Destilasi Adalah Salah Satu Metode Pemisahan, Ini Prinsip Kerjanya!

Destilasi Adalah Salah Satu Metode Pemisahan, Ini Prinsip Kerjanya!

Metode pemisahan campuran yang kita kenal mungkin ada bermacam-macam dimana sebagian sudah pernah dibahas, antara lain melalu filtrasi, sentrifugasi, dll.

Nah kali ini kita akan membahas metode pemisahan yang lainnya yaitu destilasi.

Bagi teman-teman yang belajar di Sekolah Menengah Atas Kimia ataupun belajar di bangku kuliah di jurusan kimia, dan farmasi tentunya tidak asing dengan metode ini.

Lalu apa pengertian destilasi, bagaimana prinsip kerjanya, apa saja macamnya, serta gambar rangkaian alatnya?

Yuk kita pelajari bersama

Destilasi Adalah Salah Satu Metode Pemisahan

Destilasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk memisahkan suatu substansi dari campurannya atau memisahkan suatu substansi yang mudah menguap dari substansi lain yang relatif tidak menguap.

Proses destilasi terbagi menjadi 3 tahap, yaitu :

  1. Mengubah substansi dalam bentuk uapnya, misalnya : awalnyan adalah cair, maka harus dibuat dalam bentuk uap.
  2. Memindahkan uap yang telah terbentuk
  3. Mengkondensasikan uap yang terbentuk menjadi cairan kembali.

molekul air

Semua zat cenderung untuk melepaskan molekulnya dari permukaan untuk menjadi bentuk uapnya.

Misalnya : Air yang molekul H2O tumpah di lantai atau dimeja, maka air tersebut akan menguap. Seperti kita ketahui air yang tumpah tersebut tentunya molekulnya banyak, maka masing-masing molekul tadi ingin melepaskan diri dari permukaan.

Oleh karena disitulah terjadi penguapan.

Dan penguapan tersebut temperaturnya tidak harus terjadi pada titik didihnya. Pada suhu berapa pun molekul bisa menguap. Terkait dengan temperatur hanya berdampak pada cepat dan lambatnya proses penguapan saja. Jadi pada temperatur kamarpun air bisa menguap.

Kemampuan untuk melepaskan molekul tergantung pada tenaga kohesi atau gaya tarik menarik dari senyawa yang itu sendiri, misalnya : antar molekul air, antar molekul etanol.

Semakin besar tenaga kohesi, maka semakin kecil kemampuan senyawa tersebut untuk melepaskan molekul dari permukaannya.

Contoh :

Jika kita bandingkan air dan etanol maka molekul-molekul etanol tersebut lebih cenderung mempunyai tenaga kohesi yang lebih kecil dibandingkan dengan tenaga kohesi air.

Atau dengan kata lain air tarik menariknya lebih tinggi dari masing-masing molekul dari etanol.

Itu juga yang menjadi jawaban, jika tangan kita semprot dengan menggunakan etanol maka akan lebih cepat menguap dibandingkan dengan kita semprot dengan air.

Baca Juga : Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Apabila suatu wadah tertutup kemudian diisi cairan tidak penuh (dibagian atasnya ada ruang yang kosong) maka cairan akan melepaskan molekul-molekul keruangan yang ada di atasnya atau akan mengisi ruangan kosong tersebut.

Misalnya kita punya satu gelas air dimana di dalam gelas yang tidak terisi penuh kemudian kita tutup di atasnya.

Nah nanti air yang ada di gelas tersebut molekul-molekulnya akan berusaha untuk menguap. Sehingga terkadang jika kita ambil tutup gelas tersebut terkadang kita lihat di atasnya ada titik-titik air.

Nah itu menunjukkan bahwa molekul-molekul tersebut berusaha untuk melepaskan diri antar molekulnya dan mengisi ruang kosong di atasnya.

Tekanan uap

Jika cairan didiamkan dalam bejana tertutup maka cairan akan menguap dan penguapan akan terhenti pada tekanan tertentu dan hanya tergantung pada suhu.

tekanan uap

Jadi misalnya gelas,diisi air setengahnya saja kemudian ditutup. Nah molekul-molekul air itu akan berusaha untuk lepas atau menguap.

Kapan berhentinya ?

Sampai disebut dengan uap jenuh.

Nah misalnya ditutupnya kurang rapat maka nanti lama-lama uap juga akan keluar.

jadi kalau kita punya minuman kita taruh di botol lama sekali tidak kita buka maka sebenarnya uap yang berada diatas berusaha untuk melepas diri.

Pada suhu tertentu, tekanan uap senyawa cair yang bersinggungan dengan cairan adalah tetap, tidak tergantung pada jumlah cairan maupun adanya uap dalam sistem tersebut.

Tekanan uap air dilihat dari tinggi raksa dalam kolom satuannya dalam mmHg.

Hubungan Antara Suhu dan Tekanan

kurva tekanan uap beberapa senyawa

JIka kita lihat kurva hubungan antara suhu dan tekanan diatas, dimana tekanan udara 1 atmosfer (760 mmHg),  maka dalam kondisi tersebut air mendidih pada suhu 100 °C.

Jika tekanannya direndahkan misalnya tekanannya 400 mmHg, maka air tersebut akan mendidih pada suhu 80 °C.

Demikian sebaliknya, jika tekanannya ditinggikan misalnya : 1200 mmHg, maka air akan mendidih diatas 100 °C. Demikian juga untuk pelarut-pelarut yang lain.

Tentunya kita ingat dengan rumusan PV = NRT, Jadi kalau kalau tekanannya tinggi, suhunya juga tinggi.

Nah hal diatas bisa dimanfaatkan untuk beberapa aplikasi, misalnya kalau tekanan tinggi.

Misalnya kita ingin supaya daging cepat empuk, maka tekanannya diperbesar supaya air tadi mendidih di suhu lebih tinggi dari 100 °C sehingga dagingnya cepet empuk.

Kemudian cara yang lain kita memanfaatkan vakum supaya tekanannya rendah karena jika tekanan rendah maka titik didihnya menjadi lebih rendah dan zat itu tidak rusak.

Contoh : jika kita ingin membuat keripik buah-buahan.

Jika keripik tempe keripik, singkong, pisang dengan digoreng pada tekanan 1 atmosfer sudah bisa menjadi keripik / menjadi keras karena airnya sudah bisa menguap.

Namun untuk buah-buahan karena kandungan airnya banyak, misalnya : kita mau menggoreng salak (membuat keripik salak)

Apakah dengan menggoreng salak, air yang ada didalam salak tadi hilang?

Tidak, malah lembek karena kadar air salak tinggi.

Maka untuk membuat keripik buah tersebut yaitu dengan cara pengurangan tekanan sehingga air yang air yang ada di dalam buah-buahan itu akan menguap tanpa merusak buah tersebut (aromanya masih ada, rasanya juga masih utuh)

Jadi kalau nanti kita mengeluarkan atau menguapkan pelarut pada saat ekstraksi, supaya zat yang kita ekstraksi tadi tidak rusak maka dilakukan destilasi vakum, contohnya etanol bisa menguap pada suhu dibawah suhu didihnya di tekanan atmosfer.

Titik Didih

perbedaan menguap dan mendidih

Menguap adalah terjadi hanya pada permukaan cairan dan dapat terjadi pada setiap temperatur.

Jadi menguap itu pasti terjadi di permukaan, yang bagian dalam tidak menguap, tapi nanti yang bagian dalam pada akhirnya menjadi bagian permukaaan karena yang bagian di muka tadi sudah hilang.

“Jadi penguapan itu hanya pada permukaan cairan bukan yang di dalam”

Mendidih dapat terjadi pada setiap bagian dari cairan pada temperatur dimana tekanan uap cairan ditempat tersebut.

Jadi mendidih bisa terjadi disemua bagian cairan baik di bagian diatas, dibawah Tengah, dibagian bawah semua bisa mendidih.

Dapat terjadi pada setiap bagian dari cairan pada temperatur dimana tekanan uap cairan ditempatkan tersebut sama dengan tekanan udara di atas permukaan cairan plus tekanan cairan diatasnya yaitu temperaturnya sama dengan temperatur titik didih.

rumus tekanan tertentu

titik didih larutan pada senyawa tertentu

Rumus diatas adalah perhitungan titik didih pada tekanan tertentu yakni :

  • P adalah tekanan uap
  • T adalah suhu mutlak
  • A dan B adalah tetapan

Perhitungan Titik Didih pada Tekanan Tertentu

Pada destilasi dibawah tekanan atmosfer. tekanan Barometer jarang tepat 760 mmHg, biasanya deviasi sekitar 20 mmHg. Maka disini harus dilakukan koreksi titik-titik terhadap tekanan normal dengan rumus :

perhitungan titik didih pada tekanan tertentu

Δt adalah koreksi terhadap titik didih yang teramati dalam °C.

Jika  tekanannya tepat 760 mmHg maka memang mendidihnya di 100 °C (misalnya dalam air), namun jika misalnya tekanan udaranya tidak 760 mmHg maka cara menentukan berapa temperatur mendidih adalah dengan ditambahkan selisihnya (Δt)

Untuk alkohol, asam, dan cairan terasosiasi menggunakan persamaan berikut :

perhitungan titik didih untuk alkohol

Lewat Panas

Temperatur pada bagian cairan yang letaknya jauh dari permukaan, harganya lebih tinggi dari titik didih cairan tersebut sehingga kelebihan panas yang timbul karena tekanan cairan di atas bagian tersebut.

Misalnya kita merebus air dalam panci, temperatur didih pada bagian atas tentunya lebih rendah daripada yang di bagian bawah Karena di bagian bawah tentunya tekanannya akan lebih tinggi daripada yang di bagian atas sehingga titik didihnya menjadi berbeda.

Cairan yang mempunyai temperatur lebih tinggi dari titik didih tersebut merupakan cairan yang akan mengalami superheating, jadi panasnya itu berlebih.

Kenapa kita pelajari hal tersebut?

Karena nanti terkait dengan destilasi dimana destilasi harus dipanaskan sehingga kita harus mengetahui sifat-sifat zat ketika dipanaskan.

pengertian bumping

Adanya perbedaan tekanan dan temperatur yang besar diantara bagian cairan akan menimbulkan percikkan kuat atau ledakan yang disebut sebagai disebut bumping.

Kalau di rumah misalnya kita merebus air dan jika sudah mendidih maka ditunjukkan dengan meletup-letup. Nah itulan ilustrasi yang disebut dengan bumping.

Hal tersebut karena titik didih di bagian permukaan dan di bagian bawah itu berbeda, dimana yang di bagian atas titik didihnya lebih rendah  sedangkan di bagian bawah titik didihnya lebih tinggi karena tekanannya lebih besar.

Nah pada destilasi jangan sampai terjadi bumping karena jika terjadi bumping dikhawatirkan ada ledakan sehingga harus dihindari.

Pemasangan Labu Destilasi

memasang labu alas bulat

Dari gambar diatas ini mana yang benar pemasangannya?

Pada gambar paling kiri panasnya hanya bagian bawah saja tidak merata sehingga kemungkinan untuk bumping lebih besar

Pada gambar yang ditengah, pemanas mantel sudah bisa menutupi bagian permukaan dari labu destilasi sehingga  panasnya akan lebih baik.

Sedangkan gambar paling kanan menggunakan penangas, cairan di dalam labu destilasi harus mempunyai titik didih lebih rendah daripada airnya (misalnya cairan yang didestilasi ethanol dan cairan yang di penangas berupa air). Jadi jangan sampai misalnya yang di labu destilasi minyak, kemudian yang di bagian penangasnya berupa air.

Catatan :

Untuk etanol jangan sampai diberi pemanasan dengan api langsung atau harus menggunakan penangas air supaya tidak ada dari kebakaran.

Jadi pelarut-pelarut yang mudah terbakar, apalagi untuk pelarut yang titik didihnya dibawah titik didih air maka kita bisa menggunakan air dalam penangas.

Jadi pada gambar diatas, gambar paling kiri tidak benar

Kemudian dapat dilihat pada gambar diatas labu destilasi dimana terdapat pendingin dimana pada pendingin tersebut diberi air kran dari bagian bawah dan keluar dari bagaian atas.

Pastikan tidak dibalik karena nanti air tidak bisa memenuhi bagian pendingin.

Seberapa Besar Kecepatan aliran airnya?

Kita bisa pegang kondensornya (pendinginnya), jika dingin berarti kecepatan aliran air sudah tepat, namun jika masih terasa panas berarti kecepatan yang kurang.

Pengaturan kecepatan air ini tentunya penting, karena jika terlalu cepat juga sayang airnya terbuang cuma-cuma karena hanya untuk mendinginkan saja.

Panjang pendeknya kondesor juga tergantung titik didih dari zat atau pelarut yang di labu destilasi.

Jika titik didihnya lebih tinggi, maka cukup menggunakan kondensor yang pendek, namun jika titik didihnya rendah maka kita harus menggunakan kondensor yang lebih panjang karena proses kondensasi untuk yang titik didih rendah lebih membutuhkan waktu untuk kembali ke labu destilasi.

Bagaimana cara menghindari Bumping

cara menghindari bumping pada destilasi

  • Dengan penambahan batu didih

Batu didih bisa pecahan porselen, teflon, atau pipa kapiler

Jadi jika di laboratorium kita punya porselen yang pecah maka jangan dibuang karena bisa digunakan untuk batu didih. Jadi pecahan itu mungkin kita ambil 3 sampai 5 untuk batu didih kemudian batu didih tersebut dimasukkan terlebih dahulu sebelum kita melakukan destilasi

  • Pengadukan

Dengan pengadukan maka bumping bisa dihindari.

Contoh saat aktivitas memasak di rumah dimana terdapat bahan yang sudah mendidih karena panas dan bisa jadi tumpah, maka untuk menghindarinya bisa kita lakukan pengadukan.

  • Pemanasan yang merata dengan penangas

Pemanasan yang merata dengan memberikan mantel atau menggunakan penangas

  • Mengisi labu tidak boleh lebih dari 2/3 nya

Jangan terlalu penuh tapi juga jangan terlalu sedikit

Pada proses destilasi, penunjukan titik didih yang tetap sehingga destilasi mempunyai komposisi yang tetap pula. Jadi nanti selama pelarut belum selesai terdestilasi maka termometer tetap menunjukkan angka yang sama, misalnya 70 °C untuk etanol, dan jika sudah berubah ke suhu yang lain berarti destilatnya bukanlah lagi etanol.

Penunjukkan yang tetap tidak berarti destilat yang diperoleh murni, tetapi merupakan campuran azeotrop, cairan yang murni selalu selalu menunjukkan titik didih yang tetap.

Proses Destilasi

proses destilasi

Pada proses destilasi, uap yang telah terjadi perlu diangkat untuk dapat mencapai pipa samping. Untuk itu diperlukan tenaga berupa panas.

Jumlah panas yang diperlukan untuk melawan tekanan udara luar, tinggi cairan, dan mengangkat uap untuk dapat mencapai pipa samping adalah besar.

Cairan selalu mempunyai temperatur yang tinggi dari titik didihnya sehingga pada proses destilasi selalu didapatkan cairan mengalami superheating.

Uap yang telah mencapai pipa samping dengan sistem pendingin dikondensasi menjadi cairan kembali.

Macam-macam destilasi

  • Destilasi sederhana atau simple destilation
  • Destilasi fraksinasi atau destilasi bertingkat
  • Destilasi uap atau steam distillation
  • Destilasi dengan penurunan tekanan atau vacuum destilation

Destilasi Sederhana

destilasi sederhana

Destilasi sederhana dilakukan untuk memisahkan substansi dari campurannya yang mempunyai perbedaan titik didih lebih besar dari 30 °Celcius atau jumlah kotoran atau komponen lainnya relatif kecil.

Misalnya dua pelarut yang mempunyai titik didih ≥ 30° baru yang dilakukan destilasi sederhana

Untuk cairan yang mudah menguap, penampungnya dihubungkan dengan pendingin dengan menggunakan adaptor dan adaptor ini diberi slit supaya destilatnya bisa masuk ke dalam penampungnya dengan lancar.

Untuk cairan yang uapnya mudah terbakar atau beracun, diusahakan agar uapnya tidak sampai keluar ke udara bebas dari penampung yang dipakai.

Misalnya : destilasi eter maka diupayakan jangan sampai uapnya memenuhi udara di laboratorium sehingga harus dilakukan tindakan preventive misalnya : penampungnya harus dingin sehingga diberi es supaya nanti tidak menguap.

Baca Juga : Pengertian CAPA (Corrective Action and Preventive Action)

Diagram Fasa Campuran Etanol-Air

pengertian azeotrop

Misalnya 100 % air yang mempunyai titik didih 100 °C kemudian 100 % etanol mempunyai titik didih 78,5 derajat celsius.

Misalkan akan dipisahkan campuran etanol dan dan air dengan komposisi C1, akan mendidih pada suhu tertentu dan menghasilkan uap dengan komposisi C2.

Ketika uap itu mengembun, masih memiliki komposisi C2, jika dididihkan lagi akan menghasilkan uap baru dengan komposisi C3

Dengan urutan mendidih-kondensasi-mendidih akan berakhir dengan uap dan komposisi etanolnya adalah 95,6 persen

Rangkaian Alat Destilasi Sederhana

bagian bagian termometer

Diatas merupakan gambar rangkaian alat destilasi sederhana

  • Termometer

Termometer dipasang di Persimpangan dan tidak boleh terlalu dalam atau masuk ke labu alas bulat (lihat tanda merah pada gambar diatas)

Baca Juga : Termometer Raksa, klinis dan Alkohol : Apa Kelebihan dan Kekurangannya?

  • Labu Alas Bulat

Ada labu alas bulat dimana bagian lehernya panjang dan leher pendek, tergantung titik didih campuran atau larutan yang akan dipisahkan. Jika titik didihnya tinggi maka cukup menggunakan labu alas bulat yang lehernya pendek saja, namun jika titik didihnya rendah maka gunakan labu alas bulat yang lehernya agak panjang.

  • Larutan yang akan dipisahkan

Misalnya :campuran etanol dan air

  • Batu didih

Supaya tidak terjadi bumping

  • Penangas yang sesuai

Misalnya untuk etanol, maka penangasnya adalah air, Beberapa tahun yang lalu, untuk memanaskan labu destilasi pada proses destilasi, seringkali menggunakan pembakar bunsen. Untuk penangas saat ini umumnya menggunakan listrik sehingga temperaturnya bisa diatur.

  • Pendingin

Panjang-pendeknya pendingin juga tergantung pada titik didih dari pelarut yang ingin dipisahkan,

Misalnya pelarut mempunyai titik didih yang sangat rendah, contoh : eter, maka dibutuhkan pendingin yang panjang.

Demikian juga sebaliknya, jika titik didihnya tidak terlalu rendah maka pendingin yang digunakan boleh tidak terlalu panjang.

Pada pendingin tersebut dialirkan air dari bawah yang kemudian keluar dari bagian atas.

  • Adaptor

Supaya destilatnya dapat masuk ke dalam labu erlenmeyer.

Pada adaptor terebut sebaiknya dipasang slit atau celah supaya nanti destilatnya bisa semua masuk labu erlenmeyer tersebut.

Jika tidak pasang celah, maka tetesan tidak bisa masuk ke labu erlenmeyer atau tertahan karena di labu erlenmyer hampa.

Kapan Menampung Destilat?

destilat hasil destilasi

Pada contoh kali ini, misalnya kita akan memisahkan campuran etanol-air.

Ketika labu alas bulat yang berisi campuran etanol-air tersebut dipanaskan pelan-pelan, maka temperatur pada termometer tentunya semakin lama semakin naik.

Ketika temperaturnya menunjukkan angka tertentu, misalnya pada temperatur yang bukan titik didih etanol (namun titik didih yang lainnya) dan sudah ada destilatnya, maka berarti destilat tersebut bukanlah etanol sehingga destilat tersebut harus dipisahkan tempatnya atau diberi tempat yang berbeda.

Sedangkan untuk etanol adalah pada sekitar temperatur 70 an °C.

Selama etanol dalam campuran tersebut belum belum habis, temperaturnya tetap menunjukkan angka tersebut sehingga destilatnya masih kita tampung pada labu erlenmeyer.

Kemudian ketika temperatur lebih tinggi dari titik didih etanol, maka destilatnya bukanlah lagi etanol dan labu erlenmeyer yang digunakan untuk menampung distilat etanol bisa diambil dan pemanasan dihentikan.

Menghentikan Proses Destilasi

prinsip destilasi sederhana

Untuk menghentikan proses destilasi apakah dimatikan terlebih dahulu penangasnya atau diambil terlebih dahulu labu erlenmeyernya?

Jika seandainya penangasnya dimatikan terlebih dahulu, maka kemungkinan uap yang ada di adaptor bisa balik ke labu alas bulatnya, karena tekanan uapnya juga berubah dimana yang awalnya tekanan di labu destilasi tinggi tiba-tiba menjadi rendah karena penangasnya dimatikan.

“Sebaiknya labu erlenmyer atau destilat tersebut yang diambil terlebih dahulu, baru penangasnya dimatikan sehingga tidak terjadi penyedotan kembali destilat ke arah labu alas bulat”

Pelaksanaan Destilasi Sederhana

prosedur destilasi sederhana

Beberapa peraturan yang perlu diperhatikan :

  • Ujilah terlebih dahulu kekuatan pemasangan alat.

Untuk memperkuat rangkaian peralatan destilasi, umumnya menggunakan bantuan klem dan statif.

  • Masukan cairan dengan bantuan corong bertangkai panjang agar cairan tidak mengotori pipa samping.

Corong bertangkai panjang digunakan karena jika kita menggunakan corong bertangkai pendek cairan dapat masuk pipa samping sehingga cairan tidak terpisah.

  • Masukkan beberapa butir batu didih

Seperti yang sudah diuraikan di awal, dimana fungsi batu didih ini adalah untuk mengurangi potensi bumping

  • Alirkan air pendingin dimana lubang air masuk lebih rendah dari air keluar dengan kecepatan demikian rupanya sehingga selama destilasi berlangsung dinding luar pendingin tetap terasa dingin.

Jadi dicek alirannya itu cukup atau tidak, jika pendinginnya masih terasa panas berarti kecepatan aliran air harus ditambah, namun perlu diperhatikan jika terlalu besar alirannya maka juga tidak menghemat air.

  • Lakukan pemanasan dengan pelan dan teratur agar cairan mendidih dengan teratur pula.

Aturlah pemanasan hingga diperoleh kecepatan destilasi 1 – 2 ml (30 – 60 tetes) per menitnya.

Destilasi dihentikan sebelum cairan di dalam labu habis. Hal ini dilakukan untuk menghindari peruraian dan kehangusan. Destinasi dihentikan jika temperatur pada termometer telah berubah dari temperatur titik didih destilat.

Jika temperatur sudah berubah berarti senyawa hasil destilasi (destilat) sudah bukan senyawa yang ingin kita pisahkan

Apabila cairan yang didestilasi mengandung sedikit kotoran maka mula-mula yang didapatkan adalah destilat I (low boiling fraction) mengandung kotoran dengan titik didih yang lebih rendah.

Kemudian temperatur terus naik sampai dicapai temperatur yang relatif konstan bervariasi antara 2 – 3 derajat Celcius sehingga diperoleh destilat utama.

Selanjutnya temperatur naik lagi hingga didapatkan destilat yang dikotori dengan kotoran yang memiliki titik didih yang lebih tinggi (high boiling fraction)

Destilasi Fraksinasi

destilasi fraksinasi

Merupakan pengulangan berkali-kali destilasi sederhana untuk mendapatkan destilat yang relatif murni.

Destilasi ini menggunakan kolom fraksi

Kolom fraksi untuk memisahkan suatu campuran menjadi komponennya dengan pertolongan suatu kolom fraksi.

Prinsip kerjanya adalah “bubble plate colomn” dapat dilihat pada gambar berikut :

prinsip destilasi bertingkat

  • A bidang 2 horizontal menampung destilat
  • B Kap tempat uap air naik
  • C Pipa Kapiler

Pada permulaan destilasi, uap akan naik dari labu masuk ke dalam kap dan mengkondensasi pada bidang A yang I (pertama)

Penguapan dan pengkondensasian terjadi secara berkesinambungan dan terus naik melalui kap dan menembus destilat-destilat yang telah terjadi.

Permukaan destilat yang terjadi pada bidang A yang I akan naik sampai permukaan pipa kapiler kemudian jatuh ke labu.

Semakin ke atas titik didih semakin kecil karena kalau titik didihnya lebih besar maka tidak akan bisa mencapai paling atas.

Prinsip Kerja Destilasi Fraksinasi

distilasi bertingkat minyak bumi

Destilat pada pada bidang A yang I pada destilasi sederhana adalah fraksi dengan komposisi lebih banyak komponen titik didih rendah, sehingga yang tertinggal dilabu lebih banyak komponen dengan titik didih yang lebih tinggi akibatnya titik didih cairan di dalam labu semakin naik.

Uap yang naik dari labu mendidihkan destilat bidang A yang I sehingga uap akan naik melalui kap 2 dan mengkondensasi di bidang A yang ke II.

Jumlah komponen titik didih rendah di bidang A II lebih besar daripada A I, dst

Contoh destilasi fraksi adalah distilasi bertingkat minyak bumi.

destilasi fraksi minyak bumi

Ketika crude oil masuk, dan kemudian dilakukan pemanasan kemudian tidak mampu untuk naik ke atas, maka akan turun kebawah menghasilkan bahan yang mempunyai rantai karbon lebih dari 70 dimana mendidih pada 600 °C.

Kemudian yang masih sanggup naik maka menghasilkan bahan yang mempunyai rantai karbon antara 20 – 70 dan bisa dimanfaatkan untuk minyak pada kapal.

Dan seterusnya sampai didaptkan elpiji.

Destilasi Tiksotropi atau Destilasi Uap Air

destilasi uap

Destilasi uap-air adalah metode yang paling umum untuk ekstraksi minyak atsiri seperti kayu, Kulit batang, maupun biji-bijian yang relatif keras.

Prinsip kerja dari destilasi uap adalah memisahkan suatu campuran yang memiliki titik didih yang tinggi dengan cara mengalirkan uap ke dalamnya dimana senyawa yang memiliki titik didih yang tinggi sebelum mencapai titik didihnya dimurnikan dengan menggunakan uap atau air mendidih.

Destilasi uap secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air.

Beberapa persyaratan sampel yang bisa dipisahkan menggunakan metode ini yaitu :

  • Kemampuan tinggi untuk melarutkan komponen zat terlarut di dalam campuran
  • Kemampuan tinggi untuk dapat diambil kembali
  • Perbedaan berat jenis antara ekstrak dan rafinat lebih besar
  • Pelarut dan larutan yang akan diekstraksi harus tidak mudah campur
  • Tidak mudah bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi
  • Tidak merusak alat sebagai korosi
  • Tidak mudah terbakar, tidak beracun, dan harganya relatif murah

Contoh Destilasi Uap Air di Bidang Farmasi

destilasi uap minyak atsiri

Beberapa penggunaan dari destilasi uap-air adalah untuk :

  • Mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak Eucalyptus dari Eucalyptus.
  • Mengekstrak minyak sitrus dari lemon atau jeruk
  • Mengekstrak minyak parfum dari tumbuhan.
  • Memisahkan asam lemak dari campurannya
  • dll

Destilasi Vakum

destilasi vakum

Destilasi vakum merupakan suatu proses pemisahan dari dua komponen yang memiliki titik didih yang sangat tinggi, dimana prosesnya berlangsung di bawah tekanan normal atau dibawah 1 atm yang bertujuan untuk menurunkan titik didih dari komponen yang akan dipisahkan sehingga akan meminimalisasi kerusakan komponen akibat suhu tinggi.

Vakum merupakan suatu kondisi dari udara atau gas sekitar lingkungan tertentu dimana dihilangkan, dimana tekanan udara di bawah tekanan atmosfer.

Untuk menghasilkan kondisi vakum perlu untuk mengeluarkan udara dari sistem. Hal ini merupakan prinsip dasar dari cara kerja vakum.

Prinsip Kerja Destilasi Vakum

Prinsip kerja destilasi vacuum didasarkan pada hukum fisika dimana zat cair akan mendidih dibawah titik didih normalnya apabila tekanan pada permukaan zat cair itu diperkecil atau vakum.

Prinsip kerja dari destilasi vakum ialah dimana proses destilasi berjalan tetap pada ruang hampa. Aliran cairan dan uap air sangat diperlukan pada proses ini untuk mencapai keseimbangan dimana pada proses tersebut untuk menguapkan komponen yang mudah menguap dan uap air dipermudah pada destilasi sistem vakum.

Tangki distilasi tidaklah terhubung ke atmosfer tetapi ke pompa vakum untuk menjaga sistem tekanan agar tetap dibawah tekanan atmosfer.

Contoh Destilasi Vakum

Destilasi vakum sangat berguna untuk senyawa yang mendidih di luar suhu dekomposisi pada tekanan atmosfer dan karenanya akan terurai dengan upaya apapun untuk merebusnya dibawah tekanan atmosfer.

Dalam skala laboratorium penyulingan vakum adalah ketika cairan untuk disuling memiliki titik didih atmosfer tinggi atau perubahan kimia pada suhu mendekati titik didih atmosfer.

Dalam skala industri penyulingan memiliki beberapa keunggulan, salah satunya adalah alat yang digunakan mengurangi jumlah tahapan yang diperlukan.

Vakum kolom destilasi biasa digunakan dalam penyulingan minyak dengan diameter berkisar sampai 14 m.

Kelebihan dan Kekurangan dari destilasi vakum

Destilasi vakum dapat meningkatkan pemisahan dengan :

  • Pencegahan degradasi produk atau pembentukan polimer karena penurunan tekanan yang mengarah ke suhu dasar menara yang lebih rendah.
  • Pengurangan degradasi produk atau pembentukan polimer karena berkurangnya waktu tinggal rata-rata terutama dalam kolom yang menggunakan pengepakan daripada baki.

Baca Juga : Pengertian Polimer dan Polimerisasi Berikut dengan Contohnya

  • Meningkatkan kapasitas, hasil, dan kemurniaan.

Memanfaatkan destilasi vakum dapat mengurangi tinggi dan diameter.

Kekurangannya ialah tutup mendidih campuran mungkin memerlukan banyak tahap kesetimbangan untuk memisahkan komponen-komponen.

Mekanisme Destilasi Vacuum

mekanisme destilasi vakum

Dapat dilihat setup dari destilasi vakum atau rangkaian dari destilasi vakum pada gambar diatas.

Untuk rangkaiannya kurang lebih sama seperti deskripsi sederhana atau destilasi fraksinasi dimana terdapat labu destilasi yang terhubung dengan termometer yang juga terhubung dengan kondensor dan labu destilat.

Perbedaan pada sistem destilasi vakum adalah :

  • Sumber vakum

Contoh sumber vakum yaitu :

    • Water aspirator, dimana water aspirator ini terhubung dengan sistem air mengalir atau kran dimana kran yang terbuka tersebut akan menciptakan kecepatan dari air mengalir yang akan menarik udara sehingga tercipta tekanan yang rendah pada sistem destilasi.

Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan menggunakan water aspirator ini, antara lain :

Untuk kelebihannya adalah metode ini cukup murah dan mudah untuk digunakan dan efektif atau efisien dalam membuat vakum, namun kelemahannya adalah dapat terjadinya kebocoran pada sistem destilasi dan juga terdapat kemungkinan permasalahan dalam tekanan airnya dan membutuhkan vakum trap yang digunakan untuk mencegah terjadinya flowback atau air itu mengalir kedalam sistem destilasi.

    • Pompa vakum

Dimana pompa vakum ini mempunyai kelebihan yaitu dapat menciptakan tekanan yang stabil stabil kemudian juga dapat menjauhkan tekanan yang cukup rendah sampai di bawah 1 mmHg namun untuk menggunakan pompa vakum ini dibutuhkan biaya yang cukup mahal.

  • Vacuum Trap

Yaitu untuk mencegah terjadinya flowback atau air masuk kedalam sistem destilasi

  • Pipa pada Labu Destilasi

Pipa ini berguna untuk mengatur aliran air yang ada pada sistem destilasi. Biasanya terdapat switch atau stopcock untuk mengatur pipa tersebut terbuka atau tertutup.

  • Manometer (Jika memungkinkan)

Sebagai informasi, penggunaan manometer di beberapa negara sudah tidak diperbolehkan karena bahan-bahan merkuri ini dapat menyebabkan polusi dan kerusakan pada ekosistem.

Contoh Dalam Skala Laboratorium adalah Rotary evaporator.

Kesimpulan

Nah kita sudah belajar mengenai pengertian, macam, prinsip kerja, dan rangkaian alat destilasi beserta dengan contohnya.

Buat teman-teman yang tertarik bekerja di beberapa industri pemahaman ini penting karena ada beberapa contoh kegiatan produksi yang menggunakan prinsip kerja destilasi ini,, antara lain pada industri alkoho, pengolahan minyak atsiri, penyulingan minyak bumi, dll 

Semoga Bermanfaat.

Kegunaan Gelas atau Kaca Arloji Pada Pengujian Kimia

Kegunaan Gelas atau Kaca Arloji Pada Pengujian Kimia

Gelas arloji atau kaca arloji, bukanlah alat pengukur, bukan juga peralatan laboratorium yang mahal. Namun keberadaannya sangatlah diperlukan dalam berbagai macam analisa. Tanpa alat ini, maka aktivitas pengujian di dalam laboratorium tentunya akan terganggu.

Sehingga wajar saja jika alat ini dengan mudah kita temukan di laboratorium kimia atau biologi, baik itu laboratorium pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA), laboratorium di universitas, sampai dengan di laboratorium penelitian.

Lalu apa sih sebenarnya kegunaan kaca arloji ini di laboratorium. Yuk kita pelajari bersama.

Pengertian dan Kegunaan Kaca Arloji

kegunaan gelas arloji

Kaca arloji adalah salah satu peralatan laboratorium yang berbentuk lingkaran yang umumnya terbuat dari kaca agak cekung di satu sisi dan cembung di sisi lainnya digunakan oleh analis atau peneliti untuk menguapkan cairan dan menutupi gelas kimia laboratorium selama penyiapan sampel.

Gelas arloji atau kaca arloji itu sendiri jika kita lihat bentuknya memang mirip dengan kaca pada arloji jam tangan yang juga agak melengkung.

Kegunaan Gelas Arloji antara lain adalah :

  • Digunakan untuk menampung padatan selama penimbangan. Misalnya, seorang analis kimia atau peneliti ingin menimbang dengan berat yang tepat dari suatu bubuk bahan untuk formula tertentu.

Maka dari pada menempatkan bubuk langsung ke wadah pencampuran, seorang analis umumnya akan meletakkan kaca arloji pada timbangan kemudian melakukan “tare” atau “rezore” untuk mengenolkan kaca arloji tersebut kemudian mereka baru menambahkan bubuk yang dimaksud ke atas kaca arloji hingga mencapai berat yang diinginkan.

Umumnya kaca arloji juga dibuat dari bahan yang anti lengket sehingga mereka juga tidak perlu khawatir ada bubuk yang tertinggal di kaca arloji tersebut jika ingin memindahkan bubuk tersebut ke wadah lain untuk mencampurnya dengan bubuk yang lainnya sesuai dengan formula.

  • Digunakan sebagai penutup gelas kimia laboratorium sehingga mencegah masuknya kontaminan sekaligus mencegah terjadinya pertukaran gas yang dapat mengganggu berjalannya analisa.

Seperti kita ketahui, terkadang pada beberapa pemcampuran bahan / pereaksi / reaktan menghasilkan gas sebagai hasil reaksinya.

Dengan ditutupnya gelas kimia dengan kaca arloji tersebut maka dapat mencegah hilangnya gas hasil reaksi keluar ke udara bebas.

  • Digunakan untuk mengamati pembentukan endapan atau kristal (dibagian cembung kaca arloji) pada beberapa analisa laboratorium.

Digunakan untuk mereaksikan bahan pada suhu tinggi serta untuk kaca arloji jenis khusus dapat digunakan untuk mencegah keluarnya uap selama eksperimen atau percobaan.

Pada analisis tertentu, kaca arloji juga diletakkan di atas gelas kimia yang berisi berbagai cairan saat mudah menguap yang berfungsi sebagai wadah pengumpul untuk penguapan partikel yang mengkristal pada permukaannya.

Dengan warna yang bening pada kaca arloji serta memiliki ketahan pada suhu tinggi, membuat peneliti dapat melihat secara jelas jalannya atau proses reaksi pencampuran yang terjadi di dalam gelas kimia secara langsung tanpa khawatir juga terpapar uap yang dihasilkan.

  • Digunakan banyak analis untuk menempatkan bahan-bahan kering yang bersifat higroskopis kemudian menyimpannya ke dalam desikator laboratorium.

Proses pengeringan bahan terebut terkadang juga dilakukan dengan menempatkan kaca arloji ke dalam oven laboratorium atau bahkan dengan cara menempatkan kaca arloji di bawah corong, lalu memberikan aliran udara kering yang ringan melalui bagian atas.

  • Digunakan untuk mengamati proses presipitasi dan kristalisasi.

Dengan permukaan penampang yang lebih besar memungkinkan analis kimia dapat langsung mengamati secara nyata dan visual pada saat pembentukan kristal atau endapan ketika bahan atau senyawa direaksikan. Lebih lanjut proses kristalisasi tersebut juga dapat diamati secara langsung dengan menggunakan mikroskop laboratorium.

  • Digunakan untuk wadah untuk bubuk, cairan, atau bahkan zat yang bersifat korosif

Jenis Gelas Arloji Laboratorium

Ada beberapa jenis gelas arloji, mungkin sebagian teman-teman juga sudah mengenalnya, berikut ini diantaranya :

Gelas Arloji Bahan Kaca

Gelas arloji kaca biasanya terbuat dari bahan borosilicate, tentunya mempunyai keunggulan dimana alat ini dapat disterilkan dengan menggunakan autoclave ataupun sekedar dipanaskan dengan oven laboratorium.

Gelas ini juga mempunyai ketahanan terhadap beberapa bahan kimia.

Berikut ini adalah beberapa contoh kaca arloji yang tersedia di pasaran :

  • Kaca arloji bahan soda lime

gelas arloji soda lime

Ketebalan 2 mm dengan pilihan diameter sebagai berikut :

    • 45 mm
    • 60 mm
    • 75 mm
    • 80 mm
    • 90 mm
    • 105 mm
    • 120 mm
    • 150 mm
  • Kaca Arloji Duran

kaca arloji duran

Dibandingkan dengan yang pertama, kaca arloji jenis ini, dapat kita temukan dengan ukuran yang lebih basar yaitu sampai dengan 250 mm.

Terbuat dari material duran borosilicate 3.3 dan mempunyai sifat thermal expansion coeficient 33 x 10 derajat /C (20 – 300 °C).

Berikut ini adalah ukuran-ukuran kaca arloji ini :

    • 50 mm
    • 60 mm
    • 80 mm
    • 100 mm
    • 125 mm
    • 150 mm
    • 200 mm
    • 250 mm
  • Kaca Arloji Quartz

gelas arloji bahan quartz

 

Jika kegiatan teman-teman di laboratorium terkait dengan pemanasan pada suhu tinggi, maka kaca arloji jenis ini bisa menjadi solusi karena dengan bahan yang terbuat dari quartz glass mempunyai spesifikasi heat resistant temperature : 900 derajat celsius.

Kaca arloji jenis ini mempunyai pilihan diameter sebagai berikut :

    • 50 mm
    • 60 mm
    • 70 mm
    • 90 mm
    • 100 mm
    • 120 mm
  • Kaca Arloji Silica

gelas arloji silica glass

Jenis kaca arloji yang terbuat dari bahan silica, mempunyai pilihan diameter seperti yang dari bahan quartz.

Gelas Arloji Bahan Plastik

Sesuai namanya, gelas arloji bahan plastik ini tentunya tidak mempunyai ketahanan seperti yang berbahan kaca karena memang secara aplikasi digunakan untuk pekerjaan laboratorium dimana yang dapat menimbulkan kontaminasi silang pada tahap preparasi sampel.

Pada beberapa kebutuhan analisa, alat ini bahkan digunakan sekali pakai dan seringkali digunakan pada pekerjaan di lapangan.

Pemakaian gelas arloji plastik ini disarankan hanya pada kisaran suhu -70°F hingga 275°F.

Gelas arloji berbahan neoprene dapat digunakan pada berbagai suhu, tahan terhadap degradasi dari sinar UV.

Produk fluoroelastomer memiliki ketahanan panas, minyak, dan bahan kimia yang baik; namun, mereka seringkali memiliki kinerja suhu rendah yang buruk.

Dan yang pasti gelas arloji dari bahan plastik cenderung lebih murah dibandingkan dengan yang dari kaca.

  • Gelas Arloji Bahan PP

kaca arloji plastik

Gelas arloji ini terbuat dari bahan PP (Polypropylene) dan dapat di sterlisasi dengan menggunakan autoclave. Tersedia dalam ukuran :

    • 60 mm
    • 80 mm
    • 100 mm
    • 125 mm

Nampak sekilas pada gambar diatas bentuknya mirip seperti piring.

Tips Membeli Gelas Arloji

tips membeli kaca arloji

Gelas arloji tersedia dalam berbagai ukuran dan ketebalan, saat akan membeli gelas arloji, tentunya harus kita pikirkan terlebih dahulu berapa diameter yang diinginkan serta apakah akan memilih gelas arloji yang tahan lama bisa digunakan berulang-ulang atau sekali pakai.

Gelas arloji “Heavy Duty” umumnya mempunyai bahan kaca yang lebih tebal dibandingkan dengan gelas arloji pada umumnya.

Jenis tersebut juga dapat menahan beban kerja yang lebih berat. Gelas arloji plastik sekali pakai lebih murah dan bobotnya lebih ringan, tetapi mungkin tidak dapat digunakan kembali atau sekali pakai.

Pastikan juga ke suplier alat laboratorium yang teman-teman pilih, apakah menjual gelas arloji tersebut dalam bentuk eceran atau 1 box karena terkadang untuk brand-brand tertentu gelas arloji ini tidak dijual secara eceran.

Semoga Bermanfaat

Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Mengenal Kode Warna Botol Semprot Kimia di Laboratorium

Tentunya semua analis yang pernah bekerja di laboratorium pengujian setuju jika hampir semua peralatan gelas di laboratorium mempunyai harga yang relatif mahal.

Bahkan untuk 1 pcs botol laboratorium dengan volume 1 liter saja terkadang mempunyai harga hampir 100 ribuan.

Sehingga perlu dilakukan perawatan khusus supaya peralatan gelas laboratorium tersebut lebih awet / lebih lama umur pemakaiannya sehingga dapat menghemat budget / pengeluaran di laboratorium.

Salah satu perawatan sederhana yang wajib dilakukan adalah dengan cara pembersihan untuk menghilangkan kontaminan yang ada dalam peralatan gelas laboratorium tersebut. Karena seperti kita ketahui, adanya kontaminan dalam peralatan gelas dapat menyebabkan hasil analisa yang tidak akurat.

Salah satu alat bantu yang kita perlukan untuk melakukan pembersihan peralatan gelas tersebut adalah botol semprot kimia. Peralatan ini sederhana, harganya juga terjangkau, namun fungsinya sangatlah penting. Sehingga sangat disarankan dan hampir pasti setiap laboratorium pengujian ataupun laboratorium kalibrasi memilikinya.

Pengertian dan Fungsi Botol Semprot Kimia

botol semprot lab kimia

Sesuai dengan namanya, botol semprot kimia adalah sebuah botol yang lentur / fleksible pada bagian botolnya dan dapat diremas / ditekan, dengan disertai pipa plastik kecil bengkok (jets tips) yang dimasukkan melalui tutup botol tersebut yang berfungsi untuk menyemprotkan / mengarahkan aliran air / cairan lain pengisinya ke peralatan yang dicuci atau dibilas.

Fungsi botol semprot laboratorium adalah untuk pembilasan / pembersihan gelas kimia, botol, tabung reaksi, gelas arloji, cawan petri, gelas ukur, buret, pipet, batang pengaduk, dan slide mikroskop laboratorium.

Dalam penggunaannya, botol semprot ini dapat diisi dengan berbagai macam pelarut, antara lain air, metanol, etanol, dan aseton, dll.

Jika botol semprot di laboratorium kita masih yang berwarna putih, maka pastikan memberi kode warna atau nama pada setiap botol tersebut untuk mengidentifikasi isinya.

Namun, botol semprot laboratorium sebenarnya juga sudah ada dengan jenis botol semprot dengan tutup berkode warna untuk memudahkan identifikasi dan memenuhi kepatuhan keselamatan.

Terbuat Dari Apa Botol Semprot Lab Kimia Ini

Botol semprot lab kimia terbuat dari plastik dengan tutup ulir. Bahan plastik digunakan karena mempunyai sifat fleksibel sehingga botol dapat diremas / ditekan dengan tangan untuk menghasilkan tekanan yang memaksa cairan di dalam botol mengalir melalui tabung / pipa plastik dan keluar ke permukaan yang sedang dibersihkan. Selain itu, plastik juga dapat menahan pemuaian akibat panas dan bahan kimia.

Botol semprot laboratorium umumnya dibuat dengan dengan model “wide mount bottle” atau mulut yang lebar untuk memudahkan pengisian cairan yang diiinginkan.

Bagian tutup botol semprot memiliki tabung / pipa plastik yang dimasukkan ke dalamnya dengan ujung yang terbuka dan ditekuk. Tabung / pipa plastik tersebut berfungsi untuk mengarahkan aliran air yang merata ke permukaan yang sedang dibersihkan.

Code Botol Semprot Laboratorium

Untuk memudahkan dalam proses mengenali label dan code warna dalam botol semprot laboratorium ini, kita akan memberikan contoh botol semprot dari brand bel-art. Untuk katalognya bisa dilihat langsung di websitenya.

Jika teman-teman masukan / opini lain, boleh kita diskusi melalui kolom komentar.

Botol semprot laboratorium ini terdapat kode dan simbol dengan format yang mudah dilihat dan mudah dikenali untuk menangani bahan kimia / larutan yang kita gunakan di dalam botol semprot tersebut.

Bisa dikatakan, botol semprot ini siap pakai. kita tidak perlu lagi melakukan pelabelan untuk mengidentifikasi cairan yang kita gunakan sehingga dapat terhindar dari kesalahan.

“Cukup isi botol semprot kimia dengan cairan yang sesuai dengan nama cairan yang tertera pada botolnya, dan tinggal gunakan”

Botol semprot lab kimia ini terbuat dari low-density polyethylene (LDPE), bersifat transparan dengan penutup terbuat dari bahan PP (polypropylene), dengan pengecualian sebagai berikut :

  • Botol Natrium Hipoklorit memiliki botol LDPE berwarna putih
  • Botol Toluena memiliki botol LDPE berwarna merah

Berikut ini adalah code warna pada botol semprot lab kimia ukuran 500 ml beserta dengan larutannya pengisinya :

  1. Acetone : Merah
  2. Deionized Water : Biru
  3. Dichloromethane : Kuning
  4. Distilled Water : Biru
  5. Ethanol : Natural
  6. Ethanol 70% : Hijau
  7. Ethyl Acetate : Hijau
  8. Isopropanol : Kuning
  9. Machine Oil : Natural
  10. Methanol : Hijau
  11. Methyl Ethyl Ketone : Hijau
  12. Saline Solution: Natural
  13. Soap : Biru
  14. Sodium Hypochlorite (Bleach) : Kuning
  15. Toluene : Merah
  16. Water : Biru

Pada botol semprot lab kimia bercode ini paling tidak ada 4 informasi yang tertera pada botol seperti pada gambar dibawah ini :

botol semprot laboratorium

  • Bagian A : Identifikasi Kimia

Nama bahan kimia beserta dengan rumus molekulnya.

  • Bagian B: Kode Bahaya

simbol bahaya pada botol semprot laboratorium kimia

Bahaya utama dengan diwakili oleh simbol yang sesuai.

    1. Toxic : Setiap bahan kimia atau bahan yang telah terbukti menjadi berbahaya bagi kesehatan baik akut ataupun kronis.
    2. Oxidizer (Oxidizing Material) : Senyawa yang menghasilkan oksigen dengan mudah untuk meningkatkan atau mempercepat pembakaran bahan organik.
    3. Corrosive : Bahan kimia yang menyebabkan kerusakan yang terlihat atau perubahan permanen pada jaringan hidup
      dengan adanya reaksi kimia di tempat terjadinya kontak; dan juga bahan yang menyebabkan korosi parah pada baja.
    4. Flammable : Padatan, cairan, uap atau gas yang mudah menyala dan terbakar dengan cepat.
    5. Explosive : Setiap bahan yang menghasilkan pelepasan tekanan, gas, dan panas secara tiba-tiba dan hampir seketika saat mengalami kejutan, tekanan, atau suhu secara tiba-tiba.
    6. Irritant : Setiap bahan non-korosif yang menyebabkan efek inflamasi reversibel pada jaringan hidup oleh bahan kimia di tempat kontak sebagai fungsi konsentrasi atau durasi paparan.

Baca Juga : HIRADC dan Contoh Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko

  • Bagian C: Bahaya Kebakaran

kode bahaya botol

Bentuk belah ketupat (diamond) di bagian C menunjukkan kode NFPA (National Fire Protection Association) standar AS yang memberi peringkat bahaya menurut reaktivitas bahan kimia terhadap keberadaan api.

    1. Warna merah di bagian atas
    2. Warna kuning di sebelah kanan
    3. Warna biru di sebelah kiri

Menggunakan peringkat skala 0 sampai 4, dimana angka 4 menunjukkan bahaya terbesar dan angka 0 menunjukkan bahaya terkecil.

Belah ketupat (Diamond) bagian bawah berisi khusus piktogram sesuai kebutuhan.

Berikut ini adalah peringkat dari bahaya tersebut.

Diamond Bagian Atas (Merah) : Bahaya Kebakaran dan Titik nyalah

    • 4 – Sangat mudah terbakar; dibawah 21°C / 70°F
    • 3 – Menyala dalam kondisi suhu normal; dibawah 38°C / 100°F
    • 2 – Menyala dengan pemanasan sedang; dibawah 93°C / 200°F
    • 1 – Menyala saat dipanaskan; diatas 93°C / 200°F
    • 0 – Tidak akan menyala (Tidak mudah terbakar)

Diamond bagian kanan (Kuning): Reaktivitas

    • 4 – Mematikan
    • 3 – Sangat Berbahaya
    • 2 – Berbahaya
    • 1 – Sedikit Berbahaya
    • 0 – Bahan Normal

Diamond Bagian Kiri (Biru): Bahaya Kesehatan

    • 4 – Mematikan
    • 3 – Sangat Berbahaya
    • 2 – Berbahaya
    • 1 – Sedikit Berbahaya
    • 0 – Bahan Normal

Diamond Bagian Bawah (Tidak ada Warna / Bahaya Spesifik

    • OXY – Pengoksidasi
    • Acid– Asam
    • ALK – Alkali
    • COR – Korosif
    • W – Reaktif Air, gunakan TANPA AIR

 

  • Bagian D: Organ Sasaran, Efek dan Rute Masuk

Informasi tambahan yang diperlukan oleh Standar Komunikasi Bahaya OSHA

Label Organ Target dan Efek yang sesuai :

    • Paru-paru
    • Jantung
    • Ginjal
    • Mata
    • Kulit
    • Darah
    • Sistem syaraf pusat
    • Sistem pernapasan

Alat Pelindung Diri yang Direkomendasikan :

    • Kacamata
    • Jas laboratorium
    • sarung tangan yang tepat
    • dll

Prosedur Pembersihan Botol Semprot Kimia

Untuk membersihkan botol semprot ini, kita dapat mencucinya secara biasa dengan menggunakan deterjen dan bilas bersih dengan air suling dan jangan mengautoklaf botol semprot laboratorium ini.

Harga Botol Semprot Laboratorium

Harga botol semprot kimia tidaklah mahal dibandingkan dengan kegunaanya, kita bisa mendapatkan botol semprot berkode tersebut pada kisaran harga kurang lebih sekitar 150 ribuan untuk botol semprot yang berkode. Untuk yang polos tentunya relatif lebih murah.

Berbagai Jenis Botol Laboratorium dan Harganya di Pasaran

Berbagai Jenis Botol Laboratorium dan Harganya di Pasaran

Keberadaan Botol laboratorium di dalam lab sangatlah penting. Botol ini digunakan untuk menampung dan menyimpan berbagai jenis bahan kimia dilaboratorium, baik berupa cairan, serbuk, ataupun padatan.

Botol ini juga dapat kita temukan dalam berbagai bentuk dan ukuran untuk berbagai aplikasi di laboratorium kimia / biologi, dan dapat dibuat dari kaca ataupun plastik.

Nah, kali kita kita akan belajar bersama mengenai botol lab ini, baik dari jenis, bahan, dan sedikit gambaran mengenai harganya.

Jenis Botol Laboratorium

Narrow Mount

narrow mount bottle

 

 

Botol dengan bentuk dibagian penutup / mulut yang sempit sehingga memiliki bukaan / tutup yang lebih kecil dan dirancang untuk menuangkan dan menyimpan cairan.

Wide Mount

wide mount bottle

Dibandingkan jenis yang pertama, Botol ini mempunyai penutup / mulut yang lebih lebar dan memiliki bukaan yang lebih besar sehingga memudahkan pengisian berbagai jenis cairan ataupun padatan.

Karena kemudahan dalam mengisi dan mengeluarkan sampel, sehingga botol ini juga sering digunakan sebagai botol sampel di berbagai macam industri.

Misalnya :

Untuk sampling produk ruahan di industri makanan yang sudah menerapkan CPOTB.

Square

square bottle

Dengan bentuk persegi, botol laboratorium ini mempunyai keunggulan dapat dengan mudah dikemas bersebelahan dan memungkinkan lebih banyak botol disimpan di rak atau lemari.

Wash Bottle

wash bottle

Wash bottle berfungsi untuk menyemprotkan air (atau cairan lainnya sesuai dengan isinya) dari sisi botol yang biasanya digunakan untuk membilas bahan kimia dan bahan lainnya pada alat-alat gelas di laboratorium (gelas kimia laboratorium, buret, corong, erlenmeyer,dll).

Beberapa wash bottle memiliki nama kimia dan formula yang tercetak di bagian botolnya untuk membantu mencegah kontaminasi silang dengan bahan kimia lainnya, misalnya : acetone, ethanol, methanol, isopropanol, dll.

Wash bottle ini di desain dengan bagian penutup yang lebar sehingga memudahkan pengisian.

Laboratory Bottle Amber vs Clear

botol amber dan bening

Jika diatas kita mengenal dari bentuknya, untuk botol laboratorium juga bisa dibedakan dari warnanya.

Untuk botol yang clear tentunya memberikan transparansi maksimal sehingga kita dapat dengan mudah melihat isinya, namun untuk botol amber dengan warna gelap (coklat tua) mempunyai sifat melindungi produk yang peka terhadap cahaya atau sinar ultraviolet yang dapat mengubah sifat dari cairan / sampel yang kita simpan di dalam botol tersebut.

Laboratory Bottle Terbuat Dari Apa?

Untuk botol laboratorium jenis kaca, yang paling umum kita temui terbuat dari :

  • Type I Borosilicate

Bahan borosilikat Tipe I mengandung setidaknya 5% boric oxide sehingga lebih tahan terhadap suhu dan bahan kimia dibandingkan dengan botol yang terbuat dari soda lime.

Botol yang terbuat dari Borosilicate ini dapat bertahan dan tidak mudah pecah jika terjadi perubahan suhu yang mendadak dari panas ke dingin atau sebaliknya.

Rentang temperature untuk botol dari bahan borosilikat juga lebih lebar yaitu berkisar –70°C s/d 230°C sehingga lebih mendukung berbagai macam aplikasi analisa sampel baik di laboratorium kimia, biologi, ataupun lingkungan.

  • Type III Soda Lime

Bahan Type III Soda Lime ini mempunyai kelebihan dimana permukaan yang halus sehingga memudahkan pada saat pembersihan.

Botol dari bahan ini disarankan digunakan untuk aplikasi pada suhu rendah. Rentang suhu pemakaian dari botol dari bahan ini adalah berkisar antara 0°C s/d 100°C

Kedua bahan pada botol laboratorium diatas juga dilapisi dengan plastik khusus yang disebut “plastisol” yang aman menempel pada botol kaca tersebut dan juga memberikan perlindungan serta kebocoran jika botol tersebut pecah.

Lalu untuk botol laboratorium yang plastik terbuat dari apa?

Sama halnya yang kaca, untuk yang plastik juga dapat kita temukan dari beberapa macam bahan, antara lain sebagai berikut :

  • Low-Density Polyethylene (LDPE) High-Density Polyethylene (HDPE)

Botol dari bahan LDPE dan HDPE ini dapat digunakan untuk menyimpan cairan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol. Dapat bertahan dalam temperatur –100°C s/d 80°C untuk LDPE dan –100°C s/d 120°C untuk HDPE.

  • Polypropylene (PP)

Botol dari bahan PP ini secara aplikasi sama dengan dari bahan LDPE dan HDPE diatas, yaitu dapat digunakan untuk menyimpan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol. Namun mempunyai rentang temperatur yang lebih tinggi yaitu 0°C s/d 135°C.

  • Polymethylpentene (PMP)

Bahan ini mempunyai rentang yang lebih tinggi lagi dibanding kedua bahan diatas, yaitu 20°C s/d 175°C. Secara aplikasi juga sama, dapat kita gunakan untuk menyimpan asam lemah atau pekat, basa dan alkohol.

  • Polycarbonate (PC)

Botol dari bahan Polycarbonate (PC) ini mempunyai rentang temperatur yang paling lebar dibandingkan dengan botol laboratorium dari bahan lainnya, yaitu –135°C s/d 130°C. Namun secara aplikasi penggunaan hanya disarankan untuk menyimpan larutan yang bersifat asam lemah.

  • Polyethylene Terephthalate (PET)

Bahan yang terkahir yang biasa digunakan untuk botol laboraatorium adalah Polyethylene Terephthalate (PET), Bahan ini mempunyai rentang temperatur – 40°C s/d 70°C dan disarankan hanya untuk menyimpan cairan Asam lemah, basa dan alkohol.

Baca Juga : Kelebihan dan Kekurangan Termometer Raksa dan Termometer Alkohol

Contoh Laboratory Bottle

Sebagai gambaran, berikut ini adalah contoh beberapa ukuran dari botol laboratorium tersebut di pasaran :

  • Botol yang Bahan Kaca

gambar botol laboratorium berbagai macam ukuran

Gambar diatas adalah botol laboratorium yang terbuat dari borosilicate disertai denan tutupnya (cap), botol ini tersedia dalam ukuran 100 ml s/d 5 liter. Untuk cap / tutupnya sendiri terbuat dari bahan PP (polypropylene) dan memenuhi standar GL45. Botol ini dapat diautocclave jika ingin digunakan pembuatan media mikrobiologi yang sifatnya harus steril. Disarankan pada saat melakukan sterilisasi dengan autoclave, botol tidak ditutup, atau jika ditutup dalam kondisi yang kendor.

  • Botol yang Bahan Plastik

laboratory bottle plastic

Botol plastik diatas dapat kita temukan dalam berbagai macam volume, yaitu antara 100 ml s/d 1 liter. Meskipun terbuat dari plastik PP (polypropylene), botol tersebut juga dapat diauclave untuk sterlisasi. Beberapa industri farmasi menggunakan botol ini untuk keperluan sampling purified water yang ada di sistem pengolahan air mereka.

Harga Botol Laboratorium di Marketplace

Harga botol laboratorium tentunya bermacam-macam tergantung dengan jenis bahan dan ukuran, berikut ini adalah gambaran dari harga botol lab kaca dimana 1 yen saat ini berkisar 110 rupiah. Harga tersebut tentunya akan bervariasi dari 1 suplier ke suplier lainnya.

harga botol laboratorium di pasaran

Tips Membeli Botol Laboratorium

  • Tentukan terlebih dahulu botol tersebut akan digunakan untuk apa, jika teman-teman berperan sebagai pengawas di laboratorium, tentukan apakah akan membeli yang jenis botol amber atau yang clear, ataukah botol dari bahan plastik.

Misalnya : botol diperuntukkan untuk sampling bahan baku, maka botol dari bahan plastik dirasa lebih nyaman dibandingkan dengan botol dari bahan kaca karena lebih aman dan jika terjatuh tidak akan pecah.

Baca Juga : Metode Pengambilan Sampel Bahan Baku di Industri Makanan

  • Tanyakan ke user / analis / petugas sampling

Berdasarkan aktivitas yang mereka lakukan lebih nyaman menggunakan ukuran botol yang berapa?

Apakah harus botol dengan ukuran 250 ml atau cukup hanya 100 ml saja.

Standar Terkait Laboratory Bottle

  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 1: SCREW – NECK BOTTLES – BS EN ISO 4796-1
  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 2: CONICAL NECK BOTTLES – BS EN ISO 4796-2
  • LABORATORY GLASSWARE – BOTTLES – PART 3: ASPIRATOR BOTTLES – BS EN ISO 4796-3
  • SPECIFICATION FOR PLASTICS LABORATORY WARE – PART 4: WASH BOTTLES – BS 5404-4
Fungsi Labu Erlenmeyer di Dalam Laboratorium Kimia dan Biologi

Fungsi Labu Erlenmeyer di Dalam Laboratorium Kimia dan Biologi

Peralatan gelas (baik itu yang berfungsi sebagai pengukur maupun yang hanya digunakan sebagai penampung) di dalam laboratorium merupakan bagian yang sangat penting dan wajib ada untuk mendukung kegiatan analisa. Hampir semua kegiatan preparasi sampel menggunakan peralatan tersebut.

“Seorang ilmuwan / peneliti / analis di laboratorium tanpa peralatan gelas ibarat seorang tukang tanpa gergaji.”

Ada beberapa peralatan gelas di laboratorium yang pernah kita pelajari di artikel-artikel sebelumnya, antara lain : tabung reaksi, gelas ukur, labu ukur, pipet gondok, pipet ukur, dan gelas kimia. Nah.. Kali ini kita akan belajar mengenai labu erlemeyer baik dari pengertian, fungsi dan jenisnya.

Pengertian Labu Erlenmeyer

conical flask

Labu Erlenmeyer adalah salah satu peralatan gelas di laboratorium yang berbentuk seperti kerucut dengan bagian bawah yang datar dan lebar dan mengecil kearah bagian atas serta bagian leher yang berbentuk silinder.

Alat ini juga sering disebut dengan conical flask, sebagian yang lain menyebutnya dengan labu titrasi.

Leher yang sempit pada erlenmeyer ini membuatnya lebih mudah diambil dan dipegang, sementara bagian dasarnya yang rata memungkinkannya diletakkan di permukaan apa pun.

Erlemeyer pertama kali diciptakan oleh ilmuwan asal jerman yang bernama Richard August Carl Emil Erlenmeyer pada tahun 1860 yang kemudian namanya digunakan untuk penamaan alat tersebut. Emil Erlenmeyer sendiri merupakan ilmuwan di bidang kimia organik yang pertama kali mensintesis senyawa antara lain tirosina, kreatina, guanidin, dan kreatinin.

Ada beberapa bahan yang digunakan untuk membuat labu erlenmeyer, diantaranya yang paling umum dan sering kita temui adalah bahan Borosilicate dan bahan polypropylene yang tentunya dalam penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan analisa di laboratium.

Fungsi Labu Erlenmeyer

erlenmeyer flask

Erlenmeyer banyak digunakan di laboratorium kimia, laboratorium bakteriologi, laboratorium Hematologi, laboratorium Mikrobiologi, dan hampir semua Laboratorium yang secara umum melakukan pengujian. Bahkan dalam laboratorium-laboratorium tersebut, erlenmeyer merupakan peralatan laboratorium yang paling sering digunakan.

Fungsi erlenmeyer di laboratorium sangatlah bermacam-macam antara lain sebagai berikut :

  • Digunakan untuk menyimpan dan mengukur sampel kimia cair. Selain itu, tergantung pada penelitian atau analisanya, sampel dalam erlenmyer tersebut dapat dipanaskan atau juga direaksikan di dalam erlenmeyer.
  • Digunakan dalam proses analisa dengan metode titrasi, dimana labu erlenmeyer tersebut sebagai tempat / penampung larutan yang akan dititrasi dengan menggunakan titran yang sudah kita siapkan di dalam buret.
  • Digunakan untuk mencampur beberapa cairan atau padatan dengan cairan dimana hal tersebut merupakan tahapan penting dalam berbagai macam analisa kimia.
  • Digunakan untuk proses homogenisasi larutan dengan lebih cepat dengan bantuan pengaduk magnet untuk menjaga agar campuran tersebut tetap berputar.

Meskipun pengadukan diputar dengan cepat, namun dengan bentuk Labu erlenmeyer yang pada bagian tubuh lebar tetapi pada leher sempit, maka akan mengurangi kemungkinan tumpahan selama proses berputar.

Hal ini juga sangat penting ketika kita bekerja dengan asam kuat / bahan lain yang menyebabkan iritasi pada kulit. Berbeda dengan gelas kimia, erlenmeyer dengan bentuk leher yang kecil memungkinkan untuk kita tutup dengan stoper yang disertakan pada labu erlenmeyer jenis tertentu.

  • Digunakan di laboratorium mikrobiologi untuk persiapan kultur mikroba.
  • Filter flask yang mempunyai bentuk seperti erlenmeyer namun mempunyai konektor dibagian lehernya dimana untuk alat gelas jenis ini biasanya digunakan dalam proses filtrasi menggunakan corong buchner dengan bantuan vacuum pump.

Sisi labu yang meruncing dan leher yang sempit memungkinkan pencampuran dan pengadukan yang mudah tanpa risiko tumpah.
Labu berbentuk kerucut dapat digunakan untuk mengukur volume cairan, namun pengukurannya tidak tepat.
Menggunakan gabus, zat gas dapat disimpan dalam labu berbentuk kerucut.

Jenis-Jenis dan Gambar Erlenmeyer

  • Labu Erlenmeyer mulut Sempit – Sesuai namanya, erlenmeyer jenis ini mempunyai mulut yang sempit, 

fungsi labu erlenmyer

  • Labu Erlenmeyer mulut Lebar – Digunakan untuk mengaduk cairan dengan dengan menggunakan pengaduk magnet dan magnetik stirer

gambar labu erlenmeyer

  • Erlenmeyer Bahan polypropylene

erlenmeyer bahan pp

  • Erlenmeyer With Rubber Stopper

kegunaan labu erlenmeyer

  • Erlenmeyer With Screw Cap

erlenmeyer with cap

Ukuran Erlenmeyer

Terdapat berbagai macam brand dan jenis erlemeyer, dimana setiap setiap jenisnya mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Berikut ini adalah salah satu contoh standar ukuran erlenmeyer :

ukuran labu erlenmeyer

Dapat dilihat di tabel diatas, untuk ukuran erlenmeyer terkecil 50 ml mempunyai tinggi 82 mm ± 1 mm dengan diameter leher 24 mm ± 1 mm dan diameter terlebar adalah 51 mm ± 1 dengan berat 50 gram ± 8 gram.

Sedangkan untuk erlenmeyer terbesar dengan volume 10 liter mempunyai tinggi 450 mm ± 3 mm dengan diameter leher 60 mm ± 1 mm dan diameter terlebar 280 mm ± 3 mm dengan berat 2450 gram ± 100 gram.

Kelebihan dan Kekurangan Erlenmeyer

  • Kelebihan :

Labu erlenmeyer ideal untuk mencampur bahan kimia karena alasnya yang lebar dan kemampuannya untuk diputar dengan menggunakan stirer bar tanpa tumpah. Karena alasnya lebar dan bagian atasnya kecil sehingga kecil kemungkinan cairan akan naik ke atas dan meluap / tumpah.

Labu erlenmeyer memiliki keuntungan ekstra karena dapat ditutup dengan sumbat karet bahkan ada yang menggunakan screw cap. tutp ini tidak kita temukan di gelas kimia. Sehingga sampel / cairan / larutan lebih sering disimpan di dalam erlenmeyer dan tidak disimpan dalam gelas kimia.

Dapat juga digunakan untuk menyaring berbagai zat dengan kertas saring. Di sini, labu Buchner / labu vakum,
variasi dari labu Erlenmeyer asli, digunakan. Selain itu, dapat digunakan untuk mengandung titrat. Karakteristik ini membuatnya cocok untuk rekristalisasi.

Karakteristik ini juga membuat labu cocok untuk proses perebusan. Bentuk kerucut labu memungkinkan pelarut mengembun di tubuhnya. Ini mencegah hilangnya pelarut. Reaksi-reaksi ini harus dikelola. Mereka tidak dapat melebihi suhu tertentu karena tekanan termal dapat menyebabkan labu pecah.
Labu erlenmeyer dibuat agar jauh lebih tahan lama daripada labu laboratorium biasa. Mereka mengandung kaca 25% lebih banyak daripada termos dinding standar dan karenanya memiliki umur simpan yang lebih lama.

  • Kekurangan
    1. Karena ketebalannya yang terbatas, erlenmeyer tidak dapat digunakan dalam reaksi kimia berenergi tinggi.
    2. Meskipun terdapat skala / graduasi di dalam erlenmeyer, namun alat ini bukanlah sebagai alat pengukur sehingga volume yang tertampung di dalam erlenmeyer tidaklah akurat, namun hanya kita gunakan untuk pembacaan secara kasar saja.

Tips Merawat Erlenmyer

conical flask adalah

  • Pembersihan
    1. Sebelum menggunakan erlenmeyer, jika digunakan untuk keperluan analisa mikrobiologi, pastikan alat tersebut sudah disterilkan dan dibersihkan dengan kain kering.
    2. Setelah melakukan percobaan / selesai digunakan, bilas erlenmeyer selama 10 s/d 15 menit dalam larutan deterjen hangat. Kemudian, bilas 3 x dengan air kran dan keringkan dengan kain katun kering. Dalam kondisi tertentu jika kotoran di dalam erlenmeyer sudah berkerak, ada baiknya dilakukan pembersihan dengan ultrasonic cleaner.
  • Penyimpanan

Untuk mencegah kontaminasi, labu erlenmeyer harus disimpan dalam kotak di lokasi yang kering, misalnya lemari laboratorium.

Petunjuk Keselamatan Penggunaan

  1. Pada saat bekerja menggunakan glassware di laboratorium, termasuk labu erlenmeyer, pastikan bekerja dengan hati-hati, kenakan Alat Pelindung Diri yang sesuai, misalnya : jas laboratorium, safety glasses, dan sarung sarung tangan.
  2. Pahami larutan apa yang terdapat di dalam labu erlenmeyer, pastikan untuk membacan MSDS untuk mengenali bahaya bahan tersebut, jika kita tidak tahu larutan apa yang terdapat di dalam erlenmeyer tersebut, anggap cairan tersebut sebagai cairan berbahaya yang perlu kehati-hatian dalam penanganannya.
  3. Erlenmyer yang terbuat dari bahan kaca borosilicate, baik dalam kondisi panas atau dingin akan terlihat sama (tidak ada perbedaan warna, misalnya untuk erlenmeyer panas berwarna merah membara), pastikan menggunakan sarung tangan untuk menghindari adanya luka bakar ketika menyentuh labu erlenemyer tersebut.
  4. Jangan langsung menaruh erlenmeyer yang baru saja dipanaskan ke dalam bak air dingin.
  5. Ketika erlenmeyer bahan kaca borosilikat pecah, maka pecahan kaca tersebut akan tajam seperti jenis kaca lainnya. Buang potongan pecahan kaca tersebut dengan hati-hati.

Semoga Bermanfaat

Ultrasonic Cleaner Sebagai Alat Pembersih Dalam Paling Efektif

Ultrasonic Cleaner Sebagai Alat Pembersih Dalam Paling Efektif

Dalam aktivitas bekerja seiring dengan berjalannya waktu, hal yang biasa jika kita dihadapkan dengan benda-benda yang kotor, seperti peralatan gelas laboratorium yang kotor karena lemak / bahan kimia yang membandel, spare part / komponen-komponen mekanik yang kotor / berkarat, dll dimana kotoran tersebut tentunya harus kita bersihkan supaya tidak mengganggu aktivitas dalam bekerja.

Pembersihan dengan deterjen terkadang sulit kita lakukan, sehingga kita memerlukan peralatan khusus untuk membantuk kegiatan pembersihan tersebut. Salah satu peralatan tersebut adalah ultrasonic cleaner. Apa itu ultrasonic cleaner dan bagaimana prinsip kerjanya?

Yuk.. simak di dalam artikel berikut..

Fungsi Ultrasonic Cleaner di Laboratorium

Apa itu ultrasonic?

Ultrasonic merupakan gelombang suara dengan frekuensi diatas 20 KHz yang tidak dapat didengar secara langsung oleh indra manusia normal.

Ultrasonic cleaner adalah suatu alat yang digunakan untuk proses pembersihan permukaan suatu objek dengan menggunakan kekuatan gelombang ultrasonik tersebut secara otomatis.

Fungsi Ultrasonic Cleaner adalah untuk proses pembersihan secara cepat atau singkat dan maksimal namun tak menimbulkan goresan atau lecet pada alat / komponen-komponen yang akan dibersihkan dimana proses pembersihannya dengan cara membenamkan obyek / peralatan yang akan dibersihkan ke dalam tangki alat ultrasonic cleaner yang sudah terisi dengan media (air dan atau air yang sudah ditambahkan cairan pembersih).

Prinsip Kerja Ultrasonic Cleaner

gelombang ultrasonic

Ultrasonic cleaner lebih difungsikan sebagai alat pembersih khusus namun untuk beberapa model, saat ini juga telah dilengkapi dengan pemanas / heater untuk menjalankan fungsi dan metode sterilisasi basah.

Prinsip kerja Ultrasonic cleaner adalah adanya perambatan gelombang frekuensi tinggi pada media cair.

Cairan akan dirambatkan dalam bentuk medium suara dengan gelombang ultrasonik frekuensi tinggi yang menghasilkan getaran mikroskopik sehingga kotoran maupun mikroorganisme atau kontaminan yang menempel kuat bisa lepas dengan lebih mudah.

Getaran juga akan mempengaruhi cairan dalam kontainer yang membuatnya memiliki daya kejut atau agitasi yang kuat sehingga semua jejak kontaminasi yang melekat akan terhapus.

Dengan mengubah energi listrik menjadi getaran dengan frekuensi yang sangat tinggi. Getaran tersebut akan dirambatkan melalui medium cair ke benda-benda yang berada didalam medium cair tersebut sehingga dikarenakan frekuensi yang lebih tinggi, partikel kotoran yang melekat pada paralatan akan terlepas, molekul-molekul akan terurai, sel, virus dan bakteri akan hancur dan bekas DNA akan terpotong-potong sebagai akibat dari getaran yang mengenainya.

Kelebihan dan Kekurangan Pembersih Ultrasonik

pembersih ultrasonik

Kelebihan

  1. Ultrasonic Cleaner merupakan peralatan laboratorium untuk membersihkan yang paling efektif khususnya untuk material berukuran kecil, berlekuk, dan berbentuk rumit seperti komponen-komponen peralatan medis, laboratorium, accessories mesin, material berbahan keras non absorben seperti logam, gelas plastik, dl.
  2. Proses pembersihan dan sterilisasinya mampu menembus lubang, cetakan dan ceruk halus pada material yang dibersihkan.
  3. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembersihan alat terbilang cepat karena hanya memerlukan waktu dalam kisaran beberapa menit dengan media air yang dapat dipanaskan dan dipadukan dengan cairan disenfektan untuk efektivitas pembersihan dan sterilisasi.
  4. Dengan menggunakan media air tersebut, saat ini hampir semua alat ultrasonic cleaner memiliki kran pembuangan yang memudahkan kita dalam melakukan pembuangan air pada saat alat sudah selesai digunakan atau ingin melakukan penggantian karena media air tersebut sudah kotor sehingga lebih mudah dan efisien untuk digunakan.
  5. Memiliki waktu kontrol dan temperatur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis peralatan yang dibersihkan dan disterilisasikan.

Kekurangan

Selain mempunyai kelebihan, alat ini juga mempunyai kekurangan, antara lain sebagai berikut :

  1. Perlu kehati-hatian dalam pengoprasian untuk meminimalisir terjadinya kerusakan pada sejumlah komponen elektrikalnya khususnya trasnduser dan heater. Namun jika pada kondisi tertentu dimana terjadi masalah pada unit alat ultrasonic cleaner, disarankan melakukan service ke agen pemegang merk alat tersebut atau bisa juga menggunakan suplier yang melayani service alat laboratorium yang teman-teman percayai.
  2. Kapasitas ruang kontainer atau tank yang relatif terbatas karena umumnya ultasonic cleaner berukuran kecil dikarenakan lebih dikhususkan untuk peralatan berukuran kecil.
  3. Memerlukan penggantian media cairan sebagai media bantu pembersih dan sterilisasi secara berkala, karena jika sudah digunakan media cairan tersebut akan kotor.

Aplikasi Penggunaan Ultasonik Cleaner

Secara umum ultrasonic Cleaner dapat kita gunakan untuk membersihkan benda karena adanya kontaminan debu, karat, lemak, minyak, pigmen, ganggang, bakteri, jamur, flux agent, sidik jari, pengapuran , senyawa polishing, jelaga lilin, residu khamir, cairan biologi seperti darah, dll

Berikut ini beberapa kegunaan ultrasonic cleaner :

  • Membersihkan peralatan medis
  • Membersihkan alat laboratorium seperti : gelas kimia, ayakan laboratorium, komponen-komponen instrumen laboratorium, seperti spare part HPLC, Spektrofotometer AAS, dll
  • Membersihkan perhiasan (cincin, anting, gelang)
  • Membersihkan spare part mesin yang berkarat
  • dll

Bagian-Bagian Alat Ultrasonik Cleaner

Untuk lebih memahami mengenai alat ini, tentunya kita harus tahu bagian-bagian alatnya, berikut ini adalah gambaran umum komponen-komponen yang ada di ultrasonik cleaner ini :

komponen-komponen ultrasonik cleaner

Lihat pada huruf pada gambar diatas.

  • A. Stainless-steel transducer tank
  • B. Maximum filling level marking (Jumlah maksimum media cair yang dimasukkan dalam ultrasonik cleaner)
  • C. Plastic carrying handles (Untuk memindahkan alat jika diperlukan, bahkan pada saat kondisi alat panas pun kita akan merasa aman)
  • D. Operating panel (Tombol seting operasional alat dilakukan melalui operating panel ini)

 

bagian dalam tangki ultrasonik cleaner

  • A. Overflow
  • B. Level switch
  • C. Filling level marking for minimum level
  • D. Heating element inside the tank
  • E. Drain opening

bagian belakang alat pembersih ultrasonic

bagian samping pembersih ultrasonik

  • A. 2-way ball valve
  • B. Mains supply cable:
  • C. Connection for supply surface skimming
  • D. Connection drain overflow to a pump filter unit
  • E. Cover plate (maintenance opening) for heating and float switch
  • F. Connection supply for bottom scouring
  • G. 3-way ball valve for drain / supply
  • H. Nameplate

Cara Menggunakan Ultrasonic Cleaner Secara Umum

  1. Hubungkan stop kontak dengan sumber arus listrik.
  2. Buka tutup alat pada bagian atas dan letakkan stainless steel basket ke dalam kontainer / tangki alat.
  3. Isikan media cair dengan jumlah yang direkomendasikan alat (antara batas bawah dan batas atas)
  4. Masukkan alat / komponen yang akan dibersihkan ke dalam ultrasonic cleaner yang sudah terisi dengan media cair.
  5. Lakukan pengaturan alat :
    • Jika ingin menggunakan panas putar tombol pengatur suhu sesuai dengan suhu yang diinginkan.
    • Putar tombol pengatur kekuatan getaran (amplitude) sesuai kekuatan getaran yang diinginkan.
    • Putar tombol pengatur waktu sesuai lamanya waktu yang diinginkan.
  6. Alat akan bekerja sesuai dengan pengaturan yang telah dilakukan.
  7. Jika alat sudah selesai digunakan, bersihkan alat, buat media cair melalui kran pembuangan, dan bersihkan bagian-bagian dalam alat ultrasonik cleaner.

Cara Membersihkan Karat Dengan Ultrasonic Cleaner

Alat dan Bahan :

  • Air bersih, bisa air minum / air distilasi
  • Mangkok plastik tipis yang sudah dibolongi untuk melindungi Ultrasonic cleaner dari benda yang ingin kita bersihkan.
  • Cairan sabun atau sabun cair 1 sendok

Langkah Kerja

  • Tambahkan air kedalam ultrasonik cleaner. Di dalam alat ultrasonic cleaner tersebut biasanya ada tanda batas minimum dan maksimum jumlah air yang harus dimasukkan.
  • Tambahkan cairan sabun satu sendok dan aduk supaya merata
  • Nyalakan alat dengan power yang kecil terlebih dahulu misalnya : 30 watt selama 10 menit untuk menghilangkan gelembung-gelembung udara dari sabun karena hal ini akan menghilangkan efektivitas pembersihannya.
  • Nyalakan alat dan biarkan selama 10 menit.
  • Setelah 10 menit, masukkan mangkok yang sudah dibolongi ke dalam alat dan masukkan benda-benda yang ingin kita bersihkan.

Catatan:

Pada saat menaruh benda yang ingin dibersihkan jangan sampai berdempetan.

  • Seting alat pada 50 watt selama 30 menit.
  • Nyalakan alat
  • Setelah selesai ambil benda yang dibersihkan yang terdapat pada mangkok bolong tersebut, pastikan menggunakan sarung tangan karena kondisi benda tersebut pasti dalam keadaan panas.
  • Setelah pemakaian ini air di dalam kontainer / tangki ultrasonic cleaner akan kotor.
  • Buang air melalui kran pembuangan dan bersihkan alat ultrasonic cleaner.

Semoga bermanfaat.

Kegunaan Gelas Kimia dan Prosedur Perawatannya Supaya Awet

Kegunaan Gelas Kimia dan Prosedur Perawatannya Supaya Awet

Dalam suatu analisa di laboratorium, baik itu analisa sederhanya, misalnya pelarutan sampai ke analisa yang lebih komplek misalnya analisa kandungan vitamin C menggunakan spektrofotometer UV Vis, analisa kandungan logam dengan menggunakan AAS (Atomic Absorbtion Spektrofotmeter) dan analisa lainnya tentunya membutuhkan peralatan gelas laboratorium.

Peralatan gelas laboratorium ini bisa dikategorikan menjadi 2 :

  • Yang berfungsi sebagai penampung seperti halnya gelas kimia / erlenmeyer.
  • Yang berfungsi untuk pengukuran seperti pipet volume, pipet ukur, labu ukur, gelas ukur dll.

Pada artikel ini kita akan membahas mengenai salah satu alat tersebut yaitu gelas kimia baik dari fungsi, material / bahan yang biasa digunakan untuk gelas kimia tersebut, sampai ke bagaimana cara perawatannya.

Kegunaan Gelas Kimia Laboratorium

Meskipun bukan sebagai alat pengukur, keberadaan gelas kimia ini sangatlah penting, karena alat ini biasanya digunakan sebagai awal dari suatu analisa / preparasi sampel. Jika pada tahapan preparasinya salah / terkontaminasi, maka hasil analisa yang kita dapatkan juga diragukan hasilnya / tidak valid.

Kegunaan gelas kimia di dalam laboratorium adalah untuk tempat melarutkan zat yang tidak membutuhkan ketelitihan yang tinggi, misalnya :

  1. Untuk analisis kualitatif
  2. Untuk uji organoleptik
  3. Untuk pembuatan larutan standar
  4. Bahkan di laboratorium mikrobiologi, gela kimia ini seringkali digunakan dalam pembuatan media pertumbuhan.
  5. dll

Sedemikian pentingnya fungsi gelas kimia tersebut sehingga perawatannyapun harus kita perhatikan.

Bahan Alat Gelas Laboratorium

Ada beberapa bahan yang umum digunakan sebagai bahan alat gelas laboratorium, Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat peralatan gelas (baik itu gelas kimia, erlenmeyer, labu ukur, dll) yang paling umum kita kenal adalah borosilikat.

Untuk peralatan gelas yang berfungsi untuk pengukuran seperti labu ukur, gelas beaker, picnometer, dll bahan ini lebih lama mempertahankan tingkat akurasi kalibrasinya asalkan tidak digunakan untuk bahan hot phosporic acid, hot alkalis, hydrocloric acid serta dipanaskan pada suhu lebih dari 150 derajat celcius.

Bahan borosilikat tersebut tentunya lebih unggul dari peralatan gelas yang terbuat dari soda lime yang akan frosted seiring dengan berjalannya waktu.

Macam-Macam Gelas Kimia

Meskipun bukan digunakan untuk pengukuran, dalam gelas kimia ini juga terdapat skala untuk mengestimasi secara kasar berapa jumlah larutan yang telah kita tampung. Untuk beberapa merk juga disertai dengan area putih untuk penandaan supaya sampel yang kita tampung tidak tertukar.

Berikut ini adalah beberapa macam gelas kimia yang paling sering ditemukan di laboratorium :

Gelas Kimia High Form Witout Spout

Gelas Kimia High Form Witout Spout

Mempunyai bentuk yang agak tinggi dengan dinding samping yang lurus. Banyak digunakan untuk menyiapkan, mencampur, dan memanaskan larutan. Gelas kimia jenis ini dapat kita temukan dengan kapasitas 50 s/d 1000 ml dan tidak mempunyai spout (lengkungan untuk menuang) di bagian atasnya.

Berikut ini adalah gambaran dimensi dari Gelas Kimia High Form Witout Spout tersebut

Ukuran Gelas Kimia High Form Witout Spout

Gelas Kimia low form, with spout

Gelas Kimia low form with spout

Mempunyai pilihan kapasitas yang sangat lebar yaitu antara 5 ml s/d 10000 ml, dengan adanya spout tentunya akan memudahkan untuk melakukan penuangan. Gelas kimia ini memenuhi standar ISO 3819 dan juga terdapat skala untuk memperkirakan larutan yang ditampung.

Berikut ini adalah gambaran ukuran dari Gelas Kimia low form, with spout ini.

ukuran Gelas Kimia low form, with spout

Catatan :

Tidak semua gelas kimia tahan dengan temperatur yang tinggi, selalu konsultasikan ke supplier alat anda apakah gelas kimia tersebut bisa dilakukan pemanasan, misalnya : pada pembuatan media mikrobiologi dengan pemanasan pada hotplate laboratorium

Cara Merawat Gelas Kimia Laboratorium

Dalam suatu analisa kimia tentunya melibatkan bahan-bahan yang diuji (sampel) berikut dengan reagen kimianya. Untuk menghasilkan hasil analisa yang valid dan absah tentunya diperlukan perawatan terhadap peralatan gelas, baik itu yang berfungsi sebagai penampung saja seperti gelas kimia, erlenmeyer, ataupun peralatan gelas yang berfungsi sebagai alat ukur seperti labu ukur, buret, dan gelas ukur.

Salah satu cara merawat peralatan gelas tersebut tentunya adalah dengan mencuci bersih setelah pemakaian alat gelas tersebut. Harapannya adalah jika peralatan gelas sudah tercuci bersih, maka tidak ada residu bahan lain yang tertinggal sehingga dapat mengkontaminasi sampel yang akan kita analisa selanjutnya.

Selain itu Cara membersihkan perlatan gelas laboratorium juga merupakan bagian dari cara kerja yang baik di dalam suatu laboratorium.

Kali ini kita akan fokus pada cara membersihkan gelas kimia dan erlenmeyer, karena pengambilan sampel atau reagen yang akurat untuk analisa, jika ternyata gelas kimia / erlenmeyer yang kita gunakan untuk analisa tidak bersih / masih ada kontaminasi dari bahan lain akan mengakibatkan hasil analisa yang salah.

Seiring dengan berjalannya waktu, gelas kimia / erlenmyer di dalam laboratorium kita terdapat kerak putih dan noda hitam. Bagaimana cara membersihkannya?

Alat yang digunakan :

  • Erlenmeyer
  • Gelas Kimia
  • Brush Pembersih
  • Spons
  • Pipet Volume
  • Tisue
  • Tang Krus
  • Nampan

Bahan yang digunakan :

  • H2SO4
  • Kalium dikromat
  • HNO3
  • Deterjen
  • KOH Etanol

Catatan :

Sebelum melakukan pekerjaan, tentunya kita harus menggunakan alat pelindung diri terlebih dahulu, yaitu jas laboratorium, masker, sarung tangan safety.

Langkah Kerja

Pembilasan Dengan Air

cara membersihkan glassware

  • Lakukan pembilasan Gelas Kimia dan Erlenmeyer Dengan Air
  • Ambil gelas kimia dan erlenmeyer kemudian nyalakan kran.
  • Bilas erlenmeyer dengan air mengalir, gunakan brush pembersih untuk memaksimalkan pembersihan pada erlenmeyer, kemudian bilas kembali. Lakukan hal yang sama untuk gelas kimia, namun untuk pembersihan maksimal gunakan spons untuk pembersihan gelas kimia ini.
  • Keringkan gelas beaker dan erlenmeyer menggunakan tisue.

Perendaman dengan K2Cr2O7

Pada tahapan ini kita menggunakan bantuan pipet volume untuk melakukan pengambila K2Cr2O7.

  • Kempeskan penyedot pada pipet volume
  • Siapkan larutan K2Cr2O7
  • Ambil larutan K2Cr2O7 dengan menggunakan pipet volume
  • Masukkan 10 ml larutan K2Cr2O7 pada peralatan gelas yang akan diberisihkan tersebut (gelas kimia dan erlenmeyer)
  • Hidupkan lemari asam berikut dengan lampunya
  • Tempatkan peralatan gelas tersebut di dalam lemari asam
  • Siapkan larutan H2SO4 dengan konsentrasi 2M
  • Ambil 10 ml larutan H2SO4 2M dengan bantuan pipet volume.
  • Masukkan 5 ml larutan H2SO4 2M di masing-masing gelas kimia dan erlenmeyer
  • Goyangkan gelas kimia dan erlenmeyer tersebut supaya larutan tercampur dengan sempurna.
  • Keluarkan gelas kimia dan erlenmeyer tersebut dari lemari asam dan tutup dengan plastik wrap. Jangan lupa untuk menutup pintu lemari asam dan mematikan lampunya karena sudah tidak digunakan.
  • Biarkan campuran K2Cr2O7 dan H2SO42 2 M terendam selama 24 jam.
  • Setelah selesai bilas kedua peralatan gelas tersebut dengan air bersih. Gunakan spons untuk pembersihan gelas kimia yang lebih maksimal dan brush untuk pembersihan erlenmeyer yang maksimal kemudian bilas kembali peralatan gelas tersebut
  • Keringkan peralatan gelas tersebut menggunakan tisue.

Perendaman dengan HNO3 2 M

  • Hidupkan kembali lemari asam dan lampunya dan buka penutup lemari asam tersebut.
  • Tempatkan peralatan gelas yang akan dibersihkan di dalam lemari asam dan siapkan larutan HNO3 2M
  • Ambil 20 ml larutan HNO3 2 M dengan bantuan pipet volume
  • Masukkan masing-masing 10 ml larutan HNO3 2 M di masing-masing peralatan gelas tadi kemudin goyangkan.
  • Rendan larutan HNO3 2 M tersebut selama 30 menit
  • Setelah 30 menit, ambil peralatan gelas tadi dan bilas dengan air bersih.
  • Gunakan brush pembersih dan spons untuk pembersihan yang maksimal pada erlenmeyer dan gelas kimia tadi kemudian bilas kembali dan keringkan gelas dengan tisue.

Perendaman Dengan Deterjen

  • Siapkan larutan deterjen dan ambil sebanyak 20 ml larutan tersebut.
  • Masukkan 20 ml larutan deterjen di masing-masing peralatan gelas tadi dan goyangkan.
  • Rendam deterjen selama 30 menit kemudian bilas dengan air.
  • Gunakan brush pembersih dan spons untuk pembersihan yang maksimal untuk erlenmeyer dan gelas kimia kemudian bilas kembali.

Perendaman dengan KOH – Etanol

  • Siapkan larutan KOH Etanol dan ambil sebaganyak 20 ml.
  • Masukkan 20 ml larutan KOH Etanol di masing-masing peralatan gelas tadi dan goyangkan.
  • Rendam selama 30 menit kemudian bilas dengan air bersih.
  • Gunakan brush pembersih dan spons untuk pembersihan yang maksimal untuk erlenmeyer dan gelas kimia kemudian bilas kembali.
  • Keringkan dengan menggunakan tisue.

Pengeringan Peralatan Gelas

  • Lakukan pengeringan peralatan gelas yang dibersihkan tadi (gelas kimia dan erlenmeyer) menggunakan oven laboratorium dengan suhu 105 derajat celsius selama 15 menit.

Baca Juga : Prosedur Pengoperasian Oven Laboratorium

  • Simpan gelas kimia dan erlenmeyer tersebut di lemari laboratorium dengan rapi.

Demikian sedikit penjelasang mengenai gelas kimia baik dari fungsi, macam, serta prosedur pemberishannya.

Semoga Bermanfaat.

Mengenal Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Lebih Detil

Mengenal Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Lebih Detil

Mengetahui kandungan logam dalam suatu sampel merupakan hal wajib dibeberapa bidang, misalnya terkait dengan lingkungan dimana terdapat nilai ambang batas yang harus dipenuhi untuk kandungan logam dalam perairan tertentu sehingga air tersebut masih dalam baku mutu kegunaanya serta belum masuk di kategori tercemar. Hal lain misalnya ambang batas maksimum kandungan timbal aman di dalam air yang dikonsumsi menurut WHO adalah kadar timbal 10 μg/dL (0,1 mg/L).

Nah untuk mengetahui kandungan-kandiungan logam tersebut tentunya kita memerlukan instrumen laboratorium, salah satunya yang umum digunakan adalah Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) atau terkadang banyak yang menyebutnya sebagai Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)  / Spektro AAS. Nah kali ini kita akan belajar mengenai instrumen tersebut.

Prinsip Kerja Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Prinsip kerja Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) ini sebenarnya hampir sama dengan spektrofotometri uv-vis dan spektrofotometer infrared, yaitu adanya interaksi radiasi elektromagnetik dengan sampel.

Jadi antara radiasi elektromagnetik dengan sampel terjadi interaksi kemudian interaksi tersebut akan dicatat oleh alat pada bagian detektor dan kemudian akan divisualisasikan dalam bentuk nilai dan nilai tersebut akan dikuantifikasi atau dikalkulasikan dalam persamaan khusus. Biasanya kita menggunakan persamaan regresi linier untuk melakukan analisis kualitatif ataupun kuantitatif.

Atomic Absorption Spectrophotometer / Spektro AAS pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan yang bernama Wals, Alkamede, dan Melatz pada tahun 1955. Jadi alat ini bukanlah alat baru namun sudah lama dikembangkan dan digunakan sampai saat ini, dimana tujuan penggunaan alat ini adalah untuk menentukan unsur logam ataupun metal dalam suatu sampel berdasarkan absorpsi radiasi oleh atom bebas dalam keadaan gas.

Jadi tujuan penggunaan spektro AAS adalah untuk menentukan jumlah logam di dalam suatu sampel. Secara garis besar prinsip spektro AAS sama dengan prinsip kerja spektrofotomer UV VIsible, perbedaannya hanya terletak pada bentuk spektrum, cara pengerjaan sampel, dan peralatannya.

Cara kerja spektro AAS yaitu adanya penyemprotan sampel berupa tetesan yang sangat halus kedalam nyala api, atau juga bisa berupa bantuan dari energi listrik. Jadi unsur logam yang dibakar menggunakan nyala api maupun menggunakan listrik akan memancarkan warna dan spektrum emisi yang khas yang menunjukkan logam tertentu.

Selanjutnya terjadi penyerapan sumber radiasi (di luar nyala) oleh atom atom netral (misalnya : Fe, Cd, Pb, dll) dalam keadaan gas, selanjutnya atom netral tersebut akan menyerap radiasi elektromagnetik dari alat dan akan dideteksi oleh detektor dan divisualisasikan dalam bentuk spektrum dan absorbance.

Radiasi yang diserap oleh atom atom netral dalam keadaan gas biasanya berupa radiasi sinar tampak atau ultra violet. Sehingga panjang gelombang yang digunakan berada pada wilayah panjang gelombang di UV dan visible dimana panjang gelombang UV berada pada kisaran 200 s/d 400 nm dan panjang gelombang visible antara 400 s/d 800 nm. Atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada sifat unsurnya / logam yang kita analisis.

Sama halnya dengan UV Vis dimana sampel yang kita analisis itu memiliki panjang gelombang maksimum masing-masing dan begitu pula dengan di spektro AAS dimana sampel logam yang kita analisis juga memiliki panjang gelombang maksimum tertentu, tergantung daripada sampel yang kita gunakan.

Gas Pembakar Spektro AAS

Pada spektro AAS dipakai dua macam gas pembakar yang bersifat oksidasi dan bahan bakar.

Gas yang digunakan tersebut untuk meningkatkan temperatur pembakaran agar proses pembakaran berlangsung secara maksimal sehingga proses analisis itu tidak akan terganggu.

Gas pembakaran ini dapat merupakan campuran seperti :

  • Udara dengan propana
  • Udara dengan asetilen (terbanyak dipakai)
  • N2O dengan asetilen

Profil nyala tiap unsur itu berbeda-beda, namun pada umumnya tinggi nyala api pada gas pembakar tersebut dibuat kurang lebih 5 cm.

Temperatur proses pembakaran sampel sangat mempengaruhi jumlah atom yang mengalami eksitasi. Ketika temperaturenya cukup untuk membakar secara sempurna sampel maka jumlah atom yang mengalami eksitasipun akan sempurna, artinya tereksitasi secara keseluruhan dan atom yang tereksitasi itulah yang akan menyerap cahaya secara maksimal yang dipancarkan oleh spektrofotometri AAS.

Sebaliknya ketika proses eksitasinya tidak sempurna / ada beberapa atom yang tidak terbakar sempurna dan tidak membentuk atom bebas maka proses analisis juga tidak sempurna, karena hanya atom bebaslah yang akan menyerap radiasi elektromagnetik dari alat.

Pemilihan Panjang Gelombang Spektrofotometri AAS

Sama halnya dengan spektrofotometer UV Vis dimana terdapat tahapan penentuan panjang gelombang.

Jika pada spektrofotometer UV Vis penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan cara scanning lamda Max (λ max), Artinya kita scaning sampel tersebut pada range panjang gelombang tertentu dan kemudian kita akan temukan puncak tertinggi yang merupakan representasi lamda max (λ max) dari sampel tersebut.

Sementara di spektrofotometer AAS penentuan panjang gelombang dipilih dengan intensitas yang cukup tinggi dan memberikan kelurusan rentang dinamik pada penentuan kuantitatif, dimana panjang gelombang ini berasal dari pada lampu katode yang digunakan.

Jadi kalau di spektrofotometer AAS itu kita menggunakan lampu katoda sebagai sumber radiasi dan lampu katoda tersebut spesifik dengan logam yang akan kita analisis, misalnya kita akan menganalisis logam kadmium, maka kita harus menggunakan lampu katoda yang khusus untuk mendeteksi kadmium, karena lampu katoda tersebut sudah dibuat sedemikian rupa untuk mendeteksi logam kadmium.

Penentuan dilakukan pada panjang gelombang di atas 220 nm untuk mencegah absorbansi non atomik atau mencegah radiasi sesatan.

Hal ini juga sama halnya dengan Spektrofotometer UV Vis dimana ada yang disebut dengan radiasi sesatan artinya sampel tidak menyerap radiasi tersebut terlebih dahulu namun langsung menuju ke detektor untuk proses selanjutnya.

Oleh karena itu untuk mencegah adanya radiasi sesatan kita perlu menggunakan panjang gelombang di atas 220 nm. Karena pada umumnya logam-logam yang kita analisis berada pada range panjang gelombang di atas 226 nm.

Absorpsi garis resonansi atom-atom netral suatu unsur didalam nyala api mempunyai sifat khas yaitu akan menyerap radiasi yang datang. Jadi ketika sampel tersebut dilarutkan terlebih dahulu kemudian setelah larut sempurna sampel tersebut akan disemprotkan masuk kedalam spektrofotometer AAS kemudian alat  tersebut akan membakar tetesan sampel yang sudah disemprotkan tadi dan proses pembakaran tersebut akan menghasilkan atom-atom netral yang akan menyerap radiasi dari spektrofotometer AAS.

Singkatnya, spektrofotometer AAS akan memancarkan radiasi dan kemudian atom netral akan menangkap radiasi tersebut dalam bentuk absorban dan transmitance.

Atom-atom netral suatu unsur dalam nyala api mempunyai sifat khas yaitu akan menyerap radiasi yang datang. Radiasi yang diserap tersebut pada panjang gelombang sesuai dengan energi eksitasi.

Jenis Gangguan Pada Spektrometer Serapan Atom (SSA)

spektrometer serapan atom

Gangguan yang di sering kita jumpai dalam proses analisis dengan menggunakan SSA adalah :

  • Gangguan Spektra

Gangguan ini terjadi apabila panjang gelombang (atomic line) dari unsur yang diperiksa berhimpitan dengan panjang gelombang dari atom atau molekul lain yang terdapat dalam larutan yang sama.

Seperti halnya pada spektrofotometer uv-vis bahwa ada beberapa sampel yang memiliki panjang gelombang maksimum yang saling berhimpitan atau berdekatan. Kalau spektrofotometer uv-vis teknik untuk mencegah terjadinya gangguan spektra kita lakukan dengan pergeseran panjang gelombang yang biasa kita kenal dengan efek batokromik..

Jadi pergeseran panjang gelombang ke arah panjang gelombang yang diinginkan agar dia tidak berdekatan panjang gelombang maksimumnya antara yang satu dengan yang lain karena ketika dia berdekatan atau berhimpitan maka proses analisis akan terganggu.

  • Gangguan fisika

Sifat-sifat fisika dari larutan yang diperiksa akan menentukan intensitas dari serapan atau emisi dari larutan yang diperiksa.

Kelarutan

Gangguan fisik yang pertama disini adalah kelarutan, jadi harapannya adalah sampel terlarut sempurna pada pelarut yang digunakan sehingga tidak mengganggu proses absorbsi sampel. Sama halnya dengan Spektrofotometer UV Vis dimana sampel yang digunakan juga harus terlarut sempurna agar proses serapan radiasi elektromagnetik itu berlangsung secara sempurna.

Kekentalan / Viskositas

Gangguna fisik yang kedua adalah kekentalan atau viskositas, karena kekentalan ini berpengaruh terhadap laju penyemprotan sampel pada spektrometer serapan atom (AAS) yang digunakan. Bisa dibayangkan ketika viskositasnya tinggi maka ketika disemprotkan tidak akan membentuk tetesan-tetesan kecil, namun berupa gumpalan-gumpalan yang pastinya akan mengganggu proses pembakaran sampel dan pada akhirnya mengganggu proses analisis.

Jadi kekentalan sangat berpengaruh sehingga sampel tersebut diusahakan dibuat seencer mungkin sehingga tidak mengganggu proses penyemprotan di dalam spektrometer serapan atom (AAS) yang digunakan. Sehingga pelarut yang digunakan, kekentalan yang dibuat atau keenceran larutan yang dibuat antara larutan sampel dan larutan pembanding itu harus betul-betul sama untuk menghasilkan data yang relevan.

  • Gangguan kimia

Gangguan kimia dapat dalam bentuk uap / padatan.

Bentuk Uap

Gangguan kimia biasanya memperkecil populasi atom pada level energi terendah dalam nyala atom dalam bentuk uap dapat berkurang karena terbentuknya senyawa seperti oksida, klorida, atau karena terbentuknya ion ion yang tentunya ion-ion ini juga sangat mempengaruhi proses analisis dan menggunakan spektrometer serapan atom (AAS).

Bentuk Padatan

Gangguan ini dikarenakan terbentuknya senyawa yang sukar menguap / sukar terdisosiasi dalam nyala. Hal ini terjadi pada nyala ketika pelarut menguap meninggalkan partikel padat, misalnya gangguan pada fosfor pada penetapan kalsium karena terbentuknya kalsium fosfat.

Hal ini dikarenakan karena pelarut yang digunakan tidak cocok atau tidak mampu melarutkan secara sempurna sampel yang kita analisis sehingga ketika berada di dalam kompartemen sampel pada spektrometer serapan atom (AAS) sampel akan susah untuk dibakar dengan menggunakan nyala ataupun dengan menggunakan listrik karena ternyata dia akan mengendap dan sulit untuk disemprotkan masuk ke dalam sampel.

Selain itu gangguan padatan ini juga yang dimaksud karena adanya sampel yang sukar untuk terdisosiasi atau dibakar oleh temperatur yang digunakan.

Untuk mengatasi masalah padatan ini maka metode pembakaran atau temperatur yang digunakan ditingkatkan dengan menambahkan bahan-bahan oksida ataupun oksida.

Cara Mengurangi Gangguan Kimia pada AAS :

  1. Dengan menaikkan temperature nyala karena ada beberapa sampel yang tidak terbakar secara sempurna yang menyebabkan pelarut tersebut meninggalkan sampel dan sampel tidak terbakar sempurna. Agar mempermudah penguraian. biasanya dipakai gas pembakaran antara campurkan C2H2 dan N2O yang memberikan nyala dengan temperatur yang tinggi. Harapannya adalah sampel yang kita analisis terbakar secara sempurna.
  2. Dengan menambahkan elemen-elemen pengikat gugus /atom penyangga sehingga terikat kuat, akan tetapi atom yang ditentukan bebas sebagai atom netral. Jadi kadang ada elemen-elemen pengganggu pada sampel yang dianalisis, sehingga perlu menambahkan larutan tertentu yang membuat kontaminan yang mengganggu tersebut terikat kuat dengan pelarut tambahan atau senyawa tambahan tersebut /gugus pengikat tersebut sehingga logam yang dianalisis tetap berada dalam keadaan bebas ketika dianalisis maka logam bebas tersebut akan menyerap radiasi secara sempurna tanpa ada gangguan daripada kontaminan.
  3. Dengan mengeluarkan unsur pengganggu dari matriks sampel dengan cara ekstraksi. Hal ini menjadi salah satu metode untuk mengurangi gangguan daripada kontaminan Jadi sampel tersebut harus kita ekstraksi dengan metode yang sesuai, misalnya kita ingin menganalisis kandungan logam merkuri pada sampel tertentu, maka kita perlu mencari metode ekstraksi merkuri pada sampel sehingga ekstrak yang dihasilkan betul-betul adalah ekstrak yang mengandung merkuri dan kontaminan tersebut bisa dihilangkan.

Persiapan Sampel Pada Spektro AAS

Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) selain untuk analisis kualitatif juga bisa digunakan sebagai analisis kuantitatif.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyiapan sampel untuk analisis kuantitatif dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) :

  1. Larutan sampel dibuat encer mungkin. Seperti yang sudah dijelaskan diatas ketika sampel mempunyai viskositas tinggi maka akan sulit untuk disemprotkan pada Spektrofotometer Serapan Atom (SSA), sehingga harus kita buat seencer mungkin.
  2. Kadar unsur yang dianalisis juga tidak boleh terlalu pekat, karena hal ini tentunya akan mengganggu proses analisis dan tentunya mengganggu proses serapan atas radiasi elektromagnetik sehingga batasannya adalah tidak lebih daripada 5% dalam pelarut yang sesuai.
  3. Larutan yang dianalisis itu diasamkan terlebih dahulu kemudian dianalisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).
  4. Hindari pemakaian pelarut aromatik atau halogenida karena hal ini produk ini akan mudah menguap dan juga mengandung unsur logam jadi ada halogenida yang tentunya akan mengganggu proses pembacaan pada analisis SSA.
  5. Pelarut organik yang umum digunakan adalah keton ester ataupun etil asetat dan gunakan perlarut yang Pro analysis dimana tingkat kemurniannya tinggi pastinya mungkin sekitar 98 % karena ketika kemurnianya rendah maka akan ada kontaminan pada pelarut tersebut dan tentunya akan mengganggu proses analisis dengan menggunakan spektro AAS.
  6. Hasil pelarutan sampel itu harus jernih dan stabil artinya pelarut yang digunakan betul-betul mampu melarutkan secara sempurna sampel yang kita analisis, dan stabil yang artinya ketika didiamkan maka tidak akan membentuk endapan, Hal ini akan akan bermasalah ketika jernih di awalnya dan kemudian ditinggalkan beberapa saat akan membentuk endapan, hal ini menunjukkan larutan tersebut tidak stabil.

Bagian-Bagian Alat Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)

Berikut adalah instrumentasi daripada alat spektrofotometri serapan atom :

bagian bagian spektro AAS

  • Tabung katoda cekung sebagai sumber tenaga
  • Pemotong berputar yang di yang dibantu oleh alat motor
  • Nyala (sumber nyala) yang menggunakan bahan bakar / oksigen (campuran bahan bakar dan oksigen) dan sekarang sudah modern bisa menggunakan listrik sebagai sumber nyala.
  • Monokromator
  • Detektor
  • Penguat arus
  • Pencatat

Berikut ini penjelasan singkat dari bagian-bagian spektrofotometer Serapan Atom (AAS) diatas.

Sumber Radiasi

Karena prinsip daripada alat spektrofotometri ini adalah adanya radiasi elektromagnetik maka sumber radiasi ini perlu menjadi pembahasan tersendiri.

Beberapa alat spektrometer AAS menggunakan lampu tertentu, contohnya : lampu Wolfram yang menghasilkan radiasi sinambung. Namun kekurangan dari lampu ini adalah intensitas yang sangat kecil.

Sehingga diciptakan lampu katoda, dimana sudah disebutkan diatas bahwa lampu katoda khusus untuk mendeteksi logam tertentu. Jadi misalnya lampu katodanya adalah menganalisis logam berat merkuri maka lampu katoda yang digunakan adalah merkuri, dan misalnya kita mau menganalisis kadmium maka harus ganti lampu katoda yang komponennya mengandung kadmium dan begitu pula yang lain-lainnya.

Sumber radiasi yang lain adalah tabung awam muatan gas. Meskipun demikian yang paling lazim kita gunakan dalam analisis menggunakan spektrofotometer serapan atom itu adalah lampu katoda.

Lampu katoda berupa tabung logam yang diisi gas mulia (neon / argon) dan juga dicampur dengan unsur-unsur logam yang sesuai dengan unsur yang akan kita analisis.

Salah satu kelemahan dari pada lampu katoda berongga ini adalah satu lampu hanya untuk satu unsur. jadi kita harus sering mengganti lampu sesuai dengan logam yang kita analisis.

Namun seiring dengan perkembangan zaman ternyata sudah diciptakan satu lampu katoda untuk beberapa senyawa atau logam yang akan dianalisis dengan cara mengkombinasikankan beberapa lampu katoda dalam satu komponen lampu. Tentunya ini akan lebih memudahkan bagi peneliti untuk melakukan analisis logam secara multikomponen.

lampu katoda spektrometer AAS

Monokromator

Sama dengan alat spektrofotmeter UV Vis, Pada alat spektro AAS monokromator yang digunakan harus mampu memberikan resolusi.

Alat pembakar

Ada dua macam alat pembakar spektrofotometer serapan atom (SSA) yaitu bisa bercelah panjang ataupun ada yang sempit. Bercelah panjang dan alat pembakar bercelah pra campur. Alat pembakar sudah ada yang menggunakan nyala api namun ada juga yang menggunakan aliran listrik.

Gas pembakar merupakan kombinasi gas pembakar dan pengoksidasi dengan tujuannya adalah untuk menaikkan temperatur agar sampel betul-betul terdisosiasi secara sempurna dan menghasilkan logam bebas yang siap untuk menyerap radiasi elektromagnetik alat.

Detektor

Detektor untuk mengubah intensitas radiasi yang datang menjadi arus listrik dan detektor yang umum dipakai adalah PMT (Photo Multiplier Tube Detector)

Read out

Merupakan alat petunjuk yang berfungsi untuk mencatat hasil pembacaan yang dapat berupa angka ataupun kurva yang menggambarkan absorban.

Kalibrasi Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)

kalibrasi spektrofotometer serapan atom aas

Secara prinsip Kalibrasi Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) dilakukan dengan menggunakan larutan standar yang diketahui konsentrasi analitnya selain itu penentuan kepekaan serta presisi pengukuran dan kalibrasi alat AAS dilakukan pada setiap analisisnya.

Step pengerjaannya hampir sama ketika unit alat tersebut dikualifikasi pada saat awal instalasi dari supplier. Sehingga disarankan kalibrasi AAS dilakukan oleh supplier / distribusi resmi alat bersangkutan atau menggunakan layanan kalibrasi yang sudah teman-teman percayai.

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegiatan penimbangan, pengambilan bahan kimia, pelarutan merupakan suatu hal yang umum dilakukan di laboratorium kimia. Dan tentunya untuk melakukan kegiatan tersebut kita membutuhkan alat-alat laboratorium, salah satunya adalah spatula laboratorium.

Spatula laboratorium, atau terkadang sebagain orang menyebutnya dengan spatula kimia merupakan salah satu alat laboratorium yang mempunyai peranan sangat penting dalam analisis kimia. Bentuk dari alat ini seperti sendok kecil, pipih, dan bertangkai dengan tepi atas datar.

Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegunaan spatula laboratorium secara umum adalah untuk mengambil obyek / bahan kimia yang bersifat padat (serbuk) serta seringkali digunakan untuk mengaduk pada proses pembuatan larutan kimia. Beberapa aplikasi dari penggunaan spatula misalnya :

  • Pada saat penimbangan sampel untuk analisa kadar air
  • Pengadukan dalam proses pelarutan
  • Memindahkan / mendistribusikan reagen kimia dari satu tempat ke tempat yang lainnya
  • dll.

Spatula secara umum dapat kita temukan dari bahan kayu, alumunium, dan stainless stell, dimana penentuan bahan spatula tersebut tentunya berdasarkan aplikasi penggunaan spatula tersebut di laboratorium, misalnya jika penggunaan spatula diaplikasikan untuk mengambil bahan kimia yang mempunyai sifat bereaksi dengan alumunium, maka spatula dari bahan stainless stell dan kayu sebaiknya dipertimbangkan.

Spatula kimia juga dapat kita temukan dalam berbagai ukuran yang bisa teman-teman pilih sesuai dengan penggunaanya, misalnya spatula tersebut akan kita gunakan untuk pembuatan larutan standar dimana bahan kimia yang ingin kita ambil hanya dalam ukuran 1 – 3 gram, maka spatula yang berukuran kecil dirasa sudah cukup.

Jenis dan Bahan Spatula

Untuk mempermudah pemahaman mengenai bahan dan macam-macam bentuk dari spatula ini, kita akan mengambil contoh spatula brand AS ONE sebagai referensi.

Secara umum, spatula laboratorium berdasarkan kegunaannya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Spatula Stainless Stell

Sesuai dengan namanya, spatula ini terbuat dari stainless stell yang mempunyai sifat tahan karat. Karena berbahan stainless stell maka spatula ini mempunyai keunggulan yaitu mudah dibersihkan dan disimpan. Spatula jenis ini banyak digunakan untuk mengambil objek yang sangat kecil yang telah melalui proses pengirisan dan disiapkan untuk penelitian melalui mikroskop.

Spatula stainless stell ini juga terdiri dari berbagai macam model, antara lain sebagai berikut :

Fluorine Coating Spoons

spatula stainless stell

Jenis spatula stainless stell ini dilapisi fluorine di seluruh permukaannya sehingga memiliki ketahanan terhadap bahan kimia yang sangat bagus. Material dasar stainless stell yang digunakan adalah jenis stainless stell SUS 410.

Spatula jenis ini bisa kita temukan dari ukuran :

  • 150 cm
  • 180 cm
  • 210 cm
  • 240 cm
  • 300 mm.

Floorine Coating Micro Spatulas

Floorine Coating Micro Spatulas

Spatula jenis ini mirip dengan spatula yang pertama, yaitu berbahan stainless stell (SUS 304) yang dilapisi fluoresin, perbedaannya hanya di dalam ukurannya saja. Sesuai dengan namanya micro spatula, maka spatula ini digunakan untuk mengambil sampel dengan ukuran yang sedikit. Beberapa ukuran dari spatula ini adalah :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Micro Spatulas Laboran Package

Micro Spatulas Laboran Package

Jika kedua spatula sebelumnya terbuat dari stainless stell yang dilapis dengan fluorine, untuk spatula jenis ini merupakan spatula stainless stell (SUS 304) tanpa dilapisi fluorine.

Terdapat beberapa model dari spatula jenis ini yaitu :

  • Model Flat dengan ukuran 180 mm
  • Round Thin dengan pilihan ukuran
    • 150 cm
    • 180 cm
    • 210 cm
    • 240 cm
    • 300 mm.
  • Round Thick dengan ukuran 180 mm

Dimana perbedaan untuk ketiga model tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Disebut laboran package karena dalam pembeliannya kita biasanya mendapatkan 1 paket yang berisi 3 model diatas. 3 Model tersebut.

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Umumnya spatula yang kita temukan di laboratorium dengan bentuk di bagian ujung satunya seperti sendok, namun di ujung lainnya rata. Nah untuk spatula jenis ini di kedua ujungnya rata seperti tampilan pada gambar diatas.

Ada 2 macam bahan yang digunakan dalam spatula ini, yaitu :

  • Stainless Stell SUS 410 untuk spatula dengan ukuran 15 x 150 mm ; 15 x 180 mm
  • Stainless Stell SUS 430 untuk spatula dengan ukuran 18 x 210 mm ; 18 x 240 mm;.  18 x 300 mm

Spatula Runcing

Spatula Runcing
Jika umumnya kita mengenal fungsi spatula di area laboratorium ataupun untuk keperluan memasak, spatula jenis ini dapat digunakan untuk memperbaiki atau memproses ulang papan sirkuit listrik misalnya : motherboard PC, komponen-komponen elektrikal perangkat elektronik, untuk pemeriksaan setelah penyolderan, dan untuk pemeriksaan mesin.. Untuk mendukung kegunaaan spatula ini, maka bahan yang digunakan adalah stainless stell AISI 410. Ukuran dari spatula ini berdasarkan urutan pada gambar diatas adalah :

  • 180 mm
  • 175 mm
  • 165 mm
  • 180 mm

Micro Spatula

Micro Spatula

Mempunyai panjang 200 mm dengan dimensi blade 51 x 7 mm dengan ketebalan 0.5 mm. Steam diameter 2.5 mm dan terbuat dari material stainless stell SUS 304. Harga katalog dari spatula jenis ini berkisar antara Rp. 80.000,-

Micro Spatula Hayman Style

Micro Spatula Hayman Style

Spatula ini terbuat dari bahan stainless stell SUS 304, terdapat 2 pilihan ukuran, yaitu :

  • Ukuran spatula : 45 x 3 mm dan ukuran spoon 13 x 2.5 mm
  • Ukuran spatula : 38 x 5 mm dan ukuran spoon 15 x 3 mm

Spatula Chemi Scraper

Spatula Chemi Scraper

Spatula ini rata di bagian ujung satunya, dan bulat di ujung lainnya seperti tampilan gambar diatas. Dibandingkan dengan spatula jenis lainnya, model ini mempunyai dimensi yang lebih panjang yaitu Lebar x Panjang :

  • 8 mm x 175 mm
  • 20 mm x 305 mm
  • 20 mm x 460 mm

Spatula Nikel

spatula nikel

Spatula yang terbuat dari bahan nikel dan banyak digunakan di laboratorium untuk mengambil bahan kimia serbuk / padat. Spatula ini juga dapat digunakan untuk mengaduk larutan kimia, kecuali yang bersifat asam. Spatula ini mempunyai keunggulan dimana dapat digunakan pada suhu yang relatif tinggi, mudah dilakukan sterilisasi, serta bersifat inner atau tahan terhadap bahan kimia.

Spatula Politena

Disebut juga sebagai spatula tanduk, terbuat dari bahan plastik seperti polipropilene sehingga mempunyai keunggulan dalam hal reaktifitas karena seperti kita ketahui bahan plastik umumnya tidak bereaksi terhadap bahan kimia. Kegunaan spatula ini juga sama dengan spatula lainnyayaitu digunakan untuk mengambil bahan kimia yang berbentuk padat.

Micro Spatulas PE Polyethylene

Micro Spatulas PE Polyethylene

Merupakan spatula mikro yang terbuat dari bahan PE Polyethylene. Ada 2 pilihan ukuran panjang untuk spatula jenis ini, yaitu 150 mm dan 180 mm.

Micro Spatula Fluororesin

micro spatula pctfe

Micro spatula yang terbuat dari bahan PCTFE (fluororesin) dimana terdapat 3 pilihan ukuran yaitu :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Heat Resistance Spatula

Heat Resistance Spatula

Terbuat dari material PPS (polypherylene sulfide) dan mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai suhu 240 °C.

Tersedia dalam ukuran 125 mm x 262 mm.

Silicon Spatulas With SUS Handle

Silicon Spatulas With SUS Handle

Spatula dengan bahan karet silikon dan stainless stell pada pegangannya ini mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai dengan suhu 220 °C serta tahan terhadap dingin sampai dengan -50 °C, sehingga aplikasinya sangat luas.

Berapa Harga Spatula Kimia?

Jika berbicara mengenai harga spatula laboratorium, tentunya tergantung dari model dan ukurannya. Karena pada contoh gambar-gambar spatula diatas kita menggunakan AS ONE, maka kita bisa melihat harga spatula tersebut di katalognya secara langsung.

Berikut ini adalah tahapannya :

katalog as one

  • Ketik “SPATULA” di kolom search sehingga display menunjukkan tampilan seperti pada gambar berikut :

harga spatula laboratorium di indonesia

  • Klik salah satu model yang ingin dilihat harganya sehingga tampilan menunjukkan gambar seperti berikut :

harga spatula as one

  • Harga spatula kimia akan tertera dalam mata uang yen seperti tampilan gambar diatas.

Semoga bermanfaat

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Dalam laboratorium kimia, tentunya banyak analisa yang harus kita lakukan, baik itu analisa yang sederhana, misalnya : pelarutan, titrasi, dll sampai dengan yang komplek, misalnya : analisa kadar logam dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS), dll.

Salah satu analisa yang umum kita temukan di laboratorium adalah analisa kadar abu. Pada artikel kali ini kita akan membahas peralatan utama yang digunakan untuk analisa kadar abu tersebut, yaitu furnace laboratorium baik dari pengertian,  fungsi, cara penggunaan, kualifikasi pada saat pertama kali unit tersebut kita terima, sampai dengan metode kalibrasi furnace yang umumnya digunakan oleh laboratorium kalibrasi.

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium

Furnace adalah salah satu alat laboratorium yang digunakan untuk pemanasan hingga suhu tinggi sehingga sampel terbakar dan berubah menjadi abu. Sebagian dari kita menyebut alat ini dengan nama tungku pembakaran.

Seperti yang telah disebutkan diatas, fungsi furnace di laboratorium kimia adalah banyak digunakan untuk analisa kadar abu suatu sampel. Selain itu furnace juga banyak digunakan pada proses destruksi dan untuk mengetahui jumlah sampel yang bersifat volatil (tidak mudah menguap) serta tidak mudah terbakar.

Mengenal Tombol Panel Furnace

pengertian furnace adalah

Furnace mempunyai ukuran chamber yang berbeda-beda tergantung pada tipenya, ada yang berukuran 6 Liter, 9 Liter, dll. Bagian-bagian furnace secara umum hampir mirip dengan oven / inkubator laboratorium, dimana terdapat chamber / ruangan sebagai tempat sampel dan bagian depan terdapat tombol panel.

Seiring dengan perkembangan teknologi, furnace pun juga mengalami perkembangan dari sisi tombol panelnya, antara lain adanya menu program yang bisa kita simpan sehingga pada saat penggunaan kita hanya menekan tombol angka sesuai dengan yang program yang pernah kita simpan. Hal ini tentunya semakin mempermudah penggunaan dan dapat menghindari kesalahan seting / pengaturan pada saat analisa sampel di laboratorium.

Mengenal Tombol Panel Furnace

Tombol panel dan video cara seting dibawah diambil dari salah satu brand furnace yaitu neytech vulcan.

cara menggunakan furnace atau tanur

 

  1. °C / °F Untuk merubah temperature dari °C ke °F dan sebaliknya.
  2. LCD Display, menampilkan program, count down time, dan nomor program.
  3. Tombol Rate, Tekan satu kali untuk R1, dua kali untuk R2, dan tiga kali untuk R3.
  4. Tombol ESC (Escape), untuk membatalkan parameter program atau kembali ke ke “current condition display”
  5. Tombol “Green Start”, untuk menjalankan program.
  6. Tombol “Red Stop”, untuk membatalkan program jika sudah terlanjur dijalankan.
  7. Delay start, jika diaktifkan maka furnace dapat menyala pada waktu yang telah diseting sebelumnhya.
  8. Program Parameter LEDs, mengindikasikan parameter mana yang diaktifkan.
  9. Tombol Hold, tekan satu kali untuk H1 (Hold 1), tekan dua kali untuk H2 (Hold 2), dan tekan tiga kali untuk H3 (Hold 3).
  10. Tombol Temperature, Tekan satu kali untuk T1 (Temp 1), tekan dua kali untuk T2 (Temp 2), Tekan tiga kali untuk T3 (Temp 3).
  11. Tombol Digit, untuk mengganti program dan menyimpan parameter program yang baru.
  12. Tombol Enter, Untuk menyimpan program dan parameter program.

Berikut ini adalah video mengenai cara seting dari furnace

Kualifikasi Furnace

Seperti umumnya alat laboratorium yang baru dibeli, tentunya kita harus melakukan kualifikasi furnace ketika unit tersebut kita terima. Berikut ini adalah contoh dokumen kualifikasi dan beberapa point yang perlu dilakukan pengecekan ketika kita melakukan Installation Qualification dan Operational Qualification dari furnace tersebut.

Kualifikasi Instalasi Furnace

Ketika barang datang, maka pastikan untuk melakukan pengecekan point-point berikut :

  • Apakah kemasan (packaging) dalam kondisi baik dan tidak mengalami kerusakan?
  • Apakah ada device external yang mengalami kerusakan?
  • Apakah tray termasuk dalam paket pembelian?
  • Apakah tersedia buka petunjuk pengoperasian / manual book?
  • Apakah sumber arus listrik mempunyai voltase sesuai dengan persyaratan alat furnace (misalnya : 100 – 120 atau 200 – 240 V, 50/60 Hz.
  • Apakah kondisi lingkungan antara temperatur ruang + 5 s/d 40 dan kelembaban udara maksimum 80 % RH?

Kualifikasi Operasional Furnace

Kualifikasi Operasional Furnace bertujuan untuk menjamin / melakukan pengujian terhadap fungsi fitur yang ada di dalam furnace tersebut. Secara rinci kualifikasi operasional ini bertujuan untuk memastikan :

  • Apakah semua fungsi tombol dan alarm berfungsi dengan baik ?
  • Apakah semua kontrol dan program berfungsi dengan baik ?
  • Apakah distribusi suhu di dalam ruangan furnace memenuhi persyaratan yang ditentukan ?

Berikut ini adalah point-point yang harus diverifikasi ketika kualifikasi furnace.

  • Apakah kabel daya tersambung dengan benar?
  • Tekan saklar utama ke posisi ON. Apakah suhu, waktu dan tampilan program muncul?
  • Tekan tombol C/F, apakah unit suhu berubah ke satuan yang lain?
  • Jika furnace tersebut mempunyai fitur program, maka lakukan pengecekan sebagai berikut :
  • Tekan tombol pengatur suhu, apakah program T1, T2, T3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol Ramp, apakah program R1, R2, R3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol hold, apakah program H1, H2, H3 berkedip pada tampilan LED?
  • Apakah temperature naik seiring dengan berjalannya waktu pada saat furnace di jalankan?
  • Apakah temperature mencapai sesuai dengan seting point dengan spesifikasi yang telah ditetapkan? (misalnya : seting point 100 °C mempunyai toleransi ± 5 °C, maka pada saat kita seting furnace tersebut pada 100 °C, display harus menunjukkan 100 °C ± 5 °C)
  • Lakukan verifikasi pada beberapa titik temperature, misalnya 300 °C; 500 °C; dan 700 °C dengan menggunakan standar termokopel tipe K yang sudah terkalibrasi. Apakah hasilnya memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan?

Kalibrasi Furnace

kalibrasi furnace

Untuk menghasilkan hasil analisa yang akurat, tentunya harus didukung dengan peralatan yang akurat juga, sehingga kalibrasi furnace sebaiknya dilakukan pada interval tertentu (misalnya : 1 tahun sekali) untuk mengetahui nilai koreksi serta ketidakpastiannya.

Metode kalibrasi furnace yang seringkali digunakan adalah AS 2853—1986. Australian Standard. Enclosures—. Temperature-controlled—. Performance testing and grading. Dengan standar yang digunakan thermocouple.

Untuk spesifikasi toleransi kalibrasi furnace biasanya tertuang di dalam manual book alat bersangkutan, misalnya akurasi temperature = ± 5 °C dengan keseragaman temperature = ± 8 °C

Prosedur Perawatan Furnace Laboratorium

  1. Jangan pernah mengoperasikan furnace di dekat bahan yang mudah terbakar atau menempatkan bahan yang mudah terbakar tersebut di atas furnace.
  2. Ketika membersahkan unit alat furnace, jangan menggunakan pelarut atau cairan pembersih pada panel kontrol. Pelarut tersebut akan memasuki panel dan dapat merusaknya.
  3. Jangan meletakkan benda panas lainnya langsung di depan furnace.
  4. Selalu kenakan sarung tangan tahan panas ketika menggunakan furnace.
  5. Furnace harus diletakkan paling tidak dengan jarak 15 cm dari dinding.

Trouble Shooting Furnace

Semakin bertambahnya usia furnace, terkadang kita menemukan beberapa masalah pada saat penggunaanya. Berikut ini adalah beberapa contoh trouble shooting masalah yang ada di furnace.

  • Alat mati total dan tidak dapat beroperasi

Periksa stop kontak dan kabel power, pastikan saklar hijau pada alat dalam posisi ON.

  • Alat tidak panas selama pengoperasian.

Apakah saklar daya warna hijau menyala saat tombol start ditekan?

    1. Jika ya >> Periksa sekering pada pengontrol PCB dan periksa Periksa elemen pemanas.
    2. Jika tidak >> Apakah pintu benar-benar tertutup? Saklar pintu mungkin menjadi daya interupsi.
  • Pemanasan berjalan lambat

Lakukan pengecekan pada program pada bagian rate.

Untuk masalah-masalah yang bersifat umum, biasanya solusinya bisa kita temukan di manual book / petunjuk pengoperasian, namun untuk beberapa masalah lain sebaiknya kita menghubungi supplier alat bersangkutan untuk melakukan perbaikan atau juga bisa menggunakan jasa service alat laboratorium yang teman-teman kenal.

Semoga bermanfaat.