Pendekatan Bottom-Up Pada Perhitungan Estimasi Ketidakpastian

Pendekatan Bottom-Up Pada Perhitungan Estimasi Ketidakpastian

Malanjutkan artikel sebelumnya yang membahas mengenai ketidakpastian pengukuran baik dari pengertian, istilah umum yang sering digunakan, sumber informasi, rumus yang digunakan, tipe ketidakpastian, serta pendekatan dalam mengestimasi ketidakpastian dimana ada 2 pendekatan yaitu :

  • Pendekatan Top Down
  • Pendekatan Bottom Up

Maka pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai perhitungan estimasi ketidakpastian dengan pendekatan bottom-up, khususnya pada bagian bagaimana cara membuat model sistem pengujian dan menggambarkan grafik tulang ikan atau fishbone.

Tahapan Pendekatan Bottom Up pada Estimasi Ketidakpastian

Untuk melakukan perhitungan ketidakpastian pengujian dengan pendekatan bottom up, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu :

  • Buat model sistem pengujian

Model sistem pengujian adalah suatu flowchart atau diagram alir langkah demi langkah yang dilakukan pada pengujian sesuai Instruksi Kerja (IK) atau Standard Operating Prosedur (SOP) yang dimiliki laboratorium.

  • Tuliskan rumus yang digunakan untuk menghitung measurand atau analit
  • Gambarkan grafik tulang ikan sesuai dengan rumus yang digunakan
  • Dari grafik tulang ikan yang terbentuk, estimasi semua komponen yang memberikan kontribusi pada ketidakpastian dan dihitung sebagai ketidakpastian baku (u)
  • Gabungkan semua ketidakpastian baku menjadi ketidakpastian baku gabungan (Uc) sebagai akar dari jumlah kuadrat setiap ketidakpastian baku (u)

combined standard uncertainty

  • Tetapkan ketidakpastian diperluas menggunakan faktor pencakupan yang sesuai.

rumus ketidakpastsian bentangan

Contoh Perhitungan Ketidakpastian Pengujian

Contoh 1 : Pada Analisis Kadar Air

Berikut ini adalah model pengujian dari kadar air dengan rumus untuk menghitung kadar air dan bagaimana fishbone atau diagram tulang ikan dibuat dari rumus tersebut

flow chart pengujian kadar air

  • Tahap pertama apabila kita menggambarkan model sistem pengujian maka kita harus menuliskan langkah demi langkah yang dilakukan pada pengujian kadar air. Gambar diatas merupakan contoh flow chart pengujian kadar air.

Misalnya :

    1. Mula-mula timbang cawan kosong atau wadah kosong (M1)
    2. Setelah itu kita timbang cawan + contoh (M2), sehingga nanti dari M1 dan M2 dapat dihitung berapa berat contoh yang ditimbang.
    3. Setelah itu masukkan cawan + contoh kedalam oven laboratorium, sesuaikan dengan Instruksi Kerja untuk analisa kadar air tersebut, contoh : suhu yang digunakan adalah 105 °C  selama 3 jam.
    4. Setelah 3 jam cawan + contoh dikeluarkan dari oven, dan didinginkan terlebih dahulu dalam desikator.
    5. Setelah mencapai suhu kamar ditimbang berat kering cawan + contoh sampai diperoleh bobot tetap (M3)

Dari M1, M2, dan M3 dapat dihitung kadar air menggunakan rumus :

rumus kadar air

(M2 – M3) adalah air yang teruapkan / air yang menguap dari contoh.

(M2 – M1) adalah berat contoh yang ditimbang.

  • Dari rumus diatas, kita gambarkan fishbone / diagram tulang ikan.

fishbone kadar air

Pada saat menggambarkan diagram tulang ikan, gambarkan mula-mula tulang punggung ikannya sebagai garis tengah. Letakkan apa yang akan dicari pada bagian dari kepala ikan (dalam hal ini adalah kadar air). Setelah itu gambarkan pada fishbone tadi tulang-tulang utama, yaitu apa yang ada pada rumus, yaitu :

    • (M2 – M3) adalah Massa air yang teruapkan / air yang menguap dari contoh. maka akan ada tulang utama dari M air teruapkan terdiri atas tulang kecil M2 dan M3 dan yang sebelumnya sudah diketahui bahwa pada penimbangan akan ada dua komponen ketidakpastian yaitu :
      1. Ketidakpastian baku asal kalibrasi (K)
      2. Ketidakpastian baku asal presisi

Namun disini tulang kecil ketidakpastian baku asal presisi  tersebut dihilangkan karena sudah digantikan oleh tulang utama dari presisi metode. Hal ini bisa kita jelaskan jika tulang-tulang kecil dari presisi tidak dihilangkan maka yang terjadi adalah pada estimasi dari ketidakpastian asal presisi akan ada perhitungan dua kali. Sehingga untuk presisi dari M air teruapakan tersebut dihilangkan.

    • Setelah itu ada M contoh merupakan tulang utama. M Contoh berasal dari (M2 – M1)

Seperti halnya (M2 – M3) atau massa air yang teruapkan diatas, tiap-tiap tulang kecil M2 dan M1 mempunyai tulang-tulang kecil yang berasal kalibrasi.

Apa yang ada pada rumus sudah tergambarkan pada bagian ini tetapi fishbone / diagram tulang ikan terdiri bukan hanya dari apa yang ada pada rumus, tetapi dari rumus ditambah faktor-faktor lainnya yaitu sesuatu yang tidak ada pada rumus tapi berpengaruh dalam pengujian kadar air.

    • Misalnya efek suhu atau ruang dimana efek suhu adalah suhu oven dan efek ruang adalah ruangan dalam oven tadi.

Di dalam IK (Instruksi Kerja) dikatakan bahwa pada pengujian kadar air cawan dan contoh dipanaskan pada 105 °C. Oven memang diseting pada suhu 105 °C, akan tetapi laboratorium mempunyai sertifikat kalibrasi oven dan di dalam sertifikat kalibrasi oven tertera ketidakpastian oven ini misalnya ± 3 °C.

Berarti ada kemungkinan suhu dalam oven kisarannya antara 102 °C celcius sampai 108 °C.

Nah di dalam tulang utama dari efek suhu atau ruang ini harus diperhitungkan berapa ketidakpastian yang akan timbul apabila suhu kurang dari atau lebih dari 105° Celcius.

Itu sebabnya di sini ada ketidakpastian tambahan yang bukan berasal dari rumus.

    • Hal yang sama terjadi untuk tulang tambahan yang bukan berasal dari rumus yang didefinisikan sebagai asal presisi dan asal homogenitas.

Asal presisi ini disebabkan dari fakta bahwa apabila pengujian kadar air menggunakan SOP yang sama, diulangi lebih dari satu kali maka hasil uji pertama tidak akan sama benar dengan hasil uji kedua, begitu pula dengan hasil uji ketiga apabila dilakukan tidak adan sama dengan hasil uji kedua. Itu sebabnya ada ketidakpastian asal presisi metode.

    • Ketidakpastian asal homogenitas contoh juga harus ditambahkan apabila laboratorium berpendapat contoh yang dihadapinya saat ini punya faktor heterogenitas.

Jadi artinya contohnya tidak benar-benar homogen karena pada setiap pengujian seharusnya cuplikan yang diambil merupakan perwakilan dari contoh yang diberikan pada laboratorium, tapi karena ada faktor inhomogenitas atau ada faktor heterogenitas contoh, kadang cuplikan yang diambil tidak mewakili 100 % contoh yang diberikan pada laboratorium.

“Nah dari hal diatas dapat kita ketahui bahwa fishbone / diagram tulang ikan tidak hanya berasal dari rumus saja, namun juga bisa berasal dari faktor lainnya.”

Contoh 2 : Pada Pengujian Fosfat Dalam Air

Berikut ini adalah model pengujian kadar fosfat dalam air dengan metode spektrofotometer uv-vis menggunakan kurva kalibrasi, pasti laboratorium akan punya model sistem pengujian yang berbeda.

flow chart pengujian phospat

Dalam model sistem pengujian tersebut pertama-tama didefinisikan terlebih dahulu apa yang harus masuk dalam perhitungan pada rumus, misalnya dari gambar flowchart diatas:

  1. Pipet 50 ml sampel air, sehingga dari aktivitas ini ada V1 dan konsentrasi fosfat dalam sampel dinotasikan sebgai Csp (C sampel).
  2. Kemudian kedalam 50 ml sampel tersebut dimasukkan asam sulfat pekat dan 1 ml H2O2 dan dipanaskan sehingga larutan akan menjadi jernih.
  3. Kemudian saring dan masukkan ke dalam labu takar 50 ml. Dapat dilihat sampai pada tahap ini kita sudah dua kali menggunakan alat gelas :
    • Pipet Volume dengan volume 50 ml
    • Labu takar dengan volume 50 ml
  4. Dari kedua alat laboratorium (pipet volume dan labu takar) tersebut diatas, akan ada ketidakpastian asal pemakaian peralatan terebut.
  5. Setelah itu lakukan pemipetan terhadap sampel awal sebanyak 5 ml (yang dinotasikan sebagai V3).
  6. Masukkan sampel 5 ml tersebut ke dalam labu takar 50 ml dan tambahkan 5 ml reagen molibdat dan 2 ml hidrazin sulfat dan campuran tersebut dipanaskan dalam waterbath selama 10 menit, didinginkan, dan ditepatkan volumenya.

Bersamaan dengan hal diatas, disiapkan deret standar karena metode ini menggunakan kurva kalibrasi.

Deret standard dibuat dari dengan cara :

  1. Mula-mula membuat larutan induk sulfat dengan konsentrasi 50 mg/L.
  2. Setelah itu dipipet kedalam 4 labu takar 50 ml secara terpisah masing-masing :
    • 0,25 ml
    • 0,5 ml
    • 1 ml
    • 1,5 ml
  3. Larutan standar induk ditambahkan dengan pereaksi molibdat dan hidrazin sulfat kemudian dipanaskan dalam waterbath, didinginkan dan ditepatkan volumenya.
  4. Setelah itu baik deret standar maupun larutan sampel diukur absorbansinya atau serapannya pada panjang gelombang 840,5 nanometer.
  5. Dari hasil plotting larutan sampel pada kurva kalibrasi yang dibentuk oleh deret standar tersebut akan dihasilkan konsentrasi fosfat dalam larutan yang diukur (Cx).

Setelah itu kita harus memasukkan semua notasi yang ada di diatas ke dalam rumus Bagaimana Csp (C sampel) dihitung dari Cx yang diperoleh.

Berikut ini adalah rumusnya :

Rumus menghitung kadar phospat

Dimana :

V4/V3 adalah faktor pengenceran karena tadi sampel dipipet 5 ml dan dijadikan volume 50 ml yang melibatkan V3 dan v4) 

V2/V1 berapa mula-mula sampel dipipet dan dimasukkan ke dalam labu takar berapa ml yang melibatkan V1 dan V2

sehingga apabila rumus di remodifikasi akan diperoleh :

Csp (C sample) = CX x faktor pengenceran x (V2/v1)

fishbone pengujian phospat

Dan Diagram tulang ikan yang digambarkan sama seperti diagram tulang ikan pada pengujian kadar air dimana pada awalnya digambarkan tulang punggung ikannya dimana dicari C sampel yaitu konsentrasi fosfat dalam sampel air pada bagian kepala ikan.

Kemudian digambarkan semua yang ada pada rumus sebagai tulang utama yaitu :

  • CX
  • faktor pengenceran (F)
  • V2
  • v1

Dan diagram tulang ikan terdiri bukan hanya dari apa yang ada pada rumus, tetapi ada faktor lain yang tidak ada pada rumus berperan di dalam pengujian kadar fosfat yaitu :

  • Presisi metode sebagai tulang tambahan, karena ada tulang presisi metode maka duri kecil presisi yang harusnya ada di V1 ; V2 ; V3 ; dan V4 menjadi hilang karena semua sudah masuk didalam tulang utama presisi metode.

Kesimpulan

Pada pendekatan Bottom-Up pada perhitungan sstimasi ketidakpastian khususnya pada tahap membuat diagram tulang ikan, model sistem pengujian yang berbeda juga akan menghasilkan diagram tulang ikan yang berbeda pula.

Semoga Bermanfaat.

Referensi Sumber Belajar :

Pojok Laboratorium

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Mengenal Bentuk, bahan, dan Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegiatan penimbangan, pengambilan bahan kimia, pelarutan merupakan suatu hal yang umum dilakukan di laboratorium kimia. Dan tentunya untuk melakukan kegiatan tersebut kita membutuhkan alat-alat laboratorium, salah satunya adalah spatula laboratorium.

Spatula laboratorium, atau terkadang sebagain orang menyebutnya dengan spatula kimia merupakan salah satu alat laboratorium yang mempunyai peranan sangat penting dalam analisis kimia. Bentuk dari alat ini seperti sendok kecil, pipih, dan bertangkai dengan tepi atas datar.

Kegunaan Spatula Laboratorium

Kegunaan spatula laboratorium secara umum adalah untuk mengambil obyek / bahan kimia yang bersifat padat (serbuk) serta seringkali digunakan untuk mengaduk pada proses pembuatan larutan kimia. Beberapa aplikasi dari penggunaan spatula misalnya :

  • Pada saat penimbangan sampel untuk analisa kadar air
  • Pengadukan dalam proses pelarutan
  • Memindahkan / mendistribusikan reagen kimia dari satu tempat ke tempat yang lainnya
  • dll.

Spatula secara umum dapat kita temukan dari bahan kayu, alumunium, dan stainless stell, dimana penentuan bahan spatula tersebut tentunya berdasarkan aplikasi penggunaan spatula tersebut di laboratorium, misalnya jika penggunaan spatula diaplikasikan untuk mengambil bahan kimia yang mempunyai sifat bereaksi dengan alumunium, maka spatula dari bahan stainless stell dan kayu sebaiknya dipertimbangkan.

Spatula kimia juga dapat kita temukan dalam berbagai ukuran yang bisa teman-teman pilih sesuai dengan penggunaanya, misalnya spatula tersebut akan kita gunakan untuk pembuatan larutan standar dimana bahan kimia yang ingin kita ambil hanya dalam ukuran 1 – 3 gram, maka spatula yang berukuran kecil dirasa sudah cukup.

Jenis dan Bahan Spatula

Untuk mempermudah pemahaman mengenai bahan dan macam-macam bentuk dari spatula ini, kita akan mengambil contoh spatula brand AS ONE sebagai referensi.

Secara umum, spatula laboratorium berdasarkan kegunaannya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Spatula Stainless Stell

Sesuai dengan namanya, spatula ini terbuat dari stainless stell yang mempunyai sifat tahan karat. Karena berbahan stainless stell maka spatula ini mempunyai keunggulan yaitu mudah dibersihkan dan disimpan. Spatula jenis ini banyak digunakan untuk mengambil objek yang sangat kecil yang telah melalui proses pengirisan dan disiapkan untuk penelitian melalui mikroskop.

Spatula stainless stell ini juga terdiri dari berbagai macam model, antara lain sebagai berikut :

Fluorine Coating Spoons

spatula stainless stell

Jenis spatula stainless stell ini dilapisi fluorine di seluruh permukaannya sehingga memiliki ketahanan terhadap bahan kimia yang sangat bagus. Material dasar stainless stell yang digunakan adalah jenis stainless stell SUS 410.

Spatula jenis ini bisa kita temukan dari ukuran :

  • 150 cm
  • 180 cm
  • 210 cm
  • 240 cm
  • 300 mm.

Floorine Coating Micro Spatulas

Floorine Coating Micro Spatulas

Spatula jenis ini mirip dengan spatula yang pertama, yaitu berbahan stainless stell (SUS 304) yang dilapisi fluoresin, perbedaannya hanya di dalam ukurannya saja. Sesuai dengan namanya micro spatula, maka spatula ini digunakan untuk mengambil sampel dengan ukuran yang sedikit. Beberapa ukuran dari spatula ini adalah :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Micro Spatulas Laboran Package

Micro Spatulas Laboran Package

Jika kedua spatula sebelumnya terbuat dari stainless stell yang dilapis dengan fluorine, untuk spatula jenis ini merupakan spatula stainless stell (SUS 304) tanpa dilapisi fluorine.

Terdapat beberapa model dari spatula jenis ini yaitu :

  • Model Flat dengan ukuran 180 mm
  • Round Thin dengan pilihan ukuran
    • 150 cm
    • 180 cm
    • 210 cm
    • 240 cm
    • 300 mm.
  • Round Thick dengan ukuran 180 mm

Dimana perbedaan untuk ketiga model tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Disebut laboran package karena dalam pembeliannya kita biasanya mendapatkan 1 paket yang berisi 3 model diatas. 3 Model tersebut.

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Spatulas Flat Di Kedua Ujungnya

Umumnya spatula yang kita temukan di laboratorium dengan bentuk di bagian ujung satunya seperti sendok, namun di ujung lainnya rata. Nah untuk spatula jenis ini di kedua ujungnya rata seperti tampilan pada gambar diatas.

Ada 2 macam bahan yang digunakan dalam spatula ini, yaitu :

  • Stainless Stell SUS 410 untuk spatula dengan ukuran 15 x 150 mm ; 15 x 180 mm
  • Stainless Stell SUS 430 untuk spatula dengan ukuran 18 x 210 mm ; 18 x 240 mm;.  18 x 300 mm

Spatula Runcing

Spatula Runcing
Jika umumnya kita mengenal fungsi spatula di area laboratorium ataupun untuk keperluan memasak, spatula jenis ini dapat digunakan untuk memperbaiki atau memproses ulang papan sirkuit listrik misalnya : motherboard PC, komponen-komponen elektrikal perangkat elektronik, untuk pemeriksaan setelah penyolderan, dan untuk pemeriksaan mesin.. Untuk mendukung kegunaaan spatula ini, maka bahan yang digunakan adalah stainless stell AISI 410. Ukuran dari spatula ini berdasarkan urutan pada gambar diatas adalah :

  • 180 mm
  • 175 mm
  • 165 mm
  • 180 mm

Micro Spatula

Micro Spatula

Mempunyai panjang 200 mm dengan dimensi blade 51 x 7 mm dengan ketebalan 0.5 mm. Steam diameter 2.5 mm dan terbuat dari material stainless stell SUS 304. Harga katalog dari spatula jenis ini berkisar antara Rp. 80.000,-

Micro Spatula Hayman Style

Micro Spatula Hayman Style

Spatula ini terbuat dari bahan stainless stell SUS 304, terdapat 2 pilihan ukuran, yaitu :

  • Ukuran spatula : 45 x 3 mm dan ukuran spoon 13 x 2.5 mm
  • Ukuran spatula : 38 x 5 mm dan ukuran spoon 15 x 3 mm

Spatula Chemi Scraper

Spatula Chemi Scraper

Spatula ini rata di bagian ujung satunya, dan bulat di ujung lainnya seperti tampilan gambar diatas. Dibandingkan dengan spatula jenis lainnya, model ini mempunyai dimensi yang lebih panjang yaitu Lebar x Panjang :

  • 8 mm x 175 mm
  • 20 mm x 305 mm
  • 20 mm x 460 mm

Spatula Nikel

spatula nikel

Spatula yang terbuat dari bahan nikel dan banyak digunakan di laboratorium untuk mengambil bahan kimia serbuk / padat. Spatula ini juga dapat digunakan untuk mengaduk larutan kimia, kecuali yang bersifat asam. Spatula ini mempunyai keunggulan dimana dapat digunakan pada suhu yang relatif tinggi, mudah dilakukan sterilisasi, serta bersifat inner atau tahan terhadap bahan kimia.

Spatula Politena

Disebut juga sebagai spatula tanduk, terbuat dari bahan plastik seperti polipropilene sehingga mempunyai keunggulan dalam hal reaktifitas karena seperti kita ketahui bahan plastik umumnya tidak bereaksi terhadap bahan kimia. Kegunaan spatula ini juga sama dengan spatula lainnyayaitu digunakan untuk mengambil bahan kimia yang berbentuk padat.

Micro Spatulas PE Polyethylene

Micro Spatulas PE Polyethylene

Merupakan spatula mikro yang terbuat dari bahan PE Polyethylene. Ada 2 pilihan ukuran panjang untuk spatula jenis ini, yaitu 150 mm dan 180 mm.

Micro Spatula Fluororesin

micro spatula pctfe

Micro spatula yang terbuat dari bahan PCTFE (fluororesin) dimana terdapat 3 pilihan ukuran yaitu :

  • 150 mm
  • 180 mm
  • 210 mm

Heat Resistance Spatula

Heat Resistance Spatula

Terbuat dari material PPS (polypherylene sulfide) dan mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai suhu 240 °C.

Tersedia dalam ukuran 125 mm x 262 mm.

Silicon Spatulas With SUS Handle

Silicon Spatulas With SUS Handle

Spatula dengan bahan karet silikon dan stainless stell pada pegangannya ini mempunyai keunggulan tahan terhadap panas sampai dengan suhu 220 °C serta tahan terhadap dingin sampai dengan -50 °C, sehingga aplikasinya sangat luas.

Berapa Harga Spatula Kimia?

Jika berbicara mengenai harga spatula laboratorium, tentunya tergantung dari model dan ukurannya. Karena pada contoh gambar-gambar spatula diatas kita menggunakan AS ONE, maka kita bisa melihat harga spatula tersebut di katalognya secara langsung.

Berikut ini adalah tahapannya :

katalog as one

  • Ketik “SPATULA” di kolom search sehingga display menunjukkan tampilan seperti pada gambar berikut :

harga spatula laboratorium di indonesia

  • Klik salah satu model yang ingin dilihat harganya sehingga tampilan menunjukkan gambar seperti berikut :

harga spatula as one

  • Harga spatula kimia akan tertera dalam mata uang yen seperti tampilan gambar diatas.

Semoga bermanfaat

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium Dalam Analisa Kimia

Dalam laboratorium kimia, tentunya banyak analisa yang harus kita lakukan, baik itu analisa yang sederhana, misalnya : pelarutan, titrasi, dll sampai dengan yang komplek, misalnya : analisa kadar logam dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS), dll.

Salah satu analisa yang umum kita temukan di laboratorium adalah analisa kadar abu. Pada artikel kali ini kita akan membahas peralatan utama yang digunakan untuk analisa kadar abu tersebut, yaitu furnace laboratorium baik dari pengertian,  fungsi, cara penggunaan, kualifikasi pada saat pertama kali unit tersebut kita terima, sampai dengan metode kalibrasi furnace yang umumnya digunakan oleh laboratorium kalibrasi.

Pengertian dan Fungsi Furnace Laboratorium

Furnace adalah salah satu alat laboratorium yang digunakan untuk pemanasan hingga suhu tinggi sehingga sampel terbakar dan berubah menjadi abu. Sebagian dari kita menyebut alat ini dengan nama tungku pembakaran.

Seperti yang telah disebutkan diatas, fungsi furnace di laboratorium kimia adalah banyak digunakan untuk analisa kadar abu suatu sampel. Selain itu furnace juga banyak digunakan pada proses destruksi dan untuk mengetahui jumlah sampel yang bersifat volatil (tidak mudah menguap) serta tidak mudah terbakar.

Mengenal Tombol Panel Furnace

pengertian furnace adalah

Furnace mempunyai ukuran chamber yang berbeda-beda tergantung pada tipenya, ada yang berukuran 6 Liter, 9 Liter, dll. Bagian-bagian furnace secara umum hampir mirip dengan oven / inkubator laboratorium, dimana terdapat chamber / ruangan sebagai tempat sampel dan bagian depan terdapat tombol panel.

Seiring dengan perkembangan teknologi, furnace pun juga mengalami perkembangan dari sisi tombol panelnya, antara lain adanya menu program yang bisa kita simpan sehingga pada saat penggunaan kita hanya menekan tombol angka sesuai dengan yang program yang pernah kita simpan. Hal ini tentunya semakin mempermudah penggunaan dan dapat menghindari kesalahan seting / pengaturan pada saat analisa sampel di laboratorium.

Mengenal Tombol Panel Furnace

Tombol panel dan video cara seting dibawah diambil dari salah satu brand furnace yaitu neytech vulcan.

cara menggunakan furnace atau tanur

 

  1. °C / °F Untuk merubah temperature dari °C ke °F dan sebaliknya.
  2. LCD Display, menampilkan program, count down time, dan nomor program.
  3. Tombol Rate, Tekan satu kali untuk R1, dua kali untuk R2, dan tiga kali untuk R3.
  4. Tombol ESC (Escape), untuk membatalkan parameter program atau kembali ke ke “current condition display”
  5. Tombol “Green Start”, untuk menjalankan program.
  6. Tombol “Red Stop”, untuk membatalkan program jika sudah terlanjur dijalankan.
  7. Delay start, jika diaktifkan maka furnace dapat menyala pada waktu yang telah diseting sebelumnhya.
  8. Program Parameter LEDs, mengindikasikan parameter mana yang diaktifkan.
  9. Tombol Hold, tekan satu kali untuk H1 (Hold 1), tekan dua kali untuk H2 (Hold 2), dan tekan tiga kali untuk H3 (Hold 3).
  10. Tombol Temperature, Tekan satu kali untuk T1 (Temp 1), tekan dua kali untuk T2 (Temp 2), Tekan tiga kali untuk T3 (Temp 3).
  11. Tombol Digit, untuk mengganti program dan menyimpan parameter program yang baru.
  12. Tombol Enter, Untuk menyimpan program dan parameter program.

Berikut ini adalah video mengenai cara seting dari furnace

Kualifikasi Furnace

Seperti umumnya alat laboratorium yang baru dibeli, tentunya kita harus melakukan kualifikasi furnace ketika unit tersebut kita terima. Berikut ini adalah contoh dokumen kualifikasi dan beberapa point yang perlu dilakukan pengecekan ketika kita melakukan Installation Qualification dan Operational Qualification dari furnace tersebut.

Kualifikasi Instalasi Furnace

Ketika barang datang, maka pastikan untuk melakukan pengecekan point-point berikut :

  • Apakah kemasan (packaging) dalam kondisi baik dan tidak mengalami kerusakan?
  • Apakah ada device external yang mengalami kerusakan?
  • Apakah tray termasuk dalam paket pembelian?
  • Apakah tersedia buka petunjuk pengoperasian / manual book?
  • Apakah sumber arus listrik mempunyai voltase sesuai dengan persyaratan alat furnace (misalnya : 100 – 120 atau 200 – 240 V, 50/60 Hz.
  • Apakah kondisi lingkungan antara temperatur ruang + 5 s/d 40 dan kelembaban udara maksimum 80 % RH?

Kualifikasi Operasional Furnace

Kualifikasi Operasional Furnace bertujuan untuk menjamin / melakukan pengujian terhadap fungsi fitur yang ada di dalam furnace tersebut. Secara rinci kualifikasi operasional ini bertujuan untuk memastikan :

  • Apakah semua fungsi tombol dan alarm berfungsi dengan baik ?
  • Apakah semua kontrol dan program berfungsi dengan baik ?
  • Apakah distribusi suhu di dalam ruangan furnace memenuhi persyaratan yang ditentukan ?

Berikut ini adalah point-point yang harus diverifikasi ketika kualifikasi furnace.

  • Apakah kabel daya tersambung dengan benar?
  • Tekan saklar utama ke posisi ON. Apakah suhu, waktu dan tampilan program muncul?
  • Tekan tombol C/F, apakah unit suhu berubah ke satuan yang lain?
  • Jika furnace tersebut mempunyai fitur program, maka lakukan pengecekan sebagai berikut :
  • Tekan tombol pengatur suhu, apakah program T1, T2, T3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol Ramp, apakah program R1, R2, R3 berkedip pada tampilan LED?
  • Tekan tombol hold, apakah program H1, H2, H3 berkedip pada tampilan LED?
  • Apakah temperature naik seiring dengan berjalannya waktu pada saat furnace di jalankan?
  • Apakah temperature mencapai sesuai dengan seting point dengan spesifikasi yang telah ditetapkan? (misalnya : seting point 100 °C mempunyai toleransi ± 5 °C, maka pada saat kita seting furnace tersebut pada 100 °C, display harus menunjukkan 100 °C ± 5 °C)
  • Lakukan verifikasi pada beberapa titik temperature, misalnya 300 °C; 500 °C; dan 700 °C dengan menggunakan standar termokopel tipe K yang sudah terkalibrasi. Apakah hasilnya memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan?

Kalibrasi Furnace

kalibrasi furnace

Untuk menghasilkan hasil analisa yang akurat, tentunya harus didukung dengan peralatan yang akurat juga, sehingga kalibrasi furnace sebaiknya dilakukan pada interval tertentu (misalnya : 1 tahun sekali) untuk mengetahui nilai koreksi serta ketidakpastiannya.

Metode kalibrasi furnace yang seringkali digunakan adalah AS 2853—1986. Australian Standard. Enclosures—. Temperature-controlled—. Performance testing and grading. Dengan standar yang digunakan thermocouple.

Untuk spesifikasi toleransi kalibrasi furnace biasanya tertuang di dalam manual book alat bersangkutan, misalnya akurasi temperature = ± 5 °C dengan keseragaman temperature = ± 8 °C

Prosedur Perawatan Furnace Laboratorium

  1. Jangan pernah mengoperasikan furnace di dekat bahan yang mudah terbakar atau menempatkan bahan yang mudah terbakar tersebut di atas furnace.
  2. Ketika membersahkan unit alat furnace, jangan menggunakan pelarut atau cairan pembersih pada panel kontrol. Pelarut tersebut akan memasuki panel dan dapat merusaknya.
  3. Jangan meletakkan benda panas lainnya langsung di depan furnace.
  4. Selalu kenakan sarung tangan tahan panas ketika menggunakan furnace.
  5. Furnace harus diletakkan paling tidak dengan jarak 15 cm dari dinding.

Trouble Shooting Furnace

Semakin bertambahnya usia furnace, terkadang kita menemukan beberapa masalah pada saat penggunaanya. Berikut ini adalah beberapa contoh trouble shooting masalah yang ada di furnace.

  • Alat mati total dan tidak dapat beroperasi

Periksa stop kontak dan kabel power, pastikan saklar hijau pada alat dalam posisi ON.

  • Alat tidak panas selama pengoperasian.

Apakah saklar daya warna hijau menyala saat tombol start ditekan?

    1. Jika ya >> Periksa sekering pada pengontrol PCB dan periksa Periksa elemen pemanas.
    2. Jika tidak >> Apakah pintu benar-benar tertutup? Saklar pintu mungkin menjadi daya interupsi.
  • Pemanasan berjalan lambat

Lakukan pengecekan pada program pada bagian rate.

Untuk masalah-masalah yang bersifat umum, biasanya solusinya bisa kita temukan di manual book / petunjuk pengoperasian, namun untuk beberapa masalah lain sebaiknya kita menghubungi supplier alat bersangkutan untuk melakukan perbaikan atau juga bisa menggunakan jasa service alat laboratorium yang teman-teman kenal.

Semoga bermanfaat.

Cara Pengujian Berat Jenis Pasir Lengkap Dengan Perhitungannya

Cara Pengujian Berat Jenis Pasir Lengkap Dengan Perhitungannya

Pengetahuan mengenai berat jenis pasir sangat berguna khususnya dalam ilmu sipil, karena dengan mengetahui berat jenis pasir tersebut, maka dapat ditentukan takaran yang sesuai dengan kondisi di dalam proyek. Dengan mengetahui nilai berat jenis dari SSD pasir tersebut maka kita juga dapat menyimpulkan apakah pasir tersebut memenuhi syarat / tidak digunakan sebagai campuran adukan beton, misalnya sesuai dengan peraturan umum bahan bangunan di indonesia dimana syarat berat jenis pasir yang baik adalah 2.4 s/d 2.9.

Pada postingan kali ini kita akan belajar mengenai langkah-langkah dalam menentukan berat jenis pasir tersebut berikut dengan contoh perhitungannya.

Alat dan Bahan

Untuk melakukan analisa berat jenis pasir, maka kita membutuhkan beberapa alat-alat laboratorium sebagai berikut :

  • Timbangan.
  • Labu ukur volume 1000 ml.
  • Ayakan / test sieve dengan nomor 4,75 mm.
  • Desikator.
  • Oven.
  • Corong yang berguna untuk memasukkan pasir dan air kedalam labu ukur.

Bahan yang diperlukan:

  • Air
  • Pasir dalam kondisi jenuh kering muka / SSD.
  • Laporan sementara.

Cara Pengujian Berat Jenis Pasir

Berikut ini adalah tahapan dalam pengujian berat jenis pasir :

  • Ayak pasir menggunakan ayakan / test sieve dengan nomor 4,75 mm. Pada proses pengayakan tersebut terdapat kerikil atau batuan kecil yang masih tertinggal diatas ayakan, yang nantinya akan kita pisahkan.
  • Masukkan air ke dalam labu ukur 1000 ml dengan menggunakan corong sampai tanda batas. Namun sebelum kita memasukkan air, pastikan terlebih dahulu bahwa permukaan bawah tempat kita menaruh labu ukur terebut bersih dan tidak ada gangguan, misalkan ada kerikil atau pasir untuk mengantisipasi apabila pada saat memasukkan air, labu ukur bisa pecah, karena labu ukur tersebut sangat rawan sekali untuk pecah. Tutup labu ukur yang sudah terisi air dengan penutupnya.
  • Timbang labu ukur yang sudah terisi dengan air sampai tanda batas dengan menggunakan timbangan (Hasilnya kita beri tanda C).
  • Timbang pasir SSD, Pada pengujian berat jenis pasir, berat pasir yang kita butuhkan adalah 500 gram pasir SSD (Hasilnya kita beri tanda B). Langkah-langkah untuk menimbang pasir tersebut adalah :

cawan alumunium kosong

    1. Siapkan cawan kosong
    2. Letakkan cawan kosong tersebut ke dalam timbangan kemudian tekan tombol TARE sehingga timbangan menunjukkan angka 0.00 gram.
    3. Timbang pasir SSD ke dalam cawan kosong tersebut sebanyak 500 gram.
  • Keluarkan kurang lebih setengah dari air yang berada di dalam labu ukur tersebut, kemudian masukkan pasir SSD 500 gram tadi kedalam tabung labu ukur menggunakan corong.
    gelembung udara dalam pasir
  • Setelah semua pasir sudah masuk ke dalam gelas labu ukur, selanjutnya kita akan menghilangkan gelembung udara yang berada di dalam labu ukur dengan cara menggoyang-goyangkan labu ukur. Ketika menggoyang-goyangkan labu ukur, pastikan labu ukur dalam kondisi tidak tertutup karena jika ditutup maka udara tidak bisa keluar sehingga nanti udaranya tidak akan bisa hilang.
  • Jika gelembung sudah terlihat hilang, langkah selanjutnya adalah kita akan menambahkan kembali air sampai garis tanda batas.

tambahkan air sampai tanda batas

  • Setelah kita isi air sampai dengan garis tanda batas, di sini terlihat ada gelembung-gelembung udara yang masih tersisa. Cara menghilangkannya anda sebagai berikut :
    1. Siapkan cawan kosong
    2. Masukkan labu ukur yang sudah berisi pasir dan air kedalam cawan kosong tersebut.
    3. Isikan air ke dalam labu ukur sampai penuh sehingga terlihat gelembung-gelembung yang berada di tengah labu ukur sini sudah hilang semua / sudah terbuang ke bawah.

Catatan : karena air yang kita perlukan hanya sampai tanda batas, maka kita harus menguranginya menggunakan pipet.

  • Keluarkan labu ukur dari cawan kosong tadi, karena permukaan luarnya basah, maka lap terlebih dahulu sampai dia kering sehingga beratnya tidak terganggu pada saat penimbangan.
  • Timbang labu ukur tersebut. Karena pada saat awal menimbang labu ukur + air tanpa pasir kita menggunakan tutup labu ukur, maka ketika kita menimbang labu ukur + air + pasir kita juga menggunakan tutup labu ukur.
  • Catat berat dari labu ukur + air + pasir tersebut (Hasilnya beri tanda A)
  • Kemudian setelah kita menimbangnya, keluarkan air dan pasir tersebut dari labu ukur ke cawan kosong. langkahnya adalah kita mengocoknya terlebih dahulu agar semua bisa keluar.

air dalam kondisi keruh

  • Berikut ini adalah campuran pasir dan air dari labu ukur tadi, dimana kondisinya masih terlihat keruh. Jadi kita harus menunggunya atau mendiamkannya sampai airnya bening dan lumpur-lumpur yang terkandung dalam air mengendap.
  • Setelah itu kita tunggu beberapa saat, air dari campuran pasir dan air tadi sudah terlihat bening karena lumpur yang terkandung dalam air sudah mengendap ke bawah
  • Tuang air dalam wadah, namun jangan dihabiskan dan sisakan sedikit.

penirisan air

  • Masukkan pasir tadi kedalam oven pada suhu 105° celcius kurang lebih 24 jam.
  • Jika sudah 24 jam, keluarkan sampel pasir kita tadi dari dalam oven. Pastikan menggunakan sarung tangan anti panas untuk mengamankan tangan kita karena oven tersebut dalam kondisi panas.

pasir oven

  • Gambar diatas merupakan contoh dari pasir yang sudah kita oven selama kurang lebih 24 jam.
  • Kemudian kita akan masukkan pasir ini adalah desikator untuk menghilangkan uap-uap panas yang masih terkandung di dalamnya.

Baca Juga Artikel : Fungsi Desikator Laboratorium

  • Tunggu sampai sampel pasir yang ada di dalam memiliki suhu yang sama dengan suhu ruangan.
  • Setelah kita diamkan beberapa saat,  kita akan mengeluarkan sampel pasir tadi dari dalam desikator. Wadah tersebut jika kita pegang sudah tidak panas karena suhunya sudah hampir sama dengan suhu ruangan dan itu menandakan bahwa uap-uap panas yang ada di dalam pasir sudah hilang sehingga tidak akan mengganggu berat kering dari pasar.
  • Timbang pasir yang sudah kering tungku ini menggunakan timbangan (Hasilnya beri tanda D).

Perhitungan Berat Jenis Pasir

Perhitungan Berat Jenis Pasir per m3

Berikut ini adalah perhitungan dari laporan sementara berat Jenis pasir :

Pada kolom benda uji misalnya pasir yang diuji adalah dari progo.

Hasil Pengujian

  • Berat pasir + labu + air = 1564 gram (Diberi simbol huruf A)
  • Berat pasir SSD  = 500 gram (Diberi simbol huruf B) >> ini adalah berat pasir yang kita timbang diawal tadi yaitu 500 gram
  • Berat labu ukur + air = 1244 gram (Diberi simbol huruf C) >> ini adalah berat dari labu ukur yang telah disi air sampai tanda batas. 
  • Berat pasir kering tungku = 495 gram (Diberi simbol huruf D) >> ini adalah berat pasir yang sudah kita keluarkan dari oven dan dari desikator.

Kesimpulan

  • Rumus Berat Jenis Kering Tungku = ((D)/(C+B)-A) = 2.75

berat jenis pasir kering tungku

Dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa hasil dari berat jenis kering tungku adalah 2.75 (tanpa satuan).

  • Rumus SSD Pasir Kering Tungku = ((B)/(C+B)-A) = 2.8

SSD Pasir Kering Tungku

Dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa hasil dari SSD pasir kering tungku adalah 2.8

Persyaratan :

Berat jenis pasir SSD yang baik adalah 2.4 s/d 2.9

Dari hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa berat jenis pasir SSD adalah 2.8 masih di dalam rentang persyaratan pasir SSD yang baik / sampel pasir dari progo yang kita uji memenuhi persyaratan pasir yang baik digunakan.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

www.youtube.com/watch?v=7jUvSbKzg7k&t=1023s

Penjelasan Singkat Klausul 4.1 dan 4.2 SNI ISO 9001 : 2015

Penjelasan Singkat Klausul 4.1 dan 4.2 SNI ISO 9001 : 2015

Pemahaman akan persyaratan di dalam SNI ISO 9001 : 2015 merupakan hal yang sangat penting sehingga implementasi di dalam perusahaan menjadi optimal dan pada akhirnya kita akan mendapatkan manfaat yang maksimal dalam penerapan sistem manajemen mutu SNI ISO 9001 : 2015 itu sendiri. Ada beberapa klausul di dalam standar tersebut, namun kali ini kita akan membahas mengenai klasul 4.1 dan klausul 4.2 ISO 9001 : 2015 yaitu tentang bagaimana cara memahami konteks organisasi serta memahami kebutuhan dan harapan pihak berkepentingan.

klasul 4.1 ISO 9001 : 2015 : Memahami Konteks Organisasi

klasul 4.1 ISO 9001 2015 Memahami Konteks Organisasi

ISO 9001 : 2015 mempersyaratkan klausul ini supaya sistem manajemen mutu yang tercipta yang tercipta benar-benar sesuai bagi perusahaan dengan mempertimbangkan semua kondisi dan situasi saat ini yang terjadi pada perusahaan.

Apa itu konteks organisasi dan bagaimana cara menyusunnya?

Klausul 4.1 ISO 9001 : 2015 mempersyaratkan dimana :

  • Organisasi harus menetapkan isu internal dan eksternal
  • Isu internal dan eksternal harus dikaji ulang dan dimonitor
  • Isu dapat mencakup positif dan negatif

Suatu sistem organisasi di dalam perusahaan tidak tergantung secara internal saja, namun juga tergantung dari faktor eksternal. Contoh yang beberapa tahun belakangan ini terjadi adalah dengan adanya covid 19. Dimana dengan adanya covid 19 tersebut tentunya berdampak pada aktivitas di dalam perusahaan.

Sehingga kita harus mengidentifikasi konteks organisasi di perusahaan kita tersebut apa saja baik itu isu internal dan isu eksternal.

Sumber isu internal bisa berasal dari kajian dokumen-dokumen perusahaan seperti :

  1. Hasil rapat internal
  2. Kajian dokumen internal
  3. Publikasi eksternal
  4. Hasil rapat dengan pelanggan / pihak lain (stakeholder)
  5. Hasil audit internal dan eksternal
  6. Hasil rapat tinjauan manajemen
  7. Rencana strategis
  8. Dll

Contoh Sumber Isu Internal

Berikut ini adalah beberapa contoh isu internal yang dapat kita jadikan panduan :

  1. Struktur organisasi, misalnya : tumpang tindih pekerjaan, jabatan yang kosong, dll
  2. Pengelolaan operasional, misalnya : kurangnya inovasi atau pengembangan produk baru, kurangnya pengawasan terhadap mitra bisnis (distributor / suplier pemasok)
  3. Kinerja perusahaan, misalnya penjualan 1 tahun terakhir yang menurun.
  4. Sarana dan prasarana, misalnya peralatan yang dimiliki masih kuno, fasilitas bangunan produksi perlu diperbaruhi.
  5. SDM : Kompetensi karyawan kurang, tingkat keluar masuk karyawan yang cukup tinggi, budaya, serikat pekerja
  6. Kondisi / lingkungan operasional
  7. Aktivitas / Operasional, tingkat kepuasan pelanggan, kinerja sistem (audit, dll)

Contoh Sumber Isu Eksternal

Isu internal dapat kita cari dengan rumus PESTLE, yaitu :

  1. Politic, misalnya : Adanya pemilu, international trade agreements, dll
  2. Economic, misalnya : Adanya inflasi, situasi ekonomi, menurunnya daya beli masyarakat, dll
  3. Social, misalnya : adanya wabah covid 19, tuntutan masyarakat sekitar perusahaan untuk dapat bekerja,dll
  4. Technological, misalnya : Adanya peralatan dengan teknologi baru, material baru, dll
  5. Legal, misalnya : Peraturan UU terkait dengan jasa dan barang, sertifikasi SNI, sertifikasi halal, perijinan, dll
  6. Environmental, misalnya : Isu terkait dengan lingkungan industri, Banyaknya kompetitor penjual produk yang sama dengan harga yang relatif lebih murah. Seperti kita ketahui saat ini, banyak sekali bermunculan usaha mikro yang membuat produk serupa dengan perusahaan kita degan harga jual yang lebih murah. Hal ini tentunya harus kita jadikan isu eksternal karena akan berpengaruh pada perusahaan.

Catatan Penting 

Kita perlu mengidentifikasi isu internal dan eksternal yang ada di organisasi / perusahaan kita. Apa masalah-masalah yang ada?

Klausul 4.2 ISO 9001 : 2015 : Memahami kebutuhan dan Harapan Pihak Berkepentingan

Klausul 4.1 ISO 9001 2015

Seperti yang kita ketahui, klausul 4.2 ISO 9001 : 2015 memahami kebutuhan dan harapan pihak berkepentingan. Setiap perusahaan memiliki pihak berkepentingan / pemangku kepentingan yang unik / berbeda-beda. Dalam menentukan pihak berkepentingan kita bisa menggunakan patokan antara lain :

  1. Memiliki pengaruh terhadap resiko dan peluang
  2. Berdampak terhadap kinerja perusahaan
  3. Berdampak terhadap pasar
  4. Berdampak terhadap pengambilan keputusan dan aktivitas perusahaan.

Pihak-pihak berkepentingan tersebut biasanya kita buat dalam bentuk tabel yang dimasukkan dalam manual mutu.

Sebelum kita memahami kebutuhan dan harapan pihak-pihak berkepentingan, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu siapa pihak-pihak berkepentingan tersebut. Siapa saja pihak-pihak berkepentingan yang ada di perusahaan kita?

Setelah kita tahu pihak-pihak berkepentingan yang terkait dengan perusahaan kita, baru kita mencari / melihat / memahami kebutuhan mereka itu apa saja.

Cara Mengetahui Pihak Berkepentingan :

Kegiatan dan cara untuk mengidentifikasi pihak berkepentingan dan harapan pihak berkepentingan :

  1. Hasil kajian order yang diterima dari pelanggan / kontrak.
  2. Peraturan perundangan yang terkait dengan barang dan jasa
  3. Kontrak supplier / vendor
  4. Kerja sama tertulis dengan kawasan / lingkungan
  5. Peraturan perusahaan
  6. Ijin pemerintah
  7. Reviewing supply chain relationship
  8. dll

Untuk memberikan pemahaman mengenai pihak-pihak berkepentingan yang ada di perusahaan, berikut ini adalah beberapa contoh siapa saja pihak berkepentingan tersebut berikut dengan harapan dan kebutuhannya :

Pelanggan

Pelanggan merupakan pihak berkepentingan yang paling relevan, karena tujuan dari sistem manajemen mutu itu sendiri adalah memenuhi harapan pelanggan. Jika kita menggunakan patokan diatas maka pelanggan berdampak terhadap pasar. Harapan dari pelanggan misalnya, adanya nilai tambah pada produk, kualitas produk yang bagus, harga produk yang murah, layanan sesuai kontrak yang telah disepakati, dll.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan, bagaimana kita memenuhi harapan pelanggan tersebut dimana kualitas produk yang kita berikan bagus namun tetap tidak merugikan perusahaan.

Pemilik / Owner

Harapan pemilik misalnya terkait dengan kinerja keuangan di dalam perusahaan, yaitu keuntungan yang besar dari perusahaan. Namun ada juga pemilik perusahaan yang mempertimbangkan bahwa produk yang dihasilkan perusahaan memberikan manfaat yang luas bagi penggunaanya. Harapan pemilik lainnya adalah adanya aset perusahaan yang terlindungi, dll.

Supplier & Partner

Misalnya partner untuk perbaikan mesin perusahaan, supplier bahan baku, supplier bahan penolong, ekspedisi / transportasi. Harapan dari supplier ini antara lain kerja sama yang berkesinambungan dan saling menguntungkan sebagai pemasok perusahaan kita dengan harga yang rasional.

Serikat Pekerja

Adanya kesepakatan kerja antara anggota serikat dengan perusahaan, misalnya fasilitas apa saja yang didapatkan serikat pekerja, misalnya : persentase kenaikan gaji, uang transport, asuransi kesehatan pekerja,

Regulator / Pemerintah

Misalnya mitra kerja yang kooperatif berupa kepatuhan pada undang-undang / regulasi yang berlaku yang diterbitkan oleh regulator / pemerintah, baik itu regulasi tentang persyaratan terhadap produknya, regulasi tentang lingkungan kerjanya, regulasi tentang kesehatan keselamatan kerjanya, dll.

Masyarakat

Misalnya adanya kontribusi yang positif, misalnya : pekerja yang ada di perusahaan sebagian diambil dari masyarakat sekitar, dll

Bankir

Kebutuhan dari bankir misalnya ketepatan dalam pembayaran gaji. Sebagian besar bankir tentunya mengharapkan perusahaan melakukan pembayaran gaji karyawannya dengan tepat waktu.

Karyawan

Misalnya kepuasan kerja / bekerja dalam kondisi yang aman dan nyaman serta kesejahteraan terjamin, cuti berapa hari dalam 1 tahun, dll.

Setelah kita tahu pihak-pihak berkepentingan pada perusahaan, maka kita perlu mengidentifikasi / memahami kebutuhan / harapan dari pihak-pihak berkepentingan tersebut.

Setelah kita menentukan kebutuhan / harapan pihak-pihak berkepentingan tersebut, kita perlu melakukan tindakan untuk memenuhi harapan pihak-pihak tersebut. Setelah itu perlu dilakukan monitoring (klausul 9.1 ISO 9001 : 2015) terhadap kebutuhan / harapan pihak berkepentingan tersebut, apakah kita sudah dapat memenuhi kebutuhan / harapan mereka kemudian kita review di dalam rapat tinjauan manajemen (klausul 9.3 ISO 9001 : 2015) apakah kebutuhan / harapan pihak berkepentingan tersebut masih relevan dengan kebutuhan sekarang / mungkin ada kebutuhan lain dari pihak berkepentingan tersebut yang belum kita identifikasi.

Catatan Penting

Dari hal tersebut diatas, jika dibuat siklus, maka kebutuhan / harapan pihak berkepentingan ditentukan (klausul 4.2) kemudian dimonitor (klausul 9.1) dan direview (klausul 9.3).

Semoga bermanfaat.

Uji Kuat Tekan Beton Sesuai Standar SNI 1974 Tahun 2011

Uji Kuat Tekan Beton Sesuai Standar SNI 1974 Tahun 2011

Perkembangan infrastruktur di indonesia sangatlah pesat pada 20 tahun terakhir. Perkembangan kawasan industri dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Pembangunan pabrik maupun struktur jalan, jembatan, dll dapat kita lihat dimana-mana.

Pembangunan tersebut tentunya memerlukan material baik itu besi, pasir, kerikil, ataupun beton yang sudah jadi. Beton saat ini merupakan bahan bangunan yang paling banyak dipakai di dunia. Nah pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai pengertian beton, kelebihan dan kekurangannya, termasuk sifat beton, serta cara melakukan uji kuat tekan beton.

Pengertian Beton

Beton pada umumnya adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat kerikil, pasir, air, dan pengikat semen. Biasanya dipercayai bahwa beton mengering setelah pencampuran dan peletakkan.

Sebenarnya beton tidak menjadi padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi merekatkan komponen lain bersama dan akhirnya membentuk material seperti batu. Beton digunakan untuk membuat pekerjaan Jalan, struktur bangunan, pondasi, jalan layang, jembatan penyeberangan, dan lain-lain.

Saat ini dalam perkembangannya, banyak ditemukan beton baru hasil modifikasi, seperti beton ringan, beton semprot / shotcrete, beton fiber, beton berkekuatan tinggi, beton mampat sendiri, dan lain-lain.

Kelebihan dan Kekurangan Beton

Kelebihan beton adalah dapat mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi. Selain itu pula beton juga mempunyai kekuatan mumpuni, tahan terhadap temperatur yang tinggi, dan biaya pemeliharaan yang relatif murah.

Sedangkan kekurangannya adalah bentuk yang telah dibuat sulit diubah tanpa kerusakan. Pada struktur beton jika ingin dilakukan penghancuran maka akan mahal, karena tidak dapat dipakai lagi. Berbeda dengan struktur baja yang akan tetap bernilai.

Beton memiliki kekuatan tekan yang tinggi namun lemah dalam tariknya. Nilai kuat tariknya beton Sekitar 5 s/d 9 % kuat tekannya. Sehingga perkuatan sangat diperlukan dalam struktur beton. Perkuatan yang umum adalah dengan menggunakan tulangan baja yang jika dipadukan dan sering disebut dengan beton bertulang.

Sifat Beton

Beton memiliki kekuatan tekan yang tinggi namun kuat tarik yang lemah. Untuk kuat tekan di Indonesia sering digunakan satuan kg/cm2 dengan simbol K untuk benda uji kubus dan Fc untuk benda uji silinder.

5 Macam Beton yang Sering Ditemui

macam-macam beton

Beton Mortar

Sering juga disebut sebagai beton semen karena beton ini terbuat dari campuran antara mortar semen, air, dan pasir dengan perbandingan tertentu. Beton ini dilengkapi dengan anyaman tulangan baja di dalamnya.

Beton Non-Pasir

Sesuai dengan namanya, jenis beton ini tidak menggunakan pasir dalam proses pembuatannya, namun hanya menggunakan semen, kerikil, dan air. Beton ini banyak digunakan pada struktur ringan, kolom, dan bata beton, buis beton, dan dinding sederhana.

Beton Ringan

Beton jenis ini dibuat dengan menggunakan agregat yang berbobot ringan. Zat aditif sering ditambahkan pada beton ini untuk membentuk gelembung udara di dalam beton sehingga dengan ukuran yang sama bobot beton jenis ini lebih ringan dibandingkan dengan jenis beton lainnya.

Beton Hampa

Pada proses pembuatan beton jenis ini dilakukan penyedotan dengan menggunakan vacuum khusus pada air pengencer yang terdapat pada adukan beton sehingga beton yang mengandung air yang sudah bereaksi dengan semen saja.

Beton Bertulang

Merupakan jenis beton yang terbuat dari kombinasi adukan beton dengan tulangan baja yang sengaja ditanamkan ke dalamnya agar kekuatan beton terhadap gaya tarik meningkat.

Faktor yang Mempengaruhi Kuat Hancur Beton

Kuat hancur dari beton sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor :

  • Jenis dan Kualitas Semen
  • Jenis lekak lekul bidang permukaan agregat.

Kenyataannya menunjukkan bahwa penggunaan agregat akan menghasilkan beton dengan kekuatan tekan dan kuat tarik lebih besar daripada penggunaan kerikil halus dari sungai.

  • Perawatan

Kehilangan kekuatan sampai dengan sekitar 40 % dapat terjadi bila pengeringan diadakan sebelum waktunya. Perawatan adalah hal yang sangat penting bagi pekerjaan lapangan dan pada pembuatan benda uji.

  • Suhu

Pada umumnya kecepatan pengerasan beton bertambah dengan bertambahnya suhu. Pada titik beku kuat tekan akan tetap rendah untuk waktu yang lama.

  • Umur

Pada keadaan yang normal kekuatan beton bertambah dengan umurnya.

Standar Mutu Beton di Indonesia

Terdapat dua istilah mutu beton yang berlaku di Indonesia yaitu mutu beton K atau karakteristik dan FC

Standar mutu beton K dengan satuan kg/cm² mengacu pada peraturan beton bertulang Indonesia 1971 N.1.-2 dimana standar ini mengacu kepada standar Uni Eropa.

Pada sisi lain mutu beton FC dengan satuan MPa mengacu kepada peraturan SNI. Standar ini digunakan dalam proyek yang berkaitan dengan pemerintah Indonesia. Jika terdapat hal yang belum terkait dengan SNI terkait beton maka merujuk kepada peraturan beton bertulang Indonesia disingkat PBI.

Benda uji yang digunakan pada mutu beton K berbentuk kubus dengan ukuran panjang 15 cm lebar 15 cm tinggi 15 cm.

Perhitungan kuat tekan beton menggunakan satuan kg/cm².

Benda uji yang digunakan pada mutu beton FC berbentuk silinder dengan ukuran diameter 15 cm tinggi 30 centimeter. Perhitungan kuat tekan beton menggunakan satuan MPA atau Mega Pascal.

Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder (SNI 1974:2011)

uji tekan beton

  1. Benda uji diangkat dari kolam perawatan (curing), kemudian dilap dan diangin-anginkan (kering udara).
  2. Benda uji diukur diameter dan ketinggiannya. Diameter dan ketinggian adalah hasil rata-rata dari 2 kali pengukuran pada titik yang berbeda. Benda uji juga ditimbang dan dicatat beratnya.
  3. Selanjutnya benda uji dikaping pada permukaan yang akan menerima beban. Bahan kaping yang digunakan adalah mortar sulfur, pasta gypsum atau pasta semen.
  4. Setelah kaping mengeras, benda uji diletakkan pada alat uji tekan, dengan bagian kaping diatas (menerima beban). Mesin tekan dijalankan hingga menyentuh ujung atas benda uji dan indikator bebas bergerak.
  5. Mesin dioperasikan dengan kecepatan konstan hingga mencapai beban puncak dan benda uji hancur.
  6. Catat beban maksimum saat benda uji hancur dan tentukan pola hancur / pola retak dari benda uji.
  7. Hitung kuat tekan beton dengan membagi beban maksimum dengan luas uji penampang benda uji.
  8. Angkat benda uji dan bersihkan. Lanjutkan untuk benda uji selanjutnya.

Cara Menghitung Kuat Tekan Beton

Cara menghitung hasil kuat tekan beton umur 28 hari untuk benda uji silinder

kalau selama ini kita monophone pengetesan kuat tekan beton hasil bebannya berapa

Terus kita akan menghitung kuat tekannya apakah masuk atau tidak

Misalnya mutu beton K-300 satuannya kg/cm², hasil kuat tekan beton setelah dilakukan pengetesan yaitu 550 KN.

Berapakah nilai kuat tekannya ?

jadi dari beban 550k ini kita hitung kuat tekannya.

Rumus kuat tekan

P = F / A

Dimana

P adalah tekanan satuannya kg/cm² (Sesuai dengan kuat tekan beton)

F adalah gaya kg

A adalah luas penampang atau luas benda uji luas benda uji satuannya cm²

Untuk benda uji silinder ukuran diameternya 15 cm tingginya 30 cm.

Disini kita harus konversikan dulu

F (bebannya) 550 kita jadikan Kg

1 KN = 101,1971 kg

jadi 550 KN = 550 x 101,1971 = 55658,405 Kg

Luas penampang = 3.14 x r2 = 3.14 x 7.5 cm x 7.5 cm = 176.625 cm²

P = F / A

P = 55658,405 Kg / 176.625 cm² = 315.121 Kg/cm²

Hasil diatas masih dalam silinder.

Kita konversi ke kubus

ukuran 15 x 15 cm.

Dimana konversinya adalah 0,83

P = 315.121 / 0.83 = 379.65 kg/cm²

jadi hasilnya 379.65 kg/cm2 lebih besar dari K300, sehingga hasilnya Ok

Jadi kalau kita melakukan pengetesan K 300 – 28 hari beban 550 KN dengan benda uji silinder hasilnya adalah sesuai.

Semoga bermanfaat.

40 Alat-Alat Laboratorium Kimia Lengkap Dengan Gambarnya

40 Alat-Alat Laboratorium Kimia Lengkap Dengan Gambarnya

Dalam suatu analisa / penelitian di dalam laboratorium baik itu laboratorium kimia / biologi, tentunya tidak dapat dilepaskan dengan alat-alat laboratorium baik itu yang sederhana sampai dengan instrumen yang canggih.  Pemahaman mengenai nama peralatan laboratorium tersebut beserta fungsinya akan sangat membantu pekerjaan kita sehingga lebih efektif dan efiien dalam bekerja serta tentunya dari pertimbangan keselamatan kerja juga dirasa lebih maksimal karena kita mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan dihindari ketika menggunakan peralatan-peralatan tersebut.

Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai nama-nama peralatan laboratorium yang sering kita temui di dalam laboratorium berikut dengan fungsinya.

Alat-Alat Laboratorium Kimia

Tabung Reaksi

tabung reaksi

Tabung reaksi terbuat dari gelas yang dapat dipanaskan, alat ini digunakan sebagai tempat untuk mereaksikan zat kimia dalam jumlah sedikit. Cara penggunaannya adalah tabung reaksi dipegang pada bagian lehernya, dimiringkan kurang lebih 60° kemudian diisi dengan larutan yang akan dianalisa.

Apabila tabung reaksi beserta isinya akan dipanaskan, pegang sepertiga bagian bawah dengan menggunakan penjepit karena tabung reaksi tersebut akan panas. Mulut tabung harus diarahkan ke tempat yang aman (jangan ke arah muka sendiri atau muka orang lain). Tabung reaksi yang panas tidak boleh didinginkan secara mendadak karena bisa pecah.

Penjepit Kayu

penjepit kayu

Sesuai namanya, alat ini terbuat dari kayu yang dipakai untuk memegang tabung reaksi. Saat ini selain terbuat dari bahan kayu, penjepit tabung reaksi ini juga bisa kita temukan dari bahan logam,

Rak Tabung Reaksi

test tube rack

Terbuat dari kayu atau logam dipakai untuk menaruh tabung reaksi. Rak tabung reaksi tersedia bermacam-macam ukuran dimana setiap ukuran tersebut juga berbeda jumlah lubangnya.

Baca Juga :

Mengenal Ukuran Tabung Reaksi Kimia dan Cara Menggunakannya

Pengaduk Gelas / Batang Pengaduk

Batang pengaduk berbentuk tabung yang tidak berlubang di bagian dalamnya dan dipakai untuk mengaduk suatu campuran atau larutan zat kimia pada waktu melakukan reaksi kimia. Juga dipakai untuk membantu pada waktu menuangkan atau mendekantasi cairan dalam proses penyaringan dan pemisahan.

Corong

corong laboratorium

Corong biasanya terbuat dari gelas ataupun plastik yang dapat kita sesuaikan dengan aplikasi di laboratorium. Corong yang baik berbentuk kerucut bersudut 60° dipakai untuk memasukkan suatu cairan kedalam suatu tempat yang mulutnya sempit seperti botol, labu ukur, buret, erlenmeyer, dan sebagainya.

Selain itu corong juga digunakan untuk analisa filtrasi / penyaringan yang tentunya digunakan secara bersamaan dengan bantuan klem dan statif. Corong yang tangkainya berdiameter relatif agak besar dipakai untuk memasukkan zat berbentuk serbuk kedalam bejana bermulut kecil.

Gelas Arloji

gelas atau kaca arloji

Gelas arloji mempunyai ukuran penampang lintang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan di laboratorium, digunakan untuk menimbang zat berbentuk kristal, selain itu juga digunakan untuk menutup gelas beker yang berisi larutan waktu pemanasan atau untuk menguapkan cairan.

Gelas Ukur

gelas ukur

Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala dengan ukurannya bermacam-macam dari kecil sampai yang besar, Gelas ukur merupakan alat ukur yang kasar dan tidak untuk pengukuran yang teliti.

Contoh : larutan yang akan dititrasi tidak boleh diambil atau diukur dengan gelas ukur tetapi diambil dengan pipet volume yang mempunyai keakuratan lebih tinggi.

Gelas Kimia

gelas kimia

Gelas kimia bukanlah digunakan sebagai alat pengukur, tanda volume yang ada merupakan taksiran kasar. Alat ini terdapat dalam berbagai ukuran dan digunakan untuk wadah sementara larutan atau reagent, memanaskan larutan, menguapkan pelarut atau memekatkan.

Erlenmeyer

erlenmeyer

Alat ini juga bukanlah alat pengukur, digunakan dalam analisis volumetri untuk wadah suatu volume tertentu dari suatu larutan, seringkali juga digunakan dalam kegiatan titrasi, dan untuk memanaskan larutan.

Ada dua jenis Erlenmeyer :

  1. Erlenmeyer tanpa tutup gelas, dipakai untuk titrasi larutan yang tidak mudah menguap.
  2. Erlenmeyer dengan tutup gelas, dipakai titrasi larutan yang mudah menguap.

Labu Takar

labu takar

Labu takar merupakan suatu bejana dengan leher panjang sempit dan dasar yang datar, dilengkapi dengan tanda batas volume dan mempunyai kapasitas tampung sesuai dengan ukuran yang tercantum. Bila pada alat tertulis 20 °C dan 100 ml maka alat tersebut dapat menampung cairan pada 20 °Celcius sebanyak 100 ml sampai garis tanda yang terdapat pada leher alat.

Labu takar ini banyak digunakan untuk membuat larutan standar atau baku pada analisis volumetri. Seringkali juga digunakan untuk pengenceran sampai volume tertentu. Perlu diperhatikan alat ini jangan digunakan untuk mengukur larutan atau pelarut yang panas.

Pipet Gondok

fungsi pipet gondok

Bagian tengah dari pipet ini membesar seperti gondok. Ujungnya runcing dan pada bagian atas ada tanda goresan melingkar. Tepat sampai tanda tersebut, volume larutan didalam pipet sama dengan angka yang tertera pada alat tersebut.

Alat ini dipakai untuk mengambil dan memindahkan larutan secara tepat pada volume tertentu sesuai kapasitas. pipet gondok tersebut. Pipet gondok ini merupakan alat pengukur yang lebih tepat dari gelas ukur karena lebih akurat.

Pipet Ukur

pipet ukur

Pipet ukur mempunyai bentuk berupa tabung gelas yang agak panjang dengan ujung runcing dan mempunyai skala. Teknik penggunaannya sama dengan pipet gondok, hanya saja volume dapat dipindahkan sebagian disesuaikan dengan keperluan. Jumlah cairan yang dituangkan dapat disesuaikan dengan skala yang ada pada pipet tersebut.

Pipet Tetes atau Pasteur

gambar pipet tetes

Pipet ini tidak mempunyai ukuran volume atau skala lainnya, digunakan untuk memindahkan sedikit zat cair atau larutan yang tidak mempunyai ketelitian tinggi.

Baca Juga :

Cara Menggunakan Pipet Ukur, Pipet Volume, dan Pipet Tetes

Buret

buret biasa

Berupa tabung gelas panjang dengan pembagian skala dan ujung bawah dilengkapi dengan kran digunakan untuk titrasi atau mengukur volume titran yang digunakan. Berdasarkan tingkat ketelitian atau pembagian skalanya, buret dibagi menjadi 2 jenis :

  1. Makro buret dengan pembagian skala 0,1 sampai 0,05 ml.
  2. Mikro buret dengan pembagian skala 0,01 ml.

Yang perlu diperhatikan pada buret adalah ketika membaca membaca skala pada buret supaya tidak timbul kesalahan paralax.

Bola Isap / Suction Bulb

bola hisap

Pengambilan suatu larutan atau cairan menggunakan pipet volume dapat dilakukan dengan bantuan bola hisap karet. Alat ini terdiri dari satu bola dengan ujung pendek diatas dan ujung bawah agak panjang. Ujung bawah mempunyai cabang kesamping. Sebelum dipakai untuk mengambil cairan, bola hisap dikosongkan dengan menekan bola dan bagian ujung atas.

Pipet volume dimasukkan kedalam lubang ujung bawah bola hisap tetapi jangan melewati pipa cabang. Untuk menggunakannya, pijit bagian ujung bawah sehingga cairan akan terhisap masuk ke dalam pipet. Cairan dapat keluar dengan memijit bagian pipa cabang. Sehabis menggunakan bola hisap, pipet dilepas dan biarkan udara masuk sehingga bola menggelembung kembali seperti semula.

Botol Semprot

botol semprot

Botol semprot plastik digunakan untuk menyimpan air suling yang akan digunakan sebagai pelarut zat, pencucian untuk membersihkan dinding bejana dari sisa-sisa endapan, atau membilas alat-alat yang telah dicuci. Botol semprot plastik ini dapat dipegang dengan satu tangan dan dengan pijatan yang lemah cairan akan keluar. Botol semprot mempunyai ukuran yang berbeda-beda mulai dari yang kecil sampai yang besar sesuai keperluan.

Cawan porselin

cawan porselin

Cawan porselin biasanya digunakan sebagai tempat mengabukan kertas saring dan memijarkan endapan sehingga terbentuk senyawa yang stabil. Cawan porselen yang baik dapat dipanaskan hingga suhu 1200 ° celcius. Cawan porselen yang masih panas tidak boleh didinginkan mendadak dengan air dingin karena bisa pecah karena perbedaan suhu yang ekstrim.

Pinggan porselinPinggan porselin

 

Alat ini hampir sama seperti cawan porselin namun lebih tebal. Digunakan untuk menguapkan larutan sehingga menjadi lebih pekat atau menjadi kering atau menjadi kristal.

Piring / Pelat tetes

Pelat tetes

Digunakan untuk mereaksikan zat yang dalam jumlah sedikit. alat ini tidak boleh dipanaskan, Seringkali digunakan pada pengenalan sifat-sifat larutan bersifat asam atau basa dengan menggunakan kertas lakmus.

Mortar Martil

alu dan mortar laboratorium

Merupakan alat laboratorium yang bentuknya sangat mirip dengan lumpang dan alu terbuat dari bahan porselen atau keramik yang membuatnya terlihat mirip dengan cawan porselin atau krusibel. Mortar dan martil adalah sepasang alat laboratorium yang penggunaannya tidak dapat dipisahkan berdasarkan fungsinya.

Penggunaannya tidak ditumbukkan tetapi dipegang dan diputar-putar, digerus. Fungsi mortal dan martil adalah untuk menghaluskan sampel pengujian yang ada di laboratorium, hal ini juga dapat digunakan untuk mencampurkan beberapa bahan menjadi satu dengan cara digerus secara bersamaan.

Cawan Petri

ukuran cawan petri laboratorium

Cawan petri adalah kaca bundar berbentuk silinder tipis dan transparan. fungsi cawan petri berhubungan langsung dengan mikroorganisme yang dipelajari. Biasanya dilengkapi dengan tutup.

Baca Juga :

Pengertian, Fungsi, dan Ukuran Cawan Petridish Laboratorium

Neraca Ohaus

neraca ohaus

Neraca merupakan salah satu alat ukur massa yang dapat dibedakan berdasarkan jenis skala dan jumlah lengannya. Berdasarkan skalanya, neraca ini dibedakan menjadi dua yaitu neraca ohaus manual dan digital. Untuk yang manual ada neraca ohaus dua lengan, tiga lengan, dan empat lengan.

Neraca ohaus adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur massa benda yang memiliki ketelitian 0,01 gram. Prinsip kerja dari neraca ini sebenarnya hanya sekedar membandingkan massa benda yang akan diukur dengan anak timbangan. Kemampuan pengukuran dari neraca ini dapat diubah dengan cara menggeser posisi anak timbangan sepanjang lengan neraca anak timbangannya.

Neraca analitik

Timbangan Analitik Kern ABS 220-4

Neraca analitik merupakan sebuah sebuah alat laboratorium yang digunakan untuk mengukur massa suatu zat, baik zat berbentuk padat maupun cair. Neraca analitik sangat mudah ditemukan di setiap laboratorium karena fungsi dan kegunaannya yang sangat penting.

Kelebihan Neraca Analitik :

  • Memiliki tingkat akurasi atau ketelitian yang sangat baik bahkan hingga 0,00001 gram
  • Neraca analitik digital mudah dalam penggunaannya karena lebih praktis dan efektif tidak membutuhkan waktu yang lama.

Beberapa neraca analitik digital bahkan sudah memiliki fitur internal calibration yang memungkinkan kita melakukan kalibrasi sendiri.

Klem dan Statif

klem dan statif

 

Klem merupakan sebuah alat penjepit yang terbuat dari besi dimana alat ini digunakan untuk menjepit alat gelas kimia / corong, sedangkan statif merupakan stand yang menjadi tempat meletakkan klem.

Kedua alat ini berfungsi membantu kita memegang alat kimia tertentu dalam suatu proses kimia dimana terkadang proses kimia membutuhkan waktu yang lama atau pemanasan dengan suhu tinggi sehingga tidak memungkinkan kita untuk memegang alat tersebut dengan tangan.

Untuk menggunakan klem dan statif itu sendiri sebenarnya tidak ada aturannya, kita hanya perlu memasang klem dengan statif menggunakan penjepit klem. Penggunaan penjepit klem sebaiknya dalam posisi menghadap keatas dengan tujuan untuk mencegah klem terjatuh.

Pembakar Spirtus

pembakar spirtus

Pembakar spirtus ini merupakan alat laboratorium yang digunakan untuk menghasilkan nyala api. Sesuai namanya bahan bakar dari alat ini menggunakan spirtus yang disalurkan menggunakan sumbu-sumbunya yang akan menyerap spirtus dan dikeluarkan di bagian atas. Cara menyalakan pembakar spirtus adalah tinggal dikasih api dan untuk mematikannya mematikannya adalah dengan langsung ditutup, jadi tidak ditiup. 

Pembakar Bunsen

pembakar bunsen laboratorium

Terdiri dari tabung logam vertikal yang terhubung kedalam sumber bahan bakar (burner tube) dengan lubang pemasukan udara. Gas yang biasanya digunakan adalah gas alam atau metana atau bahan bakar gas cair semacam propana dan butana atau kalau di sekitar kita di laboratorium kita biasanya menggunakan gas elpiji.

Alat ini digunakan untuk beberapa proses kimia yang memerlukan pemanasan di dalamnya.

Khusus pada kimia analitik pembakar bunsen digunakan dalam uji kualitatif untuk memanaskan tabung reaksi.

Baca Juga :

Prinsip Kerja, Bagian-Bagian, dan Fungsi Pembakar Bunsen

Kaki Tiga dan Kasa

kaki tiga dan kasa

Kaki Tiga adalah logam besi bundar dengan kaki terbuat dari logam sebanyak tiga, merupakan alat penunjang di laboratorium yang digunakan untuk menopang atau menahan alat gelas kimia atau labu selama pemanasan. Umumnya kaki tiga terbuat dari logam ringan seperti baja yang tahan karat atau besi sehingga mudah dipindahkan kapan saja.

Nama kaki tiga sendiri diambil dari jumlah tiga batang yang dapat berdiri tegak dan kuat dalam menahan bahan di atasnya. Kaki tiga ini memiliki bentuk yang bervariasi seperti segitiga atau lingkaran. Terkadang ada juga yang ketiga kakinya dapat dilepas dan disesuaikan tergantung pada kebutuhan penggunaannya.

Biasanya kasa kawat dengan bagian tengah keramik harus diletakkan diatas kaki tiga agar gelas seperti beaker gelas bisa diletakkan di atasnya. Karena kaki tiga ini tinggi maka pembakar bunsen dapat diletakkan di bawah untuk memanaskannya.

Segitiga Porselen

segitiga porselen

Alat ini berfungsi sebagai penopang wadah, misalnya : cawan porselin yang akan dipanaskan diatas kaki tiga.

Labu Destilasi

labu destilasi

Labu destilasi merupakan salah satu peralatan gelas yang sering kita gunakan di laboratorium karena fungsi dan kegunaannya yang sangat menunjang penelitian. Labu destilasi ini memiliki bentuk yang hampir sama seperti labu alas bulat tetapi memiliki pipa penghubung disisinya.

Labu destilasi sering digunakan untuk alat penyulingan di laboratorium. Prinsip kerja labu destilasi ini didasarkan pada perbedaan titik didih atau volatilitas larutan sehingga larutan yang tercampur akan terpisah berdasarkan titik didihnya.

Pendingin / Kondensor

kondensor

Dalam beberapa metode kimia, kondensor digunakan untuk mendinginkan uap panas. Kondensor berasal dari kata kondensasi yang berarti bahwa alat tersebut akan mendinginkan uap yang melewatinya dan mengubah menjadi fase cair.

Prinsip kerja dari kondensor adalah dengan menurunkan suhu uap secara drastis. Setiap kondensor akan memiliki sistem pendingin menggunakan aliran air, oleh karena itu dalam menggunakan kondensor kita membutuhkan pompa air untuk membuat aliran air dalam kondisi terus berjalan.

Ada beberapa kondensor yang ada di laboratorium

  • Kondensor Liebig
  • Kondensor Alihn
  • Kondensor Graham
  • Kondensor Dimroth
  • Kondensor Friedrichs

Perbedaan dari kondensor tersebut dapat dilihat pada gambar diatas.

Corong Pisah

corong pisah ekstraksi

Merupakan alat laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi bahan cairan untuk proses memisahkan dengan beberapa komponen dalam campuran antara dua fase dengan kepadatan yang berbeda.

Penggunaan corong pisah ini dapat dilakukan dengan bantuan dari campuran dua fase pelarut sehingga dapat dimasukkan kedalam corong yang ditutup kemudian dikocok dengan kuat untuk melakukan teknik dalam pencampuran dari dua fase larutan tersebut.

Lemari Asam

fume hood

Lemari asam merupakan sebuah furniture laboratorium berukuran besar yang memiliki bentuk seperti meja terisolasi untuk mengurangi efek atau paparan material berbahaya dalam hal ini asam. Lemari asam juga memiliki nama lain yaitu fume hood.

Fungsi lemari asam adalah untuk menghindarkan atau menjauhkan atau membuang segala jenis uap berbahaya baik dalam bentuk cairan seperti asam sulfat maupun padatan NaOH.

Tang Krus

tang krus

Digunakan untuk memegang / mengambil wadah dalam keadaan panas, misalnya pada saat analisa kadar air dengan menggunakan oven dimana tang krus ini digunakan untuk mengambil botol timbang yang akan dikeluarkan dari oven.

Parafilm

parafilm

Parafilm adalah film semi-transparan yang bersifat fleksibel, mudah dibentuk, dan biasanya digunakan untuk menyegel atau menutup sementara gelas beaker agar cairan dalam gelas beaker tersebut tidak tumpah.

Kertas Saring

kertas saring

Kertas saring digunakan untuk untuk memisahkan antara zat terlarut dari zat padat, memisahkan partikel suspensi dari cairan, atau untuk mengeringkan padatan di desikator, dll. Kertas saring ini bisa kita temukan dalam beberapa ukuran yang bisa kita lihat di dalam kemasannya. Misalnya : pada gambar diatas merupakan kertas saring whatman no. 42.

Desikator

fungsi desikator laboratorium

Desikator / Exicator adalah wadah yang terbuat dari bahan kaca yang berfungsi untuk menghilangkan kandungan air. Contoh penggunaan desikator ini adalah untuk analisa kadar air suatu sampel.

Botol Timbang

botol timbang

Botol timbang banyak digunakan untuk menentukan kadar air suatu sampel. Selain itu juga sering dipakai untuk menyimpan bahan yang bersifat higroskopis. Jika digunakan untuk menimbang zat cair yang bersifat mudah menguap maka botol timbang harus dalam kondisi tertutup agar tidak terjadi penguapan.

Botol Laboratorium

botol laboratorium

Botol laboratorium mempunyai fungsi yang sangat luas di dalam laboratorium, misalnya untuk menyimpan larutan buffer ph meter, menyimpan sampel retained dari sampel raw material, dll. Botol laboratorium juga bisa kita temukan dari yang berbahan gelas ataupun plastik yang autoclaveable. Ukurannyapun sangat bervariasi dan dapat kita temukan dari volume 25 ml.

Ballast

ba ice ballast

Ballast ini digunakan pada lampu UV pada sistem aliran air di laboratorium untuk menghasilkan aquadem yang bebas dari cemaran mikrobiologi. Alat ini mempunyai umur 1 tahun, sehingga secara periodik harus diganti.

Botol Reagen

botol reagen

Botol reagen merupakan wadah khusus yang digunakan untuk berbagai cairan dan reagen padat di laboratorium. Botol reagen Digunakan untuk menyimpan larutan kimia atau untuk menyimpan indikator asam basa seperti fenolftalin.

Kimwipes

kimwipes

Berbeda dengan tissue pada umumnya, kimwipes merupakan tissue non residual, sehingga sangat cocok digunakan untuk beberapa aplikasi di laboratorium, misalnya membersihkan elektroda ph meter, membersihkan kuvet yang pada spektrofotometer UV Visible, dll.

Peralatan Instrumen Laboratorium Kimia

Jika diatas kita membahas mengenai alat-alat laboratorium kimia yang sering kita temui. Berikut ini adalah beberapa peralatan instrumen  yang sering terdapat di dalam laboratorium kimia. Untuk penjelasannya masing-masingnya akan dibahas terpisah mengingat harus detil menjelaskan mulai dari bagian-bagian komponennya, prinsip kerjanya, cara mengoperasikannya, sampai ke metode kalibrasi yang digunakan untuk menjaga akurasi peralatan tersebut.

  • Magnetic  Stirer
  • Oven
  • Tanur / Furnace
  • Water purified
  • Spektrofotometer UV Visible
  • Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)
  • FTIR
  • Ultrasonic Cleaner
  • pH Meter
  • Conductivity meter
  • dll

Semoga bermanfaat.

Pengertian Gramatur Kertas dan Cara Melakukan Pengujiannya

Pengertian Gramatur Kertas dan Cara Melakukan Pengujiannya

Di dalam industri, peran suatu kemasan tentunya tak kalah penting dibandingkan dengan manfaat produk itu sendiri. Kemasan berkualitas tentunya akan mampu menjaga mutu produk yang dikemasnya serta dapat meningkatkan branding dari produk tersebut. Beberapa parameter uji harus dilakukan terhadap material bahan baku kemasan tersebut untuk menilai kualitasnya.

Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai salah satu parameter uji tersebut yaitu gramatur dan ketebalan. Apa itu pengertian gramatur? bagaimana cara melakukan pengujiannya gramatur dan ketebalan pada kertas?

Standar Acuan Gramatur

Standar yang digunakan untuk pengujian gramatur dan ketebalan kertas adalah berdasarkan :

  1. Standar SNI ISO 536 : 2010 untuk cara uji gramatur. Karena merupakan standar yang diadaptasi dari standar ISO maka standar SNI ISO 536 : 2010 ada dalam dua bahasa.
  2. Standar SNI 140440 : 2006 untuk gramatur kertas dan karton (standar mutu gramatur kertas dan karton)

Istilah dan Definisi

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai cara pengujian gramatur, terlebih dahulu kita harus memahami beberapa istilah yang terkait dengan gramatur itu sendiri.

Pengertian Gramatur

Menurut standar stndar SNI 14-0440 : 2006, Gramatur adalah massa lembaran kertas / lembaran karton dalam gram dibagi dengan satuan luasnya dalam meter persegi (m²), diukur pada kondisi standar.

Sedangkan menurut SNI ISO 536 : 2010, gramatur adalah massa dari suatu satuan luas tertentu dari kertas atau karton yang ditetapkan melalui cara uji yang spesifik. Satuan gramatur dinyatakan dalam gram per m².

Toleransi Gramatur

Toleransi gramatur adalah batas penyimpangan minimal dan maksimal yang masih diperkenankan dari satu nilai gramatur kertas dan karton, dinyatakan dalam persen.

Bulk

Volume lembaran kertas dalam cm³ dibagi dengan massa lembaran kertas dalam gram diukur pada kondisi standar.

Prinsip Pengujian Gramatur

Prinsip pengujian gramatur dan ketebalan kertas yaitu luas contoh uji dan massanya ditetapkan dan dilakukan perhitungan gramatur. Bisa dibilang pengujian gramatur ini relatif sederhana yaitu :

  • Kita ukur luas dari kertas yang diuji (panjang x lebar)
  • Kita ukur ketebalan kertasnya yaitu jarak antara satu permukaan atas dengan permukaan bawahnya
  • Kita hitung massa dari kertas tersebut.

Alat Untuk Pengujian Gramatur

alat potong kertas untuk gramatur

  • Alat pemotong, yang mampu menghasilkan secara berulang potongan-potongan contoh uji yang bersih dengan ukuran nominal luas yang sama, masing-masing dengan ukuran kurang lebih 1 % dari luas yang diketahui. Hal ini harus diperiksa secara berulang kali melalui pengukuran dan jika tingkat akurasi di atas telah dicapai, luas rata-rata yang diperoleh dalam pemeriksaan ini akan digunakan untuk menghitung gramatur.

Alat potong Untuk pengujian gramatur dan ketebalan ini ada 2 jenis, yaitu :

    1. Kacip yang hanya memotong secara lurus
    2. Alat potong yang bisa memotong kertas dalam bentuk lingkaran dengan luas tertentu, tergantung dari luas dari pisau yang berbentuk lingkaran tersebut.
  • Neraca, dengan akurasi yang memadai pada kisaran massa yang digunakan dengan ketelitian hingga 0,5 %. Neraca ini harus cukup sensitif untuk mendeteksi perubahan sebesar ± 0,2 persen dari massa yang ditimbang, dan jika neraca yang digunakan merupakan jenis direct reading, maka neraca tersebut harus diberi skala sehingga pembacaan dapat mencapai derajat keakurasian yang diperlukan. Ketika digunakan neraca harus dilindungi dari aliran udara langsung.

Sehingga sangat disarankan neraca yang digunakan untuk pengujian gramatur ini adalah neraca yang tertutup (mempunyai assesories pintu geser) pada bagian sisi-sisinya maupun bagian atas yang dapat dibuka dan ditutup. Biasanya yang mempunyai pintu geser tersebut adalah timbangan analitik yang mempunyai resolusi 0.0001 g atau precision ballance yang mempunyai resolusi 0.001 g.

jadi ketika kita ingin menimbang kertas, kita bisa memasukkan kertas lewat kiri atau kanan kemudian dalam melakukan penimbangan harus ditutup.

  • Mikrometer

Alat ini dapat kita temukan dalam model analog (mikrometer sekrup) atau digital. Perbedaannya tentunya adalah dalam hal akurasinya, semakin kecil nilai ketelitiannya artinya semakin teliti alat tersebut.

Pengambilan Contoh dan Pengkondisian

  • Jumlah bahan uji yang diambil (sedikitnya 5 lembar) harus mencukupi minimal untuk 20 contoh uji.
  • Untuk pengujian gramatur dari contoh yang dikondisikan, bahan uji harus dikondisikan.
  • Jika pengujian dilakukan dalam kondisi “kering – oven” atau “as taken” atau pada kondisi atmosfer yang lain, harus yang dilaporkan harus disertai dengan pernyataan yang menunjukkan kondisi contoh uji pada waktu penimbangan.

Ukuran Sampel Uji Gramatur

Jika kita menggunakan alat kacip, maka kita bisa memotong dengan ukuran persegi 10 cm x 10 cm, sehingga luas dari sampel uji persatu buah sampelnya adalah 10 cm x 10 cm menjadi 100 cm².

Adapun alat potong yang berbentuk lingkaran, kertas ketika dipotong sudah seluas 100 cm².

Prosedur Pengujian Gramatur

  1. Dengan menggunakan alat pemotong, potong minimal 20 contoh uji dari paling sedikit lima bahan uji.
  2. Jika memungkinkan ambil jumlah yang sama dari masing-masing bahan uji yang memiliki luas tidak kurang dari 500 cm² (disarankan 20 mm x 250 mm) dan tidak lebih dari 1000 cm². Jika diperlukan, contoh uji dapat terdiri dari beberapa lembaran yang lebih kecil.
  3. Tentukan luas masing-masing contoh uji dengan menghitung hasil pengukuran yang telah dilakukan sampai ketelitian mendekati 0,5 mm.
  4. Timbang masing-masing contoh uji pada neraca dan nyatakan massanya dalam gram sampai tiga angka penting.

catatan :

Ketika menguji lembaran berukuran kecil, disarankan untuk menghindari kontak dengan contoh uji tanpa menggunakan sarung tangan. Jadi disarankan ketika lembar ujungnya berlubang kecil, diharapkan tidak berkontak langsung dengan tangan (tanpa menggunakan sarung tangan).

Prosedur Uji Ketebalan Kertas

alat ukur ketebalan kertas

  • Masukkan kertas pada tempat pengukuran ketebalan, baik yang manual maupun yang digital. Intinya kertas di masukkan sehingga batang akan turun sampai pada batas menyentuh kertas.
  • Catat hasil pembacaan dari pengukuran tebal kertas tersebut, jika thickness gauge yang kita gunakan tipe digital, maka kita cukup melihat angka pada displaynya saja.

Namun jika thickness gauge yang kita gunakan adalah yang analog, maka perlu dipahami terlebih dahulu cara pembacaaanya.

Contoh tampilan thickness gauge dibawah ini.

thicknes gauge analog

Dapat dilihat bahwa terdapat keterangan di bagian utama alat 0.01 – 10 mm, maka niai 0.01 tersebut merupakan nilai skala terkecil atau bisa dikatakan bahwa jarak antar bar (bar satu dengan bar yang disebelahnya) adalah 0.01 mm atau dengan kata lain ketika jarum panjang diatas :

  • Bergeser 1 bar, maka artinya pengukuran berubah sebesar 0.01 mm.
  • Bergeser 2 bar >> 0.02 mm
  • Bergeser 3 bar >> 0.03 mm
  • Bergeser 10 bar >> 0.1 mm
  • Bergeser 20 bar >> 0.2 mm
  • Sampai jika jarum panjang tersebut kembali ke titik 0, artinya benda yang diukur mempunyai ketebalan 1 mm >> dan pada kondisi ini jarum pendek akan menunjukkan angka 1.
  • Demikian seterusnya.

Pernyataan Hasil Uji Gramatur

Dinyatakan dalam gram per m², dari masing-masing contoh uji. Jika memang kita ingin menghitung gramatur dari masing-masing contoh uji, maka kita hitung dengan persamaan berikut :

Gramatur (g) = (m / A) x 10000

m adalah massa dari contoh uji yang dinyatakan dalam gram

A adalah luas dari contoh uji

Persamaan diatas bisa kita sederhanakan menjadi :

rumus gramatur

Dimana nilai 10.000 tersebut merupakan faktor konversi dari cm² ke m² karena satuan dari gramatur adalah gram per m². Sedangkan nilai 100 diatas jika menggunakan contoh uji dengan luas 100 cm².

Cara lain menghitung gramatur adalah dengan menggunakan persamaan berikut :

cara menghitung gramatur

Dimana

m bar adalah massa rata-rata contoh uji, dinyatakan dalam gram
A bar adalah luas rata-rata contoh uji, dinyatakan dalam centimeter persegi (cm2)

Jadi jika pada cara pertama untuk masing-masing contoh uji, namun pada cara kedua ini kita bisa rata-rata kan terlebih dahulu massanya dan luasnya kemudian gramatur kita hitung dari rata-rata dari massa dibagi dengan rata-rata luas contoh uji kemudian kita kalikan dengan 10.000.

Satuannya tetap sama gram per m².

Untuk Faktor bulk, dinyatakan dalam cm³ / gram menggunakan persamaan berikut :

rumus faktor buk

faktor bulk yaitu volume dalam satuan cm³ dibagi dengan massa dari kertas tersebut dalam satuan gram.

Nah volume ini bisa dihitung dari luas dikalikan dengan ketebalan.

Dimana pada contoh diatas, luas sampel uji kita menggunakan 100 cm² kita kalikan dengan tebal dalam satuan cm lalu kita bagi dengan massanya.

Atau kita bisa mempermudah juga dengan cara :

rumus faktor bulk lainnya

Faktor bulk adalah tebal dalam satuan mikron dibagi dengan gramatur gram per m2

Nah kenapa tebal harus dalam satuan micron?

Sedangkan jika kita lihat dalam rumus diatas faktor bulk mempunyai satuan cm³/gram.

Perubahan konversi pada gambar dibawah ini merupakan penjelasannya.

faktor bulk lainnya

Toleransi gramatur

toleransi gramaturDapat dilihat untuk untuk kertas dengan gramatur :

  • Dibawah 28 maka toleransinya adalah ± 7 %.
  • 35 toleransinya ± 6 %.
  • 45 – 55 toleransinya ± 5 %.
  • Diatas 60 toleransinya ± 4 %.

Contoh:

Kertas HVS 70 gram per m² biasanya di dalam di kemasan kertas tersebut bertulis gramaturnya 70 gram per m2.

Sesungguhnya setiap lembar kertas HVS tersebut nilainya tidak ada yang benar-benar 70 gram per m2, namun bervariasi. Nah variasi nilai itu harus tetap berada pada toleransi yang sudah ditetapkan yaitu ± 4 % sesuai pada tabel diatas..

Artinya kertas HVS 70 gram/m2 tersebut bisa bervariasi dari (70 – 2,8) sampai dengan (70+ 2,8).

Jadi rentangnya bisa dari 67.2 gram/m2 sampai 72,8 gram/m2

Persyaratan Mutu Untuk Beberapa Jenis Kertas

Kertas Koran

yaitu kertas cetak dengan kandungan pulp mekanis minimal 65%. Nah, syarat mutu untuk kertas koran sesuai dengan standar SNI 7273 tahun 2008 gramaturnya yaitu kisaran 45 – 60. Sedangkan untuk faktor bulk nya maksimal 1,75.

gramatur kertas koran

Kertas Cetak

yaitu kertas yang digunakan untuk keperluan cetak mencetak, dibuat dari pulp kimia dan dapat mengandung pulp mekanis maksimal 15 %.

Berdasarkan SNI 7274 tahun 2008, gramatur untuk kertas cetak itu syaratnya adalah 50 – 100 gram per m2. Sedangkan untuk faktor bulk nya maksimal 1,5.

persyaratan mutu kertas cetak seri a

Penyajian Laporan Hasil Uji

Untuk laporan hasil pengujian harus mencakup informasi berikut :

  1. Acuan ke standar nasional, misalnya kita menggunakan standar SNI nomor berapa sebagai acuan pengujian tersebut.
  2. Tempat dan tanggal pengujiannya.
  3. Kondisi ruang uji yang digunakan, baik itu suhu ruang atau kelembaban udara, karena mungkin tempat yang berbeda hasil pengujiannya juga akan berbeda.
  4. Semua informasi yang diperlukan untuk identifikasi contoh.
  5. Luas contoh uji yang digunakan.
  6. Jumlah pengulangan pengujian.
  7. Rata-rata dan simpangan baku dari hasil uji.
  8. Jika bahan uji diambil lebih dari satu titik sepanjang arah silang mesin gulungan atau lembaran dan informasi variasi gramatur diperlukan, rincian yang terdapat dalam nomer 3,4,5.6 harus dilaporkan secara terpisah untuk masing-masing titik.
  9. Setiap penyimpangan dari prosedur yang ditetapkan dalam standar nasional ini dan setiap keadaan yang dapat mempengaruhi hasil uji Jadi jika ada penyimpangan apapun catat dalam laporan hasil uji.

Semoga bermanfaat.

Contoh Bahaya Kimia dan Dampaknya Di Beberapa Sektor Pekerjaan

Contoh Bahaya Kimia dan Dampaknya Di Beberapa Sektor Pekerjaan

Dalam suatu aktifitas kerja, adanya resiko dan bahaya merupakan hal yang wajar. Dengan mengenali bahaya di lingkungan kerja tentunya kita akan bisa mengendalikan bahaya tersebut misalnya, apakah dengan subtitusi, eliminasi, alat pelindung diri, atau hanya secara administrasi. Beberapa faktor bahaya yang mungkin bisa kita temui di tempat kerja antara lain faktor bahaya fisika, kimia, biologi, psikologi, ergonomi, dll. Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai faktor bahaya kimia.

Apa Saja yang Termasuk dalam Faktor Bahaya Kimia

Menurut permenaker nomor 5 tahun 2018 tentang K3 lingkungan kerja, Faktor bahaya kimia adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja yang bersifat kimiawi, disebabkan oleh penggunaan bahan kimia atau turunannya di tempat kerja yang dapat menyebabkan penyakit pada tenaga kerja, meliputi kontaminan kimia di udara berupa gas, uap, ataupun partikulat.

Apa saja yang termasuk di dalam faktor bahaya kimia ?

  • Aerosol, Zat terdispersi berupa gas, aerosol dapat berupa aerosol cair dan aerosol padat. Selain berbahaya bagi kesehatan, aerosol ini juga dapat membuat lapisan ozon menipis. contoh bentuk aerosol misalnya : obat nyamuk semprot. Bahaya yang dapat ditimbulkan dari aerosol ini adalah dapat mengiritasi mata, kulit, serta paru-paru.
  • Gas, zat tidak berbentuk, tidak terihat, tidak berbau, mengisi ruangan pada suhu dan tekanan udara normal, dan pada konsentrasi rendah. Dengan perubahan suhu dan tekanan dapat berubah menjadi cair dan padat. Gas merupakan salah satu jenis bahaya yang dapat bersumber dari bahan kimia yang berada di lingkungan kerja dan disebutkan dalam permenaker nomor 5 tahun 2018 diantaranya :
    • Gas H2S

Gas ini bisa kita temukan pada daerah minyak / gas bumi, sumber belerang, daerah gunung berapi, lokasi pembuangan sampah / limbah industri. Bahaya gas H2S antara lain dapat menyebabkan Kulit terasa perih, batuk, Rasa kering pada dada, hidung, dan tenggorokan, Badan terasa lesu, dan hilangnya nafsu makan

    • Gas Helium

Gas ini dapat menyebabkan antara lain, kehilangan kesadaran, penglihatan buram, Kejang, Sesak napas.

    • Gas Heptanon

 

  • Partikulat, Bentuk dari padatan atau cairan dengan ukuran molekul tunggal antara 0.002 mikrometer s/d dari 500 mikrometer yang tersuspensi di atmosfer dalam keadaan normal. Partikulat bisa disebabkan oleh debu, dimana untuk debu sendiri ada beberapa antara lain :
    • Partikulat PM 10 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer).
    • Partikulat PM 2,5 adalah partikel berukuran 2.5 mikron (mikrometer).

Seberapa kecil PM 2.5 dan PM 10 tersebut?

Sebagai perbandingan, diameter rambut manusia kurang lebih 50 – 70 mikrometer, jadi untuk PM 10 tersebut kurang lebih rambut kita dibelah menjadi 5 s/d 7 bagian.

Untuk yang PM 2.5 tentunya lebih kecil lagi…

    • TSP (Total Suspended Partikulat)

Kita sudah bisa membayangkan PM 2.5 dan PM 10, untuk TSP ini mempunyai ukuran kurang dari 100 mikrometer, jadi relatif lebih besar ukurannya. TSP sendiri di dalam udara merupakan salah satu parameter yang harus diukur sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

  • Kabut, Uap air yang berada dekat permukaan tanah terkondensasi dan menjadi mirip awan.
  • Uap, gas dari pemanasan cairan. Uap terbagi menjadi uap air dan uap jenuh.
  • Asap, suspensi partikel kecil di udara yang berasal dari pembakaran tak sempurna dari suatu bahan bakar. Misalnya : asap kebakaran hutan, asap kendaraan bermotor, asap sisa-sisa produksi didalam sebuah perusahaan.

Diatas adalah salah satu contoh faktor bahaya kimia yang ada di tempat kerja.

Dampak Bahaya Kimia di Berbagai Bidang Pekerjaan

Bahaya kimia adalah

Mungkin kita pernah mendengar kasus pekerja penggali sumur yang meninggal akibat keracunan gas. Hal tersebut kemungkinan salah satunya disebabkan oleh gas H2S. Jadi pada saat menggali sumur, terdapat potensial-potensial gas yang terhirup oleh penggali sumur dan mengakibatkan kematian.

Pekerjaan-pekerjaan di sektor tambang dan migas juga beresiko terpapar bahaya kimia. Maka seringkali kita mendengan alat ukur gas detektor pada perusahaan-perusahaan tersebut yang berfungsi untuk mengukur gas tersebut.

Contoh pekerjaan yang terkena dampak bahaya kimia dalam bentuk uap adalah petugas pengaspalan jalan dimana ketika aspal dipanaskan maka akan timbul uap yang bisa dihirup juga oleh pekerja.

Bahan Debu / partikulat dapat kita temukan di perusahaan pembuatan kaca, dimana debu tersebu termasuk kategori pm 2.5. Nah debu ini tidak akan terjaring di dalam rambut-rambut hidung manusia sehingga bisa sampai masuk ke dalam alveolus paru-paru manusia

Di dalam laboratorium, laboran /peneliti merupakan salah satu pekerja atau tempat kerja yang terpapar oleh faktor bahaya kimia karena seperti kita ketahui banyak sekali bahan / larutan kimia yang berbahaya untuk kesehatan misalnya : asam kuat yang dapat menyebabkan resiko terhadap iritasi.

Sangat disarankan sebelum kita bekerja menggunakan bahan-bahan tersebut kita memahami bahayanya serta tindakan pertama yang harus dilakukan jika terpapar bahan tersebut. Informasi ini secara detail bisa kita dapatkan pada lembar keselamatan / material safety data sheet (MSDS) yang kita dapatkan pada saat membelinya.

Di dalam laboratorium ini juga sering kita temukan uap, aerosol dari hasil reaksi-reaksi bahan kimianya.

Untuk mengetahui dampak dari paparan tersebut kita bisa membuat semacam HRA (Health Risk Assesment) terkait mengenai penilaian risiko kesehatan bagi para pekerja laboratorium yang tepat mengenai bahan kimia, atau secara umum kita juga bisa membuat HIRADC (Hazard Identification Risk Assesment and Determining Control).

Di dalam apotek / klinik, apoteker yang membuat obat juga tentunya terdapat debu / partikel pada saat menggerus obat. Termasuk pekerja-pekerja farmasi di sana juga terkait mengenai paparan terhadap faktor bahaya kimia.

Perusahaan pestisida tentunya pekerjanya terpapar pestisida secara setiap harinya kemudian akan terakumulasi sekian lama sehingga muncul dampaknya.

Ahli kayu ataupun tukang kayu ataupun penggilingan kayu dimana isini banyak sekali debunya.

Bagaimana Kita Bisa Terpapar Hazard kimia

Hazard kimia adalah

Jalur masuk bahaya kimia ke dalam tubuh kita dapat melalui beberapa cara, antara lain:

  • Sistem inhalasi

Dengan bernafas melalui mulut / hidung. Udara yang mengandung zat beracun di dalam debu, asap, gas, dan uap dapat masuk ke dalam paru-paru dan diserap ke dalam aliran darah.

  • Pencernaan

Bahan kimia dapat memasuki tubuh melalui makanan yang terkontaminasi, makan dengan tangan yang terkontaminasi atau makan di lingkungan yang terkontaminasi.

  • Kontak kulit

Zat kimia berbahaya dapat melewati kulit dan masuk ke pembuluh darah, biasanya melalui tangan dan wajah atau melalui luka dan lecet serta suntikan.

Bagaimana anda sebagai seorang ahli K3 atau ahli hygiene industri muda melakukan pengelolaan ini?

Kesimpulan : Apa yang Harus Dilakukan?

Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang ahli hygiene industri muda adalah :

  1. Memahami regulasi yang berlaku dan mampu melakukan identifikasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja.
  2. Melakukan penilaian risiko kesehatan terhadap para pekerja.
  3. Melakukan pengendalian lingkungan kerja yang aplikatif menggunakan prinsip hierarki K3.
    • Eliminasi
    • Subtitusi
    • Rekayasa teknis
    • Administratif

Demikian sedikit penjelasan mengenai faktor-faktor bahaya kimia, mudah-mudahan bisa memberi gambaran buat teman-teman sehingga bisa mengidentifikasi bahaya kimia di lingkungan kerja masing-masing.

Barometer dan 4 Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Udara

Barometer dan 4 Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Udara

Tekanan udara bersama dengan temperatur dan kelembaban udara merupakan unsur penting dalam cuaca. Sebelum kita membahas mengenai tekanan udara tersebut ada beberapa hal yang harus kita pahami terlebih dahulu agar kita lebih mudah memahami konsep dari tekanan udara serta jenis barometer yang digunakan sebagai alat ukur tekanan udara tersebut.

Perbedaan Massa dengan Berat

perbedaan massa dan berat

Jika dalam bahasa sehari-hari mungkin kedua hal ini dianggap sama, namun secara ilmiah massa dan berat merupakan 2 hal yang berbeda.

Apa bedanya?

Massa seperti kita ketahui satuannya itu gram, kilogram, dll. Massa suatu benda akan sama jika ditempatkan dimanapun, baik itu di bumi, di bulan, di mars dll.

Namun beratnya akan berbeda.

Kenapa?

Karena berat merupakan gaya (gaya berat) yang dipengaruhi nilai gravitasi.

Bagaimana menghitung gaya berat ?

W = m x g

Dimana :

W = Berat
m = Massa
g = Gravitasi

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal hukum 2 Newton

F = m x a

F = Gaya
m = Massa
a = Percepatan

Dari persamaan diatas :

Gaya kita hitung sebagai gaya berat

Percepatannya adalah percepatan gravitasi.

Berikut ini ilustrasi terkait dengan definisi gaya dan berat diatas.

Mialnya ada astronot dari bumi membawa kardus yang isinya buku masanya di bumi adalah 10 kg.

Nah jika astronot tadi mengangkat buku tersebut di bumi dan di bulan beratnya akan berbeda.

Kenapa?

Karena gravitasinya bumi lebih besar daripada gravitasi bulan sehingga berat benda tersebut akan lebih berat di bumi dibandingkan di bulan meskipun memiliki massa yang sama.

Konsep dasar ini penting karena kita akan belajar mengenai pengertian tekanan udara, dimana dalam ilmu fisika tekanan didefinisikan sebagai gaya persatuan luas.

Karena yang kita pakai adalah gaya maka yang kita gunakan adalah gaya berat dimana satuannya bukanlah gram atau kilogram tapi satunya adalah Newton (N).

Perbedaan Densitas dan Tekanan

Densitas (ρ) = massa / volume

Nah di dalam atmosfer ada yang namanya densitas udara, jika kita mengacu pada rumus diatas,

Densitas udara = massa udara per satuan volume

Ketika berbicara satuan volume berarti bentuknya tiga dimensi.

Nah kalau

Tekanan = F / A

Dapat dilihat pembaginya adalah A (luas penampang) yang berarti bentuknya dua dimensi.

Dapat dilihat juga dalam rumus jika densitas berkaitan dengan massa namun untuk tekanan berkaitan dengan gaya berat.

Kembali lagi ke pembahasan tekanan atmosfer.

Di atmosfer densitas udara akan turun seiring dengan bertambahnya ketinggian, karena massa bendanya akan tetap sama tetapi semakin ke atas lapisan atmosfer udaranya akan berkurang.

Seperti kita ketahui, udara di atmosfer terdapat partikel-partikel seperti nitrogen, oksigen, uap air dll dimana nitrogen, oksigen tersebut juga memiliki Massa (bisa dilihat di tabel periodik unsur).

Dengan satuan volume yang sama, semakin keatas akan semakin berkurang karena partikel udara (partikel nitrogen, oksigen, ozone) lebih banyak terkonsentrasi di atmosfer bagian bawah karena adanya gravitasi yang menarik ke bawah.

Satuan tekanan udara yang sering digunakan adalah atm, mmHg, Pa, Hpa, dll. Untuk melakukan konversi satuan tekanan udara tersebut bisa melalui website berikut :

https://www.climate4life.info/2022/05/kalkulator-konversi-tekanan-udara.html

satuan tekanan udara adalah

Hal-Hal yang Mempengaruhi Tekanan di Udara

Ketinggian

 

Tekanan udara di suatu tempat akan dipengaruhi oleh ketinggian. Seiring dengan naiknya ketinggian maka tekanan udara akan menurun.

Tekanan = gaya persatuan luas

pengaruh ketinggian pada tekanan udara

Kita bayangkan ada yang namanya sebuah kolom udara di dua tempat yang berbeda

  • yang satu di tepi pantai ketinggiannya 0 meter diatas permukaan laut.
  • yang satunya lagi di gunung misalkan 1000 m diatas permukaan laut.

Di tempat yang 0 meter diatas permukaan laut tersebut misalnya, kita anggap penampangnya sama 1 m2.

Yang menekan penampang di tempat 0 meter tersebut adalah semua udara dari 0 meter sampai ke lapisan atmosfer paling atas.

Sedangkan yang gunung dengan ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, yang menekan adalah udara dengan ketinggian 1000 m keatas.

Sehingga jumlah udara yang menekan di 0 meter diatas permukaan laut lebih besar daripada tekanan udara yang di puncak / 1000 meter diatas permukaan laut.

Maka bisa kita katakan bahwa seiring dengan naiknya ketinggian tekanan udara akan menurun.

Temperatur

Pada kondisi lain dalam keadaan konstan, maka jika ada dua tempat yang memiliki suhu udara yang berbeda, tempat dengan suhu udara yang lebih tinggi akan memiliki tekanan udara lebih rendah daripada tempat disekelilingnya yang suhunya lebih rendah.

Seperti kita ketahui, temperatur adalah besaran dari energi kinetik yang didapat dari Pergerakan molekul-molekul udara di atmosfer. Ketika temperatur tinggi pergerakannya molekul udaranya cepat sehingga cenderungnya memuai sehingga tekanan udaranya akan berkurang karena udaranya tidak diam di area itu saja.

Berbeda dengan suhu rendah /  dingin maka pergerakkan lebih lambat atau cenderung mengendap di satu tempat sehingga tekanan udaranya di tempat tersebut akan tinggi.

Sehingga bisa kita simpulkan jika dua tempat memiliki suhu udara yang berbeda, tempat yang suhunya lebih tinggi, tekanan udaranya akan lebih rendah dan tempat yang suhunya rendah, tekanan udaranya akan tinggi.

Kelembaban Udara

Pada kondisi keadaan lain konstan, Udara yang memiliki kelembaban udara tinggi akan memiliki tekanan udara yang rendah.

Seperti yang sudah disinggung diatas dimana udara terdiri dari berbagai macam molekul seperti nitrogen, oksigen. Kelembaban udara tersebut unsurnya adalah H2O dalam bentuk uap. Jika H2O nya tinggi maka unsur nitrogen, unsur oksigen dan yang lainnya akan lebih rendah.

Demikian juga sebaliknya, jika H2O  rendah maka unsur nitrogen, oksigen, unsur-unsur lainnya akan lebih dominan / tinggi.

Sementara massanya H2O ini dia lebih ringan daripada yang lainnya, maka ketika H2O nya / uap airnya tinggi, keadaan yang lainnya lebih rendah sehingga massanya jadi lebih ringan.

Atau dengan kata lain..

Kelembabannya tinggi >>> Massanya lebih ringan

Jika massanya lebih ringan maka gaya beratnya juga lebih ringan

Jika gaya beratnya lebih ringan maka tekanannya akan lebih lebih ringan juga.

Sehingga bisa kita simpulkan tempat yang kelembaban udara tinggi akan memiliki tekanan udara yang lebih rendah dibandingkan tempat yang kelembaban udaranya rendah.

Pengaruh Pergerakan udara

Pergerakan udara itu secara umum ada dua :

  1. Konvergensi yang artinya bertemu.
  2. Divergensi yang artinya saling menjauh.

Jika suatu wilayah menjadi tempat pertemuan udara maka udara di tempat tersebut akan banyak, molekulnya akan menumpuk di tempat tersebut sehingga tekanannya akan lebih tinggi

Sementara di wilayah yang menjadi tempat perpisahan / udara saling menjauh maka udara akan lebih kosong karena molekulnya pindah ketempat yang lain sehingga tekanannya akan menjadi lebih lebih rendah.

Pada tempat pertemuan udara atau konvergensi udara maka tekanan udara akan meningkat sementara tempat yang menjadi divergensi udara maka tekanan udara akan menurun / lebih rendah.

Alat Ukur Tekanan Udara

Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara adalah barometer. Alat ini mempunyai beberapa jenis antara lain :

  • Barometer air raksa.

barometer raksa

  • Barometer air.

Secara prinsip dan model kedua barometer diatas relatif sama namun ada sedikit perbedaan dimana media air yang digunakan relatif lebih ringan dibandingkan dengan air raksa sehingga ketinggian bisa mencapai 10 meter.

  • Barometer aeroid / logam.

kalibrasi barometer

Barometer ini terbuat dari logam dan ukurannya relatif kecil.

Di dalam unit barometer logam terdapat sebuah kotak logam yang berisi udara dengan tekanan sangat rendah.

Apakah Kalibrasi Barometer Harus Dilakukan?

Tekanan udara merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil kalibrasi khususnya dalam hal kalibrasi volumetrik, baik itu kalibrasi buret laboratorium, labu ukur, gelas ukur, dll. Sehingga untuk mendapatkan hasil kalibrasi yang valid, kalibrasi balometer sebagai alat ukur tekanan udara ini juga harus dilakukan.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Belajar Bareng Majid