Panduan dan Peraturan Dalam Membuat Label Kemasan Makanan

Label Kemasan Makanan

Suatu produk khususnya produk pangan, selain rasa dan khasiat, maka kita sebagai produsen juga harus mempertimbangkan mengenai label kemasan karena hal ini akan sangat mempengaruhi penjualan produk tersebut. Pada artikel kali ini kita akan belajar hal-hal terkait dengan kemasan dan label, mulai dari hal-hal yang harus diperhatikan ketika mendesain kemasan serta peraturan BPOM tentang label pangan olahan.

Panduan Mendesain Kemasan Produk Pangan

  • Bagaimana Kemasan Tersebut Akan Melindungi Produk

Terlepas baik itu kemasan primer, sekunder, atau tersier, beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu material apa yang harus kita gunakan (plastik, kertas, alumunium foil, kardus, kaca, dll). Selain materialnya kita juga harus mempertimbangkan tentang bentuk dari kemasan tersebut, apakah berbentuk kotak, botol, atau hanya cukup dengan kemasan plastik saja.

Material kemasan juga perlu diperhatikan karena selain berfungsi untuk pelindung produk pangan dari kerusakan, material tersebut juga bisa menjadi strategi marketing. kita bisa membedakan kualitas produk dan sasaran pasarnya (target market) hanya dari jenis material kemasannya, karena material yang berbeda akan memberikan sensasi / cara pandang pelanggan terhadap produk tersebut yang berbeda pula.

label kemasan produk pangan

Contohnya : 2 Produk yang sama (Misalnya : Coklat), diproduksi dari perusahaan yang sama, dengan material dan mesin produksi yang sama pula. Namun bets pertama dikemas dengan menggunakan kemasan primer plastik tentunya akan berbeda secara harga jika produk tersebut dikemas dalam kemasan box dengan design yang menarik.

Target pasarnya juga berbeda, untuk coklat yang dikemas dalam kemasan plastik cenderung mempunyai konsumen yang mungkin akan mereka konsumsi sendiri sehingga kemasan plastikpun tidak masalah yang penting dari sisi harga relatif lebih murah. Sedangkan untuk coklat yang dikemas dalam bentuk box, secara konsumen mau membayar lebih mahal yang penting mereka mendapatkan produk yang menerut mereka lebih berkualitas (meskipun secara produk kualitasnya sama).

Konsumen dengan tipe yang kedua ini akan rela membayar lebih mahal coklat dengan label kemasan di box meskipun secara kuantitas lebih sedikit dibandingkan dengan yang dikemas dengan plastik, karena persepsi konsumen adalah produk dengan kemasan box terlihat lebih mewah sehingga mereka berasumsi bahwa produk yang didalamnya juga memiliki kualitas yang lebih tinggi terlebih jika mereka sedang mempunyai acara tertentu atau untuk hadiah maka kemasan box ini tentunya akan lebih mereka pilih.

Material kemasan ini juga dibedakan berdasarkan pada ukuran dari produknya.

misalnya : Produk Air mineral.

Seperti kita ketahui kemasan air mineral tersebut ada yang menggunakan plastik / kaca. Untuk plastiknya pun berbagai macam, untuk air mineral biasanya menggunakan bahan polietilena tereftalat. Namun terkadang kita juga menemukan air mineral yang dikemas dalam kemasan kaca.

Harga untuk air mineral dengan kemasan yang berbeda tersebut tentunya juga berbeda.

Misalnya :

    • Air mineral kemasan plastik dengan volume 1500 ml mempunyai harga Rp. 5.000.-
    • Air mineral kemasan kaca dengan volume 350 ml mempunyai harga Rp. 10.000,-

Dengan perbandingan harga terebut, tetap air mineral dalam kemasan kaca laku terjual karena mempunyai pasar tersendiri, misalnya : digunakan untuk acara training / seminar di hotel, dll. Sedangkan untuk air mineral dengan kemasan plastik relatif digunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak membutuhkan suatu kemewahan.

  • Bagaimana Kemasan ini Nanti Terlihat

Jadi secara visual hasil kemasan tersebut nanti seperti apa, Hal ini penting untuk meningkatkan daya tarik konsumen terhadap produk yang kita jual sehingga konsumen tertarik untuk mencoba dan membelinya.

  • Sudut Pandang Distributor dan Retailer Produk Kita

Distributor atau penjual merupakan bagian penting dari rangkaian bisnis kita. Produk dengan khasiat sehebat apapun dan dengan harga semurah apapun kalau tidak ada penjualan pastinya juga akan berdampak buruk bagi bisnis. Sehingga sudat pandang distributor dan penjual produk kita tersebut harus benar-benar diperhatikan. Distributor dan Retailer umumnya sudah punya gudang sendiri serta rak sendiri untuk mendisplay / memajang produk-produk yang mereke pasarkan.

Secara umum, ukuran dari gudang / rak mereka tersebut biasanya standar, sehingga produk dengan kemasan yang tidak lazim (terlalu tinggi, terlalu lebar, atau tebal) justru akan menyulitkan distributor atau penjual untuk menampilkan produk kita yang tentunya akan berdampak ke penjualan kita.

  • Bagaimana Pertimbangan dari Segi Biaya

Tentunya kita harus memastikan harga / biaya kemasan tersebut apakah masih masuk dalam budget produksi. Jangan sampai kemasan ini tidak sesuai dengan harga produknya walaupun memang banyak kita temui di perusahaan manufacturer bahwa kemasan bisa jadi jauh lebih mahal daripada biaya produk yang akan dijual. Hal tersebut banyak terjadi di industri pangan dimana biaya produksi yang paling tinggi justru berada di label kemasan nya.

Sehingga tak heran jika di dalam perusahaan selalu melakukan improvement untuk melakukan efisiensi biaya dari sisi label kemasan yang mereka gunakan, misalnya melalui penggantian supplier / pemasok. Namun tetap yang harus kita perhatikan adalah dengan adanya penggantian pemasok tersebut apakah menurunkan kualitas label kemasan dari produk kita atau tidak.

Misalnya jika kita berbicara kemasan alumunium foil, apakah dari sisi tebalnya sama dengan yang sebelumnya (bisa diukur dengan menggunakan thickness gauge), jika itu untuk kemasan karton, apakah dari gramature nya mempunyai spesifikasi yang sama, jika kemasan botol, apakah kekuatan tutupnya sesuai spesifikasinya (bisa diukur dengan alat ukur uji puntir), dll.

Secara prinsip meskipun kemasan bisa menjadi biaya paling tinggi dalam produksi, namun produk tersebut tetap bisa dijual dan mampu bersaing di pasaran maka hal tersebut mungkin tetap bisa dilakukan.

  • Pertimbangan Desain Label Kemasan

Desain, logo, tagline, merupakan beberapa point penting dalam label kemasan karena bisa dikatakan sebagai long term description yang bisa menjadi branding atau identitas suatu produk pangan yang dikemas itu sendiri.

Mungkin kita bisa mengambil contoh beberapa produk ternama yang sudah beredar di di Indonesia, bahkan hanya mengenai warna dan sedikit bagian dari desain pada label kemasannya tersebut kita bisa mengetahui bahwa produk tersebut bernama apa / dari perusahaan mana.

Desain Label Kemasan

Contoh Label Kemasan

Dalam membuat desain label kemasan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain :

Warna

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih warna :

  • Target pasar
    Jika target pasar produk yang kita buat adalah anak-anak, maka kemasan dengan warna warni cerah akan lebih disukai, misalnya dengan memberikan unsur warna merah, hijau, biru, kuning. Namun untuk target pasar perempuan tentunya warnanya juga harus kita sesuaikan misalnya : pink atau ungu. Sedangkan produk yang ditujukan untuk para laki-laki, maka menggunakan warna hitam, hijau tua, biru tua dirasa lebih cocok. Untuk produk / barang yang dari sisi harga relatif mahal bisa menggunakan warna silver, emas, dll

Jadi prinsip dalam desain label kemasan adalah kita tetap harus berorientasi kepada hal yang disukai konsumen.

  • Identitas Suatu Merk / Produk

Jadi pemilik warna kemasan pangan jika sudah mempunyai konsumen yang loyal kemudian dari sisi warna kemasan dirubah maka bisa berdampak signifikan pada penjualan produk itu sendiri. Sehingga sangat disarankan untuk mematenkan desain ataupun warna dari suatu merk dagang supaya tidak diserupai oleh produk sejenis dari kompetitor.

  • Identifikasi Varian / Rasa

COntoh label minuman botol

Warna juga menunjukkan rasa, biasanya konsumen itu mengkorelasikan antara warna dengan rasa. misalnya : untuk produk susu dengan kemasan warna pink diidentikkan dengan rasa strawberry, warna biru identik dengan rasa original / vanilla, warna orange identik rasa jeruk / mangga.

  • Spesifikasi Produk

Warna juga bisa menunjukkan spesifikasi suatu produk. Misalnya : warna hijau itu untuk produk organik  hijau yang menunjukkan produk tersebut lebih sehat.

Ukuran

Jika kita membuat suatu produk dengan variasi ukuran kemungkinan bisa berdampak pada meningkatkan pasar. Karena kita memberikan pilihan lebih kepada konsumen. Contoh : kemasan air mineral, meskipun hanya mempunyai satu produk yaitu air mineral, namun kemasannya bermacam-macam, ada kemasan botol yang tentunya lebih flexibel dibawa kemana-mana / berpergian, ada kemasan galon yang lebih cocok untuk kebutuhan rumah tangga.

Beberapa manfaat adanya variasi ukuran dalam kemasan antara lain :

  • Ukuran Bisa Untuk Mengatur Cara Penyajian

Misalnya kopi instan, maka dalam kemasan 1 sachet kopi instant tersebut sudah dinyatakan untuk penyajian dengan air 200 ml. Hal tersebut tentunya memudahkan konsumen untuk menakar sesuai dengan kebutuhannya.

  • Ukuran Bisa Meningkatkan Kenyamanan Konsumen

Contohnya, air mineral kemasan gelas / botol. Dengan adanya kemasan tersebut maka konsumen tidak perlu report membawa kemasan yang lebih besar yang mungkin akan dirasa sulit.

Logo, Tipe & Ukuran Huruf

Untuk logo dan huruf pada label kemasan juga perlu untuk di desain karena merupakan branding. Jika kita pernah bermain aplikasi logo quiz, maka pada permainan tersebut hanya memperlihatkan logonya saja tanpa ada namanya.

logo wikipedia

 

Misalnya logo pada gambar diatas, hampir semua orang tahu kalau logo diatas merupakan logo wikipedia. Kurang lebih seperti itulah pentingnya logo yang terkadang orang hanya melihat sekilas sudah mengetahui produk / perusahaan yang mempunyai logo tersebut. Meskipun terkadang produknya bertambah varian, kemasannya juga terkadang sudah berubah bentuk, namun banyak perusahaan tetap memertahankan bentuk logonya.

Untuk desain logo, font, warna tersebut tentunya bisa kita patenkan untuk menghindari adanya penjiplakan dari kompetitor. Karena seperti kita ketahui konsumen itu seringnya melihat logo / design dibandingkan dengan membaca tulisannya.

Peraturan Label Produk Pangan

contoh label makanan lengkap

Apa saja isi dari label aturannya di peraturan badan pengawas obat dan makanan Nomor 31 tahun 2018 tentang Label Pangan olahan dimana aturan tersebut membahas secara detail apa saja yang harus kita cantumkan dalam label kemasan.

Kewajiban mencantumkan label tersebut berlaku untuk :

  • Pangan dalam kemasan eceran
  • Pangan impor yang diperdagangkan dalam kemasan eceran
  • Pangan olahan yang diedarkan untuk tujuan donasi dan atau program pemerintah

Syaratnya dari label :

  • Mudah dilihat dan dibaca
  • Tidak mudah lepas, tidak mudah luntu,r dan atau rusak.
  • Benar dan tidak menyesatkan
  • Dapat berbentuk tulisan, gambar, kombinasi keduanya / bentuk lainnya.
  • Wajib berbahasa Indonesia, untuk bahasa asing bersifat opsional, kecuali tidak ada padanan bahasa indonesianya.
  • Boleh menggunakan latar belakang berupa gambar atau desain lainnya sepanjang tidak mengaburkan tulisan

Isi Label, Minimal :

  • Nama produknya
  • Daftar bahan yang digunakan / komposisi
  • Berat bersih atau isi bersih
  • Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau mengimpor
  • Logo halal bagi yang dipersyaratkan
  • Tanggal dan kode produksi
  • Keterangan kadaluwarsa
  • Nomor Ijin edar
  • Asal-usul bahan pangan tertentu

Untuk ini berwarna merah ini harus ditempatkan pada bagian label yang paling mudah dilihat dan dibaca.

Misalnya di bagian depan atau belakang yang mudah dibaca.

untuk dalam hal pangan olahan yang jual kepada pelaku usaha untuk diolah kembali menjadi pangan olahan lainnya, label harus memuat keterangan paling sedikit mengenai :

  • Nama produk
  • Berat bersih / Isi Bersih
  • Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau mengimpor
  • Tanggal dan kode produksi
  • Keterangan kadaluwarsa

Semoga bermanfaat.

Cara Menggunakan Piknometer Untuk Pengukuran Densitas / Massa Jenis

cara menggunakan piknometer dengan mudah

Seperti yang telah kita ketahui bahwa benda-benda yang ada di alam memiliki sifat baik itu sifat fisika dan sifat kimia. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai salah satu sifat fisika yaitu massa jenis atau densitas, baik itu dari sisi pengertian, bagaimana rumus perhitungannya, serta cara menggunakan piknometer dimana merupakan salah satu alat yang digunakan dalam laboratorium untuk mengukur densitas / massa jenis suatu sampel / larutan.

Pengertian Densitas / Massa Jenis

Massa jenis / Densitas adalah bilangan yang menyatakan jumlah zat yang dikandung tiap satu satuan volume. Massa jenis setiap zat tentunya berbeda-beda meskipun memiliki massa dan volume yang sama, sebaliknya zat yang sama memiliki massa jenis yang sama tak peduli berapa banyak zat tersebut.

Contohnya : Massa jenis air adalah 1 gr/cm3, hal ini bisa kita simpulkan bahwa sesendok air atau segayung air ataupun seember air akan memiliki massa jenis yang sama yaitu 1 gr/cm3. Jadi jika kita menemukan zat cair yang massa jenisnya 1 gr/cm3 maka kita dapat duga kemungkinan besar zat tersebut adalah air.

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa selain wujud zat dan partikel penyusunnya, massa jenis / densitas merupakan salah satu penanda / pembeda zat tersebut dengan yang lainnya. Seperti contoh diatas, jika suatu larutan unknown (yang belum diketahui) berdasarkan hasil percobaan penentuan densitas / massa jenis didapatkan hasilnya kurang lebih 1 gr/cm3, maka dapat diduga larutan tersebut adalah air.

Rumus Massa Jenis / Denitas

rumus densitas atau masa jenis

Densitas dilambangkan dengan Rho, dan dapat dihitung dengan rumus :

Rho (ρ) = massa (m) / volume (V)

dimana :

Rho (ρ) = Massa Jenis dengan satuan Kg/m3 atau g/cm3
m = Massa benda (kg atau g)
V = Volume benda (m3 atau cm3)

Penerapan Nilai Densitas dalam Industri

Untuk bahan / sampel yang bersifat liquid / cairan, selain uji kekentalan (viskositas), parameter demsitas merupakan hal penting untuk menentukan bahan sampel tersebut masuk spesifikasi / tidak. Beberapa contoh penggunaan densitas di dalam industri adalah sebagai berikut :

Contoh 1

Analisa bahan baku / produk jadi sediaan sirup, minyak goreng, minyak kayu putih, dll dimana dalam proses pembuatan produk tersebut melibatkan bahan baku yang bersifat cair yang tentunya salah satu parameter kritisnya adalah densitas. Sehingga densitas tersebut harus kita analisa baik pada saat penerimaan bahan baku, In Process Control (IPC), ataupun pada saat produk akhir.

Contoh 2

botol untuk pengukuran densitas

Misalnya dalam suatu industri pembuat minyak angin, dimana produk tersebut dikemas dalam suatu kemasan botol dengan volume netto adalah 10 ml (toleransi 0.5 ml). Namun departemen R&D (Riset dan Development) melakukan perbaikan produk tersebut dengan melakukan subsitusi / penggantian bahan yang sama (misalnya : bahan A) dari supplier / manufacturer yang berbeda.

Karena bahan tersebut berasal dari manufacturer / pabrikan yang berbeda maka spesifikasinyapun bisa jadi berbeda. Dalam kasus ini, spesifikasi dari densitas bahan tersebut bisa jadi berbeda. Maka dampaknya adalah dengan densitas yang berbeda tersebut akan mengakibatkan volume minyak / produk jadi yang dimasukkan ke dalam botol tersebut juga berbeda.

Jika Densitas produk jadi hasil perubahan formula semakin tinggi, maka volume yang dimasukkan ke dalam botol tersebut akan semakin sedikit, demikian juga sebaliknya, jika densitas minyak angin hasil perubahan formula menjadi lebih rendah, maka volume produk jadi yang dimasukkan ke dalam botol tersebut menjadi lebih banyak.

Dan tentunya masih banyak contoh yang lainnya.

Di dalam laboratorium, untuk melakukan pengukuran densitas tersebut, biasanya menggunakan piknometer.

Pengertian Piknometer

Pengertian piknometer adalah

Ditinjau dari bahasa, piknometer berasal dari dua kata yaitu pikno yang berarti rapat dan meter yang berarti ukuran / pengukuran. Jadi piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kerapatan / massa jenis dari suatu bahan atau sampel. Prinsip kerja piknometer adalah membandingkan massa zat dengan volume jahat tersebut. sesuai dengan rumus kerapatan yaitu massa / volume.

Seperti peralatan gelas laboratorium pada umummya, bahan borosilicate banyak digunakan pada piknometer ini sehingga memiliki daya tahan yang relatif kuat terhadap sampel yang bersifat asam / basa kuat. Selain itu juga lebih mudah dibersihkan karena proses pembersihan ini merupakan salah satu tahapan cara menggunakan piknometer yang benar. Piknometer tersedia dalam beberapa ukuran yang tentunya disesuaikan dengan kegiatan analisa di laboratorium teman-teman.

Piknometer terdiri dari dua bagian :

  • Wadah
  • Tutup

Wadah merupakan tempat untuk meletakkan sampel sedangkan tutup sesuai dengan namanya untuk menutup piknometer. Pada bagian tutup piknometer tersebut terdapat lubang yang berfungsi sebagai tempat keluarnya udara.

Jadi misalkan kita mau melakukan analisa menggunakan piknometer, maka di dalam wadah piknometer tersebut tidak boleh ada gelembung udara, karena sesuai dengan fungsinya yaitu ketika kita ingin mengukur densitas / kerapatan maka harus dilakukan dalam kondisi yang rapat tanpa adanya gelembung udara.

Adanya gelembung udara dalam wadah piknometer tersebut mengindikasikan bahwa kerapatan dalam piknometer tersebut belum maksimal sehingga dibantu dengan adanya pipa kapiler atau lubang di tengah-tengah tutup.

Untuk melakukan pengukuran densitas menggunakan piknometer, kita juga memerlukan neraca / timbangan analitik untuk mengetahui massa / bobot dari sampel + piknometer tersebut.

Selain neraca juga dibutuhkan termometer untuk mengukur suhu dimana analisa / pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan piknometer harus dilakukan sesuai dengan suhu yang terdapat pada alat (wadah) piknometer tersebut,

Misalnya keterangan suhu di wadah piknometer tersebut adalah 25 C, maka sampel yang akan dianalisa juga harus kita kondisikan pada suhu 25 C.

Cara Menggunakan Piknometer Untuk Pengukuran Densitas

Pada contoh kali ini kita akan mengukur berat jenis / densitas dari minyak angin, dan berikut ini adalah cara menggunakan piknometer di laboratorium :

  1. Pastikan piknometer sudah dibersihkan dan dikeringkan
  2. Timbang piknometer kosong dan catat berat piknometer kosong tersebut.
  3. Masukkan sampel secara perlahan-lahan ke sampai volumenya setengah dari leher piknometer.
  4. Tutup piknometer dan pastikan tidak ada gelembung, jika masih maka ulangi dari awal
  5. lap dengan tissue supaya tidak ada bercak air di bagian luar piknometer
  6. Timbang piknometer yang sudah terisi sampel, massa yang dihasilkan adalah bobot sample ditambah piknometer

Perhitungan :

Dari langkah kerja diatas terdapat 2 kegiatan penimbagan :

  • Penimbangan bobot kosong yaitu bobot piknometer yang masih kosong (tahapan no. 2)

Misal hasil yang didapatkan adalah 12,5 g

  • Penimbangan bobot piknometer yang sudah terisi dengan sampel (tahapan no. 6)

Misal kita dapet bobotnya 21,5 g

Dari kedua data diatas maka diketahui bobot sampel adalah :

(Bobot piknometer + sampel) – (bobot Kosong)

21.5 gr – 12.5 gr = 9 gr

misalnya dalam analisa tersebut volume piknometer yang kita gunakan adalah 10 ml, maka kerapatannya / massa jenisnya adalah :

9 gr / 10 ml = 0.9 g / ml

Harga Piknometer

Merk, grade, dan volume akan membedakan harga piknometer. Contohnya : Piknometer grade A tentunya akan lebih mahal dibandingkan dengan grade B. Piknometer juga mempunyai pilihan beberapa volume yang akan mempengaruhi harga piknometer itu sendiri, misalnya : apakah volume piknometer yang kita inginkan 5 ml, 10ml, 25 ml, 50 ml, atau bahkan 100 ml. Semakin besar volumenya tentunya harganya juga akan semakin mahal.

Berikut ini adalah contoh gambar yang harga piknometer yang mungkin bisa teman-teman jadikan pertimbangan.

harga piknometer laboratorium

Metode Kalibrasi Piknometer

Hasil analisa yang valid salah satunya tergantung pada tingkat akurasi peralatan yang digunakan, sehingga piknometer yang kita gunakan untuk analisa ini juga harus dikalibrasi. Karena piknometer termasuk dalam peralatan volumetrik, sehingga cara kalibrasi piknometer juga merujuk metode yang sesuai tersebut yaitu ASTM E 542-1 Standard Practice for Calibration of Laboratory Volumetric Apparatus

Semoga Bermanfaat

Prinsip Kerja Turbidimeter Sebagai Alat Ukur Kekeruhan Air

Berbicara mengenai turbidimeter, tentunya tidak dapat dilepaskan dengan sifat kekeruhan air dimana sifat tersebut merupakan salah satu parameter penentu kualitas air. Kali ini kita akan belajar mengenai prinsip kerja, cara penggunaan, kisaran harga, serta cara kalibrasi turbidimeter yang digunakan untuk pemantauan parameter kekeruhan tersebut.

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang paling banyak dimanfaatkan oleh manusia, namun untuk dapat digunakan sesuai dengan penggunaannya maka air tersebut harus sesuai dengan baku mutu yang telah ditentukan. Terdapat beberapa macam parameter yang menentukan karakteristik air, antara lain :

  • Kekeruhan

Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan anorganik dan organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh buangan industri.

  • Temperatur

Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dimana kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin terjadi.

  • Warna

Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran mikroorganisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan ekstrak senyawa-senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan.

  • Solid (zat padat)

Kandungan zat padat dapat menimbulkan bau busuk, juga dapat menyebabkan turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapat menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam air.

  • Bau dan Rasa

Bau dan rasa dapat dihasilkan oleh adanya organisme dalam air seperti alga serta oleh adanya gas yang terbentuk dalam kondisi anaerobik, dan oleh adanya senyawa-senyawa organik tertentu.

Selain parameter diatas, juga terdapat karakteristik kimia Air, antara lain :

  • pH

pH ini akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toxid dalam bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh pH.

  • DO (Dissolved Oxygen)

Parameter ini mengindikasikan jumlah oksigen terlarut dadlam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer dan udara. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Satuan DO biasanya dinyatakan dalam persentase saturasi.

  • BOD (Biological Oxygen Demand)

Parameter ini mengindikasikan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencerna) yang terdapat di dalam air buangan secara biologi. BOD dan COD digunakan untuk memoniktoring kapasitas badan air penerima.

  • COD (Chemical Oxygen Demand)

Parameter yang menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik secara kimia.

  • Kesadahan

Kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektifitas pemakaian sabun, namun sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Di dalam pemakaian untuk industri (air ketel, air pendingin, atau pemanas) adanya kesadahan air tidaklah dikehendaki. Kesadahan yang tinggi bisa disebabkan oleh adanya residu terlarut yang tinggi dalam air.

  • Senyawa Kimia

Senyawa-senyawa kimia yang beracun seperti adanya unsur Arsen (As) pada dosis rendah sudah menyebabkan racun terhadap manusia sehingga perlu pembatasan yang agak ketat ( 0.05 mg/l). Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih akan menyebabkan timbulnya rasa dan bau logam yang dapat menjadi racun bagi manusia.

Mengapa Kekeruhan Air Perlu Diperiksa?

Kekeruhan dalam air terbuka dapat disebabkan oleh pertumbuhan fitoplankton. Kegiatan manusia yang mengganggu tanah, seperti konstruksi, dapat menyebabkan tingkat sedimen yang tinggi memasuki badan air selama hujan badai, akibat limpahan air hujan, dan menciptakan kondisi keruh pada air tersebut.

Pengertian Kekeruhan

Efek pemantulan cahaya digunakan sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelometrix turbidy unit) atau JTU (jackson turbidity unit) atau FTU (formazin turbidy unit). Kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid dalam air.

Pengukuran kekeruhan adalah pengujian kunci dari kualitas air. Dalam air minum, semakin tinggi tingkat kekeruhan, semakin tinggi resiko terkena gangguan gastrointestinal / pencernaan.

Kontaminan seperti virus dan bakteri dapat menjadi melekat pada padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi akan mengganggu disinfektan air dengan klorin karena partikel bertindak sebagai perisai untuk virus dan bakteri. Demikian pula padatan tersuspensi dapat melindungi bakteri dari sinar ultraviolet (UV) pada proses sterilisasi air.

Cara Menguji Kekeruhan Air

Ada beberapa cara praktis memeriksa kualitas air, yang paling langsung karena beberapa ukuran rendaman (yaitu, pengukuran kekuatan) cahaya saat melewati kolom sampel air, kekeruhan diukur dengan cara ini menggunakan alat yang disebut nephelometer dengan setup detektor ke sisi sinar. Satuan kekeruhan air dari nephelometer dikalibrasi disebut Nephelometeric Kekeruhahan Unit (NTU).

Kekeruhan di danau, waduk, saluran, dan laut dapat diukur dengan menggunakan secchi disk. Perbedaannya dengan turbidimeter, satuan secchi disk yang digunakan adalah cm (centi meter) berdasarkan hilangnya visuality / penampakan dari secchi disk ini. Secchi disk mempunyai warna dasar hitam putih.

Cara Menggunakan Secchi Disk Relatif Mudah yaitu :

  1. Pegang tali secchi disk dan turunkan secchi disk ke dalam air (Danau, waduk, laut, dll) secara perlahan sampai dengan secchi disk hilang dari pandangan.
  2. Ukur jarak hilang secchi disk tersebut dan catat pada data pengamatan.

Keunggulan secchi disk ini dibandingkan dengan alat ukur lainnya adalah penggunaannya yang mudah serta harganya yang relatif murah untuk pemantauan kekeruhan sungai, laut, dll. Namun mempunyai kekurangan penggunaannya yang relatif terbatas serta terkadang pada saat dilakukan pengukuran secchi disk ini mudah goyang karena relatif ringan sehingga pencuplikan datanyapun relatif lebih sulit.

Prinsip Turbidimeter (Alat Ukur Kekeruhan Air)

 

prinsip kerja turbidimeter kekeruhan air

Prinsip kerja turbidimeter adalah alat ini akan memancarkan cahaya pada media atau sampel, dan cahaya tersebut akan diserap, dipantulkan atau menembus media tersebut. Cahaya yang menembus media pengukuran akan diukur dan ditransfer dalam bentuk angka.

Jika seberkas cahaya dilewatkan melalui sampel keruh, intensitasnya dikurangi dengan hamburan dan jumlah cahaya yang tersebar tergantung pada konsetrasi dan distribusi ukuran partikel.

Turbidimeter merupakan alat yang digunakan untuk pengujian kekeruhan air, misalnya : air hujan, air sungai, air keran, dll.

Cara Menggunakan Turbidimeter

  1. Sambungkan turbidimeter degan sumber arus listrik dan diamkan selama kurang lebih 15 menit.
  2. Seting turbidimeter sehingga angka yang tertera pada display menunjukkan angka 0
  3. Lakukan pengukuran larutan standar dan sesuaikan nilai yang terdisplay pada turbidimeter dengan cara memutar tombol pengatur hingga nilai yang tertera pada display sesuai dengan nilai larutan standar.
  4. Masukkan sampel pada tempat pengukuran sampel yang ada pada turbidimeter
  5. Baca skala pengukuran kekeruhan (disarankan melakukan pembacaan dengan replikasi 3 x).

Contoh Hasil Pengukuran Turbidimeter

contoh hasil pengukuran turbidimeter

Tabel diatas adalah contoh hasil pengukuran dengan menggunakan turbidimeter (3 x pengulangan). Dapat dilihat bahwa nilai turbidimeter air hujan lebih besar dibandingkan dengan air sungai atau air keran, hal ini menandakan bahwa sampel air hujan lebih keruh dibandingkan dengan kedua sampel lainnya.

Cara Kalibrasi Turbidimeter

larutan standar kalibrasi turbidimeter

cara kalibrasi turbidimeter dengan mudah

sama halnya dengan instrumen pengukur lainnya, kalibrasi turbidimeter ini juga tetap harus dilakukan supaya pembacaan sampel yang kita lakukan tetap akurat. Untuk melakukan kalibrasi turbidimeter, menggunakan larutan standar dengan beberapa nilai NTU, contohnya :

  • 0 NTU
  • 0.02 NTU
  • 200 NTU
  • 500 NTU
  • 1000 NTU

Tahapannya adalah :

  1. Kita bersihkan terlebih dahulu botol standar yang akan digunakan untuk kalibrasi
  2. Masukkan botol standar ke dalam tempat sampel, kemudian tekan CAL.
  3. Maka unit alat turbidimeter akan menunjukkan nilai sesuai dengan larutan standar turbidimeter
  4. Lakukan kalibrasi turbidimeter untuk nilai standar yang lainnya.

Harga Turbidimeter

Harga unit alat turbidimeter tentunya tergantung dari merk dan tipenya, namun secara kasar kita sudah dapat mendapatkan turbidimeter model portabel dalam kisaran harga 3 juta s/d 15 juta rupian, dan tentunya harga turbidimeter yang tipe benchtop relatif lebih mahal.

Berikut ini adalah contoh harga dari beberapa turbidimeter dari beberapa marketplace.

harga turbidimeter murah

 

Sumber Referensi :

www.atlas-scientific.com/blog/how-turbidity-is-measured/

Termokopel Tipe K Ditinjau Dari Warna Kabel dan Voltasenya

gambar termokopel

Suhu merupakan salah satu parameter yang paling luas penggunaannya baik itu di dalam kehidupan sehari-hari, penelitian ilmiah, maupun di dalam industri. Banyak sekali peralatan bekerja berdasarkan parameter ini, sebut saja, oven, inkubator, mesin penangas, bahkan sampai heater mesin filling industri farmasi, dll. Alat ukur parameter suhu ini juga bermacam-macam, mulai dari termometer (raksa / alkhohol), thermohigrometer, infrared termometer (termometer gun), sampai dengan termokopel. Untuk termokopel sendiri masih terbagi lagi menjadi beberapa tipe, misalnya : termokopel tipe K, tipe J, tipe N, tipe S, dll. Nah pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai prinsip kerja termokopel, fungsi, harga, dll.

Pengertian Termokopel

Termokopel merupakan salah satu jenis sensor suhu yang berfungsi untuk mendeteksi adanya perubahan suhu pada suatu objek yang nantinya akan diubah menjadi energi elektrik dan dapat dibaca voltasenya dengan menggunakan multimeter. Data dari voltase inilah yang nantinya akan menjadi output untuk mengetahui berapa perubahan suhu yang terjadi pada suatu objek.

Prinsip Kerja Termokopel

prinsip kerja termokopel

Termokopel sangatlah mudah digunakan, yang perlu kita lakukan adalah kawat dari termokopel ini disambungkan dengan alat pendeteksi voltase. Misalnya di bagian ujung kawat pada gambar diatas diberi nyala api maka nanti voltasenya akan terbaca di multimeter. Aplikasi yang lebih luas di industri yaitu termokopel tersebut disambungkan dengan material solid dimana kawat termokopel disini berperan bukan sebagai penyambung, melainkan sebagai sensornya.

Prinsip kerja termokopel yaitu adanya perbedaan suhu di kedua ujung kawat termokopel yang membuat elektron dalam kawat tersebut bergerak dari daerah yang mempunyai suhu tinggi ke daerah yang suhu rendah. Sehingga pada ujung kawat yang disambungkan ke nyala api tadi dapat dibaca voltasenya.

Pada termokopel terdapat dua kawat berbeda yang disambungkan. Hal ini dikarenakan jika material dari kedua kawat sama maka tidak akan ada perbedaan elektronik yang dapat dideteksi sebagai voltase. Sama halnya dengan cara kerja baterai dimana kita dapat mengetahui voltase baterai tersebut dengan memasang multimeter pada kedua bagian kutub yaitu kutub positif dan negatif.

Nah karena ada perbedaan itu maka voltase dari baterai tersebut bisa terdeteksi / terbaca. Namun jika kita menyambungkannya hanya pada salah satu bagian kutub dari baterai tersebut maka voltase dari baterai tersebut itu tidak akan terbaca.

Jenis-Jenis Termokopel

jenis termokopel
Termokopel memiliki banyak jenis dimana setiap jenis atau tipe ini yang membedakan satu sama lain adalah bahan dari kawat atau konduktor yang menyebabkan rentang suhu yang bisa di deteksi atau terbaca oleh termokopel tersebut juga berbeda-beda. Selain itu sensitifitas dari termokopel tersebut juga berbeda-beda karena adanya perbedaan dari bahan konduktor.

Termokopel Tipe B

Bahan konduktor dari tipe B ini yaitu platinum dan rhodium yang bisa menjangkau suhu 1370 °C s/d 1700 °C. Termokopel tipe bisa mengukur suhu yang tinggi namun tidak bisa mengukur suhu yang rendah karena  tipe ini menjadi tidak sensitif ketika digunakan pada suhu rendah.

Termokopel Tipe E

Termokopel tipe ini digunakan pada rentang suhu antara 0 s/d 870 °C. Material yang digunakan dalam termokopel ini adalah Nickel Chromium / Constantan. Termokopel tipe E ini lebih stabil dibandingkan dengan tipe K sehingga sering dijadikan pilihan penggunaan.

Termokopel Tipe J

Termocouple ini sebaiknya digunakan pada suhu dibawah 750 °C karena akan terdegradasi dengan cepat pada pemakaian diatas 550 °C. Termokopel tipe J ini umumnya juga tidak digunakan dibawah suhu ambient karena akan terjadi kondensasi pada kabel yang menyebabkan karat.

Termokopel Tipe K

Termokopel tipe K merupakan jenis termokopel yang paling umum digunakan dalam berbagai industri, misalnya industri oil dan gas karena rentang ukur pembacaannya yang lebar serta harga yang relatif terjangkau. termokopel ini terkadang disebut dengan termokopel chromel – alumel.

Termokopel Tipe N

Termokopel jenis ini bisa digunakan untuk melakukan pengukuran suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pada termokopel tipe K dan mempunyai repeatibility yang lebih bagus pada rentang suhu 300 °C s/d 500 °C. Tipe ini memberikan banyak keunggulan dibandingkan Tipe R & S dengan biaya hampir sepersepuluh, sehingga menjadi alternatif pilihan termokopel yang populer.

Termokopel Tipe R

Termokopel Tipe R mempunyai aplikasi yang sama dengan termokopel tipe S namun mempunyai kestabilan yang lebih baik dibandingkan dengan tipe S sehingga termokopel tipe ini cenderung digunakan sebagai referensi tipe S.

Termokopel Tipe S

Termokopel tipe S mempunyai keunggulan dapat digunakan pada suhu 1450 °C.

termokopel Tipe T

Termokopel tipe ini jarang digunakan untuk aplikasi industri dan cenderung digunakan di laboratorium.

Sekilas Tentang Termokopel Tipe K

tabel persyaratan termokopel tipe K

Termokopel tipe K mengacu pada sensor suhu yang mengandung chromel dan alumel yang memenuhi persyaratan output yang dinyatakan dalam standar ANSI/ASTM E230 atau IEC 60584 untuk termokopel tipe K.

Termokopel tipe K tersedia dalam 2 kode warna, yaitu konektor kuning atau konduktor kuning dan merah yang merujuk pada ANSI/ASTM E230, atau konektor berwarna hijau atau konduktor hijau dan putih seusai IEC 60584.

Termokopel tipe K umumnya memiliki rentang suhu -200 hingga 1260 °C (-326 hingga 2300 °F), namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  • Jika digunakan untuk suhu di bawah 0 °C diperlukan bahan khusus untuk memenuhi akurasi yang ditentukan. Serta, batas kesalahan khusus tidak ditentukan untuk suhu di bawah 0 °C.
  • Batas suhu tertinggi yang disarankan untuk Termokopel Tipe K didasarkan pada ukuran konduktor yang digunakan seperti pada tampilan tabel dibawah ini

Rentang ukur termokopel tipe k

Sedangkan voltase termokopel tipe K adalah sbb

voltase termokopel tipe K

Fungsi Termokopel dalam Kegiatan Kalibrasi

Termocouple banyak digunakan dalam kegiatan kalibrasi enclosure, misalnya : kalibrasi inkubator, climatic chamber, oven, furnace dll dimana metode yang digunakan adalah AS 2853 : 1996 Enclosures—. suhu-controlled.

Pada kegiatan kalibrasi enclosure tersebut, termokopel diletakkan di posisi-posisi tertentu chamber / ruangan alat yang akan dikalibrasi. Dari aktivitas tesebut, kita akan mendapatkan temporal suhu, spacial suhu, dan overall suhu.

Kalibrasi Termokopel

Layaknya alat ukur pada umumnya, kalibrasi termokopel juga harus dilakukan untuk mengetahui nilai penyimpangan / koreksi dari termokopel tersebut sehingga kita salah dalam melakukan perhitungan pada kegiatan kalibrasi yang menggunakan standar termokopel tersebut.

Metode acuan kalibrasi termokopel adalah ASTM E 220 – 96 untuk kalibrasi termokopel pada rentang suhu 0 s/d 500 °C, dan ASTM E 230 – 93 untuk suhu diatas 500 s/d 1000 °C.

Temperatur Recorder Untuk Termokopel

Lutron BTM-4208SD

 

Termokopel ini tidak digunakan secara terpisah, namun ada alat ukur / temperatur recorder channel yang digunakan untuk mendisplay hasil pembacaan termokopel tersebut. Contoh temperatur recorder yang bisa teman-teman pertimbangkan sebelum melakukan pembelian adalah Lutron BTM-4208SD 12 channels Recorder.

Unit ini mempunyai 12 channel sehingga dalam melakukan pengukuran kalibrasi inkubator, oven, climatic chamber bisa dilakukan secara langsung secara bersamaan, karena untuk perlatan laboratorium tersebut biasanya memerlukan titik / thermpocouple dibawah 10 unit.

Sesuai dengan namanya yaitu recorder maka unit ini mempu merekam data secara real time dimana informasi yang akan tersimpan adalah tahun, bulan, tanggal, menit, dan detik.

Harga Termokopel Tipe K

harga termokopel tipe k

Harga termokopel tipe K dipasaran tentunya akan dipengaruhi dari bahan wire / kawat serta merk dari termokopel tersebut. Termokopel ini biasa dijual dalam gulungan, namun kita juga dapat melakukan pembelian hanya beberapa meter saja. Gambar diatas merupakan kisaran harga termokopel tipe K yang mungkin bisa teman-teman jadikan acuan.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

www.omega.com/en-us/resources/k-type-thermocouples

www.controlandinstrumentation.com/resources/thermocouple-types.html

Pengertian, Cara, dan Contoh Filtrasi dalam Laboratorium Kimia

contoh filtrasi

Filtrasi adalah sebuah metode yang tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari, contoh filtrasi antara lain dari yang sederhana misalnya ketika kita melakukan penyaringan larutan teh, penyaringan parutan kelapa untuk menghasilkan santan, dll. Di dalam industri, filtrasi juga digunakan misalnya pada industri fermentasi dimana untuk memisahkan ampas dari produk industrinya, filtrasi produk ruahan dari bahan cairan obat tradisional tertentu, dll

Di dalam laboratorium kimia, metode pemisahan untuk mendapatkan senyawa yang diinginkan juga merupakan hal yang sering kita temui, baik itu dengan menggunakan metode yang sederhana hanya dengan menggunakan kertas saring dan corong sampai ke metode yang sifatnya komplek dengan menggunakan unit alat yang canggih seperti destilasi, ekstraksi, maupun kromatografi.

Secara umum tujuan filtrasi digunakan untuk memisahkan endapan dari larutannya. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai filtrasi baik itu dari jenis, serta cara filtrasi terebut dilakukan.

Prinsip Filtrasi

Prinsip filtrasi adalah suatu pemisahan yang didasarkan pada perbedaan fisik dalam fase seperti perbedaan ukuran partikel, kepadatan maupun perbedaan muatan listrik. Untuk melakukan kegiatan filtrasi tersebut tentunya dibutuhkan media filter dimana bahan ini adalah suatu padatan berpori yang berfungsi untuk menahan partikel-partikel berukuran lebih besar dan meloloskan partikel yang berukuran lebih kecil dari diameter porinya bersama sama dengan cairan. Beberapa media filter yang sering digunakan seperti nilon, dacron cloth, kawat baja gulungan tahan karat berbentuk coil, kain kasa, dll.

Jenis Filtrasi

  • Berdasarkan jenis media granular :
    • Single medium Filtratition, Dual medium filtration, Multi Medium Filtration
  • Berdasarkan Aliran Melalui Media
    • Filtrasi gravity dan Vacuum
  • Berdasarkan Sekema Kontrol Aliran
    • Rapid sand Filtration, Slow sand FIltration
  • Berdasarkan Skema Kontrol Aliran
    • Filtration Constant Rate, Filtration Declining Rate

Pada kesempatan kali ini akan fokus pada pembahasan filtrasi gravity dan filtrasi vakum, karena 2 jenis ini sangat sering kita temuu di laboratorium kimia. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda, namun kedua kegiatan analisa ini menggunakan kertas saring dalam prosesnya.

Kertas Saring Whatman

kertas saring whatman

Kertas saring merupakan salah satu bahan yang wajib dimiliki dalam suatu laboratorium, sesuai dengan namanya kertas ini berfungsi untuk melakukan penyaringan untuk menghilangkan pengotor ataupun padatan dalam suatu sampel. Ukuran pori dari kertas inipun bermacam-macam tergantung aplikasi atau metode analisa sampel bersangkutan. Bahkan sampai ukuran mikron pun bisa kita temukan.

Ditinjau dari merk ataupun brand nyapun sangat bermacam-macam, salah satu brand dari kertas saring yang kami rekomendasikan adalah brand whatman. Brand ini selain dari kualitas yang terbilang bagus, dari sisi harga juga sangat terjangkau. Berbagai tipe dari brand inipun sangat banyak.

Filter Paper Whatman No. 1 ; 3 ; 4 ; 6 ; 40 ; 41 ; 42 ; dst merupakan beberapa jenis dari kertas saring whatman dimana setiap nomer tersebut berbeda dengan ukuran porinya yang tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan analisa di laboratorium.

Selain dengan ukuran pori, diameter kertas tersebut juga harus kita perhatikan terlebih jika kita akan melakukan filtrasi vakum dengan corong buchner, karena ukuran diameter tersebut harus pas dan tidak boleh ada celah atau lipatan kertas saring pada corong buchner tersebut.

Perbedaan kertas saring Whatman 40 dan 42 :

Whatman ukuran 40 dan 42 merupakan kertas saring yang sering kita jumpai di laboratorium,  Kedua tipe kertas saring whatman ini mempunyai diamter 125 mm serta didesain untuk analisa filtrasi sampel pada proses analisis gravimetri atau preparasi sampel bagi analisis yang menggunakan instrumen laboratorium tertentu.

Kertas saring whatman 40 dan 42 ini termasuk kategori ashless dimana terdapat 0.007 % tingkat keasahan yang menunjukan standar kemurnian. Kertas saring whatman tipe ini cocok untuk berbagai macam kebutuhan seperti filtrasi dalam laboratorium analitik.

Whatman tipe 40  mempunyai kemampuan menyaring partikel yang berukuran s/d 8 μm (sehingga masuk dalam kategori medium flow filter) dengan tingkat retensi partikel yang cukup baik. Sehingga, whatman tipe 40 ini lebih cocok digunakan dalam analisa pemisahan material solid dari larutan endapan atau sendimen. Kertas saring ini juga dapat digunakan untuk preparasi sampel yang akan dianalisa dengan menggunakan spectrophotometer.

Whatman tipe 42 mempunyai kemampuan menyaring partikel berukuran s/d 2.5 μm (sehingga masuk dalam kategori slow filter) dengan tingkat retensi partikel yang paling baik dari semua tipe filter kertas buatan Whatman. Adapun beberapa endapan umum yang dapat menggunakan filter ini seperti kalsium karbonat, barium sulfat, asam metastanik.

Filtrasi Gravity dan Filtrasi Vakum

Filtrasi Gravity merupakan suatu metode pemisahan yang sangat sederhana, menggunakan corong kaca dan kertas saring yang memiliki ukuran pori yang sangat bervariasi untuk memperlambat proses penyaringan yang berlangsung cepat. Proses pemisahan dilakukan atau secara alami dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

Teknik FIltrasi Gravity

Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk analisa filtrasi gravity adalah :

  • kertas saring
  • corong
  • statif dan Klem

Tahapannya adalah :

 

Lipat kertas saring dengan cara sebagai berikut :

cara melipat kertas saring

  • Lipat kertas saring menjadi 2 bagian seperti pada gambar a
  • Kemudian lipat kembali bagian a tersebut menjadi 2 bagian seperti pada gambar b
  • Buka lipatan pada langkah ke 2, dan letakkan kertas saring ke dalam corong sehingga membentuk kerucut.
  • Tuang secara perlahan larutan yang ingin disaring.

Fungsi klem dan statif tadi adalah sebagai pemegang / holder corong jika proses penyaringan berjalan lama sehingga kita tidak perlu untuk selalu memegangnya. Hasil penyaringan tersebut biasa kita sebut dengan filtrat sedangkan sisa yang berhasil tersaring disebut sebagai residu.

Filtrasi Vakum

Filtrasi vakum dilakukan dengan cara memisahkan campuran padat cair yang dituangkan melalui kertas saring di dalam corong buchner.

Dimana padatannya akan terperangkap di dalam kertas saring sementara cairannya akan ditarik oleh vakum melalui saluran menuju ke dalam tabung penampung. Filtrasi vakum dengan menggunakan corong buchner ini mempunyai kelebihan dari kecepatannya karena adanya bantuan pompa vacuum.

Bagian-Bagian Corong Buchner :

corong buchner

1. Buchner funnel
Dimana pada bagian ini terdapat lubang / pori tempat jalannya larutan yang disaring.
2. Rubber Cone
Yang akan dihubungkan Filtering Flask, dengan adanya karet ini tentunya kinerja vacuum lebih maksimal karena tidak mengalami kebocoran pada saat vacuum pump bekerja.
3. Filtering Flask
Dimana pada bagian ini terdapat selang ke bagian vacuum pump.

Untuk melakukan filtasi vakum, ada baiknya instalasi corong buchner tersebut kita tes terlebih dahulu, caranya adalah :

  • Pasang buchner funnel ke dalam rangkaian filtering flask yang sudah terhubung dengan vacuum pump melalui selang (pastikan instalasi corong buchner tersebut rapat dan tidak ada kebocoran)
  • Nyalakan pompa vacuum
  • Tutup bagian buchner funnel tersebut dengan plastik wrap
  • Jika instalasi corong buchner sudah benar dan tidak ada kebocoran, plastik wrap akan tertarik sehingga berbentuk cekung.

Cara Filtrasi Dengan Corong Buchner

  • Pasang kertas saring ke dalam buchner funnel, posisi kertas saring harus pas, dan tidak boleh ada lekukan / lipatan di sekitar buchner funnel tersebut.
  • Basahi kertas saring yang sudah terpasang dalam buchner funnel tersebut
  • Masukkan sampel / larutan yang ingin disaring ke dalam buchner funnel
  • Tunggu sampai tidak ada cairan / pelarut yang menetes.
  • Setelah selesai penaringan, matikan pompa vacuum.
  • Pindahkan sampel hasil penyaringan ke dalam kaca arloji.

Semoga bermanfaat.

Beberapa Bentuk Serta Fungsi Statif dan Klem di Laboratorium

statif dan klem laboratorium

Dalam suatu kegiatan analisa sampel di laboratorium, tentunya tidak dapat dilepaskan dengan rangkaian alat dan bahan yang digunakan. Baik itu alat yang terbilang sederhana dari pipet tetes, beaker gelas, labu ukur, statif, klem, sampai ke peralatan yang sifatnya canggih seperti spektrofotometer AAS, HPLC, FTIR, dll. Nah artikel ini kita akan membahas mengenai statif dan klem, dimana peralatan laboratorium ini dari bentuk serta perawatannya terbilang sederhana namun fungsinya sangat penting dalam mendukung suatu analisa baik itu aktifitas penyaringan (filtrasi), titrasi dengan menggunakan buret, sampai dengan pemisahan senyawa seperti destilasi maupun ekstraksi.

Bentuk Statif dan Klem Laboratorium

Meskipun secara fungsi sama, statif dan klem mempunyai beberapa bentuk yang bisa teman-teman sesuaikan dengan kebutuhan analisa di laboratorium.

Statif Laboratorium

Statif merupakan peralatan laboratorium kategori non gelas yang biasanya terbuat dari baja tahan karat dan berfungsi untuk menegakkan peralatan laboratorium dalam melakukan analisa. Dalam prakteknya statif selalu dipasangkan dengan klem yang berfungsi sebagai penjepitnya. Beberapa analisa yang menggunakan statif dan klem ini contohnya :

  • Pada proses filtrasi gravity, dimana pemisahan suatu larutan untuk menghasilkan residu dan filtrat dengan menggunakan kertas saring dan corong, maka keberadaan statif dan klem berfungsi untuk memegang corong tersebut sehingga jika proses filtrasi berlangsung lama maka kita tidak perlu repot memengang corong tersebut.
  • Pada proses titrasi, dimana pada proses titrasi tersebut menggunakan buret yang berisi larutan yang akan digunakan untuk melakukan titrasi, maka buret tersebut ditegakkan dengan menggunakan statif dan klem supaya analisa titrasi dan pembacaan volume larutan yang ditambahkan tersebut mudah dilakukan.
  • Pada proses destilasi, dimana terdapat beberapa rangkaian peralatan seperti labu destilasi, kondensor, dll, maka terkadang diperlukan statif dan klem sehingga rangkaian tersebut kuat tidak mudah lepas.

Gambar Statif Laboratorium

Berikut ini adalah beberapa gambar statif laboratorium yang mungkin sering kita temui, dari bentuknya hampir mirip semua, namun terkadang di bagian dasarnya ada berbeda bentuk. Misalnya :

Bentuk Tripod

jenis statif laboratorium

Bentuk Persegi Empat

fungsi statif laboratorium

Klem Laboratorium

Bagian ini tak kalah penting dibandingkan dengan statif karena berfungsi menjepit sehingga kegiatan analisa baik itu filtrasi, titrasi, destilasi, dll bisa berjalaan dengan lancar. Berikut ini adalah beberapa macam bentuk klem laboratorium.

Klem Jepit

klem laboratorium

Klem jenis ini bisa dikatakan paling umum digunakan di di laboratorium karena aplikasinya luas serta kekuatan jepitnya relatif kuat karena bisa dikencangkan dengan memutar bagian skrupnya. Klem ini bisa kita gunakan untuk mendukung pekerjaan filtrasi untuk menjepit corong, ataupun proses destilasi untuk menjepit bagian kondensor pada rangkaian destilasi. Tentunya untuk kegiatan destilasi ini disarankan kita menggunakan beberapa statif dan klem.

Klem Holder

Klem Holder

Secara bentuk klem ini mempunyai 2 sisi yang sama pada kedua bagiannya dapat difungsikan secara bersama-sama, serta terdapat 2 karet dibagain atas dan bawah sehingga posisi peralatan yang di jepit dengan menggunakan klem jenis ini bisa lebih lurus sehingga klem ini banyak digunakan untuk mendukung analisa titrasi sebagai penegak buret sehingga pembacaan volume yang digunakan untuk titrasi bisa lebih akurat.

Retort Ring

klem ring laboratorium

Klem ini mungkin yang paling jarang kita temui di laboratorium. Bentuk klem ini adalah lingkaran pada bagian ujungnya. Dengan bentuk tersebut, klem ini banyak digunakan untuk mendukung analisa ekstraksi di dalam laboratorium, dimana analisa tersebut menggunakan corong pisah untuk memisahkan 2 zat berdasarkan perbedaan massa jenis dan kepolarannya.

Ada beberapa ukuran dari retort ring ini, diantaranya adalah dengan panjang 14 cm, serta pilihan diameter ring yaitu 10 cm atau 15 cm yang tentunya disesuaikan dengan kegiatan analisa ekstraksi di laboratorium anda.

Cara Menggunakan Klem dan Statif

  1. Letakkan statif yang akan digunakan sebagai alat penyangga pada permukaan datar, misalnya meja laboratorium / surface plate
  2. Pasang klem pada statif dan sesuaikan tinggi klem sesuai dengan kebutuhan analisa dengan cara menaik turunkan klem
  3. Putar Mur yang berada pada klem yang terletak di dekat statif setelah Klem terpasang
  4. Pasangkan alat yang akan dijepit dengan cara menjepit alat laboratorium tersebut pada klem
  5. Apabila peralatan yang dijepit mudah jatuh maka dapat menggunakan tissue agar jepitannya lebih kuat.
  6. Jika sudah selesai digunakan, bersihkan statif dan simpan di tempat yang sesuai.

Harga Jual Klem dan Statif Laboratorium

Untuk harga klem dan statif tentunya tergantung dari merk dan tipe serta ukuran yang digunakan, berikut ini adalah panduan tipe dari klem dan statif tersebut yang bisa teman-teman jadikan acuan :

  • Acuan Harga Klem Jepit
    • 2 Prong / 3 Prong
    • Boss Head / extensiun
    • Cork Lined / Iron Grey / Vinyl Coated
  • Acuan Harga Retort Ring
    • Ukuran panjang dan diameter Ring
  • Acuan Harga Statif
    • Besarnya dimensi dudukannya / dasarnya, serta bentuk dudukannya apakah persegi panjang / tripod, serta panjang besinya apakah 60 cm / 100 cm.

Berikut ini adalah beberapa contoh harga dari klem dan statif yang kami dapatkan dari beberapa marketplace.

harga klem laboratorium harga statif laboratorium

Demikian sekilas mengenai statif dan klem laboratorium, jika ada yang ingin teman-teman tambahkan silakan melalui kolom komentar dibawah.

Fungsi Inkubator Laboratorium dalam Uji Sampel Mikrobiologi

fungsi inkubator laboratroium mikrobiologiDalam suatu industri makanan / farmasi, hasil uji mikrobiologi merupakan salah satu parameter kritis yang harus diperhatikan sebelum meluluskan suatu produk. Uji mikrobiologi tersebut tentunya dilakukan melalui serangkaian analisa dengan menggunakan berbagai macam bahan baik itu media pertumbuhan (contohnya : Tryptic Soya Agar – TSA, MacConkey Agar, Nutrient Agar – NA, Nutrient Broth, Tryptic Soya Broth – TSB, media agar darah , dll) sampai ke dalam peralatan dari cawan petri, botol laboratorium, hotplate, autoclave, inkubator, lemari asam, sampai dengan laminar air flow. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai peralatan inkubator laboratorium mikrobiologi baik dari prinsip kerja, fungsi, jenis, serta metode yang digunakan untuk melakukan kalibrasi inkubator laboratorium tersebut.

Pengertian dan Fungsi Inkubator Laboratorium

Pengertian inkubator adalah alat laboratorium berbentuk kubus yang dapat mengkondisikan / mengatur suhu dan kelembaban secara presisi dan konsisten. Alat ini banyak kita temukan di laboratorium mikrobiologi maupun laboratorium kesehatan / rumah sakit.

Fungsi Inkubator Laboratorium ini adalah untuk menginkubasi atau mengembangbiakkan bakteri, jamur dan mikroba lainnya. Sampel yang dimasukkan ke dalam inkubator antara lain sampel yang sudah ditaruh dengan media pertumbuhan untuk bakteri, jamur, atau mikroba yang akan dianalisa, misalnya : media agar yang sudah ditaruh di dalam cawan petri.

Karena memang fungsinya untuk memeriksa bakteri baik itu sampel atau produk makanan atau produk medis kita dapat mengetahui dengan mengembangbiakan bakteri, jamur, mikroba tersebut menggunakan inkubator, tanpa inkubator bakteri itu tidak akan bisa berkembang dengan baik. Untuk lama inkubasi bakteri / mikroba / jamur tersebut tentunya tergantung dengan metode analisa / standar acuannya, misalnya pada industri farmasi / makanan yang biasanya menggunakan standar USP, dll. Ada beberapa analisa yang membutuhkan waktu 3 – 5 hari, ada juga yang sampai 5 – 7 hari, dll.

Contoh aplikasi dalam suatu industri makanan adalah digunakan untuk analisa bakteri E. Coli dalam suatu sampel, atau dilakukan untuk analisa coliform pada suatu sistem purified water yang digunakan dalam produksi.

Prinsip Kerja Inkubator Mikrobiologi

Prinsip kerja inkubator mikrobiologi secara umum adalah alat ini mengubah energi listrik menjadi energi panas. Dengan adanya kawat nikelin / resistor menghambat aliran elektron yang berjalan sehingga meningkatkan panas di dalam ruang / chamber inkubator tersebut.

Rentang ukur temperature inkubator ini bermacam-macam tergantung tipe dan merk, namun umumnya berkisar antara temperature ambient + 5 °C s/d 70 °C, karena seperti kita ketahui pemakaian inkubator itu sendiri biasanya di suhu 37 °C / temperature lainnya tergantung dengan acuan / referensi metode analisa yang kita gunakan.

Perbedaan Oven dengan Inkubator

Kita ambil salah satu contoh brand memmert, untuk oven tipe UNE dan inkubator tipe INE. Kedua tipe tersebut mempunyai bentuk dan control panel yang serupa. Cara seting temperature serta pengaturan waktu analisa juga sama.

Lalu apa bedanya antara oven dengan inkubator ini ?

Perbedaan Fungsi

Oven dan Inkubator mempunyai perbedaan secara fungsi, jika oven itu akan kita gunakan untuk mengeringkan alat laboratorium seperti glass ware / sampel dengan uap panas dari oven, rentang temperature oven juga relatif tinggi antara 250 – 300 °C. Jika kita merujuk ke spesifikasi oven memmert tipe UNE 500 saja mempunyai rentang temperature dari ambient + 5 derajat celsius s/d 250 °C. Sedangkan inkubator seperti yang sudah disebutkan di awal, berfungsi untuk mengembangbiakkan bakteri, jamur, mikroba dll sehingga penggunaannya pada temperature yang relatif lebih rendah misalnya : 30 atau 37 °C, sehingga rentang temperaturenyapun juga lebih rendah yaitu antara temperature ambient + 5 °C s/d 70 °C.

Perbedaan Pada Tutup Kaca / Glass Door

Secara fisik, pada inkubator terdapat tutup kaca (glass door) pada bagian sebelum pintu inkubator, dimana dengan adanya tutup kaca ini suhu di dalam inkubator laboratorium tidak terganggu dan tetap stabil serta terjaga  dari kontaminasi suhu luar. Dengan adanya tutup kaca ini, kita bisa melihat perkembangan mikroorganisme yang sedang kita inkubasi tersebut. Hal ini tentunya juga menjadi pembeda dengan oven dimana pada oven tidak terdapat tutup kaca / glass door. Jika tutup oven tersebut dibuka, maka uap panas bisa langsung keluar dan tentunya akan berpengaruh pada kestabilan temperature oven tersebut.

Perbedaan Secara Akurasi

Inkubator mempunyai tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan oven, yaitu ± 0,1 °C, sedangkan oven ± 1 °C. Resolusi dari unit inkubator ini juga relatif lebih kecil (biasanya 0.1 °C) sedangkan untuk oven terkadang kita temukan dengan resolusi 0.5 °C, bahkan ada yang 1 °C. Hal ini dikarenakan memang untuk kegiatan inkubasi kita memerlukan suhu yang lebih presisi dan juga konsisten . Jika temperature di dalam inkubator tidak presisi, hal ini bisa mengakibatkan gagalnya proses inkubasi pada bakteri / jamur / mikroba yang ingin kita analisa karena suhu optimum untuk mengembangbiakan bakteri itu sangat penting dan tingkat keakurasian inkubator tersebut harus benar-benar kita pertimbangkan,

Cara Membersihkan Inkubator Mikrobiologi

Pembersihan inkubator merupakan tahapan yang penting supaya tidak terjadi kontaminasi bakteri / mikroba / jamur sehingga berdampak buruk bagi hasil analisa. Untuk membersihkannya inkubator ini relatif mudah, berikut ini adalah tahapannya :

  • Matikan unit inkubator setelah selesai digunakan analisa
  • Tarik / copot rak / tray inkubator kemudain lap ruang inkubator berikut dengan tray / raknya dengan menggunakan kain basah. Perlu diperhatikan terkait dengan rak / tray inkubator dimana setiap merk / tipe tentunya mempunyai spesifikasi yang berbeda / beda terkait dengan jumlah rak / tray serta beban maksimal sampel yang ditaruh di dalam setiap rak tersebut. Disarankan membaca spesifikasi yang terdapat di dalam manual book alatnya.
  • Sterilkan ruangan inkubator berikut rak nya dengan menyemprotkan desinfektan alkohol 70 %
  • Lap kembali ruang inkubator dan rak-raknya dengan kain kering.
  • Pasang kembali tray / rak ke dalam inkubator.

Jenis Inkubator Laboratorium

Ada 3 jenis inkubator yang mungkin salah satunya atau bahkan ketiga-tiga nya sudah kita kenal. Perbedaan tersebut tentunya dikarenakan salah satunya adalah bakteri yang kita tangani juga berbeda-beda.

3 Jenis inkubator tersebut adalah :

  • General Inkubator

Inkubator ini biasa kita gunakan untuk bakteri secara umum untuk inkubasi pada suhu 37 °C

  • Inkubator berpendingin

Inkubator ini khusus untuk bakteri atau mikroba yang penanganannya di bawah suhu ambient, misalnya : jamur yang perlu diinkubasi pada suhu 20 °C.

  • Inkubator CO2

Inkubator CO2 ini terdapat penambahan gas CO2 di mana bakteri yang kita tangani bersifat an areob dimana bakteri tersebut tidak menggunakan oksigen untuk inkubasinya. Inkubator ini mampu menyediakan keadaan kaya karbondioksida.

Kalibrasi Inkubator Laboratorium

kalibrasi inkubator laboratorium

Hampir sama dengan oven, prinsip dari kalibrasi inkubator laboratorium ini adalah enclosure, dimana beberapa standar thermocouple diletakkkan di dalam inkubator, kemudian dilakukan pembacaan pada thermometer loggernya Dari hasil kalibrasi ini kita akan mengetahui temperature spasial, temperature temporal, temperature overall, serta ketidakpastian pengukuran yang didapatkan.

Metode acuan yang bisa digunakan untuk melakukan kalibrasi inkubator laboratorium ini adalah AS 2853 : 1986 Enclosures Temperature-controlled Performance testing and grading. Namun karena standar ini sudah ditarik oleh pembuatnya, sehingga jika kita sudah menerapkan sistem manajemen ISO 17025 maka standar ini haruslah divalidasi jika kita tetap ingin menggunakannya. Atau jika teman-teman ingin lebih efektif / efisien, mungkin bisa dipertimbangkan dengan menggunakan layanan laboratorium kalibrasi.

Aspek dan Annex CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) pada PBF

cara distribusi obat yang baik (CDOB)

Artikel berikut ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya mengenai Implementasi Penerapan CDOB pada Pedagang Besar Farmasi (PBF), dimana pada postingan tersebut kita baru membahas mengenai 3 aspek dari CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik). Nah untuk aspek ke 4 s/d ke 9, serta ketiga annex CDOB akan kita bahas disini.

Aspek 4 – Operasional

Aspek operasional memiliki beberapa cakupan, yaitu :

  • Kualifikasi pemasok
  • Kualifikasi pelanggan
  • Penerimaan
  • Penyimpanan
  • Pemisahan obat dan bahan obat
  • Pemusnahan obat dan bahan obat
  • Pengambilan
  • Pengemasan
  • Pengiriman
  • Ekspor dan impor

Bagaimana prosedur dan implementasinya di Pedagang Besar Farmasi (PBF) :

Kualifikasi Pemasok

Dimana suatu PBF harus memperoleh pasokan Obat atau bahan obat dari pemasok yang mempunyai izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan, serta sudah menerapkan CDOB bagi PBF lain dan CPOB bagi industri dan juga mempertimbangkan reputasi atau tingkat keandalan serta keabsahan operasionalnya serta mempertimbangkan obat atau bahan obat tertentu yang rawan terhadap pemalsuan dan juga mempertimbangkan juga penawaran obat atau bahan obat dalam jumlah besar yang biasanya itu hanya tersedia dalam jumlah terbatas, serta juga mempertimbangkan harga yang tidak wajar dari pemasok.

Kualifikasi Pelanggan

Dimana suatu PBF itu harus memastikan bahwa obat atau bahan obat hanya disalurkan kepada pihak yang berhak atau berwenang untuk menyerahkan obat kemasyarakat dengan melakukan pemeriksaan serta pemeriksaan ulang secara berkala dan pemantauan setiap transaksi yang dilakukan serta melakukan penyelidikan jika ditemukan penyimpangan pola transaksi Obat atau bahan obat yang beresiko terhadap penyalahgunaan.

Penerimaan

Dimana obat atau bahan obat yang diterima dari sarana transportasi harus diperiksa sebagai bentuk verifikasi terhadap keutuhan kontainer atau sistem penutupnya. Fisik dan fitur kemasan serta label kemasan dan nomer bets dan tanggal kadaluarsa obat atau bahan obat harus dicatat pada saat penerimaan tersebut untuk memudahkan penelusuran jika terjadi permasalahan dan jika ditemukan obat atau bahan obat yang diduga palsu bets tersebut harus segera dipisahkan dan dilaporkan ke instansi berwenang dan ke pemegang izin edar yaitu Badan POM.

Penyimpanan

Penyimpanan dan penanganan obat atau bahan obat sesuai dengan kondisi penyimpanan rekomendasi dari industri farmasi atau non farmasi yang memproduksi serta teratur sesuai kategorinya apakah obat atau bahan obat tersebut dalam status karantina / diluluskan / ditolak / dikembalikan / ditarik ataupun yang diduga palsu.

Memastikan rotasi stock sesuai dengan tanggal kadaluarsa obat atau bahan obat mengikuti kaidah first expired first-out (FEFO) serta terlindung dari paparan cahaya matahari, suhu, kelembaban, atau faktor eksternal lainnya seperti :

  • Memperhitungkan kapasitas sarana penyimpanannya
  • Memperhitungkan kapasitas cara penyimpanan
  • Mencegah tumpahan, kerusakan, kontaminasi dan juga campur baur
  • Obat atau bahan obat yang kadaluarsa harus segera ditarik secara berkala
  • Untuk menjaga akurasi persediaan stok harus dilakukan stock opname secara berkala
  • Dokumentasi yang berkaitan dengan penyelidikan harus disimpan untuk jangka waktu yang telah ditentukan

Pemisahan Obat dan Bahan Obat

Obat atau bahan obat yang mempunyai persyaratan khusus harus disimpan ditempat terpisah dengan label yang jelas, aman dan terkunci, contohnya : Obat atau bahan obat yang ditolak, kadaluarsa, penarikan kembali, produk kembalian, dan juga obat yang diduga palsu. Akses masuk juga dibatasi hanya untuk personil-personil yang berwenang dan ditangani sesuai dengan prosedur yang tertulis.

Pemusnahan Obat dan Bahan Obat

Obat atau bahan obat yang akan dimusnahkan harus diidentifikasi secara tepat diberi label yang jelas disimpan secara terpisah dan terkunci serta ditangani sesuai dengan prosedur tertulis dengan memperhatikan dampak terhadap kesehatan, pencegahan pencemaran lingkungan, dan kebocoran, atau penyimpangan obat, atau bahan obat kepada pihak yang tidak berwenang. Proses pemusnahan obat atau bahan obat termasuk laporannya itu harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta terdokumentasi.

Pengambilan

Proses pengambilan obat atau bahan obat itu juga harus dilakukan dengan tepat sesuai dengan dokumen yang tersedia untuk memastikan obat atau bahan obat yang diambil benar dengan memperhatikan masa Simpan yang cukup sebelum kadaluarsa dan berdasarkan first expired first-out (FEFO) serta nomor bets obat atau bahan obat tersebut harus dicatat.

Pengemasan

Obat atau bahan obat itu harus dikemas sedemikian rupa dan tersegel sehingga kerusakan, kontaminasi, dan pencurian dapat dihindari

Pengiriman

Obat atau bahan obat itu harus ditujukan kepada pelanggan yang mempunyai izin termasuk juga ekspor obat itu juga hanya didapat dilakukan oleh PBF yang memiliki izin. proses pengiriman itu mempertimbangkan kondisi penyimpanan obat atau bahan obat itu sesuai dengan persyaratan dari industri farmasi dan terdokumentasi, serta dokumentasi tersebut harus disimpan dan mampu ditelusuri.

Dalam pengiriman obat atau bahan obat itu juga harus memiliki prosedur tertulis untuk pengiriman obat atau bahan obat yang dan dilengkapi dengan dokumen untuk pengiriman obat atau bahan obat tersebut. Sedangkan untuk ekspor obat atau bahan obat itu dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Aspek 5 : Inspeksi Diri

Program inspeksi diri harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditetapkan dan mencakup semua aspek CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, pedoman, dan prosedur tertulis yang dilakukan secara independen dan rinci oleh personil yang kompeten yang ditunjuk oleh perusahaan.

Semua pelaksanaan inspeksi diri ini harus dicatat kemudian laporan itu harus berisi semua pengamatan yang dilakukan selama inspeksi.

Salinan laporan tersebut harus disampaikan kepada manajemen dan pihak terkait lainnya, jika dalam pengamatan ditemukan adanya penyimpangan atau kekurangan maka penyebabnya harus diidentifikasi dan dibuat dan dibuat CAPA (Corective Action Preventive Action) dimana CAPA tersebut harus didokumentasikan dan ditindaklanjuti.

Aspek 6 : Keluhan Obat / Bahan Obat Kembalian Diduga Palsu & Penarikan Kembali

Semua keluhan dan informasi lain tentang obat atau bahan obat yang berpotensi rusak itu harus dikumpulkan, dikaji, dan diselidiki sesuai dengan prosedur yang tertulis. Obat atau bahan obat yang akan dijual kembali itu harus melalui persetujuan dari personil yang bertanggungjawab sesuai dengan kewenangannya.

Diperlukan koordinasi dari setiap instansi, industri farmasi, dan fasilitas-fasilitas distribusi dalam menangani obat atau bahan obat yang diduga palsu. jika diperlukan atau dibutuhkan suatu sistem yang komprehensif untuk menangani semua kasus termasuk cara penarikan kembali. Harus tersedia dokumentasi untuk setiap proses penanganan keluhan termasuk ke pengembalian dan penarikan kembali serta dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

Aspek 7 : Transportasi

Dimana prosedur di PBF terkait dengan transportasi ini  adalah :

  • Harus diterapkan metode transportasi yang memadai dan aman disertai dengan dokumentasi yang sesuai.
  • Obat atau bahan obat harus diangkut dengan kondisi penyimpanan sesuai dengan informasi pada kemasan
  • Metode transportasi yang tepat harus digunakan mencakup transportasi melalui darat, laut, udara, atau kombinasi di atas dengan personel yang sudah terlatih CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik)
  • Apapun metode transportasi yang dipilih harus dapat menjamin bahwa Obat atau bahan obat tidak mengalami perubahan kondisi selama transportasi yang dapat mengurangi mutu dari obat ataupun bahan obat tersebut

Aspek 8 : kontrak

Semua kegiatan kontrak harus tertulis antara pemberi kontrak, penerima kontrak, serta setiap kegiatan itu harus sesuai dengan persyaratan CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) kemudian dokumen kontrak harus dapat ditunjukkan kepada petugas yang berwenang pada saat pemeriksaan di PBF

Aspek 9 : Dokumentasi

Dokumentasi yang tertulis harus jelas untuk mencegah kesalahan dari komunikasi lisan dan untuk memudahkan penelusuran, antara lain yaitu sejarah bets, instruksi, dan prosedurnya. kemudian dokumentasi itu harus dibuat pada saat kegiatan berlangsung sehingga mudah untuk ditelusuri nantinya. dokumen Itu harus disimpan selama minimal 3 tahun dan kemudian dokumen itu harus dikaji ulang secara berkala dan dijaga agar selalu up to date.

Annex CDOB (Cara Distibusi Obat yang Baik)

Annex 1 : Bahan Obat

Pengemasan bahan obat ini memiliki beberapa cakupan, yaitu :

Pengemasan ulang dan pelabelan ulang, dimana untuk bahan obat ini harus dilakukan pada bets yang sama dan pelaksanaan proses tersebut harus sesuai dengan CPOB kemudian sertifikat analisis asli dari industri farmasi asal harus disertakan dan suatu PBF yang melakukan pengemasan ulang harus memastikan bahwa stabilitas obat tidak terpengaruhi oleh pengemasan ulang.

Penanganan obat yang tidak sesuai

Harus ditangani sesuai dengan prosedur yang dapat mencegah masuknya bahan obat tersebut ke pasar, kemudian dilakukan penyelidikan pada bets yang lain dan bahan obat yang tidak sesuai tersebut tidak boleh dicampur dengan bahan obat yang memenuhi spesifikasi.

Bahan obat dari industri farmasi asal yang disalurkan kepada fasilitas distribusi harus disertai dengan sertifikat analisis sebelum bahan obat itu dijual atau didistribusikan sebagai dokumentasi dari annex tersebut.

Dengan hasil uji yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, label yang tercantum pada wadah harus jelas, tidak memberikan penafsiran ganda tertempel dengan kuat dalam format yang telah ditetapkan oleh industri farmasi bahan obat asal. Informasi pada label harus tidak mudah terhapuskan dan lembar data keamanan itu harus tersedia.

Annex 2 : produk rantai dingin atau Cold Chain Product atau CCP

Dimana latihan untuk menangani produk CCP ini harus dilakukan secara sistematik dan berkala bagi seluruh personel yang terlibat dalam penanganan produk rantai dingin, kemudian area yang memadai harus disediakan untuk menerima dan juga mengemas produk rantai dingin yang akan dikirimkan pada kondisi suhu yang terjaga. Area ini hendaknya dekat dengan area penyimpanan yang suhunya terjaga kemudian produk rantai dingin itu harus dipastikan disimpan dalam ruangan dengan suhu terjaga seperti pada cold room atau Chiller pada suhu 2 s/d 8 °C dan freezer -25 s/d – 15 °C

Annex 3 : Narkotika dan Psikotropika

Narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi di mana untuk pengadaan, penyimpanan, sampai juga pendistribusian dari narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi wajib memenuhi ketentuan aturan perundang-undangan serta wajib menyampaikan laporan bulanan penyaluran narkotika, psikotropika, atau prekursor Farmasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=o2Lu271TCtY&t=145s

Implementasi Penerapan CDOB pada Pedagang Besar Farmasi (PBF)

pedagang besar farmasi

Perkembangan industri farmasi di indonesia sangatlah pesat. Namun untuk tetap menjaga mutu obat yang dihasilkan, maka kualitas di semua rantai distribusi tetaplah harus dikendalikan. Nah pada artikel ini, kita akan belajar mengenai bagaimana pelaksanaan prosedur cara distribusi obat yang baik atau CDOB di Pedagang Besar Farmasi (PBF).

Pengertian Pedagang Besar Farmasi (PBF)

Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau biasa disebut dengan Perusahaan Distributor Obat adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Apa saja sih ketentuan perundang-undangan yang mengatur Pedagang Besar Farmasi (PBF) ?

Berikut ini adalah regulasi sistem distribusi kefarmasian :

  • Permenkes nomor 1148 Tahun 2011 tentang pedagang besar farmasi (PBF)
  • Permenkes nomor 34 Tahun 2014 tentang perubahan Permenkes 1148 tahun 2011
  • Permenkes nomor 30 Tahun 2017 tentang perubahan kedua Permenkes 1148 tahun 2011
  • Peraturan Kepala Badan POM No. HK 03.1.34.11.7542 tahun 2012 tentang pedoman teknis cara distribusi obat yang baik (CDOB)

Seluruh kegiatan operasional yang dilakukan di Pedagang Besar Farmasi (PBF) harus mengacu pada Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB)

Pengertian CDOB

CDOB atau Cara Distribusi Obat yang Baik merupakan cara distribusi atau penyaluran obat yang bertujuan untuk memastikan mutu sepanjang jalur distribusi sesuai persyaratan dan tujuan penggunaannya. Dalam operasionalnya baik PBF pusat maupun PBF cabang harus menerapkan aspek dan juga annex yang ada pada CDOB.

Aspek CDOB

  1. Manajemen Mutu
  2. Organisasi manajemen dan personalia
  3. Bangunan dan peralatan
  4. Operasional
  5. Inspeksi diri
  6. Penanganan keluhan, kembalian, diduga palsu dan Recall
  7. Transportasi
  8. Sarana distribusi berdasarkan kontrak
  9. Dokumentasi

Aneks CDOB

  1. Bahan obat
  2. Produk Rantai dingin atau CCP
  3. Narkotika dan psikotropika

Aspek 1 : Manajemen Mutu

Aspek ini memiliki beberapa cakupan, yaitu :

  • Sistem mutu
  • Pengelolaan sediaan berdasarkan kontrak
  • Kajian dan pemantauan manajemen
  • Manajemen resiko mutu

Prosedur dan implementasinya di PBF terkait manajemen mutu ini adalah :

  • Suatu PBF harus memiliki Kebijakan mutu yang terdokumentasi

Suatu PBF harus memastikan obat atau bahan obat diperoleh, disimpan, disediakan, dikirimkan, atau diekspor dengan cara yang sesuai dengan persyaratan CDOB dan apabila terdapat obat palsu atau diduga palsu, segera memberitahu Badan POM yang merupakan pemegang izin edar suatu obat

  • Di dalam PBF terdapat suatu organisasi untuk memastikan bahwa sistem mutu disusun, diterapkan, dan dapat dipertahankan.

Semua kegiatan yang berkaitan dengan mutu obat harus dicatat pada saat kegiatan tersebut dilakukan, jika terjadi penyimpangan terhadap prosedur yang sudah ditetapkan maka penyimpangan tersebut didokumentasikan dan diselidiki, kemudian dilakukan tindakan perbaikan dan pencegahan atau CAPA (Corective Action Preventive Action) yang tepat untuk memperbaiki dan mencegah terjadinya penyimpangan kembali.

  • Suatu PBF harus melakukan penilaian kualifikasi baik itu pemasok atau customer dengan memeriksa status legalitasnya kemudian untuk melakukan suatu kegiatan baik pengadaan atau pendistribusian maka harus dituangkan dalam perjanjian tertulis antara pemberi dan penerima kontrak serta selalu memantau kinerja dan penerima kontrak tersebut
  • Dalam pemastian mutu suatu obat atau bahan obat di PBF maka harus dilakukan pengkajian sistem manajemen mutu secara periodik dan hasilnya dikomunikasikan secara efektif.
  • Suatu PBF itu harus melakukan penilaian terhadap resiko secara berkesinambungan yang mungkin terjadi pada mutu dan integritas mutu suatu bahan obat

Aspek 2 : Organisasi, Manajemen, dan Personalia

Aspek ini memiliki beberapa cakupan, yaitu :

  • Organisasi dan manajemen
  • Penanggungjawab
  • Personel lainnya
  • pelatihan
  • higiene personil

Untuk prosedur dan implementasi pada PBF antara lain :

  • Suatu PBF harus memiliki struktur organisasi untuk tiap bagian yang dilengkapi dengan bagan organisasi dan tanggung jawab yang jelas sehingga dapat dipahami oleh personel yang bersangkutan
  • Suatu PBF harus memiliki peraturan untuk memastikan bahwa manajemen dan personel tidak mempunyai konflik kepentingan dalam aspek komersial, politik, keuangan, dan tekanan
  • Suatu PDF harus memiliki seorang penanggung jawab yang memiliki kewenangan, tugas, serta tanggungjawab di PBF. penanggung jawabnya yaitu seorang apoteker yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi sesuai peraturan perundang-undangan dan juga telah memahami dan mengikuti pelatihan CDOB, bila tidak memungkinkan hadir maka bisa mendelegasikannya kepada tenaga teknis kefarmasian
  • Suatu pbf itu harus memiliki personil yang kompeten dengan jumlah yang memadai dan telah mengikuti pelatihan CDOB atau pelatihan khusus lainnya disertai dengan dokumentasi setiap melakukan pelatihan tersebut
  • Suatu PBF itu harus memiliki prosedur tertulis terkait higiene personil dan peraturan terkait prosedur keselamatan kerja, serta hak dan kewajiban. misalnya personil harus memakai pakaian pelindung K3 dan kemudian sanksi bagi setiap personil yang melakukan pelanggaran seperti salah satunya menyimpan makanan di area penyimpanan

Aspek 3 : Bangunan dan Peralatan

Aspek ketiga juga memiliki beberapa cakupan, yaitu :

  • Bangunan dan fasilitas
  • Suhu dan pengendalian lingkungan
  • Peralatan sistem komputer
  • Kualifikasi dan validasi

Berikut ini adalah penjelasan mengenai bagaimana aspek ketiga tersebut dilaksanakan di PBF :

  • Bangunan di PBF itu harus mempunyai keamanan dan kapasitas yang cukup dengan dilengkapi pencahayaan yang memadai, untuk memungkinkan semua kegiatan dilakukan dilaksanakan secara akurat dan aman
  • Jika bangunan bukan milik sendiri harus ada kontrak tertulis
  • Harus ada area penyimpanan khusus dan terpisah untuk obat atau bahan obat seperti narkotika, bahan mudah terbakar, dan obat khusus dengan pengendalian yang memadai untuk menjaga agar semua bagian terkait dengan area penyimpanan berada dalam parameter suhu, kelembaban udara, keselamatan, keamanan, dan pencahayaan yang dipersyaratkan,
  • Untuk obat atau bahan obat yang butuh penanganan lebih lanjut mengenai statusnya itu juga harus terpisah dan terkunci dari yang lainnya, seperti obat palsu, obat expired, atau yang dikembalikan, atau yang akan dimusnahkan dan yang lainnya
  • Ruang istirahat, toilet, dan kantin, Atau untuk personil itu harus terpisah dari penyimpanan, begitu juga untuk area penerimaan, penyimpanan, dan pengiriman itu juga harus terpisah dan dilengkapi dengan peralatan yang memadai serta melindungi dari kondisi cuaca
  • Akses masuk ke area penerimaan, penyimpanan, dan pengiriman itu hanya diberikan kepada personil yang berwenang
  • Bangunan dan fasilitas penyimpanan harus bersih dan bebas dari sampah ataupun debu dengan peralatan yang sesuai dan dilengkapi dengan prosedur tertulis dan juga terdokumentasikan
  • Bangunan dan fasilitas di PBF itu juga harus memiliki program pengendalian hama baik itu serangga maupun hewan pengerat lainnya
  • Harus tersedia prosedur tertulis dan peralatan yang sesuai untuk mengendalikan lingkungan selama penyimpanan Obat atau bahan obat dan juga area penyimpanan harus dipetakan pada kondisi suhu yang mewakili
  • Harus tersedia program perawatan untuk peralatan utama seperti thermohygrometer, genset, dan Chiller serta juga harus terdokumentasi
  • Sistem komputer itu harus diuji secara menyeluruh dan dipastikan kemampuannya memberikan hasil yang diinginkan serta harus tersedia prosedur tertulis yang rinci dari sistem yang digunakan, kemudian data harus dilindungi dengan membuat back up data secara berkala dan juga teratur. Back up data tersebut harus disimpan di lokasi terpisah dan aman selama tidak kurang dari tiga tahun atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan
  • Kegiatan kualifikasi atau validasi disuatu PBF itu harus direncanakan dan didokumentasikan kemudian laporan validasi tersebut harus memuat hasil validasi dan semua penyimpangan yang terjadi serta tindakan perbaikan dan pencegahan CAPA yang perlu dilakukan

Baik supaya artikel ini tidak terlalu panjang, maka untuk penjelasan pemenuhan aspek lain dari CPOB oleh Pedagang Besar Farmasi (PBF) akan diulas di postingan selanjutnya.

Berikut postingan berikutnya :

www.sentrakalibrasiindustri.com/aspek-dan-annex-cdob-cara-distribusi-obat-yang-baik-pada-pbf/

Referentsi :

www.youtube.com/watch?v=o2Lu271TCtY&t=145s

 

Kegunaan dan Ukuran Beaker Gelas, Plastik, dan Stainless Stell

beaker gelasSalah satu peralatan yang pasti dengan mudah kita temui di laboratorium kimia / biologi adalah beaker, baik itu yang terbuat dari gelas, plastik, ataupun stainless stell. Namun secara umum jika kita mengatakan beaker, identiknya yang dimaksud adalah beaker gelas. Berbeda dengan labu ukur / gelas ukur yang mempunyai ketelitan yang tinggi, beaker tentu hanya digunakan untuk proses pelarutan / penampungan tanpa menghiraukan tingkat keakuratan volume dari zat pelarut itu sendiri, Meskipun bukan termasuk ke dalam kategori alat untuk mengukur, keberadaan alat ini sangatlah penting. Untuk pengukuran volume pelarut tetap harus menggunakan gelas ukur, karena pada dasarnya beaker gelas ini adalah alat penampung, bukan alat pengukur.

Apa yang dimaksud dengan Beaker Gelas ?

Beaker gelas atau sering disebut dengan gelas piala adalah salah suatu alat laboratorium yang digunakan untuk menampung / melarutkan / memanaskan cairan hingga suhu lebih dari 200 derajat celsius.

Beaker gelas mempunyai 2 bagian utama yaitu :

  1. Skala
    Untuk menunjukkan volume larutan yang terdapat dalam beaker gelas tersebut.
  2. Paruh Tuang
    Untuk memudahkan analis dalam menuang cairan yang ada dalam beaker gelas tersebut.

Cara Mengambil dan Membersihakan Beaker Gelas

Untuk beaker gelas dengan ukuran volume yang besar pastikan pada saat mengambil beaker gelas lakukan dengan hati-hati dan pegang dengan kedua tangan sedangkan untuk membersihkan beaker gelas, cuci dengan air mengalir, lalu keringkan dengan menggunakan lap kering, kemudian simpan di tempat yang bersih dan kering / rak laboratorium.

Apa Fungsi Beaker Gelas

Alat ini digunakan dengan peralatan gelas lainnya seperti gelas ukur, labu ukur, dll untuk melakukan analisa suatu bahan misalnya : analisa bahan baku / raw material dalam suatu industri pangan, analisa kandungan vitamin C dalam suatu sampel, untuk membuat media mikrobiologi, uji organoleptik untuk melihat apakah sudah terjadi perubahan fisik (warna, aroma, dll) dari suatu bahan baku / sampel dimana untuk analisa yang bersifat organoleptik disarankan menggunakan beaker glass ini terbuat dari kaca borosilikat sehingga warna larutan yang ada di dalamnya pun terlihat jelas, dll

Beberapa Ukuran Beaker Gelas

Ada 2 model dari beaker gelas, yaitu model low form dan model tall form dimana dalam pemilihannya tergantu dari aplikasi analisa yang ada dalam laboratorium anda sendiri. beaker gelas model low form lebih memberikan variasi volume dibandingkan dengan yang tall form.

Berikut ini adalah contoh dari variasi ukuran volume untuk beaker gelas brand duran.

ukuran beaker gelas

beaker galss tall form

Dapat dilihat untuk beaker gelas low form, kita diberikan pilihan dari volume 5 ml s/d 10 liter. Tentunya hal ini dapat mengakomodasi hampir semua aktivitas analisa di laboratorium kita. Sedangkan untuk beaker gelas model tall form hanya tersedia dari volume 50 ml s/d 3 liter.

Bahan Gelas Beker Laboratorium

Bahan borosilicate tetap menjadi material yang diandalkan untuk perlatan gelas laboratorium. Bahan ini mempunyai kelbeihan yaitu ketebalan beaker gelas bisa seragam dengan permukaan yang halus serta tidak adanya kotoran sehingga pengukuran cairan di dalam beaker gelas inipun bisa tepat. Gelas beker dengan bahan ini juga tahan terhadap suhu tinggi serta adanya korosi sehingga kita tidak perlu khawatir jika ingin mereaksikan secara kimia bahan yang ingin kita uji dengan menggunakan beaker gelas.

Beaker Stainless Stell

beaker stainless stell

 

Beaker stainless stell ini tentunya mempunyai keunggulan dibandingkan dengan beaker gelas yang telah diulas diatas dimana untuk beaker yang terbuat dari stainless stell tidak akan pecah jika pada saat penggunaan jatuh ke lantai, selain itu untuk larutan / sampel dengan suhu tinggi tentunya lebih tahan dibandingkan dengan beaker gelas. Hampir sama dengan beaker gelas, beaker stainless stell juga tersedia dalam berbagai ukuran yaitu 125 ml s/d 4000 ml untuk beaker stainless stell yang tanpa handle, sedangkan untuk model dengan handle hanya tersedia dengan ukuran volume 2000 ml dan 3000 ml.

Harga beaker stainless stell ini tentunya bergantung dari merk pembuat, namun kurang lebih berikut hasil screen shoot harga beaker stainless stell.

harga beaker gelas steinless stell

Beaker plastik laboratorium

Secara fungsi tentunya hampir sama dengan beaker gelas dan beaker steinless stell. Mempunyai keunggulan seperti beaker stainless stell dimana tahan pecah, meskipun terkadang mempunyai kekurangan jika digunakan untuk analisa organoleptik dari segi warna yang tidak sebening beaker gelas. Beaker ini juga tersedia dalam berbagai ukuran serta tersedia dalam 2 model yaitu dengan handle ataupun tidak. Aplikasi yang paling sering untuk beaker jenis ini adalah digunakan untuk menampung aquadest sehingga membantu kegiatan analisa dalam laboratorium. Dari segi bahan, beaker plastik ini biasanya terbuat dari bahan polyprophylene yang mampu menahan panas pada suhu tertentu.

Berikut ini adalah beberapa model beaker plastik :

BRAND® ETFE beaker with spout, low form

BRAND® ETFE beaker with spout, low form

 

Model ini memberikan pilihan dari volume 25 ml s/d 1000 ml. Dengan adanya graduasi pada beaker plastik ini, sehingga memudahkan pengukuran volume cairan yang ditampung dalam beaker ini.

BRAND® PP beaker with spout, low form

BRAND® PP beaker with spout

Beaker pastik dengan bahan PP relatif lebih bening dari sisi warna, sehingga larutan yang kita tampung dalam beaker plastik PP ini lebih jelas terlihat dibandingkan jika ditampung di dalam beaker plastik ETFE. Beaker brand PP ini lebih banyak memberikan pilihan ukuran yaitu antara 10 ml s/d 5000 ml.

PTFE Beaker

PTFE Beaker

Selain bahan ETFE dan PTFE, kita juga dapat menemukan beaker dengan bahan PTFE. Beaker dengan material mempunyai warna putih.

Disposable beakers

Disposable beakers

Jenis beaker yang terkadang belum pernah kita temui adalah disposible beaker. Berikut ini adalah gambar dari beaker tersebut. Disposable beaker ini bisa kita temukan dengan ukuran kapasitas 50 ml s/d 1000 ml. Beaker ini terbuat dari bahan PP yang dapat di autoclave.

Berikut ini adalah spesifikasinya :

  • Autoclavable
  • Translucent PP with three dripless pouring spouts
  • Flat bottoms keep magnetic stir bars centered
  • Molded graduations

Jacketed beaker

Jacketed beaker

Jenis beaker ini tergolong paling jarang kita temukan di dalam laboratorium kimia yang hanya melakukan analisa sampel yang secara umum kita temui. Gambar diatas adalah gambar dari jacketed beaker ini. Pada bagian atas dan bagian bawah beaker ini terdapat koneksi yang berlawanan arah dengan ukuran 3/8 Inch. Cairan yang panas atau dingin disirkulasikan ke dalam jacket untuk menjaga temperature di dalam beaker tersebut. Jacketed beaker ini juga terbuat dari bahan borosilicate glass.

Beaker Gelas Ukuran 10 liter

Jika kita mengenal beaker terkadang hanya sampai ukuran 5 liter, namun jika teman-teman membutuhkan beaker dengan ukuran yang lebih besar, maka bisa mempertimbangkan Aldrich® large glass beaker. Beaker buatan Sigma-Aldrich ini terbuat dari material borosilicate glass, dengan dimensi 340 mm × 225 mm dan mampu menampung volume sampai dengan 10 liter. Namun yang harus diperhatikan beaker ini tidak mempunyai graduasi / skala yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui jumlah larutan yang ditampung. Selain brand tersebut, brand duran juga memiliki beaker gelas dengan kapasitas 10 liter yaitu Duran® beakers Z231932. Diameter dan tinggi dari beaker ini adalah 350 mm × 217 mm dengan menggunakan material borosilicate glass 3.3.

Referensi :

https://www.sigmaaldrich.com/ID/en