Pengukuran Intensitas Cahaya dengan Menggunakan Lux Meter

Pengukuran Intensitas Cahaya dengan Menggunakan Lux Meter

Intensitas cahaya merupakan salah satu parameter yang harus kita pantau dalam lingkungan kerja. Sedemikian pentingnya parameter ini sehingga ada beberapa regulasi yang mengaturnya, sebut saja :

  • Permenaker nomor 5 Tahun 2018 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
  • Permenkes 70 Tahun 2016 : Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri.
  • Permenkes 48 Tahun 2016 : Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Perkantoran.

Nah pada postingan kali ini kita akan belajar mengenai pengertian intensitas cahaya, contoh standar pencahayaan di kantor, dan lux meter sebagai alat ukur intensitas cahaya dari bagian-bagian alatnya, cara penggunaanya, sampai ke contoh pengukuran intensitas cahaya di ruangan.

Pengertian cahaya

Cahaya merupakan energi berbentuk gelombang dan sangat membantu kita untuk melihat. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter dimana 1 meter jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299.792.458 detik (kecepatan cahaya dikuatkan sebesar 299.792.458 meter per detik).

Tiga sumber pencahayaan berdasarkan pengukurannya :

  • Pencahayaan lokal

Penerangan di tempat objek kerja baik merupakan meja kerja maupun peralatan dimana intensitasnya kita ukur secara individu terhadap cahaya yang masuk di ruang tersebut.

  • Pencahayaan umum

Penerangan di seluruh area tempat kerja. Untuk ruang yang tidak teratur, misal adanya penghalang dan susunan lampu tidak teratur, maka titik-titik pengukuran acak dan banyak. Sedangkan untuk ruang yang teratur maka titik penguburannya berdasarkan luas ruangan.

Pencahayaan umum di seluruh area tempat kerja. Pencahayaan umum penerangan ini objek bukan di satu ruangan namun di banyak ruang. jadi kita itu bisa membandingkan cahaya yang masuk pada masing-masing ruangan tersebut

  • Pantulan cahaya atau reflektan

Pantulan cahaya yang diukur dengan cara membandingkan intensitas cahaya pantulan dengan intensitas sumber cahaya lokal.

Jenis Pencahayaan

  • Pencahayaan Alami

Sesuai namanya, sumber cahaya yang digunakan untuk pencahayaan alami ini adalah sinar matahari, dan tentunya untuk mendapatkan cahaya dari sinar matahari ini kita memerlukan dinding kaca, jendela, dll. Meskipun mempunyai keuntungan dapat mengurangi energi listrik, pencahayaan alami ini juga dianggap tidak seefektif dari pencahayaan buatan karena mempunyai intensitas yang tidak tetap.

  • Pencahayaan Buatan

Pencahayaan jenis ini berasal dari sumber cahaya selain sinar matahari. Dianggap lebih efektif digunakan di lingkungan kerja terutama untuk lokasi yang tidak adapat dijangkau oleh pencahayaan alami.

Pencahayaan buatan berdasarkan SNI 03-6197-2000 meliputi hal-hal berikut ini :

    1. Pencahayaan darurat
    2. Pencahayaan untuk fasilitas olahraga dalam ruangan.
    3. Pencahayaan untuk bidang kedokteran
    4. Pencahayaan untuk museum, galeri, dan monument
    5. Pencahayaan di siaran TV, bioskop, presentasi audio visual

Pengertian intensitas cahaya

satuan intensitas cahaya

Intensitas cahaya adalah kuat cahaya yang dikeluarkan oleh sebuah sumber cahaya ke arah tertentu. Alat yang digunakan untuk mengukur besarnya intensitas cahaya ini adalah lux meter.

Intensitas cahaya merupakan salah satu dari 7 besaran pokok yang telah kita bahas di artikel pengertian pengukuran sebelumnya. Satuan intensitas cahaya adalah Candela (Cd).

Pada umumnya cahaya memiliki 4 faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pencahayaan :

  • Kontras
  • Silau
  • Refleksi cahaya
  • kualitas warna cahaya

Standar Pencahayaan Di Perkantoran

Untuk melakukan pekerjaan yang baik, tentunya kita juga membutuhkan pencahayaan yang sesuai dengan standar. Pencahayaan yang berlebih ataupun kurang tentunya akan berakibat buruk pada kesehatan pekerja.

Dampak dari Pencahayaan yang Kurang, antara lain :

  1. Pandangan yang kabur.
  2. Pusing.
  3. Mata memerah dan berair.
  4. Menurunnya ketajaman visual, kepekaan kontras serta kecepatan persepsi.
  5. Menurunnya kekuatan akomodasi.

Sedangkan dampak dari Pencahayaan berlebih / silau , antara lain :

  1. Bekerja tidak nyaman
  2. Susah untuk melihat
  3. Mata cepat lelah
  4. Mata sakit
  5. dll

Permenkes 48 Tahun 2016 tentang standar K3 perkantoran memuat standar pencahayaan di perkantoran tersebut dengan nilai sebagai berikut :

standar intensitas cahaya di perkantoran

Pada satuan diatas tertulis Lux, dimana satuan ini digunakan untuk menghitung kekuatan cahaya, atau jumlah cahaya yang bersinar pada permukaan tertentu.

Lux = Lumen / m2.

Dimana lumen merupakan satuan flux cahaya yang dipancarkan dalam satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela.

Lux Meter : Alat Ukur Intensitas Cahaya

Bagi perusahaan yang menerapkan sistem manajemen K3, tentunya tidak asing lagi dengan alat ini, karena pastinya pengukuran tingkat penerangan di ruangan kerja di kontrol secara berkala apakah masih memenuhi standar yang telah ditentukan.

Seperti alat ukur pada umumnya, lux meter juga dapat kita temukan dalam tipe analog maupun digital. Alat ini mempunyai 3 bagian utama yaitu layar panel, sensor dengan sel foto, dan rangka. Dalam penggunaannya sensor alat tersebut diletakkan pada sumber cahaya yang ingin diukur intensitasnya.

Prinsip kerja lux meter adalah cahaya yang menyinari sel foto dalam bentuk energi akan diteruskan oleh sel foto menjadi arus listrik. Sensor alat ini menggunakan photo diode yang termasuk dalam jenis sensor optic yang mampu mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, bias cahaya yang mengenai area tertentu, atau pantulan cahaya.

Kekuatan arus ini akan semakin besar jika cahaya yang diserap semakin banyak dimana hasil pengukuran intensitas cahaya ini akan ditampilkan pada layar / display alat.

Bagian-Bagian Alat Lux Meter

bagian bagian lux meter

Untuk membahas bagian-bagian lux meter ini, kita menggunakan unit Digital Lux Meter VICTOR 1010C dengan tampilan seperti gambar dibawah ini.

  • Tombol ON / OFF

Sebagaimana alat ukur lainnya, tombol ini berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan unit.

  • Tombol Range

Tombol ini untuk memilih rentang ukur yang akan kita gunakan. Jika kita tekan tombol ini secara berurutan akan menunjukkan rentang ukur yang dapat kita pilih yaitu :

200 > 2000 > 20000 > 200000 > AUTO.

Jika kita memilih auto artinya rentang ukur akan dipilih secara otomatis berdasarkan intensitas sinar yang diukur.

  • Display

Pada bagian display ini kita dapat melihat dari informasi seting dan hasil pengukuran.

  • Sensor

Bagian yang mungkin bisa dianggap paling penting karena berfungsi sebagai sensor untuk menangkap cahaya yang akan diukur. Karena bersifat sensitif makan disarankan untuk selalu membersihkannya dengan tissue serta dijaga supaya tidak terkena air.

  • Tombol Hold

Tombol ini berfungsi untuk mengunci hasil pengukuran dengan cara menekan tombol tersebut 1 x.

Cara Menggunakan Lux Meter

Berikut ini adalah tahapan menggunakan Digital Lux Meter VICTOR 1010C :

  1. Tekan tombol ON / OFF sehinbgga display menyala
  2. Tekan tombol range sesuai dengan rentang pengukuran yang akan dilakukan, atau pilih AUTO.
  3. Hadapkan sensor lux meter dengan posisi horisontal ke sumber cahaya yang akan diukur.
  4. Baca data hasil pengukuran pada layar
  5. Selesai

Prosedur Perawatan Lux Meter

  1. Jangan menyimpan atau mengoperasikan lux meter pada temperatur dan kelembaban yang tinggi.
  2. Jaga kebersihan disk plastik putih pada sensor lux meter
  3. Lakukan kalibrasi lux meter secara berkala untuk menjaga keakuratan alat. Untuk melakukan kalibrasi lux meter tersebut bisa menggunakan laboratorium kalibrasi yang sudah terakreditasi KAN.

Pengukuran Intensitas Pencahayaan di Tempat Kerja

Pada pengukuran ini, acuan yang digunakan adalah SNI 7062 : 2019 yang berjudul “Pengukuran intensitas pencahayaan di tempat kerja”.

Sebelum melakukan pengukuran pastikan alat lux meter sudah dalam kondisi terkalibrasi dan unit alat berfungsi dengan baik.

  • Siapkan juga meteran untuk mengukur dimensi ruangan dimana pengukuran akan dilakukan.
  • Siapkan formulir pengukuran.
  • Penentuan titik pengukuran
    1. Luas ruangan < 50 m2, 1 titik pengukuran mewakili area maksimal 3 m2.
    2. Luas ruangan 50 m2 s/d 100 m2, minimal 25 titik pengukuran.
    3. Luas ruangan > 100 m2, minimal 36 titik pengukuran.

Catatan : Untuk titik pengukuran merupakan titik temu antara dua garis diagonal panjang dan lebar ruangan.

  • Lakukan pengukuran dengan menggunakan lux meter
    1. Pada titik yang telah ditentukan.
    2. Ketinggian sensor alat 0.8 meter dari lantai.
    3. Pengukuran pada titik yang sama sebanya 3 x.
    4. Catat hasil pengukuran pada formulir yang telah disediakan.
    5. Hitung hasil rata-rata pengukuran.

Harga Lux Meter Digital

harga lux meter digital

Harga lux meter digital VICTOR 1010C dipasaran relatif murah, bahkan hasil survey kami di beberapa marketplace unit ini bisa kita dapatkan pada kisaran harga 400 ribu s/d 700 ribu rupiah. Lebih murah dibandingkan dengan biaya kalibrasi lux meter itu sendiri.

Semoga bermanfaat.

Sumber gambar :

www.builder.id/lux-meter/

Pengertian CAPA (Corrective Action and Preventive Action)

Pengertian CAPA (Corrective Action and Preventive Action)

Proses dalam suatu perusahaan, meskipun sudah direncanakan dan dikendalikan semaksimal mungkin, namun tetap saja terkadang terjadi ketidaksesuaian. Harapan kita, tentunya ketidaksesuaian ini cepat teratasi dan tidak terulang kembali di kemudian hari dengan melakukan tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan (TPP) atau CAPA (Corrective Action dan Preventive Action). Pada artikel ini kita akan belajar terkait dengan CAPA baik dari pengertian, siapa serta cara menyusun CAPA tersebut.

Pengertian CAPA (Corrective Action dan Preventive Action)

tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan

CAPA / Tindakan Perbaikan dan Pencegahan (TPP) merupakan suatu upaya untuk :

  1. Mengatasi ketidaksesuaian terhadap standar, pedoman, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (corrective action).
  2. Menghindari terjadinya ketidak sesuaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan cara proaktif melakukan tindakan peningkatan (preventive action)

Mengapa dan Siapa yang Menyusun CAPA ?

Mengapa kita harus menyusun CAPA?

  1. Karena penyusunan CAPA akan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha diantaranya :
  2. Mencegah kerugian yang mungkin terjadi seperti kerusakan produk.
  3. Meningkatkan kepatuhan terhadap standar pedoman dan ketentuan yang berlaku.

Dalam menyusun CAPA sangat diperlukan kerjasama tim antara :

  1. Manajemen atau pemilik usaha sebagai fasilitator.
  2. Penanggungjawab sebagai team leader dan
  3. Personil terkait lainnya.

Perlu diingat bahwa kunci keberhasilan CAPA ditentukan oleh komitmen dan keterlibatan dalam tim tersebut.

Kapan Menyusun CAPA ?

CAPA disusun sesegera mungkin apabila :

  1. Terdapat penyimpangan dalam operasional, misalnya dalam perusahaan farmasi : terjadi kenaikan suhu ruang penyimpanan, beberapa obat diletakkan di lantai tanpa dialasi palet, atau tidak konsisten dalam penulisan nomor batch dan kadaluarsa pada kartu stok atau sistem.
  2. Ada temuan saat audit internal / inspeksi diri.
  3. Ada temuan audit eksternal, misalnya pemeriksaan dari instansi pemerintah seperti Badan POM.
  4. Ada keluhan atau komplain dari pelanggan.

Persyaratan CAPA

  1. Bisa mengatasi ketidak sesuaian atau temuan sampai dengan akar masalah.
  2. Sesuai persyaratan atau ketentuan yang berlaku.
  3. Dapat diterapkan sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki pelaku usaha tersebut tentunya sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

Format / Template CAPA (corrective and preventive action)

Berikut ini adalah salah satu dari format CAPA

cara membuat capa

  • Kolom I. Nomor, diisi dengan nomor
  • Kolom II. Temuan dan observasi, diisi dengan temuan hasil pemeriksaan oleh auditor
  • Kolom III. GAP Analysis, diisi dengan akar penyebab masalah terjadinya ketidak sesuaian dengan persyaratan
  • Kolom IV. Dampak, diisi dengan akibat yang ditimbulkan apabila tidak sesuai dengan persyaratan
  • Kolom V. TPP (Tindakan perbaikan dan pencegahan) atau CAPA (Corrective Action dan Preventive Action), diisi dengan rencana tindakan perbaikan dan pencegahan.
  • Kolom VI. Batas Waktu penyelesaian, diisi dengan batas waktu penyelesaian semakin cepat masalah diselesaikan maka semakin kecil kerugian yang ditimbulkan.
  • Kolom VII. PIC, diisi dengan personel yang bertanggungjawab sesuai dengan uraian tugas misalnya : apoteker atau karyawan lain yang ditunjuk.
  • Kolom VIII. Bukti perbaikan diisi dengan bukti telah dilaksanakannya perbaikan, bukti perbaikan dapat berupa dokumen atau foto. Jika perbaikan yang dilakukan dengan pembuatan SOP / prosedur, maka dokumen SOP harus dilampirkan. Selain itu bukti sebelum dan sesudah perbaikan juga dilampirkan.

Cara Membuat CAPA

  • Identifikasi masalah

Identifikasi masalah yaitu menetapkan masalah secara jelas spesifik. Masalah merupakan penyimpangan terhadap target atau standar. Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mempelajari data yang tersedia. bentuk-bentuk masalah antara lain reject / penolakan, kesulitan atau hambatan atau kekurangan, kecelakaan, pemborosan, atau biaya yang tinggi.

  • Evaluasi

Dilakukan untuk menentukan prioritas masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu, meskipun semua masalah pada akhirnya harus diselesaikan. Evaluasi mencakup besarnya dampak seperti biaya, keamanan, kepuasan pelanggan, tingkat keseriusan masalah (seberapa mendesak masalah harus segera diselesaikan), dan frekuensi terjadinya masalah.

  • Investigasi

Investigasi diawali dengan menyusun rencana investigasi dan melakukan investigasi termasuk dari sisi eksternal untuk menentukan sebab-sebab terjadinya masalah.

  • Analisa

Analisa penyebab masalah dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain :

Diagram tulang ikan / fishbone a/ ishikawa, metode pohon Logika, dan metode pareto.

Analisa akar penyebab masalah juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode bertanya “mengapa sebanyak lima kali atau lebih dikenal dengan istilah five why”. Meskipun tidak dipatok sebanyak lima kali, namun boleh lebih maupun kurang.

Penggunaan “why” adalah sampai batas wewenang pelaku usaha jika jawaban dari “why” sudah diluar wewenang pelaku usaha maka berhenti dan “why” terakhir yang masih dalam batas kewenangan pelaku usaha itulah yang merupakan akar penyebab masalah.

Jawaban dari “why” harus sesuai fakta bukan opini dimana “why” lah punya merupakan akar atau penyebab dari “why” sebelumnya.

Hasil dari metode “five ways” inilah yang dituliskan di kolom gap analysis dalam format CAPA.

  • Rencana tindakan

Dilakukan dengan menentukan metode atau cara terbaik dan untuk mencegah terjadinya pengulangan masalah di kemudian hari.

Rencana tindakan memuat semua tugas atau pekerjaan secara jelas, penanggung jawab atau pelaksana atau PIC dan batas waktu pelaksanaan perbaikan.

  • Implementasi

Lakukan implementasi dari rencana tindakan dan mengomunikasikan terhadap pihak terkait baik internal maupun eksternal.

  • Tindak lanjut

Berfungsi untuk memverifikasi dan menilai efektivitas dari kegiatan yang telah dijalankan termasuk memastikan bahwa semua karyawan memahami perubahan yang telah dijalankan.

Adapun hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan CAPA antara lain :

  • Tentukan akar penyebab masalah. akar penyebab masalah bukan berupa Pengulangan dari temuan.
  • Mencantumkan batas waktu pelaksanaan perbaikan dan PIC atau penanggungjawab untuk masing-masing tahap perbaikan.
  • Menyertakan bukti perbaikan termasuk kondisi sebelum dan sesudah perbaikan.

Contoh Tindakan Perbaikan dan Tindakan Pencegahan (TPP) / CAPA

five why why analysis

Contoh 1 :

Temuan penyimpanan produk rantai dingin atau CCP yang memiliki syarat penyimpanan 2 – 8 °C tidak dilakukan monitoring suhu.

Untuk menentukan akar penyebab masalah dapat digunakan metode “five why”dimana “why” selanjutnya adalah penyebab atau akar dari why” sebelum.

  • “Why 1” Mengapa penyimpanan CCP tidak dilakukan monitoring suhu?

Karena tidak tahu kalau menyimpan CCP harus dilakukan monitoring suhu.

  • “Why 2” Mengapa tidak tahu kalau menyimpan CCP harus dilakukan monitoring suhu?

Karena tidak tercantum pada sop penyimpanan.

  • “Why 3” Mengapa tidak tercantum pada SOP penyimpanan?

Karena tidak membaca peraturan terkait penyimpanan CCP.

  • “Why 4” Mengapa tidak membaca peraturan terkait di penyimpanan CCP.

Karena tidak ada waktu membaca peraturan.

  • “Why 5”  Mengapa tidak membaca peraturan?

Dari analisa diatas dapat kita ketahui bahwa mulai “Why 4” dan “Why 5” sudah diluar wewenang, sehingga akar penyebab masalah adalah “Why 3” yaitu tidak tercantum pada SOP penyimpanan.

Setelah didapatkan akar penyebab masalah kita dapat menyusun rencana tindakan perbaikan dan pencegahan dari kasus tersebut.

Rencana tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan (TPP)/ CAPA yang dapat disusun adalah :

  1. Melakukan inventarisasi persyaratan-persyaratan penyimpanan CCP, meninjau ulang, dan menyusun SOP sesuai peraturan yang berlaku.
  2. Menunjuk petugas untuk melakukan monitoring suhu CCP secara rutin dan mensosialisasikan perubahan SOP kepada semua karyawan.

Bukti sosialisasi dapat berupa daftar hadir foto atau notulensi yang berisi waktu pelaksanaan jumlah peserta, pelaksana sosialisasi, dan materi sosialisasi.

contoh 2 :

Temuan saat penerimaan obat tidak dilakukan pengecekan terhadap nomor izin edar dan nomor bets.

Penentuan akar penyebab masalah menggunakan metode “five why”

  • “Why 1”

Penerimaan obat tidak dilakukan pengecekan terhadap nomor izin edar dan nomor bet.

Dikarenakan..

  • “Why 2” karena tidak tahu kalau terima obat harus dicek nomor izin edar dan nomor bets.

Dikarenakan…

  • “Why 3” karena tidak pernah membaca sop penerimaan.

Dikarenakan…

  • “Why 4” tidak ada waktu untuk membaca mandiri.

Dari analisa diatas diketahui bahwa “Why 4” sudah diluar wewenang pelaku usaha sehingga akar penyebab masalah adalah “Why 3” yaitu tidak pernah membaca SOP / prosedur penerimaan diakibatkan tidak pernah diadakan sosialisasi SOP penerimaan.

Dari akar masalah tersebut dapat kita susun rencana tindakan meliputi :

  • Mensosialisasikan SOP penerimaan kepada semua karyawan.
  • Memastikan bahwa semua karyawan memahami SOP.

Perlu diingat bukti sosialisasi juga perlu dilampirkan dalam format CAPA yang dikumpulkan

Semoga bermanfaat.

Diagram Tulang Ikan Untuk Mengidentifikasi Akar Permasalahan

Diagram Tulang Ikan Untuk Mengidentifikasi Akar Permasalahan

Dalam suatu perusahaan, meskipun sudah dibuat identifikasi resiko di awal semester namun tetap tak jarang timbul suatu masalah yang tidak diinginkan yang tentunya harus diselesaikan. Dalam menyelesaikan masalah tersebut tentunya harus diidentifikasi sumber / akar masalannya supaya bisa dilakukan tindakan perbaikan dan pencegahan agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

Banyak cara dalam mencari akar permasalahan, misalnya dengan brainstorming, why why analysis, diagram tulang ikan, dll. Pada artikel ini kita akan membahas tentang diagram tulang ikan atau biasa dikenal dengan istilah fishbone diagram  baik dari definisi, konsep, dan langkah-langkah analisisnya.

Pengertian Diagram Tulang Ikan

diagram fishbone

 

Diagram tulang ikan / ishikawa diagram / fishbone diagram sering juga disebut dengan diagram sebab-akibat (cause effect diagram) karena merupakan salah satu metode untuk menganalisa penyebab dari sebuah masalah atau kondisi yang ada di suatu perusahaan. Fishbone diagram ini dapat digunakan di berbagai macam bidang, untuk keperluan pemahaman dalam artikel ini kita memberikan contoh aplikasi diagram tulang ikan pada bidang layanan kesehatan.

Diagram fishbone secara bentuk dapat kita lihat seperti pada gambar diatas yang mempunyai bentuk seperti gambar tulang ikan, sesuai dengan arti kata fishbone itu sendiri. jadi diagram fishbone ini terdiri dari kepala ikan beserta dengan tulang-tulangnya.

Kepala ikan menunjukkan atau menggambarkan masalah yang ingin diselesaikan sedangkan tulang ikan ini menunjukkan penyebab-penyebab masalah yang ada di organisasi tersebut.

kerangka fishbone
.
Meskipun banyak model dari diagram tulang ikan (kerangka fishbone) namun tetap tidak merubah esensi atau konsep dari diagram itu sendiri dimana dalam fishbone diagram terdapat kepala ikannya sebagai efek / dampak / permasalahan dan juga tulang-tulang ikan ini sebagai faktor penyebab masalah tersebut.

Konsep Diagram Fishbone

Seperti yang sudah diuraikan diatas, Point yang Perlu Kita Ingat :

  • Kepala ikan = akibat atau permasalahan yang ada.
  • Tulang-tulang ikan = faktor penyebab permasalahan.

Nah, jika kita perhatikan tulang-tulangnya pada gambar diatas, ada tulang yang besar / tulang vertikal dimana tulang ini menunjukkan kategori dan tulang-tulang kecil yang menuju pada tulang besar (kategori) tersebut dan bisa dikelompokkan menjadi penyebab primer, penyebab sekunder, dan seterusnya.

  • Penyebab sekunder merupakan faktor yang menyebabkan penyebab primer.
  • Penyebab tersier merupakan faktor yang menyebabkan penyebab sekunder.
  • dst

Langkah Analisis Dalam Membuat Fishbone Diagram

Terdapat 4 langkah dalam menganalisis Membuat Fishbone Diagram

  1. Menyepakati pernyataan masalah.
  2. Mengidentifikasi kategori-kategorinya, yang biasanya berdasarkan teori
  3. Menemukan sebab-sebab potensial, bisa dengan menggunakan brainstorming.
  4. Mengkaji dan menyepakati faktor-faktor penyebab mana yang paling mungkin menyebabkan masalah tersebut.

Berikut ini adalah penjelasan dari keempat langkah diatas.

Tahap 1. Menyepakati Pernyataan masalah

Jadi pada tahap ini kita menyepakati sebuah masalah dengan problem statement atau pernyataan masalah.

Masalah di sini bisa kita peroleh dengan cara mengidentifikasi dan kita sepakati dalam suatu diskusi bahwa masalah ini merupakan masalah prioritas yang harus segera diselesaikan. Kemudian pernyataan masalah ini diinterpretasikan sebagai suatu efek akibat atau secara visual dalam kerangka fishbone ini diletakkan pada kepala ikan seperti pada gambar dibawah.

diagram fishbone kosong

Contoh : Dalam suatu fasilitas kesehatan terdapat permasalahan dalam keterlambatan penyediaan berkas rekam medis. Sehingga dari contoh tersebut permasalahan keterlambatan penyediaan berkas rekam medis diletakkan pada kepala ikannya seperti pada gambar dibawah yang menunjukkan masalah yang akan dikaji. Sedangkan tulang-tulang ikannya nanti menunjukkan kategori dan juga penyebab keterlambatan penyediaan berkas rekam medis.

langkah 1 membuat kerangka fishbone

Tahapn 2. Mengidentifikasi kategori

Kategori diinterpretasikan sebagai penyebab atau variabel yang secara visual dalam kerangka fishbone ini seperti tulang ikan yang vertikal yang ke atas.

Penentuan kategori ini pada umumnya berdasarkan teori-teori tertentu, misalnya : teori kinerja, teori 5M (Man, Money, Methode, Material, Machine), teori perilaku, dll.

Misalnya pada contoh permasalahan diatas kita akan coba kaji dengan menggunakan teori 5M. sehingga tampilan diagram tulang ikannya seperti gambar dibawah ini dimana kepala ikannya sebagai permasalahannya yaitu keterlambatan penyerahan berkas rekam medis kemudian kategorinya adalah :

  • Man / dari aspek sumber daya manusianya
  • Money terkait dengan dana atau anggarannya
  • Material terkait dengan bahan-bahannya
  • Metode yang berkaitan dengan SOP / prosedurnya.
  • Machine dari aspek mesin / peralatannya

langkah 2 diagram sebab akibat

Tahap 3. Mengidentifikasi Penyebab

langkah 3 fishbone

Setiap kategori yang sudah ditentukan pada tahap kedua diatas, mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan dimana penyebabnya bisa terdapat penyebab primer, penyebab sekunder, penyebab tersier, dst.

Penyebab primer vs Penyebab sekunder

Secara ilustrasi adalah :

  • Penyebab sekunder yang menyebabkan terjadinya penyebab primer.
  • Penyebab tersier yang menyebabkan terjadinya penyebab sekunder.
  • dst

Yang perlu diperhatikan adalah satu sebab bisa ditulis di beberapa kategori / tempat jika sebab tersebut memang berhubungan dengan beberapa kategori tersebut.

Misalnya pada kasus diatas

Kepala ikannya adalah permasalahannya yaitu keterlambatan penyediaan berkas rekam medis.

Kemudian kategorinya seperti yang sudah disebutkan yaitu :

  • Man
  • Money
  • Material
  • Metode
  • Machine

Jadi pada tahap ini kita mengidentifikasi faktor penyebab dari masing-masing kategori tersebut.

Misalnya :

Pada kategori Man (Sumber Daya Manusia), kita mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya keterlambatan penyerahan berkas rekam medis. Demikian juga untuk kategori Money (anggaran), Material, Methode, dan Machine.

Contoh untuk ketegori man (SDM), setelah didiskusikan dengan tim teridentifikasi bahwa kurangnya jumlah SDM yang menyebabkan keterlambatan penyerahan berkas rekam medis, selain itu juga teridentifikasi bahwa petugas bersangkutan kurang memahami prosedur (SOP) yang berlaku.

Kemudian dari hasil identifikasi tersebut masih bisa diidentifikasi (dikaji lebih dalam lagi) misalnya, kenapa sih petugasnya kurang memahami prosedur? Ternyata setelah dikaji lagi di fasilitas kesehatan tersebut belum ada prosedurnya sehingga petugas tersebut tidak memahami prosedur.

Nah kurangnya pemahaman prosedur Inilah yang disebut dengan penyebab primer.

Sedangkan tidak adanya prosedur (SOP) dalam kategori Man (SDM) ini disebut sebagai penyebab sekunder dari kurangnya pemahaman prosedur.

Contoh lain untuk kategori metode

Setelah dianalisis, dikaji, dan didiskusikan teridentifikasi bahwa tidak adanya SOP pada kategori metode ini.

Mungkin ada pertanyaan, Lho kok sama dengan yang di kategori man tadi?

Hal ini tidak menjadi masalah karena memang satu sebab bisa ditulis di beberapa kategori jika memang berhubungan.

Namun perbedaannya adalah tidak adanya SOP ini merupakan penyebab sekunder pada kategor man (SDM), namun di kategori metode, tidak ada SOP merupakan penyebab primer.

Sebagai latihan mungkin bisa teman-teman lanjutkan untuk 3 kategori yang lainnya yaitu material, machine, dan money.

Tahap 4. Mengkaji dan Menyepakati Faktor Penyebab

 

Langkah-langkah yang harus dilakukan pada tahap keempat ini adalah.

  1. Kita kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan pada langkah ketiga.
  2. Apabila setelah setiap kategori diisi, carilah sebab yang paling mungkin diantara semua sebab-sebab tersebut dan sub-sub sebabnya termasuk penyebab primer, sekunder, dan tersier.
  3. Jawab pertanyaan kira-kira mana sih yang paling mungkin menjadi penyebab utamanya?
  4. Jika ada sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu kategori kemungkinan itu merupakan petunjuk sebab yang paling mungkin, artinya dalam kasus diatas penyebab itu merupakan petunjuk yang paling mungkin menyebabkan terjadinya keterlambatan penyediaan berkas rekam medis.
  5. Aapabila tidak ada hal-hal yang seperti pada point diatas, kita bisa memprioritaskan penyebab masalah dengan menggunakan metode-metode tertentu

Kesimpulan

Daru hal-hal yang telah diuraikan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa diagram tulang ikan ini dapat digunakan untuk :

  • Mengidentifikasi akar penyebab dari suatu permasalahan
  • Mendapatkan ide-ide yang dapat memberikan solusi untuk pemecahan suatu masalah
  • Membantu dalam pencarian dan penyelidikan fakta yang lebih lanjut.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=y22o-nC7ky4&t=463s

Pengertian TDS Meter dan Beberapa Contoh Aplikasi Penggunannya

Pengertian TDS Meter dan Beberapa Contoh Aplikasi Penggunannya

Seperti kita ketahui, air merupakan salah satu kebutuhan dasar makluk hidup baik itu untuk kebutuhan konsumsi atau sebagai habitat sehingga kualitas air ini juga benar-benar harus kita perhatikan. Banyak parameter baik itu parameter kimia atau fisika yang harus dipenuhi air tersebut supaya air tersebut dinyatakan sesuai dengan penggunaannya. Beberapa diantaranya adalah pH, konduktivitas, jumlah padatan terlarut / TDS, dll. Pada postingan ini kita akan belajar mengenai pengertian TDS berikut dengan cara menggunakan dan kalibrasi TDS meter sebagai alat ukurnya.

Pengertian Total Dissolved Solid (TDS) dan Total Suspended Solid (TSS)

Pemahaman dasar padatan tersuspensi dan padatan terlarut sangatlah diperlukan ketika kita berbicara mengenai parameter TDS di dalam air. Untuk mempermudah penjelasan mengenai kedua hal terebut bisa kita ilustrasikan melalui gambar dibawah ini.

perbedaan tds dan tss

 

 

Misalnya kita mempunyai sebuah larutan (contohnya : air keruh / air limbah). Jika kita kita lihat dengan seksama, maka di dalam air keruh tersebut bisa kita lihat pertikel-partikel kecil yang melayang. Partikel-Partikel yang melayang tersebut dinamakan sebagai partikel tersuspensi.

Sehingga bisa dikatakan di dalam larutan tersebut (air keruh / air limbah) terdapat 2 padatan, yaitu :

  • Padatan tersuspensi

Partikel padatan yang sangat kecil / sangat halus dan stabil yang menyebabkan partikel tersebut tidak bisa mengendap ke bawah, karena ukurannya yang kecil / halus maka partikel tersebut hanya melayang-layang di dalam larutan. Berat partikel tersebut tidak cukup berat (sangat ringan) untuk mengendap ke bawah dari permukaan air. Kita mengenal padatan tersuspensi ini dengan sebutan Total Suspended Solid (TSS).

  • Padatan terlarut

Padatan yang larut di dalam larutan tersebut, misalnya di dalam larutan tersebut terdapat padatan NaCl atau padatan garam. Seperti kita ketahui, garam dapat larut dengan mudah di dalam air. Kita mengenal padatan terlarut ini dengan sebutan Total Dissolved Solid (TDS).

Dan penjumlahan kedua padatan diatas adalah total padatan.

Jadi

Padatan tersuspensi + Padatan terlarut = Total Padatan (Total Solid)

Padatan Tersuspensi / Total Suspended Solid (TSS)

tds meter adalah

 

Misalnya kita mempunyai larutan dengan partikel-partikel yang halus dan sangat kecil. Lalu sebenarnya kenapa partikel-partikel kecil ini bisa melayang-layang dan tidak turun kebawah?

Jika kita ilustrasikan dengan memperbesar ukuran partikel halus dan sangat kecil tersebut, maka ada beberapa gaya yang bekerja pada partikel tersebut, yaitu :

  1. Gaya grafitasi
  2. Gaya apung
  3. Gaya Tolak menolak dan tarik menarik antara partikel satu dengan yang lainnya.

Karena beratnya sangat kecil dan massanya sangat ringan, maka tidak menyebabkan partikel kecil ini turun kebawah sebagai akibat gaya gravitasi, serta naik ke permukaan karena gaya apung sehingga tetap melayang di dalam larutan.

Ketika partikel-partikel tersebut melayang dan bertemu dengan partikel-partikel yang lain, maka partikel tersebut mempunyai kestabilan, dimana partikel tersebut tidak tolak-menolak ataupun tarik menarik sehingga menyebabkan partikel tersebut tetap melayang.

Lalu mungkin muncul pertanyaan, bagaimana cara memisahkan padatan yang melayang-layang tersebut?

Yaitu kita buat partikel yang halus tersebut bertambah beratnya, dengan cara menggabungkan partikel yang halus tersebut dengan partikel yang halus lainnya dengan cara memecah kestabilan dimana pada partikel tersebut tidak ada gaya tarik menarik dan tolak menolak yaitu dengan memberi senyawa koagulan.

Jadi koagulan tersebut kita masukkan ke larutan dan berfungsi untuk memberi muatan-muatan tertentu (muatan negatif) pada partikel tersebut sehingga partikel tersebut tidak stabil dan bisa saling bergerak serta memungkinnya adanya tabrakan dari satu partikel dengan yang lainnya.

Ketika terjadi tabrakan maka partikel-partikel halus tersebut akan menempel satu dengan yang lainnya sehingga menyebabkan bobot partikel-partikel yang menempel tersebut lebih berat dari gaya apungnya sehingga lama kelamaan akan mengendap.

Peristiwa / proses bertemunya partikel-partikel halus yang tidak stabil tersebut kita kenal dengan istilah proses flokulasi. Rangkaian proses diatas disebut proses koagulasi dan flokulasi.

Nah pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita menghitung partikel-partikel yang kecil dan melayang tersebut dan bagaiman juga menghitung partikel-partikel yang terlarut?

Kenapa Pengukuran TDS dan TSS Penting?

Salah satu aplikasi yang paling luas penggunaa TDS adalah untuk pengecekan kualitas air di perairan. Nilai total padatan tersuspensi (TSS) sering dikaitkan dengan kekeruhan air (yang biasa diukur dengan menggunakan alat ukur turbidimeter). Jika total padatan tersuspensi (TSS) tinggi dan air keruh maka cahaya matahari tidak akan menembus air dengan baik, sehingga tanaman dan alga sulit tumbuh.

Hal tersebut pada akhirnya dapat mengurangi produktivitas (jumlah kehidupan tumbuhan dan hewan yang di perairan sungai atau danau) dan pembentukan oksigen. Banyaknya tanah dan lumpur di dalam air juga dapat menyumbat insang ikan dan dapat mengubur telur ikan.

Total padatan terlarut (TDS) termasuk mineral terlarut dan garam dalam air. Akibatnya, TDS sering terkait erat dengan konduktivitas, salinitas, alkalinitas. Kebanyakan ikan air tawar tidak dapat bertahan pada TDS tinggi karena mereka tidak dapat beradaptasi dengan air asin (asin) seperti halnya ikan laut.

fungsi tds meter

TDS Meter – Alat Ukur Total Dissolved Solid (TDS)

Konsep mengenai padatan tersuspensi (TSS) dan padatan terlarut (TSS) sudah dijelaskan di atas, lalu pertanyaannya bagaimana cara mengukur TDS tersebut?

TDS meter adalah sebuah alat yang berfungsi untuk mengukur total padatan ataupun partikel yang terlarut dalam air. Satuan dari TDS adalah ppm atau mg/L. Total padatan terlarut dalam suatu air ini akan berpengaruh terhadap makluk hidup yang mengkonsumsi misalnya, ikan dan tanaman.

Bagi manusia, semakin tinggi TDS dalam air yang mereka konsumsi maka semakin besar kemungkinan kontaminan berbahaya yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. Tingkat Kontaminan Maksimum TDS untuk konsumsi manusia menurut The U.S. EPA’s adalah 500 ppm.

Contoh TDS Meter – TDS3

tds2 tds meter murah

Salah satu alat TDS yang banyak digunakan digunakan adalah TDS-3. Alat ini mempunyai rentang pengukuran TDS dari 0 s/e 9990 ppm (mg/L) dengan akurasi kurang lebih 2 % dan menggunakan bateray 2 x 1.5 V sebagai dayanya dengan ketahanan 1000 jam.

Berikut ini adalah bagian-bagian dari TDS 3 tersebut.

cara menggunakan TDS meter

  • Battery compartment
  • LCD Screen
  • Hold Button
  • Temp Button
  • Power Button
  • Water level limit
  • Sensor

Cara Menggunakan TDS Meter – TDS3

  1. Buka protective cap
  2. Nyalakan TDS meter dengan menekan tombol ON / OFF
  3. Celupkan TDS meter ke dalam air / larutan yang diukur maksimal di tanda batas (2″)
  4. Aduk secara perlahan alat TDS meter untuk menghilangkan gelembung udara
  5. TUnggu sampai display stabil (kurang lebih 10 detik), kemudian tekan tombol “hold” untuk melihat hasil pembacaan
  6. Jika display alat berkedip dengan menunjukkan simbol “x10” maka kalikan hasil pembacaan dengan nilai 10.

Catatan :

  • Jangan mencelupkan TDS meter melebihi “water level limit”
  • Jangan menyimpan unit TDS meter pada temperatur yang tinggi atau terkena langsung paparan sinar matahari.

Harga TDS Meter TDS3

Untuk sebuah alat ukur, TDS3 bisa kita dapatkan dengan harga yang sangat terjangkau. Berikut ini adalah beberapa gambaran harga dari TDS3 tersebut yang kami ambil dari Mablanja google.

harga tds meter tds3

Kalibrasi TDS Meter

standar untuk kalibrasi tds meter

Seperti halnya instrumen ukur lainnya, Kalibrasi TDS meter juga harus dilakukan untuk menjaga keakuratan pembacaan alat. Terlebih lagi satuan TDS tersebut sangat kecil yaitu ppm. Kalibrasi TDS meter dilakukan dengan menggunakan standar NaCl 342 ppm.

Mengingat harga unitnya yang relatif murah, terkadang biaya kalibrasi tds tersebut jauh lebih mahal. Sehingga lebih disarankan untuk melakukan kalibrasi internal. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa personel yang melakukan sudah memiliki kompetensi dan telah mengikuti pelatihan kalibrasi supaya tidak menjadi temuan pada saat audit sistem manajemen.

Pengertian dan Fungsi Buret Laboratorium dalam Titrasi

Pengertian dan Fungsi Buret Laboratorium dalam Titrasi

Dalam suatu laboratorium kimia, kegiatan titrasi merupakan salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan dalam analisa. Untuk mendukung kegiatan tersebut tentunya ada beberapa peralatan laboratorium yang digunakan, antara lain statif, klem, beaker gelas, erlenmeyer, dan tentunya yang paling utama adalah buret. Kali ini kita akan belajar mengenai jenis, cara menggunakan, serta metode kalibrasi buret yang biasa digunakan sebagai acuan. serta fungsi buret itu sendiri.

Pengertian dan Fungsi Buret

Buret merupakan suatu alat gelas berbentuk tabung panjang dengan garis skala seperti pada pipet ukur atau gelas ukur dengan penampang yang sama dari atas ke bawah. Pada bagian bawah alat ini dilengkapi dengan kran sebagai tempat keluarnya larutan dalam mulut buret.

Fungsi buret adalah sebagai alat untuk mengukur larutan berdasarkan volume yang dikeluarkan. Ukuran buret biasanya memiliki volume 25 / 50 ml.

Jika sedang digunakan buret harus ditopang dengan kokoh dengan suatu statif yang dilengkapi dengan klem untuk menjepit buret tersebut. Usahakan pada saat menjepit buret dalam statif dan klem posisi buret harus tegak lurus supaya pembacaan skalanya tepat dan tidak menimbulkan kesalahan paralax.

Sebelum digunakan buret harus diberikan pelumas untuk mencegah kran saling melekat ataupun macet pada saat penggunaan sehingga mengganggu kelancaran dalam analisa. Pelumas yang paling sering digunakan adalah vaseline.

Jenis-Jenis Buret

Ada 4 macam jenis buret yang biasa digunakan dalam titrasi, antara lain :

  • Buret Biasa

buret biasa

Buret ini terbuat dari gelas dengan warna bening dan garis-garis skala seperti pada pipet ukur.

  • Buret Schellbach

Buret Schellbach

Dimana pada bagian belakang pada dinding buret ini terdapat garis biru memanjang secara vertikal di atas dasar berwarna putih. Pembacaan miniskus pada buret ini dilihat dari bagian lancip pada garis birunya.

  • Buret Oksidasi

buret adalah

Buret ini biasanya digunakan untuk larutan yang mudah terurai oleh cahaya seperti larutan kalium permanganat dan larutan iodin. Buret ini seringkali dinamakan juga sebagai buret coklat karena permukaan buret ini berwarna coklat.

  • Buret basa

harga buret 50 ml

Buret ini biasa dinamakan sebagai buret teflon. Buret ini memiliki perbedaan di bagian krannya yang terbuat dari bahan PTFE atau poly tetra fluoro ethylene. Keunggulan dari buret ini adalah pada saat penggunaannya tidak perlu menggunakan pelumas.

Buret ini biasa digunakan untuk larutan yang bersifat basa karena larutan yang bersifat basa dapat bereaksi dengan alat gelas sehingga jika menggunakan buret biasa maka kran yang digunakan akan macet.

Harga buret tersebut diatas tentunya berbeda satu dengan yang lainnya, namun untuk harga buret 50 ml berkisar antara 100 ribu s/d 200 ribu rupiah tergantung dengan class buret itu sendiri.

Cara Menggunakan Buret Laboratorium

harga buret 50 ml

Dapat dilihat pada gambar diatas, buret mempunyai skala dari 0 s/d 50 ml yang berfungsi untuk mengukur penurunan volume ketika terjadi titrasi hingga titik akhir.

Cara menggunakan buret hampir mirip dengan dengan pipet volume / pipet ukur, dimana pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membilasnya terlebih dahulu dengan menggunakan air suling.

Seperti yang sudah diuraikan diatas, bagian buret terdiri dari batang dan kran yang bisa diputar. Untuk memasang buret di dalam klem dan statif, pegang buret dengan tangan kiri, kemudian buka klem, dan jepit buret tersebut dengan klem.

Berikut tahapan menggunakan buret laboratorium

  • Pertama kita bilas dengan menggunakan air suling dari botol semprot, kita isi kurang lebih 1/3 atau 1/4 dari tinggi buret.

cara menggunakan buret

  • Ambil beker buangan dan kita posisikan buret seperti pada gambar diatas (Telapak tangan menghadap ke atas dan batangnya diposisikan mendatar dimana dibagian bawahnya adalah beker buangan)

cara kerja buret

  • Putar buret dengan tangan supaya bagian dalam buret terbilas dan ketika air atau Larutan kimia itu jatuh maka akan langsung masuk ke dalam beaker buangan.
  • Berikutnya kita juga membilas bagian bawahnya sampai habis.

pembilasan bagian bawah

  • Setelah pembilasan dengan air suling selesai, selanjutnya lakukan pembilasan dengan menggunakan larutan titran yang sebelumnya sudah ditempatkan didalam beker.

Seperti kita ketahui beaker mempunyai ukuran leher yang lebih besar dan leher buret lebih kecil. Jika kita langsung menuang larutan titran tersebut ke dalam buret, maka bisa terjadi tumpahan yang bisa menyebabkan iritasi dan kecelakaan kerja di laboratorium, sehingga untuk melakukan penuangan kita membutuhkan bantuan corong. Dalam memasang corong ke dalam buret ini disarankan diganjal dengan kertas yang dilipat.

Tuang larutan titran kedalam buret kurang lebih 1/3 atau 1/4 dari tinggi buret. Tujuannya adalah untuk menyamakan konsentrasi larutan di buret dengan larutan yang akan dituangkan.

  • Setelah pembilasan selesai kita singkirkan beaker buangan dan tuangkan lagi larutan titran kurang lebih setengahnya dan lihat bagian bawahnya apakah ada gelembung udara, Hilangkan gelembung udara dengan cara miringkan posisi buret dan kita buka kran hingga maksimal sehingga udaranya keluar.

menghilangkan gelembung pada buret

  • Berikutnya kita isi buret dengan larutan titran hingga kurang lebih satu 1 cm diatas skala nol.
  • Pasangkan Buret dan statif. Sampai tahap ini buret akan basah di atas skalanya, maka seka buret dengan menggunakan kertas saring yang dibuat seperti selongsong untuk menyeka bagian atas skala buret tersebut. Tujuannya supaya tidak ada tetesan Air yang jatuh ketika melakukan titrasi dan mengubah volume yang terbaca pada skala buret.
  • Buret siap untuk digunakan.
  • Siapkan larutan yang akan dititrasi pada erlenmeyer.
  • Pegang erlenmeyer dengan tangan kanan (untuk tangan kidal menggunakan tangan kiri)
  • Pegang kran buret dengan tangan kiri (kran buret berada dalam genggaman)
  • Buka kran secara perlahan dan teteskan pada larutan yang akan dititrasi pada erlenmeyer (pastikan dalam membukan kran tidak menyebabkan larutan mengocor, lakukan secara perlahan). Seiring dengan berjalannya waktu, nanti kita akan terbiasa mengatur kecepatan tetesan tersebut.
  • Posisikan tinggi ujung buret menyesuaikan dengan tinggi erlenmeyer.
  • Pegang erlenmeyer dengan tangan kanan, dan gerakkan memutar seperti mengaduk sehingga membentuk pusaran air.
  • Bukan kran buret sehingga titran menetes.
  • Setelah terjadi perubahan warna pada erlenmayer dan titrasi dihentikan dan baca volume skala di buret.

Catatan :

Ketika tidak dipakai posisi buret harus terbalik dan posisi kran harus terbuka supaya tidak ada larutan yang terkurung di kran dan menyebabkan buret menjadi macet.

Cara Membaca Skala Buret Laboratorium

cara membaca skala buret

Dalam membaca skala buret, mata harus tegak lurus terhadap permukaan cairan seperti pada gambar diatas sehingga tidak menimbulkan kesalahan paralax.

Cara Baca Buret Schellbach

skala buret schelbach

Pada gambar buret diatas, dapat dilihat bahwa skala terkecil buret adalah 0.1 ml.

Volume yang terbaca pada buret diatas adalah 42.25 ml, dimana terdiri dari 4 angka penting.

  • Angka 42.2 merupakan angka pasti sedangkan angka 5 merupakan angka taksiran.
  • Angka 5 dipilih menjadi angka taksiran karena pada pembacaan buret posisi miniskus berada pada tengah-tengan 42.2 dan 42.3.

Cara Membaca Buret Asam / Basa

skala buret biasa

Pada gambar diatas, skala terkecil dari buret adalah 0.1 ml. Volume terbaca pada skala diatas adalah 13.93 terdiri dari 4 angka penting dimana

  • Angka 13.9 merupakan angka pasti
  • Angka 3 merupakan angka taksiran.

Angka 3 dipilih menjadi angka taksiran karena posisi miniskus bawah berada pada sepertiga skala yaitu antara 13.9 dengan 14.0 namun lebih mendekati ke angka 13.9 ml.

Cara membaca buret coklat atau amber

cara membaca buret coklat

Pada gambar diatas, skala terkecil adalah 0,1 ml. Volume terbaca adalah 13.03. Dimana ada 4 angka penting dimana :

  • Angka 13.0 merupakan angka pasti
  • Angka 3 dibelakan koma merupakan angka taksiran.

Angka 3 dipilih menjadi angka taksiran karena posisi miniskus bawah berada pada sepertiga skala yaitu antara 13.0 dengan 13.1 namun lebih mendekati ke angka 13.0 ml.

Kalibrasi Buret Laboratorium

kalibrasi buret

Sama halnya dengan pipet volume atau pipet ukur, karena fungsi buret yang relatif penting, maka disarankan buret ini dilakukan secara berkala. Beberapa metode kalibrasi buret yang biasa digunakan adalah :

  • ISO 4787:2010 Laboratory glassware — Volumetric instruments — Methods for testing of capacity and for use
  • ASTM E542-01(2021) Standard Practice for Calibration of Laboratory Volumetric Apparatus

Untuk acuan dalam evaluasi ketidakpastian pengukuran bisa dikombinasikan dengan Guidelines on the Determination of Uncertainty in Gravimetric Volume Calibration EURAMET Calibration Guide No. 19 Version 3.0 (09/2018).

Kalibrasi buret ini bisa dilakukan secara internal selama kondisi lingkungan dan peralatan yang digunkan tersedia serta personel yang melakukan sudah mendapatkan pelatihan kalibrasi atau juga bisa dilakukan secara eksternal ke laboratorium penyedia layanan kalibrasi.

Referensi :

Teknik membaca skala buret

Tutorial penggunaan buret

Spektrofotometer UV Vis, Apa Saja Jenis dan Bagian-Bagiannya?

Spektrofotometer UV Vis, Apa Saja Jenis dan Bagian-Bagiannya?

Di era seperti saat ini dimana kebutuhan analisa kimia terhadap suatu bahan / sampel semakin meluas maka dengan diimbangi perkembangan teknologi, banyak berbagai macam instrument tercipta dengan segala kelebihannya. Sebut saja kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC), gas chromatography (GC), spektrofotometer massa, spektrofotometer infra red, atau spektrofotometer UV visibel. Nah pada artikel ini kita akan sedikit belajar mengenai salah satu dari unit tersebut, yaitu spektrofotometer uv vis baik dari prinsip kerja, jenis, bagian-bagian, cara pemakaian, serta kalibrasi spektrofotometer uv visible tersebut.

Pengertian Spektrofotometer UV Vis

Spektrofotometer UV Vis adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur transmitansi atau absorbansi suatu sampel sebagai fungsi dari panjang gelombang. Pada spektrofotometer uv-vis ini terdapat dua konfigurasi yang biasa kita ditemukan, yaitu :

Spektrofotometer Single Beam (berkas tunggal)

Pada spektrofotometer jenis ini menggunakan satu berkas sinar yang digunakan secara bergantian untuk mengukur larutan standar (termasuk larutan blanko) dan larutan sampel. Jadi sinar tidak secara langsung menuju larutan standar dan larutan sampel secara bersamaan, namun satu-satu secara bergantian, larutan standar terlebih dahulu kemudian baru larutan sampel.

Skema instrumentasi spektrofotometer single beam (berkas tunggal)

gambar spektrofotometer uv vis single beam

Berikut ini adalah bagian-bagian dari spektrofotometer UV Vis single beam :

  • Source atau sumber sinar
  • Monokromator
  • Sampel
  • Detektor
  • Sinyal processor

Dapat dilihat pada gambar diatas, yang membedakan antara spektrofotometer berkas tunggal dengan spektrofotometer berkas ganda adalah pada sinar hanya satu arah saja yang nantinya menyinari sampel dan blanko secara bergantian.

Spektrofotometer double beam (berkas ganda)

Spektrofotometer jenis ini menggunakan dua berkas sinar yang nanti masing-masing akan mengukur larutan sampel dan juga larutan standar.

gambar spektrofotometer uv vis double bean

Gambar diatas merupakan skema instrumen spektrofotometer berkas ganda (Double beam).

Berikut ini adalah bagian-bagian dari spektrofotometer double beam :

  • Source atau sumber sinar
  • Monokromator
  • Chopper
  • Sampel
  • Detektor
  • Sinyal processor

Dimana dapat dilihat sumber sinar setelah melalui monokromator akan dipecah oleh chopper sehingga nanti sinar yang terpecah ini yang satu akan masuk ke sampel dan yang satunya akan ke blanko atau bisa diilustrasikan ada dua jalur sinar.

Secara bagian-bagian / skemanya yang membedakan antara single beam dan double beam adalah karena adanya choper.

Fungsi Bagian-Bagian Spektrofotometer UV-Visible

Sumber sinar

sumber lampu spektro

Biasanya sebagai penghasil sinar polikromatis yang digunakan adalah lampu. Untuk spektrofotometer sinar tampak sumber emisinya adalah lampu sinar tampak, sedangkan untuk spektrofotometer UV, sumber emisi adalah lampu sinar UV.

Untuk lampu sinar tampak terutama lampu wolfram halogen biasanya juga memiliki sedikit spektrum UV dekat dan IR dekat, demikian juga untuk lampu UV biasanya memiliki sedikit spektrum sinar tampak. Sehingga biasanya spektrofotometer uv-vis digabungkan dalam satu bentuk menjadi spektrofotometer uv-visible.

  • Contoh Sumber Emisi Sinar Tampak

Sinar tampak akan dihasilkan dari transisi elektron di kulit terluar atom, ion, atau molekul terutama dari transisi elektron n -> Π* (phi bintang) pada visible dan Π -> Π* pada UV. Foton pada frekuensi sinar tampak bisa dideteksi oleh mata dan dapat menghasilkan citra warna, contohnya, yang termasuk kedalam sumber emisi dari sinar tampak ini adalah lampu halogen dan lampu Wolfram.

  • Contoh Sumber emisi Sinar UV

Sedangkan sinar uv memiliki panjang gelombang yang lebih pendek daripada sinar tampak, sehingga energi fotonnya lebih besar daripada energi foton dari sinar tampak. UV dihasilkan dari transisi elektron di kulit terluar atom, ion, atau molekul terutama dari transisi elektron Π -> Π*. Contoh yang digunakan sebagai lampu sinar UV adalah lampu deuterium, lampu Xenon.

Monokromator

Filter / Monokromator ini berfungsi untuk menghasilkan sinar yang relatif bisa dianggap sebagai monokromatis. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa sinar yang dihasilkan oleh sumber emisi itu masih berupa sinar polikromatis sehingga tidak hanya memiliki satu panjang gelombang saja.

Atau dengan kata lain monokromator ini berfungsi sebagai media untuk menyeleksi sinar dengan panjang gelombang tertentu berdasarkan pada sifat serapan sinar (pada filter serapan), sifat retraksi sinar (pada prisma) dan interferensi gelombang (pada filter interferensi, kisi difraksi, kristal, dan interferometer), dan juga berdasarkan perbedaan energi foton (pada energy dispersive).

Sinar polikromatis yang ditembakkan pada monokromator ini nanti bisa dianggap sebagai sinar yang monokromatis.

Beberapa Jenis Monokromator

Monokromator Filter (Serapan dan Interferensi)

Monokromator filter ini berdasarkan pada prinsip penyerapan sinar yang tidak diperlukan (filter serapan) / interferensi internal (filter interferensi baji dan filter fabry perot), jadi monokromator hanya meneruskan sinar yang kita inginkan saja dan sinar yang tidak kita inginkan akan terfilter.

Monokromator filter ini biasanya lebih murah tetapi tidak fleksibel karena satu filter untuk menghasilkan satu lamda (λ) tertentu saja. Filter serapan biasanya dibentuk dari gabungan dua atau lebih bahan dalam bentuk kaca atau polimer berwarna.

Monokromator ini banyak digunakan pada fotometer (fotometer nyala, single channel, atau multi channel) dan spektrofotometer spesifik yang hanya untuk keperluan analit tertentu serta tidak cocok untuk spektrofotometer dengan lamda (λ) variabel.

Catatan Tambahan : Perbedaan Fotometer dengan Spektrofotometer

Ada perbedaan sedikit antara fotometer dengan spektrofotometer. Untuk fotometer sinarnya hanya satu panjang gelombang saja, sedangkan spektrofotometer sinarnya adalah polikromatis yang diseleksi pada panjang gelombang yang kita inginkan sehingga filter serapan ini lebih cocoknya untuk fotometer atau spektrofotometer spesifik karena dia hanya akan meneruskan lamda (λ) tertentu saja.

Monokromator Filter Intervensi – Interferensi Baji.

monokromator interferensi

Monokromator yang dibentuk dari bahan dari sebuah bahan dielektrik transparan seperti misalnya CaF2 atau MgF2 diapit dua kaca semi cermin. Ketebalan dielektriknya menentukan lamda (λ) yang diteruskan.

Monokromator Prisma

Dimana sinar yang mengenai prisma akan direfraksikan menjadi beberapa sinar. Sama halnya dengan monokromator prisma yang ada pada spektrofotometer, jadi sinar polikromatis yang ditembakkan pada monokromator prisma akan mengalami refraksi menjadi beberapa panjang gelombang.

Monokromator prisma mempunyai kelebihannya harganya murah namun kualitas sinar monokromatis yang dihasilkan kurang bagus. Cocok digunakan untuk spektrofometer optik molekuler, namun tidak cocok untuk spektrofotometer optik atomik dan sering digunakannya pada spektrofotometer sinar tampak berkas tunggal yang sederhana.

Monokromator Grating / Kristal

monokromator kristal

Prinsipnya adalah seperti benda tajam mata pisau atau ujung jarum yang jika dikenai sinar maka akan menyebarkan sinar seolah-olah benda tersebut sumber-sumber sinar yang berukuran kecil.

Monokromator Interferometer / Michelson

Interferometer menghasilkan sinar monokromatis berdasarkan sifat dari interferensi gelombang. terutama digunakan untuk sinar inframerah.

Sel / Kuvet

Setelah sinar dirubah menjadi sinar monokromatis oleh monokromator, selanjutnya sinar akan menyinari sampel dalam wadah sampel / sel / kuvet.

kuvet spektrofotometer uv visible

Kuvet merupakan wadah larutan blanko, standar, atau sampel yang ditempatkan diposisi jalur sinar pengukur di dalam sebuah spektrofotometer. Kuvet model lama bentuknya adalah silinder seperti tabung reaksi kecil, namun kuvet yang berbentuk silinder mudah mengalami bias jika terjadi pergeseran bentuk atau pergeseran posisi sekalipun nilainya relatif kecil, sehingga dalam perkembangannya kuvet modern berbentuk persegi seperti gambar diatas.

Kuvet harus bersifat transparan sempurna untuk sinar pengukur yang digunakan. Untuk pengukuran menggunakan spektrofotometer visible, kuvet bisa dibuat dari bahan kaca biasa namun untuk sinar ultraviolet bahan kuvet harus terbuat dari borosilikat atau bahan lain yang tidak menyerap sinar UV, karena jika menggunakan bahan kaca biasa, maka kuvet tersebut akan ikut menyerap sinar.

Detektor

Setelah mengalami penyerapan sinar  oleh sampel di bagian kuvet tadi, kemudian nanti sinar yang tidak diserap oleh larutan akan diteruskan pada detektor.

Beberapa Persyaratan detektor yang baik adalah :

  • Harus memiliki kepekaan yang tinggi dalam daerah spektrumnya.
  • Respon yang linear terhadap daya radiasi.
  • Waktu Respon yang cepat.
  • Dapat digandakan.
  • Harus memiliki kestabilan yang tinggi atau tingkat noise yang rendah.

Jenis Detektor Spektrofotometer UV-VIS

  • Detektor Sinar
  • Detektor Foton
  • Detektor Massa
  • Detektor Felombang radio

Untuk detektor sinar ini berdasarkan daya / power sinar, contohnya digunakan pada spektrofotometer inframerah, UV dan sinar tampak. Prosesnya adalah sinar mengenai sampel yang ada di kuvet, kemudian sampel akan menyerap sinar, dan sinar yang tidak diserahkan itu diteruskan dan akan dideteksi oleh detektor. Detektor jenis ini yang biasa digunakan pada spektrofotometri uv-vis.

Adapun detektor-detektor yang lain (foton, massa, gelombang radio) biasa digunakan pada spektrofotometer yang lain, misalnya detektor foton untuk spektrofotometer sinar X, detektor massa untuk spektrofotometer massa, detektor radio untuk spektrofotometer resonansi magnet inti).

Sinyal Prosesor

Setelah detektor mendeteksi adanya sinar tersebut, sinar ini tidak langsung diolah namun harus melewati terlebih dahulu sinyal prosesor. Pada sinyal prosesor ini diantaranya akan terjadi penguatan sinyal. Pada bagian ini terdapat pre amplifier, terutama untuk menguatkan potensial dan amplifier yang berfungsi untuk menguatkan daya.

Amplifier diperlukan untuk menguatkan sinyal agar bisa menggerakkan sistem pembacaan karena bisa jadi sinyal tersebut belum cukup besar untuk menggerakkan sistem pembacaan sehingga diperlukan amplifier.

Umumnya sistem pengolahan sinyal analitik tidak diperlukan daya keluaran yang tinggi namun harus stabil. Pada instrumen analitik yang lama, biasanya sistem pembacaannya menggunakan sistem numerik atau jarum, sinyal tersebut akan terlihat dari pergerakan jarum, namun saat ini sudah banyak yang menggunakan sistem komputerisasi sehingga keluaran instrumen analitiknya sudah berbentuk sinyal digital yang diteruskan pada komputer.

Beam Splitter atau Pemecah Berkas

beam spliter

Beam Splitter ini dibentuk oleh dua prisma siku-siku sama kaki atau cermin 50 % yaitu hanya 50 % permukaan kaca tertutup oleh lapisan perak berbentuk cermin.

Jadi nanti ketika sinar ditembakkan nanti sinarnya akan terpecah masuk ke blanko dan masuk ke sampel.

Bentuk lain yang digunakan sebagai pemecah sinar ini adalah chopper / cermin berputar yang akan membagi sinar menjadi 2, salah satu melewati blanko disebut juga reference beam dan yang lainnya melewati larutan. Gambar dibawah ini merupakan contoh gambar chopper.

Beam splitter / chopper ini hanya terdapat di dalam spektrofotometer double beam.

chooper

Sistem komputerisasi

Ada dua jenis sistem komputerisasi pada spektrofotometer:

  • Interaksi passive

Komputer hanya digunakan untuk penanganan data seperti memproses, menyimpan, mencari, menampilkan.

  • Interaksi aktif

Komputer dapat mengontrol langkah-langkah pengoperasian instrumen contohnya : memilih panjang gelombang, menghidupkan, mengatur intensitas sinar, mengatur jumlahnya sampel, dll.

Namun jika pengaturan parameter kerja melalui komputer tetapi tidak otomatis maka dinamakan dengan semi aktif.

Langkah Awal Menggunakan Spektrofotometer Uv Visible

cara menggunakan spektrofotometer uv vis

Gambar diatas bisa dikatakan bagian utama dari spektrofotometer UV Vis dimana blanko dan  sampel ditempatkan. Jadi untuk meletakkan kuvet blanko di tanda huruf d blanko, sedangkan nomer 1 s/d 5 merupakan tempat sampel. Terkait dengan sumber daya listrik, untuk peralatan spektrofotometer uv vis ini sebaiknya menggunakan stabilizer dengan tujuan menjaga listrik tetap stabil serta menyimpan daya ketika terjadi mati lampu.

Tahapan Awal Dalam Pengoperasian Spektrofotometer UV Vis Adalah :

  1. Nyalakan terlebih dahulu stabilizer.
  2. Kemudian tekan tombol “ON” dibagian belakang spektrofotometer UV Vis sehingga display menyala, sebelum melakukan pengukuran sebaiknya kita tunggu sekitar 30 menit setelah tombol ON dinyalakan.
  3. Sebelum kuvet dimasukkan ke dalam spektrofotometer, sterilkan kuvet terlebih dahulu dengan cara membilas dengan larutan sampel dan diulangi sebanyak 3 x.
  4. Lap bagian luar kuvet dengan tisue dengan cara menempelkan tisue ke dinding-dinding kuvet agar kuvet tidak mengalami goresan. Kuvet ini terdiri dari dua bagian, bagian yang sisinya agak buram dan bagian yang sisinya bening. Yang perlu diperhatikan adalah jangan kita sentuh dengan tangan pada sisi bagian yang bening tersebut, namun kita boleh menyentuhnya di bagian yang buram.
  5. Isi kuvet dengan aquades, untuk pengisian pada kuvet kita tidak perlu mengisinya sampai penuh namun cukup sampai tanda batas yang ada dalam kuvet tersebut.
  6. Buka tutup spektro, letakkan kuvet tersebut ke dalam blanko, pada saat meletakkan kuvet yang perlu diperhatikan adalah bagian terang dari kuvet harus menghadap ke lubang karena cahaya spektrofotometer uv vis akan ditembakkan melalui lubang tersebut.
  7. Kemudian isi kuvet yang lain dengan larutan sampel, dan masukkan di tempat nomer 1.
  8. Lakukan hal yang sama untuk sampel yang kedua jika ada.
  9. Tutup spektrofotometer secara perlahan.Untuk tahapan pengukuran absorbansi, dll tentunya disesuaikan dengan pengoperasian masing-masing merk / tipe spektrofotometer uv vis tersebut. Video dibawah ini merupakan salah satu contoh cara menggunakan spektrofotometer uv vis.

Prinsip Kerja Kalibrasi spektrofotometer UV Visible

Paling tidak ada 3 tahapan yang harus diperhatikan sebelum melakukan kalibrasi spektrofotometer UV Vis, yaitu : 

Pemeriksaan awal

  1. Sebelum kalibrasi dimulai lakukan pemeriksaan visual bahwa spektrofotometer berfungsi dengan baik, setiap kekurangan yang ditemukan harus dicatat dan dievaluasi untuk memastikan bahwa hal tersebut tidak mempengaruhi kinerja spektrofotometer.
  2. Lakukan pengecekan nilai Stray Radiant Energy (SRE) atau kebocoran cahaya yang tidak diinginkan dengan menggunakan filter SRE pada daerah 200 nm sampai 450 nm.
  3. Bila diperlukan lakukan pengukuran base line flatness dan noise dari instrumen.
  4. Selama proses kalibrasi, suhu lingkungan disekitar spektrofotometer harus dipantau dan dicatat serta tidak keluar dari rentang 23 plus minus 3,0 derajat Celcius. Bila pengukuran dilakukan pada kondisi suhu di luar terus tersebut maka koreksi terhadap pengaruh suhu harus dipertimbangkan.

Persiapan alat

Kalibrasi dilakukan menggunakan filter standar baik berupa larutan atau glass. Untuk itu filter standar yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan penghembus udara (air blower) untuk memastikan tidak ada debu dan kotoran di permukaan filter standar. Apabila terdapat kontaminasi pada permukaan filter standar bersihkan menggunakan kain bebas serat atau mikrofiber.

Kalibrasi spektrofotometer UV Visible

Kualifikasi kinerja spektrofotometer mengikuti dua kriteria yang harus diverifikasi menggunakan filter standar saat kalibrasi. Kriteria-kriteria tersebut adalah :

  • Akurasi penunjukan panjang gelombang.

Akurasi bukan panjang gelombang didefinisikan sebagai penyimpangan penunjukan panjang gelombang pada rentang panjang gelombang serapan atau emisi dari nilai panjang gelombang pada rentang yang telah diketahui.

  • Fotometrik akurasi

Nilai Fotometrik akurasi ditentukan dengan membandingkan hasil pengukuran nilai acuan absorbansi atau transmittance baik berupa glass ataupun Larutan kimia dengan nilai yang sudah ditentukan dalam sertifikat.

Kenapa Kalibrasi Spektrofotometri uv-vis?

Menurut jurnal Indonesian of laboratory volume 1 nomor 2 tahun 2019 tujuan kalibrasi adalah untuk menyampaikan telusuran pengukuran, maka tujuan kalibrasi spektrofotometer adalah untuk mengetahui nilai perbedaan dari pembacaan alat dengan membandingkan nilai standar, sehingga dapat menjamin data yang benar dan valid. Berikut ini adalah beberapa alasan dilakukan kalibrasi spektrofotometer uv vis :

  • Agar alat spektrofotometer dapat digunakan dengan baik atau menghasilkan data yang valid
  • Untuk mengetahui letak kesalahan atau kerusakan secara dini sehingga dapat diperbaiki sebelum alat mengalami kerusakan berat.

Akurasi panjang gelombang

Akurasi penunjukkan panjang gelombang didefinisikan sebagai penyimpangan penunjukkan panjang gelombang pada rentang panjang gelombang serapan atau emisi dari nilai panjang gelombang pada rentang yang telah diketahui. Penyimpangan panjang gelombang dapat menyebabkan kesalahan yang signifikan pada hasil pengukuran kualitatif dan kuantitatif.

Apabila spektrofotometer di dalam mempertahankan skala panjang gelombang yang akurat maka profil penyerapan sampel yang diukur oleh instrumen spektrofotometer akan tidak akurat, maka harus melakukan verifikasi akurasi panjang gelombang pada spektrofotometer uv-vis.

Nilai akurasi fotometri

Ditentukan dengan membandingkan hasil pengukuran nilai acuan absorbansi atau transmitan baik berupa glass ataupun larutan kimia dengan nilai yang sudah ditentukan dalam sertifikat, karena nilai absorbansi dibatasi oleh tingkat linear hasil pembacaan nilai tersebut maka pada sebuah spektrofotometer ketika didapatkan perbedaan hasil pengukuran dari nilai absorbansi dengan nilai sertifikat maka perlu dilakukan koreksi. Nilai koreksi ini pada umumnya didapatkan dengan membuat plot grafik dan kemudian melakukan perhitungan interpolasi linier.

Performa spektrofotometri uv-vis secara langsung mempengaruhi kualitas pengukuran dan bergantung pada fungsi konfigurasi optik internal yang tepat sehingga dapat diverifikasi oleh penilaian berbagai parameter.

Manfaat pelaksanaan kalibrasi spektrofotometer untuk mengetahui unjuk kinerja instrumen apakah masih sesuai dengan standar yang dipersyaratkan atau tidak serta mengetahui nilai perbedaan dari pembaca alat dengan membandingkan nilai standar sehingga dapat menjamin data benar dan valid. Dengan mengetahui unjuk kinerja alat maka akan dapat menjamin mutu hasil data pengukuran dalam kegiatan penelitian, maupun pengujian.

Manfaat lainnya adalah untuk mengetahui letak kesalahan atau kerusakan secara dini sehingga dapat diperbaiki sebelum alat mengalami kerusakan berat.

Durasi / Interval kalibrasi spektrofotometer

Dalam menentukan interval untuk melakukan kalibrasi harus dilihat terlebih dahulu dari alat itu sendiri mulai dari umur alat, kinerja alat, dan juga rekomendasi pabrik pembuat alat tersebut.

Selain itu jangka waktu pemakaian hingga cara perawatannya juga menjadi tolak ukur dalam menentukan waktu kalibrasi penentuan waktu kalibrasi sebenarnya bisa diperkirakan misal alat ukur harus dikalibrasi zat mencapai 400 jam penggunaan atau setahun sekali dari masa pemakaian agar keakuratannya selalu terjaga.

Biaya dan resiko terkait dengan alat yang tidak dikalibrasi bisa jauh lebih tinggi daripada biaya pada alat yang terkalibrasi, oleh karena itu disarankan bahwa alat tersebut dikalibrasi secara teratur.

Untuk melakukan kalibrasi jika mempunyai standarnya bisa dilakukan sendiri dengan mengikuti manual book yang disertakan pada saat pembelian, namun pastikan personel yang melakukan sudah mengikuti training kalibrasi untuk menjamin kompetensinya.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Kalibrasi Alat Spektrofotometer

Instrumentasi Spektrofotometer UV VIs

Cara Penggunaan Spektrofotometer UV Vis

Klausul 6.2 SNI ISO/IEC 17025 : 2017 Persyaratan Kompetensi

Klausul 6.2 SNI ISO/IEC 17025 : 2017 Persyaratan Kompetensi

klausul 6.2 SNI ISO EIC 17025 2017

Seperti kita ketahui hasil uji yang benar dan andal dapat diperoleh salah satunya apabila personil penguji cukup kompeten, terlatih, tersupervisi, dan mendapat beban kerja yang tidak berlebihan. Sedemikian pentingnya kompetensi dari personel ini sehingga dalam klausul 6.2 SNI ISO / IEC 17025 : 2017 menjadi persyaratan tersendiri. Pada artikel kali ini kita akan belajar mengenai persyaratan kompetensi personel apa saja yang harus dipenuhi oleh personel penguji dan faktor-fakor apa saja yang perlu diperhatikan pada personel laboratorium tersebut.

Faktor-Faktor Personil Penguji

Faktor-Faktor Personil Penguji yang perlu mendapat perhatian, antara lain :

  • Kompetensi personil

Kualifikasi terkait pendidikan, pelatihan, pengalaman, serta keterampilan personel penguji harus sesuai dengan tugasnya. Lalu pendidikan minimum apa yang harus dimiliki oleh personil penguji? Tentunya adalah Sekolah Menengah analis kimia (SMAK).

Bagaimana halnya dengan para siswa lulusan sekolah menengah umum (SMU)? Seperti kita ketahui bahwa pada SMU Kurikulum yang diberikan tidak terkait pada hal-hal yang sifatnya praktis, seperti :

    1. Bagaimana melakukan penimbangan yang baik, misalnya : harus di tara terlebih dahulu, dilakukan pengecekan pada water pass nya terlebih dahulu, dll.
    2. Bagaimana cara memipet larutan dengan baik jika itu menggunakan pipet ukur / pipet volume.
    3. Bagaimana cara menggunakan mikropipet, dll

Namun apabila didalam suatu lokasi Laboratorium tidak terdapat Sekolah Menengah Analis Kimia (SMAK) dan laboratorium menerima personel lulusan sekolah menengah umum (SMU), tentunya kepada para lulusan sekolah menengah umum (SMU) ini harus diberikan terlebih dahulu pelatihan atau supervisi mengenai cara-cara yang tidak diajarkan di dalam sekolah menengah umum (SMU) sehingga memahami hal-hal yang harus diketahui apabila bekerja dalam laboratorium.

Prinsipnya adalah laboratorium harus memastikan kompetensi personil laboratorium mampu mengoperasikan peralatan tertentu dapat melaksanakan pengujian serta dapat mengevaluasi, menginterpretasi hasil uji, dan menandatangani laporan pengujian.

Berikut ini adalah contoh-contoh pengetahuan yang harus dimiliki personil penguji :

Personil penguji harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang

    • Metode uji yang digunakannya terkait hal berikut ini :
      1. Prinsip dasar dari metode uji yang digunakan, seorang personel harus mendalami apa sebenarnya prinsip dasar dari penetapan kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar Abu. dari metode uji proksimat dalam pangan. Dengan mengetahui prinsip dasar dari metode uji maka para personil dapat mengerjakan pengujian secara benar dan mengeta hui apabila ada kekurangan yang dilakukan pada saat melakukan pengujian.
      2. Metode pengujian menggunakan berdasarkan instrumen tertentu, seperti metode spektrofotometer visible dimana prinsip dasarnya adalah menentukan intensitas warna dari analit atau measurand setelah direaksikan dengan pereaksi pembentuk warna, prinsip metode HPLC, metode GC, dll.
      3. Personel penguji juga harus mengetahui kelemahan / keterbatasan suatu metode, misalnya : keterbatasan metode penetapan kadar gula menggunakan cara titrasi dan cara spektrofotometer apabila dibandingkan dengan cara HPLC. Penentuan kadar gula dengan menggunakan cara titrasi dan cara spektrofotometer hanya menentukan gula berdasarkan gula non pereduks, gula pereduksi dan gula total. Sedangkan pada cara HPLC penetapan gula didasarkan pada gula Individual, jadi dapat ditetapkan tersendiri apakah glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, dll. Sehingga apa yang menjadi keinginan dari klien atau pelanggan dapat diterapkan dengan cara memilih metode yang tepat.
      4. Selain itu personil penguji juga harus memahami interferensi dan gangguan dari matriks pada metode karena seperti kita ketahui metode pengujian selalu diganggu oleh keberadaan senyawa-senyawa lain yang ada pada matriks. Selain itu juga harus dipahami cara mengatasi gangguan tersebut. Oleh karena itu para personil perlu memahami trouble shooting untuk setiap metode yang berbeda. Mengenai masalah kontaminasi kita tahu bahwa apabila contoh diambil dengan wadah yang tidak bersih akan terjadi kontaminasi pada contoh. Pada saat melakukan pengujian spektrofotometer serapan atom wadah seharusnya dibilas terlebih dahulu dengan asam nitrat 6 M karena karena dinding dalam wadah mudah menyerap ion logam yang tidak akan keluar begitu saja dari dinding dalam wadah apabila wadah hanya dicuci menggunakan deterjen.
      5. Mengenai kestabilan sampel, personil penguji seyogyanya juga memahami bagaimana cara menangani sampel apabila sampel tersebut sampai di laboratorium apakah sampel harus disimpan dalam refrigerator atau bahkan freezer, atau desikator dan tidak bisa diletakkan begitu saja dalam ruang laboratorium karena misalnya sampel mudah menyerap uap air dari udara.
  • Pelatihan personilpelatihan karyawan

Manajemen laboratorium hendaknya merumuskan sasaran pendidikan dan pelatihan bagi para personil penguji, Mengidentifikasi jenis pelatihan yang dibutuhkan. Pelatihan dapat berupa pelatihan internal yang diadakan dilaboratorium mereka sendiri oleh penyelia atau dilakukan oleh orang luar sebagai narasumber dari luar laboratorium.

Selain pelatihan internal dapat juga dilakukan pelatihan eksternal oleh provider pelatihan di luar laboratorium, dimana personil penguji keluar dari laboratoriumnya untuk mengikuti pelatihan tersebut bersamaan dengan personil penguji dari laboratorium lainnya. Hal ini tentunya mempunyai keuntungan tambahan dimana personel penguji tersebut dapat bertemu dengan,teman-teman sesama personil penguji dari laboratorium lain sepanjang pelatihan sehingga dapat dijadikan sebagai ajang tukar menukar pengalaman dari para personil laboratorium dari berbagai laboratorium.

Selain itu personil penguji juga dapat mengikuti pelatihan tak berbayar dari forum asosiasi laboratorium yang sama serta webinar-webinar secara gratis yang dapat diakses melalui YouTube.

Prinsipnya menjadi kewajiban manajemen laboratorium untuk menyelenggarakan pelatihan sesuai tugas personil saat ini dan perlu dipikirkan juga terkait tugas yang akan dibebankan pada personel di masa yang akan datang.

  • Uraian tugas personil

Uraian tugas personil harus ditetapkan dan berisikan antara lain tanggungjawab personil pada :

    1. Pelaksanaan pengujian
    2. Pengoperasian alat serta pemeliharaannya
    3. Perencanaan pengujian dan evaluasi hasil uji
    4. Pelaporan dan interpretasi hasil uji
    5. Modifikasi metode uji apabila memang diperlukan
    6. Pengembangkan metode baru disesuaikan dengan jenis sampel uji dengan matriks berbeda yang tidak dapat dilakukan menggunakan metode uji yang selama ini digunakan oleh laboratorium. Dan setelah modifikasi metode uji maupun pengembangan metode baru dilaksanakan tentunya harus dilanjutkan dengan validasi metode yang dimodifikasi atau dikembangkan tadi.

Uraian tugas personil harus ada keahlian keterampilan dan pengalaman apa yang dimintakan dari personil oleh manajemen setelah kurun waktu tertentu personel tersebut bekerja di laboratorium. Dan yang tidak kalah pentingnya harus berisikan udah tugas-tugas manajerial diluar tugas pengujian, karena secara berjenjang personil penguji dari waktu ke waktu akan meningkatkan jenjang karirnya melalui penguji senior, penyelia, dan bukan tidak mungkin pada akhirnya menjadi seorang manajer teknis.

  • Kewenangan personil

Kewenangan yang dapat diberikan kepada personil harus dinyatakan, apakah kewenangan tersebut untuk melakukan jenis pengambilan contoh tertentu atau kemenangan dalam melaksanakan pengujian tertentu, mengoperasikan peralatan tertentu, dan penerbitan Laporan atau sertifikat uji dan yang tidak kalah pentingnya memberikan pendapat atau interpretasi tentang hasil uji yang diperoleh.

Hal ini tentunya harus dikaitkan dengan aturan keputusan (decision rule) yang telah ditetapkan laboratorium sebelumnya.

Kesimpulan

Sumber kesalahan yang berasal dari personil penguji dapat diperkecil melalui training yang cukup memadai, supervisi oleh yang lebih berpengalaman, beban kerja ada personil penguji, keikutsertaan analisis uji profisiensi atau uji banding antara laboratorium.

Demikian pembahasan singkat mengenai persyaratan kompetensi personel laboratorium penguji. Mudah-mudahan lebih bisa meningkatkan pemahaman klausul 6.2 SNI ISO / IEC 17025 : 2017.

Referensi :

Pojok Laboratorium

Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak dalam Analisa

Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak dalam Analisa

Perbedaan kesalahan sistematis dan kesalahan acak adalah

Dalam suatu pengujian / analisa, hasil yang valid merupakan harapan semua pihak baik itu laboratorium sebagai pihak yang melakukan pengujian ataupun pihak berkepentingan seperti mahasiswa untuk penelitian, pelanggan perusahaan untuk pelulusan produk, pihak berkepentingan untuk kegiatan tertentu misalnya penyidikan, kegiatan uji banding antar laboratorium, dll.

Untuk mendapatkan data yang valid tersebut tentunya dipengaruhi banyak faktor, antara lain kompetensi analis, kondisi lingkungan pengujian, tingkat akurasi alat ukur, dll. Keterbatasan alat ukur baik dari segi resolusi, akurasi, dll dapat menyebabkan setiap pengukuran akan mengandung kesalahan dan sebagai konsekuensinya hasil analisis kimia juga pasti mengandung kesalahan Karena analisis kimia tadi didasarkan pada data yang dihasilkan pada saat pengukuran.

Dalam artikel ini kita akan sedikit belajar mengenai jenis kesalahan baik itu kesalahan sistematis dan kesalahan acak serta contohnya dan bagaimana pengaruhnya dalam hasil pengujian / analisa.

Perbedaan Kesalahan Sistematis dan Kesalahan Acak

Berikut ini adalah video pendek terkait dengan perbedaan kesalahan sistematis dan kesalahan acak.

Kesalahan dalam analisis kimia dibagi menjadi tiga, yaitu :

  • Kesalahan Total / gross error

Kesalahan total dapat terjadi karena banyak sebab, misalnya : Pereaksi yang kita gunaakan sudah terkontaminasi, buret yang kita gunakan pada titrasi tidak bersih. Sehingga akibat dari kesalahan total / gross error ini adalah akan menyebabkan hasil analisis jauh berbeda dari nilai sebenarnya.

  • Kesalahan Sistematis

Salah satu penyebab kesalahan sistematis adalah apabila kita melakukan cara pengukuran yang salah secara sistematis, misalkan : Ketika kita membaca permukaan (miniskus) larutan di dalam buret, mata kita selalu dibawah permukaan larutan sehingga hal ini akan menyebabkan pembacaan akan selalu lebih besar dari nilai yang seharusnya.

Contoh lain : jika alat ukur yang kita gunakan tidak dikalibrasi dengan benar, maka kita akan selalu mendapatkan hasil yang secara konsisten lebih besar atau lebih kecil (tergantung koreksinya apakah + atau -) dari nilai yang sebenarnya.

  • Kesalahan Acak / random error

Sumber kesalahannya acak ini tidak bisa kita kendalikan, misalnya : temperatur di dalam laboratorium yang tidak stabil selama anda melakukan eksperimen / analisa, Walaupun kita sudah menggunakan AC di laboratorium, kemungkinan besar suhunya juga tidak akan konstan. Kelembaban udara di dalam laboratorium yang juga berubah-ubah yang bisa mengakibatkan hasil pengukuran kita lebih besar / lebih kecil dari nilai sebenarnya.

Jadi random error bisa menyebabkan hasil analisis kita lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya.

Untuk mendapatkan hasil analisis yang baik di dalam analisis kimia, kita tidak boleh melakukan kesalahan total ataupun kesalahan sistematis. Karena sumber kesalahan total dan sumber kesalahan sistematis bisa kita identifikasi dan bisa kita eliminasi, maka kita bisa menghindari melakukan kesalahan total atau kesalahan sistematis tersebut.

Namun kesalahan acak atau random Error itu tidak bisa kita hindari, Jadi jika ada random error maka hasil analisis kita akan bisa lebih besar atau lebih kecil dari nilai yang sebenarnya.

Untuk memahami hal diatas kita perhatikan contoh berikut ini :

Pada suatu analisis besi (Fe) yang kadarnya 20 ppm oleh seorang mahasiswi diminta untuk melakukan analisis 6 x, hasilnya adalah sebagai berikut :

kesalahan sistematis dan kesalahan acak

Jadi kalau kita perhatikan data diatas, nilai yang diperoleh dari 6 x pengukuran tersebut bisa lebih besar atau lebih kecil dari 20 ppm.

Lalu bagaimana kita melaporkan hasil pengukuran tersebut?

Jika kita anggap 20 ppm terebut adalah nilai yang sebenarnya, maka kita akan lihat bahwa nilai tengah dari hasil pengukuran ini akan mendekati nilai yang sebenarnya.

Jadi biasanya kita melaporkan hasil pengukuran kita dengan nilai tengah. jika terdapat variasi hasil pengukuran terhadap nilai tengah tersebut merupakan ukuran ketidakpastian dari nilai tengah tersebut.

Jadi nilai tengah ini bukan nilai yang sebenarnya, tetapi nilai yang mendekati nilai yang sebenarnya.

Point Penting yang bisa kita simpulkan adalah…

Di dalam analisis kimia, kita tidak akan pernah mendapatkan nilai yang sebenarnya, yang akan anda peroleh adalah nilai tengan yang mendekati nilai yang sebenarnya.

Kenapa anda tidak bisa mendapatkan nilai yang sebenarnya?

Karena di dalam pengukuran kita pasti melakukan kesalahan.

Rata-Rata vs Median Dalam Hasil Analisa

Nilai tengah dari suatu pengukuran dapat dinyatakan dengan 2 cara :

Dengan menghitung rata-rata

Dengan menghitung median

Rumusnya nilai rata-rata

Rata-rata adalah Jumlah dari semua hasil pengukuran dibagi dengan jumlah pengukurannya.

Jadi kalau kita mempunyai 6 hasil pengukuran seperti data diatas, maka hasil pengukurannya dijumlahkan semua lalu dibagi jumlah data (6) atau jika kita menggunakan excel cukup dengan formula :

=average(drag semua data yang ingin dirata-rata)

Jadi nilai tengah dan Nilai rata-rata dari hasil pengukuran diatas adalah

(19.4+19.5+19.6+19.8+20.1+20.3)/6 = 19,8 ppm.

Sedangkan median adalah nilai tengah dari satu set data jika data-data tersebut diurutkan dari yang terkecil hingga yang terbesar atau jika kita menggunakan excel cukup dengan formula :

=median(drag semua data yang ingin dirata-rata)

Jadi dari 6 data diatas, jika kita urutkan datanya adalah :

19.4 ; 19.5 ; 19.6 ; 19.8 ; 20.1 ; 20.3

Maka nilai tengah berada diantara 19.6 dan 19.8

Sehingga nilai tengan (median) nya adalah = (19.6 + 19.8)/2 = 19.7 ppm.

Dari perhitungan diatas, dapat kita lihat bahwa nilai rata-rata tidak sama dengan nilai tengah (median), lalu mana yang ingin kita pakai?

Tidak masalah kita mau menggunakan nilai rata-rata atau nilai median karena itu adalah hasil pengukuran, bukan nilai yang sebenarnya. 

Presisi vs Akurasi

akurasi vs presisi

Paling tidak ada dua hal yang harus kita pahami untuk memberikan arti pada hasil analisis.

  1. Ketelitian atau presisi
  2. Ketepatan atau Akurasi

Untuk memberikan pemahaman mengenai kedua hal diatas (presisi dan Akurasi) maka kita coba bayangkan lingkaran pada gambar diatas sebagai target ketika orang memanah. Target kita tentunya busur panah tepat mengenai di tengah-tengah lingkaran. Nah jika kita melakukan tembakan (memanah) dengan anak panah 9 x. 

  • Untuk tembakan yang berada di lingakaran A, jika kita ambil rata-ratanya, maka kurang lebih posisinya agak jauh dari tengah lingkaran (posisinya tidak di tengah atau nilai yang sebenarnya). Hal tersebut menunjukkan akurasi dari tembakan kita rendah karena rata-ratanya tidak di tengah-tengah lingkaran. 

Selain itu hasil tembakan kita tersebar kemana-mana atau antara satu tembakan dengan tembakan lain saling berjauhan, hal ini menunjukkan tidak presisi atau tidak teliti.

Jadi lingkaran A tersebut adalah hasil tembakan yang akurasinya rendah dan presisinya rendah.

  • Kemudian untuk lingkaran B, jika kita lihat dan rata-rata hasilnya juga terlihat jauh dari target (titik tengah lingkaran) hal ini menandakan akurasinya rendah. Namun Jarak antara satu tembakan dengan tembakan yang lain berdekatan sehingga bisa dikatatan presisinya tinggi.
  • Untuk lingkaran C, dimana jika hasil beberapa tembakan kita rata-ratakan maka posisinya dekat dengan target (titik tengah lingkaran), sehingga bisa dikatakan akurasinya tinggi. Namun jarak antara satu tembakan dengan tembakan yang lain itu berjauhan sehingga presisinya rendah.
  • Untuk lingkaran D bisa kita lihat bahwa jika beberapa tembakan tersebut kita rata-rata maka hasilnya mendekati target (titik tengah lingkaran), selain itu jarak antara tembakan satu dengan yang lainnya juga berdekatan. Jadi bisa dikatakan mempunyai akurasi dan presisi yang tinggi. Data inilah yang kita harapkan dalam setiap pengujian atau pengukuran. Meskipun perlu proses dan pengalaman, dan peningkatan kompetensi untuk mendapatkannya.

Pemahaman mengenai istilah kesalahan sistematis, kesalahan acak, akurasi, presisi ini sangat penting terlebih dalam rangkaian suatu kegiatan verifikasi dan validasi metode analisis.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=Cn5XOo3He_o&t=349s
www.youtube.com/watch?v=pl9fJ7JujCc&t=36s

Prinsip Kerja dan Bagian-Bagian Tachometer (Alat Ukur RPM)

harga tachometer mobil untuk alat ukur rpm

Parameter RPM merupakan salah satu parameter yang banyak terdapat di dalam industri. Berikut ini adalah secara umum beberapa aplikasi tachometer sebagai alat ukur RPM di berbagai macam industri tersebut antara lain di bidang otomotif, perkapalan, Mesin Mekanis dll. Di artikel berikut kita akan sedikit membahas mengenai prinsip kerja, bagian-bagian, serta cara kalibrasi tachometer tersebut.

Pengertian Tachometer Sebagai Alat Ukur RPM

Tachometer adalah alat yang dirancang untuk mengukur kecepatan putaran dari objek yang bergerak, unit ini juga dikenal sebagai alat penghitung revolusi, penghitung putaran, pengukur RPM, atau hanya sebagai ‘tach’ saja.

Tachometer digunakan pada pengukuran kecepatan motor, misalnya : kecepatan poros engkol motor / mesin lainnya dan banyak ditemukan di industri otomotif dan penerbangan.

Berikut ini adalah beberapa contoh tujuan pengukuran RPM di dalam industri otomotif :

  • Pengukuran kecepatan putaran mesin, seperti yang kita tahu tachometer biasanya ditampilkan di dashboard mobil. Nilai tersebut memberi tahu pengemudi kapan harus memindahkan gigi dengan memperhitungkan kecepatan rotasi poros sehingga mesin tidak mudah rusak.
  • Kecepatan rotasi suatu roda / rol, kipas, turbin, dll.
  • Kecepatan perjalanan pada konveyor.
  • Pengukuran panjang suatu produk misalnya : kawat, produk lembaran, dll.

Prinsip Kerja Tachometer (Alat Pengukur RPM)

Electronic Tachometer
Mechanical Tachometer

Electronic Tachometer

Merupakan jenis tachometer modern dimana alat ini menampilkan pembacaan digital dan terkadang dilengkapi fitur kemampuan penyimpanan data. Alat ini menunjukkan Kecepatan (RPM) suatu mesin dengan mengukur rotasi poros mesin perangkat menyerupai generator listrik yang bervariasi sesuai dengan kecepatan putaran mesin tersebut dan kemudian arus listrik yang dihasilkan tersebut dikonversi ke dalam satuan RPM yang ditampilkan kepada pengguna melalui layar LED atau LCD.

Mechanical Tachometer

Mechanical tachometer bekerja dengan memanfaatkan ketergantungan gaya sentrifugal pada massa yang berputar pada kecepatan rotasi. Gaya ini dapat menekan atau meregangkan pegas mekanis.

Beberapa Jenis Tachometer

Contact Tachometers
Non-Contact Tachometers
Laser Tachometers
Optical Tachometers
  • Contact Tachometer

Contact tachometer dalam pengukurannya kecepatan (RPM) nya memerlukan kontak dengan objek yang berputar. Alat ini bekerja dengan menggunakan encoder optik atau sensor magnetik, tergantung pada model / tipe tachometer tersebut. Perlu diperhatikan jika menggunakan tachometer tipe ini, Kontak langsung dengan poros atau komponen yang berputar harus dijaga untuk mencapai pembacaan yang akurat.

  • Non Contact Tachometer

Non Contact Tachometer dapat melakukan pengukuran RPM tanpa memerlukan kontak langsung dengan objek. Alat ini bekerja dengan menggunakan laser atau cahaya inframerah dan sangat ideal untuk digunakan dengan objek berbahaya dan sulit diakses.

  • Laser Tachometer

Laser Tachometer menampilkan laser pada bagian ujung alat yang dapat diarahkan ke objek yang berputar untuk mengukur kecepatan (RPM) melalui fungsi pembacaan langsung. Laser tachometer ini adalah jenis Non Contact tachometer dan ideal untuk digunakan di area yang sulit diakses, seperti ruang sempit atau untuk pemeriksaan mesin-mesin industri. Laser Tachometer memiliki jarak pendeteksian yang bervariasi tergantung pada tipenya namun secara umum adalah 1 – 2 meter.

  • Optical Tachometer

Optical Tachometer merupakan sensor optik yang digunakan untuk mengukur kecepatan rotasi roda, motor, atau poros. Alat ini menggunakan laser atau sinar cahaya untuk mengukur RPM dan juga mampu mengukur perbedaan frekuensi cahaya yang dipantulkan.

Bagian-bagian tachometer / Alat Pengukur RPM

Gambar diatas merupakan salah satu tipe tachometer, secara tampilan mungkin bisa berbeda dengan brand dan tipe yang lainnya namun paling tidak bisa memberi gambaran umum bagian-bagian dari alat tachometer.

  1. Penyalur putaran (Roda Idler) 6 Inch
  2. Tip sentuh cekung
  3. Tip sentuh cembung
  4. Pemanjangan (lengthening) bar
  5. Penyalur putaran (Roda Idler) 0.1 m
  6. Bantalan pengukuran
  7. Tombol pindah mode yang berfungsi untuk berpindah ke mode pengukuran satu ke yang lainnya, kita diberikan pilihan dengan 5 mode pengukuran dari 0 s/d 5
  8. Tombol pengukuran, tekan tombol ini untuk melakukan pengukuran
  9. Tombol penyimpanan data.
  10. Tombol Backlight dan HOLD komposit, yang berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan lampu background.
  11. Tombol Plus, tekan tombol ini jika ingin menambahkan jumlah penyimpanan.
  12. LCD / Layar
  13. Tombol Power, untuk menghidupkan atau mematikan unit alat.
  14. Masimum dan minimum, untuk menampilkan nilai max, min, dan rata-rata dari pengukuran.
  15. Penyimpan data dan baca data, Untuk membaca nilai kecepatan RPM sesuai dengan nomer yang tersimpan.
  16. Tombol Minus, untuk mengurangi jumlah penyimpanan data.

Untuk fungsi dari dan cara operasional dari masing-masing tombol diatas tentunya bisa dilihat lebih lengkap di manual book alat.

Beberapa Aplikasi Tachometer di Industri

Tachometer dapat digunakan dalam berbagai aplikasi di berbagai industri dan lingkungan. Aplikasi umum dapat mencakup :

  • Kendaraan dan otomotif, Tachometer yang digunakan di dalam kendaraan memungkinkan pengemudi untuk memilih gigi yang paling sesuai dengan kecepatannya sehingga alat ini bermanfaat untuk mengoptimalkan kinerja dan melindungi mesin dari panas berlebih, pelumasan yang tidak mencukupi, dan menyebabkan keausan yang tidak perlu pada komponen di dalam sistem.
  • Kapal dan kendaraan laut, Tachometer juga dapat digunakan alat ukur RPM mesin kapal / perahu yang bermanfaat untuk memantau kecepatan mesin dan menginformasikan keputusan seputar kinerja dan konsumsi bahan bakar.
  • Laboratorium, pengujian dan pengukuran, misalnya suatu bahan raw material bisa dilarutkan dengan unit alat homogenizer dengan kecepatan berapa RPM? dimana nilai kecepatan ini bisa kita ukur dengan menggunakan tachometer.
  • Pemeliharaan dan operasi mesin industri, misalnya suatu mesin filling diperkirakan menghasilkan produk finished good sejumlah 300 botol per menit, maka hal tersebut bisa diverifikasi dengan menggunakan tachometer untuk memastikan kebenarannya.

Cara Menggunakan Tachometer

cara menggunakan tachometer
  1. Nyalakan alat yang akan diukur dengan menggunakan tachometer, tunggu hingga kecepatannya stabil.
  2. Pasang lengthening bar dan pit pada tachometer
  3. Nyalakan unit alat tachometer dengan menekan tombol ON/OFF
  4. Pilih mode pengukuran kecepatan (bisa menggunakan mode default)
  5. Dekatkan tachometer ke obyek yang berputar sehingga pit bersentuhan dengan obyek yang diukur tersebut, lakukan secara hati-hati dan tetap pastikan keselamatan kerja.
  6. Tekan tombol pengukuran untuk membaca hasilnya.

Catatan : Beberapa Penyebab Kesalahan Pengukuran dengan Tachometer adalah Ketidakstabilan pusat titik laser / berpindah-pindah area yang di sorot.

Cara Merawat Tachometer

Seiring dengan berjalannya waktu, alat ukur terkadang mengalami gejala kerusakan, berikut ini adalah beberapa kerusakan yang terkadang kita temui di tachometer.

  • Display / layar mati

Biasanya dipengaruhi salah satunya umur alat, kerusakan ini bisa dilakukan penggantian pada displaynya / memeriksa koneksi kabel-kabelnya apakah ada yang terputus / berkarat.

  • Pembacaan tidak akurat

Bisa dilakukan pemeriksaan pada sirkuit kabel hingga ke sumber daya dan bagian engine control unit dan pastikan dilakukan kalibrasi tachometer tersebut setelah dilakukan perbaikan.

Jika bagian enginering di perusahaan teman-teman mengalami kesulitas untuk melakukan perbaikan kerusakan pada tachometer ini, maka bisa menggunakan jasa layanan service alat laboratorium.

Cara Kalibrasi Tachometer

Standar Untuk Kalibrasi Tachometer
Tahapan Kalibrasi Tachometer

Seperti kita ketahui, tachometer digunakan untuk memverifikasi kecepatan motor berputar yang menghasilkan produk tertentu atau memantau proses tertentu. Dengan kecepatan yang ditentukan tersebut tentunya kita harapkan produk yang dihasilkan berkualitas dan sesuai standar.

Setiap motor memiliki bagian yang bergerak yang tentunya tidak dapat dilepaskan dari keausan sehingga perlu dipantau terus-menerus. Dengan dasar tersebut maka kalibrasi tachometer sebagai alat pengukurnya perlu dilakukan secara berkala.

  1. Nyalakan Fluke 754, Pilih the source function
  2. Tekan tombol Frequency / Hz
  3. Set the voltage to 2V and Set the Waveform to a square wave
  4. Tekan done.
  5. Hubungkan LED menggunakan konektor the connector pada port dibawah source (lihat gambar 5). (a pair of connecting probes can be used also).
  6. Tekan tombol frequency ( Hz)
  7. Atur rentang frequency (contohnya : 60 Hz)
  8. Tekan enter
  9. Pada tahap ini LED akan menyala, arahkan tachometer ke lED dengan jarak kurang lebih 3 s/d 5 inchis
  10. Tunggu sampai pembacaan stabil (cuplik 3 data pengamatan)
  11. Ubah rentang frekuensi dan ulangi langkah 6 s/d 9

Berikut ini adalah video dari mengenai cara kalibrasi tachometer, dimana dalam video tersebut diberikan contoh untuk unit yang dikalibrasi adalah Amprobe Tach20 dengan standar yang digunakan adalah Fluke 754 Process Calibrator.

Sumber Video :

https://calibrationawareness.com/digital-tachometer-calibration-procedure-non-contact-type-using-fluke-754-process-calibrator 

 

Semoga bermanfaat

Mengenal Jenis & Fungsi Mortar dan Alu di Dalam Laboratorium

alu dan mortar laboratorium

Penggerusan sampel / bahan di dalam laboratorium merupakan hal yang lazim dilakukan dengan tujuan yang bermacam-macam, misalnya untuk pengambilan sampel dari suatu padatan yang kemudian dilakukan analisa lebih lanjut, untuk melarutkan suatu sampel agar lebih mudah dilakukan karena jika sampel masih dalam bentuk padatan maka akan susah larut, dll.

Meskipun perkembangan teknologi saat ini memberikan kita semakin banyak pilihan teradap alat untuk menggerus / menggiling suatu sampel, namun keberadaan mortar dan alu di dalam laboratorium tetap dipertahankan dan dengan mudah kita temui untuk berbagai macam aplikasi yang bertujuan untuk membuat sampel menjadi serbuk / mempunyai ukuran yang lebih kecil. Bagaimana cara menggunakan mortar dan alu ini? Apa saja jenisnya? Yuk kita simak dalam artikel berikut ini.

Sejarah Mortar dan Alu

Mortar dan alu ini sebenarnya sudah ditemukan dari zaman batu, dimana manusia pada zaman dulu menggunakan alat ini untuk mengolah makanan / bahan lainnya dengan cara menghancurkannya / menggiling menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga lebih dapat dimasak dengan mudah. Seiring berjalannya waktu, dengan ditemukannya berbagai macam mortar dan alu yang terbuat dari bahan batu maka mortar alu dari bahan kayu dan tanah liat mulai terabaikan.

Sejarah juga menuliskan bahwa pada 22000 s/d 18000 SM (sebelum masehi), mortar alu dari bahan batu digunakan untuk menghancurkan biji-bijian dan bahan tanaman lain dalam suatu TRADISI KEBARAN. Mortar alu ini juga kita temukan di GUA RAQEFET di israil, dimana terdapat rongga alami di lantai gua yang dimanfaatkan oleh NATUFIAN pada 10.000 SM (sebelum masehi) sebagai mortar untuk menggililing sereal untuk membuat bir.

Namun pada abad ke 14, keberadaan mortar batu tidaklah sepopuler mortar perunggu, terutama dalam hal penggunaannya untuk aplikasi kimia pada saat itu karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu bahan yang keras serta mudah dicetak dengan dilengkapi pegangan dan kenop sehingga lebih mudah dalam penggunaan dan penuangan. Namun beberapa kekurangan dari mortar perunggi ini juga menjadi masalah karena dapat bereaksi dengan bahan yang bersifat asam serta bahan kimia lainnya serta dapat menimbulkan korosi. Sehingga sejak akhir abad ke 17, kemunculan mortar porselen yang mengkilap menjadi sangat penting, karena mortar jenis ini selain mudah dibersihkan juga tidak akan rusak jika terkena bahan kimia.

Pengertian & Fungsi Mortar dan Alu Laboratorium

Mortar dan alu dalam aplikasinya di dalam laboratorium selalu digunakan secara bersamaan. Kedua alat ini sebenarnya sudah digunakan sejak zaman dulu untuk menghancurkan / menggiling bahan-bahan sehingga menjadi bubuk halus dan sampai saat ini aplikasinya banyak kita temukan di berbagai macam industri, misalnya :

  • Dalam industri makanan untuk menghancurkan rempah-rempah, gula, dll.
  • Dalam industri kosmetik untuk menghancurkan pigmen, pengikat, atau zat lainnya.
  • Dalam industri keramik untuk membuat grog
  • Dalam industri farmasi untuk pencampuran suatu obat.

Mortar mempunyai bentuk seperti mangkuk, yang terbuat dari kayu keras, keramik, logam, atau granit. Sedangkan alu mempunyai bentuk seperti gada. Dalam penggunaannya, sampel / bahan dimasukkan ke dalam mortar, kemudian digiling sampai mendapatkan serbuk dengan tekstur sesuai yang diinginkan.

Kelebihan menggunakan mortar dan alu jika dibandingkan dengan alat lainnya adalah bentuknya yang seperti mangkok sehingga pada saat terjadi penggilingan maka sampel atau material yang digiling tidak tumpah.

Cara Menggunakan Alu dan Mortar

  1. Meskipun aplikasinya luas, berikut ini adalah salah satu contoh fungsi mortar dan alu dalam pembuatan sediaan obat di dunia farmasi. Yang perlu kita siapkan selain alu dan mortar adalah kertas perkamen dan serbet. Berikut ini adalah tahapan menggunakannya :
  2. Sebelum melakukan penggerusan atau pembuatan sediaan obat, pastikan terlebih dahulu meja kerja dalam keadaan bersih.
  3. Lipat serbet dan taruh di atas meja kerja, serbet ini akan kita gunakan sebagai alas mortar.
  4. Taruh mortar dan alu diatas serbet, pastikan posisi mortar adalah bagian mulut mortar tepat dihadapan kita
  5. Pegang mortar dengan tangan kiri dengan posisi ibu jari kita berada tepat pada mulut mortar dengan tuuan supaya mortarnya tidak bergerak kemana-mana.
  6. Pegang alu dengan tangan kanan dengan posisi ibu jari tangan kanan berada tepat diatas alu / bisa dilakukan dengan cara ibu jari tangan kanan berada tepat disamping alu.
  7. Gerus sampel / bahan dengan cara memutar alu searah dengan jarum jam atau bisa juga berlawanan arah dengan jarum jam. Catatan : Pada saat menggerus / memutar alu, pastikan yang bergerak adalah pergelangan tangan, bukan bagian lengannya.
  8. Jika ada bahan yang belum halus yang masih menempel pada alu, bersihkan dengan kertas perkamen kemudian kita gerus kembali.
  9. Setelah sediaan tercampur dengan rata bersihkan kembali bagian alu supaya tidak ada bahan yang menempel.
  10. Letakkan alu berada di atas serbet yang sebelumnya ditaruh atau diletakkan kertas perkamen dengan posisi kepala alu menghadap / berada di depan kita.

Contoh Beberapa Jenis Mortar Laboratorium

Zirkonia Mortar & Pestle
Soda Glass Mortar & Pestle
Agate Mortar & Pestle
Alumina Mortar & Pestle

Jenis mortar dapat dibedakan berdasarkan dengan mortar tersebut terbuat dari bahan apa, antara lain sebagai berikut :

  1. Mortar dan alu kaca, yang terbuat / dicetak dari soda glass yang dipoles.
  2. Mortar dan alu zirkonia, merupakan alat penggerus / penggiling yang sangat keras, sangat cocok diaplikasikan di industri keramik. Kelebihan dari alat ini adalah anti korosi dan minimum dari kontaminasi serta dapat digunakan pada suhu tinggi.
  3. Agate Mortars & Pestles, sangat cocok digunakan untuk menggiling bahan padat kimia, industri sampai ke aplikasi medis. Jenis ini paling banyak kita temukan di laboratorium kimia / industri makanan. Bahan mortar ini lebih keras dibandingkan dengan yang dari bahan kaca dan porselen dan mempunyai keunggulan produk yang digiling sebelumnya lebih mudah dibersihkan sehiingga dapat mencegah adanya kontaminasi silang. Pembersihan dengan alkohol dan bahan kimia lainnya, serta pemanasan dapat merusak mortar dan alu jenis ini.
  4. Alumina Mortar and Pestle Set, Jenis ini mempunyai kemurnian yang tinggi 99.8% high purity alumina mortar and pestle dengan density di kisaran angka 3.8 s/d 3.9 g/cm3. Jenis ini juga banyak kita temukan di laboratorium.

Tips Membeli Alu dan Mortar Laboratorium

Alu dan mortar dapat kita temukan dalam berbagai macam jenis dan ukuran, supaya tidak salah dalam melakukan pembelian point-point berikut bisa menjadi pertimbangan :

  • Pilih ukuran yang sesuai,

Alu dan mortar tersebut akan kita gunakan untuk apa? Apakah untuk penggerusan sampel di laboratorium kimia, atau untuk menghancurkan biji-bijian / rempah-rempah dalam industri makanan? Jumlah yang digerus banyak atau sedikit? Dari jawaban pertanyaan tersebut kita bisa memperkirakan ukuran dari alu dan mortar yang akan kita beli.

  • Pilih Bahan Alu dan Mortar

Alu dan Mortar biasanya dijual dalam bentuk pasangan, jika kita membeli mortar dari bahan kaca, maka alu yang kita dapatkan juga akan dari bahan kaca. Pastikan jenis alu dan mortar yang kita beli tidak bereaksi dengan bahan yang kita gerus serta mudah dibersihkan.

Ukuran Mortar Laboratorium

ukuran alu dan mortar

Seperti yang sudah diuraikan diatas, bahwa mortar dan alu laboratorium mempunyai beberapa pilihan ukuran yang bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan kita, berikut ini adalah contoh dari ukuran alu dan mortar agate yang dapat kita temukan di pasaran.

Agate mortar and pestle standar form, dengan ukuran diameter luar :

  • 25 mm
  • 35 mm
  • 40 mm
  • 50 mm
  • 65 mm
  • 75 mm
  • 95 mm
  • 100 mm
  • 150 mm

Agate mortar and pestle Deep form dengan ukuran diameter luar :

  • 50 mm
  • 65 mm
  • 75 mm
  • 95 mm
  • 100 mm
  • 125 mm
  • 150 mm

Demikian ulasan mengenai sejarah, cara menggunakan, jenis, serta fungsi dari mortar dan alu laboratorium.

Semoga bermanfaat.

Rererensi :

Wikipedia Mortar & Pestle