Tahu dong ya, berita akhir-akhir ini mengenai pertamax, viral banget baik di instagram, tiktok, maupun instagram. Tapi kita tidak akan membahas mengenai jenis tindak kejahatannya, pelakunya, maupun kerugian yang ditimbulkannya.
Karena bagian tersebut sudah ada bagian-bagian terkait yang lebih ahli untuk menanganinya.. Betul tidak?
Fokus kita, terlebih jika anda telah berkunjung di blog ini adalah belajar dan terus mengembangkan diri, terutama di bidang kalibrasi dan industri, supaya kita siap menghadapi dunia kerja.
Nah langsung saja dalam artikel ini kita akan membahas mengenai bilangan oktan.
Bilangan oktan merupakan salah satu parameter penting dalam bahan bakar bensin yang menentukan kemampuannya dalam menahan knocking atau detonasi dini saat dikompresi dalam ruang bakar mesin.
Semakin tinggi bilangan oktan, semakin baik bahan bakar tersebut dalam menghindari knocking, yang berpengaruh pada efisiensi dan daya tahan mesin.
Bilangan oktan sering dijadikan acuan dalam memilih jenis bensin untuk kendaraan. Mesin dengan rasio kompresi tinggi memerlukan bensin dengan bilangan oktan yang lebih tinggi agar pembakaran berlangsung dengan optimal.
Dalam paragraf berikutnya kita akan membahas secara mendalam mengenai bilangan oktan, pengaruhnya terhadap mesin, serta proses peningkatan bilangan oktan dalam pemurnian minyak bumi.
Pengertian Bilangan Oktan

Bilangan oktan adalah ukuran ketahanan bahan bakar terhadap knocking dalam mesin pembakaran dalam. Knocking terjadi ketika bahan bakar terbakar sebelum waktunya akibat tekanan tinggi, yang dapat merusak komponen mesin.
Bilangan oktan dihitung berdasarkan perbandingan antara iso-oktana (yang memiliki ketahanan tinggi terhadap knocking) dan n-heptana (yang mudah mengalami knocking). Terdapat beberapa metode untuk mengukur bilangan oktan:
- Research Octane Number (RON): Menggunakan kondisi standar laboratorium dengan kecepatan dan suhu rendah.
- Motor Octane Number (MON): Menggunakan kondisi yang lebih berat seperti suhu dan kecepatan tinggi.
- Anti-Knock Index (AKI): Rata-rata dari RON dan MON, sering digunakan di beberapa negara seperti Amerika Serikat.
Semakin tinggi bilangan oktan, semakin baik ketahanan bensin terhadap knocking, sehingga cocok untuk mesin berperforma tinggi.
Bilangan Oktan pada Berbagai Jenis Bensin

Di Indonesia, terdapat beberapa jenis bensin yang dikategorikan berdasarkan bilangan oktannya:
- Pertalite (RON 90): Digunakan untuk kendaraan dengan rasio kompresi sedang, seperti motor dan mobil dengan spesifikasi standar. Bensin ini memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan jenis lainnya, tetapi performanya kurang optimal untuk mesin dengan kompresi tinggi.
- Pertamax (RON 92): Cocok untuk mesin dengan rasio kompresi lebih tinggi, biasanya antara 9:1 hingga 10:1. Bensin ini lebih stabil dalam pembakaran dan menghasilkan emisi yang lebih bersih dibandingkan Pertalite.
- Pertamax Turbo (RON 98): Digunakan pada kendaraan dengan performa tinggi yang membutuhkan bahan bakar berkualitas tinggi. Mesin dengan rasio kompresi di atas 10:1 akan lebih optimal menggunakan bensin ini karena dapat menghindari knocking dan meningkatkan efisiensi tenaga mesin.
- Shell V-Power dan BP Ultimate (RON 95–98): Beberapa perusahaan minyak internasional juga menyediakan bahan bakar dengan bilangan oktan tinggi yang diformulasikan dengan aditif khusus untuk meningkatkan performa dan efisiensi bahan bakar.
Pemilihan bensin dengan bilangan oktan yang sesuai sangat penting untuk mengoptimalkan pembakaran dan menjaga efisiensi mesin.
Menggunakan bensin dengan bilangan oktan yang lebih rendah dari yang direkomendasikan dapat menyebabkan knocking, menurunkan efisiensi, dan berisiko merusak mesin dalam jangka panjang.
Sebaliknya, menggunakan bensin dengan bilangan oktan lebih tinggi dari yang diperlukan umumnya tidak memberikan keuntungan signifikan kecuali pada mesin berperforma tinggi.
Faktor yang Mempengaruhi Bilangan Oktan

Bilangan oktan suatu bahan bakar dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:
- Struktur hidrokarbon: Bahan bakar dengan kandungan iso-oktana lebih tinggi memiliki bilangan oktan yang lebih tinggi.
- Aditif peningkat oktan: Senyawa seperti MTBE (Methyl Tert-Butyl Ether) dan etanol sering digunakan untuk meningkatkan bilangan oktan.
- Proses pengolahan di kilang minyak: Proses seperti cracking, reforming, dan alkilasi berperan dalam meningkatkan bilangan oktan bensin.
Proses Peningkatan Bilangan Oktan dalam Pemurnian Minyak Bumi

Minyak mentah yang diolah di kilang minyak mengandung berbagai fraksi hidrokarbon dengan bilangan oktan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan beberapa proses pemurnian untuk meningkatkan bilangan oktan bensin yang dihasilkan:
Cracking Katalitik
Cracking adalah proses pemecahan molekul hidrokarbon yang lebih besar menjadi molekul yang lebih kecil dengan bilangan oktan lebih tinggi. Proses ini menggunakan katalis untuk mempercepat reaksi dan meningkatkan efisiensi produksi bahan bakar berkualitas tinggi.
Reforming Katalitik
Reforming bertujuan untuk mengubah struktur hidrokarbon rantai lurus menjadi hidrokarbon bercabang atau aromatik yang memiliki bilangan oktan lebih tinggi. Proses ini dilakukan dengan bantuan katalis platinum atau rhenium pada suhu tinggi.
Alkilasi
Alkilasi menggabungkan hidrokarbon ringan seperti butena dan isobutana untuk membentuk iso-oktana, yang meningkatkan bilangan oktan. Proses ini banyak digunakan untuk memproduksi bensin dengan oktan tinggi.
Pencampuran dengan Aditif
Selain proses pemurnian, pencampuran bensin dengan aditif juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas bahan bakar. Beberapa aditif yang umum digunakan adalah:
- MTBE (Methyl Tert-Butyl Ether): Meningkatkan bilangan oktan dan meningkatkan pembakaran.
- Etanol: Digunakan dalam bahan bakar campuran seperti E10 (10% etanol, 90% bensin) untuk meningkatkan oktan dan mengurangi emisi karbon.
- Tetraethyl lead (TEL): Dulu digunakan sebagai peningkat oktan, tetapi sekarang dilarang karena dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan.
Dampak Lingkungan dan Regulasi

Bensin dengan bilangan oktan tinggi biasanya memiliki pembakaran yang lebih efisien dan menghasilkan emisi yang lebih rendah. Namun, beberapa metode peningkatan oktan memiliki dampak lingkungan, seperti:
- Penggunaan aditif berbasis timbal (TEL) yang menyebabkan polusi udara.
- Produksi MTBE, yang dapat mencemari air tanah jika terjadi kebocoran.
- Penggunaan etanol, yang meskipun lebih ramah lingkungan, dapat memengaruhi pasokan pangan jika bahan bakunya berasal dari tanaman pangan seperti jagung.
Untuk mengatasi masalah ini, berbagai regulasi telah diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mengontrol kadar oktan dan aditif yang digunakan dalam bensin. Selain itu, tren global saat ini mulai mengarah pada penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, seperti bensin tanpa timbal, bioetanol, dan hidrogen sebagai alternatif bahan bakar.
Sebagai penutup, Bilangan oktan merupakan faktor krusial dalam menentukan kualitas bensin dan performa mesin kendaraan. Semakin tinggi bilangan oktan, semakin baik bahan bakar tersebut dalam menghindari knocking dan meningkatkan efisiensi pembakaran.
Dalam pemurnian minyak bumi, berbagai proses seperti cracking katalitik, reforming katalitik, dan alkilasi digunakan untuk meningkatkan bilangan oktan. Selain itu, aditif seperti MTBE dan etanol juga sering ditambahkan untuk meningkatkan performa bahan bakar.
Di masa depan, perkembangan teknologi bahan bakar akan semakin berfokus pada penciptaan bahan bakar dengan oktan tinggi yang lebih ramah lingkungan. Regulasi ketat mengenai emisi dan kualitas bahan bakar juga akan terus berkembang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Dengan memahami bilangan oktan dan perannya dalam mesin, konsumen dapat memilih jenis bensin yang sesuai dengan kendaraan mereka untuk mendapatkan performa yang optimal dan lebih hemat biaya dalam jangka panjang.
