Termometer Raksa, klinis dan Alkohol : Apa Kelebihan dan Kekurangannya?

cara kerja termometer gelasPengukuran suhu di berbagai bidang sangat diperlukan karena parameter ini mempengaruhi kualitas / hasil analisa yang kita lakukan, contoh :

  • Pengukuran suhu sampel di laboratorium dimana sampel tersebut akan mengalami perubahan bentuk / sifat pada suhu tertentu,
  • Pengukuran suhu larutan standar untuk kalibrasi dimana nilai dari larutan standar tersebut juga bervariasi berdasarkan dengan kondisi suhu pengukuran (hal ini banyak kita temukan pada larutan standar conductivity meter, ph meter, refractometer, dll),
  • Pengukuran suhu di area gudang bahan baku dimana suhu penyimpanan bahan tersebut berdasarkan MSDS (Material Safety Data Sheet) harus disimpan pada suhu tertentu untuk tetap menjaga kualitas bahan, dll.

Banyak alat yang digunakan untuk mengukur suhu ini, dari yang canggih dimana hasil pengukuran suhu sudah terkoneksi dengan sistem di android dimana ketika suhu diluar spesifikasi (Out of Specs) maka akan mengirimkan pesan / SMS ke smartphone kita secara otomatis sampai ke alat pengukur suhu yang sederhana, misalnya : termometer digital, termohigrometer, datalogger thermohygrometer, sampai ke termomter gelas dan termometer kayu. Pada artikel ini kita akan belajar mengenai termometer raksa, klinis, dan alkohol yang merupakan bagian dari termomter gelas.

Termometer Gelas merupakan alat ukur temperature berupa tabung kaca berongga yang tertutup dan berisi cairan tertentu, ditinjau dari bagian-bagiannya, paling tidak ada 3 bagian utama dari termometer ini yaitu :

bagian termometer raksa, klinis, alkohol

1. Bulb

Merupakan tabung gelas tipis yang terdapat pada bagian bawah termometer dimana bagian ini sangatlah sensitif terhadap perubahan suhu.

2. Cairan

Dapat berupa etanol, pentana, dan yang paling lazim adalah merkuri / raksa.

3. Steem

Merupakan lubang kaliper dimana tempat cairan akan memuai jika temperature meningkat.

4. Markings

Atau yang disebut dengan skala

Termometer alkohol vs Termometer Raksa vs Termometer Klinis

Temometer alkohol merupakan termometer yang menggunakan alkohol sebagai media pengukur.

Kelebihan Termometer Alkohol

  • Alkohol lebih murah dibandingkan dengan raksa
  • Alkohol lebih teliti karena kenaikann suhu yang stabil, alkohol mengalami perubahan volume yang besar.
  • Alkohol dapat mengukur suhu yang sangat dingin (misalnya suhu di daerah kutub), hal ini dikarenakan titik beku alkohol yang sangat rendah yaitu -112 derajat celsius.

Kekurangan Termometer Alkohol

  • Alkohol memiliki titik didih rendah
  • Alkohol tidak berwarna sehingga harus diberi warna terlebih dahulu agar mudah dilihat
  • Alkohol membasahi (melekat) padda dinding kaca.

Termometer Raksa merupakan termometer yang dibuat dari air raksa yang ditempatkan pada tabung kaca.

Kelebihan Termometer Raksa

  • Raksa mudah dilihat karena mengkilat
  • Volume raksa berubah secara teratur ketika terjadi perubahan suhu
  • Raksa tidak membasahi kaca ketika memuai atau menyusut.
  • Jangkauan suhu raksa cukup lebar dan sesuai untuk pekerjaan laboratorium (-40 derajat celsius s/d 350 derajat celsius)
  • Raksa dapat terpanasi secara merata sehingga menunjukkan suhu cepat dan tepat

Kekurangan Termometer Raksa

  • Raksa harganya relatif mahal
  • Raksa tidak dapat digunakan untuk mengukur suhu yang sangat rendah (misalnya : suhu di kutub)
  • Raksa termasuk zat berbahaya (sering digunakan “air keras”) sehingga termometer raksa berbahaya jika tabungnya pecah.

Termometer ini banyak digunakan karena berbagai pertimbangan seperti, harganya yang murah, dapat langsung digunakan atau tidak memerlukan adanya alat bantu, tidak terpengaruh dengan inferferensi tegangan listrik, konduktivitas yang rendah, dll. Namun dibalik beberapa keuntungan tersebut termometer gelas ini juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu mudah pencah, merkuri juga dapat mengkontaminasi, pada saat pengukuran / pengambilan data ada kemungkinan timbul kesalahan paralak, dan masalah yang paling unik adalah ketika kita ingin melakukan kalibrasi ulang terhadap alat ini, harga kalibrasi terkadang lebih mahal dibandingkan dengan harga unit alatnya, dan ini terkadang menjadi pertanyaan atasan kita.

Termometer klinis

termometer klinis

Termometer yang hampir pasti ada di klinik, rumah sakit, dan laboratorium kesehatan lainnya. Termometer klinis ini menggunakan air raksa sebagai media pengukurnya, dibandingkan dua termometer sebelumnya, termometer ini lebih pendek karena cara penggunannya juga dikempit dengan bagian ketiak tubuh kita. Sesuai dengan namanya termometer ini digunakan untuk mengukur seberapa tinggi suhu tubuh kita.

Cara Menggunakan Termomter Klinis

Sebelum menggunakan termometer klinis ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :

  • Jangan mengukur suhu tubuh dengan termometer klinis pada waktu selesai olah raga. Paling tidak kita harus memberikan jeda waktu 20 – 30 menit. Hal ini dikarenakan setelah olah raga tubuh kita akan mengeluarkan panas.
  • Jangan mengukur suhu tubuh dengan termometer klinis setelah kita mandi pakai air hangat, merokok, makan / minum dari makanan / minuman yang disajikan secara hangat karena hal ini juga akan mempengeruhi suhu tubuh kita. Sebelum melakukan pengukuran, berilah jeda 20 – 30 menit.
  • Sebelum melakukan pengukuran suhu tubuh, pastikan kondisi ketiak kering, jika tidak, keringkan dengan menggunakan tissue terlebih dahulu, dan pastikan juga suhu termometer klinis tersebut dibawah 35 derajat celsius, cara menurunkan suhu termometer klinis tersebut adalah dengan cara menkibas-kibaskan.

Berikut adalah cara menggunakan termometer klinis :

  1. Pastikan kondisi termometer klinis sebelum digunakan dalam keadaan bersih.
  2. Kempit termometer dengan ketiak sebelah kiri
  3. Tempelkan telapak tangan kiri ke bagian dada sebelah kanan supaya termometer tidak bergerak dan tunggu selama 3 – 5 menit.
  4. Baca hasil pengukuran (misal hasilnya 36.7 derajat celsius)
  5. Bersihkan termometer klinis tersebut.
  6. Turunkan suhu termometer klinis dengan hati-hati karena di dalam termometer tersebut ada air raksa yang berbahaya yang mungkin bisa menyebabkan iritasi pada kulit kita ketika termometer tersebut pecah.

Termometer Kayu

termometer kayu

Hampir sama dengan termometer sebelumnya, namun untuk termometer jenis ini biasanya digunakan untuk mesin penetas telur / inkubator meskipun terkadang masih kita temui diindustri untuk mengukur suhu ruangan. Meskipun saat ini sudah banyak sekali termometer jenis digital, namuan para petani / penetas telur lebih suka jika termometer kayu inilah yang digunakan.

Cara Menggunakan Termometer Raksa dan Alkohol

Ketika kita membeli termometer gelas, maka biasanya alat tersebut sudah ditempatkan didalam silinder plastik yang berfungsi untuk melindungi dari kerusakan / pecah. Berikut ini contoh penggunaan termometer tersebut untuk mengukur suhu air.

  1. Keluarkan termometer dari tempatnya (silinder plastik), supaya tidak mempengaruhi hasil pengukuran peganglah termometer pada tali yang terikat di bagian ujung termometer. Tidak diperbolehkan memegang termometer pada bagian-bagiannya apalagi di bagian ujungnya karena bagian ini sangat sensitif sekali terhadap perubahan suhu.
  2. Tuang air yang akan diukur suhunya ke dalam beaker gelas.
  3. Sebelum termometer kita masukkan ke dalam larutan, maka kita lihat terlebih dahulu suhu awalnya (misalnya : suhu awal adalah 34 derajat celsius)
  4. Masukkan termometer ke dalam cairan selama beberapa saat. Pastikan bagian ujung termometer tidak menyentuh bagian dasar dari beaker gelas.
  5. Baca suhu pada skala termometer.
  6. Jika sudah selesai bersihkan termometer dengan menggunakan tisue.
  7. Simpan termometer kewadah plastiknya.

Hasil Pembacaan Termometer Gelas

Secara umum, hasil dari pengukuran tesebut dirumuskan sebagai :

X = (X ± ΔX) Satuan

Karena yang kita ukur suhu maka persamaannya menjadi (misal : hasil pengukurannya 25 °C)

T = (25 ± ΔT)

Dimana :

ΔT = 1/2 x SPT

SPT = Skala pengukuran terkecil

dimana

SPT = Selisih / Interval = 10 / 10 = 1

Sehingga

ΔT = 1/2 x 1 = 0.5

Sehingga hasil pengukuran 25 +- 0.5

Nilai 0.5 ini merupakan nilai ketidakpastian pengukuran.

Apakah Termometer Gelas Anda Rusak?

Berikut ini adalah gejala-gejala dimana termometer gelas kita mengalami kerusakan dan harus benar kita perhatikan :

1. Merkuri putus

2. Adanya benda asing di rongga kaliper

3. Kerusakan pada kaliper

Untuk menghindari adanya kerusakan tersebut maka disarankan pada saat penyimpanan kita menhindari hal-hal berikut ini :

1. Masukkan termometer gelas ke dalam tempatnya yang menyerupai pipa plastik, hal ini untuk menghindari benturan dengan benda lain yang mungkin menyebabkan pecah atau patah.

2. Letakkan pada posisi honrizontal dan hindari bebar dan tekanan pada bulb.

3. Hindari getaran dan cegah supaya tidak menggelinding.

4. Untuk termometer organik, cegah adanya paparan dari sumber cahaya yang menyebabkan kualitas cairan menurun

Kalibrasi Termometer Raksa, Klinis, Alkohol

Seperti yang telah disampaikan diatas, dimana terkadang biaya kalibrasi termometer gelas ini lebih mahal dibandingkan dengan harga unitnya, namun untuk tetap menjaga hasil pengukuran yang kita lakukan akurat, maka kegiatan kalibrasi ini harus tetap dilakukan.

Referensi / metode yang biasa digunakan untuk kalibrasi termometer gelas ini adalah ASTM E 77-99

Sumber gambar :

www.qualitylogoproducts.com/blog/how-to-use-theromometer/

Dwyer Magnehelic Gauge : Alat Pengukur Perbedaan Ruangan

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai perbedaan tekanan udara pada ruang di industri Farmasi serta magnehelic gauge sebagai alat ukur yang digunakan untuk pemantauan perbedaan ruangan tersebut. Seperti kita ketahui, perbedaan tekanan ruangan ini disebabkan karena adanya sistem HVAC yang menyuplai udara bersih dalam ruangan.

Tujuan dari adanya perbedaan tekanan ini tentunya untuk pencegahan kontaminasi silang yang perlu dihindari karena akan berpengaruh terhadap kualitas dan keamanan produk yang diproduksi. Dengan adanya perbedaan tekanan, kita akan mencegah serbuk atau kotoran berpindah antar ruang atau dengan kata lain, dengan tidak adanya partikel yang saling berpindah maka resiko kontaminasi dapat diminimalkan karena seperti kita ketahui kontaminasi ini bisa bersumber dari produknya sendiri baik antar bets atau antar produk, peralatan yang digunakan untuk produksi, ataupun dari personel sehingga ruangan dalam industri farmasi perlu didesain sehingga tidak terjadi kontaminasi silang.

Prinsip dari perbedaan ruangan ini adalah udara akan mengalir dari ruangan yang mempunyai tekanan udara tinggi ke ruangan yang mempunyai tekanan rendah. Nah untuk mengukur perbedaan tekanan inilah diperlukan magnehelic gauge sebagaai alat ukurnya.

Berikut Beberapa Pengaturan Tekanan Udara pada Ruang Industri Farmasi

 

Pengaturan Tekanan Pada sediaan Solid Non Betalaktam (Tablet atau kapsul nonsteril)

PERBEDAAN TEKANAN INDUSTRI FARMASI
Prinsip yang digunakan pada desain ruangan sediaan ini adalah clean koridor (koridor bersih), dimana tekanan pada koridor lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan pada ruang proses sehingga kotoran dari ruang proses tidak akan masuk ke koridor.

Mungkin teman-teman bertanya, bagaimana kalau ada kotoran dari luar masuk ke koridor sehingga akan mencemari ruangan proses?

Kotoran dari lingkungan luar dicegah masuk kedalam ruangan proses karena tekanan di ruang proses secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan tekanan lingkungan luar sehingga kotoran tidak akan masuk ke ruang proses. Terdapat beberapa ruangan produksi, misalnya : ruang granulasi basah, ruang pengemasan primer, ruang pencetakan tablet.

Dimana di ruang granulasi terjadi pencampuran antara serbuk dengan pelarut dalam mesin mixer atau mesin granulasi sehingga ada kemungkinan serbuk di ruang granulasi, namun dengan adanya tekanan koridor yang lebih tinggi dari ruang granulasi maka serbuk tadi tidak bisa berpindah ke dalam koridor untuk mencemari ruangan lainya. Selain itu juga terdapat ruangan penyangga yang berfungsi untuk mencegah masuknya serbuk tersebut, sedangkan untuk kotoran yang mungkin berasal dari personel tentunya telah dicegah dengan penggunaan APD / alat pelindung diri yang sesuai misalnya : baju operator, masker, dan lain-lain.

Dengan prinsip yang sama yaitu aliran udara dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, maka serbuk yang dihasilkan dari ruangan cetakan tablet tidak akan berpindah ke koridor karena tekanan koridor lebih tinggi daripada tekanan ruang cetakan tablet.

Pengaturan tekanan pada sediaan Liquid / Semisolid / Oral Liquid Non Betalaktam (Povidone-Iodine 10 %, salep krim kulit, atau obat batuk hitam cair)

PENGATURAN TEKANAN LUAR SEDIAN LIQUID
Prinsipnya adalah Dirty koridor dimana tekanan udara dalam ruang proses lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan udara ruang koridor sehingga kemungkinan kotoran masuk ke ruang proses menjadi lebih kecil. Pengaturan seperti ini dibuat karena sediaan Liquid / semisolid / oral Liquid produknya basah yang mempunyai karakter lebih rentan sehingga didesain dari awal sehingga kotoran tidak masuk keruang proses. Terlebih lagi jika parameter mutu produk Liquid dipersyaratkan harus bening sehingga adanya sedikit kotoran masuk ke cairan saja sudah bisa mempengaruhi mutu produk.

Pengaturan Tekanan pada Sediaan Solid Liquid / Semisolid / Oral Liquid Betalaktam

PERBEDAAN TEKANAN SEDIAN FARMASI

Prinsipnya adalah untuk sediaan antibiotik betalaktam harus dibuat dalam gedung terpisah sendiri dan tidak boleh satu gedung dengan misalnya : produk tablet konvensional. Di dalam gedung ini pengaturan tekanannya dirancang negatif relatif dari lingkungan luar sehingga debu atau serbuk betalaktam tidak keluar mencemari lingkungan atau ruangan lain.

Sedangkan untuk mencegah masuknya kotoran ke ruang produksi dicegah dengan adanya air lock dimana tekanan udara di air lock ini lebih rendah sehingga kotoran akan terkumpul di area ini kemudian disedot dan dikumpulkan sehingga dapat dibuang. Kotoran betalaktam harus ditampung dan dibuang secara khusus dan tidak boleh dibuang sembarangan. Namun harus ke pengolahan limbah yang kompeten.

Rekomendasi Sistem Tata Udara HVAC di Ruangan Steril

Berikut ini adalah tabel rekomendasi sistem tata udara untuk kelas kebersihan yang kami ambil dari website nya paka bambang priyambodo.

Oya sekedar info, jika teman-teman ingin belajar mengenai farmasi industri bisa langsung berkunjung ke youtube channelnya :

sistem tata udara di industri farmasi

Untuk sistem kelas kebersihan A maka bagian dari bangunan sesuai kelompok kegiatan dan tingkat kebersihannya yaitu dibawah aliran udara laminar air flow (LAF) dengan temperature 16 – 25 derajat celsius dan kelembaban nisbi 45 – 55 % RH dan kecepatan pertukaran udara 0,36 s/d 0,54 m/s.

kemudian untuk kelas B maka bagian dari bangunan sesuai kelompok kegiatan dan tingkat kebersihannya ruang steril, dengan temperature 16 – 25 derajat celsius dan kelembaban nisbi 45 – 55 % RH dan aliran udara turbulen dengan pertukaran udara minimal 20 x.

dst.

Perlu diperhatikan bahwa ruang bersebelahan dengan kelas kebersihan berbeda hendklah mempunyai perbedaan tekanan dalam mempunyai berkisar 10 – 15 Pascal sebagai nilai acuan.

Contoh : Perbedaan tekanan udara antara kelas A dan kelas B haruslah dibedakan sekitar 10-15 Pa karena perbedaan kelas. Sedangkan untuk kelas yang sama adalah sekitar 5 Pascal.

Kelas A :

  • Pengolahan dan pengisian aseptis
  • Pengisian salep mata, bubuk, dan suspense steril.

Kelas B :

  • Lingkungan latar belakang kelas A dan untuk pengolahan dan pengisian aseptis.

Kelas C :

  • Pembuatan larutan bila ada resiko
  • Pengisian produk non aseptis

Kelas D :

  • Pengolahan bahan higroskopis

Magnehelic Gauge – Alat Ukur Perbedaan Tekanan

Seperti yang telah disampaikan diatas, karena perbedaan tekanan ruangan ini merupakan suatu hal yang kritikal maka diperlukan pemantauan / pengukuran nilai dari besarnya perbedaan takanan antar ruangan tersebut. Salah satu alat yang bisa digunakan adalah dwyer differential pressure magnehelic gauge. Brand ini mempunyai banyak sekali model yang bisa teman-teman sesuaikan dengan kebutuhan.

Tabel berikut merupakan beberapa model dari unit tersebut untuk satuan tekanan pascal.

kapasitas differential magnehelic pressure gauge

Pada saat instalasi magnehelic pressure gauge ini pastikan lokasinya terbebas dari getaran dengan kondisi temperature tidak lebih dari 60 derajat celsius dan tidak terpapar langsung sinar matahari. Terkadang dalam instalasi memerlukan ukuran tubing yang akan panjang, hal ini tidak akan mempengaruhi dari akurasi unit tersebut, namun hanya respon pengukuran menjadi agak lama, dan ini tentunya bisa kita maklumi mengingat aliran udara di tubing tersebut juga menjadi agak lama.

Pada saat melakukan pembelian differential pressure magnehelic ini tentunya sudah disertakan dengan sertifikat kalibrasi, dimana unit ini dikalibrasi dalam kondisi vertikal, sehingga sangat disarankan pada saat instalasi unitnya juga dilakukan secara vertikal.

Kalibrasi Differential Pressure Gauge Magnehelic

Untuk tetap memastikan akurasi dari penunjukan unit magnehelic ini, maka sebaiknya dilakukan kalibrasi secara berkala. Kalibrasi bisa dilakukan secara internal jika kita memiliki personel yang sudah kompeten dan mendapatkan training kalibrasi dan memiliki alat ukur yang digunakan untuk standar kalibrasi. Prinsip kerja dari kalibrasi magnehelic ini adalah membandingkan penunjukkan magnehelic dengan standar ketika diberikan tekanan udara.

Berikut ini adalah link video yang kami ambil dari webiste nya additel dimana yang mendomentrasikan cara kalibrasi magnehelic gauge.

Setelah kegiatan kalibrasi differential pressure gauge magnehelic tersebut tentunya dilakukan pengolahan data untuk menghitung ketidakpastian bentangan dari hasil kalibrasi.

Namun jika teman-teman belum memiliki standar atau belum pernah mendapatkan training kalibrasi pressure, disarankan menggunakan laboratorium kalibrasi untuk melakukan kalibrasi magnehelic tersebut.

.

Sumber gambar dan Referensi  :

www.youtube.com/watch?v=sHyy3m1ls_g&t=404s

www.youtube.com/channel/UCTOFideve98ZZLNK722oLyA

www.farmasiindustri.com

Memahami Perbedaan Sanitasi dan Hygiene Dalam Industri Farmasi

sanitasi hygienePada artikel kali ini kita akan belajar mengenai sanitasi dan hygiene, apa pengertian dan bedanya dan kenapa kedua hal tersebut menjadi salah satu parameter penting dalam CPOB (cara pembuatan obat yang baik) atau bahkan di GMP (Good Manufacturing Practice). Kedua istilah ini tentunya juga sangat berkaitan erat bagi perusahaan yang bergerak di bidang pangan / farmasi, .

Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan pada kegiatannya kepada usaha-usaha kegiatan kesehatan lingkungan hidup manusia / upaya untuk melindungi kesehatan dengan cara membersihkan sampai ke mikroba-mikrobanya sedangkan hygiene adalah bagaimana cara orang memelihara dan melindungi diri agar tetap sehat / upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan.

Jadi hygiene itu lebih ke diri sendiri sedangkan sanitasi itu lebih pada peralatan atau bagaimana cara membersihkan alat-alat yang ada disekitar kita. Jika di dalam industri makanan kegiatan sanitasi tersebut dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa peralatan yang mereka gunakan memang sudah bersih dan terbebas dari mikroba.

Kenapa Sanitasi dan Hygiene ini penting ?

Sumber pencemaran terbesar dalam sebuah industri Farmasi adalah manusia / personalia, ketika kita bekerja di dalam industri farmasi terlebih yang memproduksi produk steril yang dibuat di ruangan kelas A atau kelas B dimana mikrobanya sangat terkontrol dengan jumlah tertentu dan di kelas A tersebut tidak ada sirkulasi manusia atau yang diperbolehkan hanya mesin saja. Hal ini menunjukkan bahwa kontaminan terbesar adalah manusia. Selain dari sisi personalia tersebut yang menjadi sumber pencemaran yang lain adalah Bangunan, Perlatan dan Perlengkapan, Bahan produksi, dan Lingkungan. Hal-hal tersebut tentunya harus kita perhatikan khususnya dari departemen Quality Assurance di suatu perusahaan untuk memastikan bahwa sumber-sumber pencemaran tersebut terkendali sehingga tidak berpengaruh / tidak mengurangi mutu suatu produk.

Faktor Personalia / Manusia

Bagaimana meminimalkan / menghilangkan kontaminasi yang bersumber dari manusia / personalia, berikut ni adalah diantaranya :

  • Seleksi pada saat penerimaan (interview), misalnya perlunya dikonfirmasi apakan calon karyawan tersebut mempunyai sakit / tidak, kebiasaan seperti apa, dll
  • Setiap karyawan baru dalam industri Farmasi harus diberikan pelatihan mengenai kebiasaan / sikap hygiene.
  • Dibuatkan aturan atau SOP terkait dengan pekerja, misalnya : karyawan harus mandi, tidak boleh berkuku panjang, seragam produksi harus diganti dalam interval 2 hari sekali, dll.
  • Pelatihan bekerja sesaui dengan prosedur tetap yang berlaku.
  • Karyawan diberikan pengawasan, teguran dan sanksi jika diperlukan.
  • Menggunakan pakaian pelindung sesuai dengan peruntukannya, Jadi pakaian yang dikenakan untuk ruangan kelas B, C, dan D merupakan Pakaiannya berbeda-beda dan jika berpindah dari ruangan satu ke yang lainnya yang lebih bersih tingkatannya maka pakaian sebelumnya tidak dilepas, Misal : kelas D mau masuk kelas C maka pakaian di kelas D tidak kita lepas namun kita double dengan pakaian kelas C.

Bagaimana Cara Higiene Perorangan

  • Setiap personel harus diinstruksikan supaya menggunakan sarana mencuci tangan sebelum memasuki daerah produksi. Tata cara mencuci tangan ini bisa kita tempelkan di setiap wastafel kamar mandi. Berikut ini adalah contoh poster dari cara mencuci tangan dengan benar.

cara mencuci tangan

  • Merokok, makan, minum, mengunyah, memelihara tanaman, menyimpan makanan minumam hanya diperbolehkan di area tertentu. Di dalam industri farmasi, biasanya mempunyai kantin yang tidak dalam satu area dengan area industrinya.
  • Dihindarkan persentuhan langsung antara tangan operator dengan bahan awal. Jadi untuk bersentuhan dengan bahan awal tersebut kita lakukan menggunakan alat, contohnya : alat sampling, dll.

Bahan Awal / Raw Material

Bahan awal ada dua macam yaitu Raw material (bahan baku) dan packaging material (bahan kemas)

Kedua bahan tersebut harus ditentukan spesifikasinya, jadi bahan awal tersebut harus memenuhi spesifikasi dengan melihat AQL (Acceptance Quality Limit / batas kualitas yang diperbolehkan).

Audit Supplier

Setiap ada bahan / packaging yang masuk dari pemasok, maka kita secara berkala harus melakukan audit terhadap pemasok tersebut supaya semuanya memenuhi kriteria dan kita harus melihat bahwa pemasok Kita tersebut juga melakukan sanitasi dan hygiene yang baik. Jangan sampai produk awal buruk kita terima sehingga berdampak pada produk akhir yang kita buat.

Prosedur Tetap (Protap) penanganan bahan awal harus dibuat dan pelaksanaannya harus konsisten dan ketat.

Mesin dan Peralatan

Kedua hal ini harus benar-benar kita perhatikan karena adanya resiko mixed up.

  • Bagian yang kontak dengan produk dibuat dari bahan khusus, biasanya menggunakan stainless steel Supaya mudah dibersihkan dan ketika kotoran masih ada maka akan mudah terlihat
  • Kualifikasi sebelum digunakan produksi
  • Buatkan prosedur operasional dan sanitas
  • Validasi prosedur sanitasi atau di dalam industri farmasi kita menyebutnya dengan validasi pembersihan.

Bangunan

  • Rancang bangun / design harus dilihat dari sisi konstruksi dan material, sistem drainasenya / sistem pemtusan yang sesuai.
  • Pencahayaan cukup dan tidak boleh ada mati yang lampu
  • Fasilitas untuk sanitasinya cukup
  • Program pembersihan / sanitasi serta pelaksanaan yang konsisten dan ketat
  • Penggunaan pestisida, desinfektan, dan bahan pembersih sesuai

Sanitasi Bangunan dan Fasilitas

  • Bangunan digunakan untuk pembuatan obat yang didesain dan dikonstruksi dengan tepat
  • Hendaknya tersedia dalam jumlah yang cukup sarana toilet dengan ventilasi yang baik
  • Disediakan sarana yang memadai untuk penyimpanan pakaian personil dan milik pribadinya ditempat yang tepat
  • Penyiapan penyimpanan dan konsumsi dibatasi di area khusus (kantin)
  • Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk
  • Rodentisida, insektisida, dan agen fumigasi dan bahan sanitasi tidak mencemari peralatan
  • Terdapat prosedur sanitasi juga harus dilaksanakan secara khusus dan diberikan pelatihan pada operatornya,
  • Metode pembersihan dengan cara vakuum atau cara basah lebih dianjurkan.

Tata Letak Ruangan

Alur barang dan alur orang itu tidak boleh sama. Ruangan untuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan daerah luar adalah penerimaan bahan awal, keluar masuk karyawan, pemakaian seragam kerja, mandi, cuci tangan, buang air kecil, penyerahan obat jadi untuk distribusi. Ruang produksi tidak menjadi lalu lintas orang dan barang, setiap ruang produksi harus bisa dicapai tanpa melalui ruangan produksi yang lain.

Konstruksi dan Material

  • Pertemuan antara langit-langit dengan dinding ; dinding dengan dinding ; dinding dengan lantai harus dibuat melengkung, menggunakan epoxy dan tidak ada sudut, semuanya menggunakan lengkungan.
  • Permukaan langit-langit, dinding dan lantai harus kedap, tidak melepas / menahan partikel, tahan terhadap bahan pembersih metode. Kondisi lingkungan tersebut harus kita kendalikan dengan :
    • Sistem pengendalian udara / HVAC
    • Sistem pengendalian air.
    • Sistem pengendalian udara / AHU
    • Sistem pengolahan air, dengan sistem pengolahan udara yang
HVAC (Heating Ventilation Air-Conditioning)

Dimana sistem pemanasan, sirkulasi udara, dan suhu sangat dikontrol di dalam sistem ini. laju alir udara, jumlah partikel, suhu dan kelembaban, kualifikasi peralatannya divalidasi prosesnya

Water Treatment atau pengaturan sistem pengairannya

Tujuan pemakaian airnya digunakan untuk apa, misalnya purified water (PW) digunakan untuk pencucian alat yang bersih yang kotor Kemudian validasi pembersihan ketika kita selesai memproduksi suatu obat. water for injection dimana air jenis ini merupakan air steril yang digunakan untuk mencampur obat-obatan.

Proses yang dipilih
Peralatan yang diperlukan
Loop systemnya
Kualifikasi dan Validasi / bagaimana penggunaan sistem air di industri Farmasi tersebut kualifikasinya baik dan valid.

Pembersihan dan Sanitasi Peralatan

Melakukan sebuah pencatatan baik pembersihan, sanitasi, sterilisasi, dan inspeksi sebelum penggunaan peralatan disimpan secara benar.

Screw Pitch Gauge Untuk Pengukuran Jarak Ulir Mur Baut

Di dalam industri manufacture / pabrikasi, tentunya tidak dapat dilepaskan dengan yang namanya mur baut, kecil bentuknya namun fungsinya sangatlah penting, bahkan jika tidak tersedia pada saat perbaikan mesin / alat bisa menyebabkan terganggunya aktivitas perbaikan tersebut. Nah pada artikel ini kita akan mengulas mengenal jenis-jenis baut, bagian-bagiannya, serta fungsi screw pitch gauge yang biasa digunakan untuk melakukan pengukuran panjang ulir di dalam mur baut tersebut.

Baut adalah sebuah alat yang digunakan untuk menyambung 2 buah benda atau lebih, baut tersebut biasanya dilengkapi dengan mur, bentuk dari baut serta dimensinya tentunya bermacam-macam sesuai dengan penggunaannya. Bagian-bagian baut terdiri dari kepala baut, ulir baut / thread, dan body. Kepala baut, ulir / jumlah thread tentunya mempunyai ukuran serta jumlah sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Berikut ini adalah bagian-bagian baut yang perlu kita ketahui sebagai identifikasi.

bagian-bagian mur baut

  1. DIameter baut
  2. Panjang baut
  3. Panjang ulir
  4. Ukuran kepala baut
  5. Jarak antar ulir pada baut

Jenis-Jenis Baut Berdasarkan Bentuk Kepalanya

Baut Button L

baut button l

Bagian atas baut ini berbentuk melengkung agak cembung dan untuk penguncinya menggunakan sistem baut L / juga bisa kita pasang mengunakan kunci L ballpoint. Bentuk keseluruhan baut ini adalah bagian atasnya cembung dan bagian bawahnya datar untuk ulirnya ada yang standar inci adanya standar mm .

Baut set L

baut set L

Banyak orang menyebut baut jenis ini dengan baut dalam karena ujung kepalanya tidak ada dan berada di dalam untuk penguncinya, bentuk baut ini lurus hanya drat saja dan untuk penguncinya biasanya menggunakan kunci L yang masuk pada bagian ujung atas, Baut ini digunakan dengan tujuan agar permukaan yang disambung bisa datar karena tidak ada kepala bautnya

Baut CB

baut cb

baut CB di bagian kepala membentuk sebuah cembung atau melengkung ke bagian atasnya dan untuk bagian bawahnya datar, kemudian di bagian bawah kepala terdapat kotak persegi yang berfungsi sebagai pengunci, dan untuk dratnya seperti pada baut umumnya bisa kita temukan dalam standar mm ataupun inch.

Baut Hex

baut hex

Baut yang paling sering kita gunakan / sangat umum digunakan di industri otomotif, perkayuan, perbengkelan. Untuk drat atau ulirnya standard Kemudian untuk bagian atasnya berbentuk segi enam, untuk mengencangkannya bisa menggunakan kunci pas / kunci ring / kunci shock.

Baut JP

baut jp

Baut model JP ini juga sangat umum dan mudah jumpai di berbagai aplikasi, bagian ulir baut ini diameternya bervariasi tergantung kebutuhan kita masing-masing. Bagian kepalanya berbentuk bulat lingkaran dan berbentuk plus. Untuk mengencangkannya kita bisa menggunakan obeng plus.

Baut JF

baut jf

Baut jenis JF, bentuk dratnya juga standar, diameternya bervariasi tergantung kebutuhan kita, dan yang unik dari baut ini adalah bagian kepalanya dimana bagian bawahnya lebih Lancip ke bawah sedangkan bagian atasnya datar. Hal ini bertujuan supaya baut ini bisa masuk ke bagian benda kerja sehingga permukaan benda kerja tersebut bisa datar. Untuk mengencangkan baut jenis ini kita bisa menggunakan obeng plus.

Baut L

baut l
Baut ini tentunya sangat familiar sekali bagi para pecinta sepeda dan otomotif, untuk drat standar sedangkan diameternya juga bervariasi sesuai kebutuhan kita. Pada atasnya jika kita lihat dari samping akan datar, namun jika kita lihat dari bagian atas akan berbentuk bulat dan bagian tengahnya menggunakan kunci jenis L hexagonal tujuannya supaya kita bisa menggunakan baut ini di tempat-tempat yang sempit.

Standard Ukuran Baut

Pernah mengalami hal ketika kita ingin membeli baut namun kebingunan menentukan sebenarnya baut yang ingin kita beli tersebut ukurannya berapa? Sehingga seringnya kita lebih suka untuk membawa contohnya. Nah tip-tip yang akan dibagikan berikut mudah-mudahan bisa membantu teman-teman.

Secara umum baut dibagi menjadi 2 jika ditinjua dari standar yang diacu yaitu metrik standard dan british standard. Di asia, atau khususnya di diindonesia kita akan sering menjumpai baut dengan standar metrik dimana standard ini menggunakan ukuran milimeter untuk identifikasi ukuran bautnya. Kode di dalam standar metris ini misalnya : M8 ; M 10 ; M 14 ; dll. sedangkan untuk ukuran british menggunakan satuan inch, kode yang digunakan di dalam standar british ini misalnya : G1/2 ; G1/4, dst.

Cara Identifikasi Baut

Contoh baut M10

Jika kita ingin memastikan ukuran baut tersebut M10 maka kita bisa mengecekkan dengan mengukur diameter ulir / thread dari baut tersebut dengan menggunakan sigmat / jangka sorong. Nah terkadang kita salah memahami mengenai ukuran ini, dimana yang kita sebutkan adalah ukuran kepala baut, ukuran ini merupakan ukuran kuncinya dimana baut tersebut dikencangkan / dikendorkan. Nah pada saat melakukan pembelian mur baut, nilai hasil pengukuran inilah yang terkadang kita sebutkan, padahal yang benar adalah diameter thread.

Contoh baut M10 :

  • Diameter ulir 10
  • Diameter kepala baut 17 (ukuran kuncinya)

Selain diameter ulir, untuk identifikasi baut juga membutuhkan panjang baut yang dihitung dari ujung thread ke pangkal kepala (kepala tidak diiukutkan dalam menghitung panjang baut).

Contoh hasil pengukuran panjang baut adalah : 110

Sehingga ukurannya adalah M10 x 110

Dari berbagai jenis baut yang sudah disampaikan diatas tidak akan merubah cara identifikasi baut baik dari segi diameter thread dan panjang bautnya.

Macam Baut dari Bahannya

Baut Alloy, dimana jenis baut ini sangat cocok digunakan untuk kebutuhan rumahan karena tidak memiliki spesifikasi khusus, contoh : untuk pagar, jendela, kursi dll

Namun jika baut tersebut digunakan untuk keperluan industri, maka grade baut tersebut harus benar-benar diperhatikan karena berpengaruh pada kinerja mesin dan keselamatan personel yang ada di ruangan tersebut. Baut untuk skala industri ini juga terdapat identifikasi di bagian kepala bautnya, dimana informasi tersebut tidak akan kita temukan di baut alloy.

Screw Pitch Gauge / Pengukur Jarak Ulir

kalibrasi pitch gauge

Alat yang hampir pasti kita temukan di dunia otomotif / bengkel bubut dimana alat ini berfungsi untuk mengukur jarak ulir dari suatu mur baut. Meskupun terkesan sederhana, namun kegiatan ini sangatlah penting dalam industir manufacuturing.

Jarak ulir didefinisikan sebagai jarak ujung pucuk pada ulir sampai pucuk pada ulir berikutnnya atau jarak lembar ulir ke lembah ulir berikutnya. Seperti sudah kita jelaskan di atas, jika tidak semua baut mempunyai kode identifikasi pada bagian kepalanya, sehingga fungsi pitch gauge ini adalah untuk mengetahui jenis dari baut tersebut dengan melalui pengukuran jarak ulirnya.

Cara Menggunakan Screw Pitch Gauge

cara menggunakan screw pitch gauge

Untuk melakukan pengukuran jarak ulir pada mur baut dengan menggunakan screw pitch gauge relatif sederhana, yaitu kita kita hanya cukup untuk menempelkan gerigi pada bilah-bilah pitch gauge tersebut dimana pada bilah terebut sudah terdapat ukuran jarak ulir. Jika posisi gerigi pada bilah dengan ulir sudah pas, maka itulah ukuran panjang ulirnya. Namun sebelum melakukan pengukuran pada panjang ulir tersebut ada baiknya dilakukan prosedur sebagai berikut :

  • Kondisi baut harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran baik oli / debu yang menempel untuk menghindari pengaruh pengukuran panjang ulir yang dilakukan
  • Posisi pitch gauge pada saat pengukuran haruslah tegak lurus sehingga pengukuran yang didapatkan akurat.

Semoga bermanfaat

Referensi Gambar :

https://www.fujitool.co.jp/eng/products/measuring_tools/000088.html

Prinsip Kerja dan Cara Menggunakan Multimeter Analog (Avometer)

Multimeter adalah alat yang berfungsi untuk mengukur voltage / tegangan, ampere / arus listrik dan ohm / hambatan / resistensi dalam satu unit. Alat ini sering disebut juga dengan istilah multitester / avometer (Ampere-Volt meter). Penggunaan alat ini di industri tentunya sangat luas terutama di departemen teknik untuk melakukan pengecekan instalasi listrik / pada saat melakukan perbaikan kerusakan alat-alat laboratorium. Ada dua jenis multimeter dalam menampilkan hasil pengukuran yaitu multimeter analog dan multimeter digital. 

Untuk saat ini yang akan kita bahas adalah multimeter analog baik dari pengenalan bagian-bagian dan fungsinya serta cara pengukuran tegangan dan hambatan, berikut dengan contoh gambar hasil pengukuran menggunakan multimeter analog ini. Karena seperti kita ketahui meskipun dari sisi pembacaan multimeter analog ini tidak semudah yang jenis digital, tetapi unit ini masih banyak sekali kita temui karena dari sisi harganya juga relatif lebih murah.

Fungsi Multimeter Secara Umum :

  • Mengukur arus listrik
  • Mengukur tegangan listrik / tingkat voltage dalam sebuah komponen listrik
  • Mengukur hambatan listrik / resistensi dari suatu komponen listrik / resistor yang mempunyai unsur resistensi
  • Fungsi HFE untuk mengetahui nilai dari faktor penguat transistor dan pengujian dioda
  • Mengukur nilai kapasitansi dari suatu kapasitor dan
  • Mengukur frekuensi sinyal pada komponen elektronika

Secara definisi, Pengertian multimeter analog adalah perangkat sederhana yang digunakan kuantitas basic electrical (listrik dasar) seperti resistansi AC dan DC, tegangan dan arus. Penunjuk nilai dalam bentuk jarum pada bidang skala.

Prinsip Kerja Avometer / Multimeter Analog

prinsip kerja multimeter analog

Didalam avometer / unit multimeter analog ini terdapat kumparan tembaga yang diletakkan diantara dua kutub magnet yaitu N (North) dan S (South) seperti pada gambar diatas. Dalam kumparan tersebut terdapat jarum penunjuk atau jarum meter yang akan bergerak menunjukkan skala tertentu apabila dua ujung kumparan tersebut dialiri arus listrik.

Bagian-Bagian Multimeter Analog

bagian-bagian multimeter analog
  1. Kotak meter / cover, merupakan cangkang atau body multimeter berfungsi dari sebagai tempat komponen-komponen alat tersebut.
  2. Skala, deretan angka yang menunjukkan hasil dari suatu pengukuran, di dalam multimeter banyak sekali angka yang berbeda-beda, pastikan Skala yang dibaca adalah skala yang ingin diukur. Contoh Volt, Ohm, dan ampere mempunyai skala sendiri-sendiri.
  3. Jarum penunjuk meter, berfungsi sebagai penunjuk nilai besaran hasil pengukuran.
  4. Zero Adjusting Screw, berfungsi untuk mengatur kedudukan dari jarum penunjuk saat dikalibrasi dengan cara memutar ke kiri maupun ke kanan menggunakan obeng pipih kecil atau obeng Minus.
  5. Zero Ohm Adjusting knob, berfungsi untuk mengatur jarum penunjuk skala pada posisi nol Ohm. Hal ini digunakan pada saat mengkalibrasi multimeter dan dilakukan pada saat akan mengukur hambatan atau resistensi.
  6. Lubang kutub positif, berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub positif yang berwarna merah
  7. Saklar pemilih, untuk memilih posisi pengukuran dan batas pengukuran, multimeter analog mempunyai 4 posisi pengukuran yaitu AC Volt, DC volt, DC miliampere dan Ohm atau hambatan.
  8. Lubang kutub negatif, berfungsi sebagai tempat masukkan test lead kutub negatif yang berwarna hitam
  9. Test lead negatif, sebagai sumbu negatif dan dipasang di terminal negatif multimeter
  10. Test lead Positif, sebagai sumbu positif dan dipasang di terminal positif multimeter

Cara Menggunakan Multimeter analog

Sebelum melakukan pembacaan, tentunya kita harus memastikan posisi saklar dari multimeter ini dalam kondisi yang benar.

Posisi saklar pemilih multimeter analog :

  • Posisi ACV (Volt AC) untuk mengukur besaran tegangan listrik pada arus bolak-balik atau AC. Untuk batas ukurnya yaitu 10 Volt, 50 Volt, 250 Volt, 500 Volt dan 1000 Volt.
  • Posisi DCV (Volt DC) untuk mengukur suatu tegangan listrik dengan arus searah atau DC.
    Adapun batas ukurnya yaitu 0.25 volt, 0.5 volt, 2.5 volt, 10 volt, 50 volt, 250 volt, 500 volt, dan 1000 volt.
  • Posisi DCmA (mili ampere DC) untuk mengukur kuat arus pada komponen kelistrikan dengan arus searah atau DC. Untuk batas ukurnya yaitu 0.25 mA, 2.5 mA, 25 mA dan 250 mA.
  • Posisi Ohm atau hambatan untuk mengukur hambatan. Batas ukur untuk pengukuran Hambatan adalah x 1 ; x 10 ; x 100 ; x 1000 ; x 10.000.

Cara Mengukur Tegangan AC

cara membaca multimeter analog

Hasil dari pengukuran didapatkan dari angka skala : skala maksimal x pemilih, pada contoh gambar diatas ini jika dihitung adalah :

2.2 : 10 x 100 = 220 Volt AC

Tahapan Mengukur Tegangan AC

  • Pasang kabel pengukuran
  • Masukkan Probe hitam pada lubang bertuliskan Com atau negatif Masukkan Probe merah ke positif
  • Atur meteran untuk menggunakan rentang tertinggi untuk tegangan AC, Hal ini dilakukan apabila kita tidak mengetahui perkiraan tegangan yang akan kita ukur, apabila kita mengetahui tegangan yang akan diukur maka cukup sesuaikan dengan kebutuhan.
  • Tinjau skala tegangan untuk mengetahui rentang pengukuran yang dipilih
  • Uji tegangan listrik dan dari sebuah stop kontak Hai masukkan
    Untuk nilai yang terjang kemungkinan terbaca di Indonesia nilai yang terukur pada stop kontak adalah pada kisaran 220 volt

 

Cara Mengukur Tegangan DC

cara membaca hasil multimeter

untuk hasil pengukuran = angka skala : skala maksimal x pemilih

Pada contoh gambar diatas jika dihitung adalah :

140 : 250 x 250 = 140 Volt DC

Tahapan Mengukur Tegangan DC :

1. pasang kabel pemeriksa atau probe serta pastikan jarum penunjuk menunjuk pada angka nol, jika tidak menunjukkan angka 0, maka putar knob pengatur jarum sampai menunjukkan angka 0.

2. Putar saklar pemilih ke Posisi DCV (Volt DC) untuk mengukur tegangan listrik dengan arus searah atau DC. Pilih pada skala yang terbesar dahulu untuk menghindari terbakarnya multimeter karena tegangan yang diukur melebihi kemampuan unit alat multimeter tersebut (misalnya 1000 volt, jika jarum belum bergerak, pilih ke 250 volt, jika jarum belum bergerak pilih ke 50 volt, demikian seterusnya sampai jarum bergerak ke skala pengukuran, jika jarum tetap tidak bergerak ketika skala terkecil sudah dipilih, misalnya di 0.25 volt, maka ini menunjukkan tidak ada tegangan yang terdeteksi).

3. Lihat skala maksimal berdasarkan pada posisi saklar pemilih yang sudah pilih di tahap nomor 2. Hal ini duilakukan untuk memudahkan kita dalam melakukan perhitungan

4. Pada saat pengukuran, lihat angka sesuai dengan skala pemilih yang sudah kita tetapkan pada tahap 3.

5. Hitung hasil pengukuran sesuai dengan rumus yang sudah dijelaskan diatas.

Cara Mengukur Hambatan (Ohm)

cara membaca hasil pengukuran ohm pada multitester

Hasil pengukuran = Angka skala x saklar pemilih.

Pada contoh gambar diatas jika dihitung adalah :

140 : 10 = 1400  Ohm = 1.4 K Ohm

 

Tahapan Mengukur Hambatan Listrik (Ohm) :

1. Pastikan saklar pemilih multimeter berada dalam posisi area OHM, skala ini mempunyai pilihan x 1 ; x 10 ; x 100 ; x 1000 ; x 10.000. Pilihlah skala pengukuran yang terkecil terlebih dahulu yaitu x 1.

2. Hubungkan probe positif dan negati, lihat jarum penunjuk di skala pengukuran Ohm, pastikan jarum tersebut menunjukkan angka 0, jika tidak putar knob pengatur jarum sehingga menunjukkan angka 0. Dalam kondisi tertentu dimana knob sudah kita putar mentok namun jarum tidak menunjukkan angka 0, pastikan kondisi bateray unit tersebut.

3. Lakukan pengukuran hambatan, perhatikan pergerakan jarum penunjuk, jika tidak bergerak, maka putar saklar pemilih ke posisi x 10, jika jarum masih tetap belum bergerak, putar lagi ke saklar pemilih ke posisi yang lebih besar misal : x 100, demikian seterusnya. Jika saklar pemilih sudah pada posisi yang terbesar namun jarum tetap tidak bergerak maka mengindikasikan hambatannya sangat besar.

Kalibrasi Multimeter Analog

Mengingat dampak dari kegitatan pengukuran voltase, besarnya arus, serta tegangan listrik sangat berpengaruh pada keselamatan dan keamanan instalasi listrik yang sedang dilakukan pengujian, maka unit multimeter analog inipun harus dilakukan kalibrasi secara berkala.

Laminar Air Flow (LAF) : Prinsip Kerja, Fungsi, dan Cara Penggunannya

Laminar Air Flow (LAF) : Prinsip Kerja, Fungsi, dan Cara Penggunannya

Jika sebelumnya membahas mengenai bio safety cabinet dan kategori kelasnya, maka pada artikel ini kita akan membahas mengenai laminar aif flow (LAF) mulai dari pengenalan bagian alat, fungsi, prinsip kerjanya. Seperti kita ketahui unit alat LAF ini hampir pasti kita temui di laboratorium biologi ataupun laboratorium kesehatan lainnya. Laminar Air Flow merupakan meja kerja steril yang digunakan untuk kegiatan inokulasi / penanaman / menumbuhkan sel-sel makhluk hidup secara in vitro atau ditumbuhkan pada suatu media tertentu, baik itu penanaman sel-sel hewan / sel tumbuhan / sel mikroba.

Kegiatan penanaman ini tentunya harus dilakukan pada ke keadaan steril yang terbebas dari kontaminasi mikroorganisme, karena ketika kita berada di udara bebas banyak sekali mikroorganisme yang beterbangan terbawa udara dan dan jika nanti mengenai media pertumbuhan maka mikroorganisme tersebut bisa tumbuh dan mengkontaminasi sel-sel yang sebenarnya kita inginkan, hal inilah yang mendasari kenapa diperlukan unit LAF. Laminar Air Flow ini dapat meniupkan udara steril secara terus-menerus melewati tempat kerja sehingga tempat yang kita gunakan untuk bekerja itu terbebas dari debu maupun spora-spora yang mungkin jatuh ke dalam media waktu pelaksanaan penanaman.

Aliran udara di dalam LAF berasal dari ruangan laboratorium dimana unit LAF tersebut berada yang ditarik kedalam alat melalui filter pertama (pre filter) yang kemudian ditiupkan keluar melaui filter yang sangat halus yang disebut dengan HEPA Filter (High Efficiency Particulate Air Filter) dengan menggunakan blower.

Dimana untuk filter yang pertama ukuran saringannya masih cukup besar, jadi mungkin hanya mampu menyaring debu-debu saja, tetapi untuk mikroorganisme atau spora dari jamur itu masih bisa lolos. Nah yang masih lolos inilah akan tersaring di HEPA Filter karena memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan pre filter.

Untuk pre filter pori-porinya kira-kira 5 mm sehingga efisiensinya dapat mencapai 95 mm untuk objek-objek yang lebih besar dari 5 mm. sedangkan untuk hepa filter ukuran pori-porinya mencapai 0,3 mm.

Bagian-Bagian Laminar Air Flow (LAF)

bagian-bagian laminar air flow

1. Ruang kerja

2. kaca transparan

3. Ruang kosong, dimana bagian ini digunakan untuk memasukkan tangan kita agar kita bisa bekerja namun tubuh kita tetap berada di luar LAF, atau dengan kata lain yang masuk kedalam ruangan LAF hanyalah tangan kita saja untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi dari tubuh kita karena seperti kita ketahui tubuh kita pun pasti juga banyak terkandung mikroorganisme

3. Hepa filter, yang berfungsi untuk menyaring udara sehingga terbebas dari spora / mikroorganisme.

4. Lampu Neon

5. Blower atau penghembus udara yang nantinya akan mengalirkan udara tersebut masuk kedalam ruang kerja LAF.

6. UV Lamp, dimana bagian ini sangatlah penting dimana fungsi dari lampu UV tersebut adalah untuk mematikan mikroorganisme yang mungkin tertinggal selama orang sebelum kita bekerja. Biasanya lampu UV tersebut kita nyalakan sekitar satu jam sebelum kita bekerja dengan menggunakan LAF,  tetapi ketika nanti kita akan mulai bekerja harus dimatikan karena seperti kita ketahui sinar UV itu juga tidak baik untuk sel tubuh kita dan bisa menyebabkan kanker. Dan harus dipastikan juga bahwa ketika lampu UV tersebut dinyalakan tidak ada media yang berisi sel yang akan kita tumbuhkan, misalnya :
kita mau memindahkan kultur bakteri tetapi kita lupa ternyata media yang sudah berisi bakteri tersebut dan kita masukkan dalam kondisi lampu UV yang menyala, nah kondisi tersebut tentunya akan menyebabkan bakteri yang ada di dalamnya mati terkena oleh sinar UV tadi.

Jenis LAF

laf vertikal dan horisontal

Berdasarkan arah aliran udaranya LAF dapat dibedakan menjadi LAF horizontal dan LAF Vertikal.

Dimana LAF jenis horisontal aliran udaranya mendatar kearah keluar meja kerja sedangkan untuk LAF vertikal aliran udaranya tegak lurus atau vertical. Jika dilihat pada gambar diatas, dimana posisi hepa filter ditandai dengan warna abu-abu, untuk LAF horisontal HEPA Filternya tegak lurus tetapi aliran udaranya itu mendatar atau horizontal sedangkan pada LAF vertikal HEPA Filternya filternya mendatar tetapi aliran udaranya tegak lurus.

Untuk LAF Horisontal udara yang disaring langsung mengenai kita, ketika udaranya ini membawa mikroorganisme yang ada didalam ruangan, secara otomatis kita akan terpapar secara langsung dengan udara tersebut, atau secara umum bisa dikatakan bahwa LAF jenis horisontal ini lebih berbahaya digunakan dibandingkan dengan LAF jenis vertikal.

Berbeda dengan LAF Vertikal dimana aliran udaranya dipantulkan terlebih dahulu ke bidang meja kemudian baru dibawa keluar sehingga jauh lebih aman ketika kita gunakan untuk bekerja karena kita tidak langsung terpapar oleh aliran udara dari HEPA filter tadi. Sehingga jika kita bekerja dengan menggunakan organisme organisme infeksius maka akan lebih aman ketika kita menggunakan LAF vertikal sehingga kita tidak terpapar udara secara langsung

 

kualifikasi kalibrasi laminar air flow laf

Gambar diatas merupakan ilustrasi dimana untuk LAF horisontal, udara masuk disaring oleh prefilter kemudian kemudian akan melewati HEPA filter (panah warna hijau) menghasilkan udara yang sudah sudah bersih kemudian masuk ke ruang kerja dan dihembuskan keluar dan langsung ke pekerjanya (panah warna merah yang menandakan bahwa udara tersebut adalah udara kotor karena dia sudah terkontaminasi mikroorganisme yang ada di meja kerja tadi.

Untuk yang vertikal udara masuk ke ruangan kemudian disaring pada pre filter dan langsung bertemu dengan HEPA filter yang horisontal kemudian udara bersih (panah warna hijau) yang sudah disaring dan dia akan memantul bagian meja kerja terlebih dahulu sebelum dihembuskan keluar.

Apa saja yang bisa kita masukkan ke dalam LAF?

  • Lampu spirtus atau alkohol
  • Wadah alkohol, jadi meskipun alat-alat yang kita masukkan itu sudah steril tetapi tetap kita butuh media atau reagen untuk sterilisasi alat yang digunakan di dalam meja kerja tersebut, jadi kita perlu membawa alkohol 70 %
  • Pinset, skalpel, gunting, jarum
  • Petridish sterile biasanya digunakan sebagai wadah media untuk menumbuhkan isolar
  • Kertas tissue atau Kapas
  • Sprayer berisi alkohol, perlu diingat kita juga harus menyemprotkan alkohol tersebut ke tangan kita untuk memastikan bahwa tangan kita memang sudah steril dan alat-alat yang akan dimasukkan ke dalam LAF bagian luarnya juga harus disemprot dulu dengan alkohol.

Prinsip Kerja Laminar Air Flow

1. LAF digunakan sebagai meja kerja untuk melakukan kegiatan aseptis atau steril pada kegiatan Inovasi Atau penanaman baik itu mikroorganisme maupun sel hewan maupun sel tumbuhan. Sterilisasi diawali dengan menggunakan lampu UV.

2. LAF mengutamakan adanya hembusan udara steril yang digerakkan oleh blower yang disaring melalui dua filter, yaitu prefilter dan HEPA Filter.

3. Pada Saat kita bekerja dengan menggunakan LAF, pastikan lampu UV dalam kondisi dimatikan tetapi blowernya harus dinyalakan karena blower ini nantinya akan menghembuskan udara ke meja kerja, dan nyalakan lampu neon sebagai penerang

4. Prinsip kerja LAF secara utama adalah ruang kerja yang digunakan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi pada media / sampel.

Cara Menggunakan LAF

  • Nyalakan tombol on off
  • Buka kaca LAF dengan mengangkat handle ke atas.
  • Bersihkan meja kerja kita dengan menggunakan alkohol 70% kemudian usap dengan menggunakan tisu dan cara mengucapnya itu adalah satu arah dari ujung meja keluar.
  • Dianjurkan / jika sempat untuk menyalakan lampu UV 30 -45 menit sebelum pekerjaan inokulasi dimulai dengan cara menekan tombol UV yang ada dibagian depan LAF, dan matikan jika sudah selesai.
  • Tekan tombol fan untuk mengalirkan udara steril selama 10 – 15 menit sebelum pekerjaan dimulai.
  • Nyalakan lampu penerang.
  • Masukkan media, bahan dan alat-alat untuk pekerjaan inokulasi ke atas meja steril.
  • Setelah selesai, pindahkan keluar semua bahan dan barang dari meja kerja serta bersihkan selalu kotoran seperti tumpahan media atau media agar meja kerja selalu steril.

Sentra Kalibrasi Industri – Pusat Jasa Kalibrasi Alat Ukur

Copyright 2021

Digital Refractometer : Alat Ukur Refractive Index di Industri

Digital Refractometer : Alat Ukur Refractive Index di Industri

Sebelum mengulas mengenai unit digital refractometer baik dari prinsip kerja dan fungsingya maka kita akan terlebih dahulu membahas mengenai refractive index / index bias, karena refractometer itu sendiri merupakan unit yang digunakan untuk mengukur index bias.

Refractive index / Index bias didefinisikan sebagai perbandingan antara cepat rambat cahaya pada ruang hampa dengan cepat rambat cahaya pada suatu medium, jadi yang awalnya ada diruang hampa kemudian cahaya masuk ke sebuah medium sehingga karena adanya perbedaan kerapatan antara media yang satu dengan media setelahnya cahaya yang dipantulkan tersebut mengalami pembiasan.

Seperti kita ketahui sifat benda ada 3 jenis yaitu :

  • Gas
  • Cair
  • Padatan

Jika ditinjau dari kepadatannya, partikel gas memiliki partikel-partikel penyusun yang jaraknya sangat berjauhan, sedangkan yang cair agak berdekatan, dan yang padat ini partikel-partikelnya berdekatan sehingga bisa terbentuk suatu zat yang bentuknya adalah padat.

Berikut ini adalah gambar dari fenomena pembiasan yang mungkin sudah kita kenal karena sudah kita pelajari di bangku SMA.

pengertian index bias
contoh pembiasan cahaya

Jenis pembiasan cahaya yang secara umum ada 2 jenis :

  • Cahaya ini itu berasal dari medium yang rapat yang bergerak menuju medium yang kurang rapat maka cahaya ini akan dibiaskan menjauhi menjauhi garis normal
  • Cahaya yang berasal dari medium yang kurang rapat menuju ke medium yang lebih rapat maka cahaya ini akan dibiaskan mendekati garis normal.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Refractive Index Suatu bahan

1. suhu

Semakin tinggi suhu, massa jenis akan semakin rendah karena adanya pemuaian volume maka cairan menjadi kurang padat dan kurang kental sehingga menyebabkan cahaya bergerak lebih cepat dalam medium. Hal ini menghasilakn index bias yang lebih kecil.

2. Tekanan

Semakin besar tekanan maka kerapatan molekul dalam zat tersebut menjadi semakin rapat akibatnya indeks bias zat atau sampel semakin besar.

3. Density / kerapatan / massa jenis

Semakin besar kerapatan zat maka kerapatan molekul dalam zat / sampel tersebut semakin rapat sehingga apa indeks bias zat atau sampel akan semakin besar

4. Kekentalan atau viskositas

Semakin kental atau viskositas semakin tinggi maka indeks bias zat akan semakin besar sehingga kecepatan cahayanya karena zatnya semakin kental maka akan semakin rendah.

5. Konsentrasi larutan

Semakin besar konsentrasi larutan maka index bias semakin besar karana semakin banyak molekul-molekul yang ada di dalam larutan tersebut

6. Panjang gelombang cahaya

Indeks bias akan menurun seiring dengan bertambahnya panjang gelombang cahaya, biasanya cahaya yang digunakan dalam pengujian indeks bias itu menggunakan cahaya natrium pada panjang gelombang 598 nanometer. panjang gelombang tersebut merupakan panjang gelombang cahaya monokromatik, karena jika menggunakan pencahayaan polikromatis seperti cahaya putih akan mengalami dispersi cahaya.

Berikut ini adalah tabel indeks bias dari berbagai macam zat :

 

tabel refractive index

Dapat dilihat bahwa semakin tinggi kerapatannya Maka indeks biasnya juga akan semakin tinggi, Solid atau padatan mempunyai massa jenis atau kerapatan yang lebih besar dibanding dengan gas, sehingga index bias yang dimilikinya juga lebih besar.

Aplikasi Pengukuran Index Bias

Indeks bias ini sangat erat kaitannya dalam industri farmasi terutama untuk menilai sifat dan kemurniaan suatu zat, mengetahui konsentrasi gula atau biasanya disingkat dengan Total Soluble Solid (TSS) atau total padatan yang terlarut dalam larutan biasanya disingkat dengan % Brix yang digunakan untuk mengukur kadar gula dalam larutan seperti madu, buah, dan lain-lain. Nilai refractive index ini juga digunakan untuk mengetahui konsentrasi obat yaitu berapa kadar obat dalam suatu larutan serta kadar zat dalam yang diekspresikan dalam pelarut.

Di dalam bidang kesehatan, nilai ini juga digunakan dalam uji identitas, kontrol kemurniaan dan penentuan konsentrasi bahan baku, produk setengah jadi, dan produk akhir, memeriksa obat untuk farmakope dan bisa digunakan untuk analisis regresi tubuh, Contohnya bahan-bahan yang dialisis adalah obat-obatan, larutan infus, serum darah, urin dll

Di Industri minuman juga digunakan untuk uji identitas selama proses produksi, contoh pada proses industri minuman (pembuatan anggur, pembuatan larutan penyegar,dll) dimana juga menggunakan pengukuran indeks bias yang untuk mengukur kualitas produknya.

Di Sektor Pertanian, penggunaan indeks bias digunakan untuk mengukur kematangan buah sebelum dipanen dan dijual dimana diukur berapa % brix nya yang mengindikasikan kadar gula di dalam buah tersebut. semakin matang buah maka semakin tinggi juga nilai % brixnya.

 

Alat Ukur Refractive Index

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur index bias adalah refraktometer, ada beberapa jenis refractometer :

Hand Held Refractometer

Sesuai dengan namanya alat ini mudah digenggam menggunakan tangan, biasa disebut juga dengan portable brix meter, merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur besarnya konsentrasi gula, garam, atau kadar air dalam larutan. Satuannya adalah % Brix. 

Brix merupakan zat padat kering terlarut dalam suatu larutan yang dihitung sebagai sukrosa / gula. Kelemahannya untuk tipe hand held refractometer ini adalah :

  • Menggunakan cahaya alami atau cahaya putih sehingga cahaya terebut mudah terdispersi menjadi cahaya lain.
  • Tidak ada cara untuk mengontrol suhu
  • Cahaya harus ditransmisikan oleh sampel.

Berikut ini adalah bagian-bagian dari hand refractometer tersebut

bagian dan fungsi hand refractometer
  • Cover Plate
  • Prism Under Plate untuk menaruh sampel
  • Calibration screw untuk kalibrasi
  • Rubber Grip untuk pegangan tangannya
  • Adjustable eyepiece

Prinsip Kerja Hand Held Refractometer

prinsip kerja hend held refractometer

Refraktometer menggunakan prinsip pembiasan. jika sampel merupakan larutan dengan konsentrasi rendah maka yang terjadi adalah sudut refraksi / bias akan lebar dikarenakan perbedaan sudut refraksi dari prisma dan sampel yang besar maka skala yang terbaca akan jatuh pada skala rendah, Kemudian untuk konsentrasi larutan yang tinggi maka akan mempunyai sudut bias yang kecil karena berbedaan refraksi prisma dan sampel kecil. Batas gelap terang merupakan akibat dari cahaya yang tidak dibiaskan melewati sudut kritis dari prisma.

Cara Menggunakan Hand Held Refractometer

Cara menggunakan hand held refractometer :

1. kalibrasi refractometer terlebih dahulu dengan menggunakan aquadest

2. setah dikalibrasi dan mengindikasikan nol, kita bersihkan menekan tisu

3. kemudian kita teteskan sampelnya dan kita ukur dan kita baca nilainya

Secara gambar bisa dilihat dibawah ini :

Refractometer ABBE

Refraktometer ABBE merupakan refractometer untuk mengukur indeks bias, nilai % brixnya dari 0 s/d 95 % brix. keunggulan refraktometri ini adalah lebih akurat karena punya ketelitian 0,1 % brix dan sumber cahaya yang digunakan adalah sumber cahaya yang monokromatik, jadi Sudah ada sumber cahayanya sendiri disini menangkap sinyal dari zat natrium Dpada panjang gelombang 596 nanometer. Pada penggunaannya refractometer ABBE ini menggunakan sumber listrik karena sumber cahaya lampunya bersumber dari listrik..

Bagian-bagian refractometer ABBE dapat dilihat pada gambar dibawah ini  

  • Eye piece
  • Dispersion value scale ring
  • Adjustment Knob untuk mengatur maju-mundurnya
  • Prisma untuk sampel
  • Refractive index scale adjustment handwheel untuk memutar supaya bisa indeks bias terukur
  • Thermostat connecors supaya bisa terukur
kalibrasi digital refractometer

Larutan Kalibrasi Digital Refractometer

Seperti yang telah diuraikan diatas, unit lat ini menghasilkan nilai pengukuran yang dianggap kritis untuk pengambilan keputusan apakah produk yang kita analisa masuk spesifikasi atau tidak, sehingga perlu dilakukan kalibrasi secara berkala. Untuk standar acuan / bahan acuan yang bisa digunakan untuk kalibrasi refractometer tersedia dalam berbagai macam brand, salah satunya adalah cole parmer yang tersedia dalam beberapa varian % refractive index atau teman-teman juga bisa menggunakan layanan kalibrasi untuk melakukan aktivitas tersebut.

Sentra Kalibrasi Industri – Pusat Jasa Kalibrasi Alat Ukur

Copyright 2021

Tera Timbangan? Apa Saja yang Harus Dipersiapkan?

Tera Timbangan? Apa Saja yang Harus Dipersiapkan?

Jika kita berbicara mengenai tera timbangan, maka hal ini tidak dapat dilepaskan dari metrologi dimana secara pengertian metrologi tersebut adalah ilmu tentang pengukuran. Metrologi itu sendiri dibagi menjadi 2 yaitu metrologi teknis dan metrologi legal, Sedangkan metrologi teknis juga terbagi lagi menjadi 2 yaitu industri dan ilmiah. Jika digambarkan secara diagram kurang lebih seperti pada gambar dibawah ini.

perbedaan metrologi legal dan teknis

Untuk metrologi legal saat ini dibawah direktorat metrologi, sedangkan untuk metrologi teknis yang industri saat ini dipegang oleh laboratorium-laboratorium kalibrasi.

Perbedaan Legal dan Teknis

Secara sederhana metrologi legal / tera tersebut yang terkait langsung dengan konsumen, dimana antara penjual dan pembeli bertemu langsung dan hukumnya wajib, jadi jika tidak dilakukan maka akan dikenakan sangsi. Misalnya :

  • SPBU
  • TImbangan Pasar
  • Argo Taksi
  • PLN
  • Tensi meter

Di dalam aktifitas metrologi legal / tera tersebut ada kriteria penerimaan yang disebut dengan BKD (Batas Kesalahan yang Diijinkan), misalnya ketika sudah dilakukan tera timbangan / SPBU tersebut hasilnya menyimpang, maka badan metrologi akan mengadjust / memposisikan ke awal kembali alat ukur tersebut agar masuk dalam range yang diijinkan.

Berbeda dengan kalibrasi yang menjadi ranah lembaga kalibrasi, di dalam kalibrasi tidak ada BKD (Batas Kesalahan yang Diijinkan), lembaga kalibrasi tidak memiliki BKD tersebut, kalaupun ada hal tersebut merupakan permintaan dari customer. Untuk kalibrasi ini bertujuan untuk menjamin mutu produk atau dengan kata lain antara produsen dan konsumen tidak bertemu langsung, namun yang bertemu adalah produknya untuk memastikan produk tersebut bermutu / tidak. Untuk kalibrasi sifatnya juga sukarela, menjadi wajib jika perusahaan menerapkan sistem manajemen yang di dalam klausulnya mempersyaratkan kalibrasi terhadap instrumen / alat ukurnya.

Tera Timbangan Untuk Beberapa Tipe / Jenis Timbangan

Tera timbangan dapat dilakukan di berbagai macam jenis timbangan, berikut ini adalah diantaranya :

Timbangan elektronik

Jenis Timbangan Elektronik :

  • Tmbangan Rentang Tunggal / Single Range
    Dalam satu Timbangan hanya memiliki satu kapasitas, contohnya : kapasitas 6 kg sehingga menimbangnya dari 0 sampai 6 kg saja
  • Timbangan Rentang Jamak / Multi Range
    Dalam satu timbangan terdapat dua kapasitas, contohnya : kapasitas 6 kg yang menimbangnya dari 0 sampai 6 kg dan kapasitas 15
    kg yang menimbangnya mulai dari 0 sehingga 15 kg
  • Timbangan Multi Interval
    Dalam satu timbangan tersebut terdapat beberapa interval, misalnya dari 0 sampai 6 kg, dan dilanjutkan dari 6 kg sampai 15 Kg.

Penentuan Kelas Timbangan Elektronik

Misalnya timbangan multi interval dengan maximal 6 Kg dan 15 Kg, dan interval skala e = 2 / 5 g

Maka kita tentukan nilai n, dimana rumus n = MAX / e Sehingga

n1 = MAX1 / e1 = 6000 g / 2 g = 3000

n2 = MAX2 / e2 = 15000 g / 5 g = 3000

Untuk timbangan dengan e = 2 g dan 5 g dengan nilai n = 3000 maka merupakan timbangan kelas 3 dengan minimum menimbang adalah 20 x e = 20 x 2 g = 40 g

tabel penentuan standar tera timbangan elektronik

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Tera Timbangan Digital

Sebagai konsumen terkadang kita penasaran apa saja sih yang harus disiapkan ketika timbangan kita akan di tera, meskipun hal ini juga akan dilakukan oleh petugas tera sesuai dengan SOP mereka.

  • Pastikan timbangan dalam keadaan bersih dan tidak ada penghalang antara load Cell dan lantai muatan
  • Periksa kedataran timbangan dan lakukan penyetelan kedataran jika diperlukan
  • Nyalakan timbangan selama minimal 30 menit untuk pemanasan sebelum melakukan pengujian

Timbangan Meja

Timbangan meja adalah salah satu timbangan bukan otomatis yang proses penimbangannya dilakukan oleh operator secara langsung, misal : saat menaikkan atau menurunkan muatan ke lantai muatan dan untuk melihat hasilnya. Berikut ini adalah gambar contoh timbangan bukan otomatis.

Timbangan meja memiliki dua bagian yang simetris dan saling terhubung, masing-masing adalah lantai penerima muatan dan lantai untuk anak timbangan, kedua lantai ini memiliki tolok yang masing-masing saling berhadapan seperti pada gambar dibawah ini.

Pada bagian lantai anak timbangan dilengkapi alat penyetel nol seperti gambar berikut :

tolok timbangan meja
penyetel nol timb meja

syarat-syarat timbangan bukan otomatis ini diatur oleh SK Dirjen standardisasi dan perlindungan konsumen nomor 131/SPK/KEP/10/2015, berdasarkan syarat teknis tersebut masing-masing jenis timbangan memiliki persyaratan teknis dan persyaratan kemetrologian tertentu. Adapun persyaratan kemetrologian diatur berdasarkan kelas akurasinya.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Tera Timbangan Meja

  • Pastikan tolok seimbang dan timbangan meja dalam keadaan datar
  • Bersihkan bagian lantai muatan dan lantai anak timbangan

Timbangan Pegas

Timbangan pegas termasuk kedalam golongan timbangan non otomatis, timbangan ini banyak digunakan untuk alat ukur transaksi oleh para pedagang yang menjual buah-buahan dan sayur-sayuran di pasar tradisional karena harganya tidak terlalu mahal dan mudah sekali yaitu hanya memanfaatkan gravitasi yang bekerja pada benda yang akan ditimbang sehingga timbangan tersebut langsung menunjukkan hasil pengukurannya. Berikut ini adalah gambar timbangan pegas.

Seperti timbangan pada umumnya, timbangan ini juga terdapat alat penyetel kedataran, alat penyetel nol timbangan yang harus kita perhatikan dalam penggunaannya / pada saat dilakukan tera selain juga dipastikan kebersihannya.

Berikut ini adalah beberapa persyaratan teknis dari timbangan pegas :

  • Terbuat dari bahan yang kuat
  • Konstruksinya terlihat kokoh dan rapi
  • Mempunyai penerimaan muatan
  • Tidak memungkinkan memiliki karakteristik yang memudahkan untuk melakukan kecurangan
  • Tidak ada gangguan yang dapat mempengaruhi kebenaran penunjukan
  • Pengaruh penyimpangan nol pada hasil penimbangan tidak boleh lebih dari 0,25 e
  • Memiliki garis-garis kala dengan ketebalan yang seragam
  • Memiliki garis-garis kala yang seragam antara 1/10 dan 1/4 dari jarak skala dan tidak kurang dari 0,2 mm
  • Panjang tanda skala terpendek sekurang-kurangnya harus sama dengan jarak skala
    Tanda skala harus disusun sesuai dengan salah satu gambar berikut ini
timb meja

Pemberian angka jarak skala harus memiliki bentuk satuan 1 x 10K, 2 x 10K, 5 x 10K dengan K merupakan bilangan bulat positif atau negatif atau sama dengan nol

Timbangan Dacin

bagian bagian timbangan dacin
tolok jarum penunjuk timbangan dacin

Timbangan jenis ini juga banyak kita temukan di pasar karena lebih praktis, tidak perlu menggunakan anak timbangan, lebih mudah untuk dibawa kemana-mana.

Bagian-bagian timbangan dacin

  • Gandar utama
  • Bobot ingsut
  • Bobot lawan
  • Tolok
  • Jarum penunjuk
  • Pengait

Timbangan Sentisimal

Timbangan jenis ini juga banyak kita temui di pasar, berikut ini adalah bagian-bagian timbangan sentisimal ini.

  1. Lantai Muatan
  2. Penyetel Nol
  3. Batang Skala
  4. Bobot Ingsut
  5. Jarum Penunjuk
  6. Tolok Kesetimbangan
  7. Pengunci batang skala
  8. Piring Anak Timbangan
  9. Unting-Unting

Timbangan sentimental ini termasuk timbangan bukan otomatis yang dirancang untuk kelas akurasi kelas III,

Sebelum melakukan pengujian timbangan sentimental ini, pastikan lantai muatan dalam keadaan kering, bersih, dan tidak berkarat, serta dalam posisi yang datar.
Goyangkan lantai muatan untuk memastikan kedudukan pisau-pisau muatan berfungsi dengan baik.

Cara Penyetelan Nol Timbangan Sentisimal

  • Pastikan Lantai Muatan Kosong
  • Geser bobot ingsut ke skala nol
  • Buka pengunci batang skala
  • Periksa kesetimbangan jarum penunjuk terhadap tolok
  • Apabila posisi jarum penunjuk dibawah tolok, putar skrup penyetel nol ke arah kanan hingga posisi jarum penunjuk terhadap tolok setimbang.

Disclaimer

Dalam melakukan tera timbangan tentunya ada persyaratan administrasi dan persyaratan teknis serta hal lainnya seperti penentuan akurasi timbangan, anak timbangan yang digunakan untuk melakukan tera, batas kesalahan yang diijinkan, dll yang harus dipenuhi sesuai dengan aturan yang beraku. Uraian artikel diatas hanya memberikan gambaran secara umum mengenai perbedaan kalibrasi dengan tera serta beberapa jenis timbangan yang biasa dilakukan tera.

Sentra Kalibrasi Industri – Pusat Jasa Kalibrasi Alat Ukur

Copyright 2021

Pengertian dan Perbedaan Jenis-Jenis Audit

egiatan audit dalam suatu perusahaan merupakan hal yang wajib dilakukan, apapun bidang perusahaan tersebut, baik itu bergerak dibidang jasa / manufacturing, ketika suatu perusahaan terebut menerapkan sistem baik itu sistem manajemen mutu ISO 9001, sistem manajemen lingkungan ISO 14001, sistem manajemen laboratorium SNI ISO / IEC 17025, dan sistem yang lainnya. Tujuan secara umum tentunya adalah menilai keefektifan dari sistem yang sudah dijalankan dan memberikan rekomendasi perbaikan dari temuan ketidaksesuaian yang terjadi pada saat audit.

jenis audit apa saja

Pengertian Audit

Audit adalah proses mengumpulkan bukti informasi apakah sesuai dengan yang dilaporkan / tidak dan menilai kesuaian dengan kriteria yang ditetapkan. Kriteria ini tentunya bisa standar yang diacu, persyaratan pelanggan, spesifikasi teknis yang diterbitkan oleh organisasi yang mempunyai reputasi yang baik, regulasi pemerintan, dll.

Audit dilakukan oleh personel yang kompeten dan independen.

Kompeten berarti mempunyai pengetahuan dan keterampilan di bidang yang diaudit serta memiliki track record yang dapat dipercaya yang dapat dilihat dari ijazah ataupun sertifikat terkait yang dimilikinya.

Independent artinya bebas dari konflik kepentingan sehingga keputusan yang dibuat auditor bersifat netral dan apa adanya, tidak ada bias.

Apa Saja Jenis Audit

Secara umum, audit terbagi menjadi 3 jenis yaitu :

Audit Operasional

Audit ini bertujuan untuk menilai efisiensi dan efektivitas dari prosedur dan metode berjalannya suatu organisasi / perusahaan. Hal-hal yang menjadi perhatian / dinilai pada kegiatan audit operasional ini adalah penerapan akutansi dalam operasional perusahaan, bagaimana prosedur dalam produksi, bagaimana alur distribusi dan pemasaran, dan hal lain yang terkait dengan operasional perusahaan. Dan yang bertugas untuk melakukan audit ini dalah auditor internal di dalam perusahaan tersebut dalam rangka pengawasan operasional internal perusahaan.

Output dari audit operasional ini dapat berupa rekomendasi perbaikan operasional agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan.

Audit Ketaatan

Audit ini berfokus pada pemeriksaan jalan atau tidaknya suatu prosedur, atau aturan tertentu yang diterapkan dari suatu unit kerja agar seluruh proses berjalan dengan baik. Auditor yang melakukan audit ketaatan ini adalah

Yang mengambil peran sebagai badan pemeriksa tertinggi. Hasil dari audit ketaatan ini adalah untuk mengetahui tingkat ketaatan atau kepatuhan suatu unit kerja.

Audit Laporan Keuangan

Mungkin diantara jenis audit yang lainnya, audit inilah yang paling sering / umum kita dengar baik dari berita online maupun televisi. Seperti kita ketahui tujuan dari audit keuangan ini adalah untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut sudah sesuai dengan krteria tertentu dan menghasilkan opini audit.
Audit laporan keuangan melihat kesesuaian laporan keuangan dengan kriteria

Resiko kesalahan / Penyimpangan dan bukti-bukti yang mendukung untuk penyusunan laporan keuangan. Hasil dari laporan audit keuangan ini adalah Opini auditor yang menunjukkan dari laporan keungan tersebut.

Bukti Audit

bukti audit

Bagaimana audit berfikir dan bertindak dalam pengumpulan bukti audit serta prosedur yang diperlukan agar rekomendasi perbaikan dapat mencegah pelanggaran berulang karena sebagaian besar bukti audit hanya menjawab bagaimana ketidaksesuaian terjadi, bukan mengapa ketidaksesuaian tersebut terjadi.

Misalnya : Terjadi pembayaran ganda untuk satu jenis barang yang dibeli.

Cara Meningkatkan kualitas bukti audit

Sebagai auditor tentunya kita harus mempunyai target untuk memberikan rekomendasi kepada auditee tindakan perbaikan apa saja yang harus dilakukan supaya berdampak pada sistem yang telah mereka terapkan sehingga auditepun mendapatkan manfaat yang maksimal dari kegiatan audit tersebut. Dengan kata lain, temuan tidak hanya sekedar penulisan belum lengkap, belum ditanda tanganinya sebuah dokumen, dsb.

Berikut ini adalah cara meningkatkan kualitas bukti audit :

1. Profesionalism skepticism (PF) dan Reasonable Assurance (RA)

Profesionalism skepticism (PF) diartikan sebagai sebuah perilaku untuk tidak menerima begitu saja bukti audit atau selalu memertanyakan dan menilai bukti audit secara kritis sedangkan Reasonable Assurance (RA) diartikan sebagai perilaku untuk selalu berupaya keras mendapatkan bukti yang cukup.

2. Relevan

Bukti audit haruslah relevan, fakta yang kita dapatkan harus berhubungan dengan tujuan audit, andal dimana fakta tersebut diperoleh sendiri dan kredibel sert harus cukup memuaskan dan memadai.

3. Jenis Prosedur Audit harus

Pemeriksaan fisik dimana meninjau, melihat, menguji, dan menghitung sendiri keberadaan fisik aset atau kewajiban serta harus dikonfirmasi sehingga mendapatkan pernyataan tertulis atau lisan dari pihak ketiga, dan pada saat pemeriksaan dokumen harus menguji keberadaan dokumen pendukung (vouching) atau nilai dan kelengkapannya.

Perlu diperhatikan juga pada saat wawancara, respon serta jawaban dari pertanyaan auditor, faktor subjectif juga harus dipertimbangkan. Pada Saat observasi, audditor menjadi saksi langsung pengujian, perhitungan, dan penelitian lain yang dilakukan oleh auditee serta memperoleh fakta yang sama dari prosedur lain.

Upaya pembuktikan dianggap tuntas / selesai jika sudah dapat menjawab semua pertanyaan yang mungkin muncul terutama terkait MENGAPA ketidaksesuai tersebut terjadi. Penggunaan lebih daqri satu prosedur audit untuk pembuktian harus dilakukan untuk menjaga keandalan dan kecukupan fakta.

Audit Proses vs Audit Produk

audit proses dan audit produk

Meskipun sama-sama kegiatan audit, namun audit proses dan audit produk mempunyai tujuan yang berbeda, kompetensi auditornyapun tentunya juga berbeda. Jika ditinjau dari goal tujuan dan fokusnya, audit proses dan audit produk mempunyai perbedaan sebagai berikut :

Audit proses :

Tujuan : meningkatkan efektifitas proses produksi (produksi stabil dan zero defect)

Dalam melakukan audit proses produksi tersebut kita harus berfokus pada pengendalian sumber penyebab defect. Dan referensi yang digunakan dalam audit ini adalah FMEA, control plan (QCPC), SPC, sistem sampling, dll.

Sedangkan audit produk adalah efektifitas proses kontrol untuk tidak meloloskan product defect. Dalam melakukan audit produk ini kita harus berfokus pada akurasi sistem pengukuran untuk memastikan bahwasanya produk sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Referensi yang dapat digunakan untuk audit produk ini adalah MSA, pemahaman sistem pengukuran, sistem sampling, produk standar, persyaratan pelanggan, dll.

Dalam melakukan proses audit tersebut tentunya harus diikuti dengan kompetensi auditornya.

Kualifikasi Auditor Pada Audit Proses Produksi

1. Memahami pemahaman teknis produksi pada area yang diaudit

2. Memahami core tools

3. Memahami persyaratan dari customer

Kualifikasi Auditor Pada Audit Produk

1. Memahami persyaratan produk dari pelanggan

2. Memahami cara menggunakan alat ukur yang digunakan untuk pengujian produk

3. Memahami Measurement system analisis

4. Memahami persyaratan spesifik customer6

Tujuan Audit Proses Produksi

Kegiatan audit proses produksi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektifitas proses produksi untuk mencapai kualitas yang baik / defect yang rendah. Sehingga bisa dikatakan bagaiman proses produksi tersebut melakukan pengendalian penyebab defect.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan cara melakukan verifikasi semua aktivitas produksi dari penerimaan bahan baku sampai ke pengiriman produk jadi dengan berfokus kepada persayaratan pelanggan, serta memastikan kemampuan dan kestabilan proses apakah sesuai dengan persyaratan spesifik pelanggan.

Teknik Audit Proses Produksi

untuk teknik audit yang digunakan adalah bisa menggunakan control plan sebagai acuan dalam pelaksanaan proses audit, PFMEA untuk melihat apakah setiap potensi kegagalan pada proses dapat terakomodir di dalamnya, SPC (statistic Proses Control) untuk melihat apakah karakteristik penting untuk menjaga kestabilan dan kemampuan sudah diukur.

Kegiatan audit tersebut tentunya harus mencakup seluruh proses manufaktur pada setiap shift termasuk sampling yang memadai saat terjadi pergantian shift. Jika ternyata perusahaan menerapkan sistem kerja 2 shift, maka proses audit juga harus dilakukan terjadap kedua shift tersebut.

Jika merujuk ke persyaratan IATF klausul 9.2.2.2 dan 9.2.2.3 maka audit proses ini hendaknya dilakukan setiap 3 tahun sekali.

Konsep Pencegahan di Dalam Proses Produksi Berdasarkan fakta yang telah terjadi bahwasanya :

Sampel yang bagus tidak menjamin produksi masal yang juga bagus

Kemampuan prodoksi 100 pcs dalam waktu 1 jam dengan hasil bagus, tidak menjamin produksi jangka panjang (misalnya : 1 minggu / 1 bulan) dalam kondisi yang bagus

Ada variasi antar orang, variasi cara produksi, dan variasi kestabilan mesin.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka yang diukur sebaiknya adalah proses produksinya sehingga produksi massal yang dilakukan oleh operator dan mesin produksi secara berulang telah berjalan dengan efisien, sesuai dengan budget serta stabil.

Komponen Penting di Dalam Air Handling Unit (AHU)

Ketika bekerja di industri pengolahan makanan / farmasi / Rumah Sakit / bahkan sampai di bidang perhotelan, tentunya dalam hal fasilitas dan bangunan tidak dapat dilepaskan dengan Air Handling Unit (AHU) karena bagian ini sangat berperan di dalam pengendalian temperature, humidity, jumlah partikel, dan kondisi lainnya seperti pembuangan kontaminan. Memahami prinsip kerja dari AHU tersebut juga bisa membuat biaya operasional lebih efisien / lebih murah. Lalu apa sih yang dimaksud dengan AHU itu sendiri? Bentuknya seperti apa? Fungsinya untuk apa?

Pengertian Air Handling Unit (AHU)

Air Handling Unit (AHU) adalah sebuah perakitan yang dibungkus atau ditutup yang terdiri dari fan dan peralatan lainnya yang diperlukan untuk melakukan satu atau lebih fungsi sirkulasi, pembersihan, pemanasan, pendinginan, kelembaban, dehumidifikasi, dan pencampuran udaranya.

Bentuk AHU :

1.Horisontal AHU

Horisontal air handling unit
Untuk bentuk horisontal ini tentunya semua komponennya terdapat di dalam kotak itu semua.

2 Tingkat / Vertikal AHU

Vertikal AHU

Ditinjau dari bentuk untuk yang vertikal ini tentunya lebih menghemat space.

Kedua bentuk diatas tentunya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Ada banyak merk / brand AHU yang sering digunakan di indonesia, namun biasanya kalau kontraktor yang udah spesialis di bidang HVAC, mereka bisa membuat AHU sendiri, jadi tidak mesti harus beli dari brand luar karena dari sisi harga juga sangatlah tinggi terutama untuk AHU yang mempunyai spesifikasi yang tinggi, mereka menggunakan produk luar hanya untuk fan, motor casingnya saja.

Komponen Utama Air Handling Unit (AHU) :

Motor Blower

motor blower ahu

Bagian ini berfungsi untuk mendorong udara di sepanjang sistem pendistribusian udara sampai ke dalam ruangan dengan kecepatan atau air flow yang sudah ditentukan, biasanya untuk AHU tersebut kita akan tentukan berapa sih volume yang dibutuhkan. Blower dengan jenis radial merupakan yang paling umum digunakan dalam sistem AHU ini. Motor di dalam AHU ini akan bertugas untuk merubah energi listrik menjadi energi penggerak yang akan disalurkan ke kisi-kisi blower yang akan menggerakkan udara. Blower ini juga terkadang ditambahkan di saluran udara balik (return) yang berfungsi untuk mendorong udara balik agar sampai ke AHU.

Filter

hepa filter

Sesuai dengan namanya, bagian ini berfungsi untuk menyaring dan membuat udara yang diproduksi menjadi bersih serta mengontrol jumlah partikel serta mikro organisme supaya tertahan dan tidak masuk ke ruangan produksi yang bisa menyebabkan kontaminasi.

Filterisasi di dalam AHU dibagi menjadi tiga bagian :

  • Pre Filter
  • Medium filter
  • Hepa filter / Ultra Hepa Filter

DImana ketiga filter tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda terkait dengan penyaringannya, misalkan Pre Filter yang hanya bisa menyaring partikel dengan ukuran sampai 5 Micron, untuk medium filter mempunyai kemampuan sampai 2 micron, untuk hepa filter / ultra hepa filter mempunyai kemampuan sampai 0,1 mikron. Sehingga keberadaan filter ini tergantung dari kebutuhan atau dengan kata lain tidak semua filter harus mempunyai bagian hepa filter, atau hanya memiliki pre filter / medium filter saja. Pada saat pembuatan AHU, bagain ini didesain supaya sistem saluran udara sepenuhnya bisa tersaring serta dipertimbangkan juga agar memudahkan penggantian / pembersihan.

Heating Coil dan Cooling Coil

heating coil cooling coil

Cooling coil atau yang biasa disebut dengan evaporator ini berfungsi untuk mengatur suhu yang akan dihembuskan ke dalam ruangan menggunakan blower, bagian ini mirip dengan evaporator pada AC lalu didorong oleh blower. Jika di Air Handling Unit (AHU), ada cooling coil dan motor blower keumdian disedot oleh blowernya untuk masuk ke dalam ruangan.

Heating Coil, Bagian ini berfungsi untuk mengatur kelembaban udara / relative humidity dalam udara yang dihembuskan ke dalam ruangan, Nah bagian inilah yang membedakan antara AHU dan AC karena seperti kita ketahui AC tidak mengatur kelembaban, namun jika AHU kita bisa inginkan berapa sih kelembaban yang kita inginkan, misalnya untuk diruangan produksi kelembaban ruangan harus dibawah 35 % RH

Heating Coil ini dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Heating Coil yang dilalui air panas atau air hangat
  • Heating Coil yang dilalui steam

Sehingga dalam melakukan design kualifikasi, kita harus memastikan untuk AHU tersebut terpasang Heating Coil tersebut untuk steam atau air panas, jangan sampai heating coil air panas dipakai untuk steam karena bisa menyebabkan kerusakan.

Untuk pengaturan humidity / kelembaban ruangan bisa menggunakan metode ducting heater, elekctric heater, dan Constant Air Volume (CAV), untuk yang terakhir ini biasanya jika menginstal CAV maka akan diinstal juga VAV (Variable Air Volume)

Apa itu Constant Air Volume (CAV) dan VAV (Variable Air Volume)?

Jadi biasanya kedua hal diatas dipasang untuk sistem otomatis,

Pada saat kita kualifikasi AHU biasanya untuk flow udaranya jika kita hanya memakai dumper biasa dengan cara manual maka pada saat balancing / setting semua ruangan misalnya dengan setingann : 300 meter3/jam, nah untuk mendapatkan setingan tersebut mungkin bisa berlangsung lama, namun jika kita menggunakan CAV dan VAV ini bisa secara otomatis.

Constant Air Volume (CAV) ini konstan sedangkan yang akan berubah VAV (Variable Air Volume), VAV ini yang akan bergerak, buka tutupnya kecil / besar

Mixing box

mixing box

Bagian ini berfungsi untuk tempat / ruang pencampuran / pertemuan udara balikan dari ruangan bercampur dengan udara luar / fresh air.

Test Pot

Bagian ini mempunyai fungsi untuk untuk mengukur apakah ada kebocoran atau tidak di bagian filter dengan cara mengukur partikel sebelum dan sesudah filter, apakah filter tersebut berfungsi dengan baik. Untuk pengukuran partikel ini tentunya menggunakan unit particle counter.

Lampu atau lighting

Bagian ini berfungsi untuk melihat kondisi di dalam AHU pada saat operasional / AHU running apakah ada hal yang abnormal atau tidak, misalnya apakah ada kondensasi, dll. Jadi kondisi tersebut bisa kita lihat dari luar tanpa mematikan AHU nya. Selain itu juga dapat digunakan Untuk melihat kondisi di dalam AHU pada saat kita maintenance,

Electric Heater

Bagian ini fungsinya untuk mengatur kelembaban juga untuk tiap-tiap ruangan

Differential Pressure Gauge

differential pressure ahu

Untuk mengetahui filternya apakah sudah ngeblok atau belum.

Skematik AHU, Apa Saja yang Harus Diperhatikan

Tentunya hal ini bergantung pada standar user seperti apa, hal-hal yang harus diperhatikan untuk AHU di gedung tentunya berbda dengan di industri farmasi, contohnya untuk gedung umumnya hanya menginginkan seting di temperature saja, namun untuk industri farmasi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi misalnya, humidity, perbedaan tekenan, temperature, supply udara, sirkulasi udara, ruangannya kelas apa yang tentunya tergantung dengan produk yang akan diproduksi, dll. Hal-hal tersebut harus benar-benar kita perhatikan karena sekalinya salah seting akan berdampak sangat besar misalnya kontaminasi ruangan bersangkutan, dll, misalnya jika ruangan berbeda kelas dijadikan 1 AHU, terkadang akan berdampak adanya kontaminasi dari ruangan yang kotor ke ruangan yang bersih.

Kualifikasi Air Handling Unit (AHU) di Industri Farmasi

Bagian ini termasuk bagian yang terpenting karena berdampak langsung pada produksi di industri farmasi, aktivitas produksi di industri farmasi bisa berhenti jika AHU ini mengalami masalah.

  • FAT tergantung dari kontrak untuk spesifikasi yang diinginkan seperti apa.
  • Kualifikasi Design
  • Kualifikasi Instalasi
  • Kualifikasi Operasional
  • Kualifikasi Kinerja