah

Verifikasi adalah penyediaan bukti obyektif bahwa butir yang diberikan memenuhi persyaratan yang ditentukan..

Sedangkan Validasi adalah verifikasi, dengan persyaratan yang ditentukan memadai untuk tujuan penggunaan.

Contoh Verifikasi adalah konfirmasi bahwa material yang diberikan seperti yang diukur adalah homogen untuk nilai besaran dan prosedur pengukuran yang bersangkutan, hingga ke bagain pengukuran yang memiliki massa 10 mg.

Contoh validasi adalah suatu prosedur pengukuran, biasanya digunakan untuk pengukuran konsentrasi massa nitrogen dalam air dapat di validasi untuk pengukuran dalam serum manusia.

Pengertian Verifikasi Metode

Verifikasi metode adalah uji kinerja metode standar, melalui verifikasi harus dapat dipastikan bahwa laboratorium dapat menggunakan metode standar dengan baik sebelum melakukan pengujian terhadap sampel yang dikirimkan pelanggan.

Meskipun metode standar sudah divalidasi oleh personil laboratorium acuan badan standar, namun laboratorium yang menerapkan standar SNI ISO 17025 : 2017 harus meyakinkan bahwa personil pengujian yang ada dalam laboratorium sama kompetensinya dengan personil pengujian dalam laboratorium acuan badan standar. Selain personel terebut, sarana dan prasarana laboratorium termasuk didalamnya peralatan yang digunakan, fasilitas kondisi lingkungan, dan bahan acuan yang digunakan untuk melakukan pengujian juga harus sama baiknya dengan yang dimiliki badan standar.

Alasan diatas yang mendasari bahwa sekalipun laboratorium menggunakan metode standar yang sudah tervalidasi, maka metode standard tersebut masih perlu diverifikasi dan jika ada perubahan / modifikasi terhadap pada metode standar tersebut maka laboratorium harus melakukan konfirmasi ulang bahwa laboratorium sanggup menggunakan metode standar termodifikasi dengan baik.

Karena seperti kita ketahui bersama, bahwa dokumen standar itu terkadang terjadi revisi dan bersifat tidak stagnan atau bersifat dinamis sehingga metode standar pun sering diperbaharui dari waktu ke waktu.

Verifikasi dilakukan terhadap metode standar sebelum metode tersebut diaplikasikan di laboratorium dalam melayani jasa pengujian sampel milik pelanggan. Jadi bisa dikatakan tujuan verifikasi adalah membuktikan bahwa laboratorium mampu melakukan pengujian dengan metode Standar tersebut dengan hasil yang dapat diandalkan atau valid.

Secara sederhana kita mengenai verifikasi adalah konfirmasi atau pengecekan.

Pengertian Validasi Metode

Validasi metode adalah konfirmasi bahwa metode terkait memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan maksud metodenya (fit for purpose) dengan cara menguji metode dan melengkapi bukti-bukti yang objektif.

Dalam kegiatan validasi metode, baik kemampuan maupun keterbatasan metode ditetapkan dan dievaluasi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja metode diidentifikasi dan dikaji seberapa besar pengaruhnya terhadap kinerja metode, misalnya :

  • Faktor matriks contoh
  • Faktor zat pengganggu

Tujuan validasi adalah menentukan apakah seluruh tahapan pengujian telah memenuhi standar yang ditetapkan dan hasil uji yang cermat dan akurat merupakan cerminan dari pelaksanaan yang baik dari seluruh tahapan pengujian.

Ketika kita berbicara tahapan pengujian maka tidak hanya terbatas pada tahap pengukuran saja namun juga tahapan-tahapan yang mendahului pengukuran / tahapan pretreatment contoh. Bagaimana mengubah sampel berupa padatan hingga menjadi larutan yang siap diukur. Hal tersebut merupakan rangkaian dalam tahapan pretreatment contoh atau perlakuan pendahuluan terhadap contoh.

Validasi metode juga harus dilaksanakan oleh personil yang kompeten, menggunakan peralatan dengan kinerja baik, dan tentunya sudah dikalibrasi. Pelaksanaan validasi metode hampir mirip dengan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan pengembangan suatu metode analisis.

Sesuai dengan klausul 7.2 SNI ISO / IEC 17025 : 2017, dimana kegiatan validasi metode berlaku untuk :

  • Metode Non Standar

Metode Non standar yaitu metode yang bukan berasal dari buku standar kita kenal, misalnya : ASTM (American Standard Testing and Material), USP (United States Pharmacopeia), JIS (Japanese Industrial Standards), APHA, AOAC (Association of Official Agricultural Chemists), dll

Contoh dari metode non standar ini adalah metode yang kita ambil dari teks book, metode yang diadopsi Dari jurnal ilmiah misalnya : Jurnal Of Analytical chemistry & Jurnal Of kromatografi, metode yang berasal dari supplier peralatan pada saat kita membeli instrument tersebut.

  • Metode standar yang dimodifikasi sendiri oleh laboratorium
  • Metode yang dibuat atau dikembangkan sendiri oleh laboratorium

Kinerja Uji pada Verifikasi dan Validasi Metode

Kinerja uji apa saja yang harus dilakukan pada verifikasi atau validasi metode? Kinerja yang diuji pada verifikasi kurang lebih sama dengan kinerja yang diuji pada validasi, antara lain :

  • Presisi
  • Akurasi
  • Recovery
  • LOD LOQ
  • Linearitas (berkaitan dengan daerah kerja yang linier pada kurva kalibrasi)
  • Ketidakpastian (Uncertainty)
  • Konfirmasi identitas

Kapan Melakukan Verifikasi dan Validasi Metode

arti verifikasi adalah

Laboratorium memerlukan verifikasi metode apabila laboratorium menggunakan metode baku terpublikasi atau metode baku yang sudah divalidasi oleh lembaga atau organisasi baik internasional maupun nasional. Dalam hal ini tetap laboratorium masih memerlukan verifikasi atau konfirmasi agar laboratorium yang bersangkutan memiliki data kinerja uji metode yang berlaku di laboratorium tersebut dan sesuai dengan kebutuhannya.

Laboratorium yang berbeda pasti memiliki kondisi, kompetensi personil, serta kemampuan peralatan yang berbeda-beda sehingga kinerja laboratorium yang satu tidak akan sama dengan kinerja laboratorium yang lain.

Laboratorium memerlukan validasi metode apabila laboratorium menggunakan :

  • Metode yang bukan metode standar

Metode standar tapi dimodifikasi, jadi kita tidak menggunakan seutuhnya seperti apa yang tertera dalam metode standarnya tapi di sana-sini diubah oleh laboratorium serta metode yang sudah divalidasi pihak lain apabila mengalami modifikasi di suatu laboratorium maka laboratorium tersebut harus melakukan validasi kembali

  • Laboratorium menggunakan metode standar yang dipakai di laboratorium lain. Jadi belum pernah dibuktikan di laboratorium ini semua kinerja uji metode terpenuhi.

Pada prinsipnya semua metode termasuk metode standar yang diterapkan di suatu laboratorium memerlukan validasi atau sekurangnya verifikasi. Seberapa banyak kinerja uji metode yang perlu diverifikasi atau divalidasi bergantung pada sejauh mana laboratorium memiliki data kinerja uji metode yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Misalnya :

  • Suatu laboratorium sedang memvalidasi suatu metode yang memang dalam metode tersebut tidak digunakan kurva kalibrasi, maka tidak perlu kinerja uji linearitas dilakukan.
  • Laboratorium sedang memvalidasi atau memverifikasi penetapan kadar air pada pengujian yang tidak diperlukan kinerja uji LOD (limit of detection) sehingga kinerja uji LOD tersebut juga tidak perlu dilakukan.

Meskipun sebagian data kinerja uji metode sudah tersedia di literatur / sudah dipublikasi namun data tersebut tetap perlu dikonfirmasi ulang di laboratorium yang akan menggunakan metode tersebut.

Penggunaan metode terverifikasi atau tervalidasi adalah salah satu komponen pengendalian mutu hasil uji agar dapat diperoleh hasil yang akurat sehingga hasil uji yang berasal dari satu laboratorium akan dapat diperbandingkan dengan hasil uji laboratorium yang lain.

Semoga bermanfaat

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=tc86fX2npzo

Panduan dan Peraturan Dalam Membuat Label Kemasan Makanan

Label Kemasan Makanan

Suatu produk khususnya produk pangan, selain rasa dan khasiat, maka kita sebagai produsen juga harus mempertimbangkan mengenai label kemasan karena hal ini akan sangat mempengaruhi penjualan produk tersebut. Pada artikel kali ini kita akan belajar hal-hal terkait dengan kemasan dan label, mulai dari hal-hal yang harus diperhatikan ketika mendesain kemasan serta peraturan BPOM tentang label pangan olahan.

Panduan Mendesain Kemasan Produk Pangan

  • Bagaimana Kemasan Tersebut Akan Melindungi Produk

Terlepas baik itu kemasan primer, sekunder, atau tersier, beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu material apa yang harus kita gunakan (plastik, kertas, alumunium foil, kardus, kaca, dll). Selain materialnya kita juga harus mempertimbangkan tentang bentuk dari kemasan tersebut, apakah berbentuk kotak, botol, atau hanya cukup dengan kemasan plastik saja.

Material kemasan juga perlu diperhatikan karena selain berfungsi untuk pelindung produk pangan dari kerusakan, material tersebut juga bisa menjadi strategi marketing. kita bisa membedakan kualitas produk dan sasaran pasarnya (target market) hanya dari jenis material kemasannya, karena material yang berbeda akan memberikan sensasi / cara pandang pelanggan terhadap produk tersebut yang berbeda pula.

label kemasan produk pangan

Contohnya : 2 Produk yang sama (Misalnya : Coklat), diproduksi dari perusahaan yang sama, dengan material dan mesin produksi yang sama pula. Namun bets pertama dikemas dengan menggunakan kemasan primer plastik tentunya akan berbeda secara harga jika produk tersebut dikemas dalam kemasan box dengan design yang menarik.

Target pasarnya juga berbeda, untuk coklat yang dikemas dalam kemasan plastik cenderung mempunyai konsumen yang mungkin akan mereka konsumsi sendiri sehingga kemasan plastikpun tidak masalah yang penting dari sisi harga relatif lebih murah. Sedangkan untuk coklat yang dikemas dalam bentuk box, secara konsumen mau membayar lebih mahal yang penting mereka mendapatkan produk yang menerut mereka lebih berkualitas (meskipun secara produk kualitasnya sama).

Konsumen dengan tipe yang kedua ini akan rela membayar lebih mahal coklat dengan label kemasan di box meskipun secara kuantitas lebih sedikit dibandingkan dengan yang dikemas dengan plastik, karena persepsi konsumen adalah produk dengan kemasan box terlihat lebih mewah sehingga mereka berasumsi bahwa produk yang didalamnya juga memiliki kualitas yang lebih tinggi terlebih jika mereka sedang mempunyai acara tertentu atau untuk hadiah maka kemasan box ini tentunya akan lebih mereka pilih.

Material kemasan ini juga dibedakan berdasarkan pada ukuran dari produknya.

misalnya : Produk Air mineral.

Seperti kita ketahui kemasan air mineral tersebut ada yang menggunakan plastik / kaca. Untuk plastiknya pun berbagai macam, untuk air mineral biasanya menggunakan bahan polietilena tereftalat. Namun terkadang kita juga menemukan air mineral yang dikemas dalam kemasan kaca.

Harga untuk air mineral dengan kemasan yang berbeda tersebut tentunya juga berbeda.

Misalnya :

    • Air mineral kemasan plastik dengan volume 1500 ml mempunyai harga Rp. 5.000.-
    • Air mineral kemasan kaca dengan volume 350 ml mempunyai harga Rp. 10.000,-

Dengan perbandingan harga terebut, tetap air mineral dalam kemasan kaca laku terjual karena mempunyai pasar tersendiri, misalnya : digunakan untuk acara training / seminar di hotel, dll. Sedangkan untuk air mineral dengan kemasan plastik relatif digunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak membutuhkan suatu kemewahan.

  • Bagaimana Kemasan ini Nanti Terlihat

Jadi secara visual hasil kemasan tersebut nanti seperti apa, Hal ini penting untuk meningkatkan daya tarik konsumen terhadap produk yang kita jual sehingga konsumen tertarik untuk mencoba dan membelinya.

  • Sudut Pandang Distributor dan Retailer Produk Kita

Distributor atau penjual merupakan bagian penting dari rangkaian bisnis kita. Produk dengan khasiat sehebat apapun dan dengan harga semurah apapun kalau tidak ada penjualan pastinya juga akan berdampak buruk bagi bisnis. Sehingga sudat pandang distributor dan penjual produk kita tersebut harus benar-benar diperhatikan. Distributor dan Retailer umumnya sudah punya gudang sendiri serta rak sendiri untuk mendisplay / memajang produk-produk yang mereke pasarkan.

Secara umum, ukuran dari gudang / rak mereka tersebut biasanya standar, sehingga produk dengan kemasan yang tidak lazim (terlalu tinggi, terlalu lebar, atau tebal) justru akan menyulitkan distributor atau penjual untuk menampilkan produk kita yang tentunya akan berdampak ke penjualan kita.

  • Bagaimana Pertimbangan dari Segi Biaya

Tentunya kita harus memastikan harga / biaya kemasan tersebut apakah masih masuk dalam budget produksi. Jangan sampai kemasan ini tidak sesuai dengan harga produknya walaupun memang banyak kita temui di perusahaan manufacturer bahwa kemasan bisa jadi jauh lebih mahal daripada biaya produk yang akan dijual. Hal tersebut banyak terjadi di industri pangan dimana biaya produksi yang paling tinggi justru berada di label kemasan nya.

Sehingga tak heran jika di dalam perusahaan selalu melakukan improvement untuk melakukan efisiensi biaya dari sisi label kemasan yang mereka gunakan, misalnya melalui penggantian supplier / pemasok. Namun tetap yang harus kita perhatikan adalah dengan adanya penggantian pemasok tersebut apakah menurunkan kualitas label kemasan dari produk kita atau tidak.

Misalnya jika kita berbicara kemasan alumunium foil, apakah dari sisi tebalnya sama dengan yang sebelumnya (bisa diukur dengan menggunakan thickness gauge), jika itu untuk kemasan karton, apakah dari gramature nya mempunyai spesifikasi yang sama, jika kemasan botol, apakah kekuatan tutupnya sesuai spesifikasinya (bisa diukur dengan alat ukur uji puntir), dll.

Secara prinsip meskipun kemasan bisa menjadi biaya paling tinggi dalam produksi, namun produk tersebut tetap bisa dijual dan mampu bersaing di pasaran maka hal tersebut mungkin tetap bisa dilakukan.

  • Pertimbangan Desain Label Kemasan

Desain, logo, tagline, merupakan beberapa point penting dalam label kemasan karena bisa dikatakan sebagai long term description yang bisa menjadi branding atau identitas suatu produk pangan yang dikemas itu sendiri.

Mungkin kita bisa mengambil contoh beberapa produk ternama yang sudah beredar di di Indonesia, bahkan hanya mengenai warna dan sedikit bagian dari desain pada label kemasannya tersebut kita bisa mengetahui bahwa produk tersebut bernama apa / dari perusahaan mana.

Desain Label Kemasan

Contoh Label Kemasan

Dalam membuat desain label kemasan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain :

Warna

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih warna :

  • Target pasar
    Jika target pasar produk yang kita buat adalah anak-anak, maka kemasan dengan warna warni cerah akan lebih disukai, misalnya dengan memberikan unsur warna merah, hijau, biru, kuning. Namun untuk target pasar perempuan tentunya warnanya juga harus kita sesuaikan misalnya : pink atau ungu. Sedangkan produk yang ditujukan untuk para laki-laki, maka menggunakan warna hitam, hijau tua, biru tua dirasa lebih cocok. Untuk produk / barang yang dari sisi harga relatif mahal bisa menggunakan warna silver, emas, dll

Jadi prinsip dalam desain label kemasan adalah kita tetap harus berorientasi kepada hal yang disukai konsumen.

  • Identitas Suatu Merk / Produk

Jadi pemilik warna kemasan pangan jika sudah mempunyai konsumen yang loyal kemudian dari sisi warna kemasan dirubah maka bisa berdampak signifikan pada penjualan produk itu sendiri. Sehingga sangat disarankan untuk mematenkan desain ataupun warna dari suatu merk dagang supaya tidak diserupai oleh produk sejenis dari kompetitor.

  • Identifikasi Varian / Rasa

COntoh label minuman botol

Warna juga menunjukkan rasa, biasanya konsumen itu mengkorelasikan antara warna dengan rasa. misalnya : untuk produk susu dengan kemasan warna pink diidentikkan dengan rasa strawberry, warna biru identik dengan rasa original / vanilla, warna orange identik rasa jeruk / mangga.

  • Spesifikasi Produk

Warna juga bisa menunjukkan spesifikasi suatu produk. Misalnya : warna hijau itu untuk produk organik  hijau yang menunjukkan produk tersebut lebih sehat.

Ukuran

Jika kita membuat suatu produk dengan variasi ukuran kemungkinan bisa berdampak pada meningkatkan pasar. Karena kita memberikan pilihan lebih kepada konsumen. Contoh : kemasan air mineral, meskipun hanya mempunyai satu produk yaitu air mineral, namun kemasannya bermacam-macam, ada kemasan botol yang tentunya lebih flexibel dibawa kemana-mana / berpergian, ada kemasan galon yang lebih cocok untuk kebutuhan rumah tangga.

Beberapa manfaat adanya variasi ukuran dalam kemasan antara lain :

  • Ukuran Bisa Untuk Mengatur Cara Penyajian

Misalnya kopi instan, maka dalam kemasan 1 sachet kopi instant tersebut sudah dinyatakan untuk penyajian dengan air 200 ml. Hal tersebut tentunya memudahkan konsumen untuk menakar sesuai dengan kebutuhannya.

  • Ukuran Bisa Meningkatkan Kenyamanan Konsumen

Contohnya, air mineral kemasan gelas / botol. Dengan adanya kemasan tersebut maka konsumen tidak perlu report membawa kemasan yang lebih besar yang mungkin akan dirasa sulit.

Logo, Tipe & Ukuran Huruf

Untuk logo dan huruf pada label kemasan juga perlu untuk di desain karena merupakan branding. Jika kita pernah bermain aplikasi logo quiz, maka pada permainan tersebut hanya memperlihatkan logonya saja tanpa ada namanya.

logo wikipedia

 

Misalnya logo pada gambar diatas, hampir semua orang tahu kalau logo diatas merupakan logo wikipedia. Kurang lebih seperti itulah pentingnya logo yang terkadang orang hanya melihat sekilas sudah mengetahui produk / perusahaan yang mempunyai logo tersebut. Meskipun terkadang produknya bertambah varian, kemasannya juga terkadang sudah berubah bentuk, namun banyak perusahaan tetap memertahankan bentuk logonya.

Untuk desain logo, font, warna tersebut tentunya bisa kita patenkan untuk menghindari adanya penjiplakan dari kompetitor. Karena seperti kita ketahui konsumen itu seringnya melihat logo / design dibandingkan dengan membaca tulisannya.

Peraturan Label Produk Pangan

contoh label makanan lengkap

Apa saja isi dari label aturannya di peraturan badan pengawas obat dan makanan Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan olahan dimana aturan tersebut membahas secara detail apa saja yang harus kita cantumkan dalam label kemasan.

Kewajiban mencantumkan label tersebut berlaku untuk :

  • Pangan dalam kemasan eceran
  • Pangan impor yang diperdagangkan dalam kemasan eceran
  • Pangan olahan yang diedarkan untuk tujuan donasi dan atau program pemerintah

Syaratnya dari label :

  • Mudah dilihat dan dibaca
  • Tidak mudah lepas, tidak mudah luntu,r dan atau rusak.
  • Benar dan tidak menyesatkan
  • Dapat berbentuk tulisan, gambar, kombinasi keduanya / bentuk lainnya.
  • Wajib berbahasa Indonesia, untuk bahasa asing bersifat opsional, kecuali tidak ada padanan bahasa indonesianya.
  • Boleh menggunakan latar belakang berupa gambar atau desain lainnya sepanjang tidak mengaburkan tulisan

Isi Label, Minimal :

  • Nama produknya
  • Daftar bahan yang digunakan / komposisi
  • Berat bersih atau isi bersih
  • Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau mengimpor
  • Logo halal bagi yang dipersyaratkan
  • Tanggal dan kode produksi
  • Keterangan kadaluwarsa
  • Nomor Ijin edar
  • Asal-usul bahan pangan tertentu

Untuk ini berwarna merah ini harus ditempatkan pada bagian label yang paling mudah dilihat dan dibaca.

Misalnya di bagian depan atau belakang yang mudah dibaca.

untuk dalam hal pangan olahan yang jual kepada pelaku usaha untuk diolah kembali menjadi pangan olahan lainnya, label harus memuat keterangan paling sedikit mengenai :

  • Nama produk
  • Berat bersih / Isi Bersih
  • Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau mengimpor
  • Tanggal dan kode produksi
  • Keterangan kadaluwarsa

Semoga bermanfaat.

Prinsip Kerja Mesin Purified Water (PW) System Dalam Pengolahan Air

purified water

Air merupakan salah satu senyawa yang sangat penting bagi manusia maupun makluk hidup lainnya. Dalam penggunaannya, air dapat diolah untuk berbagai macam fungsional seperti memasak, mandi, mencuci dan berbagai kebutuhan lainnya. Air juga dapat diolah untuk keperluan medis seperti : drinking water, purified water, dan water for injection.

Masih berkaitan dengan proses industri khususnya di perusahaan makanan / farmasi, dimana kualitas air harus benar-benar sesuai spesifikasi supaya produk yang dihasilkan aman dikonsumsi oleh pelanggan. Purified water adalah air yang telah disaring atau diproses untuk menghilangkan kotoran seperti bahan kimia dan zat pencemar lainnya biasanya diproduksi menggunakan air tanah ataupun air PDAM.

Pada artikel ini kita akan belajar mengenai pengertian pengelolaan air, macam-macam kontaminan spesifikasi raw water, jenis produk yang dihasilkan alat pada proses water treatment, serta penjelasan singkat mengenai prinsip kerja serta kalibrasi mesin purified water generator yang hampir pasti kita temukan di dalam industri farmasi.

Proses Pengolahan Air

Pengolahan air merupakan proses pengolahan yang dilakukan secara konvensional dengan menambahkan tawas dan juga penyaringan menggunakan kain atau pasir dan secara mandiri dikembangkan dengan mengikuti perkembangan teknologi penyaringan air bersih dan dipengaruhi oleh kemampuan instansi baik dari segi ketersediaan teknologi maupun dari segi pembiayaan.

Macam-Macam Kontaminan Pada Air

Air baku adalah air yang ditemukan di lingkungan yang belum diolah dan tidak ada mineral, ion, partikel bakteri, atau parasit yang dihilangkan. Air baku meliputi air hujan, air tanah, air sumur resapan, dari air badan-badan seperti sungai dan danau. Air baku umumnya tidak aman dikonsumsi manusia karena adanya kontaminan.

Berikut ini adalah kontaminan yang sering terdapat pada air :

  • Gas terlarut dimana pada gas terlarut ini terdiri dari hidrogen sulfida, karbondioksida, dan oksigen.
  • Padatan dimana terdiri dari lumpur, zat organik, senyawa-senyawa diatomik, jamur, bakteri, dari kotoran bakteri besi atau mangan
  • Padatan koloid terlarut terdiri dari minyak, kesadahan, kalsium, magnesium, alkaloid, dan sulfat

Spesifikasi Raw Water

Dalam suatu industri khususnya dalam hal pengolahan air yang digunakan untuk produksi, air yang mengandung kontaminan dimana sebelum diolah menjadi purified water dinamakan sebagai raw water dimana air ini bisa berasal dari air PDAM.

Parameter Fisik

parameter fisik raw water

Dapat dilihat pada tabel bahwa parameter fisik terdiri dari :

  • Kekeruhan
  • Warna
  • Zat padat terlarut
  • Suhu
  • Rasa
  • Bau

Parameter Biologi

parameter biologi raw water

Berikut ini adalah tabel untuk parameter biologi dalam standar baku mutu kesehatan untuk media air. Parameter yang diuji yaitu :

  • Total coliform
  • E. coli tips

Parameter Kimia

parameter kimia air

Berikut ini adalah parameter kimia dalam standar baku mutu kesehatan lingkungan untuk media air, dimana parameter yang diuji antara lain :

  • pH / derajat keasaman
  • Besi
  • Florida
  • kesadahan atau CaCO3
  • Mangan
  • Nitrat
  • Nitrit
  • Sianida
  • Deterjen
  • Pestisida total

Sedangkan untuk parameter tambahan terdiri dari :

parameter tambahan air baku

  • Air raksa
  • Arsen
  • Kadmium
  • Kromium (Valensi 6)
  • Selenium
  • Seng
  • Sulfat
  • Timbal
  • Benzen dan
  • Zat organik KMnO4

Spesifikasi Purified Water (PW)

spesifikasi air purified water

Dapat dilihat dalam tabel diatas, untuk purified water (PW) mempunyai beberapa parameter antara lain :

  • Warna
  • Bau
  • Nitrat
  • Logam berat
  • pH / derajat keasaman
  • Karbon
  • Konductivitas
  • E. Coli
  • Coliform
  • Pseudomonas Aerogenosa

Purified Water (PW) Dalam Industri Farmasi

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, untuk purified water di dalam industri farmasi ini digunakan untuk proses produksi yang menghasilkan produk antara lain sebagai berikut :

  • Antibiotik
  • Tablet antibiotik
  • Tablet non antibiotik
  • Tablet berlapis
  • Tablet berlapis non antibiotik
  • Obat kumur
  • Obat mulut berantibiotik
  • Obat sirup non antibiotik
  • Obat serbuk non antibiotik
  • Kapsul keras
  • Kapsul non antibiotik
  • Obat luar Liquid non antibiotik
  • Krim pelembab

BagianMesin Sistem  Purifued Water

kalibrasi purified water (PW) system generator

1. Multimedia filter

Disebut juga sebagai sand filter dan berfungsi untuk menghilangkan lumpur, endapan, dan partikel-partikel yang ada pada raw water. Multi media filter ini tersusun dari beberapa lapisan filter dengan ukuran kekasaran yang berbeda-beda dengan susunan lapisan yang lebih ringan pada bagian atas dan yang lapisan lebih berat atau pasir bagian bawah.

2. Aktif karbon filter

Bagian ini berfungsi sebagai pre treatment sebelum proses deionisasi untuk menghilangkan bahan-bahan organik yang nantinya bisa menimbulkan warna, bau dan rasa dalam air. Karbon aktif digunakan sebagai filter karena memiliki keuntungan berupa area permukaan yang lebih banyak sehingga lebih efektif untuk menghilangkan kontaminan.

3. Water Softener filter

Bagian ini berisi resin anionik yang berfungsi untuk menghilangkan dan atau menurunkan kesadahan air dengan cara menyerap dan menghilangkan kapur, magnesium, dan kalsium yang dilakukan dengan mengikat ion Calsium dan Magnesium. Tingkat kesadahan air yang tinggi dapat menyebabkan terhambatnya proses penyaringan pada membran RO.

4. Reverse osmosis

Reserve osmosis (RO) merupakan teknik pembuatan air murni atau purified water yang dapat menurunkan hingga 95 % total di Solid (TDS) dalam air. Teknologi reserve osmosis (RO) sendiri menggunakan membran semi permeable yang diameternya lebih kecil dari 0,0001 Micron dan pada prosesnya diberi tekanan tinggi supaya proses penyaringannya dapat berjalan maksimal. Bagian ini juga berfungsi untuk menghilangkan partikel garam dan partikel pencemar lainnya.

5. Mixed Bed Deionizer

Bagian ini berfungsi untuk menghilangkan Ion terlarut dalam air dengan menggunakan resin kation dan anion. Pada resin penukar ion akan terjadi proses penangkapan ion bermuatan positif oleh resin kation dan ion bermuatan negatif oleh resin anion.

Proses Pengoperasian

Air yang akan mengalir dari bagian atas filter yang kemudian melalui media filter dan pori-pori filter tersebut kemudian akan keluar dari bagian bawah filter. Tujuan dari proses pengoperasian ini adalah untuk menghilangkan partikel kotoran yang terperangkap diatas filter sehingga air yang keluar akan lebih jernih. Adanya kotoran yang menempel pada filter akan menyebabkan tekanan inlet meningkat dan menghambat penyerapan klorin, sehingga proses penyaringan dan penyerapan tidak berlangsung dengan baik. Jika kondisi filter saat ini terjadi penumpukan kotoran maka filter perlu dicuci atau backwashing.

Proses Pencucian Backwashing

Aliran air akan diubah alirannya dari bawah keatas sehingga kotoran yang menempel pada media filter akan terangkat keatas untuk sementara sehingga aliran backkwater ini tetap terjaga agar semua kotoran yang tertahan dapat keluar. Selanjutnya dilakukan pembilasan (rinsing) dengan mengalirkan air dari atas kebawah seperti proses pengoperasian tetapi dibuang ke saluran pembuangan sehingga dapat menghilangkan sisa kotoran di tabung filter.

Mix Bed Excharger

Mixed bed ini adalah alat untuk menghilangkan ion terlarut dalam air dengan menggunakan resin kation dan anion, dimana kedua resin tersebut berada dalam satu wadah / tangki. salah satu yang paling banyak menggunakan alat ini adalah industri obat-obatan karena air yang digunakan untuk proses pembuatan ini harus bersih dari ion-ion.

kolom mixed bed excharger ini akan berisi resin kation dan resin anion yang dicampur secara merata untuk mendapatkan kualitas yang tinggi. Kolom resin memiliki 2 jenis yaitu :

  • Single bed
  • Mixed bed ion exchange resin

Ada 2 proses utama dalam mixe bed yaitu :

  • Operasional
  • Regeneratisi

Operation Manual Water Softener Filter

Pasokan Air untuk proses ini berasal dari PDAM atau air sumur yang mengandung kesadahan yang cukup tinggi sehingga akan bermasalah untuk reverse osmosis. Untuk itu Air ini akan dialirkan melalui filter softener yang diisi dengan media resin kation yang berfungsi menyaring kadar kesadahan (Ca dan Mg) yang terkandung dalam air yang dapat diturunkan sehingga air menjadi lunak.

Berikut ini adalah contoh reaksinya :

water softener

Setelah beberapa waktu, softener filter akan menjadi jenuh sehingga perlu dilakukan proses pencucian atau regenerasi agar resin dapat aktif kembali. Untuk itu diperlukan garam untuk resin kation.

Operasional Manual Pada Filter Mixbed

Filtr mixedbed berperan sebagai unit pemoles agar mendapatkan suplai air yang berasal dari tangki penyimpanan reserve osmosis. Mixedbed filter tube akan diisi dengan media resin campuran antara kation dan anion yang berfungsi untuk menghilangkan ion positif dan negatif dalam air sehingga air yang dihasilkan berkualitas tinggi dan nilai konduktivitasnya rendah. Untuk itu perlu dilakukan proses pencucian atau regenerasi agar resin dapat aktif kembali. Proses ini dapat menghasilkan air murni dengan nilai konduktivitas kurang dari 1 microsiemens per sentimeter persegi.

Reaksi kimia yang terjadi pada kolom ini adalah pertukaran ion-ion yang terdapat di dalam air dimana ion positif diikat oleh resin kation sedangkan mesin kation akan melepaskan ion hidrogen dan ion negatif diikat oleh resin anion sedangkan resin anion melepaskan ion hidroksida.

Proses Demineralisasi Air

Demineralisasi air adalah penyerapan ion mineral dalam air menggunakan mesin penukar ion. Air demineralisasi digunakan untuk berbagai kebutuhan, terutama untuk industri antara lain industri pembangkit listrik, tenaga uap, semikonduktor, dan farmasi.Demineralisasi merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk mengikat ion-ion yang terkandung dalam raw water sehingga hasil mixbed akan memiliki nilai kondukitivitas yang rendah dibawah 0,8 S/cm.

Pada umumnya kolam resin yang digunakan dalam proses demineralisasi air. Kolom resin tersebut juga terbagi menjadi dua jenis yaitu single bed dan mixedbed ion exchange resin.

Kalibrasi Sistem Purified Water (PW) Generator

instrumen pada purified water genenerator

Jika kita lihat kembali pada diagram sistem purified water (PW) generator dibawah ini, maka ada beberapa instrument pemantauan untuk memastikan bahwa supply purified water yang akan digunakan di dalam industri sesuai dengan spesifikasinya. Berikut parameter sistem purified water yang harus dikalibrasi secara berkala :

Karena purified water ini terangkai dalam suatu satu kesatuan unit mesin, maka disarankan untuk melakukan kalibrasi ke vendor yang melakukan instalasi sistem purified water (PW) generator tersebut.

Referensi :

www.siagaairbersih.com

www.youtube.com/watch?v=Xq5PgEW1LOE